Pangeran

T: Jika tak pernah membaca Qur”an, bagaimana akan memerintah?
J: Coba tanya ke Abraham Lincoln atau Nelson Mandela.

Antara kitab suci dan tahta ada sebuah jalan yang tak terang. Apapun kitab itu dan siapapun yang berada di singgasana itu.

Bagaimana seorang pemegang tahta memerintah, bagaimana pula perilakunya terhadap orang lain dan dunia, itu bisa jadi karena ia dipengaruhi ajaran yang dibacanya dalam Qur”an atau Injil atau Vedha. Tapi mungkin juga tidak sama sekali. Bahkan mungkin sebaliknya yang terjadi: hubungan seseorang dengan kekuasaan itulah yang justru mempengaruhi tafsir orang itu atas ayat-ayat suci.

Jalan tak terang antara tahta dan kitab suci, karena sang kitab bukan buku yang tertutup. Ia buku yang dibaca. Tapi ia hanya bisa dibaca dalam bahasa manusia. Sementara itu, manusia, sang pembaca serta sang penafsir, tak bisa menyimak apapun sebagai subyek yang stabil, utuh, dan transparan.

Manusia, (juga yang duduk di singgasana), punya sesuatu yang tak diakui bahkan tak dikenalnya sendiri di bawah sadarnya. Ia menyimpan nafsu dan trauma, hasrat dan ketakutan. Ia juga dipengaruhi masyarakat tempat ia dibesarkan dan bergaul. Untuk menyatakan dirinya sendiri, ia bahkan dibentuk oleh bahasa yang sejak kecil mengisi dunianya.

Walhasil, tak pernah bisa ditentukan sejauh manakah kitab suci melahirkan perangai kekuasaan. Bahkan semakin rumit kekuasaan seseorang di tengah situasinya, semakin tak terjangkau kekuasaan itu oleh apa yang di luar dinamikanya sendiri. Bahkan nilai-nilai yang datang dari Langit tak gampang menyentuhnya.

Apa boleh buat: kekuasaan selalu berada dalam dunia. Itulah kekeliruan Plato. Sepulang dari Mesir, di mana ia menyaksikan sebuah negeri yang tertib dengan peradaban yang mengagumkan, di Yunani, Plato mengembangkan gagasannya tentang politik. Ia menghendaki agar sebuah republik dipimpin seorang filosof, dikonstruksi ide yang kekal tentang kebaikan kehidupan bersama. Tapi sang filosof Yunani mengabaikan kenyataan bahwa dunia tempat kehidupan berlangsung terdiri dari kejadian yang acapkali baru, yang lepas dari ide-ide di kepala.

Menyadari bahwa kekuasaan selalu berada dalam dunia yang ruwet, fana, dan sering tak terduga-duga — itulah yang menyebabkan Machiavelli menawarkan sebuah pandangan yang lain. Il Principe, (Sang Pangeran), yang selesai ditulisnya di akhir 1513 dan baru diterbitkan setelah ia meninggal, kita kenal sebagai karya yang berabad-abad lamanya diperdebatkan — satu indikasi bahwa pikiran-pikiran itu bukan omong kosong.

Machiavelli jelas berbeda dari para penulis yang berbicara tentang kekuasaan dengan sedikit berkhotbah, mengutarakan bagaimana seyogyanya kekuasaan, bukan bagaimana kenyataannya. “Saya berpikir, ” tulisnya, “sudah sepantasnya untuk menggambarkan hal ihwal sebagaimana adanya dalam sorotan kebenaran yang efektif, verità effettuale della cosa, dan bukan dalam bentuk sebagimana dibayangkan”.

Ia punya dasar untuk itu. Ia berpengalaman cukup dalam berhubungan dengan orang-orang berkuasa dalam hidupnya. Itu semua dimungkinkan karena ia seorang pejabat di Republik Firenze — ia bekerja sebagaisegretario fiorentino sampai sekitar 14 tahun — hingga republik kota yang makmur itu jatuh ke tangan keluarga Medici.

Nasibnya buruk sejak 1512 itu. Ia ditangkap karena dituduh berkomplot hendak menjatuhkan kekuasaan baru. Ia dipenjara, disiksa dan akhirnya dibuang. Kejayaannya dulu tak pernah kembali. Mungkin sebab itu dalam Il Pincipe ia berbicara tentang Fortuna, umumnya diartikan sebagai “nasib”. Ia mengibaratkannya sebagai “sungai yang destruktif”, yang bila marah, membawa banjir. Walaupun ia yakin “sungai” itu, Fortuna, bisa dijinakkan, ia mengakui tak ada yang bisa melumpuhkannya.

Dengan kata lain: politik dan kekuasaan selamanya terancam oleh yang tak terduga-duga. Patokan yang baku — baik dalam bentuk ajaran agama atau pun doktrin moral — tak banyak gunanya menghadapi “sungai yang destruktif” itu. Ide dan ajaran tak akan bisa melumpuhkan kehidupan.

Sebab apakah yang bisa sepenuhnya diketahui seorang manusia — juga bila ia duduk di atas singgasana? Juga bila ia berpegang pada bacaannya, biarpun bacaan itu serangkai ajaran yang kekal? Machiavelli justru menunjukkan bahwa di dunia yang kekal tak ada. Raja naik dan turun, kekuasaan berkembang atau hilang. Politik tiap kali harus bergelut dengan penyelesaian yang berbeda-beda.

Hidup, terutama dalam kancah dan pergulatan kekuasaan, terdiri dari pelbagai unsur yang membuat keadaan tiap kali genting, serba mungkin — dari konjunktur ke konjunktur. Dan Machiavelli, dalam pemikiran Althusser yang anti-Idealis, “tak menelaah konjunkturnya sebagai seorang teortitikus, ”dari luar””. Ia tak bicara sebagai seorang sejarawan atau seorang filosof. Ia melihat sang Pangeran adalah personifikasi politik “dalam konjunktur itu sendiri”.

Dalam kegentingan itulah ia akan didorong untuk selamat — bila ia berkembang dengan virtù, bila ia mengasah sifat serigala dan singa sekaligus dalam dirinya. Seorang pemimpin adalah serigala: cakap menilai situasi, dan singa: berani menghadapi tantangan situasi itu. Bagi Machiavelli, kata Althusser, seorang pemimpin tak punya ”hakikat”; ia tak niscaya buruk atau baik. Ia kesiagaan yang lahir dari pengalaman. Yang utama, ia bisa dapatkan hasil yang diinginkannya.

Banyak yang memandang pemikiran Machiavelli dengan berbisik, ”tak bermoral”. Tapi mungkin kita perlu mendengar seseorang yang tak bermaksud mengajar budi pekerti. Apalagi budi pekerti, dalam pergulatan kekuasaan, akhirnya berfungsi sebagai bedak dan gincu.

Goenawan Mohamad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s