KHO PING HOO – Kisah Sepasang Rajawali Jilid 3

KHO PING HOO!! CIATSSSSS!!

hendak merangkulnya, hendak menciumnya. Dia bergidik berkali-kali, menggerakkan kedua pundak dan teng­kuknya terasa dingin dan ngeri, larinya makin cepat seolah-olah setan gadis itu berada dekat sekali di belakangnya.

“Ha-ha-ha-ha!” Tiba-tiba terdengar suara tertawa dan mendengar suara ketawa ini tahulah Kian Bu bahwa me­mang ada orang di belakangnya, bukan se­tan bukan siluman, melainkan kakaknya sendiri. Maka dia berhenti dan terengah-­engah memandang wajah kakaknya yang tertawa-tawa dengan gelinya. Baru seka­rang dia melihat kakaknya tertawa demi­kian enak sampai memegang perutnya.

“Ha-ha-ha-ha….! Dia bini mudanya…. ha-ha-ha-ha, dan kau dirangkulnya, ha­-ha-ha….!” Kian Lee yang tidak biasa tertawa-tawa seperti itu, kini tidak dapat menahan kegelian hatinya.

“Koko, kau…. kejam!” Kian Bu membentak dan suara tertawa terhenti.

Dengan mulut masih tersenyum lebar menahan geli hatinya, Kian Lee berkata,

“Nah, kau rasakan sekarang, Bu-te. Tidak benarkah kata-kataku bahwa cara yang tidak baik hanya akan menghasilkan ketidakbaikan pula? Karena pertolongan­mu tadi hanya sandiwara dan pura-pura saja, hanya palsu, maka hasilnya hanya menimbulkan cemburu seorang suami yang melihat bini mudanya bermain gila dengan orang lain.”

“Huh! Sialan perempuan itu….!” Kian Bu membanting kaki dengan gemas. “Aku tidak akan melakukan hal itu lagi! Tidak lagi!”

“Sudahlah, Bu-te, sekali waktu ada gunanya juga pelajaran pahit seperti ini bagi kita. Nah, marilah sekarang kita cepat mengejar mereka dan membayangi dari jauh.”

“Hehh….?” Kian Bu memandang kakaknya dengan mata lebar. “Perlu apa membayangi? Aku tidak butuh berkenalan dengan perempuan itu!”

“Sekarang bukan urusan berkenalan dengan wanita, Bu-te. Ketahuilah, ketika tadi aku melarikan diri dan mengintai, aku melihat berkelebatnya tiga orang tosu dan aku segera membayangi mereka. Aku sempat menangkap percakapan mereka yang menyatakan bahwa mereka akan turun tangan terhadap rombongan itu malam ini di kuil tua.”

“Eh, siapa mereka itu?”

“Aku tidak tahu, akan tetapi melihat gerakan-gerakan mereka, kalau benar mereka turun tangan mengganggu, para piauwsu itu bukanlah tandingan mereka. Maka kita harus membayangi dan kalau perlu menolong mereka, Bu-te. Sekali ini bukan menolong pura-pura, bukan main sandiwara, melainkan main betul-betulan karena ada pihak yang terancam bahaya.”

“Baik, koko. Akan tetapi kuharap ada penculik sungguhan yang melarikan pe­rempuan itu dan jangan harap aku akan menolong dia. Agaknya orang seperti dia itu memang selalu mengharapkan dibawa pergi penculik!” Kian Bu mengomel.

“Hushh, jangan sentimen, Bu-te! Dia patut dimaafkan karena memang sukarlah mencari seorang penolong pemuda isti­mewa seperti engkau.”

“Wah, kau tiada habisnya mengejek, koko!” Suma Kian Bu mengomel dengan suara merengek. “Awas, kalau lain kali engkau yang kecelik, aku akan menter­tawakanmu juga!”

Dua orang kakak beradik itu menggu­nakan ilmu berlari cepat, akan tetapi karena rombongan itu dibalapkan semen­jak mengalami gangguan kakak beradik itu, maka setelah hampir malam baru mereka dapat menyusul rombongan itu yang telah berhenti di dalam sebuah kuil tua di luar hutan. Kuil ini adalah kuil Budha yang sudah amat tua, sebagian besar bangunan itu sudah runtuh dan agaknya dibuat sebagai tempat perhenti­an oleh para pendeta Budha di jaman dahulu ketika mereka mulai dengan penyebaran Agama Budha sampai ke pelosok-pelosok dunia. Kini kuil kuno dan rusak itu tentu saja tidak dipergunakan lagi oleh para pendeta dan hanya diper­gunakan oleh orang-orang yang melaku­kan perjalanan dan lewat di tempat itu untuk sekedar beristirahat atau kadang-­kadang juga bermalam. Agaknya rombong­an yang dilindungi oleh dua losin piauwsu itu memang sudah merencanakan untuk bermalam di tempat itu dan merasa aman karena ada dua losin piauwsu yang mengawal. Akan tetapi, peristiwa pencu­likan nyonya muda di siang hari tadi, dilakukan oleh seorang pemuda dan entah bagaimana nasib nyonya muda itu kalau tidak ditolong oleh seorang pemuda lain, membuat para piauwsu bersikap waspada, hati-hati dan juga agak cemas. Baru ada seorang perampok saja yang turun ta­ngan, penjahat itu sudah berhasil mencu­lik wanita di hadapan hidung mereka tanpa mereka dapat menangkapnya!

Setelah hartawan itu dan dua orang isterinya turun dari kereta menempati ruangan kuil yang sudah dibersihkan dan dihangatkan dengan api unggun, duduk di dekat api di atas tikar, para piauwsu yang berjaga-jaga tentu saja membicara­kan peristiwa siang tadi. Juga di antara hartawan dan kedua orang isterinya terjadi percakapan mengenai peristiwa itu. Terutama si hartawan yang mengo­mel tak kunjung henti.

“Baru sejenak saja dari sampingku, engkau sudah main gila dengan laki-­laki lain,” kata si hartawan kepada bini mudanya.

“Sudah berapa puluh kali kau menga­takan hal itu!” jawab si bini muda de­ngan berani. “Sampai bosan aku mende­ngarnya! Engkau tidak terancam bahaya maut, maka bicara sih mudah! Aku yang terancam bahaya maut oleh penculik yang ganas dan kejam sekali itu, setelah ditolong orang, tentu saja aku amat senang dan berterima kasih. Dia masih amat muda, sepatutnya menjadi adikku, kalau aku menyatakan terima kasihku dengan merangkulnya, apakah itu meru­pakan kejahatan besar?”

“Kalau aku tidak keburu muncul, entah macam apa lagi terima kasihmu itu, kau perempuan rendah….!”

“Sudahlah, sudahlah….!” Isteri perta­ma mencela. “Di tengah perjalanan, di tempat berbahaya dan di mana bahaya sewaktu-waktu masih selalu mengancam kita, mengapa ribut-ribut mengenai urusan yang telah lewat? Terdengar para piauwsupun hanya akan menimbulkan rasa malu.”

Setelah tiga orang itu dengan bersu­ngut-sungut tidur di dekat api dan tidak lagi ribut mulut, para piauwsu yang berjaga-jaga membicarakan peristiwa siang tadi sambil berbisik-bislk. Di anta­ra mereka, Can Si Hok si kepala piauwsu sendiri, juga ikut bercakap-cakap.

“Nasib kita masih baik sehingga ada saja muncul seorang penolong sehingga penculikan itu dapat digagalkan,” kata seorang di antara mereka.

“Penculik itu mempunyai kepandaian yang hebat sekali. Keroyokan anak panah itu dapat dielakkannya semua tanpa menoleh, padahal dia sedang memondong orang dan sedang berlari. Sayang.dia keburu lari sehingga kita tidak sempat mencoba sampai di mana kepandaian ilmu silatnya. Kelihatannya masih muda sekali.”

“Akan tetapi, jelas bahwa kepandaian penolong itupun lebih hebat,” bantah yang lain. “Buktinya dapat menolong dan mengusir si penculik. Penolong itupun masih amat muda. Dari cara dia melari­kan diri, jelas bahwa gin-kangnya amat luar biasa, seperti terbang saja.”

Can Si Hok, si kepala pengawal yang berjenggot putih, menarik napas panjang dan berkata, “Kawan-kawan, malam ini harap kalian waspada dan lebih baik kalau tidak seorangpun di antara kita tertidur. Penjagaan di luar kuil harus dilakukan dengan ketat, perondaan di sekitar kuil dilakukan dengan bergiliran. Aku khawatir akan terjadi lagi hal yang tidak kita inginkan. Munculnya dua orang tadi, baik si penculik maupun si peno­long, merupakan hal yang amat luar biasa. Selama ini belum pernah pula mendengar di dunia kango-uw muncul dua jago muda yang sedemikian lihainya. Baiknya, kalau yang seorang jahat, yang seorang baik dan suka menolong. Mudah-­mudahan tugas kita sekali ini tidak akan gagal.”

Penjagaan diperketat dan Can Si Hok sendiri melakukan perondaan. Kelihatan­nya aman dan tidak terjadi sesuatu di tempat yang amat sunyi itu. Benarkah demikian? Sesungguhnya tidaklah demiki­an karena tidak jauh dari kuil itu terjadi hal-hal yang tentu akan menggegerkan para piauwsu kalau saja mereka mengetahuinya.

Tiga sosok bayangan yang gerakannya gesit bukan main, bagaikan setan-setan saja layaknya, bergerak di antara pohon-­pohon mendekati kuil. Setelah dekat dengan kuil mereka mengintai dari balik pohon besar ke arah empat orang penja­ga yang menjaga di pojok kuil.

“Kita bunuh saja mereka berempat itu, lalu menyerbu ke dalam,” berbisik seorang di antara mereka.

“Biarlah pinto yang menyelinap ke dalam mencari benda itu, kalian berdua bikin ribut di luar, memancing perhatian semua piauwsu. Yang agak lumayan kepandaiannya hanyalah Can-piauwsu itu saja, yang lain-lainnya tidak perlu dikha­watirkan.”

“Baik, akan tetapi bagaimana dengan hartawan itu?” tanya tosu yang ada tahi lalat besar di dagu kanannya, “Dan kedua orang wanita itu?”

“Bereskan saja mereka, hartawan itu adalah seorang yang pelit!” kata tosu kedua.

“Ah, wanita muda itu sayang kalau dibunuh. Dia manis,” kata si tahi lalat.

“Hushhhh…. jangan ribut-ribut, kita bergerak sekarang dan…. heiii…. hujan­kah….?”

Memang ada air menyiram mereka dari atas pohon besar itu. Tadinya mereka mengira bahwa hujan turun tak tersangka-­sangka, akan tetapi hidung ketiga orang tosu itu kembang kempis. Mereka meraba­-raba air hujan yang menimpa kepala dan mendekatkan jari ke depan hidung.

“Mengapa baunya begini?”

“Seperti air kencing!”

Dan “hujan” pun berhenti yang berarti memang tidak hujan sama sekali, melain­kan ada orang mengencingi mereka dari atas pohon itu.

“Keparat!” Mereka memaki dan sece­pat kilat tubuh mereka sudah mencelat ke atas, ke dalam pohon. Mereka ber­lompatan dan mencari-cari, akan tetapi tidak ada seorangpun di pohon itu! Ter­paksa mereka turun lagi dan berbisik-­bisik penuh ketegangan.

“Apa yang terjadi?”

“Tentu hanya seekor monyet, siapa lagi?”

“Akan tetapi, biarpun monyet, bagai­mana bisa bergerak secepat itu seperti pandai menghilang saja?”

“Kita harus bekerja cepat,” kata tosu bertahi lalat. “Sudah dikabarkan orang bahwa kelenteng kuno ini menjadi tempat keramat. Yang dapat menggoda kita seperti tadi tentu hanya setan saja!”

Ketiganya menjadi tegang. Mereka percaya bahwa setanlah yang menggoda mereka, karena kalau manusia atau binatang, tak mungkin dapat lari dari mereka sedemikian cepatnya. Mereka adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi, tak mungkin dapat dipermainkan dan kalau yang berada di atas pohon tadi manusia atau binatang sudah pasti mereka akan dapat menangkapnya.

“Mari kita bergerak,” kata tosu per­tama. “Ji-sute (adik seperguruan kedua), kau menyelinap dari kanan, dan kau sam­-sute, kau dari kiri. Setelah kalian menyergap keempat orang itu, pinto akan masuk melalui pintu samping yang keli­hatan dari sini itu dan selanjutnya kalian harus memancing mereka semua keluar agar leluasa pinto bergerak ke dalam.”

“Baik, suheng,” kata kedua orang tosu itu yang segera berpencar ke kiri dan ke kanan.

“Heiii…. aduhhh!” Tak lama kemudian terdengar tosu yang berlari ke kiri ter­jungkal dan menahan teriakan makiannya.

Mereka berkumpul, kini di tempat tosu itu jatuh.

“Mengapa kau, sam-sute?”

“Tersandung batu! Sialan!”

“Engkau? Dapat tersandung batu? Sungguh aneh.”

“Entahlah, batu itu seperti ada tangan­nya memegang dan menjegal kakiku. Eh, mana batu jahanam itu?” Dia meraba-­raba dan tidak menemukan batu itu. “Aneh sekali, batu itu besar sekali ketika aku menyandungnya, mengapa sekarang menghilang?”

“Ah, sungguh heran, sekali mengapa mendadak engkau menjadi penakut dan gugup sehingga jatuh sendiri, sam-sute. Apakah cerita tentang setan membuat kau penakut?” cela tosu tertua.

“Biarlah empat orang itu kubereskan sendiri, nanti sam-sute menyusul kalau aku sudah memancing mereka keluar,” kata orang kedua yang segera meloncat ke depan dengan sigap. Dua orang teman­nya melihat dia meloncat ke atas, akan tetapi betapa kaget rasa hati mereka karena tidak melihat temannya itu turun lagi, seolah-olah menghilang begitu saja!

Tosu tertua dan sam-sutenya yang tadi tersandung batu ajaib itu terbelalak memandang. “Eh, ke mana dia?” tanya sutenya. “Mana ji-suheng?”

Tosu tertua juga bingung karena sutenya itu benar-benar lenyap tak me­nimbulkan bekas. “Ji-sute….!” bisiknya memanggil.

Tiba-tiba terdengar jawaban agak jauh di belakang mereka, akan tetapi bukan jawaban panggilan itu melainkan suara “ceekkk…. ceekkk….” seperti orang yang lehernya dicekik! Cepat mereka berdua melompat dan lari ke arah suara itu dan dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika melihat saudara yang dicari-cari itu sedang “menggantung” diri di sebuah dahan, tubuhnya berkelojotan, lehernya mengeluarkan suara tercekik dan dia digantung dengan sabuknya sendi­ri sehingga celananya merosot turun terkumpul di kaki dan karena tosu berta­hi lalat itu sudah “biasa” tidak memakai pakaian dalam, tentu saja dia menjadi telanjang bulat di tubuh bagian bawah­nya, menimbulkan penglihatan yang lucu sekali!

Kedua orang tosu itu cepat meloncat dan melepaskan sabuk itu dari dahan pohon dan membawa turun saudara me­reka yang sudah melotot matanya, terju­lur lidahnya dan kebiruan mukanya itu! Mereka sibuk, yang seorang menggosok-­gosok leher bekas terjirat itu, yang kedua membenarkan celana dan mengi­katkan lagi sabuknya pada pinggang.

Setelah siuman, tosu ketiga bertanya, “Ji-suheng, mengapa kau begitu pendek pikiranmu? Mengapa kau hendak membu­nuh diri dan mengapa pula membunuh diri saja menanti saat seperti ini? Aihh, ji-suheng, kalau kau mati dengan mem­bunuh diri, nyawamu akan melayang ke neraka siksaan!”

“Bunuh diri hidungmu itu!” Si tahi lalat memaki dan bangkit duduk, meng­gosok-gosok lehernya dan menggoyang-­goyangkan kepalanya. “Iblis yang melaku­kan ini!”

“Ji-sute, coba ceritakan, apakah yang terjadi?” Tanya tosu tertua setelah dia tadi meloncat ke atas pohon menyelidiki akan tetapi juga tidak menemukan orang di situ.

Tosu bertahi lalat menghela napas lalu bergidik. “Kalian melihat sendiri aku meloncat. Tahu-tahu rambutku ditangkap orang dari atas dan sebelum aku sempat berteriak, jalan darah di leher ditotok membuat aku tak dapat bersuara, dan aku lalu…. digantung di dahan itu.”

“Tidak mungkin!” Tosu pertama membantah.

“Mungkin saja!” Tosu ketiga mencela.

“Buktinya dia sudah tergantung di sana, kecuali kalau dia menggantung diri sendi­ri. Ji-suheng, berterusteranglah, apa kau benar-benar tidak mencoba membunuh diri? Jangan putus asa, biarlah wanita di kuil itu untukmu, aku tanggung ini!”

“Sam-sute, sekali lagi kau bicara tentang bunuh diri, lehermu yang akan kucekik!” Si tahi lalat berkata marah dan mendongkol.

“Ji-sute, pinto sukar untuk percaya. Biarpun andaikata benar ada orang me­nangkap rambutmu dari atas dan meno­tok jalan darahmu di leher sehingga kau tidak dapat berteriak, akan tetapi kedua tangan masih bebas. Dengan itu kau dapat….”

“Kalau diceritakan memang aneh, suheng, maka tadi kukatakan bahwa setan sajalah yang dapat melakukan itu. Aku sudah melawan tentu saja, dan tangan kiriku ini sudah menampar lam­bungnya, bahkan aku yakin benar tangan kananku sudah menotok jalan darahnya di pinggang. Akan tetapi aku seolah-olah menampar dan menotok tubuh…. mayat saja. Begitu dingin dan sama sekali tidak ada hasilnya, hihhh….!” Dia bergidik dan kedua orang saudaranya ikut merasa ngeri.

“Aihh…. benar-benarkah ada setan di sini….?”

Tosu pertama berkata sambil menoleh ke kanan kiri sedangkan tosu ketiga menggosok-gosok tengkuknya yang terasa tebal.

Tiba-tiba si tahi lalat berkata, “Bu­kan, suheng. Teringat aku sekarang! Bukan setan karena aku mendengar dia tertawa, disusul suara yang terdengar jelas akan tetapi agak jauh.”

“Suara bagaimana?”

“Suara seorang laki-laki berkata: Koko, dia telanjang, ha-ha, begitulah, sekarang a­ku teringat benar tentu ada dua orang di pohon itu yang mempermainkan aku.”

Tosu pertama mengelus jenggotnya. “Hemmm…. setan atau manusia, jelas bahwa mereka itu lihai sekali dan agaknya hendak merintangi tindakan kita. Bodoh sekali kalau kita berlaku nekat. Biarlah kita anggap saja kita gagal malam ini, dan kita tangguhkan sampai besok. Kita harus membawa bantuan kalau begini, siapa tahu diam-diam ada orang pandai yang melindungi rombongan itu.”

Dua orang adiknya mengangguk dan cepat-cepat meninggalkan tempat itu dan beberapa kali si tahi lalat menoleh ke belakang karena dia masih merasa ngeri kalau mengenangkan peristiwa tadi.

Tentu saja mudah diduga bahwa yang melakukan gangguan itu adalah Kian Lee dan Kian Bu. Dan mudah pula diduga bahwa yang mengencingi kepala tiga orang tosu itu dan menyamar sebagai batu lalu menjegal kaki, adalah Kian Bu. Sedangkan yang menggantung si tahi lalat adalah Kian Lee, dibantu oleh adiknya yang melepaskan sabuk dan membuat tali gantungan di dahan.

Setelah tiga orang tosu itu pergi, Kian Lee yang sudah turun ke bawah bersama adiknya, berkata, “Ingat, Bu-te. Ayah sudah berpesan agar kita tidak menanam permusuhan dengan siapapun. Urusan antara tosu-tosu itu dengan rombongan hartawan adalah urusan mere­ka yang sama sekali kita tidak ketahui sebab-sebabnya. Kita tidak boleh mem­bantu satu pihak, hanya kita harus turun tangan kalau ada pihak yang akan mela­kukan kejahatan.”

Kian Bu menggangguk. “Si tahi lalat suka kepada perempuan itu. Kalau dia menculik si perempuan itu, aku tidak akan mencegahnya.”

“Hushh! Menculik sungguh-sungguh merupakan kejahatan yang harus kita cegah. Kita lihat saja besok, agaknya mereka hendak merampas sesuatu dari rombongan itu.”

“Bagaimana kalau besok terjadi per­tempuran, koko?”

“Kita lihat saja dari jauh. Pertempur­an di antara mereka tidak ada sangkut pautnya dengan kita. Tentu saja kita tidak dapat membantu siapapun, dan kita tidak dapat mencegah pertempuran yang adil. Hanya kalau metihat ketidakadilan, baru kita harus turun tangan seperti yang dipesankan ayah.”

“Wah, sukar, Lee-ko!”

“Apanya yang sukar?”

“Tentang keadilan itu, atau lebih tepat ketidakadilan itu. Bagaimana me­nentukannya mana yang adil dan mana yang tidak? Yang tidak adil bagimu belum tentu tidak adil bagiku dan seba­liknya, demikian pula dengan orang lain!”

“Hemm, Bu-te, seorang yang menjun­jung tinggi kegagahan, yang mengabdi untuk kebenaran dan keadilan harus waspada akan kebenaran dan keadilan itu. Kebenaran dan keadilan yang dida­sari kepentingan diri pribadi tentu saja palsu! Akan tetapi, mudah saja melihat kenyataan akan penindasan dan kejahatan yang dilakukan orang, dan itulah ketidak­adilan. Kalau kau belum mengerti benar, maka harus belajar, adikku. yang terpen­ting, seperti pesan ayah, harus diingat dan diketahui bahwa segala sesuatu untuk perbuatan yang dilakukan demi kepenting­an diri pribadi, demi keuntungan lahir batin diri pribadi, tidak benar kalau dipertahankan sebagai kebenaran atau keadilan.“

“Wah-wah, kuliahmu membikin aku pusing, koko. Kita sama lihat sajalah besok kalau benar-benar terjadi. Tentu ramai!”

Dua orang kakak beradik itu lalu memilih sebatang pohon besar yang enak dipakai tidur, yang tidak ada semut-­semutnya tentu saja dan mereka tidur di dalam selimut daun-daun pohon itu sam­pai pagi. Kalau rombongan piauwsu itu sama sekali tak ada yang tidur semenit pun, kedua orang kakak beradik itu tidur dengan nyenyaknya. Mereka tidak khawa­tir jatuh karena tubuh dan syaraf mereka yang sudah terlatih sejak kecil itu akan selalu siap menjaga segala macam baha­ya yang mengancam tubuh mereka.

***

Siapakah adanya tiga orang tosu yang gerak-geriknya penuh rahasia itu? Dan siapa pula rombongan hartawan yang hendak diganggunya? Untuk mengetahui ini, kita harus mengenal dulu keadaan pemerintahan pada saat itu.

Ternyata bahwa seperti juga di setiap pemerintahan, pada waktu itu banyak terdapat orang-orang yang membenci Pemerintah Mancu yang mulai memperbaiki keadaan pemerintahannya, bahkan berusaha sedapatnya untuk menarik sim­pati hati rakyat dengan usaha memper­baiki nasib rakyat kecil. Betapapun juga, tetap saja ada di antara mereka yang penasaran dan menghendaki agar pemerintah penjajah itu lenyap dari tanah air mereka. Golongan ini yang tidak berani berterang melakukan penentangan terha­dap pemerintah yang kuat lalu menyusup ke mana-mana dan di antaranya ada yang menyusup ke dalam tubuh alat negara yang berupa pasukan pemerintah!

Apalagi pada waktu itu, kesempatan baik tiba bagi mereka yang diam-diam membenci Pemerintah Mancu. Kaisar Kang Hsi sudah tua dan seperti biasanya yang terjadi dalam sejarah kerajaan setiap kali sang raja sudah tua maka timbullah perang dingin di antara para pangeran yang bercita-cita mewarisi kedudukan kaisar yang amat diinginkan itu.

Biarpun putera mahkota yang ditunjuk untuk kelak menggantikan kaisar sudah ada, yaitu Pangeran Yung Ceng, namun banyaklah pangeran-pangeran yang lebih tua usianya, putera-putera selir, merasa iri hati dan selain ada yang mengingin­kan kedudukan kaisar juga banyak yang memperebutkan pangkat-pangkat tinggi sebagai pembantu kaisar kelak.

Di antara mereka yang berambisi merampas kedudukan terdapat seorang pangeran tua, pangeran yang paling tua di antara para pangeran. Pangeran tua ini bernama Pangeran Liong Bin Ong, usianya sudah lima puluh tahun lebih karena dia dilahirkan dari seorang selir ayah Kaisar Kang Hsi. Jadi dia adalah adik tiri Kaisar Kang Hsi. Diam-diam Liong Bin Ong mengadakan hubungan dengan orang-orang kang-ouw yang mem­benci pemerintah, bahkan mengadakan kontak dengan suku bangsa liar di luar tembok besar, terutama bangsa Mongol yang masih menaruh dendam kekalahan­nya terhadap Mancu. Diantara golongan-golongan yang mengadakan persekutuan pemberontakan ini terdapat perkumpulan Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih), yang para pemimpinnya terdiri dari tosu-tosu yang sudah menyeleweng dari Agama To dan mempergunakan agama demi tercapainya ambisi pribadi berkedok agama, yaitu ambisi politik.

Tiga orang tosu yang pada malam itu dipermainkan oleh Kian Lee dan Kian Bu adalah angauta-anggauta Pek-lian-kauw yang ditugaskan oleh pimpinannya untuk melakukan penyelidikan karena Pek-lian-kauw mendengar bahwa pemerintah pusat sedang mulai menaruh curiga terhadap persekutuan itu dan kabarnya mengirim utusan kepada Jenderal Kao Liang yang bertugas sebagai komandan yang menjaga tapal batas utara. Di dalam kabar yang diterima ini, pesuruh dari pemerintah pusat menyamar dan selain mengirim berita, juga membawa­kan biaya dalam bentuk emas dan perak. Tiga orang tosu itu bertugas untuk mengawasi dan kalau dapat merampas semua itu.

Adapun hartawan yang sedang mela­kukan perjalanan itu memang datang dari kota raja bersama kedua orang isterinya dan dikawal oleh para piauwsu bayaran yang kuat, akan tetapi dia hanyalah seorang hartawan yang hendak pulang ke kampung halamannya saja di utara. Sama sekali dia tidak mengira bahwa dia disangka oleh para pemberontak sebagai utusan dari kota raja!

Demikianlah, dengan hati merasa lega juga bahwa semalam tidak terjadi gang­guan terhadap mereka, para piauwsu mengiringkan dua buah kereta itu melan­jutkan perjalanan. Dusun yang dituju oleh hartawan itu sudah tidak jauh lagi, terletak di balik gunung di depan kira-kira memerlukan perjalanan setengah hari lebih.

Akan tetapi, belum lama mereka bergerak meninggalkan kuil kuno itu, tiba-tiba kusir kereta pertama yang duduknya agak tinggi melihat debu me­ngepul di depan. “Ada orang dari depan….!” serunya dan semua piauwsu terkejut, siap dan mengurung kedua kereta itu untuk melindungi.

“Berhenti dan berjaga-jaga!” Piauwsu berjenggot putih memberi aba-aba dan dua buah kereta itu lalu berhenti, semua piauwsu meloncat turun dari kuda dan me­rasa tegang namun siap siaga menghadapi segala kemungkinan. Mereka adalah piauwsu-piauwsu yang sudah bertahun-tahun melakukan tugas itu, sudah terbiasa dengan hidup penuh kekerasan dan pertempuran.

Tak lama kemudian, muncullah tiga orang tosu itu dan di belakangnya tam­pak sepuluh orang tinggi besar yang menunggang kuda. Dilihat dari cara mereka menunggang kuda saja dapat dipastikan bahwa mereka adalah orang-orang yang biasa melakukan perjalanan jauh dengan berkuda, dan sikap mereka jelas membayangkan kekerasan, kekejam­an dan juga ketangkasan ahli-ahli silat. Yang lebih mengesankan bagi para piauw­su adalah tiga orang tosu itu, yang datang dengan jalan kaki, berlari cepat di depan rombongan berkuda. Para piauw­su yang sudah berpengalaman itu tidak gentar menghadapi sepuluh orang berkuda yang tinggi besar dan kasar itu, akan tetapi mereka dapat menduga bahwa tiga orang tosu itulah yang harus dihadapi dengan hati-hati. Oleh karena itu, pimpin­an piauwsu yang tua dan berjenggot putih, segera melangkah maju mengha­dapi tiga tosu itu dan menjura penuh hormat.

“Kami dari Hui-houw Piauw-kiok (Perusahaan Pengawal Harimau Terbang) di Sen-yang menghaturkan salam persaha­batan kepada sam-wi totiang dan cu-wi sekalian. Maafkan bahwa dua kereta yang kami kawal memenuhi jalan sehingga merepotkan cu-wi saja. Kalau cu-wi hen­dak lewat, silahkan mengambil jalan dulu!” Kata-kata penuh hormat dan merendah ini memang biasanya dilakukan oleh para piauwsu jika menghadapi gerom­bolan yang tidak dikenalnya, karena bagi pekerjaan mereka, makin sedikit lawan makin banyak kawan makin baik.

Tiga orang tosu itu tidak segera menjawab, melainkan mata mereka men­cari-cari penuh selidik, memandangi semua anggauta piauwsu, bahkan dua orang kusir keretapun tidak luput dari pandang mata mereka yang penuh selidik sehingga para piauwsu menjadi ngeri juga. Pandang mata tiga orang tosu itu mengandung wibawa dan agaknya mereka marah. Tentu saja tidak ada orang yang tahu bahwa tiga orang kakek pendeta ini mencari apakah selain para piauwsu, tidak ada orang yang menyelundup di dalam rombongan itu. Mereka masih terpengaruh oleh peristiwa gangguan “setan” semalam! Akan tetapi ketika melihat bahwa semua orang yang mengawal kereta adalah piauwsu-piauwsu bia­sa yang sejak kemarin mereka bayangi, wajah mereka kelihatan lega dan kini si tahi lalat mewakili suhengnya menjawab, “Kami tidak ingin lewat, kami sengaja menghadang kalian.”

Berubah wajah para piauwsu dan tangan mereka sudah meraba gagang pedang masing-masing. Melihat gerakan ini tiga orang tosu itu tertawa dan tosu tertua sekarang berkata, “Kami tldak ada permusuhan dengan Hui-houw Piauw-kiok!”

Mendengar ini pimpinan piauwsu kelihatan girang karena sekarang sudah tampak olehnya gambar teratai di baju tiga orang tosu itu, di bagian dada. Tiga orang pendeta itu adalah orang-orang Pek-lian-kauw dan hal ini saja sudah membuat hatinya keder karena sudah terkenallah bahwa orang-orang Pek-lian-kauw memiliki kepandaian yang tinggi. Akan tetapi biasanya orang Pek-lian-kauw tidak melakukan perampokan, maka para piauwsu selain lega juga menjadi heran mengapa tiga orang tosu Pek-lian-kauw itu menghadang perjalanan mereka.

“Kamipun tahu bahwa para locianpwe dari Pek-lian-kauw adalah sahabat rakyat jelata dan tidak akan menggang&u perja­lanan kami. Akan tetapi, sam-wi totiang menghadang kami, tidak tahu ada keper­luan apakah? Pasti kami akan membantu dengan suka hati sedapat kami.”

“Kami akan menggeledah kereta yang kalian kawal!” kata si tahi lalat yang agaknya sudah tidak sabar lagi.

Berubahlah wajah pimpinan piauwsu. Sambil menahan marah dia mengelus jenggotnya. Betapapun juga, dia adalah wakil ketua piauw-kiok dan telah terkenal sebagai seorang yang memiliki kepandai­an tinggi. Selain itu sebagai wakil piauw-kiok dia rela mempertaruhkan nyawanya demi nama baik piauw-kiok dan demi melindungi barang atau orang yang dika­walnya.

“Harap sam-wi totiang suka meman­dang persahabatan dan tidak mengganggu kawalan kami,” katanya tenang.

“Kami tidak mengganggu, hanya memeriksa dan tentu saja kalian akan bertanggung jawab kalau kami mendapatkan apa yang kami cari,” kata tosu tertua.

“Apakah yang sam-wi cari?” tanya piauwsu.

“Bukan urusanmu!” jawab si tahi lalat. “Suheng, mari kita segera menggeledah, perlu apa melayani segala piauwsu cere­wet?”

Pimpinan piauwsu melangkah maju menghadang di depan kereta, mengangkat mukanya dan memandang dengan sinar mata berapi penuh kegagahan. “Sam-wi totiang perlahan dulu! Sam-wi tentu maklum bahwa seorang piauwsu yang sedang bertugas mengawal menganggap kawalannya lebih berharga daripada nyawa­nya sendiri. Oleh karena itu, betapapun menyesalnya, kami terpaksa tidak dapat membenarkan sam-wi melakukan pengge­ledahan terhadap barang dan orang-orang kawalan kami.”

Si tahi lalat membelalakkan matanya lebar-lebar. “Apa? Kau hendak menen­tang kami? Kami bukan perampok, akan tetapi sikap kalian bisa saja membuat kami mengambil tindakan lain!”

“Kami juga tidak menuduh sam-wi perampok, akan tetapi kalau kehormatan kami sebagai piauwsu disinggung, apa boleh buat, kami akan melupakan kebodohan kami dan mengerahkan seluruh tenaga untuk melindungi dua kereta ini.”

“Wah, piauwsu sombong, keparat kau!” Si tahi lalat sudah bergerak, akan tetapi lengannya dipegang oleh suhengnya.

“Piauwsu, kalau dua orang suteku bergerak, apalagi dibantu oleh kawan-kawan kita di belakang ini, dalam waktu singkat saja kalian semua yang berjumlah dua losin ini tentu akan menjadi mayat di tempat ini. Kami bukan hendak meram­pok tanpa alasan dan bukan hendak menyerang orang tanpa sebab dan seka­rang kami hanya akan menggeledah. Kalau engkau merasa tersinggung kehor­matanmu sebagai piauwsu, nah, sekarang antara engkau dan pinto mengadu kepan­daian. Kalau pinto kalah, kami akan pergi dan kami tidak akan mengganggu kalian lebih jauh lagi. Akan tetapi kalau kau kalah, kau harus membolehkan kami melakukan penggeledahan.”

Piauwsu tua itu mengerutkan alis berpikir dan mempertimbangkan usul dan tantangan tosu itu. Memang resikonya besar sekali kalau dia membiarkan anak buahnya bertempur melawan rombongan Pek-lian-kauw itu. Dia dan anak buahnya tentu saja tidak takut mati dalam mem­bela dan melindungi kawalan mereka. Mati dalam tugas melindungi kawalan bagi seorang piauwsu adalah mati terhor­mat! Akan tetapi, perlu apa membuang nyawa kalau para tosu ini memang hanya ingin menggeledah? Pula, dia mendengar bahwa orang-orang Pek-lian-kauw hanya mengurus soal pemberontakan, siapa tahu hartawan yang dikawal ini menyembunyi­kan sesuatu, atau membawa sesuatu yang merugikan dan mengancam keselamatan Pek-lian-kauw? Kalau dia menang, dia percaya bahwa mereka itu tentu akan pergi karena dia sudah mendengar bahwa orang-orang Pek-lian-kauw, biarpun ka­dang-kadang amat kejam, namun selalu memegang janji dan karenanya memper­oleh kepercayaan rakyat. Kalau dia kalah, dua kereta hanya akan digeledah. Andaikata mereka menemukan sesuatu yang dicarinya, hal itu masih dapat dirundingkan nanti. Resikonya amat kecil kalau dia menerima tantangan, dibanding­kan dengan resikonya kalau dia menolak.

“Baiklah, kalau aku kalah, sam-wi boleh menggeledah. Sebaliknya kalau aku menang, harap cu-wi suka melepaskan kami pergi,” katanya sambil mencabut golok besarnya, senjata yang diandalkan selama puluhan tahun sebagai piauwsu. “Saya sudah siap!”

Sebelum tosu tertua maju, tosu ketiga sudah berkata, “Suheng dan ji-suheng, biarkan aku yang maju melayani. Sudah sebulan lebih aku tidak latihan, tangan kakiku gatal-gatal rasanya!”

Si tahi lalat dan suhengnya mengangguk dan tersenyum, lalu melangkah mundur. Tosu ketiga yang tubuhnya kecil kurus, mukanya pucat seperti seorang penderita penyakit paru-paru itu melang­kah maju dengan sigap. Dia adalah seo­rang pecandu madat, maka tubuhnya kurus kering dan mukanya pucat, akan tetapi ilmu silatnya lihai. Agaknya racun madat yang dihisapnya tiap hari itu tidak mengurangi kelihaiannya, bahkan menurut cerita orang, setiap kali habis menghisap madat, dia menjadi lebih ampuh dari biasanya, dan jurus-jurus silatnya mem­punyai perkembangan yang lebih aneh dan lihai!

Tosu itu menghampiri piauwsu ber­jenggot putih, tersenyum dan memandang ke arah golok di tangan si piauwsu, lalu berkata, “Eh, piauwsu, yang kau pegang itu apakah?”

Piauwsu itu tentu saja menjadi heran, mengangkat goloknya lalu berkata, “Apa­kah totiang tidak mengenal senjata ini? Sebatang golok yang menjadi kawanku semenjak aku menjadi piauwsu.”

Tosu kecil kurus itu mengangguk-angguk, “Aahh, pinto tadi mengira bahwa itu adalah alat penyembelih babi. Heii, piauwsu, kalau kau hendak menyembelih aku apakah tidak terlalu kurus?”

Mendengar ucapan yang nadanya berkelakar dan mengejek ini, rombongan anak buah Pek-lian-kauw tertawa tanpa turun dari kudanya, dan rombongan piauwsu juga tersenyum masam karena pihak mereka diejek oleh tosu kecil kurus yang kelihatan lemah namun amat sombong itu!

“Totiang, kurasa sekarang bukan waktunya untuk berkelakar. Kalau totiang mewaklli rombongan totiang maju meng­hadapiku harap totiang segera mengeluar­kan senjata totiang, dan mari kita mu­lai,” kata pimpinan piauwsu yang mena­han kemarahannya.

“Senjata…. heh-heh, twa-suheng dan ji-suheng, dia tanya senjata! Eh, piauwsu, apakah kau tidak melihat bahwa pinto telah membawa empat batang senjata yang masing-masing sepuluh kali lebih ampuh daripada alat pemotong babi di tanganmu itu?”

Piaauwsu tua itu sudah cukup berpe­ngalaman maka dia mengerti apa artinya kata-kata yang bernada sombong itu. “Hemm, jadi totiang hendak melawan golokku dengan keempat buah tangan kaki kosong? Baiklah, totiang sendiri yang menghendaki, bukan aku, maka kalau sampai totiang menderita rugi karenanya, harap jangan salahkan aku.”

“Majulah, kau terlalu cerewet!” kata tosu kecil kurus itu dan dia sendiri seenaknya saja, sama sekali tidak mema­sang kuda-kuda dan sikapnya ini jelas memandang rendah kepada lawan.

Melihat sikap tosu itu, piauwsu itu juga tidak sungkan-sungkan lagi, cepat dia mengeluarkan teriakan dan goloknya menyambar dengan derasnya.

“Wuuuuttt…. sing-sing-sing-singgg….!” Hebat memang ilmu golok dari piauwsu itu karena sekali bergerak, setiap kali dengan cepat dielakkan lawan, golok itu sudah menyambar, membalik dan melan­jutkan serangan pertama yang gagal dengan bacokan kedua. Demikianlah, golok itu menyambar-nyambar bagaikan seekor burung garuda, dari kanan ke kiri dan sebaliknya, tak pernah menghentikan gerakan serangannya.

“Wah-wehh…. wutt, luput….!” Tosu kurus kering itu mengelak ke sana-sini dengan cekatan sekali dan biarpun dia juga kaget menyaksikan serangan yang bertubi-tubi dan berbahaya itu, namun dia masih mampu terus-menerus menge­lak sambil membadut dan berlagak.

Golok itu bergerak dengan cepat dan teratur, sesuai dengan ilmu golok Siauw-lim-pai yang sudah bercampur dengan gerak kaki ilmu silat Hoa-san-pai, kadang-kadang menusuk akan tetapi lebih banyak membacok dan membabat ke arah leher, dada, pinggang, lutut dan bahkan kadang-kadang membabat mata kaki kalau lawan mengelak dengan loncatan ke atas. Suara golok membacok angin mengeluarkan suara mendesing-desing menyeramkan dan sebentar kemudian, golok itu lenyap bentuknya berubah menjadi sinar bergu­lung-gulung yang indah dan yang menge­jar ke manapun tosu itu bergerak.

Namun hebatnya, tosu itu selalu dapat mengelak, bahkan kini kadang-kadang dia menyampok dengan kaki atau tangannya. Hanya orang yang sudah tinggi ilmunya saja berani menyampok golok dengan kaki atau tangan, karena meleset sedikit saja sampokan itu, tentu mata golok akan menyanyat kulit merobek daging mema­tahkan tulang!

“Kau boleh juga, piauwsu!” kata si tosu dan tiba-tiba dia mengeluarkan suara melengking keras dan tubuhnya juga lenyap bentuknya, berubah menjadi bayangan yang cepat sekali menari-nari di antara gulungan sinar golok. Si piauwsu terkejut ketika merasa betapa jantungnya berhenti beberapa detik oleh pekik melengking tadi, dan sebelum dia dapat menguasai dirinya yang terpengaruh oleh pekik yang mengandung kekuatan khi-kang tadi, tahu-tahu lengan kanannya tertotok lumpuh, goloknya terampas dan tampak sinar golok berkelebat di depannya, memanjang dari atas ke bawah, disusul suara “bret-bret-brettt….!” dari kain terobek dan…. ketika tosu itu melem­par golok ke tanah, tampak piauwsu itu berdiri dengan pakaian bagian depan terobek lebar dari atas ke bawah sehing­ga tampaklah tubuhnya bagian depan! Tentu saja dia terkejut dan malu sekali, cepat dia menutupkan pakaian yang terobek itu, dan dengan muka merah dia menjura dan memungut goloknya, “Saya mengaku kalah. Silahkan totiang bertiga melakukan penggeledahan!”

Terdengar suara berbisik di antara para piauwsu, akan tetapi pimpinan piauwsu itu berteriak, “Saudara-saudara harap mempersilakan sam-wi totiang me­lakukan penggeledahan di dalam kereta!” Selagi piauwsu kepala ini menutupi tubuhnya yang setengah telanjang itu dengan pakaian baru yang diambilnya dari buntalannya di punggung kuda dan mema­kainya dengan cepat, ketiga orang tosu itu sambil tertawa-tawa lalu mendekati kedua kereta itu. Si tahi lalat terpisah sendiri dari kedua orang saudaranya. Kalau tosu pertama dan ketiga menghampiri kereta depan, adalah si tahi lalat ini menghampiri kereta belakang di mana duduk si hartawan bersama kedua orang isterinya!

Sambil menyeringai ke arah wanita muda baju merah, si tahi lalat yang menyingkap tirai itu berkata, “Kalian sudah mendengar betapa kepala piauwsu kalah dan kami berhak untuk menggele­dah. Heh-heh-heh!”

Hartawan itu dengan muka pucat ketakutan menjawab, “Harap totiang suka menggeledah kereta depan karena semua barang kami berada di kereta depan.”

“Ha-ha, dua orang saudaraku sudah menggeledah ke sana, akan tetapi yang kami cari itu mungkin saja disembunyikan di dalam pakaian, heh-heh. Karena itu, pinto terpaksa akan melakukan penggele­dahan di pakaian kalian.”

Tentu saja dua orang wanita itu menjadi merah mukanya dan isteri tua cepat berkata, “Totiang yang baik, kami orang-orang biasa hendak menyembunyi­kan apakah? Harap totiang suka memaaf­kan kami dan tidak menggeledah, biarlah saya akan bersembahyang di kelenteng memujikan panjang umur bagi totiang.”

Si tahi lalat tersenyum menyeringai,

“Heh-heh, tidak kau sembahyangkanpun umurku sudah panjang. Kalau terlalu panjang malah berabe, heh-heh!”

Wanita setengah tua itu terkejut dan tidak berani membuka mulut lagi melihat lagak pendeta yang pecengas-pecengis seperti badut dan pandang matanya kurang ajar sekali ditujukan kepada madunya yang masih muda itu.

“Orang menggeledah orang lain harus didasari kecurigaan. Akupun tidak mau berlaku kurang ajar kepada kalian berdua, akan tetapi wanita ini menimbulkan kecurigaan hati pinto, karenanya pinto harus menggeledahnya!”

“Aihhh….!” Wanita muda itu menjerit lirih, tentu saja merasa ngeri membayangkan akan digeledah pakaiannya oleh tangan-tangan tosu bertahi lalat yang mulutnya menyeringai penuh liur itu.

“Lihat, dia ketakutan! Tentu saja pinto menjadi lebih curiga lagi!” kata tosu bertahi lalat itu serius. “Harap kalian turun dulu, jangan mengganggu pinto sedang bekerja!”

Setelah didorongnya, suami isteri setengah tua itu tergopoh-gopoh turun dari kereta, meninggalkan wanita muda itu sendirian saja. Wanita itu duduk memojok dan tubuhnya gemetaran ketika memandang tosu itu naik ke kereta sambil tersenyum menyeringai.

“Aku…. aku tidak membawa apa-apa….! Aku…. tidak punya apa-apa….”

“Ah, bohong! Segala kau bawa, kau mempunyai begini banyak! Heh-heh, kau harus diam dan jangan membantah kalau tidak ingin pinto bertindak kasar!” Dan sepuluh jari tangan itu seperti ular-ular hidup merayap-rayap menggerayangi seluruh tubuh wanita muda itu.

Suaminya dan madunya yang berada di luar kereta, hanya mendengar suara wanita itu merintih, merengek dan mende­ngus diseling kadang-kadang terkekeh genit dan suaranya mencela, “Eh…. ihh…. hi-hik, jangan begitu totiang….!” Suara ini bercampur dengan suara tosu itu yang terengah-engah dan kadang-kadang terke­keh pula, kadang-kadang terdengar suara­nya, “Hushh, jangan ribut…. kau diamlah saja ku…. ku… geledah….”

Sementara itu, dua tosu yang lain telah memeriksa kereta pertama. Akan tetapi mereka tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, kecuali peti-peti terisi pakaian dan beberapa potong perhi­asan dan uang emas milik hartawan itu.

“Hemm, sia-sia saja kita bersusah payah. Para penyelidik itu benar bodoh seperti kerbau. Orang biasa dicurigai!” Tosu kurus kering mengomel.

“Mana ji-sute?” Tosu tertua bertanya.

“Ke mana lagi si mata keranjang itu kalau tidak ke kereta kedua?”

“Hemm…. mari kita lekas pergi, setelah salah duga, tidak baik terlalu lama menahan mereka. Para piauwsu itu tentu akan menyebarkan berita tidak baik tentang Pek-lian-kauw.”

Keduanya meninggalkan kereta perta­ma dan menghampiri kereta kedua. Ketika mereka berdua membuka pintu kereta, tosu pertama menyumpah. “Ji-sute, hayo cepat kita pergi!”

“Eh…. uhh…. baik, suheng!”

Akan tetapi agak lama juga barulah si tahi lalat itu keluar dari kereta, pakaiannya kedodoran, rambutnya awut-awutan dan napasnya agak terengah, dan ketika kedua orang hartawan dan isteri­nya naik kereta, mereka melihat wanita muda itu sedang membereskan pakaiannya dan rambutnya, mukanya merah sekali dan dia tersenyum kecil, mengerling ke arah suaminya yang cemberut. Pintu kereta ditutup dari dalam dan segera terjadi maki-makian dan keributan di dalam kereta antara si suami yang me­maki-maki bini mudanya dan si bini muda yang membantah dan melawan, diseling suara isteri tua yang melerai mereka.

Akan tetapi, ketika dua tosu itu menghampiri kereta kedua, para pengikut­nya yang kasar-kasar itu sudah turun dan beberapa orang dari mereka ikut memeriksa kereta pertama, kemudian beberapa buah peti mereka bawa ke kuda mereka. Melihat ini piauwsu yang terdekat segera meloncat dan menegur, “Heii, mengapa kalian mengambil peti itu? Kembalikan!”

Jawabannya adalah sebuah bacokan kilat yang membuat piauwsu itu roboh mandi darah. Gegerlah keadaannya yang memang sejak tadi sudah menegangkan itu. Kedua pihak memang sejak tadi sudah hampir terbakar, hampir meledak tinggal menanti penyulutnya saja. Kini, begitu seorang piauwsu mandi darah, semua piauwsu serentak bergerak menyer­bu dan terjadilah pertempuran yang sejak tadi sudah ditahan-tahan.

Melihat ini, biarpun hatinya menyesal, tiga orang tosu itu terpaksa turun ta­ngan. “Jangan kepalang, kalau sudah begini, bunuh mereka semua agar tidak meninggalkan jejak kita!” kata si tosu tertua. Memang terpaksa dia harus mem­bunuh seluruh piauwsu dan kusir serta penumpang kereta, karena kalau tidak, tentu mereka akan menyebar berita bahwa Pek-lian-kauw mengganggu dan merampok. Hal ini tentu akan menimbul­kan kemarahan ketua mereka dan mere­kalah yang harus bertanggung jawab, mungkin mereka akan dibunuh sendiri oleh ketua mereka karena hal itu amat dilarang karena dapat memburukkan nama Pek-lian-kauw di mata rakyat yang mereka butuhkan dukungannya.

“Bunuh semua, jangan sampai ada yang lolos!” tiga orang tosu itu berteriak-teriak sambil mengamuk. Siapa saja yang berada di dekat tiga orang tosu yang bertangan kosong ini, pasti roboh.

Tiba-tiba tampak berkelebatnya dua sosok bayangan orang yang tahu-tahu di situ telah muncul Kian Lee dan Kian Bu. Mereka sudah sejak tadi membayangi dan mengintai dari jauh. Mereka melihat lagak para tosu dan karena wanita muda itu sama sekali tidak minta tolong, bahkan ada terdengar suara ketawanya di antara rintihan dan rengeknya, Kian Lee yang ditahan-tahan oleh adiknya itu sengaja tidak turun tangan dan mendiam­kannya saja. Juga ketika terjadi adu kepandaian tadi, dia tidak berbuat apa-apa karena memang pertandingan itu sudah adil, satu lawan satu.

Akan tetapi melihat pertempuran pecah dan mendengar aba-aba dari mulut tosu itu, Kian Lee dan Kian Bu hampir berbareng melompat dan lari cepat sekali ke medan pertempuran. Sekali mereka bergerak, robohlah empat orang di antara sepuluh orang tinggi besar pengikut Pek-lian-kauw itu dan terdengar Kian Bu berteriak, “Cu-wi piauwsu, harap kalian hadapi enam orang hutan itu, biarkan kami menghadapi tiga orang pendeta palsu ini!”

Melihat munculnya dua orang muda yang segebrakan saja merobohkan empat orang tinggi besar itu, semua piauwsu terheran-heran dan tentu saja dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika mengenal kedua orang itu yang bukan lain adalah si penculik nyonya muda dan penolongnya! Bagaimana mere­ka dapat datang bersama dan kini mem­bantu mereka menghadapi orang-orang Pek-lian-kauw? Akan tetapi, mereka tidak ada waktu untuk bertanya dan kini semua para piauwsu yang bersama pemim­pinnya masih berjumlah delapan belas orang karena yang enam orang telah roboh, maju menyerbu dan mengeroyok enam orang sisa pasukan pengikut Pek-lian-kauw yang tinggi besar itu. Biarpun pada umumnya tingkat kepandaian orang Pek-lian-kauw itu lebih tinggi sedikit, namun karena mereka harus menghadapi para piauwsu dengan perbandingan satu lawan tiga, mereka segera terdesak.

Sementara itu, Kian Lee dan Kian Bu sudah menghadapi tiga tosu yang meman­dang kepada mereka dengan mata terbe­lak dan dengan ragu-ragu. Kian Bu sege­ra tersenyum dan bertanya, “Apa kabar, sam-wi totiang? Aihh, kenapa sam-wi bau air kencing?”

Mendengar kata-kata ini, tiga orang tosu itu kontan berteriak marah sekali karena mereka tahu bahwa dua orang pemuda inilah yang mengganggu mereka semalam dan yang telah menyamar sebagai “setan”. Biarpun semalam mereka mendapatkan bukti betapa lihainya dua orang itu, namun begitu melihat mereka berdua hanyalah pemuda-pemuda tang­gung, tiga orang tosu itu menjadi besar hati. Sampai di mana sih tingkat kepan­daian orang-orang muda seperti itu? Mereka tentu saja tidak merasa gentar ­sedikitpun dan sambil mengeluarkan suara teriakan seperti harimau buas, si tahi lalat sudah lebih dahulu menerjang maju dan mencengkeram dengan kedua tangan membentuk cakar ke arah kepala Kian Bu!

Pemuda ini sama sekali tidak menge­lak, akan tetapi setelah kedua tangan yang seperti cakar itu dekat dengan kepalanya secepatnya ia menangkis hingga sekaligus tangan kirinya menangkis dua tangan lawan yang menyeleweng ke samping, kemudian secepat kilat tangan kanannya bergerak selagi tubuh lawan masih berada di udara.

“Plak! Crettt! Aduuhh….!” Tosu bertahi lalat di dagunya itu berteriak kaget dan kesakitan, lalu mencelat mun­dur berjungkir balik sambil mendekap hidungnya yang keluar “kecap” terkena sentilan jari tangan Kian Bu. Biarpun tosu itu sudah mahir sekali menggunakan sin-kang membuat tubuhnya kebal, akan tetapi kekebalannya tidak dapat melin­dungi hidungnya yang agak terlalu besar dan buntek itu, maka sekali kena disentil jari tangan yang kuat itu, sekaligus darahnya muncrat ke luar.

Tosu kurus kering juga sudah menerjang Kian Lee. Karena tosu ini lebih berhati-hati, tidak sembrono seperti sutenya, dia menyerang dengan jurus pilihan dari Pek-lian-kauw, bahkan dia mengerahkan sin-kang yang mendorong hawa beracun menyambar ke luar dari telapak tangannya. Hampir semua tokoh Pek-lian-kauw yang sudah agak tinggi tingkatnya, semua mempelajari ilmu pukulan beracun ini, yang hanya dapat dipelajari oleh kaum Pek-lian-kauw. Ilmu pukulan ini ada yang memberi nama Pek-lian-tok-ciang (Tangan Beracun Pek-lian-kauw) dan memang amat dahsyat karena begitu tosu itu memukul dengan kedua tangan terbuka, tidak saja dapat melukai lawan di sebelah dalam tubuhnya dengan hawa pukulan sin-kang itu, akan tetapi hawa beracun itu masih dapat mencelakai lawan yang dapat menahan sin-kang. Berbahayanya dari pukulan ini adalah karena hawa beracun itu tidak mengeluarkan tanda apa-apa, berbeda dengan pukulan tangan beracun lain yang dapat dikenal, yaitu dari baunya atau dari uap yang keluar dari tangan sehingga lebih mudah dijaga.

Kian Lee agaknya tidak tahu akan pukulan beracun ini, maka dengan se­enaknya dia menyambut dengan kedua telapak tangannya pula. Melihat ini, si tosu kurus kering dan twa-suhengnya yang belum turun tangan menjadi girang, mengira bahwa pemuda itu pasti terjungkal, karena andaikata dapat menahan te­naga sin-kang dari pukulan itu, pasti akan terkena hawa beracun.

“Duk! Plakk!”

Terjungkallah tubuh…. si tosu kurus kering! Kejadian ini tentu saja membuat tosu pertama menjadi kaget setengah mati karena hal yang terjadi adalah kebalikan dari apa yang disangka dan diharapkannya. Dia melihat tubuh sutenya yang roboh bergulingan menggigil kedi­nginan, terheran-heran mengapa sutenya bisa begitu. Akan tetapi tak ada waktu un­tuk memeriksa dan segera menerjang maju aengan marah sekali sambil meloloskan sabuk sutera di pinggangnya. Sabuk pendek ini memang selalu dilibatkan di pinggang dan merupakan senjatanya yang ampuh sungguhpun jarang sekali dia mempergunakannya karena biasanya, kedua tangannya saja sudah cukup untuk merobohkan seorang lawan. Akan tetapi sekarang, melihat betapa ji-sutenya dalam segebrakan telah remuk hidungnya dan sam-sutenya juga telah roboh dan menggigil kedinginan, dia maklum bahwa kedua orang muda itu amat hebat kepan­dainnya dan tanpa sungkan-sungkan lagi dia lalu meloloskan senjatanya itu.

Juga si tahi lalat yang sudah hilang puyengnya karena hidungnya remuk itu, setelah menghapus darah dari mulutnya yang ternoda oleh darah yang menitik dari bekas hidung, sudah mengeluarkan senjatanya pula. Berbeda dengan suheng­nya, senjata tosu ini ada dua macam, yaitu seuntai tasbeh dan setangkai kem­bang teratai putih yang entah diberi obat apa sudah menjadi keras seperti besi! Tadinya kedua senjata ini tersimpan di dalam saku bajunya yang lebar dan kini sudah berada di kedua tangannya.

“Wah-wah, setelah menghadapi kesukar­an baru kau ingat kepada tasbehmu dan kembang, ya? Apakah engkau hendak membaca doa dan memuja dewa dengan kembang itu?” Kian Bu mengejek.

“Keparat, mampuslah kau di tanganku!” Si tahi lalat membentak dan tasbehnya sudah menyambar ganas ke arah dahi Kian Bu sedangkan kembang teratai itu menyambar leher. Serangan ini berbahaya sekali karena merupakan serangan palsu atau ancaman. Kelihatannya memang ganas, akan tetapi keganasan ini hanya untuk mengelabui perhatian lawan karena pada detik selanjutnya, selagi perhatian lawan tertuju untuk menghadapi dua serangan ganas itu, kakinya menyambar dan menendang ke arah anggauta kelamin yang merupakan satu di antara pusat kematian bagi seorang laki-laki!

“Cuuuutt-wuuuttt…. wessss!”

Namun sekali ini yang dihadapi oleh si tahi lalat adalah putera Pendekar Super Sakti! Menghadapi serangan ini, dengan amat tenangnya Kian Bu terse­nyum dan memandang saja. Ketika dua senjata itu sudah datang dekat, dia hanya menggerakkan tubuhnya sedikit saja, dan pada saat kedua senjata itu ditarik secara berbareng, tahulah dia bahwa dua serangan itu hanyalah merupakan gertak sambal saja, maka dengan tenang dia menanti serangan intinya. Ketika melihat berkelebatnya kaki tosu itu menendang ke arah alat kelaminnya, Kian Bu terse­nyum dan pura-pura terlambat mengelak.

“Desss!” Tepat sekali kaki itu menen­dang bawah pusar dan Kian Bu terjeng­kang roboh, mukanya pucat dan matanya mendelik dan napasnya terhenti.

“Hua-ha-ha-ha! Kiranya engkau hanya begini saja! Tidak lebih keras daripada tahu!” Sambil berkata demikian, si tahi lalat itu melangkah maju, mengangkat kakinya dan mengerahkan sin-kang, hendak menginjak hancur kepala Kian Bu.

“Wuuuuttt! Plak! Tekkk…. wadouww….!” Tosu itu memekik, kedua senjatanya terlepas dan dia berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil kegirangan, akan tetapi air matanya bercucuran dan mulut­nya megap-megap dan mendesis-desis seperti orang kepedasan, kedua tangannya mendekap alat kelaminnya dan kaki kanannya diangkat, kaki kiri berloncat-loncatan! Apa yang terjadi? Tentu saja Kian Bu tadi menerima tendangan itu dengan sengaja! Sebagai seorang putera Pendekar Super Sakti yang telah memiliki sin-kang luar biasa sekali tingginya, pada saat kaki lawan datang, dia sudah mengerahkan sin-kangnya menyedot selu­ruh alat kelaminnya masuk ke rongga perut sehingga tendangan itu hanya mengenai kulitnya yang dilindungi oleh hawa sin-kang di sebelah dalam. Akan tetapi dia pura-pura jatuh dan semaput! Pada saat kaki tosu itu datang hendak menginjak kepalanya, dia cepat megang­kap kaki itu, menariknya sehingga tubuh tosu itu merendah, kemudian dengan jari tangannya dia “menyentil” alat kelamin tosu itu, mengenai sebutir di antara bola kelaminnya, dan tentu saja mendatangkan rasa nyeri yang sukar dilukiskan di sini. Hanya mereka yang pernah terpukul bola kelaminnya sajalah yang akan tahu bagai­mana rasanya. Kiut-miut berdenyut-denyut terasa di seluruh tubuh, merasuk di otot-otot dan tulang sumsum, terasa oleh setiap bulu di badan, membuat kepala rasanya mot-motan dan ulu hati seperti diganjal, nyeri dan linu, pedih cekot-cekot dan segala macam rasa nyeri terkumpul menjadi satu membuat tosu itu pingsan tidak sadarpun tidak, hidup tidak matipun belum! Dalam keadaan seperti itu, tentu saja kedua senjatanya terlepas tanpa disadarinya lagi, bahkan dia masih berjingkrakan seperti seekor monyet diajar menari ketika Kian Bu sambil tertawa mengalungkan tasbeh di leher tosu itu dan menancapkan tangkai kembang di rambutnya!

Sementara itu tosu tertua yang me­nyerang Kian Lee pun kecelik. Sabuknya menyambar seperti seekor ular hidup, mula-mula melayang-layang ke sana-sini untuk mengacaukan perhatian lawan. Namun, melihat betapa pemuda itu sama sekali tidak membuat gerakan mengelak, bahkan memandang gerakan sabuk itu tanpa gentar sedikitpun juga, sabuk itu melayang turun dan menotok ke arah ubun-ubun kepala Kian Lee. Kalau saja pemuda ini belum yakin akan kemampuan dan kekuatan sin-kang lawan, tentu saja dia tidak begitu gegabah berani meneri­ma totokan ujung sabuk ke arah bagian kepala yang lemah ini. Akan tetapi perhitungannya sudah masak, dan dia menerima saja totokan itu.

“Takkkk!” Ujung sabuk tepat mengenai ubun-ubun kepala pemuda itu, akan tetapi sabuk itu membalik dan hebatnya, bukan sembarangan saja membalik, mela­inkan mengandung kekuatan dahsyat dan sabuk itu menyerang ubun-ubun kepala tosu itu sendiri tanpa dapat ditahannya. Kaget setengah mati tosu itu dan cepat dia miringkan kepala sehingga totokan sabuk itu meleset.

Akan tetapi dia masih penasaran. Disangkanya hal itu hanyalah kebetulan saja karena kuatnya dia menggerakkan sabuk dan kuatnya pemuda itu menahan totokannya. Biarpun dia kaget dan juga heran, namun kembali dia menggerakkan sabuknya dan sekali ini sabuknya melun­cur dan menotok ke arah mata kanan Kian Lee! Secepat itu pula, tangan kirinya bergerak ke depan mencengkeram ke arah pusar. Sukar dibandingkan yang mana antara kedua serangan ini yang lebih berbahaya. Sudah jelas bahwa totokan ujung sabuk ke arah mata itu sedikitnya dapat membuat sebelah mata menjadi buta! Akan tetapi cengkeraman tangan yang amat kuat itu ke pusar, kalau sampai pusar dapat dicengkeram dan terkuak, tentu isi perut akan ambrol dan terjurai keluar semua!

Kian Lee yang senantiasa bersikap tenang itu sedikitpun tidak menjadi gugup bahkan dengan tenangnya tanpa berkedip dia menanti sampai ujung sabuk dekat sekali dengan mukanya, lalu tiba-tiba tangannya menyampok dan mengirim kembali ujung sabuk itu ke muka lawan, sedangkan perutnya menerima cengkeram­an itu, bahkan menggunakan sin-kang untuk membuat perutnya lunak seperti agar-agar sehingga tangan lawan terbe­nam masuk, akan tetapi setelah tangan lawan memasuki perutnya, dia mengerah­kan sin-kang untuk menyedot dan tangan itu tidak dapat ditarik kembali oleh pemiliknya.

Bukan main kagetnya tosu itu, dia harus membagi perhatiannya menjadi dua, sebagian untuk menarik kembali tangan­nya yang terjepit di perut lawan, dan kedua kalinya untuk menguasai sabuknya sendiri yang menjadi “liar” dan menye­rang dirinya sendiri.

“Plakk! Krekkk!” Tubuh tosu itu terjengkang dan dia mengerang kesakitan karena selain pipinya terobek kulitnya oleh hantaman ujung sabuknya sendiri, juga tulang ibu jari dan kelingkingnya patah-patah terkena himpitan di dalam perut pemuda luar biasa itu!

“Tahan semua senjata! Cu-wi piauwsu, biarkan mereka pergi semua!” Kian Lee berseru suaranya lantang sekali, penuh dengan kekuatan khi-kang sehingga mere­ka yang masih bertanding itu terkejut dan menahan senjata masing-masing.

Kepala piauwsu itu yang melihat betapa tiga orang tosu itu telah dibuat tidak berdaya oleh dua orang pemuda aneh itu, tak berani membantah lalu berkata kepada sisa pengikut Pek-lian-kauw, “Kalian tahu sendiri kami tidak berniat untuk memusuhi Pek-lian-kauw, melainkan pimpinan kalian yang mende­sak kami. Nah, pergilah dan bawa teman-temanmu!”

Sisa pihak Pek-lian-kauw yang mak­lum bahwa melawanpun tiada gunanya, lalu saling tolong dan naik ke atas kuda. Tiga orang tosu yang tadinya ketika datang menggunakan ilmu lari cepat di depan rombongan kuda, kini dalam keada­an setengah pingsan dipangku oleh mere­ka yang masih sehat, kemudian tanpa pamit mereka lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Para piauwsu lalu menolong teman-teman mereka yang terluka sedangkan pimpinan rbmbongan itu, piauwsu berjenggot putih menjura kepada Kian Lee dan Kian Bu sambil berkata, “Berkat pertolongan ji-wi taihiap maka kami masih dapat selamat dan….” tiba-tiba dia menghentikan kata-kata dan terbela­lak ketika melihat dua orang pemuda itu saling pandang, mengangguk dan tiba-tiba saja melesat dan lenyap dari depan­nya! Yang terdengar dari jauh hanya suara melengking tinggi, seperti suara burung rajawali yang sedang berkejaran.

“Bukan main….!” Piauwsu itu meng­geleng kepala dan melongo. “Sepasang pemuda itu…. seperti…. sepasang rajawali sakti saja….! Sayang mereka tidak memperkenalkan diri….!” Memang sela­ma hidupnya berkelana di dunia kang-ouw, belum pernah piauwsu ini menyaksi­kan kepandaian dua orang pemuda semu­da itu, dua orang pemuda yang tingkat ilmunya tidak lumrah manusia dan ketika pergi seperti terbang, seperti sepasang rajawali sakti saja!

Tiada habisnya mereka membicarakan kedua orang pemuda itu yang pada ke­munculan pertama sudah aneh, seorang menjadi penculik dan seorang menjadi penolong, kemudian penculik dan peno­long itu bekerja sama mengusir orang-orang Pek-lian-kauw secara mengheran­kan sekali. Tak salah lagi, tentu mereka itu bersaudara melihat wajah mereka yang mirip, dan tentu soal penculikan tadi hanya main-main saja, permainan dua orang pemuda aneh yang tidak lu­mrah manusia.

Cerita itu menjalar cepat dari mulut ke mulut sehingga mulai hari itu, terke­nallah julukan Sepasang Rajawali Sakti untuk dua orang pemuda yang sama sekali tidak terkenal di dunia kang-ouw. Bukan hanya dari pihak piauwsu itu saja yang memperluas cerita itu, juga dari pihak Pek-lian-kauw sendiri segera meng­akui bahwa memang di dunia kang-ouw muncul dua orang pemuda yang aneh dan yang patut disebut Sepasang Rajawali Sakti karena ilmu kepandaian mereka yang amat tinggi!

***

Tidak baik kalau terlalu lama kita meninggalkan Lu Ceng atau Ceng Ceng, dara remaja cantik jelita dan lincah jenaka yang sejak permulaan cerita ini sudah banyak mengalami hal-hal yang amat hebat itu. Seperti diceritakan di bagian depan, Ceng Ceng yang juga mempunyai nama baru setelah diangkat adik oleh puteri Bhutan, yaitu Candra Dewi, hanyut di dalam perahu tanpa kemudi bersama kakak angkatnya, Puteri Syanti Dewi yang dalam penyamarannya karena dikejar-kejar kaum pemberontak juga mempunyai nama baru, yaitu Lu Sian Cu.

Seperti telah diceritakan, Syanti Dewi dan Ceng Ceng terlempar ke air sungai yang dalam dan deras arusnya, ketika perahu yang tanpa kemudi karena ditinggalkan tukang perahu itu menabrak perahu-perahu lain dan terguling. Syanti Dewi dapat tertolong oleh seorang laki-laki gagah perkasa yang bukan lain adalah Gak Bun Beng, akan tetapi kedua­nya tidak berhasil mencari Ceng Ceng dengan jalan menyusuri tepi Sungai Nu-kiang. Namun tak ditemukan jejak Ceng Ceng dan dengan hati berat terpaksa Syanti Dewi bersama penolongnya itu meninggalkan sungai itu dan menganggap bahwa Ceng Ceng tentu sudah tenggelam dan tewas.

Benarkah Ceng Ceng tewas tenggelam di dasar Sungai Nu-kiang di barat itu?

Kalau demikian, pengarang yakin tentu dalam waktu pendek pengarang tentu akan menerima surat-surat protes dari para pembaca! Tidak, Ceng Ceng tidak tewas dan pada saat Syanti Dewi dan Gak Bun Beng menyusuri tepi Sungai Nu-kiang itu, dia sudah menggeletak jauh dari tepi sungai, di dalam sebuah hutan yang amat sunyi dan liar, menggeletak pingsan dengan muka masih kebiruan, akan tetapi perutnya telah kempis tidak penuh air dan napasnya sudah berjalan dengan halus dan kuat. Krisis telah lewat dan dara itu telah selamat dari cengke­raman maut melalui air Sungai Nu-kiang.

Ceng Ceng mulai siuman dan mengge­rak-gerakkan pelupuk mata, atau lebih tepat lagi, bola mata yang masih tertutup pelupuk itu mulai bergerak, kemudian pelupuk matanya terbuka perlahan, makin lama makin lebar sehingga matanya seperti sepasang matahari baru muncul dari permukaan laut di timur. Mendadak, mata itu terbuka serentak dengan lebar, kepalanya menoleh ke kanan kiri, lalu ke pinggir tubuhnya. Mengapa dia rebah terlentang di bawah pohon-pohon besar, di atas rumput kering, di dekatnya ada api unggun yang mendatangkan hawa hangat. Ketika menengok ke kanan, dia melihat seorang pemuda sedang duduk di tepi sungai kecil di dalam hutan itu, duduk membelakanginya dan memegang tangkai pancing, sedang tangan kirinya memegang sebuah paha ayam hutan yang sudah dipanggang, dan di dekatnya tam­pak kayu yang masih terbakar mengepul­kan asap dan di antara api membara itu masih terdapat sisa ayam hutan.

Ceng Ceng tidak bergerak, meman­dang seperti dalam mimpi. Siapa pemuda itu? Dan dia…. mengapa berada di tem­pat ini. Tiba-tiba dia menahan seruannya karena teringat. Bukankah dia bersama kakaknya Syanti Dewi terlempar ke dalam sungai dan hanyut? Teringat akan ini, teringat akan kakaknya yang hanyut, serentak Ceng Ceng melompat bangun.

“Iiihhh….!” Dia menjerit kecil dan cepat-cepat dia merobohkan diri “mende­kam” lagi di atas tanah, kedua tangannya sibuk menutupkan jubah lebar yang kedodoran dan tadi terbuka ketika dia melon­cat bangun. Baru sekarang dia melihat dan memperhatikan keadaan tubuhnya dan rasa malu membuat seluruh tubuh­nya, mungkin saja dari akar rambut sampai akar kuku jari kaki, menjadi kemerahan. Siapa yang tidak akan malu setengah mati mendapat kenyataan bah­wa tubuhnya hanya tertutup oleh jubah lebar itu saja, tanpa apa-apa lagi di sebelah dalamnya? Dia telah telanjang bulat-bulat betul, hanya terlindung oleh jubah itu. Di mana pakaiannya? Mengapa dia telanjang bulat? Siapa yang menco­poti pakaiannya tanpa ijin? Dan jubah ini, siapa yang menutupkan di tubuhnya? Siapa lagi kalau bukan pemuda itu, pikirnya dan matanya mulai mengeluar­kan sinar berapi. Kurang ajar! Pemuda laknat, berani menelanjangi aku dan memakaikan jubah ini. Pemuda yang harus mampus! Ingin dia menjerit dan menangis, akan tetapi melihat pemuda yang duduk mancing ikan dan membela­kanginya itu diam tak bergerak, dia menjadi ragu-ragu. Dia tidak boleh sembrono dan lancang, pikirnya. Bagaimana kalau bukan dia yang melakukannya?

“Setan alas di kali eh, setan kali di alas!” Tiba-tiba pemuda itu mengomel dan kalau Ceng Ceng tidak sedang marah besar sekali itu tentu dia akan tertawa geli melihat pemuda itu mengangkat pancingnya dan melihat ada tahi tersang­kut di mata kail itu! Agaknya tahi mo­nyet atau binatang lain, akan tetapi bentuknya seperti kotoran manusia dan cukup menjijikkan! Dengan gerakan ge­mas pemuda itu menyabet-nyabetkan kailnya di air sampai kotoran itu lenyap, kemudian mengangkat mata kailnya yang sudah kehilangan umpan, mengambil lagi daging bakar, sebagian dicuwil untuk dipakai umpan, sebagian lagi dijejalkan mulutnya. Melihat betapa pemuda itu kembali mengambil paha ayam dan menggigitnya, timbul air liur di mulut Ceng Ceng karena baru terasa olehnya betapa lapar perutnya.

Pemuda itu lalu menancapkan gagang pancingnya di tanah, lalu bangkit berdiri, membalik dan baru dia melihat Ceng Ceng agaknya! Melihat gadis itu sudah siuman, mendeprok di bawah dengan tangan sibuk menutupi tubuhnya dengan jubah kedodoran yang kancingnya banyak yang sudah rusak sehingga tidak dapat dikancingkan itu, dia tersenyum menge­jek! Senyum yang bagi Ceng Ceng amat menggemaskan, senyum yang lebih tepat disebut menyeringai dan sengaja meng­ejek, malah matanya melirak-lirik seperti orang menggoda, tangan kiri memegang paha ayam diacungkan ke atas, dicium dengan cuping hidung kembang kempis.

“Hemmm…. sedap dan gurihnya….!” lalu dia menoleh kepada Ceng Ceng sambil berkata, “Wah, lama benar engkau tidur! Keenakan mimpi, ya? Kau membi­kin aku repot bukan main, yaaaa…. repot bukan main, lahir batin. Untung engkau tidak mati di sungai, dan untung aku mempunyai jubah cadangan, biarpun sudah agak tua akan tetapi cukup untuk menyelimutimu.”

Mendengar ini, kontan keras Ceng Ceng naik darah! Betapa tidak kalau kata-kata pemuda itu jelas membuktikan bahwa pemuda inilah yang telah menco­poti semua pakaiannya, kemudian menge­nakan jubah itu pada tubuhnya! Sialan? Dia meloncat bangun, kedua tangan dikepal dan siap untuk menyerang, akan tetapi agak kaku karena tangan kanannya tertutup oleh tangan baju yang terlalu panjang itu dan telapak kakinya terasa nyeri dan juga geli karena kakinya telan­jang dan batu-batu di tempat itu agak runcing. Akan tetapi hanya beberapa detik saja dia memasang kuda-kuda yang kaku itu karena dia melihat pemuda itu sudah menaruh telunjuknya di depan hidung sambil berkata, “Cih, tidak tahu malu, ya? Lihat jubah itu kedodoran!”

Tentu saja Ceng Ceng sudah cepat menggunakan kedua tangannya untuk menutupi depan jubahnya dan dia tidak berani lagi maju menyerang karena begitu dia menyerang, tentu jubah itu akan terlepas, terbuka dan…. akan tampaklah semua bagian depan dari tubuhnya. Dia membanting-banting kaki­nya, akan tetapi segera menjerit dan mengaduh karena kakinya menimpa batu runcing. Ingin dia menjerit, ingin dia menangis dan dengan mata terbelalak penuh kemarahan dia memandang wajah pemuda itu.

Pemuda itu lalu enak-enak duduk lagi di tepi sungai, membelakangi Ceng Ceng dan sambil melanjutkan makan ayam panggang dia mencurahkan perhatiannya kepada pancingnya, seolah-olah Ceng Ceng tidak ada di belakangnya atau bahkan seolah-olah di dunia ini tidak ada seorang manusia lain kecuali dia dan pancingnya!

Ceng Ceng makin panas perutnya. Dia memutar otaknya dan teringat akan cerita tentang jai-hwa-cat, yaitu penjahat berkepandaian tinggi yang kerjanya hanya menculik dan memperkosa seorang gadis kemudian membunuhnya. Dia bergidik. Seorang penjahat jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) kiranya pemuda itu! Dia terjatuh ke dalam tangan seorang penja­hat keji. Diam-diam selagi pemuda itu membelakanginya, dia meraba-raba tubuh­nya, memeriksa dan merasakan keadaan tubuhnya. Hatinya lega karena dia merasa yakin bahwa dia belum ternoda. Akan tetapi berapa lama lagi? Dan dia sudah ditelanjangi oleh pemuda itu, jari-jari tangan pemuda itu telah menggerayangi tubuhnya ketika menanggalkan semua pakaiannya, bahkan sepatunya, kemudian mengganti dengan jubah itu! Pemuda kurang ajar! Pemuda yang harus mampus!

Makin dipikir, makin dikenang, makin panas rasa perutnya. Dia lalu merobek pinggiran jubah itu sehingga merupakan tali yang cukup panjang, kemudian selain menggunakan sebagian tali untuk ikat pinggang, juga dia mengikat lubang-lubang kancing jubah itu sehingga tidak ada bahaya terbuka lagi kalau kedua tangannya digerakkan. Setelah itu lalu digulungnya lengan bajunya sampai ke siku agar tidak menghalangi gerakannya karena dia sudah mengambil keputusan pasti untuk menghajar jai-hwa-cat itu! Menghajarnya sampai mati.

Setelah selesai persiapannya, dia melangkah perlahan dan seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang. Dia sudah memasang kuda-kuda dan kedua tangannya sudah terkepal di pinggang, siap untuk menerjang dan memukul. Dia harus menyerang dengan jurus apa? Bagian mana yang harus dipukulnya dan sebaik­nya memukul dengan tangan terbuka atau terkepal? Dia mempertimbangkan, memi­lih-milih bagian mana yang paling “lunak” dan yang paling tepat, karena dia yakin bahwa pemuda itu tentu pandai, maka dia harus dapat berhasil menyerang secara “tek-sek”, yaitu satu kali “tek” (suara pukulan) hasilnya “sek” (mati), atau sekali pukul mati! Tengkuknya yang sebagian tertutup rambut yang hitam lebat dan dikuncir tebal itu? Ah, kuncir itu terlalu tebal dan ini bisa menahan pukulannya. Punggungnya? Pemuda itu memakai baju dan berlapis jubah tebal, inipun tidak menguntungkan kalau dia memukul punggung, apalagi menotok karena totokannya bisa terhalang oleh tebalnya pakaian. Kepalanya! Ya, ubun-ubun kepalanya itu. Biarpun pemuda itu rambutnya hitam dan tebal, akan tetapi kiranya rambut itu tidak cukup kuat untuk melindungi ubun-ubun yang lemah.

Sekali pukul ubun-ubunnya, beres! Apalagi kalau dia mengerahkan sin-kangnya, meng­gunakan jari tangan terbuka mencengke­ram, tentu jari-jari tangannya akan menancap di ubun-ubun itu. Crottt, dan otaknya akan muncrat keluar! Ceng Ceng bergidik ngeri juga. Belum pernah dia melakukan hal sekejam itu. Membayang­kan otak kepala manusia berlepotan di jari tangannya, dia sudah mau muntah. Ah, ditotok saja jalan darah di lehernya. Totokannya biasanya jitu dan sekali totok tentu pemuda itu akan tak berdaya lagi, kalau sudah begitu, terserah nanti bagai­mana dia akan membunuhnya.

Tangannya sudah dibuka jarinya, kedua jari telunjuk dan jari tengah ta­ngan kanan sudah menegang sedangkan tiga jari lainnya ditekuk, siap untuk melakukan totokan yang jitu selagi pe­muda itu tekun memperhatikan pancing­nya.

“Apakah sebelum membunuhku, kau tidak lebih dulu menanyakan di mana kusimpan pakaianmu? Kalau aku mati dan kau tidak dapat menemukan pakaianmu, apakah kau akan melakukan perjalan­an seperti itu?”

Ucapan pemuda itu membuat dia lemas! Lemas dan jengkel. Jari tangan yang sudah menegang menjadi lemas kembali.

“Jai-hwa-cat! Manusia cabul! Mata keranjang! Laki-laki tak tahu malu! Ceriwis dan muka tebal!”

Pemuda itu menoleh, tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi yang kuat dan putih bersih, matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri. “Apa lagi? Kalau masih ada, keluarkan semua, kalau perlu boleh melihat kamus mencari kata-kata makian. Tidak baik menyimpan penasaran.”

Bagaikan api disiram bensin, kemarah­an Ceng Ceng makin berkobar, telunjuk­nya menuding. “Kau…. kau…. babi celeng monyet anjing kerbau! Kau manusia iblis, setan, siluman eh, apalagi…. eh, keparat jahanam! Hayo kembalikan pakaianku, kalau tidak….”

“Kalau tidak mengapa sih?”

“Kalau tidak…. akan kuhancurkan kepalamu, kurobek dadamu, kukeluarkan isi perutmu, kupotong lehermu, kaki dan tanganmu….!”

“Heh-heh, memangnya aku ayam? Terlalu kejam bagi seorang dara secantik engkau!”

Karena kata-kata dan sikap pemuda itu mengejeknya, tak dapat lagi Ceng Ceng menahan kemarahan hatinya, “Kembalikan pakaianku!”

“Nanti dulu! Kalau kau minta dengan cara kurang ajar seperti itu, jangan harap aku akan mengembalikannya!”

“Apa? Harus bagaimana aku minta?”

“Yahhh, dengan kata-kata yang sopan dan manis, namanya saja orang minta-minta.”

“Aku bukan pengemis!”

“Akan tetapi engkau minta sesuatu, harus yang sopan dan manis.”

“Manis hidungmu! Mampuslah!”

Ceng Ceng sudah tak dapat lagi menahan lebih lama dan dia menyerang dengan dahsyat, menggunakan kedua tangannya memukul meskipun kakinya berjingkrak karena telanjang.

“Hehhhh…. waaahhh…. luput!”

“Haaaaiiitttt….!” Tubuh Ceng Ceng menerjang maju, kakinya menendang menyusul hantamannya mengarah dada.

“Wuuuussss…. hampir saja tapi luput!”

“Hyaattt….!” Kemarahan membuat Ceng Ceng menyerang sehebatnya, kini tangan kirinya mencengkeram ke arah mata lawan disusul tangan kanannya menyodok lambung. Pukulan yang berba­haya sekali.

“Bagus sekali, sayang gagal….!”

Bertubi-tubi Ceng Ceng menyerang, mengeluarkan jurus-jurus paling ampuh yang pernah dipelajarinya, terus mengejar ke manapun pemuda itu loncat mengelak, namun tak pernah serangannya berhasil. Gerakan pemuda itu luar biasa gesitnya, dan tiba-tiba Ceng Ceng mengaduh-aduh, lalu menghentikan serangannya dan pergi dari tempat yang penuh batu keri­kil runcing itu ke tempat tadi. Kiranya pemuda itu mengelak sambil memancing gadis itu mengejarnya ke tempat yang penuh dengan batu kerikil runcing. Tentu saja kaki Ceng Ceng menjadi korban. Semenjak kecil, dara itu tidak pernah mempergunakan kakinya bertelanjang menginjak sesuatu, tentu saja telapak kakinya menjadi amat halus, kulitnya tipis dan perasa sekali. Tanpa sepatu, kakinya itu merupakan bagian tubuh yang lemah sekali.

Kini dia memandang pemuda itu dengan mata terbelalak. Lagak dan kata-kata pemuda itu, caranya mengelak dan mengejeknya ketika semua serangannya gagal, mengingatkan dia akan seseorang. Melihat dara itu tidak menyerangnya lagi, pemuda itu berkata kepada diri sendiri, “Melihat orang mengamuk masih mending, asal jangan melihat orang menangis. Menyebalkan!” Tiba-tiba tubuh­nya lenyap begitu saja dan Ceng Ceng melongo. Kiranya pemuda itu adalah iblis! Hanya iblis saja yang pandai meng­hilang seperti itu. Akan tetapi, dia belum pernah bertemu dengan iblis, dan menurut dongeng, iblis hanya muncul di waktu malam. Sekarang, masih siang begini iblis macam apa muncul dalam ujud seorang pemuda tampan?

“Nih pakaianmu!” Tiba-tiba terdengar suara dari atas dan ketika Ceng Ceng memandang ke atas, kiranya pemuda itu nongkrong di atas dahan pohon dan mengeluarkan pakaiannya dari bungkusan, kemudian melemparkan pakaiannya kepa­danya. Ceng Ceng menerima gulungan pakaiannya itu, lengkap pakaian dalam dan luar, dan sepatunya, akan tetapi pakaian petani yang dipakai menyamar, yang dipakai di luar pakaiannya sendiri, tidak ada. Dia tidak pula memperhatikan hal ini, bahkan kini pakaian itu hanya dipegangnya saja dengan kedua tangannya karena dia memandang pemuda itu yang meloncat turun dengan gerakan yang membuat dia kaget dan kagum. Pantas saja seperti menghilang, kiranya pemuda itu memiliki gerakan yang luar biasa ringan dan cepatnya. Akan tetapi, bukan itu yang membuat dia bengong dan seperti orang terpesona, melainkan bun­talan yang dibawa turun oleh pemuda itu. Teringat benar bahwa dia pernah melihat buntalan itu, bahkan pernah melemparkannya ke dalam sungai. Melemparkan buntalan! Dari perahu!

“Heiiiii….!” Tiba-tiba karena teri­ngat, dia menjerit sambil menudingkan telunjuknya ke arah pemuda itu. Si pemuda sedang berjongkok memegang buntalan untuk memeriksa apakah pan­cingannya mengena, ketika ditunjuk dan tiba-tiba dara itu menjerit, dia kaget sampai terloncat.

“Wah, kau ini gadis aneh. Apa lagi kau menjerit-jerit seperti melihat setan?” dia mengomel.

“Bukan melihat setan, melainkan melihat engkau! Engkau tukang perahu keparat itu! Benar, matamu, senyummu….”

“Bagus dah menarik, ya?”

“Menarik hidungmu! Hayo mengaku! Kau yang menyamar sebagai tukang perahu itu, bukan?”

“Kalau tidak mengaku, mengapa?”

“Mengaku atau tidak, tetap saja aku sekarang mengenalmu. Buntalan itu! Aku membuangnya ke dalam sungai dan kau meloncat mengejar dan menyelam.”

“Kau memang gadis liar dan galak!”

“Dan kau…. kau meninggalkan pera­hu, membuat perahu hanyut dan terguling. Dan enciku ehhhh, enciku…. dia tentu celaka….!”

“Hemm, semua gara-gara engkau juga! Mengapa engkau begitu jahat dan kejam, membuang buntalan orang? Sepatutnya engkau yang harus mati tenggelam, bukan kakakmu yang baik hati dan manis budi dan cantik jelita itu.”

“Tidak, engkau yang meninggalkan perahu sampai perahu hanyut!” Ceng Ceng membantah, marah.

“Kalau kau tidak begitu kejam mem­buang buntalanku, apakah aku meninggal­kan perahu? Kau saja yang tak mengenal budi orang!” Pemuda itu mengomel lalu mengambil sebuah topi caping lebar dari buntalan besar dan mengebut-ngebutkan­nya. Melihat caping itu, Ceng Ceng makin kaget dan memandang dengan matanya yang indah itu terbelalak lebar.

“Heiii….!”

“Ihhh!” Pemuda itu mencela, terperan­jat. “Apa kau sudah gila, menjerit-jerit tidak karuan?”

“Capingmu itu! Kau adalah orang yang dulu mengganggu ketika sang…. eh, kakakku hendak mandi!”

Pemuda itu menoleh, tersenyum mengejek dan berkata, “Benarkah?”

“Ternyata kau memang kurang ajar, agaknya sejak dahulu engkau membayangi kami, ya?”

“Kalau kau yang minta aku pergi ketika itu, aku tentu tidak sudi. Akan tetapi Sang Puteri Syanti Dewi, dia begitu cantik, begitu halus, sayang, gara-gara kenakalanmu dia sampai lenyap!”

“Gara-gara kekurangajaranmu!” Ceng Ceng membantah.

“Gara-gara engkau!”

“Engkau!”

“Hemmm, kau ini hanya seorang dayang pelayan besar lagak amat!” pe­muda itu mengejek.

Sepasang mata yang sudah terbelalak itu mengeluarkan sinar berapi. “Apa katamu? Dayang pelayan? Keparat ber­mulut lancang dan busuk!” Ceng Ceng melepaskan gulungan pakaiannya dan saking marahnya dia sudah menerjang lagi dengan pengerahan tenaga sekuatnya dan mengeluarkan jurus yang paling ampuh. Akan tetapi, dengan gerakan yang aneh dan sigap, pemuda itu berhasil menangkap kedua pergelangan tangannya dan dia meronta-ronta namun tidak bisa melepaskan kedua tangannya yang terpe­gang. Ceng Ceng marah sekali, kakinya menendang-nendang namun selalu dapat ditangkis oleh kaki pemuda itu. Betapa­pun juga, memegang seorang dara yang liar seperti itu sama dengan memegang seekor harimau betina, salah-salah bisa terkena cakarnya. Maka pemuda itu berkata sungguh-sungguh, “Gadis liar! Kalau kau tak menghentikan kegalakan­mu, terpaksa aku akan menghukummu dengan ciuman-ciuman pada mulutmu!”

Diancam pukulan atau maut, agaknya Ceng Ceng takkan merasa takut. Akan tetapi diancam ciuman, hal yang sama sekali belum pernah dialaminya biar dalam mimpi sekalipun, meremang selu­ruh bulu di tubuhnya, dan otomatis dia menghentikan gerakan tubuhnya. Melihat ini, pemuda itu tertawa dan sekali men­dorong, tubuh Ceng Ceng terlempar dan terbanting ke atas tanah.

“Huh, biar kau belajar ilmu silat lagi sampai kau menjadi nenek-nenek keriput, tak mungkin engkau dapat melawanku.” Pemuda itu mengejek dengan nada suara sombong sekali.

Ceng Ceng yang terduduk di atas tanah itu tak bergerak, hati dan pikiran­nya terasa sakit bukan main. Pemuda ini seorang pemuda yang tampan dan berke­pandaian begitu tinggi, dan kini dia dapat menduga-duga bahwa dia yang terseret arus sungai tentu telah ditolong oleh pemuda ini, tentu dalam keadaan hampir mati dan basah kuyup. Pemuda aneh ini, yang tampan dan gagah, tentu telah mengeluarkan air dari perutnya dan karena pakaiannya basah kuyup, tentu telah menanggalkan pakaian itu dan memakaikan jubahnya kepadanya, dan pakaiannya itu, sampai sepatu-sepatunya, dijemur sampai kering, mungkin setelah dicuci dulu karena terkena lumpur. Dan ketika menanggalkan semua pakaiannya, pemuda itu jelas tidak melakukan sesuatu yang melanggar susila, kalau demikian halnya, tidak akan begini keadaannya. Pemuda yang aneh, tampan, gagah, kurang ajar akan tetapi juga baik sekali. Justeru kebaikan pemuda itulah yang membuat hatinya menjadi makin sakit, karena betapapun baik dan tampan dan gagahnya, pemuda itu kini ternyata tidak menghargainya, menghinanya, memandang rendah mengatakannya pelayan dan biar sampai menjadi nenak-nenek keriput takkan mampu melawannya. Dan pemuda itu sudah dua kali mengalahkannya.

Dia jengkel sekali, marah sekali. Melawan dengan tenaga, tidak mampu, bahkan kalah jauh sekali. Melawan de­ngan maki-makian, ternyata pemuda itupun pandai sekali bicara, bahkan setiap kata-katanya menusuk perasaan! Dia kalah segala-galanya! Perasaan ini membuat dia terasa begitu nelangsa, teringat dia akan kakeknya, karena kalau ada kakeknya, tentu tidak ada manusia berani bersikap begini kurang ajar kepa­danya. Selama hidupnya, ketika kakeknya masih ada, dia belum pernah mengalami penghinaan seperti ini. Juga kalau ada Syanti Dewi yang biarpun halus dan lemah namun amat berwibawa itu, agak­nya dia ada yang membela. Sekarang, dia seorang diri dan dihina orang tanpa mampu melawan sedikitpun. Teringat akan ini, biarpun pada dasarnya Ceng Ceng bukan seorang dara yang cengeng, bahkan amat keras hati dan pantang menangis karena iba diri, kini tak dapat menahan tangisnya dan dia menundukkan muka, menutupi kedua matanya yang mengalirkan air mata.

Siapakah pemuda tampan yang amat lihai itu? Dia ini bukan lain adalah Ang Tek Hoat! Seperti telah diceritakan di bagian depan, pemuda ini semenjak meninggalkan ibunya di puncak Bukit Angsa di lembah Huang-ho, telah banyak mengalami hal yang hebat-hebat. Selama dua tahun dia menjadi murid Sai-cu Lo-mo dan memperoleh ilmu kepandaian yang amat tinggi, kemudian petualangan­nya sebagai Si Jari Maut dengan meng­gunakan nama Gak Bun Beng untuk meru­sak nama musuh pembunuh ayahnya yang sudah meninggal itu dan kemudian sete­lah dia dikalahkan oleh Puteri Milana yang membuat dia malu dan penasaran sekali dia bertemu dengan Kong To Tek bekas tokoh Pulau Neraka yang telah mewarisi kitab-kitab peninggalan dua orang Iblis Tua dari Pulau Neraka, yaitu Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin. Karena Kong To Tek menderita sakit ingatan, tokoh ini yang melihat wajah Tek Hoat mirip sekali dengan Wan Keng In yang sudah meninggal, mengira bahwa dia berhadapan dengan Wan Keng In dan menyerahkan pusaka-pusaka pening­galan dua orang Iblis Tua itu kepada Tek Hoat, berikut pedang pusaka Cui-beng-kiam yang ampuh dan catatan pembuatan obat perampas ingatan yang amat luar biasa. Karena mencobakan obat perampas ingatan dan obat penawarnya kepada Kong To Tek, maka kakek ini waras kembali dan melihat dia tertipu, dia hendak membunuh Tek Hoat namun kalah dan bahkan dia yang terbunuh oleh Tek Hoat yang telah menjadi lihai sekali!

Dengan hati girang Tek Hoat yang telah mewarisi ilmu kepandaian hebat, bahkan masih ada dua buah kitab pening­galan Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin yang dianggap gurunya dan yang belum dilatihnya, pemuda ini lalu pergi hendak pulang ke rumah ibunya di puncak Bukit Angsa, membawa dua buah kitab dan sebatang pedang.

Kini dia tidak sudi lagi menyamar dengan nama Gak Bun Beng. Dia telah menjadi seorang yang berilmu tinggi, dan dia menganggap bahwa di dunia ini tidak akan ada yang dapat melawannya, maka dia berhak menggunakan namanya sendiri dan hendak mencari nama besar dengan cara yang akan menimbulkan kegemparan di dunia! Akan tetapi betapa kecewa hatinya ketika dia tiba di puncak Bukit Angsa, dia mendapatkan rumah ibunya kosong dan ibunya tidak berada lagi di rumah itu. Bahkan melihat bekas-bekas­nya, agaknya sudah lama ibunya mening­galkan rumah itu tanpa meninggalkan pesan apapun dan kepada siapapun. Tek Hoat menjadi jengkel dan marah kepada ibunya, lupa bahwa dialah yang telah melanggar janji. Ketika pergi dahulu, dia berjanji untuk pulang menengok ibunya setiap tahun, akan tetapi dia telah pergi hampir empat tahun lamanya dan baru ini dia pulang!

Terpaksa dia meninggalkan lagi Bukit Angsa dengan tujuan mencari ibunya, dan terutama sekali mencari nama besar di dunia kang-ouw. Pertama-tama dia harus mengunjungi Bu-tong-pai dan memberi hajaran kepada para tokoh Bu-tong-pai yang telah berani menghinanya empat tahun yang lalu! Kedua, dia akan mencari Puteri Milana di kota raja dan akan menantangnya untuk menebus kekalahan­nya dua tahun yang lalu! Kemudian dia akan membuat geger dunia kang-ouw dan minta diakui sebagai jagoan nomor satu, lalu dia akan menantang Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman Majikan Pulau Es!

Dengan cita-cita besar itu, pergilah Tek Hoat dari Bukit Angsa. Akan tetapi sebelum semua cita-citanya terkabul, dia bertemu dengan rombongan Pek-lian-kauw dan dalam bentrokan kecil antara dia dengan para tokoh Pek-lian-kauw, dia telah memperlihatkan kepandaiannya yang dahsyat. Para tokoh Pek-lian-kauw terta­rik, lalu membujuknya dan membawa pemuda yang masih hijau ini pergi meng­hadap Pangeran Tua, yaitu Pangeran Liong Bin Ong di kota raja! Pertemuan­nya dengan Pangeran Liong Bin Ong membuat terbuka mata pemuda ini bah­wa jalan satu-satunya untuk mencari kedudukan tinggi, juga membuat nama besar dan melakukan kegemparan di dunia, adalah membantu pangeran ini. Kalau sampai mereka berhasil merampas tahta kerajaan, tentu dia akan memper­oleh pangkat tinggi dan siapa tahu ter­dapat kesempatan baginya untuk kelak merampas mahkota sendiri dan menjadi kaisar! Lamunan muluk-muluk ini mem­buat Tek Hoat untuk sementara melupakan urusan pribadinya dan mulailah dia mengabdi kepada Pangeran Tua yang mengangkatnya menjadi pengawal kepala dan menugaskannya mewakili pangeran ini mengadakan kontak dengan para pem­bantu pangeran di luar kota raja.

Ketika Kaisar Kang Hsi melamar Puteri Syanti Dewi di Bhutan untuk diperisteri adik tirinya, Pangeran Long Khi Ong, adik tiri Pangeran Tua, diam-diam Pangeran Tua ini tidak setuju. Tentu saja dia tidak setuju karena ikatan keluarga itu akan memperkuat kedudukan kaisar atau kakak tirinya sendiri di dunia barat. Karena itulah maka diam-diam dia mengusahakan agar pernikahan itu gagal dan dia lalu mengirim sogokan dan bujuk­an kepada Raja Muda Tambolon pembe­rontak di daerah Bhutan untuk mengha­langi diboyongnya Puteri Syanti Dewi di daratan besar. Bahkan dia mengutus para kepercayaannya yang baru, Ang Tek Hoat untuk menyelidiki ke Bhutan dan memban­tu usaha penggagalan pernikahan itu.

Demikianlah singkatnya keadaan Ang Tek Hoat yang muncul di Bhutan sebagai seorang pemuda yang menyembunyikan mukanya di balik caping lebar ketika Puteri Syanti Dewi hendak mandi. Kemu­dian melihat bahwa pasukan Raja Muda Tambolon berhasil, dia diam-diam membayangi sang puteri bersama Ceng Ceng yang melarikan diri. Dia pula yang me­nyamar sebagai pedagang garam untuk membantu dua orang gadis pelarian itu lolos, kemudian dia menyamar sebagai tukang perahu. Semua itu dilakukan agar dia dapat mengamat-amati dua orang gadis itu, dan terutama sekali agar Puteri Syanti Dewi tidak sampai lolos dan dapat mencapai kota raja. Kalau saatnya tiba, dia akan “menggiring” sang puteri ini dan dihaturkan kepada majikannya, kemudian terserah keputusan Pange­ran Liong Bin Ong. Hanya dia harus mengakui bahwa diam-diam dia tertarik dan terpesona oleh kecantikan dan sikap halus sang puteri, sehingga diam-diam membayangkan betapa akan gembiranya kalau dia dapat menduduki pangkat tinggi, kalau mungkin kaisar, dengan seorang isteri seperti puteri Bhutan ini! Baru sekali ini Tek Hoat merasa tertarik kepada seorang wanita, dan biasanya dia memandang rendah kaum wanita.

Akan tetapi, rencananya menjadi berantakan karena kenakalan Ceng Ceng yang melemparkan buntalannya ke sungai. Padahal buntalan itu berisi pedang Cui-beng-kiam! Tentu saja dia tidak mau kehilangan pedang itu dan cepat melon­cat ke air sehingga perahu itu hanyut sendiri. Dia melakukan pengejaran sambil berenang secepatnya. Namun tetap saja tidak dapat mencegah terjadinya tabrak­an sehingga perahu itu terguling. Cepat dia meloncat ke darat dan lari di sepan­jang tepi sungai dan akhirnya dia melihat Ceng Ceng dalam keadaan pingsan ha­nyut di air. Dia segera menolong gadis itu, namun tidak berhasil menolong Puteri Syanti Dewi, sama sekali dia tidak mimpi bahwa puteri itu telah ditolong oleh seorang yang namanya akan membuat dia terkejut seperti melihat mayat hidup, yaitu Gak Bun Beng musuh besarnya, pembunuh ayahnya yang telah dianggapnya mati itu.

Tek Hoat yang memiliki watak amat luar biasa, kejam, dingin, tak mengenal sedikitpun perasaan iba, penuh dendam dan penuh kebencian terhadap manusia umumnya, hanya mengejar keuntungan diri pribadi saja, betapapun juga bukanlah seorang yang mudah hanyut oleh nafsu berahi. Dia seorang pemuda yang kuat luar dalam, kuat pula perasaannya yang seperti membeku dingin sehingga ketika dia menolong Ceng Ceng, mengempiskan perut dara itu yang penuh air, kemudian menanggalkan pakaian Ceng Ceng karena pakaian itu basah kuyup, melihat bentuk tubuh yang sedang mekar dan menggairahkan itu, dia sama sekali tidak terangsang! Bahkan secara kasar dia menolong Ceng Ceng karena marah, menganggap gadis ini yang menghancurkan rencananya sehingga dia terpisah dari Syanti Dewi. Kemudian setelah melihat nyawa Ceng Ceng tertolong, dia mengenakan jubahnya pada gadis itu dan menangkap ayam, memanggangnya, kemudian dia meman­cing ikan. Selanjutnya kita telah menge­tahui apa yang terjadi.

Kini, melihat Ceng Ceng menangis, Tek Hoat mengerutkan alisnya. Hatinya seperti ditusuk-tusuk atau diremas-remas. Memang ada keanehan pada diri Tek Hoat, keanehan yang seolah-olah tidak normal, yaitu dia tidak tahan melihat orang menangis, atau lebih tepat, melihat wanita menangis! Mungkin saja hal ini timbul dan menjadi wataknya karena di waktu dia masih kecil, sering sekali dia melihat ibunya menangis sesenggukan dan terisak-isak dengan sedihnya, bahkan hampir setiap malam dia melihat ibunya menangis seorang diri dan kalau ditanya kenapa menangis, ia hanya menggeleng kepalanya. Boleh jadi Tek Hoat merupakan pemuda keras hati dan dingin yang tiada keduanya di dunia, apalagi setelah dia mempelajari ilmu-ilmu mujijat dari dua Iblis Tua Pulau Neraka, wataknya menjadi makin tidak lumrah. Namun kesan mendalam karena tangis ibunya setiap malam itu masih melekat di hatinya sehingga kini, melihat Ceng Ceng menangis, dia seolah-olah mendengar ibunya menangis dan hatinya seperti diremas-remas!

“Aihh, kenapa kau menangis?” tanya­nya sambil membalikkan tubuh, duduk menghadapi gadis itu.

Ditanya dengan suara yang halus seperti itu, makin menjadi-jadi tangis Ceng Ceng, akan tetapi segera ditahan­nya ketika teringat bahwa yang menegur­nya adalah pemuda yang memanaskan dan menjengkelkan hatinya itu. Dia mengintai dari celah-celah jari tangannya dan dengan heran dia melihat betapa pemuda itu amat pucat wajahnya, pan­dang matanya sayu dan amat berduka, agaknya menderita sekali melihat dia menangis!

“Sudahlah, mengapa menangis? Aku tidak mengganggumu dan kalau tadi kau tersinggung, sudahlah kau maafkan aku dan jangan menangis….” Suaranya halus dan lunak, bahkan agak gemetar! Hal ini mengherankan hati Ceng Ceng sehingga otomatis tangisnya berhenti. Teringat dia akan kata-kata pemuda itu tadi ketika dia menyerangnya, “Melihat orang meng­amuk, masih mending, asal jangan meli­hat orang menangis!”

Agaknya pemuda ini memiliki “kele­mahan”, pikirnya. Yaitu tidak tahan melihat orang menangis! Teringat akan ini, Ceng Ceng lalu menangis lagi seseng­gukan! Dan diam-diam dia mengintai dari celah-celah jari tangannya, melihat betapa pemuda itu memejamkan matanya, menggigit bibirnya dan berkata dengan lantang, “Harap kau jangan me­nangis!”

Akan tetapi Ceng Ceng menangis terus, memaksa diri menangis sungguhpun kini tidak ada air matanya yang keluar, karena memang tangisnya tangis buatan, disembunyikan di balik kedua tangannya. Karena dia tertarik melihat sikap pemu­da yang aneh itu dia lupa akan kemarah­an dan kedukaannya, maka tentu saja sukar baginya untuk menangis benar-benar.

Tek Hoat makin tersiksa. Suara se­senggukan itu persis suara ibunya di waktu malam. “Nona, kau maafkan aku dan jangan menangis. Kau lihat aku tidak melakukan sesratu kepadamu, bukan? Kalau aku berniat buruk, betapa mudah­nya aku memperkosamu ketika kau ping­san. Akan tetapi aku tidak berniat bu­ruk….”

“Uhuuuu…. huuhhh…. huuuu….!” Ceng Ceng memperhebat tangisnya dan dari celah-celah jari tangannya dia meli­hat betapa pemuda itupun makin hebat penderitaannya. “Kau…. kau…. telah me­nanggalkan pakaianku, engkau telah menelanjangi aku, berarti engkau telah menghinaku uh-hu-huuu….!”

“Nanti dulu, jangan menangis, nona. Memang benar aku telah menanggalkan semua pakaianmu, kemudian mengenakan jubahku ini kepadamu. Akan tetapi kalau tidak begitu, habis bagaimana? Pakaianmu basah kuyub, engkau terancam bahaya maut dan satu-satunya cara untuk menolongmu hanya mengeluarkan air dari perutmu, kemudian mengeringkan pakaian­mu. Aku melakukan itu untuk menolong­mu, untuk menyelamatkan nyawamu….”

“Uhu-hu-hu, bohong…. huuuu…. bagaimanapun juga, kau telah menghinaku dan setelah kau melihat aku telanjang, bagaimana aku tidak akan malu setengah mati? Bagaimana aku dapat bertemu pandang denganmu? Uhu-hu-huuu….”

“Kalau begitu jangan memandang aku….”

Ceng Ceng menangis makin hebat sampai menggerung-gerung. Dari celah-celah jari tangannya dia melihat benar betapa pemuda itu menjadi makin gelisah dan bingung, bahkan kemudian berkata, “Sudahlah, jangan menangis. Sekarang apa yang harus kulakukan untuk menebus dosa, asal kau jangan menangis….”

“Kau harus berjanji…. tidak, harus bersumpah….!”

“Baiklah, aku bersumpah. Bersumpah bagaimana?”

“Keluarkan saputanganmu, untuk saksi sumpah.”

Tek Hoat yang ingin agar dara itu benar-benar menghentikan tangisnya, terpaksa mengeluarkan saputangannya. Sesungguhnya, pemuda ini bukanlah seorang yang begitu bodoh. Akan tetapi dia benar-benar tidak tahan mendengar dan melihat wanita menangis, dan kalau saja bukan Ceng Ceng, tentu dia sudah menggerakkan tangan membunuhnya. Dia tidak bisa melakukan itu, dia membutuhkan dara ini. Bukankah dara ini sahabat baik Puteri Syanti Dewi? Dengan perantaraan Ceng Ceng ini dia masih ada harapan untuk mendapatkan puteri itu, kalau saja puteri itu masih hidup dan dia yakin masih karena dia tidak melihat mayatnya.

“Baik, inilah saputanganmu,” katanya mengeluarkan saputangan, tidak melihat betapa Ceng Ceng menggosok-gosok keras kedua matanya sehingga menjadi makin merah dan basah air mata ketika dia menurunkan tangan menyambut sapu­tangan itu.

“Taruh tanganmu di saputangan ini dan bersumpahlah!” kata Ceng Ceng mengulurkan saputangan di tangannya. Terpaksa Tek Hoat meletakkan tangannya di atas saputangan yang berada di tela­pak tangan Ceng Ceng.

“Bersumpahlah bahwa kau tidak akan menggangguku,” kata dara itu.

“Aku bersumpah tidak akan menggang­gumu.” Tek Hoat mengulang.

“Dan kau tidak akan memandangku.”

“Hehhh….? Habis bagaimana? Aku kan punya mata!” pemuda itu membantah.

“Kalau kau memandangku, aku akan teringat bahwa aku pernah telanjang di depan matamu dan aku akan mati karena malu.”

“Habis bagaimana? Apakah kalau bertemu denganmu aku harus memejam­kan mata?”

“Terserah, memejamkan mata atau membalik belakang atau menutupi mata dengan saputangan, pendeknya kau tidak boleh melihat aku!”

“Baiklah….” Di dalam hatinya Tek Hoat memaki.

“Bersumpahlah bahwa kau selalu akan menutupi atau memejamkan matamu kalau bertemu denganku.”

“Aku berjanji akan selalu menutupi atau memejamkan mataku kalau berte­mu.”

“Dan kau akan selalu menurut kata-kataku, kau akan mengajarkan ilmu silatmu yang tinggi kepadaku, dan engkau akan mencarikan enci Syanti sampai bertemu, dan engkau akan….”

“Wah, tidak jadi saja kalau begitu!” Tek Hoat berseru keras sambil menurun­kan tangannya dari saputangan. “Masa harus bersumpah begitu banyak? Pula, tidak mungkin aku mengajarkan ilmu silat, dan tidak mungkin harus menurut segala kata-katamu.”

Melihat ini Ceng Ceng maklum bahwa dia sudah terlalu jauh dalam tuntutannya, maka cepat dia berkata, “Baik, kalau begitu ulangi dua sumpahmu itu saja, bersumpah bahwa kalau sampai melang­garnya, engkau akan mati muda dan saputangannya ini menjadi saksinya!”

Karena ingin lekas beres agar dara itu tidak rewel lagi, dia berkata, “Akan tetapi sebagai imbalannya, kaupun harus bersumpah bahwa kau tidak akan mena­ngis lagi!”

“Baik, aku bersumpah takkan mena­ngis lagi kalau kau sudah bersumpah.”

Tek Hoat menarik napas panjang, meletakkan tangannya di atas saputangan lalu berkata, “Aku….”

“Sebutkan namamu!”

“Aku…. Ang Tek Hoat, bersumpah bahwa aku tidak akan mengganggumu….”

“Sebutkan namaku, Lu Ceng!”

“….bahwa aku tidak akan menggang­gu Lu Ceng, dan bahwa aku akan selalu menutupi atau memejamkan mata kalau bertemu dengan Lu Ceng dan kalau aku melanggar sumpah ini, biarlah aku mati muda dan saputangan ini menjadi saksi!”

Ceng Ceng girang sekali lalu menyimpan saputangan itu di sakunya. “Heiii, kau mau melanggar sumpah? Hayo pejam­kan mata atau, membalik! Aku mau berganti pakaian!”

Tek Hoat yang terlupa dan membuka mata memandang tadi, cepat-cepat memejamkan mata dan memutar tubuh­nya membalik, diam-diam dia mengutuk diri sendiri mengapa dia mau bersumpah seperti itu. Akan tetapi, dia sudah terlan­jur bersumpah dan memang dia memerlu­kan gadis ini untuk dapat bertemu kem­bali dengan Syanti Dewi dan melaksana­kan cita-citanya terhadap puteri Bhutan itu. Kalau segala itu sudah tercapai, membunuh gadis ini apa sih sukarnya? Biarlah sementara ini dia mengalah dulu. Pula, dia juga merasa kurang enak dan tidak aman kalau harus melanggar sum­pahnya. Siapa tahu, sumpah itu benar-benar manjur dan kalau dilanggarnya dia akan mati muda! Dia bergidik! Nanti dulu, ya! Dia masih mempunyai banyak cita-cita yang belum terlaksana. Pokok­nya hanya terletak pada saputangan itu. Kalau kelak dia membunuh gadis ini, atau setidaknya merampas kembali saputangannya, berarti sumpahnya sudah punah karena tidak ada lagi saksinya!

Dengan hati gembira Ceng Ceng mengganti jubah yang kedodoran itu dengan pakaiannya sendiri, menyimpan saputangan di balik kutangnya, dan sam­bil berganti pakaian dia memandang punggung pemuda itu dengan tersenyum. Dia menang! Tak disadarinya lagi, dia memberes-bereskan pakaian dan rambut­nya agar kelihatan patut. Dia memperso­lek diri untuk pemuda itu tanpa disadari­nya!

“Aku sudah selesai!” akhirnya dia berkata, ingin melihat pemuda itu me­mandangnya dengan kagum. Setelah mengenakan pakaiannya sendiri, tentu dia akan tampak lebih cantik! Akan tetapi pemuda itu sama sekali tidak menoleh, bahkan melanjutkan memancing ikan dan tiba-tiba mengangkat tangkai pancingnya dan seekor ikan lele yang gemuk meng­gelepar-gelepar.

Ceng Ceng kecewa, akan tetapi segera teringat. Celaka! Pemuda itu tentu tidak akan memandangnya! Karena sumpah itu! Perlu apa dia bersolek? Wah, serba berabe kalau begini. Akan tetapi dia tahu bahwa pemuda ltu lebih repot lagi karena harus menghindarkan pandang matanya dari Ceng Ceng. Biar tahu rasa dia! Pikiran ini mengusir kekecewaannya.

“Nona Ceng….”

“Tak usah nona-nonaan. Aku biasa disebut Ceng Ceng.”

“Hemm…. Ceng Ceng, apakah kau tidak lapar?” tanya Tek Hoat tanpa menoleh.

“Tentu saja.”

“Nah, ini ada sisa ayam panggang….”

“Aku tak sudi makan sisamu!”

“Kalau, begitu, ikan ini kau boleh ambil dan bakar.” Tanpa menoleh Tek Hoat menyerahkan ikan itu yang diterima oleh Ceng Ceng dan tak lama kemudian Ceng Ceng sudah memanggang daging ikan yang gemuk dan makan dengan lahapnya tanpa menawarkannya kepada Tek Hoat.

Hari mulai gelap, senja telah menda­tang.

“Kita harus pergi mencari majikan­….”

“Apa? Siapa kau maksudkan?”

“Siapa lagi kalau bukan Puteri Syanti Dewi?”

“Tek Hoat, kau jangan sembarangan omong, dan aku bukanlah pelayannya. Mengerti?”

Tek Hoat mengangguk-angguk dan merasa girang. Tidak keliru dia mengalah kepada gadis liar ini, kiranya sudah diaku sebagai adik angkat. Kalau dia membu­nuhnya, tentu sukar baginya untuk berba­ik dengan Syanti Dewi.

“Kau tergila-gila kepada kakakku, ya?”

Tek Hoat terkejut, akan tetapi hanya mengangguk. Dia masih duduk membela­kangi Ceng Ceng.

“Wah, tidak enak benar begini! Masa aku bicara dengan…. pinggul saja?”

Tek Hoat tersenyum akan tetapi menahan gelak tawanya. “Habis bagaima­na? Aku tidak berani melanggar sumpah.”

“Wah, kau menghadap ke sini dan memejamkan mata, masa tidak bisa?”

“Lebih tidak enak lagi buat aku, terus memejamkan mata, masa seperti orang buta.”

“Kalau begitu, tutup saja dengan saputangan.”

“Saputanganku sudah kaubawa.”

Terpaksa Ceng Ceng memberikan saputangannya sendiri yang berbau ha­rum. Tek Hoat menerimanya, menutupkan saputangan itu di depan matanya dan mengikatkan kedua ujung di belakang kepala, kemudian membalik menghadapi Ceng Ceng. Gadis itu tersenyum lebar menutupi mulutnya. Lucu sekali, seperti anak kecil bermain-main!

“Ceng Ceng, kau mengatakan aku tergila-gila kepada kakakmu? Memang, bukan tergila-gila, melainkan aku…. aku jatuh cinta kepadanya.”

“Hemm, bagus! Betapapun juga, engkau bukan pemuda yang buruk rupa dan masih muda lagi. Daripada kakakku itu menikah dengan Pangeran Liong Khi Ong yang kabarnya sudah hampir lima puluh tahun usianya, lebih baik menikah de­nganmu.”

“Benarkah?” Tek Hoat bertanya girang.

“Ya. Dan aku suka membantumu agar enciku suka kepadamu, asal saja engkau tidak melanggar sumpahmu. Kalau kau melanggar, tidak saja engkau tidak dapat berkenalan dengan enci Syanti Dewi, malah engkau akan mampus di waktu usiamu masih muda. Sayang, kan?” Kemba;i dia tersenyum dan menutupi mulut­nya. Dia sama sekali tidak mengira bahwa Tek Hoat dapat melihatnya dari balik saputangan sutera yang tipis itu! Akan tetapi pemuda inipun tidak berani memandang langsung, takut akan sumpah.

“Hari telah malam, tidak mungkin kita mencari enci Syanti. Malam ini gelap tidak ada bulan. Lalu bagaimana kita akan melewatkan malam?”

“Tak jauh dari sini, di tepi sungai ini terdapat sebuah kuil tua yang kosong. Kita dapat bermalam di situ dan tempat itu memang tidak jauh dari Sungai Nu-kiang. Besok pagi-pagi, kita mencari lagi, mendengar-dengarkan, mungkin ada nela­yan yang tahu bagaimana nasib enci­mu itu.”

Lega hati Ceng Ceng. “Kalau begitu, mari kita ke kuil.” Dia bangkit berdiri dan pergi.

“Haii, bagaimana aku bisa berjalan kalau mataku ditutup begini?”

Ceng Ceng tersenyum. “Bodoh, kalau begitu mengapa tidak dibuka?”

“Kalau dibuka, mana bisa jalan ber­sama? Aku tidak mau berjalan dengan mata terpejam, salah-salah bisa terjatuh ke dalam sungai!”

Ceng Ceng tertegun dan bingung. “Habis bagaimana?”

“Kecuali kalau kau sudi menuntun….”

Karena hari sudah hampir gelap dan hutan itu kelihatannya menakutkan, terpaksa Ceng Ceng menyambar tangan pemuda itu dan menuntunnya. “Ke mana jalan?” dia bertanya.

“Terus saja menurutkan aliran sungai ini,” jawab Tek Hoat yang diam-diam merasa geli dan juga bangga bahwa kini dia dapat membalas. Sesungguhnya dia dapat melihat melalui saputangan tipis itu, akan tetapi biarlah, biar gadis itu tahu rasa, pikirnya. Betapapun juga, gadis yang liar dan galak ini ternyata cukup baik, mau menuntunnya.

Mereka tiba di kuil kosong. Karena ruangan yang merupakan kamar tertutup hanya sebuah, maka Ceng Ceng berkata, “Aku tidur di sini dan biar kau tidur di mana sesukamu asal jangan di kamar ini.” Berkata demikian dia lalu menutup­kan daun pintu. Perbuatan ini sia-sia saja karena biar pintu ditutup, jendela di kamar itu melongo tanpa daun! Lalu dia membuat api unggun dan tidak memper­dulikan lagi kepada Tek Hoat. Pemuda ini luar biasa, pikirnya. Ilmu kepandaian­nya amat tinggi dan kalau pemuda ini berwatak jahat, sukar untuk melawannya. Dan dia…. agak aneh rasanya. Mengapa hatinya tidak enak mendengar pengakuan pemuda itu yang mencinta Syanti Dewi? Mengapa dia tidak puas? Mengapa dia tadi merasa jantungnya berdebar-debar ketika tangannya menggandeng tangan Tek Hoat? Seolah-olah ada getaran dari tangan itu yang menyentuh hatinya, menimbulkan rasa girang yang luar biasa. Mengapa? Celaka, jangan-jangan dia telah jatuh hati seperti yang hanya dikenalnya dalam cerita dongeng! Itukah cinta? Memang pemuda itu cukup segala-galanya untuk menjatuhkan hati seorang gadis, memang patut dicinta. Betapa tidak? Tampan, gagah perkasa, lucu dan pandai mengalah, biarpun agak kasar, akan tetapi buktinya tidak suka melaku­kan pelanggaran susila. Wah, jangan-jangan aku jatuh cinta kepadanya, bisik Ceng Ceng sebelum tidur.

Menjelang tengah malam dia terbangun karena mimpi ditelanjangi oleh Tek Hoat! Ditelanjangi selagi dia sadar dan aneh­nya, dia diam saja. Setelah kelihatan pemuda itu hendak merabanya dan hen­dak memeluknya, barulah dia meron­ta dan terbangun! Bulu tengkuknya berdi­ri. Kalau tadi bukan mimpi, melainkan sungguh-sungguh terjadi, tentu dia akan membunuh pemuda itu! Atau, kalau dia kalah, dia akan melawan mati-matian, kalau perlu mempertaruhkan nyawa untuk membela kehormatannya. Bedebah! Dia memaki pemuda itu akan tetapi segera teringat bahwa yang dikalahkan pemuda itu hanya dalam mimpi saja! Mungkin kenyataannya tidak demikian, buktinya Tek Hoat juga tidak melakukan sesuatu terhadap dirinya.

Tiba-tiba dia bangkit duduk. Terde­ngar suling ditiup orang amat merdu dan indahnya. Akan tetapi hanya lapat-lapat terdengar, agaknya dari jauh. Ceng Ceng membereskan rambut dan pakaiannya, kemudian meloncat keluar melalui jende­la. Biarpun tidak ada bulan malam itu, namun langit bersih terhias bintang sejuta, cukup memberi cahaya penerang­an di permukaan bumi. Dia melangkah dengan hati-hati, mencari-cari, akan tetapi ternyata Tek Hoat tidak berada di kuil itu! Ke mana perginya pemuda itu? Buntalannyapun tidak nampak.

Ceng Ceng mulai bergidik. Ngeri dia memikirkan bahwa dia ditinggal sendirian saja di kuil tua itu. Kuil yang biasanya dalam dongeng kalau sudah kosong dan kuno begitu selalu dihuni oleh siluman-siluman! Cepat dia keluar dari kuil dan mendengar suara suling lapat-lapat dari depan, dia lalu melangkah maju menuju ke arah suara itu.

Tak lama kemudian dia sudah mengin­tai dari balik pohon, memandang ke arah Tek Hoat yang berdiri di tepi sungai besar. Sungai Nu-kiang! Kiranya dia telah berada di tepi sungai itu, di mana anak sungai dari hutan memuntahkan airnya ke situ dan di tepi sungai tampak Tek Hoat yang tadi meniup suling. Kini pemuda itu sudah berhenti meniup suling dan menye­lipkan kembali sulingnya. Yang menarik perhatian Ceng Ceng adalah sebuah perahu besar yang bergerak mendekat pantai di mana pemuda itu berdiri, sebuah perahu yang indah dan mewah, dan tampak diterangi lampu-lampu sehingga dia melihat beberapa orang berpakai­an tentara mengiringkan seorang berpangkat tinggi yang mewah pakaiannya ke pinggir perahu. Ceng Ceng mengintai penuh perhatian dan memasang pendengarannya agar dapat mendengarkan apa yang akan terjadi. Dia melihat Tek Hoat memberi hormat kepada pembesar itu dari pantai sambil berkata, “Maafkan, hamba tidak sempat melapor karena hamba tidak dapat meninggalkan gadis itu sebelum dia tidur.”

“Hemm, Ang Tek Hoat, ceritakan semua yang terjadi. Kami sudah mende­ngar akan lenyapnya puteri itu, akan tetapi belum jelas bagaimana. Apa saja yang telah kaulakukan selama mela­kukan tugas yang diperintahkan saudara tua kami Liong Bin Ong?”

“Rombongan penjemput puteri itu telah berhasil dihancurkan oleh Tambo­lon, dan puteri itu bersama pelayannya yang sudah diangkat saudara, berhasil meloloskan diri, akan tetapi hamba terus membayangi mereka. Bahkan hamba telah berhasil mengajak mereka naik perahu hamba….”

“Bagus! Bagaimana puteri itu? Benar­kah amat cantik?” tanya pembesar itu.

“Memang cantik jelita seperti bidada­ri, dan paduka beruntung sekali….”

“Aahhh, sayang sekali dia harus di­korbankan demi cita-cita,” orang sete­ngah tua itu menghela napas. “Akan tetapi, kalau semuanya berhasil dia akan tetap menjadi selirku! Aku Liong Khi Ong bukanlah orang yang suka menyia-nyiakan waktu…. eh, Tek Hoat, lalu bagaimana? Di mana dia?”

“Harap paduka sudi memaafkan ham­ba. Terjadi kecelakaan, perahu bertabrak­an dan terguling. Hamba berhasil menye­lamatkan adik angkatnya akan tetapi belum berhasil menemukan Puteri Syanti Dewi….”

“Hahh? Bodoh! Habis bagaimana? Celaka, jangan-jangan dia terjatuh ke tangan orang-orangnya kaisar!”

“Hamba akan mencarinya sampai dapat besok pagi, kalau andaikata dia terampas oleh orang lain, hamba akan merampasnya kembali, harap paduka jangan khawatir,” kata Tek Hoat.

“Hemm, baik. Apa perlu kau dibantu pasukan?”

“Tidak perlu, Ong-ya. Hamba lebih leluasa bekerja sendiri. Hamba tanggung akan bisa menemukan puteri itu, asal dia belum tewas.”

“Bagus, kami akan menanti saja di kota raja, di sana masih banyak urusan dan kau harus cepat kembali, banyak tugas menantimu.”

“Baik, Ong-ya….”

“Baik, Ong-ya….”

Tiba-tiba Ceng Ceng yang bengong terlongong itu terkejut karena mendengar suara berkeresekan di belakangnya. Dia meno­leh dan melihat seorang laki-laki berpa­kaian hitam, berjenggot panjang berdiri tepat di belakangnya. Dia hampir berte­riak dan membuka mulut.

“Eekkkeeekkk….” Mulutnya telah dibungkam tangan kiri orang tua dan sebelum dia sempat melawan, pundaknya sudah ditotok dan dia roboh lemas dalam rangkulan orang itu.

“Ssstt, diam…. jangan bergerak…. aku bukan musuh melainkan sahabatmu dan sahabat Puteri Syanti Dewi….” Setelah berkata demikian dan melihat Ceng Ceng mengangguk, orang itu menotok lagi dan Ceng Ceng terbebas. Dara ini terkejut dan heran. Demikian banyaknya orang pandai di sini. Pemuda itu lihai dan orang inipun hebat kepandaiannya! Dia memandang sejenak. Orang itu mukanya membayangkan kegagahan, matanya sipit seperti orang mengantuk, alisnya tebal kepalanya agak botak dan jenggotnya panjang, usianya tentu sudah ada lima pu­luh tahun, pakaiannya biasa saja seperti pakaian petani. Melihat orang itu mem­perhatikan ke depan, diapun lalu meman­dang lagi. Kini tampak betapa pemuda itu berbisik-bisik di dekat perahu dengan si pembesar tinggi yang ternyata adalah Pangeran Liong Khi Ong, tunangan Syanti Dewi!

Ceng Ceng berdebar-debar. Bingung dia dan diam-diam dia memaki-maki Tek Hoat. Kiranya pemuda itu adalah kaki tangan Pangeran Liong Khi Ong! Akan tetapi apa artinya ini semua? Kalau dia kaki tangan Pangeran Liong Khi Ong, mengapa dia bersikap begitu aneh, tidak bersama anggauta rombongan lainnya yang dipimpin oleh pengawal kaisar Tan Siong Khi? Mengapa bertindak secara rahasia? Dan apa pula artinya kata-kata pangeran itu bahwa Syanti Dewi terpaksa harus dikorbankan demi cita-cita? Ceng Ceng menjadi bingung dan tidak bergerak sama sekali, hanya meli­hat betapa Tek Hoat telah pergi dengan cepat menuju ke kuil kembali, sedangkan perahu mewah itupun bergerak ke tengah sungai.

“Cepat, mari pergi dari sini. Kalau dia kembali dan dapat menyusul kita, celaka. Kita berdua bukanlah lawannya,” bisik laki-laki setengah tua berjenggot panjang itu.

“Hemm, mengapa aku harus menurut kata-katamu? Siapa tahu bahwa kau lebih jahat lagi daripada dia?”

“Nona Lu, percayalah kepadaku. Mungkin kakekmu Lu Kiong belum pernah menyebut namaku, akan tetapi aku mengenal baik Lu-lo-enghiong bekas pe­ngawal kaisar. Aku adalah rekan dari Tan Siong Khi. Aku sudah mendengar bahwa kakekmu gugur, dan aku hampir mengerti semuanya, kecuali beberapa hal.”

“Apakah yang terjadi? Siapakah sebe­narnya pemuda bernama Ang Tek Hoat itu?”

“Sstt, marilah kita segera pergi,” kakek itu mendesak.

“Tidak, sebelum kau menjawab pertanyaanku.”

“Dia seorang manusia luar biasa, ilmu kepandaiannya sangat tinggi….”

“Aku sudah tahu!”

“Tapi dia adalah pengawal Pangeran Liong Bin Ong, pangeran yang merenca­nakan pemberontakan. Bahkan pangeran itulah yang mengatur pencegatan rom­bongan sehingga kakekmu tewas. Pemuda itu tangan kanannya dan Pangeran Liong Khi Ong tadi menyalahgunakan niat baik kaisar yang menjadi kakaknya sendiri. Mereka itu demi cita-cita pemberontak­an, tidak segan-segan melakukan kekeji­an, kalau perlu membunuh Puteri Syanti Dewi dan engkau.”

“Ohhhh….”

“Marilah, nona. Demi keselamatanmu sendiri dan keselamatan Syanti Dewi.”

Dengan hati penuh kengerian Ceng Ceng lalu mengikuti laki-laki itu melari­kan diri. Dia percaya penuh karena bukankah dia sudah menyaksikan dan mendengarkan sendiri pertemuan dan percakapan antara Pangeran Liong Khi Ong dan Ang Tek Hoat? Kiranya pemuda itu seorang mata-mata pemberontak! Kiranya malah musuh dari kerajaan kaisar dan kerajaan Bhutan, hendak mencelakakan Syanti Dewi! Bahkan yang merencanakan pencegatan rombongan yang mengakibatkan terbunuhnya kakek­nya, adalah para pemberontak itu! Dan dia sudah tertarik hatinya oleh Tek Hoat.

“Ahhhh….!”

“Ada apa, nona Lu?” tanya kakek itu.

“Tidak apa-apa….” jawab Ceng Ceng karena yang terasa nyeri adalah jauh di dalam lubuk hatinya, bukan badannya.

Setengah malam penuh mereka berja­lan terus, melalui hutan-hutan dan pegu­nungan. Dalam perjalanan ini, kakek tadi menceritakan keadaan kerajaan yang diancam pemberontakan, dan memperke­nalkan dirinya. Dia adalah seorang pe­ngawal kaisar pula, di bawah Tan Siong Khi dan bernama Souw Kee It. Dia bertugas untuk menyelidiki secara diam-diam keadaan rombongan itu. Tentu saja dia tidak secepat Pendekar Super Sakti yang juga melawat ke Bhutan dan berha­sil menolong Raja Bhutan, akan tetapl sebagai seorang penyelidik yang tahu akan keadaan negara, dia mempunyai pendengaran dan penciuman yang lebih tajam. Dia mendapatkan rahasia dari pemberontak yang menaruh tangan-tangan kotor ke dalam pencegatan itu, maklum bahwa raja liar Tambolon juga digerak­kan oleh tangan kotor dari kota raja sendiri. Dia telah melihat pula sepak terjang Tek Hoat yang hebat, dan mak­lumlah dia bahwa dia bukan pula lawan pemuda itu. Maka ketika memperoleh kesempatan, dia mengajak lari Ceng Ceng.

Mendengar semua penuturan ini, Ceng Ceng makin terheran-heran dan bingung. Tak disangkanya bahwa pernikahan Syanti Dewi akan membawa akibat sedemikian hebat dan peristiwa itu terlibat dengan pemberontakan yang ruwet.

“Bagaimana dengan enci Syanti De­wi?” tanyanya dengan khawatir.

“Sudah kuselidiki, nona. Kabarnya puteri itu juga tertolong secara ajaib oleh seorang nelayan tua yang tidak dikenal siapa sebenarnya. Cara menolong­nya amat ajaib sehingga sukar aku mem­percaya cerita mereka itu. Akan tetapi, laki-laki gagah yang menolongnya itu telah pergi bersama sang puteri. Seka­rang yang saya ingin ketahui, ke mana­kah rencana nona dan sang puteri tadinya setelah terpaksa meninggalkan kakek Lu yang gugur?”

“Kakek meninggalkan pesan agar supaya kami pergi ke kota raja, minta perlindungan dan bantuan kepada Puteri Milana….”

Souw Kee It mengangguk-angguk. “Memang tepat sekali pesan kakekmu. Akan tetapi beliau tidak tahu akan perubahan di kota raja. Kalau engkau dan Puteri Syanti Dewi sudah tiba di kota raja dan berada di tangan Puteri Milana, kiranya tidak ada setanpun yang berani mengganggu. Akan tetapi, justeru perjalanan menuju ke kota saja itulah yang amat sukar dan berbahaya. Kaki tangan mereka sudah disebar di mana-mana untuk menangkap kalian berdua.”

“Ouhhh, habis bagaimana?”

“Harap nona jangan khawatir. Aku juga mempunyai teman-teman, dan nanti akan kita atur bagaimana membawa nona pergi ke timur dengan selamat. Akan tetapi, kurasa tidak tepat kalau sebelum bertemu dengan Puteri Syanti Dewi nona pergi ke kota raja, kalau kita berhasil sampai ke timur, lebih baik kalau nona untuk sementara berlindung di benteng yang dikuasai Jenderal Kao Liang di tapal batas utara ibu kota.”

Hati Ceng Ceng agak lega mendengar bahwa Syanti Dewi juga tidak tewas dan telah tertolong orang pandai, sungguhpun dia bingung memikirkan mengapa begitu banyak orang pandai muncul? Siapakah penolong Syanti Dewi dan ke mana perginya kakak angkatnya itu?

Dua hari kemudian, tibalah mereka di sebuah dusun dan di sini terdapat pasu­kan kaisar yang masih setia kepada kaisar. Souw Kee It lalu mendandani Ceng Ceng sebagai seorang prla, lengkap dengan kumis palsu sehingga andaikata Tek Hoat sendiri bertemu dengannya kiranya akan sulitlah untuk mengenalnya, demikian pendapat Ceng Ceng ketika dia memperhatikan wajahnya sendiri di depan cermin. Setelah membawa bekal secukupnya, Souw Kee It bersama Ceng Ceng, lalu menunggang kuda-kuda pilihan, melanjutkan perjalanan mereka ke timur.

Kita tinggalkan dulu Ceng Ceng dengan pengawal kaisar Souw Kee It yang melakukan perjalanan amat jauh ke timur, dan mari kita mengikuti perjalan­an Puteri Syanti Dewi.

Secara kebetulan dan aneh sekali, Puteri Syanti Dewi tertolong oleh Pende­kar Sakti Gak Bun Beng. Pendekar ini sudah mengenyampingkan urusan dunia, hidup tenteram di antara rakyat kecil, kadang-kadang menjadi petani, kadang-kadang bercampur dengan para nelayan, selalu memilih tinggal di dusun-dusun yang dianggapnya tidak akan terjadi hal yang penting. Sungguh di luar dugaannya bahwa hari itu dia terlibat dalam urusan yang amat besar, bukan hanya menyang­kut urusan diri pribadi seorang gadis cantik, melainkan diri seorang puteri Raja Bhutan, bahkan menyangkut urusan kerajaan!

Gak Bun Beng yang usianya sudah mendekati empat puluh tahun itu melaku­kan perjalanan dengan hati kadang-ka­dang berdebar keras. Benarkah yang dilakukannya ini, mengantarkan Syanti Dewi ke kota raja? Benarkah dia kalau kini dia akan menjumpai Milana? Sesung­guhnya tidak benar dan amat berbahaya, seperti orang hendak membuka balutan luka yang amat parah, akan tetapi apa dayanya? Tidak mungkin dia membiarkan Syanti Dewi begitu saja setelah dia mengetahui siapa adanya gadis ini. Calon mantu kaisar! Dan terancam bahaya karena dikejar-kejar oleh mereka yang hendak menggagalkan perkawinan itu. Apa boleh buat, demi gadis ini, dan terutama demi kesejahteraan negara, kerajaan kaisar dan Bhutan, dia harus menanggung semua itu, harus berani menghadapi resiko perjumpaannya dengan Puteri Milana!

Perjalanan yang amat jauh itu dilaku­kan dengan hati-hati oleh Gak Bun Beng yang menjaga agar jangan sampai terjadi keributan di perjalanan. Dia sudah muak akan keributan dan permusuhan yang dibuat oleh manusia-manusia yang meng­aku berkepandaian. Untuk menjaga agar perjalanan dapat dilalui dengan aman, dia menyamar sebagai seorang perantau yang baru pulang dari perantauannya ke Tibet, dan Syanti Dewi diakuinya sebagai anak­nya. Agar tidak dicurigai orang, dia mengaku bahwa ibu Syanti Dewi seorang wanita Tibet dan memang Syanti Dewi selain pandai dalam bahasanya sendiri, yaitu Bahasa Bhutan, juga pandai berba­hasa Tibet dan Bahasa Han.

Berpekan-pekan telah lewat tanpa ada peristiwa penting yang mengganggu perjalanan Gak Bun Beng dan Syanti Dewi. Pada suatu hari, ketika mereka sedang berjalan melalui jalan raya kasar di lereng pegunungan, mereka berpapasan dengan serombongan pasukan yang terdiri dari kurang lebih seratus orang. Pasukan ini kelihatan letih dan banyak yang terluka, dan sekali pandang saja Gak Bun Beng dapat melihat bahwa mereka adalah Bangsa Han yang bercampur dengan orang-orang Mongol. Agaknya pasukan yang hanya tinggal sisanya dari suatu pertempuran yang merugikan fihak mere­ka. Diam-diam Gak Bun Beng terkejut. Apakah kini sudah timbul perang lagi? Ataukah hanya sisa-sisa pemberontak ataukah pemberontak baru yang sedang ditindas oleh pasukan pemerintah? Dia tahu bahwa pemberontak Mongol yang amat hebat, yang dipimpin oleh Pangeran Galdan, telah dihancurkan oleh pasukan Kaisar Kang Hsi, bahkan kabarnya Gal­dan sendiri telah dibinasakan. Apakah sekarang Bangsa Mongol memberontak lagi, bergabung dengan orang Han yang masih merasa penasaran akan penjajahan Bangsa Mancu?

Karena dilihatnya masih banyak rom­bongan-rombongan pasukan campuran itu lewat, Gak Bun Beng hendak menghin­darkan keributan, maka dia mengajak Syanti Dewi untuk melalui jalan hutan. Untung bahwa rombongan pertama yang lewat tadi terlalu lelah dan terlalu tertekan batinnya untuk melakukan sesu­atu, hanya mereka memandang tajam kepada Syanti Dewi saja, bahkan ada pula yang menyeringai, dan ada yang mengeluarkan kata-kata tak senonoh akan tetapi hanya sambil lalu.

Dasar mereka harus mengalami keri­butan. Ketika mereka melalui jalan sunyi, menyelinap-nyelinap di hutan tak jauh dari jalan raya itu, mereka bertemu dengan rombongan lain yang hanya terdi­ri dari belasan orang, akan tetapi rom­bongan ini semua duduk melepaskan lelah. Mereka terdiri dari tujuh orang Han dan delapan orang Mongol dan ada seorang Han dan empat orang Mongol sedang minum arak, agaknya untuk menghibur hati yang penasaran karena keka­lahan mereka. Melihat bahwa rombongan ini hanya lima belas orang, timbul niat di hati Gak Bun Beng untuk bertanya, maka dia mengajak Syanti Dewi untuk mende­kat.

Orang-orang itu memandang kepada­nya dengan curiga, akan tetapi ada yang tersenyum lebar ketika melihat Syanti Dewi yang biarpun berpakaian sederhana seperti gadis dusun, namun kecantikannya masih menonjol.

“Maaf, laote,” kata Gak Bun Beng kepada seorang Han yang duduk bersan­dar pohon sambil menekuk lutut duduk pula dekat orang itu, diikuti oleh Syanti Dewi di belakangnya, “bolehkah kami bertanya mengapa banyak pasukan yang mundur dan banyak yang terluka? Apa yang telah terjadi? Kami ayah dan anak dari Tibet hendak ke Se-cuan, akan tetapi kami khawatir melihat cu-wi terluka, seolah-olah ada perang di sana.”

Orang itu yang mukanya dilindungi brewok, memandang kepada Gak Bun Beng kemudian melirik ke arah Syanti Dewi. “Lebih baik kalian kembali ke barat.”

“Ya, kembali saja bersama kami! Biar kami yang melindungi kalian!” teriak orang Han yang sedang minum arak bersama empat orang Mongol tadi.

“Kami mempunyai urusan penting sekali di timur, sobat,” kata Gak Bun Beng. “Apakah yang terjadi di sana? Dan siapakah cu-wi?”

“Apakah tidak tahu bahwa kami adalah pendekar-pendekar sejati, patriot-patriot?” Tiba-tiba orang berewok itu menjawab marah.

Gak Bun Beng menggangguk-angguk. “Ahh, kiranya laote dan cu-wi sekalian adalah pejuang-pejuang yang menentang penjajah, benarkah? Lalu, apa yang terjadi?”

Dipuji sedemikian, si brewok agak sabar, lalu menarik napas panjang. “Si keparat Jenderal Kao Liang itu! Anjing penjilat kaki Mancu dia! Begitu dia datang meronda di bagian barat dan memimpin sendiri pasukan pembersihan, kita dipukul hancur!”

“Paman, kembalilah saja ke barat, dan sebelum anakmu itu diperebutkan anjing-anjing Mancu, lebih baik diberikan kepadaku!” Orang Han yang minum arak, usianya kurang lebih tiga puluh tahun itu berkata.

Gak Bun Beng menahan kesabarannya. “Apakah tentara pemerintah itu melaku­kan perbuatan jahat?”

“Siapa bilang tidak? Merampok, mem­bunuh, menculik dan memperkosa! Dari­pada diperkosa oleh anjing-anjing Mancu dan para penghianat dan penjilat, lebih baik diberikan kepada kami agar menghi­bur kami para patriot. Dengan demikian, kau dan anakmu itu ikut berjasa untuk tanah air dan bangsa!” kata pula orang itu.

“Akur! Jumlah kita hanya lima belas orang, bisa dibagi rata. Marilah, manis, kau layanilah aku!” kata seorang Han yang lain yang berkumis panjang melin­tang.

Gak Bun Beng bangkit berdiri sambil tersenyum. “Kami tahu penderitaan dan perjuangan kalian, sobat-sobat. Akan tetapi anakku ini adalah pembantuku yang utama, seolah-olah tangan kananku sendiri, bagaimana bisa kuberikan kepada orang lain? Mana mungkin aku memberi­kan tangan kananku?”

“Ahhh, dasar kau pelit! Apakah kau hendak peluki anakmu sendiri? Tak tahu malu! Masa menolong dan meringankan penderitaan kaum pendekar dan pahlawan sedikit saja tidak mau?” Mereka semua sudah bangkit berdiri dari mengurung. Syanti Dewi terkejut dan mukanya berubah pucat, kedua tangannya sudah dike­pal untuk membela diri. Dan tidak hanya takut, akan tetapi juga marah sekali mendengar omongan yang kotor itu.

Akan tetapi Gak Bun Beng tetap tenang dan sabar. Dia mengangkat kedua tangan ke atas dan berkata, “Bukan aku pelit, akan tetapi sungguh mati, kalau kalian memaksa hendak mengambil anak­ku, sama saja dengan kalian memaksa mengambil tangan kananku. Sebelum kalian mengambil anakku, biarlah kuberi­kan saja kedua tanganku. Hidup tanpa tangan kanan kepalang tanggung. Nah, siapa mau lebih dulu membuntungi kedua tanganku?” dia mengacungkan kedua tangannya ke atas.

“Ha-ha-ha! Orang sinting, tapi anak­nya cantik manis sekali! Biar kupenuhi permintaannya!” Teriak orang muda Han yang mabok itu sambil menghunus golok­nya yang sudah berkarat karena darah orang dalam pertempuran.

“Baiklah, mari kau buntungi tangan kiriku lebih dulu!” Bun Beng memberikan tangan kirinya. Golok itu menyambar, kuat sekali ke arah tangan kiri Gak Bun Beng yang diacungkan ke atas. Tangan itu tidak mengelak, malah memapaki golok.

“Krekkkk!”

Golokk itu patah-patah dan pemiliknya memandang gagang goloknya dengan mata terbelalak!

“Sayang, golokmu sudah berkarat dan rapuh!” Gak Bun Beng berkata dengan su­ara biasa. “Siapa lagi yang mempunyai senjata lebih tajam untuk membuntungi tanganku?”

“Biar kulakukan itu!” Bentak seorang Han lainnya sambil meloncat maju, pedangnya menyambar tangan kanan Gak Bun Beng. Kembali pendekar sakti ini tidak mengelak, melainkan memapaki pedang itu dengan tangannya.

“Krak…. krakkk!”

“Hayaaa….!” Si pemilik pedang terbe­lalak memandang gagang pedangnya yang hanya tinggal pendek saja itu karena pedangnya sendiri sudah patah-patah.

Melihat ini, tiga belas orang lain serentak maju dengan senjata mereka yang bermacam-macam, ada tombak, golok, pedang dan toya. Gak Bun Beng membiarkan mereka mencabut semua senjata, kemudian dia meloncat ke depan dan menerima semua serangan dengan kedua tangan dan juga kakinya sambil mengerahkan sin-kangnya. Terdengar suara krak-krek-krak-krek disusul oleh teriakan si pemilik senjata dan dalam sekejap mata saja semua senjata milik dari lima belas orang itu sudah patah-patah se­muanya.

“Ilmu siluman….!” Terdengar seorang di antara mereka berteriak dan larilah mereka lintang pukang ketakutan, me­ninggalkan segala perbekalan yang tadi mereka taruh di atas tanah.

Gak Bun Beng menghela napas, lalu menyambar guci arak yang ditinggal di situ, menenggak isinya sampai habis. Dilem­parkannya guci kosong dan diusapnya mulut yang basah itu dengan ujung le­ngan bajunya. Dia kelihatan tidak senang sekali. Memang dia tidak senang karena terpaksa dia harus memperlihatkan ke­pandaiannya lagi setelah secara terpaksa dia mengeluarkan kepandaian itu ketika menyelamatkan Syanti Dewi.

“Gak-siok-siok….” Syanti Dewi tahu-tahu telah berada di sampingnya dan menyentuh lengan pendekar itu karena diapun dapat merasakan betapa pendekar itu kelihatan tidak tenang, bahkan seperti orang berduka. “Engkau banyak repot karena aku saja….”

Gak Bun Beng menoleh dan melihat wajah yang cantik dan agung itu menyu­ram, dia tersenyum dan mengelus kepala Syanti Dewi. Bukan main halusnya pera­saan anak ini, pikirnya terharu. “Tidak apa-apa, Dewi. Akupun hanya menakut-nakuti mereka saja. Marilah kita melanjutkan perjalanan.”

“Akan tetapi di timur ada perang dan pertempuran, siok-siok.”

“Bukan perang, hanya pasukan peme­rintah mengadakan pembersihan terhadap sisa-sisa gerombolan pemberontak seperti mereka tadi.”

“Akan tetapi, mendengar omongan mereka tadi, mereka bukanlah pemberon­tak, melainkan patriot-patriot yang berjuang untuk mengusir penjajah dari tanah air mereka.” Puteri itu memban­tah. Biarpun hanya seorang wanita, namun sebagai puteri raja tentu saja dia sudah banyak membaca kitab-kitab seja­rah dan ketatanegaraan sehingga penge­tahuannya agak luas daripada wanita-wanita terpelajar biasa.

Gak Bun Beng menghela napas pan­jang. Ucapan puteri ini menyentuh pera­saannya, perasaan muak terhadap ulah tingkah manusia dalam hidup ini, maka dengan suara bersemangat, di luar kesa­darannya dia berkata, “Manusia di dunia ini siapakah yang tidak akan membenar­kan dirinya sendiri? Pemerintah Mancu renganggap mereka pemberontak karena mereka melawan pemerintah yang syah dan menganggap diri sendiri sebagai penolong rakyat, sebaliknya mereka itu menganggap pemerintah sebagai penjajah laknat dan menganggap diri sendiri seba­gai patriot. Namun keduanya tetap sama saja, tetap saja melakukan kekerasan dan kekejaman dengan dalih kebenaran ma­sing-masing. Padahal, apa sih bedanya manusia? Dari kaisar, jenderal, pedagang, petani, si jembel sekalipun, hanya dibe­dakan oleh pakaian dan embel-embel di luar badan. Coba kumpulkan mereka semua, telanjangi mereka semua di dalam sebuah kandang, apa bedanya mereka dengan sekumpulan domba atau kuda? Manusia hanyalah mahluk biasa yang mempunyai kelebihan, inilah yang merusak hidup!”

Syanti Dewi mendengarkan dan me­mandang wajah pendekar itu dengan mata terbelalak. Baru satu kali ini selama hidupnya dia, mendengarkan pandangan orang tentang manusia seperti itu. Ada artinya yang mendalam, ada kesungguhan dan kebenarannya, akan tetapi juga lucu sekali. Kalau dibayangkan betapa seluruh manusia di dunia ini tidak berpakaian, tidak dihias segala benda-benda yang hanya menjadi pemisah dan penentu dari tingkat masing-masing, alangkah lucunya dan memang sukar membedakan mana raja mana jembel mana kaya mana miskin! Dia sendiripun tadinya seorang istana dan memakai pakaian puteri. Sekarang? Setelah berpakaian gadis petani seperti itu, siapa percaya bahwa dia seorang puteri? Apalagi kalau harus telanjang bersama seluruh manusia lain!

“Kau…. kau hebat, paman!” katanya lirih.

Gak Bun Beng sadar lagi dan meme­gang tangan Syanti Dewi. “Kau…. kau semuda ini, sudah dapat menangkap arti kata-kataku tadi?”

Syanti Dewi mengangguk, lalu meng­angkat mukanya memandang wajah yang masih tampan dan gagah itu. Gak Bun Beng dahulunya memang seorang pemu­da yang tampan, gagah, matanya menge­luarkan cahaya tajam, mulutnya terhias kumis kecil terpelihara rapi, demikian juga jenggotnya yang pendek saja. Pakai­annya sederhana, pakaian petani atau nelayan, namun bersih dan kuku-kuku tangannya terpelihara baik, giginya te­rawat.

“Paman Gak, di manakah adanya keluargamu?”

Gak Bun Beng terbelalak dan menge­rutkan alisnya. “Apa? Keluarga?”

“Ya, isteri dan anakmu….”

“Ah, mari kita cepat melanjutkan perjalanan, aku khawatir mereka datang lagi mengganggu.” Dia memegang tangan Syanti Dewi dan diajaknya dara itu pergi meninggalkan tempat itu.

Sampai lama mereka berjalan menyusup-nyusup hutan karena Gak Bun Beng tidak ingin terganggu lagi oleh gerombol­an pemberontak atau pejuang yang mela­rikan diri karena diobrak-abrik oleh pasukan pemerintah yang kabarnya tadi dipimpin oleh Jenderal Kao Ling yang ditakuti. Beberapa kali Syanti Dewi menengok dan memandang wajah pende­kar itu, namun Gak Bun Beng berjalan terus tanpa mengeluarkan kata-kata.

Akhirnya Syanti Dewi tidak dapat menahan hatinya. “Paman Gak, di mana­kah isteri dan anak-anakmu?”

Sesungguhnya pertanyaan ini sejak tadi bergema di telinga Gak Bun Beng dan dia sengaja mengalihkan perhatian dan mengharapkan gadis itu lupa akan pertanyaannya yang terngiang-ngiang di telinga hatinya. Maka mendengar pengulangan pertanyaan ini, dia menahan napas sejenak untuk menekan perasaannya, baru dia menjawab tenang saja. “Tidak ada.”

“Ehhh….?” Syanti Dewi terkejut.

“Aku tidak pernah mempunyai isteri atau anak, tidak mempunyai saudara, tidak ada orang tua lagi, aku sebatang­kara di dunia,” kembali jawaban yang keluar dari mulut pendekar itu terdengar datar seolah-olah seorang nelayan mem­bicarakan jalan atau pancingnya, biasa saja.

“Tapi…. tapi tidak mungkin itu, paman Gak!”

“Apa maksudmu, tidak mungkin? Mengapa harus tidak mungkin?”

“Seorang seperti paman ini…. eh, tidak mungkin tidak menikah! Paman, apakah tidak ada wanita di dunia ini yang mencintamu?”

Tanpa menengok Gak Bun Beng meng­geleng kepala dan matanya memandang jauh ke depan.

“Hemm, mustahil! Dan apakah paman tidak ada mencinta seorangpun wanita di dunia ini?”

Gak Bun Beng tersenyum ketika menoleh dan melihat wajah puteri ini diliputi penasaran besar, bahkan seperti orang marah! “Dewi, engkau kenapa? Aku tidak pernah memikirkan hal itu dan hidupku sudah cukup bahagia.”

“Tidak masuk akal! Seorang pria seperti paman!”

“Hemm, hanya seperti aku ini, apa sih bedanya dengan orang lain?”

“Tidak sama sekali, jauh sekali beda­nya! Pangeran-pangeran di Bhutan, bah­kan orang berpangkat jauh di bawah pangeran dan orang berharta, mereka itu sedikitnya mempunyai tiga empat orang isteri! Padahal dibandingkan dengan paman, mereka itu tidak ada sekuku hitam paman!”

“Aihh, Dewi, aku seorang tua yang miskin tidak memiliki apa-apa, mana ada ingatan yang bukan-bukan?” Gak Bun Beng berkata untuk menghibur diri kare­na percakapan ini tanpa disengaja oleh puteri itu telah menusuk-nusuk perasaan­nya, mengingatkan dia kepada Milana.

“Jangan paman berkata demikian. Siapa bilang paman sudah tua? Usia paman tidak akan lebih dari empat puluh tahun! Dan pangeran yang namanya Liong Khi Ong itu, yang akan mengawiniku, kabarnya malah berusia lima puluh tahun, dan aku berani bertaruh potong rambut bahwa dibandingkan dengan paman, dia itu bukan apa-apa!”

Gak Bun Beng berhenti melangkah dan memegang kedua tangan Syanti Dewi. “Dewi, kuminta kepadamu, janganlah kau membicarakan urusan diriku. Aku minta dengan sangat, ya? Banyak hal yang pahit getir telah berlalu, pembica­raanmu hanya akan menggali segala kepahitan yang telah lewat itu saja.” Ucapan ini keluar dengan suara agak gemetar.

Syanti Dewi mengangkat muka me­mandang dan melihat wajah penolongnya ini diliputi awan kedukaan, hatinya ter­haru dan dua titik air mata menetes seperti dua butir mutiara di atas kedua pipinya.

“Eh? Kau…. menangis?”

“Aku kasihan kepadamu, paman Gak.”

Gak Bun Beng tersenyum dan meng­gunakan telunjuknya menghapus dua butir mutiara itu. “Kau anak yang aneh! Kau memperlakukan aku seolah-olah aku ini seorang yang jauh lebih muda daripada engkau. Sudahlah, jangan membicarakan tentang diriku, tidak ada harganya dibicarakan. Sekarang aku ingin bicara ten­tang dirimu. Mengapa engkau membica­rakan pribadi calon suamimu seperti itu? Agaknya engkau tidak suka kepadanya?”

“Hemm, tentu saja,” jawab Syanti Dewi ketika mereka melangkah lagi. “Siapa orangnya suka dikawinkan dengan seorang kakek yang belum pernah dili­hatnya selama hidupnya? Dia seorang pangeran, dan kulihat pangeran-pangeran di Bhutan hanyalah orang-orang yang berlomba mengejar kesenangan, tenggelam dalam kemewahan dan aku berani berta­ruh bahwa Pangeran Liong Khi Ong itu tentu sudah mempunyai isteri sedikltnya selosin orang, apalagi usianya sudah lima puluh tahun. Aku tentu sudah gila kalau aku mengatakan suka kepadanya, paman Gak.”

Gak Bun Beng tersenyum geli. Bukan main anak ini! Pandangannya selalu tepat, membayangkan pengetahuan luas dan pertimbangan yang masak, kata-katanya tepat mengenai sasaran dan perasaannya amat halus bukan main.

“Dewi, kalau kau memang tidak suka, kenapa kau mau?”

“Paman, masa paman tidak mengerti? Aku hanya bertugas di dalam perkawinan ini untuk menjadi paku utama dalam singasana ayah.”

“Eh….?”

“Aku kawin bukan karena cinta, melainkan kawin politik. Agar kedudukan­nya di Bhutan kuat apalagi dalam meng­hadapi pemberontakan Bangsa Mongol dan Tlbet yang dipimpin oleh Tambolon, ayah mengorbankan aku untuk menjadi mantu kaisarmu di sana!” Kedua pipi itu menjadi merah karena penasaran dan matanya yang indah bersinar-sinar.

Gak Bun Beng mengangguk-angguk. “Kau kan bisa menolak?”

“Aih, paman. Apa dayaku sebagai seorang puteri raja? Kalau aku menolak, andaikata aku bisa menolak, kemudian terjadi sesuatu yang bisa merobohkan kerajaan, bukankah namaku akan dicatat di dalam sejarah sebagai seorang anak yang paling durhaka terhadap orang tua, sebagai seorang puteri yang tidak dapat menjaga negaranya? Ahh, kalau saja aku hanya seorang gadis petani biasa, tentu tidak ada yang usil mulut!”

Gak Bun Beng maklum akan hal ini dan dia menghela napas panjang, merasa kasihan sekali kepada gadis ini, dan dia teringat pula akan nasib Milana yang juga menikah karena terpaksa oleh kai­sar! “Akan tetapi, sekarang engkau telah bebas, bukan? Engkau telah menjadi seorang gadis petani, bukan?”

“Apa gunanya? Tak mungkin aku menjadi begini terus. Setelah paman nanti menyerahkan aku ke istana, apa dayaku selain menurut dan menerima per­nikahan itu dengan mata meram dan perasaan mati?”

“Kalau aku tidak menyerahkan engkau ke istana, bagaimana?”

Sepasang mata itu terbelalak. “Benar­kah, paman? Akan tetapi, tidak diserah­kanpun aku tidak berdaya. Mana mungkin aku bisa hidup sendiri di dunia ini? Aku sudah terbiasa hidup keenakan di istana. Aihh, kalau saja ada adik Ceng Ceng…. tentu dia akan dapat mencarikan akal.”

“Tenanglah, Dewi. Aku akan memba­wamu ke kota raja, akan tetapi aku menjamin bahwa tidak ada seorang iblispun akan dapat memaksamu menikah dengan siapapun yang tidak kau suka. Aku tidak akan membiarkan itu, Dewi.”

Syanti Dewi memegang tangan kanan Gak Bun Beng yang terkepal itu erat-erat, membawa kepalan tangan itu ke depan hidungnya dan menciuminya sambil terisak. Di dalam diri penolongnya itu dia tidak hanya menemukan seorang penolong, akan tetapi juga seorang kawan baik, seorang yang menjadi pengganti ayah bundanya, seorang pelindung dan pembela yang dia percaya sepenuh hati­nya, seorang yang menimbulkan kasih sayang di hatinya.

***

“Bangun….! Gak-siok-siok…. bangun­lah….!” Gak Bun Beng membuka mata­nya.

“Paman, lihat, ada pasukan tentara datang….!”

Gak Bun Beng mengeluh dan merasa kasihan sekali kepada dara itu. Baru saja mereka beristirahat di dalam rumah kosong yang rusak itu. Setelah membuat api unggun dan menyelimuti tubuh Syanti Dewi yang tidur di atas rumput kering, dia sendiri lalu duduk bersandar dinding rusak di dekat pintu, menjaga sambil beristirahat, dan diapun tertidur saking lelahnya. Baru saja tidur, belum ada sejam karena diapun belum pulas benar, sudah ada orang yang mengganggu.

Dia bangkit dan berdiri, menggosok-gosok kedua matanya dan memandang keluar.

“Heiii….! Yang berada di dalam rumah kosong! Hayo kalian semua kelu­ar!” terdengar teriakan seorang di antara para perajurit yang memegang obor. Obor itu besar sekali dan amat terang dan di atas sebuah tandu pikulan duduklah seorang panglima yang berpakaian lengkap dan gagah, pakaian perang, sikapnya gagah sekali mengingatkan Gak Bun Beng akan tokoh Kwan Kong di dalam cerita Sam Kok, seorang panglima perang yang jarang bertemu tanding saking gagah perkasanya.

“Tenanglah, Dewi, mari ikut aku keluar,” kata Gak Bun Beng dan dia menggandeng tangan dara itu, diajaknya keluar menghadap panglima itu.

“Suruh pergi mereka semua! Kalau mereka tidak menyembunyikan pemberon­tak, sudahlah, jangan ganggu penduduk di sekitar sini! Akan tetapi cari di rumah-rumah kosong, di guha-guha dan basmi semua pelarian pemberontak, barulah daerah ini akan aman. Kalian jangan terlalu malas, bekerja kepalang tanggung. Satu kali mengeluarkan tenaga hasilnya harus dapat dirasakan selama satu tahun! Tidak setiap hari mengalami gangguan terus!”

Beberapa orang panglima dan perwira yang mendengar perintah ini membungkuk-bungkuk dan kelihatannya mereka takut sekali kepada panglima gagah perkasa ini. Tiba-tiba panglima gagah perkasa ini memandang ke arah Gak Bun Beng dan Syanti Dewi. Gak Bun Beng terkejut. Pandang mata itu menunjukkan bahwa jelas pembesar militer ini benar-benar bukan orang sembarangan, akan tetapi dia balas memandang dengan sikap te­nang.

Pembesar itu memberi isyarat dengan tangan dan seorang perajurlt menggapai kepada mereka sambil berkata, “Heii, kalian berdua majulah menghadap tai-goanswe!”

Gak Bun Beng menarik tangan Syanti Dewi menghadap pembesar itu dan men­jura dengan dalam-dalam, akan tetapi tidak berlutut karena dia ingin menguji watak pembesar ini.

“Hei, berlutut kalian!” bentak seorang perajurlt.

“Biarkan mereka!” Jenderal besar (tai-goanswe) itu berkata, melambaikan ta­ngan kepada Gak Bun Beng memberi isyarat agar mereka berdua maju. Sekali lagi pandang mata Jenderal itu memandang tajam penuh selidik, kemudian bertanya kepada Syanti Dewi dengan suara membentak dan tiba-tiba, “Kau, wanita muda katakan, siapa namanya laki-laki ini?”

Tentu saja Syanti Dewi terkejut bukan main karena biasanya, dalam setiap urusan selalu Gak Bun Beng yang maju ke depan dan Gak Bun Beng yang melayani semua tanya jawab. Sekali ini, secara tiba-tiba jenderal yang kelihatan galak seperti seekor singa itu menanya kepadanya. Saking kagetnya, dia menja­wab tanpa dapat dipikir lebih dulu secara otomatis, “Namanya adalah Gak Bun Beng!”

Jenderal ini mengerutkan alisnya yang tebal, mengingat-ingat, kemudian dia meloncat turun menghadapi Gak Bun Beng. Tepat dugaan pendekar sakti ini, cara jenderal itu meloncat menunjukkan pula kemahiran ilmu silat tinggi, biarpun tubuhnya tegap tinggi besar namun ge­rakannya ringan sekali dan ketika kedua kakinya menginjak tanah, tidak mengelu­arkan bunyi apa-apa seperti kaki kucing meloncat saja.

“Kau Si Jari Maut?” tiba-tiba jenderal itu membentak.

Gak Bun Beng melepaskan tangan Syanti Dewi dan menyuruh dara itu minggir. Syanti Dewi juga kaget sekali, apalagi mendengar nama Si Jari Maut. Mengapa pula penolongnya itu disangka Si Jari Maut? Bukankah Si Jari Maut adalah tukang perahu itu?

Gak Bun Beng juga merasa heran dan dia menggeleng kepala. “Bukan, tai-goanswe. Saya tidak punya nama lain kecuali yang dikatakan tadi.”

“Siapa dia?” Jenderal itu menuding ke arah Syanti Dewi.

“Dia anak saya.”

“Hemm, wajahnya bukan wajah wanita Han. Jangan membohong kau!”

“Memang anak saya ini berdarah campuran, tai-goanswe. Ibunya adalah seorang Tibet.”

Jenderal ini meraba jenggotnya. “Hem…. kau dari mana hendak ke mana?”

“Saya dari Tibet di mana selama belasan tahun saya merantau dan menikah di sana, sekarang hendak pergi ke Se-cuan.”

“Kau bukan Jari Maut?”

“Bukan, tai-goanswe.”

“Tapi kau tentu bisa ilmu silat, bu­kan?”

Sukarlah bagi Gak Bun Beng untuk mendusta terhadap jenderal yang bermata tajam ini. Tentu saja bagi seorang ahli, dapat melihat bahwa dia seorang yang “berisi”, maka dia bersenyum dan menja­wab, “Sedikit-sedikit saya pernah mempe­lajari.”

“Nah, coba kau hadapi seranganku ini, ingin aku melihat sampai di mana kepan­daianmu!” Tiba-tiba saja jenderal itu menerjang maju, gerakannya cepat bukan main, sama sekali tidak sesuai dengan tubuhnya yang besar tegap itu, apalagi dengan memakai pakaian perang yang cukup berat. Selain cepat, juga pukulan kepalan tangannya didahului angin yang menyambar dahsyat, hawa yang mengan­dung rasa panas ke arah dada Gak Bun Beng.

Pendekar sakti ini maklum bahwa sang jenderal sudah dapat melihat bahwa dia memiliki kepandaian dan agaknya dia hendak menguji karena curiga, maka diapun tidak mau berpura-pura lagi karena toh akan sia-sia saja dan akan ketahuan oleh jenderal yang cerdik itu, maka diapun cepat menangkis sambil mengerahkan tenaganya sebagian saja cukup untuk menandingi tenaga sin-kang penyerangnya.

“Dukkk!” Jenderah itu berseru kaget ketika pukulannya tertangkis dan lengan­nya terpental. Dia dapat memukul lagi dan tahulah Gak Bun Beng bahwa pukul­annya tadi ternyata hanya menggunakan tenaga setengahnya karena jenderal itu belum tahu sampai di mana kekuatannya. Kini jenderal itu menghantam dengan tenaga penuh, tenaga yang melebihi kekuatan seekor kerbau jantan mengamuk!

“Dess….!” Kembali pukulan tertangkis dan jenderal itu terhuyung ke belakang.

“Coba pergunakan jari mautmu!” Bentak sang Jenderal dan kini dia mener­jang lagi, kaki tangannya bergerak dan sekaligus Gak Bun Beng menghadapi penyerangan pukulan, tamparan, totokan dan tendangan sebanyak delapan kali berturut-turut. Maklumlah dia bahwa jenderal ini benar-benar pandai, dan agaknya sang jenderal sengaja mendesak­nya dengan jurus luar biasa itu untuk memancing dia agar dia, kalau memang mempunyai, mengeluarkan llmunya yang paling hebat, yang diharapkan akan membuka rahasia Jari Maut.

Tentu saja kalau Gak Bun Beng meng­hendaki, dengan apa saja, dia sekali turun tangan akan mampu membunuh lawannya ini. Akan tetapi tentu saja dia tidak mau, bahkan dia menangkis dan sengaja memperlambat gerakannya se­hingga dua kali pukulan mengenai bahu dan dadanya.

“Bukk! Dess….!” Gak Bun Beng ter­huyung ke belakang sambil becseru, “Maaf, tai-goanswe, saya tidak kuat bertahan!”

“Ha-ha-ha-ha!” Jenderal itu tertawa bergelak, berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang dan perutnya sampai bergoyang-goyang ketika dia tertawa sambil mendongak ke angkasa. “Ha-ha-ha, engkau terang bukanlah Si Jari Maut, sungguhpun engkau pandai sekali meren­dah. Sobat, aku Kao Liang kagum sekali kepadamu!”

Terkejutiah hati Gak Bun Beng men­dengar nama ini. Kiranya inilah jenderal yang ditakuti oleh para pelarian tadi. Pantas saja! Memang seorang jenderal yang hebat! Untung jenderal ini agaknya tidak pernah atau jarang sekali muncul di kota raja sehingga tidak mengenalnya, pula, andaikata pernah, tentu sudah sejak mendengar namanya tadi pembesar itu lain sikapnya.

“Ah, kiranya Kao-taigoanswe….! Saya pernah mendengar nama besar tai-goan­awe dari para pemberontak yang lari terbirit-birit ke barat.”

“Ha-ha-ha, dan aku tadinya mencuri­gaimu sebagai anggauta pemberontak. Tidak mungkin. Apalagi dengan anakmu ini. Nah, kalian berdua hendak ke Se-cu­an? Silahkan, kalau di jalan bertemu kesukaran, katakan bahwa engkau adalah sahabat Kao Liang, tentu akan dapat menolong!”

Gak Bun Beng menjura, menghaturkan terima kasih lalu mengajak Syanti Dewi pergi dari situ cepat-cepat, biarpun malam itu cukup gelap karena bintang di langit terhalang sedikit awan.

Gak Bun Beng mengajak Syanti Dewi berhenti di bawah sebatang pohon besar di dekat padang rumput. Tidak mungkin melanjutkan perjalanan melintasi padang rumput yang demikian rimbun, takut kalau-kalau ada ularnya atau binatang lain. Melihat lampu-lampu di sebelah kiri, mereka lalu bangkit lagi dan menuju ke tempat itu. Kiranya itu adalah sebuah dusun yang lumayan besarnya. Akan tetapi karena dusun itu baru saja me­ngalami pemeriksaan dan pembersihan, semua penduduk masih merasa takut dan pintu rumah ditutup rapat-rapat. Bebe­rapa kali Gak Bun Beng mengetuk pintu, dan mendengar suara bisik-bisik di da­lam, namun tidak pernah ada yang men­jawabnya. Bahkan ketika mereka melihat sebuah rumah penginapan dan mengetuk pintunya, tidak ada pelayan yang mem­bukainya. Barulah setelah Syanti Dewi yang bersuara minta dibukakan pintu, daun pintu terbuka oleh seorang pelayan yang memandang mereka penuh curiga.

“Kenapa kalian ini malam-malam menggedor-gedor pintu rumah ocang?” tanyanya dengan hati lega akan tetapi juga jengkel ketika melihat bahwa yang datang hanyalah seorang laki-laki se­tengah tua dan seorang dara remaja yang keduanya berpakaian seperti orang dusun.

“Hemm, bukankah ini rumah pengi­napan untuk umum?” Gak Bun Beng bertanya sabar.

“Benar, akan tetapi apakah kau tidak bisa mengerti akan keadaan? Dunia sedang kiamat begini mencari kamar waktu tengah malam! Untung aku berani membuka pintu, kalau tidak siapa lagi yang berani dan kalian takkan bisa men­dapatkan tempat di rumah manapun juga.”

“Maaf kalau kami mengganggu dan mengagetkan, biarlah besok sebagai penambah uang sewa kamar kami beri juga uang kaget,” kata pula Gak Bun Beng.

Mendengar bahwa dia akan menerima uang kaget sebagai hadiah pelayan itu menjadi lebih ramah. “Baru siang tadi dusun kami digerebek dan diperiksa, diawut-awut, banyak yang ditangkap dituduh teman pemberontak. Tentu saja sedusun ini masih dalam suasana panik dan takut.”

Gak Bun Beng mengangguk-angguk dan akhirnya mereka memperoleh sebuah kamar dengan dua buah tempat tidur. Tadinya Gak Bun Beng hendak menyewa dua kamar, akan tetapi di depan pelayan itu Syanti Dewi berkata, “Ayah, mengapa harus dua kamar? Satu saja cukuplah asal ada dua tempat tidur. Apalagi, aku takut tidur sendiri dalam kamar!”

Malam itu keduanya dapat tidur nyenyak setelah bercakap-cakap sebentar tentang Jenderal Kao Liang. “Seorang jantan sejati,” kata Gak Bun Beng kagum. “Negara memang membutuhkan orang-orang seperti dia itulah! Aku berani bertaruh apa saja bahwa orang seperti dia tentu setia kepada negara, tidak mabok kedudukan, tidak sudi menjilat dan tidak suka pula menekan bawahan. Ilmu kepandaiannya boleh juga.”

“Aku juga sudah khawatir, paman. Dia kelihatannya begitu kuat dan lihai. Akan tetapi ternyata kau tidak apa-apa! Dia memang mengerikan, seperti seekor singa!”

“Jarang kini terdapat orang seperti dia,” kata pula Gak Bun Beng. “Orang pemberani macam dia tentu tidak berhati kejam. Hanya orang penakutlah yang berhati kejam karena kekejaman lahir dari rasa takut. Dan dia tidak pula penjilat, karena hanya orang yang suka menindas bawahannya sajalah yang suka menjilat atasannya. Dia memang jantan sejati dan aku benar-benar kagum!”

Sementara itu, di perkemahannya, Jen­deral Kao Liang juga berkata kepada seorang perwira kepercayaannya. “Orang bernama Gak Bun Beng tadi memang hebat! Aku percaya bahwa dia tentulah seorang kang-ouw yang berilmu tinggi, dan yang memakai nama Gak Bun Beng Si Jari Maut tentulah seorang penjahat yang sengaja hendak merusak namanya.”

Memang tepatlah kata-kata Jenderal Kao Liang ini. Yang merusak dan meng­gunakan nama Gak Bun Beng Si Jari Maut bukan lain adalah Ang Tek Hoat! Jenderal ini sudah mendengar akan sepak terjang Si Jari Maut, akan tetapi dia mendengar bahwa penjahat kejam itu adalah seorang pemuda, maka dia tadi percaya bahwa Gak Bun Beng yang ditemuinya itu bukanlah Si Jari Maut. Tentu saja dia tidak tahu bahwa ketika menangkis serangannya tadi, Gak Bun Beng hanya mempergunakan sedikit bagian saja dari tenaganya, dan sama sekali dia tidak pernah mimpi bahwa Gak Bun Beng adalah seorang pendekar sakti murid dari Pendekar Super Sakti, Bu-tek Siauw-jin, dan memiliki ilmu-ilmu kesaktian tingkat tinggi yang amat he­bat!

Pada keesokan harinya, setelah mandi pagi, Gak Bun Beng berkata kepada Syanti Dewi, “Dewi, kita harus menyamar dalam perjalanan selanjutnya. Aku sudah kapok kalau sampai terjadi seperti ma­lam tadi. Pula, menurut pelayan, di sebelah sananya padang rumput itu ter­dapat perkemahan pasukan. Ingin sekali aku melakukan penyelidikan, dan menge­tahui apakah gerangan yang terjadi sehingga seorang jenderal yang berpang­kat tinggi itu sampai datang ke tempat ini dan melakukan perondaan sendiri, memimpin pasukan sendiri melakukan pembersihan.”

“Paman, bukankah Jenderal Kao telah menjamin….”

“Ah, aku tidak mau berkedok nama jenderal, Dewi. Kita melakukan perjalan­an sendiri menggunakan akal sendiri untuk menyelamatkan diri. Bagaimana kalau kita menyamar sebagai ayah dan anak penjual silat?”

“Tapi ilmu silatku masih rendah, paman.”

“Habis apa kiranya yang menjadi keahlianmu?”

“Aku agak pandai menari….”

“Nah, itu dia! Kita menyamar sebagai penjual obat dan engkau menari, aku yang mengiringi dengan meniup suling.”

Syanti Dewi tertawa dan cahaya matahari menjadi cerah bagi Gak Bun Beng. Tawa gadis yang halus itu benar-benar mendatangkan kesegaran dalam perasaannya. Bertahun-tahun dia hidup membeku, dan baru sekarang dia merasa­kan kehangatan perikemanusiaan.

“Menari hanya diiringi dengan suling saja? Dan lagunya? Apakah kau mengenal lagu Bhutan, paman?”

“Tentu saja tidak. Akan tetapi asal melagukan cukup? Apa lagi kita adalah penjual obat, bukan ahli tari sungguhpun aku yakin bahwa engkau tentu merupakan seorang ahli tari yang luar blasa. Nah, sekarang kita harus berbelanja ke dusun ini menyiapkan segala keperluan penyamaran kita. Untukku sebatang suling dan sebuah caping lebar, dan untukmu, apa kebutuhanmu dalam penyamaranmu, Dewi?”

“Sebagai penari keliling, cukup dengan sehelai selendang panjang saja, selendang sutera berwarna merah.”

Setelah menemukan dan membeli kebutuhan mereka itu, Gak Bun Beng lalu mengajak Syanti Dewi melanjutkan perjalanan meninggalkan dusun itu dan melintasi padang rumput. Di sepanjang perjalanan Syanti Dewi menyanyikan beberapa lagu Tibet yang dikenalnya dan dengan penuh kagum dan keharuan kare­na dara itu ternyata amat pandai ber­nyanyi dan mempunyai suara yang amat merdu dan halus. Gak Bun Beng mempe­lajari lagu-lagu itu dengan sulingnya.

Ketika mereka sudah melewati padang rumput Gak Bun Beng berhenti dan meminta kepada Syanti Dewi agar supaya menari. “Kita harus berlatih dulu agar cocok antara suling dan gerakan tarian­mu,” katanya.

Dia duduk di bawah pohon dan mulai meniup sulingnya, menirukan lagu yang dinyanyikan dara itu, dan Syanti Dewi mulai menari, menggerakkan tubuhnya seperti seekor kupu-kupu beterbangan di atas kelompok bunga, dan ketika selen­dangnya yang merah itu digerak-gecak­kan, selendang itu membentuk lengkung-lengkuk merah yang amat indah dan berubah-ubah. Kadang-kadang seperti seekor naga merah terbang, kadang-kadang seperti seekor kupu-kupu, lalu seperti huruf-huruf yang hanya tampak sekilas pandang saja karena sudah ber­ubah lagi bentuknya. Bukan main! Gak Bun Beng terpesona dan lupa diri, se­olah-olah dia sedang berada di kahyangan menyaksikan tarian seorang bidadari. Di dalam setiap gerakan tubuh dara itu, dari ujung jari tangan sampai ke anak rambut yang terjurai di depan dahi, semua begitu hidup, mengandung warna tertentu dan merupakan nyanyian tertentu, indah penuh rahasia seperti sajak-sajak keramat, meriah dan riang gembira seperti sinar matahari pagi di musim semi!

Setelah Syanti Dewi menghentikan tariannya sambil tertawa, Gak Bun Beng baru sadar. Dia menurunkan sulingnya pula, masih terlongong dan termenung, seolah-olah orang baru terbangun dari suatu mimpi yang amat indah.

“Paman Gak!” Syanti Dewi memanggil ketika melihat pendekar itu duduk termenung, aeolah-olah ada sesuatu yang mengganggunya.

“Heh….? Ehhh….!” Gak Bun Beng menyeka peluh yang tanpa diketahuinya telah memenuhi dahi dan lehernya, ke­mudian dia memandang Syanti Dewi dengan sinar mata lembut dan penuh kasih sayang. “Dewi, bukan main kau….! Bukan main….!” Dan tak dapat ditahan lagi, dia mengatupkan bibir dan dua titik air mata menetes ke atas pipinya.

Syanti Dewi menubruknya. “Paman, ada apakah? Paman…. paman menangis?” Ucapan ini dikeluarkan penuh ketidakper­cayaan. Rasanya mustahil bagi Syanti Dewi melihat seorang pria yang demikian gagah perkasa, jantan keras bagaikan baja, lembut dan budiman seperti kapas, yang dihormati, kagumi, dan sayang dapat meruntuhkan air mata walaupun hanya dua butir!

Gak Bun Beng tak mampu menjawab dan memejamkan mata ketika merasa betapa Syanti Dewi menyeka dua butir air mata itu dengan ujung selendangnya. Terbayanglah wajah Milana, teringatlah dia akan semua kenikmatan dan kebaha­giaan berkasih sayang dengan wanita itu. Kehadiran Syanti Dewi dalam hidupnya membuat luka di dalam hatinya merekah kembali dan dia menjadi amat rindu kepada Milana, amat rindu pada belaian kasih sayang wanita. Padahal selama ini, dia telah berhasil menundukkan semua itu, telah membuat hatinya mengeras seperti baja. Namun segala keindahan yang dilihatnya dalam diri Syanti Dewi, segala kelembutannya, mendobrak seluruh pertahanannya dan menjadi jebol!

“Paman kau kenapakah? Mengapa paman berduka?” Kemudian Syanti Dewi bertanya dengan suara penuh kedukaan dan kecemasan.

Gak Bun Beng membuka matanya, lalu memaksa diri tersenyum dan mem­buka capingnya, mengipasi muka dan lehernya dengan caping, bukan untuk meng­usir hawa panas, melainkan dengan harap­an angin dari kipasan caping itu akan mengusir keharuan yang mencekik lehernya. Sukar dia mengeluarkan suara dan ha­nya menggeleng kepala sambil tersenyum.

“Paman, kau tadi kelihatan demikian berduka, sampai menangis! Padahal tadi­nya tidak apa-apa. Setelah aku menari, paman berduka dan terharu. Tentu ada sebabnya, paman. Demikian tegakah paman membiarkan aku dipermainkan kesangsian? Tidak sudikah paman mempercayaiku dan menceritakan apa yang mendukakan hatimu?”

Gak Bun Beng menggerakkan tangan dan mengelus rambut kepala gadis itu. Gerakan ini meruntuhkan hati Syanti Dewi dan otomatis dia lalu menjatuhkan kepalanya bersandar pada dada pendekar itu. Dia merasa begitu aman, begitu tenteram dan begitu bahagia, seolah-olah dada yang bidang itu melindunginya dari segala malapetaka yang akan meng­ancamnya, melindunginya dari segala kedukaan dan mendatangkan kebahagiaan yang dia tidak mengerti. Gak Bun Beng pun menerima perbuatan gadis ini dengan perasaan wajar, seolah-olah sudah semes­tinya demikian, dan untuk beberapa saat dia tetap mengelus rambut kepala yang panjang, hitam dan halus itu. Kemudian dia teringat betapa janggalnya keadaan mereka, maka perlahan dia mendorong kepala gadis itu dari atas dadanya. Mereka duduk berhadapan dan berkatalah Gak Bun Beng, “Syanti Dewi, kaulah satu-satunya manusia yang berhak me­ngetahui segala mengenai diriku.”

“Terima kasih, paman. Aku yakin bahwa memang engkau akan mencerita­kan kepadaku, karena kiranya tidak ada lagi manusia yang demikian mulia seperti engkau, paman.”

Gak Bun Beng memegang tangan dara itu, akan tetapi ketika dia merasa ada getaran kemesraan yang luar biasa keluar dari tangan dara itu, dia cepat melepas­kannya kembali dan menghela napas, membuang pandang matanya ke tanah, menunduk. “Dewi, engkau terlalu tinggi memandang diriku. Aku hanyalah seorang tua yang bodoh, yang canggung dan lemah.”

“Bukan aku yang memandang terlalu tinggi, melainkan engkau yang selalu merendahkan diri, dan itulah satu di antara sifat-sifat paman yang kukagumi. Sekarang ceritakan, paman, mengapa paman tadi menangis ketika melihat aku menari?”

“Syanti Dewi, karena kau mengingatkan aku akan seorang lain….”

“Seorang wanita?”

Gak Bun Beng mengangguk.

“Wanita yang paman cinta?”

Kembali Gak Bun Beng mengangguk.

“Dan diapun mencinta paman?”

Untuk ketiga kalinya Gak Bun Beng mengangguk.

Syanti Dewi menunduk, kelihatan berduka sekali. Sampai lama keduanya diam saja, kemudian terdengar dara itu bertanya, suaranya gemetar menahan isak, “Paman Gak, sudah lamakah dia meninggal?”

Gak Bun Beng mengerutkan alisnya, lalu mengerti bahwa dara ini menyangka kekasihnya itu sudah meninggal. “Sampai sekarang dia masih hidup, Dewi.”

Muka dara itu menjadi pucat sekali, kemudian merah dan dia meloncat bang­kit berdiri dan suaranya nyaring penuh rasa penasaran dan kemarahan, “Kalau begitu dia telah meninggalkan paman, sungguh kejam sekali!”

Gak Bun Beng cepat menggeleng kepalanya. “Bukan! Bukan dia, melainkan akulah yang meninggalkan dia….”

Wajah yang tadinya merah menyala itu menjadi pucat, kedua tangannya yang dikepal terbuka dan tubuh yang mene­gang itu menjadi lemas. “Ouhhh….!” Syanti Dewi mengeluh dan duduk kembali di depan pendekar itu.

Syanti Dewi melihat Gak Bun Beng pendekar pujaannya itu duduk termenung, wajahnya pucat sekali, alisnya yang tebal berkerut dan di permukaan wajah itu terbayang kenyerian yang sukar dilukis­kan. Melihat wajah pendekar itu sepecti ini, Syanti Dewi tidak dapat menahan tangisnya. Dia terisak dan memegang kedua tangan pendekar itu, mengguncang-guncangnya sambil bertanya di antara isaknya. “Akan tetapi…. mengapa, paman? Mengapa….? Mengapa….?” Suaranya bercampur isak dan dia membiarkan air matanya berderai menuruni pipinya.

Melihat keadaan dara ini, Gak Bun Beng merenggutkan kedua tangannya. Dia takut kepada dirinya sendiri karena seluruh tubuhnya, seluruh hati dan perasaannya, seakan-akan mendorongnya untuk memeluk dan mendekap dara itu penuh cinta kasih. Dia melawan hasrat ini dan karenanya dia merenggutkan ketua tangan dari pegangan dara itu, lalu menutupkan keduanya tangannya ke mukanya sambil menahan air matanya dengan jari-jari tangannya. Sampai lama mereka tidak berkata-kata, yang terde­ngar hanya suara isak Syanti Dewi dan tarikan napas panjang Gak Bun Beng.

Setelah Syanti Dewi agak mereda dan berhasil menekan perasaan harunya dan ibanya, dia mengangkat muka yang basah dan merah, memandang punggung kedua tangan yang menutupi muka pendekar itu, bertanya, “Paman, saya yakin pasti ada sebab-sebab yang memaksa paman meninggalkannya. Pasti ada, dan maukah paman menceritakan kepadaku?”

Mendengar suara gadis itu telah tenang kembali biarpun masih gemetar, Gak Bun Beng yang juga telah berhasil meredakan gelora hatinya, menurunkan kedua tangannya dan tampaklah wajahnya yang pucat dan muram. “Syanti Dewi, sudah kukatakan bahwa aku akan menceritakannya kepadamu. Memang ada se­babnya, dan sebab itu adalah karena aku bodoh dan serba canggung! Begitu banyak aku melihat perkawinan gagal, cinta kasih berantakan setelah terjadi perkawinan, kemesraan lenyap terganti cemburu, kekecewaan dan kemarahan yang berakhir dengan kebencian dan dendam, sehingga aku menjadi muak dan ngeri. Aku menja­di takut kalau-kalau diapun akan mende­rita apabila kasih di antara kita yang murni itu akan menjadi palsu dan kotor setelah kita menikah. Aku tidak tega membiarkan dia kelak menderita, karena itu, aku mundur…. tidak tahu bahwa aku membawa pergi racun yang menggerogoti dan merusak hidupku hari demi hari. Dengan kekuatan batin aku bisa menun­dukkan semua itu, membuat hatiku keras dan melupakan segala.” Dia menarik napas panjang dan menengadah, meman­dang ke langit seolah-olah hendak mengadukan nasibnya kepada Thian.

“Jadi…. itukah sebabnya, paman, seorang pendekar besar mengasingkan dan menyembunyikan diri di antara orang-orang biasa, menjauhkan diri dari segala urusan dan kesenangan duniawi?”

Gak Bun Beng mengangguk.

“Dan selama itu paman tidak lagi tertarik kepada wanita yang manapun?”

“Hemmm…. sebelum mengenal dia, aku belum pernah mencintai orang lain, sesudah itupun aku tidak ada minat dan waktu…. aku malah muak dan tidak percaya akan cinta kasih antara pria dan wanita yang kesemuanya kuanggap palsu belaka! Aku tidak percaya lagi akan kata-kata cinta yang pada hakekatnya hanyalah penonjolan keinginan pribadi untuk mencari kesenangan dan kepuasan hati sendiri. Akan tetapi…. sikapku karena patah hati itu ternyata keliru dan baru aku sadar bahwa memang ada cinta kasih yang murni, yang tanpa pamrih…. yaitu setelah aku bertemu denganmu, Dewi. Setelah aku berjumpa denganmu, setelah aku bergaul beberapa lamanya denganmu, kau mengingatkan aku kepada dia….”

“Aduh, paman Gak…. sungguh kasihan kau! Kalau begitu, mengapa kita tidak pergi mencari dia? Di manakah kekasihmu itu? Sekarang belum terlambat untuk menyambung kembali pertalian kasih sayang yang secara paksa paman putus­kan itu! Marilah, aku akan menceritakan kepadanya betapa paman adalah seorang jantan yang hebat, seorang pria yang budiman, yang sampai saat inipun tidak pernah melupakan dia, tidak pernah mengurangi cinta kasihnya yang menda­lam dan murni!”

Gak Bun Beng menggeleng kepala. “Dia…. dia sudah menikah dengan orang lain, Dewi….”

“Ihhhh….!” Mata yang indah itu terbelalak memandang Bun Beng. “Mana mungkin….? Bukankah dia mencintamu, paman?”

“Dia tidak berdaya, kehendak orang tuanya.” Tiba-tiba Gak Bun Beng teringat bahwa dia telah berlarut-larut, melihat wajah dara itu yang biasanya seperti matahari pagi kini menjadi muram, pucat dan layu, dia hampir memukul kepalanya sendiri. Tiba-tiba dia memegang tangan dara itu, ditariknya berdiri dan sambil tersenyum dia berkata, “Aahhh, apa yang telah kita lakukan ini? Kita mendongeng tentang cerita-cerita duka, menggali pendaman-pendaman busuk! Padahal dunia ini begini indah, matahari begitu terang! Hapuskan air matamu itu, Dewi! Engkau masih muda belia, muda remaja. Lihat, masa depanmu seperti sinar matahari itu, cerah dan terang! Perlu apa hidup sekali ini di dunia harus berkeluh kesah dan berduka cita! Air mata darah sekalipun tidak akan dapat membangkitkan kembali yang telah mati! Ha-ha-ha, aku bodoh dan canggung! Mari, Dewi, kita lanjutkan perjalanan. Lihat di sana itu, genteng-gentengnya masih baru, tentu itu merupakan bangunan baru, dan kalau tidak salah, itulah markas pasukan yang akan kita selidiki.”

Melihat perubahan sikap pendekar itu, Syanti Dewi yang berperasaan tajam halus dan memang cerdik itu, maklum bahwa pendekar itu selain hendak meng­kubur kembali kenangan yang menyedih­kan, juga tidak ingin menyeretnya berla­rut-larut ke dalam awan kedukaan. Dia makin kagum dan bersyukur, dan diapun membantu agar pendekar itu tidak kece­wa. Dia menghapus semua keharuannya dan mulai tampaklah senyum di bibir dara itu dan matanya mulai bercahaya ketika dia memandang wajah Gak Bun Beng.

“Baik, paman. Marilah, akan tetapi harap paman menjagaku baik-baik karena aku masih ngeri kalau teringat akan kekasaran perajurit-perajurit itu.”

“Jangan khawatir. Betapapun juga, andaikata terjadi apa-apa yang tak dapat kucegah, kita masih mempunyai jimat berupa nama jenderal itu, bukan? Cuma satu hal yang harus kau jaga. Jangan kau menari seindah tadi!”

“Eh, mengapa, paman?”

“Mana mungkin ada penari dusun dapat menari seindah tarian bidadari seperti tadi! Jangan, gerakkan selendang­mu biasa saja, agak perkasarlah, gerakan kaki tanganmu.”

Syanti Dewi tertawa. Sedap perasaan Gak Bun Beng mendengar suara ketawa ini dan buyarlah semua awan mendung. “Perintahmu ini jauh lebih sukar daripada perintah memperbaiki atau memperhalus tarian, paman. Memperkasar tarian? Betapa sukarnya, akan tetapi biarlah kucoba asal paman membantu dengan suara sulingmu.”

“Membantu bagaimana?”

“Jangan terlalu merdu! Bikin agak sumbang begitulah, jadi aku akan tetap teringat untuk membikin gerakannya kaku.”

Keduanya tertawa dan melanjutkan perjalanan menuju ke sekelompok bangun­an di depan sambil bergandengan tangan. Sekali ini Gak Bun Beng tidak ragu-ragu lagi untuk menggenggam tangan yang kecil halus itu. Mereka bergandeng­an sebagai dua orang sahabat, sebagai ayah dan anak, bukanlah sebagai sepa­sang kekasih!

Markas itu adalah markas pasukan penjaga tapal batas. Biasanya mereka bermalas-malasan, akan tetapi semenjak Jenderal Kao Liang datang beberapa hari yang lalu, mereka tidak berani bermalas-malasan lagi dan penjagaan dilakukan dengan tertib. Juga tidak ada yang berapi berkeliaran mengganggu dusun-dusun terdekat karena Jenderal Kao Liang terkenal sebagai seorang pembesar yang keras dan kedatangannya otomatis membuat para komandan pasukan di tempat itu juga menjadi tegas dan keras terhadap bawahannya.

Banyak juga orang preman, penduduk dusun yang keluar masuk pintu gerbang benteng, ada yang mengantar kayu bakar, sayur-sayuran dan lain-lain. Gak Bun Beng berjalan tenang bersama Syanti Dewi dan sambil berjalan dia meniup sulingnya. Ketika mereka tiba di depan pintu gerbang, empat orang penjaga menghadang mereka dan seorang di antaranya menghardik, “Berhenti! Siapa kalian dan mengapa engkau meniup-niup suling di tempat ini? Tak tahukah bahwa di sini adalah markas pasukan?”

Bu Kek Sian Su (9) -Episode 90
Kisah Sepasang Rajawali

“Maaf, kami memanglah rombongan tari maka sudah menjadi kebiasaan saya kalau berjalan meniup suling agar tidak lekas lelah. Jadi di sini adalah markas pasukan pemerintah? Kebetulan sekali! Kami sedang menuju ke timur dan kare­na kami ingin mendengar secara resmi bagaimana keadaan di sana, maka kami ingin memperoleh keterangan dari ko­mandan kalian. Untuk itu, kami bersedia menghibur kalian dengan tari-tarian dan memberi obat luka yang manjur.”

Para penjaga itu saling pandang dan mereka berkali-kali memandang wajah Syanti Dewi yang amat cantik biarpun sederhana pakaiannya itu. “Kau tunggu sebentar, aku akan melapor kepada komandan!” kata seorang di antara mere­ka penuh gairah. Gak Bun Beng mengang­guk dan duduk di sudut sambil meniup sulingnya, sengaja dia mainkan sulingnya sebaik mungkin untuk menarik perhatian. Sedangkan Syanti Dewi menunduk saja karena dia merasa “ngeri” melihat pan­dang mata para penjaga itu yang seolah-olah hendak menelannya bulat-bulat!

Tak lama kemudian muncullah si penjaga tadi mengiringkan seorang perwi­ra gendut pendek yang mukanya bulat dan lucu kelihatannya. Perwira itu adalah komandan sementara di markas itu kare­na panglimanya sedang pergi mengikuti Jenderal Kao Liang yang sedang memim­pin pasukan beroperasi di daerah barat. Perwira itu sebetulnya seorang yang sabar dan baik, akan tetapi begitu meli­hat bahwa yang disebut rombongan tari itu terdapat seorang gadis yang demikian denok, kontan saja sikapnya menjadi berubah dari biasanya. Dia memasang aksl seolah-olah dialah komandan terbe­sar, dialah panglima tertinggi atau bah­kan kaisar sendiri! Sambil bertolak ping­gang dia memandang kepada Gak Bun Beng yang sudah berdiri dan menjura di depannya. Pandang matanya menyapu pendekar itu dan dara di sebelahnya, seolah-olah dia sama sekali tidak acuh akan kecantikan dara itu dan hanya menjalankan tugasnya sebagai “komandan” betul-betul, lalu dia membentak dengan suara nyaring, “Siapa kau dan dari mana hendak ke mana?”

Gak Bun Beng yang sudah berpenga­laman dan pandai membaca sikap dan isi hati orang, tersenyum geli karena mak­lum bahwa kegagahan perwira ini adalah dibuat-buat untuk menarik perhatian Syanti Dewi, tentunya dengan maksud agar dara itu kagum melihat seorang “komandan sungguhan”! Ingin sekali dia melihat akan bagaimana wajah badut ini kalau dia tahu bahwa gadis dusun yang cantik dan dipasangi aksi itu adalah Puteri Bhutan yang akan menjadi mantu kaisar! Bisa dibayangkan bahwa si gendut pendek ini tentu akan bertiarap di depan kaki Syanti Dewi, menyusup-nyusup seperti ular di antara rumput dan minta-minta ampun!

“Maafkan kami berdua, tai-ciangkun!” kata Gak Bun Beng yang makin geli hatinya melihat betapa perwira itu keti­ka mendengar sebutan tai-ciangkun terus saja melembungkan dadanya dan mengem­piskan perutnya, akan tetapi karena tidak dapat menahan lama-lama, segera dada­nya mengempis dan perutnya mengem­bung kembali seperti biasanya. Dicobanya lagi beberapa kali, namun makin lama makin tak kuat sampai napasnya senin kemis dan akhirnya dia membiarkan saja perutnya gendut bergantung dan dadanya mengempis.

“Saya bernama Gak Bun Beng dan dia adalah anakku bernama Dewi, ibunya seorang Tibet. Kami hendak pergi ke timur, akan tetapi di sepanjang jalan saya melihat pasukan pemberontak yang melarikan diri dan kabar selentingan bahwa di timur geger karena perang. Hal ini sangat menggelisahkan kami karena kabar yang kami terima tidak jelas. Maka kami ingin memperoleh keterangan yang resmi dan jelas dari tai-ciangkun agar hati kami lega untuk melanjutkan perjalan ke timur yang amat jauh itu. Untuk kebaikan tai-ciangkun, sebelumnya kami menghaturkan terima kasih dan untuk membalas budi, kami akan menga­dakan pertunjukan tari-tarian dan membagi obat luka yang mujarab untuk tai-ciangkun.”

Perwira gendut itu menggerak-gerak­kan alisnya seperti orang yang berpikir keras. Memang dia berpikir, akan tetapi alis tipis yang digerak-gerakkan itu termasuk aksinya agar kelihatan sebagai panglima ahli siasat yang pandai. Lagi-lagi, matanya yang agak bulat dan kecil melirik ke arah Syanti Dewi. Lirikan cepat tidak kentara akan tetapi tentu saja tidak terlepas dari pandang mata Gak Bun Beng.

“Dewi…. hemmm….” Perwira itu menggumam, agaknya tertarik oleh nama itu dan sama sekali tidak memperhatikan nama lakl-laki bercaping itu.

“Bagaimana, tai-ciangkun?” Gak Bun Beng bertanya ketika melihat perwira itu seperti mimpi menyebut nama Dewi.

“Ohhh…. ya, kami pikir dulu. Eh, engkau kelihatan begini tabah mengha­dapi pasukan, seperti sudah biasa. Engkau bukan mata-mata pemberontak, bukan?”

Gak Bun Beng tersenyum. Pertanyaan ini saja sudah membuktikan betapa tolol­nya perwira ini dan dengan seorang perwira seperti ini menjadi komandan markas, tidak akan heran kalau mata-mata dapat menyelundup masuk.

“Tentu saja bukan, tai-ciangkun. Kalau mata-mata musuh, masa kami mencari penyakit datang ke sini? Saya memang sudah biasa dengan pasukan, apalagi pasukan pemerintah sendiri, karena belasan tahun yang lalu saya pun pernah menjadi perajurit dalam pasukan istimewa yang dipimpin oleh Puteri Nirahai sendiri.”

“Ohhh….!” Seruan ini terdengar dari banyak mulut para perajurit yang sudah mengerumuni tempat itu. Pasukan isti­mewa dari Puteri Nirahai memang terke­nal sekali dan mendengar ini, perwira gendut itu berseri wajahnya.

“Apa katamu tadi? Tepat sekali, bukan? Sudah kulihat bahwa engkau adalah seorang yang biasa dengan pasu­kan. Kiranya masih bekas rekan sendiri, ha-ha! Kalau begitu, tentu saja kalian kami sambut dengan kedua tangan terbu­ka. Selamat datang dan marilah masuk. Mari silahkan, nona…. eh, nona Dewi. Indah sekali nama puterimu, saudara Gak!”

Syanti Dewi menjura dengan hormat dan Gak Bun Beng tersenyum girang ketika keduanya diiringkan oleh sang perwira gendut sendiri memasuki pintu gerbang markas itu. Hari telah mulai gelap karena tadi mereka berangkat dari dusun setelah berbelanja dan sudah lewat tengah hari. Dan tadi mereka agak lama berhenti bercakap-cakap sehingga menje­lang senja mereka baru tiba di depan markas itu.

“Sebaiknya tari-tarian dilakukan di waktu malam hari, di dekat api unggun, barulah tampak lebih indah dan meriah,” kata Gak Bun Beng.

“Baik, dan memang sebaiknya demiki­an agar semua anak buah dapat ikut menonton karena sudah bebas tugas,” kata perwira itu yang mulai kelihatan kebaikan hatinya seperti biasa.

“Sekarang kalau kau tidak berkeberat­an, ciangkun, harap suka menceritakan kepadaku tentang keadaan di kota raja. Saya ingin membawa anak saya ke kota raja, akan tetapi tentu saja hati saya tidak akan tenteram sebelum tahu bagai­mana keadaan di sana.”

Perwira itu menggeleng kepalanya. “Sebetulnya, perjalanan ke sana dari sini sudah tidak akan terganggu oleh para pemberontak lagi karena belum lama ini telah dilakukan operasi pembersihan besar-besaran. Akan tetapi, tentu saja kau harus berhati-hati terhadap perampok dan orang jahat, saudara Gak.”

“Harap ciangkun tidak usah khawatir. Kalau hanya menghadapi para perampok, kiranya saya tidak percuma menjadi bekas anak buah Puteri Nirahai. Akan tetapi, bagaimanakah keadaan kerajaan sendiri? Mengapa banyak timbul pembe­rontakan? Kalau kiranya memang perlu, biarpun sekarang sudah mulai tua, aku akan menghadap panglima di kota raja untuk menjadi perajurit lagi, membela pemerintah.”

Perwira itu menggeleng-geleng kepala. “Memang kurang baik keadaannya. Kare­na itulah Jenderal Kao Liang sendiri sibuk ke sana ke mari, mengadakan pengontrolan dan perondaan sendiri, hanya dengan beberapa orang pembantu dan pengawalnya. Tentu kau tahu, setelah sri baginda menjelang tua, biarpun tahta kerajaan sudah ditentukan akan jatuh kepada Putera Mahkota Yung Ceng, tetap saja timbul perebutan. Kabarnya banyak pangeran yang diam-diam melaku­kan pemberontakan secara rahasia sehing­ga sukar diketahui yang mana yang setia kepada kerajaan dan yang mana yang memberontak. Apalagi akhir-akhir ini keadaan dibikin ramai dan ribut lagi dengan adanya pertalian jodoh antara Puteri Kerajaan Bhutan dan seorang pangeran.” Perwira itu agaknya senang bercerita, apalagi melihat Syanti Dewi mendengarkan dengan penuh perhatian sehingga mata yang indah itu jarang berkedip, pandangannya seolah-olah ber­gantung kepada bibirnya yang sedang bercerita, bibir yang tebal membiru karena terlalu banyak menghisap temba­kau.

Disebutnya Puteri Bhutan itu menge­jutkan hati Gak Bun Beng dan karena dia ingin agar perhatian perwira itu beralih dari wajah Syanti Dewi yang tentu saja lebih kaget lagi, dia cepat berkata,

“Mengapa pertalian jodoh dapat menimbulkan ramai dan ribut, ciangkun?”

“Sebetulnya pernikahan itu sendiri tidak akan menimbulkan ribut, bahkan merupakan peristiwa yang menggembira­kan. Kabarnya Puteri Bhutan itu cantik bukan main, seperti bidadari….”

“Hemm, sayapun sudah mendengar, bahkan melebihi bidadari,” kata Gak Bun Beng secara kelakar untuk sekedar mele­nyapkan kekagetan Syanti Dewi. Dara itu menoleh kepada “ayahnya” dan terse­nyum.

“Akan tetapi di balik pernikahan itu tersembunyi maksud-maksud tertentu dari kedua pihak. Pihak Bhutan tentu saja suka berbesan dengan kaisar kita, karena ingin mendapat perlindungan dari para pemberontak Tibet dan Mongol yang dipimpin Raja Muda Tambolon. Sebaliknya, pihak kaisar juga ingin menaklukkan negara itu secara halus melalui ikatan kekeluargaan tanpa perang. Namun mak­sud kaisar ini mendapatkan tantangan dari banyak pangeran dengan bermacam-macam dalih, akan tetapi saya kira dasarnya hanyalah karena tidak ingin melihat kedudukan kaisar makin kuat dengan adanya banyak negara lain yang bersekutu! Maka kabarnya terjadi berma­cam-macam usaha untuk menggagalkan pernikahan itu, bahkan kabarnya rombongan penjemput puteri yang dipimpin Pang­lima Tan Siong Khi telah diserbu dan puteri itu sendiri kabarnya lenyap dita­wan pemberontak. Inilah sebabnya meng­apa Jenderal Kao Liang mengamuk dan menumpas para pemberontak di perbatas­an. Celakanya ada kabar angin bahwa usaha itu diatur dari kota raja sendiri, oleh para pangeran yang secara rahasia memberontak.”

Kaget bukan main hati Gak Bun Beng mendengar ini. Kiranya segala kekacauan itu bersumber kepada perebutan kekuasa­an di istana! Bagalmana dengan Milana?

“Lalu bagaimana kabarnya sikap pangeran yang akan dikawinkan dengan Puteri Bhutan?”

“Pangeran Liong Khi Ong? Hemm, tidak ada berita tentang dia, kelihatan­nya tenang-tenang saja, bahkan belum lama ini diapun ikut rombongan Jenderal Kao Liang meninjau ke barat, akan tetapi lalu terpisah dan berpesiar meng­gunakan perahu melalui sungai dikawal oleh pasukannya sendiri. Masih untung Puteri Bhutan yang seperti bidadari itu tidak jadi menikah dengan pangeran itu!”

“Kenapa demikian? Bukankah enak menikah dengan pangeran yang tinggi kedudukannya?” Tiba-tiba Syanti Dewi bertanya, tidak dapat menahan hatinya lagi karena yang dibicarakan itu sesung­guhnya adalah dirinya sendiri.

Perwira gendut memandang dan ter­senyum menyeringai, senang hatinya mendengar dara itu bertanya, “Menarik sekali ceritaku, ya?”

“Ceritamu menarik dan hebat, tai-ciangkun,” jawab Syanti Dewi.

“Biarpun andaikata engkau sendiri, nona, akan sengsara kalau menjadi isteri Pangeran Liong Khi Ong.” Perwira itu berkata sambil mengurut kumisnya yang tebal. “Pangeran itu terkenal sebagai seorang mata keranjang, selain selirnya banyak sekali, juga setiap malam dia harus berganti teman baru. Maka, andai­kata puteri itu menjadi isterinya, dalam beberapa hari saja tentu dia akan disia-siakan begitu saja!”

“Ahhh….!” Tentu saja berita ini membuat Syanti Dewi terkejut dan ma­rah.

“Ceritamu menarik sekali, ciangkun dan terima kasih atas segala keterangan­nya. Dengan ceritamu itu, saya malah ingin sekali segera tiba di kota raja untuk mendaftarkan masuk perajurit lagi. Sekarang, hari sudah malam, mari kita mulai dengan pertunjukan sebagai upah kebaikan ciangkun. Dan sebungkus obat ini adalah obat yang amat manjur terha­dap luka-luka, saya haturkan kepada ciangkun.”

“Terima kasih, terima kasih.” Perwira itu menerima bungkusan obat, lalu meng­antarkan mereka keluar. Api unggun dipasang di pelataran yang luas itu, dan para perajurit sudah berkumpul untuk menonton.

Gak Bun Beng mengeluarkan sulingnya dan Syanti Dewi mengeluarkan selen­dang. Suling kemudian ditiup, semakin malam semakin mengalun nyaring dan kemudian mulailah Syanti Dewi menari dengan selendang merahnya. Gak Bun Beng meniup suling sambil duduk dan matanya mengikuti gerakan Syanti Dewi, juga siap waspada melindungi dara itu, sedangkan Syanti Dewi menari di dalam api unggun, membuat selendang itu nampak seperti api bernyala dan wajah yang cantik itu kemerahan, amat cantik jelitanya.

Ketika melihat betapa dara itu teng­gelam ke dalam tariannya dan menari dengan amat indah, Gak Bun Beng cepat mengangkat sedikit jari penutup lubang sulingnya sehingga suara sulingnya men­jadi sumbang. Syanti Dewi terkejut mendengar suara ini, teringat dan mene­ngok ke arah Gak Bun Beng sambil tersenyum, lalu tangan kanannya digerak­kan secara kaku, sungguhpun tangan kirinya masih bergerak halus dan lemas sekali. Makin sumbang suara suling, makin kaku gerakan Syanti Dewi dan tak lama kemudian suara suling itu bunyinya se­perti suling ular! Tari-tarian dara itupun makin kacau, akan tetapi karena hatinya geli, dia tersenyum-senyum dan senyum­nya inilah yang menyelimuti semua kejanggalan itu! Seluruh penonton terpe­sona oleh senyumnya!

Setelah suara suling berhenti dan Syanti Dewi juga menghentikan tarian­nya, terdengar tepuk sorak riuh rendah diselingi permintaan agar dara itu melan­jutkan tari-tariannya. Gak Bun Beng maklum bahwa kalau dituruti para praju­rit yang sudah lama tinggal di asrama dan rata-rata “haus wanita” itu keadaan­nya akan menjadi runyam, apalagi kalau Syanti Dewi secara tak sadar begitu banyak mengobral senyumnya. Selain itu, juga si perwira gendut bisa saja menun­tut yang bukan-bukan nanti. Keterangan yang resmi dan jelas tentang keadaan di kota raja sudah didapat, dan itulah memang sasaran utamanya. Setelah berhasil, perlu apa tinggal lebih lama lagi di tempat ini? Bagi dia tidak apa-apa, akan tetapi bagi Syanti Dewi amat berbahaya. Juga dia yakin kalau Jenderal Kao Liang tiba, tentu jenderal itu akan marah dan mungkin akan menghukum si perwira gendut yang melalaikan tugas dan bersenang-senang.

“Saudara sekalian,” tiba-tiba dia bangkit berdiri dan menghampiri Syanti Dewi yang masih menerima sorak sorai itu sambil tersenyum dan membungkuk-bungkuk.

Suara berisik berhenti dan semua orang hendak mendengarkan kata-kata ayah dara yang amat mempesona itu. “Saudara-saudara sekalian, kami masih mempunyai pertunjukan yang menarik lagi, yaitu tarian bersama antara anakku dan aku sendiri, akan tetapi harap Saudara sekalian suka duduk dan jangan berdiri agar yang berada di belakang dapat menonton pula dengan senang.”

Semua orang tertawa dan mulailah mereka duduk di atas tanah dengan hati senang karena jarang terdapat hiburan seperti ini. Setelah melihat semua orang duduk, Gak Bun Beng lalu meniup sulingnya sambil menggerakkan kedua kaki seperti orang menari. Hal ini mengheran­kan Syanti Dewi. Dia tahu bahwa “ayah­nya” ini mempunyai suatu niat tertentu, akan tetapi tidak tahu niat apa. Diapun membantu dan mulai menari lagi dengan indahnya. Tiba-tiba Gak Bun Beng berbi­sik sambil menghentikan sebentar tiupan sulingnya, “Kau nanti naik ke punggungku!” lalu terus menyuling, mengejapkan mata ke pada Syanti Dewi agar mende­kati dan mengikutinya. Gak Bun Beng melangkah makin ke pinggir, kemudian secara tiba-tiba dia berbisik, “Hayo sekarang!”

Syanti Dewi yang cerdik mengerti bahwa pendekar itu tentu akan memba­wanya lari tanpa menimbulkan pertem­puran, maka cepat dia meloncat ke punggung pendekar itu.

Gak Bun Beng mengeluarkan suara melengking nyaring sekali, tangan kirinya menahan tubuh Syanti Dewi yang digen­dongnya di belakang punggung, tangan kanan memegang suling dan tubuhnya sudah melesat seperti terbang saja melalui kepala orang-orang yang duduk itu! Se­mua orang bersorak, mengira bahwa ayah dan anak itu masih memperlihatkan pertun­jukan yang memang amat hebat dan mena­rik. Akan tetapi ketika kedua orang itu lenyap ditelan kegelapan malam dan keadaan sunyi kembali, terdengar mereka ribut-ribut, “Ke mana mereka?”

“Mereka menghilang!”

“Wah, tentu telah lari!”

“Mengapa lari?”

“Mata-mata! Mereka tentu mata-mata!”

Perwira gendut itu memerintahkan semua anak buahnya untuk mencari dan mengejar, namun sia-sia belaka karena Gak Bun Beng dan Syanti Dewi telah pergi jauh sekali, jauh dari markas itu dan sudah berjalan sambil tertawa-tawa.

“Paman, mengapa kau harus memper­gunakan akal untuk lari? Bukankah per­wira itu baik sekali dan kita tidak akan terganggu?”

“Hemm, belum tentu. Kalau hanya aku sendiri, pasti tidak ada gangguan. Akan tetapi ada engkau, Dewi!”

Syanti Dewi mengerti dan menghela napas panjang. “Sungguh tidak enak menjadi wanita….”

“Heh….?”

“Apalagi kalau masih muda….”

“Hemm….”

“Dan cantik pula. Selalu menghadapi gangguan pria.”

“Tidak semua pria, Dewi.”

“Tentu saja, paman. Pria seperti paman tidak akan mengganggu wanita, akan tetapi ada berapa gelintir orang seperti paman di dunia ini? Justeru itulah celakanya, pria seperti paman tidak pernah mengganggu, dan yang mengganggu hanyalah laki-laki ceriwis macam tikus yang menjemukan saja!”

Gak Bun Beng tertawa karena kini dia melihat segi-segi lain yang menga­gumkan hatinya dalam diri gadis ini. Kalau tiba saatnya, gadis ini dapat pula bersikap jenaka dan lucu, sungguhpun tidak selincah Milana misalnya. Dia terkejut, dan mengepal tinjunya. Mengapa dia jadi teringat kepada Milana dan membanding-bandingkan dengan dara ini?

“Paman, kalau hanya ingin mendengar berita tentang kota raja, bertanya biasa­pun bisa. Mengapa paman harus menggu­nakan siasat penyamaran kemudian mela­rikan diri?”

“Ah, tidak mudah, Dewi. Bertanya kepada orang biasa, tentu tidak tahu jelas. Bertanya kepada mereka secara biasa, tentu menimbulkan kecurigaan dan selain tidak akan memperoleh penuturan jelas, mungkin malah ditangkap dengan tuduhan mata-mata yang melakukan penyelidikan.”

“Setelah mendengar penuturan itu, aku makin tidak suka pergi ke kota raja, paman.”

“Hem, aku mengerti. Akan tetapi kita harus ke sana lebih dulu, harus melihat sendiri keadaannya. Bagaimana kalau si gendut tadi hanya membual saja?”

“Akan tetapi aku tidak sudi menjadi isteri pangeran itu!” kata Syanti Dewi dengan tarikan muka jijik dan mengkal hatinya.

“Habis bagaimana?”

“Terserah kepada paman saja, ke manapun juga, selama hidupku. Aku suka menjadi apa saja, murid, anak, keponak­an, pelayan, atau…. ah, apa saja terse­rah paman.”

“Hemm…. hemm….” Gak Bun Beng mengelus jenggotnya yang pendek.

“Kalau paman keberatan, aku akan kembali ke Bhutan saja!”

Gak Bun Beng menengok dan terse­nyum melihat betapa kini gadis itupun bisa memperlihatkan sikap merajuk dan manja seperti biasanya kaum wanita.

“Kita ke kota raja dulu dan nanti kita lihat bagaimana perkembangannya, Dewi.”

Berangkatlah mereka melanjutkan perjalanan menuju ke timur. Di sepanjang perjalanan mulailah Gak Bun Beng mem­beri pelajaran ilmu silat tinggi kepada Syanti Dewi.

“Coba kaumainkan jurus-jurus pilihan dari gurumu, perwira Bhutan murid kakek adik angkatmu itu.”

“Baik dan aku mengharapkan petunjuk dan bimbingan paman.” Puteri itu lalu bergerak dan bersilat, memilih jurus-jurus yang dianggapnya paling ampuh. Kadang-kadang Gak Bun Beng meman­dang penuh perhatian, menyuruhnya berhenti tiba-tiba dan memperbaiki jurus itu, dan demikianlah, perlahan-lahan dia mengajarkan dasar-dasar ilmu silat ting­gi, dimasukkan dalam jurus-jurus yang telah dikenal oleh puteri itu. Dengan adanya pelajaran silat ini yang selalu dilatih setiap kali ada kesempatan, perja­lanan jauh itu tidaklah terasa melelah­kan, apalagi memang ada daya tarik luar biasa yang mempesonakan hati masing-masing dari teman seperjalanan itu.

Diam-diam Gak Bun Beng membayang­kan dengan hati khawatir apa yang telah terjadi di kerajaan. Cerita dari perwira gendut itu hanya menggambarkan keada­an luarnya saja, namun tidak mencerita­kan dengan jelas apa yang telah terjadi dan siapakah di antara para pangeran yang merencanakan pemberontakan, siapa pula yang bersekutu dengan orang-orang Mongol dan Tibet. Hal ini menggelisah­kan hatinya, terutama kalau dia teringat bahwa kini Milana tinggal di kota raja. Dia sudah mendengar berita bahwa Mila­na telah menikah. Biarpun tidak disenga­ja, berita ini menghancurkan dan sekali­gus mendinginkan hatinya. Dia tahu bahwa Milana amat mencintanya dan tentu pernikahan itu atas desakan ayah dara itu, Pendekar Super Sakti. Maka dia menerima nasib dan memang dialah yang meninggalkan kekasihnya itu. Akan teta­pi, kini mendengar tentang pergolakan di kota raja, timbullah kekhawatirannya tentang diri kekasihnya itu.

Sebetulnya, apakah yang telah terjadi di istana Kaisar Kang Hsi? Agar lebih jelas, sebaiknya secara singkat kita mempelajari keadaannya. Telah ditetap­kan bahwa yang menjadi Pangeran Mah­kota adalah Pangeran Yung Ceng, se­orang pangeran dari permaisuri yang amat dikasihi kaisar. Tentu saja masih banyak para pangeran yang lahir dari selir-selir kaisar, namun yang dicalonkan hanya Pangeran Yung Ceng seorang.

Kaisar masih mempunyai dua orang adik tiri, yaitu dua orang pangeran yang lahir dari selir ayahnya, yaitu Pangeran Liong Bin Ong dan Pangeran Liong Khi Ong. Dua orang pangeran tua inilah yang tidak setuju akan pengangkatan Pangeran Yung Ceng sebagai pangeran mahkota karena mereka tahu bahwa kelak mereka tidak akan dapat mempermainkan pange­ran ini yang tidak suka kepada kedua pamannya itu. Maka diam-diam dua orang pangeran tua ini merencanakan pemberontakan secara rahasia dan meng­hasut para pangeran lainnya.

Pada suatu hari, seorang pangeran dari selir, yang sebaya dengan Pangeran Yung Ceng, bernama Pangeran Yung Hwa, setelah mendengar akan kecantikan Puteri Bhutan, mengajukan permohonan kepada ayahanda kaisar agar dapat meni­kah dengan puteri terkenal itu. Kaisar merasa senang dan setuju dengan keingin­an hati Pangeran Yung Hwa ini. Akan tetapi seorang menteri setia, yaitu perdana menteri, yang sekaligus menjadi penasehat kaisar, membisikkan kaisar bahwa kurang tepatlah kalau putera kaisar dijodohkan dengan puteri sebuah negeri sekecil Bhutan! Pangeran Yung Hwa sepatutnya dijodohkan dengan puteri kerajaan yang lebih besar lagi sehingga kehormatan kaisar tidak menurun. Adapun Puteri Bhutan itu, untuk menarik Bhutan negara kecil itu sebagai keluarga, sebaiknya dilamar untuk dinikahkan dengan Pangeran Liong Khi Ong yang biarpun sudah berusia lima puluh tahun namun masih “perjaka” dalam arti kata belum mempunyai isteri sah melainkan hanya berpuluh-puluh selir saja. Perdana menteri mengemukakan hal ini menurut perhitungannya yang bijaksana. Dia sendi­ri tidak tahu akan pemberontakan rahasia yang diusahakan oleh Pangeran Liong Bin Ong dan Pangeran Liong Khi Ong, akan tetapi dia tahu bahwa dua pangeran tua itu diam-diam tidak menyukai pangeran mahkota, maka pemberian “hadiah” ini untuk melunakkan hati Liong Khi Ong!

Kaisar yang mendapat keterangan panjang lebar ini mengangguk-anggukkan kepalanya dan memuji akan kecerdikan perdana menterinya, maka dia lalu meno­lak permintaan Yung Hwa dengan alasan bahwa Yung Hwa akan dinikahkan dengan seorang Puteri Birma yang lebih cantik dan lebih hebat lagi. Adapun Puteri Bhutan lalu dipinang untuk Pangeran Liong Khi Ong!

Justeru kesempatan ini dipergunakan secara licin oleh dua orang pangeran pemberontak itu untuk menggagalkan semua rencana, hanya dengan niat agar Bhutan menjadi musuh Pemerintah Ceng dan kelak mudah mereka ajak bersekutu untuk melawan pemerintah kakak mereka atau keponakan mereka sendiri.

Betapapun kedua orang pangeran itu merahasiakannya, namun tetap saja terasa oleh semua orang suasana panas, suasana tidak enak yang meliputi istana. Apalagi ketika dikabarkan bahwa Pange­ran Yung Hwa yang “patah hati” itu lolos meninggalkan istana tanpa pamit! Dan dikabarkan bahwa ada bentrok yang mulai terasa di antara perdana menteri dan kedua orang pangeran tua. Suasana panas ini tidak langsung ditimbulkan oleh mereka yang bersangkutan, melainkan oleh kaki tangan masing-masing dan mulailah terjadi pelotot-mempelototi, sindir-menyindir antara pengawal masing-masing apabila bertemu di jalan raya di kota raja. Bahkan telah terjadi beberapa kali bentrokan bersenjata, sungguhpun hanya kecil-kecilan dan secara bersembu­nyi.

Puteri Milana yang juga merasakan sua­sana panas ini sesungguhnya dia tidak lagi tinggal di istana, melainkan tinggal di gedung suaminya yang menjadi perwira tinggi dan pengawal istana. Dari suami­nya, yang biarpun hubungan mereka seperti saudara saja namun masih bersi­kap baik kepadanya, dia mendengar tentang keadaan di istana. Dengan hati khawatir Milana mulai sering mengun­jungi Istana untuk mendengar-dengar dan melakukan penyelidikan. Jiwa patriotnya tersentuh dan agaknya sifat kepahlawan­an ibunya menurun kepadanya. Dia meng­hadap kaisar yang menjadi kakeknya itu, dengan terus terang menyatakan kekha­watirannya tentang desas-desus bahwa ada persekutuan pemberontak mengancam pemerintah. Kakeknya menertawakan cucunya ini, akan tetapi tidak melarang ketika Milana membentuk sebuah pasukan pengawal khusus yang dipimpinnya sendiri untuk melakukan penyelidikan dan untuk membasmi pemberontak yang berani mengacau kota raja! Pendeknya dia mencontoh ibunya, Puteri Nirahai, untuk menjaga keselamatan kota dan semua keluarga kaisar! Dan dengan adanya pasukan istimewa inilah maka keadaan kota raja mulai agak tenang dan kesela­matan penghuninya terjamin. Dua orang pangeran tua itu lebih berhati-hati, tidak berani melakukan tindakan terlalu menyo­lok karena merekapun maklum betapa lihainya cucu keponakan mereka, Puteri Milana.

Demikianlah sedikit gambaran keadaan kota raja, dan sudahlah sepatutnya kalau Gak Bun Beng merasa gelisah karena memang dia sedang menuju ke tempat yang amat gawat, yang setiap saat dapat meletus menjadi perang pemberontakan yang dahsyat. Namun, tujuan yang utama Gak Bun Beng bukanlah untuk menyelidiki kota raja atau untuk melihat kesela­matan Milana, melainkan untuk mengan­tar Syanti Dewi. Andaikata tidak ada Puteri Bhutan ini yang ditolongnya, kiranya mendengar apapun tentang kota raja dan istana, tidak akan menggerakkan hatinya untuk mengunjungi tempat itu.

Di sepanjang perjalanan, makin dekat dengan kota raja makin tampaklah suasa­na pertentangan. Bahkan di antara rakyat sendiri, ada yang pro dan ada yang anti kepada kaisar dan putera mahkota. Hal ini lumrah karena rakyat, betapapun juga menyadari bahwa pemerintah yang sekarang adalah pemerintah penjajah yang bagaimanapun tidak bisa mendapat­kan dukungan sepenuhnya dari lubuk hati mereka.

Syanti Dewi memperoleh kemajuan pesat dalam ilmu silat. Gak Bun Beng tidak tanggung-tanggung mengajarkan rahasia-rahasia ilmu silat tinggi, bahkan dia telah mengoperkan hawa sin-kang gabungan Swat-im-sin-kang (Tenaga Inti Salju) dan Hui-yang-sin-kang (Tenaga Inti Api) yang amat mujijat dari dalam tubuhnya ke dalam tubuh dara itu. Sampai pingsan Syanti Dewi menerima tenaga dahsyat ini, dan bagi Gak Bun Beng sendiri, pengoperan tenaga sin-kang ini membuat dia selama tiga hari tiga malam harus berdiam diri mengumpulkan hawa murni untuk memulihkan tenaganya. Dengan memiliki dasar tenaga sin-kang gabungan ini, biarpun ilmu silat yang dimainkan oleh Syanti Dewi masih sama dengan beberapa bulan yang lalu, namun kelihaiannya naik menjadi sepuluh kali lipat! Juga, biarpun dalam waktu singkat itu dia hanya menerima jurus-jurus baru yang tidak lebih dari belasan macam saja banyaknya, namun jurus-jurus ini sudah cukup untuk dipergunakan melindungi diri dari ancaman lawan yang amat kuatpun!

Mereka sudah menyeberangi Sungai Huang-ho dan tiba di kota Ban-jun di sebelah barat kota raja. Hari sudah siang ketika mereka memasuki kota itu dan karena kota raja sudah dekat dan mereka telah melakukan perjalanan yang melelahkan sekali, Gak Bun Beng mencari sebu­ah rumah penginapan.

Akan tetapi baru saja mereka sampai di jalan perempatan, tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk dan tampak dari jauh mendatangi sebuah kereta yang ditarik oleh dua ekor kuda besar dan dikusiri oleh seorang yang berpakaian tentara dan yang memegang golok. Dari simpangan yang lain tampak belasan orang yang juga berpakaian tentara, dipimpin oleh seorang perwira dan mereka ini memba­lapkan kuda mengejar kereta itu! Kemudian betapa kagetnya hati Gak Bun Beng dan Syanti Dewi ketika melihat anak panah berapi menyambar ke arah kereta dan dalam sekejap mata saja kereta itu terbakar!

“Ohhh….!” Syanti Dewi berseru, seruannya kabur di dalam seruan-seruan semua orang yang melihat peristiwa itu dan yang segera lari cerai berai bersembunyi di balik-balik rumah penduduk. “Kita harus menolong penumpang….!” kata pula puteri ini.

Gak Bun Beng memegang tangan dara itu mencegahnya bertindak lancang. Dia masih tidak tahu siapa penumpang kere­ta, siapa pula yang mengejar dan mele­paskan anak panah berapi itu. Sementara itu, perwira yang memimpin belasan orang perajurit sudah tiba di situ. Kusir kereta itu bangkit berdiri dan berusaha melawan dengan goloknya, akan tetapi karena di belakangnya ada api berkobar, dan gerakan perwira itu tangkas sekali, ketika kuda perwira itu meloncat dekat dan pedang perwira itu menyambar, robohlah kusir itu dari atas kereta, terjungkal di atas tanah jalan sedangkan dua ekor kuda yang panik karena “dike­jar” api di belakang mereka itu, terus membalap sambil meringkik-ringkik.

Kini Gak Bun Beng tidak dapat ting­gal diam lagi. Apa dan siapapun yang bermusuhan, kusir itu tewas dan penum­pang kereta terancam maut. Dia harus menolongnya dulu dan baru kemudian mendengar urusannya. Bagaikan tatit kilat tubuhnya melesat berkelebat dan angin menyambar dan pendekar itu telah lenyap. Syanti Dewi kagum bukan main, akan tetapi juga khawatir ketika melihat bayangan Gak Bun Beng melesat ke dalam kereta yang terbakar. Akan tetapi hatinya lega ketika melihat pendekar itu melesat ke luar lagi memondong seorang pemuda yang terluka ringan di pahanya.

“Keparat, berani mencampuri urusan kami?” Perwira itu bersama belasan orang perajuritnya sudah menerjang maju kepada Gak Bun Beng yang menurunkan pemuda itu di tepi jalan dekat Syanti Dewi.

“Hemm, kalian terlalu kejam!” Gak Bun Beng berkata lalu menerjang ke depan karena dia tidak ingin pemuda itu diserang. “Dewi, lindungi dia!” katanya dan begitu perwira itu sudah dekat, dia menyambut pedang yang menusuknya dengan sentilan jari tangannya.

“Tringg…. krekkk!” Pedang itu patah menjadi dua!

Gak Bun Beng lalu berkelebat di antara mereka, dan ke manapun dia berkelebat, tentu senjata seorang peraju­rit penunggang kuda patah atau terlem­par. Dua orang perajurit menghampiri pemuda yang terluka itu dengan golok terangkat, akan tetapi Syanti Dewi yang sudah siap dengan dua buah batu sebesar kepalan tangannya, menggerakkan tangan kanan dua kali. Terdengar teriakan mengaduh dan dua batang golok terlepas dari tangan yang disambar batu itu.

“Mundur….! Pergi….!” Perwira itu memberi aba-aba dan pasukan kecilnya yang telah “dilucuti” senjatanya itu tidak menanti perintah kedua, terus membalik­kan kuda dan terjadilah lomba balap kuda yang ramai, meninggalkan debu mengebul tinggi.

Gak Bun Beng menarik napas panjang. Hatinya lega bahwa urusan itu dapat diselesaikan sedemikian mudahnya. Akan tetapi betapa kagetnya ketika dia menoleh ke tempat Syanti Dewi berada, dia hanya melihat dara ini saja sedangkan pemuda yang terluka ringan dan hampir mati terbakar dalam kereta tadi tidak tampak lagi. Cepat dia menghampiri Syanti Dewi.

“Apa yang terjadi? Mana dia?”

“Dia telah pergi, paman. Dia hanya menanyakan nama paman, kemudian dia mengatakan bahwa dia berterima kasih sekali, bahwa selama hidupnya dia tidak akan melupakan budi paman.”

“Dalam keadaan terluka itu dia pergi?”

Syanti Dewi mengangguk. “Dia tidak mau ditahan, agaknya tergesa-gesa sekali. Dan dia hanya menyatakan bahwa namanya adalah Yung Hwa.”

“Hemm…. sungguh aneh sekali. Mari kita pergi dari kota ini, Syanti Dewi, aku tidak mau menjadi perhatian orang.” Memang pada saat itu, orang-orang sudah berkumpul dan menghampirinya sambil membicarakan kegagahannya ketika menolong penumpang kereta dan melawan belasan orang pasukan tadi. Akan tetapi sebelum ada yang sempat bertanya, Gak Bun Beng sudah menggandeng tangan Syanti Dewi dan cepat-cepat meninggal­kan kota itu, tidak menengok ketika mendengar ada orang-orang menegur dan memanggilnya menyuruh berhenti. Tentu saja orang-orang itu hanya melongo, dan laki-laki perkasa itu tentulah seorang di antara tokoh-tokoh kang-ouw yang memang selalu bersikap dan berwatak aneh.

Peristiwa itu menambah dorongan bagi Gak Bun Beng dan Syanti Dewi untuk ce­pat menuju ke kota raja. Mereka menduga bahwa tentu bentrokan yang terjadi itu ada hubungannya dengan kerusuhan di kota raja. Sama sekali Gak Bun Beng tidak menyangka bahwa yang ditolongnya itu adalah putera kaisar sendiri! Dia adalah Pangeran Yung Hwa, adik Pange­ran Mahkota Yung Ceng. Pangeran Yung Hwa itulah tadi yang tergila-gila mende­ngar kecantikan Syanti Dewi dan ingin menikah dengan puteri itu. Tentu saja Gak Bun Beng dan Syanti Dewi tidak tahu sama sekali akan urusan itu, juga bagi pangeran muda yang tampan itu, sama sekali tidak pernah mimpi bahwa puteri yang membuatnya tergila-gila itu pernah berdiri di depannya, bahkan per­nah menolongnya dengan merobohkan dua penyerangnya dengan sambitan batu, pernah dia bercakap-cakap dengan puteri itu! Tentu saja dia hanya mengira bahwa wanita muda yang menolongnya itu hanyalah seorang dara kang-ouw yang lihai saja. Juga dia masih terlalu muda untuk mendengar nama Gak Bun Beng yang hanya dikenal oleh golongan yang lebih tua karena selama belasan tahun ini nama Gak Bun Beng tidak pernah disebut-sebut orang lagi, apalagi memang orangnya telah menghilang tanpa mening­galkan jejak.

Dengan cepat Gak Bun Beng melanjutkan perjalanan karena dia ingin cepat-cepat melihat keadaan kota raja. Apalagi ketika di sepanjang jalan setelah makin dekat kota raja dia melihat banyaknya pasukan-pasukan kecil yang hilir mudik dan kelihatan sibuk sekali. Kelihatannya memang amat gawat keadaannya dan di sepanjang jalan dia mencari keterangan, namun para penduduk juga hanya menge­tahui sedikit sekali tentang keadaan sedalam-dalamnya dari kota raja yang diliputi penuh rahasia itu, hanya menga­takan bahwa di sekitar kota raja muncul banyak orang-orang aneh dan lihai seolah-olah semua tokoh kang-ouw dan para datuk kaum sesat muncul dari tempat pertapaan mereka, semua orang sakti turun dari pegunungan dan semua iblis keluar dari neraka! Dan bahwa kini sering sekali tampak perondaan pasukan tentara dari kota raja dan banyak terjadi pertempuran, bahkan antara pasukan dengan pasukan lain sehingga membingungkan dan mendatangkan rasa takut kepada rakyat jelata.

Beberapa hari kemudian, tibalah Gak Bun Beng dan Syanti Dewi di depan pintu gerbang kota raja sebelah barat. Di depan pintu gerbang ini, Gak Bun Beng berhenti dan termenung dengan muka berubah pucat. Terbayanglah olehnya semua pengalamannya belasan tahun yan lalu (baca ceritaSepasang Pedang Iblis) dan jantungnya berdebar tegang ketika teringat bahwa di dalam lingkungan tembok kota raja inilah adanya wanita yang pernah dan masih dicintanya. Puteri Milana!

Pintu gerbang itu terbuka lebar dan terjaga oleh sepasukan penjaga yang bersenjata lengkap dan yang memandangi orang-orang yang lalu lalang dengan sinar mata tajam penuh selidik. Kalau ada orang yang kelihatan mencurigakan, tentu akan dipanggil dan diperiksa. Akan tetapi keadaan Gak Bun Beng dan Syanti Dewi sama sekali tidak mencurigakan. Wajah Gak Bun Beng bukanlah wajah yang menyeramkan, bahkan seperti seorang petani biasa saja yang tampan, sedangkan biarpun wajah Syanti Dewi mempunyai kecantikan yang khas, namun kecantikan­nya yang mirip kecantikan wanita Mancu ini malah menyelamatkannya dari kecurigaan para penjaga. Apalagi karena kulit mukanya sudah agak gelap terbakar sinar matahari selama berpekan-pekan, dia mirip seorang gadis dusun biasa saja sungguhpun amat manisnya.

“Paman, hayo, kita masuk. Mengapa paman berdiri saja di sini?” Syanti Dewi menegur dan menarik tangan pendekar itu.

“Ahhh…. eh…. benar kau…. mari….” kata Gak Bun Beng, suaranya agak parau dan gemetar.

“Paman, engkau kenapakah? Mukamu pucat sekali seperti orang sakit.”

“Sakit? Siapa….? Aku sakit? Ah, tidak….!” jawab Gak Bun Beng akan tetapi kedua kakinya tersaruk-saruk seolah-olah tubuhnya menjadi lemah kehabisan tenaga.

“Agaknya kau masuk angin, paman. Biar kubawakan buntalan itu.” Syanti Dewi mengambil buntalan dari tangan Gak Bun Beng dan memandang pamannya itu penuh kekhawatiran.

Ternyata Gak Bun Beng memang sedang menderita tekanan batin yang hebat. Tidak hanya dia teringat akan segala peristiwa belasan tahun lalu, yang mendatangkan rasa duka, terharu, dan khawatir, akan tetapi kemudian dia teringat bahwa mereka telah tiba di tempat tujuan! Ini berarti bahwa dia akan segera berpisah dari Syanti Dewi. Kenyataan ini merupakan palu godam yang menghantam perasaan hatinya dan lebih parah lagi karena dia mendapat kenyataan betapa berat rasa hatinya untuk berpisah dari samping gadis ini! Kesadaran akan hal inilah yang benar-benar menghimpit hatinya. Mengapa jadi demikian? Menga­pa dia menjadi berat berpisah dari sam­ping gadis ini? Biarpun Syanti Dewi sudah mengatakan akan suka ikut selama­nya dengan dia, namun dia bukanlah seorang laki-laki yang mempergunakan kelemahan seorang gadis untuk menye­nangkan diri sendiri. Tidak! Apa akan jadinya dengan Syanti Dewi, puteri Raja Bhutan, gadis bangsawan tinggi yang biasa hidup mulia itu apabila ikut dengan dia? Menjadi seorang perantau yang tidak menentu makan, pakaian dan rumahnya? Tidak! Tidak! Tentu, saja dia tidak bisa menceritakan kepada Syanti Dewi bahwa bayangan perpisahan itu yang memberat­kan hatinya, yang memukul batinnya, di samping bayangan pertemuannya dengan Milana!

Mereka melewati pintu gerbang de­ngan aman. Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan serombongan pasukan masuk melalui pintu gerbang itu. Syanti Dewi masih memandang pamannya yang menunduk saja.

“Lakukan pengawasan ketat dan ja­ngan lupa, kalau dua iblis itu berani muncul di sini, cepat laporkan padaku!”

Suara bisikan yang tidak terdengar oleh orang lain karena diucapkan perla­han dan dari jarak jauh itu masih dapat ditangkap oleh pendengaran Gak Bun Beng dan ada sesuatu dalam suara itu yang membuatnya terkejut dan cepat dia menoleh ke kiri. Seketika mukanya men­jadi makin pucat seperti mayat, matanya terbelalak dan mulutnya ternganga, kedua tangan dikepal dan dia tak bergerak seperti arca. Matanya memandang seperti orang yang hilang ingatan kepada seorang wanita cantik jelita dan gagah perkasa yang menunggang kuda besar dan berada di depan pasukan berkuda itu dan wanita inilah yang tadi bicara kepada perwira di sampingnya. Wanita itu usianya kurang lebih tiga puluh tujuh tahun, tubuhnya masih padat dah tinggi semampai, me­nunggang kuda dengan tegak, tubuhnya tertutup mantel putih, rambutnya disang­gul tinggi-tinggi dan yang membuat Gak Bun Beng hampir pingsan adalah wajah yang cantik itu kelihatan begitu kurus, begitu muram kehilangan cahayanya yang dahulu selalu berpancar dari wajah Mila­na! Hatinya menjerit. “Milana….!” akan tetapi mulutnya tidak mengeluarkan suara apa-apa.

Syanti Dewi terkejut bukan main, cepat menengok dan diapun melihat wanita yang menunggang kuda itu dan segera rombongan itu lewat dan lenyap. Dia menoleh kembali kepada pamannya yang keadaannya masih payah. Kini Gak Bun Beng menggigit bibir bawahnya, alisnya berkerut dan bibirnya berbisik-bisik tanpa suara.

“Paman….! Ada apakah….? Paman….!”

Gak Bun Beng terhuyung dan cepat tangannya ditangkap oleh Syanti Dewi, kemudian dia menuntun pendekar itu ke pinggir jalan, terus diajaknya berjalan ke tempat yang sunyi. Tak jauh dari situ tampaklah huruf-huruf besar yang menya­takan bahwa di situ terdapat sebuah rumah penginapan.

“Paman, kita beristirahat di penginap­an itu, ya?”

Gak Bun Beng hanya mengangguk dan memejamkan matanya. Syanti Dewi berkhawatir sekali. Dengan hati-hati dia menuntun Gak Bun Beng ke rumah pe­nginapan itu dan minta disediakan sebuah kamar. Melihat gadis itu menuntun laki-laki yang kelihatannya menderita sakit, pelayan cepat menyediakan kamar dan Syanti Dewi segera menuntun Gak Bun Beng memasuki kamar.

Gak Bun Beng melempar tubuhnya ke atas pembaringan dan rebah telentang dengan muka tetap pucat. Pukulan batin yang amat hebat dideritanya. Bermacam-macam perasaan mengaduk hatinya, terutama sekali perasaan terharu melihat betapa Milana kini telah berubah menjadi sekurus dan sepucat itu. “Aku menyiksanya…. aku menyiksa batinnya…. ah, aku menyiksanya….” Demikian jerit hati Gak Bun Beng dan dia memejamkan matanya.

Syanti Dewi duduk di pinggir pemba­ringan dan dipegangnya dahi pendekar itu. Panas! “Aih, kau panas sekali, pa­man. Kau sakit! Kau demam….”

Gak Bun Beng membuka matanya, memandang Syanti Dewi sebentar, lalu memejamkannya kembali, menggeleng kepala dan berkata lemah, “Tidak apa-apa, Dewi…. sebentar juga sembuh…. tidak apa-apa….”

“Paman, ah, paman, aku khawatir sekali. Kau tadi begitu pucat seperti mayat setelah melihat wanita itu! Siapa­kah wanita cantik dan gagah yang me­nunggang kuda itu tadi, paman?”

“Milana…. dia Milana….!” Ketika mengucapkan nama ini, seolah-olah hati­nya menjerit memanggil nama kekasih­nya. “Milana….!”

Mendengar nama ini, Syanti Dewi terkejut. “Sang Puteri Milana….?”

Gak Bun Beng mengangguk lagi dan memejamkan matanya. Syanti Dewi mengulang nama itu dan memandang penolongnya penuh selidik, kemudian dia mengangguk-angguk. Digenggamnya ta­ngan pendekar itu ketika dia berkata, “Maafkan kelancanganku, ya, paman? Diakah wanita yang yang paman cinta? Sang Puteri Milana itu?”

Sejenak Gak Bun Beng tidak menja­wab, bibirnya menggigil, matanya terpe­jam, kemudian dia mengangguk.

“Aihhh….!” Syanti Dewi tertegun, sama sekali tidak menduga bahwa peno­longnya ini mempunyai hubungan cinta kasih dengan cucu kaisar sendiri! Diam-diam dia mengakui bahwa memang patutlah kalau penolongnya ini mencinta wanita itu, karena memang wanita tadi itu hebat. Begitu cantik, begitu gagah dan begitu agung! Akan tetapi mengapa wanita itu tidak menahan kepergian pendekar ini? Apakah cinta kasih wanita itu kurang mendalam? Kasihan pendekar ini, sampai sekarang masih menderita hebat karena cinta kasihnya terputus!

“Kalau begitu, antarkan aku kepada­nya, paman. Atau aku mencari sendiri, aku akan menghadapnya dan akan kute­gur dia, akan kukatakan betapa dia telah membuat hidupmu sengsara, betapa dia telah berlaku kejam terhadapmu, betapa dia sepatutnya harus….”

“Hushh….! Jangan berkata begitu, Dewi. Akulah yang meninggalkannya. Cintaku kepadanya sedemikian mendalam sehingga aku tidak mau karena menikah denganku dia akan sengsara. Lihat, dia begitu agung, seorang puteri Istana! Cucu kaisar dan puteri Majikan Pulau Es, se­orang pendekar yang berjuluk Pendekar Super Sakti! Sedangkan aku…. ah, riwa­yatku hanya memalukan untuk dibicarakan, seorang rendah, miskin dan….”

“Dan semulia-mulianya orang, yang tak dapat melihat ini matanya buta!” Syanti Dewi melanjutkan.

“Tidak, Syanti Dewi. Kau tidak me­ngerti. Aku rela memutuskan hubungan kami, dan aku rela menderita kalau dia berbahagia. Karena itu, akupun tidak pernah menampakkan diri. Sekarang karena terpaksa aku berada di sini dan…. dan melihat dia…. ahh, Dewi, apakah kau tidak melihat bagaimana wajahnya tadi?”

“Cantik dan agung, paman. Akan tetapi…. hemm, memang kurus dan pucat, agak murung….”

“Dia menderita, Dewi. Aku mengenal benar wajahnya. Dia menderita, dan semua itu karena aku…. ohh.” Gak Bun Beng memejamkan mata erat-erat, mulutnya terkancing.

“Paman….! Paman….!” Syanti Dewi menjerit dan karena jeritannya itu pela­yan tadi berlari masuk. Melihat betapa orang yang dipanggil “paman” oleh gadis itu pingsan dan kaku iapun ikut menjadi bingung sekali.

“Lekas…. oh, lekas panggllkan tabib….!” Syanti Dewi memohon dan pelayan itu lalu lari keluar untuk memanggil ahli pengobatan yang kebetulan toko obatnya tidak begitu jauh dari situ.

Syanti Dewi sendiri cepat membuka baju Gak Bun Beng, kemudian dia mele­takkan telapak tangannya di dada pende­kar itu dan mati-matian mengerahkan sin-kang yang diajarkan oleh Gak Bun Beng. Napasnya sendiri sampai terengah-engah, wajahnya pucat, akan tetapi dia nekat terus menyalurkan sin-kang. Akhir­nya, Gak Bun Beng sadar dan cepat dia menangkap tangan Syanti Dewi dan berkata, “Anak bodoh….! Lekas kau bersila dan atur napasmu baik-baik!”

Syanti Dewi girang sekali melihat penolongnya sudah siuman, maka dia menurut dan bersila. Kini Gak Bun Beng yang membantunya dengan menempelkan telapak tangannya ke punggung dara itu. Syanti Dewi sehat, dan pulih kembali tenaganya, akan tetapi keadaan Gak Bun Beng makin lemah.

“Ahhh, gejolak batin yang belasan tahun kutekan, dalam hari ini terbebas dari tekanan sehingga seolah-olah api dalam sekam, kini menyala, atau seperti air dibendung, kini pecah bendungannya. Mana aku kuat menahan? Jangan khawa­tir, Dewi, aku sudah sadar sekarang, hanya tinggal lemas. Tubuhku lemah sekali dan perlu beristirahat agak lama. Kita tunda saja pergi menghadap dia….”

“Menghadap Puteri Milana? Tak perlu kau terlalu banyak memikirkan urusanku, paman. Kalau kau menghendaki mengha­dap kapan sajapun boleh. Kalau tidakpun, aku juga tidak ingin masuk istana. Yang perlu kau harus berobat sampai sembuh.”

Pelayan datang bersama sinshe ahli obat. Setelah memeriksa nadi dan mende­ngarkan dada, sinshe tua itu mengangguk-angguk. “Orang muda, jangan terlalu banyak pikiran. Memang sedang masanya dunia kacau dan ribut-ribut, akan tetapi bukan kita sendiri yang merasakannya, melainkan orang sedunia. Perlu apa gelisah dan berduka? Tenang dan bergembiralah dan tanpa obatpun kau akan sembuh. Akan tetapi perlu kuberi obat untuk menjaga jantungmu.”

Setelah membuat resep dan menerima uang biaya dari Syanti Dewi, sinshe itu lalu pergi dan si pelayan cepat membelikan obat dari resep itu. Sambil memasak obat di dalam kamar, Syanti Dewi mem­perhatikan dan menjaga Gak Bun Beng yang masih rebah telentang.

“Sinshe itu memang pandai….” kata Gak Bun Beng. “Sungguhpun dugaannya keliru, namun sifat penderitaanku dia tahu semua. Dan dia menyebutku orang muda, betapa lucunya!”

Biarpun suara Gak Bun Beng masih gemetar dan lemah, membuat Syanti Dewi terharu dan khawatir, namun teri­ngat akan nasehat sinshe tadi Syanti Dewi berkata dengan tertawa dan suara­nya gembira, “Hi-hik,paman . Apanya yang lucu? Memang kau masih muda, malah engkau masih…. perjaka lagi, hi-hik!”

Gak Bun Beng mencoba untuk terse­nyum. “Bagaimana kau tahu?” Memang sesungguhnya, Gak Bun Beng yang sudah berusia empat puluh tahun itu masih perjaka, belum pernah dia mengadakan hubungan badani dengan wanita!

“Tentu saja tahu! Bukankah engkau tak pernah kawin? Itu berarti masih perjaka!”

Gak Bun Beng tidak menjawab. Dia terharu sekali karena dia tahu bahwa sebetulnya hati dara itu gelisah memikir­kan bagaimana nanti kalau dia ditinggal di istana, memikirkan sakitnya. Akan tetapi gadis itu sengaja memaksa diri bergembira dan mengajak berkelakar agar dia lekas sembuh. Betapa luhur budi dara ini!

Dengan penuh ketekunan Syanti Dewi merawat Gak Bun Beng, memberinya minum obat dan bahkan menyuapi mulut Gak Bun Beng ketika makan bubur, tetap tak membolehkan pendekar itu bangkit dan makan sendiri. Akhirnya, dengan hati diliputi penuh keharuan, Gak Bun Beng tertidur nyenyak.

Sore harinya, melihat Gak Bun Beng masih tidur terus hati Syanti Dewi menjadi tidak enak. Bagaimana kalau terus tidur dan tidak akan bangun kembali? Membayangkan pendekar itu “mati” Syanti Dewi menjadi panik. Kacau hatinya, maka dia lalu bertanya kepada pelayan dan menuju ke rumah obat menemui sinshe tadi, memberitahukan bahwa obat telah diminumkan dan menanyakan meng­apa setelah minum obat lalu tertidur terus sejak tadi sampai sekarang.

“Bagus, bagus….!” Sinshe itu meng­angguk-angguk. “Jangan ganggu dia. Makin banyak tidur makin baik, dia gelisah dan berduka, tidur dan istirahat, bergembira adalah yang mujarab.”

Legalah hati Syanti Dewi dan dengan hati dan langkah ringan dia kembali ke rumah penginapan. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dia melihat keributan terjadi di rumah penginapan itu. Dua orang kakek yang aneh sekali telah berada di ruangan depan penginapan dan berhadapan dengan lima orang pelayan. Karena mereka itu ribut-ribut tepat di depan pintu kamar Gak Bun Beng, maka Syanti Dewi terhalang tak dapat masuk dan dia menjadi khawatir sekali. Sejenak dia memandang dengan penuh keheranan dan kengerian. Kedua orang kakek itu memang luar biasa sekali. Wajah kedua­nya presis sehingga mudah diduga tentu mereka adalah orang-orang kembar. Akan tetapi pakaian mereka berbeda jauh, seperti bumi dengan langit. Yang seorang bermuka merah, tubuhnya hanya tertutup oleh sebuah celana pendek sehingga dari pinggang ke atas dan dari paha ke bawah sama sekali telanjang, memakai sepatupun tidak! Adapun kakek yang kedua, mukanya putih, pakaiannya leng­kap, terlalu lengkap malah, karena di luar pakaiannya dia memakai mantel bulu tebal, seolah-olah dia selalu merasa dingin sedangkan yang seorang seolah-olah kegerahan terus! Dua kakek ini marah-marah.

“Kami juga mampu bayar, kenapa tidak boleh memakai kamar ini?” bentak yang bermantel bulu.

“Maaf, loya. Kamar ini sudah ada tamunya, bahkan sedang sakit. Harap ji-wi suka memakai kamar yang berada di dalam atau di belakang.”

“Tidak! Kami memerlukan kamar paling depan! Hayo suruh si sakit itu keluar dan pindah ke belakang. Kami berani bayar tiga kali lipat!”

“Tapi, loya….”

“Heh-heh, kamu minta mampus?” Tiba-tiba yang setengah telanjang itu membentak sambil terkekeh, tangannya menepuk meja di sebelahnya dan…. permukaan meja itu menjadi hangus seperti dibakar!

Para pelayan terkejut sekali dan tidak berani bicara lagi, sedangkan Syanti Dewi yang menyaksikan demontrasi tadi juga terkejut. Mengertilah dia bahwa kakek setengah telanjang itu memiliki sin-kang yang amat hebat sehingga mam­pu membakar meja! Dia lalu menyelinap dari samping, mendorong daun jendela kamar Gak Bun Beng.

Akan tetapi dia melihat pendekar itu sudah bangkit dan duduk, dan ketika melihat Syanti Dewi, dia berkata, “Biar­lah kubereskan urusan di luar.”

“Jangan, paman…. mereka…. mereka lihai sekali….”

Tentu saja kata-kata ini hanya disam­but dengan senyum saja oleh Gak Bun Beng dan dia lalu turun dari pembaring­an, terhuyung dan membuka pintu kamar­nya. Melihat dua orang kakek itu meng­hadapi lima orang pelayan yang ketakut­an, Gak Bun Beng mengerutkan alisnya dan berkata, “Andaikata ji-wi sedang sakit dan aku yang sehat, tentu dengan senang hati aku mengalah dan memberikan kamar ini untuk ji-wi. Akan tetapi karena keadaan kita sebaliknya, sungguh tidak patut kalau ji-wi hendak memaksa para pelayan. Harap saja ji-wi suka memandang aku yang sedang sakit untuk mengambil kamar di dalam saja.”

“Heh-heh-heh-heh, apa kau juga ingin mampus?” Kembali kakek setengah telan­jang berkata dan dia menggunakan tela­pak tangannya mendorong meja tadi dan…. seketika keempat kaki meja itu amblas ke dalam lantai yang keras, seolah-olah lantai itu terbuat dari agar-agar saja!

Melihat ini Gak Bun Beng mengerut­kan alisnya. “Hemm, kau memang hebat, akan tetapi berwatak buruk sekali!” Gak Bun Beng melangkah maju dan sekali kakinya dihempaskan ke lantai, meja yang kakinya amblas tadi mencelat ke atas sampai ada setengah meter dari lantai!

Dua orang kakek itu terkejut sekali, saling pandang, kemudian menghadapi Gak Bun Beng. “Bagus, engkau merupa­kan lawan yang boleh juga! Kau menan­tang kami, ya?” Serta merta kakek bermantel tebal itu menghantam ke depan dengan telapak tangan kanan. Mendengar sambaran angin ini dan mera­sakan betapa ada hawa yang amat dingin datang menyambarnya, Gak Bun Beng terkejut dan maklumlah dia bahwa kakek ini adalah seorang ahli Im-kang, maka diapun cepat menyambut dengan telapak tangan kiri.

“Plakkk!”

Pada saat itu, kakek setengah telan­jang juga sudah menghantam dengan telapak tangan terbuka pula, dan Gak Bun Beng merasa betapa hawa yang menyambarnya amatlah panasnya. Maka diapun menyambut dengan tangan kanan­nya.

“Plakk!”

Dua orang kakek ini terkejut, berseru “Aughh….!” dan muka mereka menjadi pucat.

Tentu saja kedua orang kakek itu tidak mengenal siapa yang mereka se­rang. Kakek kembar ini pernah kita jumpai, yaitu ketika mereka bersama kawan-kawannya yang semua berjumlah dua puluh orang menyerbu ke Pulau Es dan dapat dihalau pergi oleh Pendekar Super Sakti, dua orang isteri dan dua orang puteranya. Si muka putih yang selalu bermantel itu adalah Pak-thian Lo-mo sedangkan si muka merah yang setengah telanjang itu adalah Lam-thian Lo-mo. Kedua kakek kembar ini memang memiliki kelstimewaan masing-masing, kalau si baju tebal itu seorang ahli tnaga sakti Im-kang yang selalu kedi­nginan adalah si setengah telanjang itu seorang ahli Yang-kang yang selalu kepanasan. Akan tetapi, sekali ini mere­ka bertemu dengan Gak Bun Beng, se­orang ahli dalam tenaga sin-kang Inti Salju dan Inti Api, maka dengan sendiri­nya dia berani menghadapi pukulan panas dengan hawa yang lebih panas sedangkan pukulan dingin dia hadapi dengan hawa yang lebih dingin lagi!

“Ouhhhh….!” Kedua orang kakek itu mengerahkan tenaganya karena Pak-thian Lo-mo si ahli Im-kang mulai meng­gigil kedinginan sedangkan Lam-thian Lo­mo si ahli Yang-kang mulai berpeluh kepanasan. Untung bagi mereka bahwa Gak Bun Beng tidak niat membunuh orang, dan lebih untung lagi bahwa pendekar sakti itu sedang sakit, maka pengerahan tenaga ini membuat Gak Bun Beng terbatuk-batuk dan muntah darah! Kesempatan ini dipergunakan oleh kakek kembar itu untuk menarik tangan masing-masing, kemudian melihat lawannya muntah darah, mereka berdua menyerang lagi dengan hebatnya!

Gak Bun Beng menggerakkan kedua tangannya dan biarpun dia menggoyang-goyangkan kepala untuk mengusir kepe­ningan kepalanya dan mengusir kunang-kunang yang tampak ribuan di depan matanya, dia masih bisa menangkis setiap pukulan yang datang dengan cepat­nya sehingga kedua kakek itu merasa amat terheran-heran dan terkejut bukan main! Belum pernah mereka menghadapi lawan yang sehebat dan setangguh ini setelah Pendekar Super Sakti! Tentu saja mereka menjadi penasaran dan kini mereka mengeluarkan senjata mereka, yaitu sabuk baja yang berupa pecut. Terdengarlah bunyi meledak-ledak ketika kedua kakek itu menggerakkan senjata mereka menyerang Gak Bun Beng.

Pendekar ini berusaha mengelak dan bahkan menangkis dengan lengannya yang penuh dengan hawa sin-kang, namun karena pandang matanya berkunang dan dia terhuyung-huyung, ada beberapa pukulan yang mengenai tubuhnya sehingga dia terluka cukup berat.

Pada saat itu, Syanti Dewi sudah meloncat masuk ke dalam kamar, me­nyambar buntalan dari meja dan melihat betapa Gak Bun Beng dikeroyok dan terhuyung-huyung, dia menjerit.

Pada saat itu, terdengarlah derap banyak kaki kuda dan sesosok bayangan menyambar masuk disertai bentakan nyaring seorang wanita. “Sepasang iblis laknat, kalian berani mengacau kota raja?”

“Sing-sing….!” Dua sinar terang menyambar ke arah dua orang kakek itu.

“Trang-trang….!” Dua batang pisau terbang itu dapat disampok pecut baja, namun kedua kakek itu terkejut ketika tangan mereka terasa tergetar, tanda bahwa dua batang pisau terbang itu diluncurkan oleh orang yang memiliki tenaga hebat. Wanita yang bukan lain adalah Puteri Milana ini sudah memben­tak lagi dan sinar-sinar halus menyam­bar, kini serangan jarum-jarum halus menyambar ke arah jalan-jalan darah di tubuh bagian depan dari kedua orang kakek kembar.

“Hayaaaa….!” Dua orang kakek itu berteriak dan dengan cepat mereka memutar pecut untuk melindungi tubuh sambil meloncat keluar dari rumah penginapan di mana mereka disambut oleh se­pasukan pengawal yang cukup lihai.

Sementara itu, ketika Milana melihat orang yang tadi dikeroyok oleh sepasang kakek kembar itu terhuyung dan dipapah oleh seorang gadis cantik, dia cepat membalikkan tubuhnya mengejar dua orang kakek kembar yang sudah meroboh­kan dua orang pengawal. Dengan pedang­nya yang berkilauan Milana menerjang dan kedua orang kakek itu terpaksa harus mengerahkan kepandaian mereka karena wanita ini benar-benar amat lihai, apalagi dibantu oleh banyak sekali pe­ngawal yang mengurung mereka.

“Paman, kau…. terluka….” Syanti Dewi memeluk tubuh yang terhuyung itu.

“Dewi…. cepat…. bawa aku pergi…. jangan sampai dia melihatku….!”

Syanti Dewi tadi sudah melihat keda­tangan Milana dan dia kagum meyaksikan kehebatan puteri itu. Setelah dekat dan melihat wajah Milana terkena sinar penerangan, barulah dia melihat betapa cantiknya puteri itu, sungguhpun wajah itu begitu pucat, begitu dingin dan muram seperti kehilangan cahayanya. Kini mendengar ucapan Gak Bun Beng, dia menjadi bingung. Mengapa penolongnya ini selalu hendak menghindarkan diri dari kekasih­nya?

“Dewi, cepat…. aku tak tahan lagi….” Bun Beng berbisik. “Ke sana…. melalui jendela….”

Syanti Dewi tidak berani membantah dan memapah penolongnya itu memasuki kamar dan membantunya keluar melalui jendela. Ketika mereka lewat di samping rumah mereka melihat betapa pertempuran masih berlangsung dengan hebat sungguhpun kedua orang kakek itu terke­pung dan terdesak oleh pedang Milana. Akan tetapi pada saat itu Milana kebetulan melirik ke arah Gak Bun Beng yang juga sedang memandang ke arah pertem­puran.

“Gak-twako….!” Seruan lirih ini terdengar di antara suara beradunya senjata dan teriakan orang-orang, akan tetapi Gak Bun Beng mengenal suara Milana, maka cepat dia memondong tubuh Syanti Dewi dan melesat pergi dengan kecepatan kilat, tidak memperdulikan bahwa tenaganya sudah hampir habis. Dia berlari terus, meloncati tembok pintu gerbang, akan tetapi ketika dia sudah meloncat turun ke tempat gelap, dia terguling dan roboh pingsan di tem­pat gelap itu!

“Paman….! Paman….!” Syanti Dewi berbisik-bisik dekat telinga pendekar itu, akan tetapi Gak Bun Beng tidak berge­rak.

Sementara itu, Milana yang terkejut bukan main melihat orang yang tadi dikeroyok dua orang kakek dan agaknya terluka itu lewat di samping rumah bersama seorang gadis cantik, karena dia mengenal wajah Gak Bun Beng! Agaknya tidak mungkin salah lagi. Di antara selaksa wajah orang laki-laki, dia akan mengenal wajah Gak Bun Beng, pria yang penah dicintanya dan masih dicintanya itu. Biarpun laki-laki setengah tua itu berkumis dan berjenggot, akan tetapi dia tidak pangling melihat mulutnya, hidungnya, terutama mata dan pandang mata­nya.

Karena perhatiannya tertarik, apalagi karena meninggalkan gelanggang pertem­puran untuk berusaha mengejar Gak Bun Beng, kedua orang kakek kembar itu tidak terdesak lagi dan sambil berseru keras mereka lalu meloncat dan melari­kan diri pula.

“Mereka lari!”

“Kejar….!”

Barulah Milana sadar ketika mende­ngar teriakan-teriakan ini. Cepat dia memerintahkan para pengawal untuk mengejar kedua orang kakek itu, juga dia memerintahkan sebagian pasukan lagi untuk mencari orang yang bersama de­ngan gadis cantik yang tadi dikeroyok oleh dua orang kakek. Dari keterangan pelayan dia mendengar betapa laki-laki itu datang ke losmen dalam keadaan sakit dan dirawat oleh gadis yang agak­nya adalah keponakan laki-laki itu.

Milana termenung mendengar keterangan ini. Melihat wajahnya, apalagi melihat kenyataannya bahwa dalam keadaan sakit masih mampu menahan pengeroyokan dua orang kakek lihai, jelas bahwa orang tadi tentulah Gak Bun Beng. Akan tetapi kalau benar dia, mengapa lari darinya? Mengapa tidak menemuinya? Dan sakit apakah? Ke mana perginya? Bimbanglah hati Milana dan dia sendiri membantu pencarian itu. Bukan mencari sepasang kakek kembar, melainkan mencari Gak Bun Beng. Baginya kakek kembar itu tidak penting, hanya merupakan orang-orang dari golongan sesat yang mencuri­gakan saja.

Semalam suntuk dia dan pasukannya mencari dan akhirnya, menjelang pagi keesokan harinya, terpaksa dia pulang dengan hati parah, penuh kebimbangan dan penyesalan. Dia telah melihat keka­sihnya, akan tetapi belum ada ketentuan juga.

Bagaimana dengan keadaan Syanti Dewi dan Gak Bun Beng yang karena terlampau banyak mempergunakan tenaga, apalagi karena sudah terluka dalam pertempuran melawan Siang Lo-mo, yaitu kakek kembar itu? Dapat dibayangkan betapa bingungnya rasa hati Syanti Dewi. Dia mengerahkan tenaganya, memondong tubuh Gak Bun Beng untuk dibawa pergi dari pintu gerbang utara itu. Akan tetapi sebelum dia melangkah jauh, dia mende­ngar suara hiruk-pikuk dan melihat serombongan pasukan berlari-lari mendatangi. Tentu saja dia terkejut melihat obor-obor di tangan para perajurit itu. Dilihat­nya bahwa di bawah pintu gerbang itu terdapat sebuah sungai dengan jembatan­nya, maka cepat dia membawa tubuh Gak Bun Beng turun ke bawah jembatan. Karena jalannya menurun dan agak su­kar, dia takut kalau memondong tubuh penolongnya bisa tergelincir, maka terpak­sa dia bersusah payah menarik atau menyeret tubuh Gak Bun Beng turun ke bawah jembatan di mana dia bersembunyi sambil memeluk pundak dan kepala Gak Bun Beng dengan hati berdebar penuh rasa khawatir dan ketegangan.

Sambil memangku kepala penolongnya, dia membasahi saputangannya dengan air sungai dan membasuh muka dan kepala pendekar itu, berbisik-bisik memanggil-manggil namanya. Ketika Gak Bun Beng tetap tidak menjawab, Syanti Dewi terisak dan mendekap kepala itu, menempelkan pipinya pada muka pendekar itu dan berbisik dekat telinganya. “Paman Gak…. jangan kau mati…. jangan tinggalkan aku sendiri, paman….!” Akan tetapi karena takut, dia menahan isaknya sehingga hanya air matanya saja yang bercucur­an, dia menangis tanpa suara.

Setelah keadaan sunyi kembali dan pasukan itu dengan suara hiruk-pikuk telah kembali memasuki pintu gerbang, barulah Syanti Dewi berani bergerak. Dengan susah payah dia berhasil juga menyeret tubuh Gak Bun Beng keluar dari bawah jembatan, kemudian memondong tubuh pendekar itu dan secepat mungkin dia membawa Gak Bun Beng pergi jauh dari tempat itu.

Sampai dua hari dua malam Bun Beng pingsan tak sadarkan diri sama sekali, ditangisi oleh Syanti Dewi di dalam sebuah hutan yang besar dan liar. Berkali-kali Puteri Bhutan ini memanggil-mang­gil, mengguncang-guncang tubuh pendekar itu, kemudian diseling tangisnya terisak-isak sambil menyatakan penyesalan hati­nya kepada Puteri Milana yang dianggap­nya kejam!

Pada hari ketiga, saking lelahnya, Syanti Dewi yang duduk bersandar batang pohon tertidur atau setengah pingsan. Dia lelah bukan main, lelah, lemas kare­na lapar dan haus yang sama sekali tak dihiraukannya, dan mengantuk karena semenjak melarikan diri bersama Bun Beng dia sama sekali belum tidur. Pagi-pagi tadi, lewat tengah malam, dia menangis dengan putus harapan dan didekapnya kepala Bun Beng yang dipang­kunya, karena dia menganggap bahwa pendekar itu tentu tidak dapat sadar kembali. Akhirnya dia tertidur atau setengah pingsan, bersandar pada batang pohon sambil tetap memangku kepala Gak Bun Beng yang masih belum sadar.

Ketika Bun Beng siuman dan membu­ka matanya, pertama-tama yang diingat­nya adalah Milana, maka dia terbelalak melirik ke kanan kiri, takut kalau-kalau Milana berada di situ. Tiba-tiba dia duduk dan membalik, memandang kepada Syanti Dewi yang masih pula bersandar pohon, dengan muka pucat dan masih ada bekas air mata. Bun Beng mengeluh lirih. Dia telah tidur atau pulas dengan kepala di atas pangkuan gadis itu! Dan mereka telah berada di dalam hutan besar! Padahal, seingatnya, dia memondong gadis ini berlari secepatnya dari kota raja, melompati benteng pagar tembok kota raja lalu dia terguling dan tidak ingat apa-apa lagi.

“Dewi….!” Bun Beng berkata lirih, setengah menduga bahwa tentu Syanti Dewi yang menyelamatkannya, membawa­nya sampai ke dalam hutan lebat itu.

Biarpun hanya lirih saja panggilan ini, Syanti Dewi membuka kedua matanya. Ketika dia melihat Bun Beng sudah duduk di depannya, memandangnya de­ngan sepasang mata yang penuh perasaan haru, dia menggosok-gosok kedua mata­nya, takut kalau-kalau dia hanya bermim­pi, kemudian, ketika melihat bahwa Bun Beng tetap masih duduk di depannya, tidak pingsan lagi, bukan main girangnya rasa hati dara ini.

“Paman ! Aihh, paman…. syukurlah bahwa paman telah sadar! Ahh, betapa sengsara dan takut hatiku selama dua hari dua malam ini, melihat paman diam tak pernah bergerak….”

Bun Beng memegang kedua tangan dara itu dan memandang tajam. “Apa katamu? Selama dua hari dua malam aku…. aku tak sadarkan diri?”

Syanti Dewi hanya mengangguk dan baru sekarang terasa oleh dara itu beta­pa lapar perutnya, betapa lelah tubuhnya.

“Dan selama ini engkau…. engkau memaksa diri melarikan aku ke sini…. dan…. dan merawatku….?” Bun Beng menelan ludahnya menahan keharuan hatinya.

Kembali Syanti Dewi mengangguk. Kemudian berkata lirih, “Aih, paman Gak. Bagaimana aku dapat merawatmu? Aku sudah bingung sekali, hampir putus harapan pagi tadi melihat engkau seperti…. seperti mati. Aku takut sekali….”

Bun Beng menggenggam kedua tangan yang kecil itu, suaranya gemetar ketika dia berkata, “Dewi…. kau…. kau seorang…. anak yang baik sekali.”

Hati dara itu girang bukan main. Setelah Bun Beng siuman, dia tidak mengkhawatirkan apa-apa lagi, tidak takut apa-apa lagi. “Paman, kau tentu lapar sekali, dua hari dua malam tidak makan apa-apa, tidak minum apa-apa. Aku akan mencari buah-buahan untukmu.”

Tapi Gak Bun Beng tidak melepaskan tangan dara itu. “Dewi, katakanlah, apakah selama ini engkau juga pernah makan?”

Syanti Dewi menunduk dan mengge­leng kepala.

“Dan pernah minum?”

Kembali Syanti Dewi menggeleng kepala.

Bun Beng menghela napas. “Luar biasa sekali! Engkau seorang gadis yang luar biasa sekali. Seorang yang berhati mulia, engkau seorang puteri budiman. Cara bagaimanakah engkau dapat melarl­kan aku ke tempat ini, Dewi?”

Wajah yang agak pucat itu kini men­jadi merah dan Syanti Dewi lalu menceritakan betapa hampir saja mereka tertang­kap oleh sepasukan tentara kalau saja dia tidak cepat menyeret Bun Beng ke kolong jembatan. Kemudian dia menceri­takan betapa dia membawa lari Bun Beng tanpa tujuan tertentu, pokoknya asal dapat menjauh dari kota raja, sejauh mungkin.

“Aku hanya tahu bahwa paman tidak ingin dilihat…. orang, maka aku memba­wa paman menjauh dari kota raja seda­pat mungkin. Akan tetapi aku merasa heran sekali mengapa paman melarikan diri begitu paman melihat Puteri Milana? Mengapa paman tidak ingin dia melihat paman? Bahkan aku mendengar dia me­ngenal dan memanggil paman malam itu. Mengapa, paman?”

Gak Bun Beng menunduk, menghela napas panjang, lalu menggeleng-geleng kepalanya. “Aku…. aku tidak kuat meng­hadapinya…. aku…. aku…. ah, aku hanya seorang laki-laki yang bodoh.”

Hening sampai lama. Bun Beng tetap menunduk dan Syanti Dewi mencoba untuk menyelami perasaan pendekar itu dengan menatap tajam wajah yang mu­ram itu. Kemudian terdengar Syanti Dewi bertanya, suaranya lirih. “Paman Gak, demikian besarkah cintamu terhadap Puteri Milana?”

Bun Beng tidak menjawab, hanya menarik napas panjang, lalu untuk mem­belokkan bahan pembicaraannya, dia berkata, “Dewi, kita harus kembali ke kota raja. Aku akan mengantarkan sam­pai ke luar pintu gerbang, dan kau ma­suk sendiri serta langsung menghadap Puteri Milana. Ceritakan riwayatmu tanpa menyebut-nyebut namaku, dan aku yakin dia akan suka menolongmu.”

“Aku hanya mau menghadap dia kalau bersamamu, paman.”

“Ah, engkau tahu bahwa aku tidak mungkin dapat menemuinya.”

“Kalau begitu akupun tidak sudi menghadapnya!” Jawaban Syanti Dewi ini agak keras, sungguh jauh bedanya dengan sikapnya seperti biasa yang penuh kehalusan, seolah-olah baru satu kali ini dia marah-marah.

Bun Beng mengangkat muka memandang. “Mengapa, Dewi? Bukankah engkau jauh-jauh dari Bhutan dikirim ke kota raja oleh ayahmu untuk menjadi mantu kaisar?”

“Tidak, tidak! Paman sudah tahu sendiri akan semua akal busuk yang bersembunyi di balik kepura-puraan perjodohan itu! Aku tidak sudi! Pula, dahulu aku hanya mau karena ada adik Ceng di sampingku. Sekarang adik Ceng hilang, mungkin tewas, dan sebagai gantinya adalah paman. Karena itu, tanpa paman, aku tidak sudi harus pergi sendiri ke istana. Leblh baik aku…. mati di sini….”

Bun Beng memegang tangan dara itu. “Tenanglah, tidak ada yang memaksamu, Dewi. Kalau begitu, kita harus melanjut­kan perjalanan ke utara. Aku mau mene­mui Jenderal Kao Liang. Di kota raja sedang terjadi pergolakan dan agaknya dia yang menguasai banyak pasukan saja yang akan dapat menyelamatkan kota raja dan sekaligus mewakili aku meng­urus urusanmu dengan kaisar. Percayalah, tidak akan ada yang memaksamu, Dewi. Aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk mencegah siapapun yang memak­samu.”

Wajah yang jelita itu berseri. “Baik, paman. Ke manapun paman membawaku pergi, aku akan suka ikut, asal jangan menyuruh aku pergi seorang diri. Wah, perutku lapar sekali, tentu paman juga. Biar aku mencari buah-buah….”

Bun Beng sudah menyambitkan batu kecil yang digenggamnya dan kelinci gemuk yang menyusup di antara semak-semak itu mati seketika. “Nah, itu ada kelinci gemuk yang menyerahkan dagingnya, Dewi. Ambillah.”

Tadi Syanti Dewi terkejut menyaksikan gerakan pendekar itu, akan tetapi mendengar ucapannya, dia tertawa lalu berlari-lari dan membuka-buka semak-semak itu. Benar saja, di situ terdapat seekor kelinci gemuk yang telah mati dengan kepala pecah disambar batu, masih hangat tubuhnya. Sambil tertawa gembira Syanti Dewi lalu menguliti dan memanggang daging kelinci. Setelah Bun Beng siuman kembali, terusirlah semua kekhawatiran dan kedukaan dari hati dara ini yang sebaliknya menjadi riang gembira kembali, sungguhpun tubuhnya masih terasa amat lelah.

Akan tetapi ternyata pukulan batin yang diderita oleh Gak Bun Beng dalam pertemuannya dengan Milana ditambah dengan luka dalam yang dideritanya ketika dalam keadaan tidak sehat dia bertanding melawan Siang Lo-mo, dua orang kakek kembar di kota raja itu, membuat pendekar ini lemah dan sakit. Ditambah lagi kenyataan yang menusuk hatinya, yang mendatangkan rasa khawa­tir dan bingung, kenyataan yang dirahasiakan yaitu sikap Syanti Dewi kepadanya, sikap yang amat baik, mengandung kasih sayang, sikap yang hanya dapat diperlihatkan seorang wanita yang jatuh cinta, membuat dia makln menderita batinnya. Dia memandang gejala ini sebagai datangnya suatu bahaya yang amat besar, yang amat mengkhawatirkan bagi kehidupan Syanti Dewi. Biarpun dara ini tak pernah menyatakan dengan mulut, biarpun mung­kin dara itu sendiri masih belum sadar akan perasaan hatinya sendiri, namun Bun Beng sudah dapat menduganya, melihat dari pandang matanya, gerak-geriknya, suaranya. Hal ini menimbulkan rasa nyeri di hatinya. Tidak, betapapun juga, dia tidak akan menyeret dara yang amat berbudi ini ke dalam hidupnya yang serba canggung dan sengsara. Dia tidak akan mengulangi riwayat penuh duka se­perti yang dialaminya dengan Milana. Memang betapa akan amat mudahnya untuk jatuh cinta kepada seorang dara seperti Syanti Dewi, seorang dara yang berbudi mulia, halus dan penuh perasaan. Akan tetapi tidak! Dia bukanlah seorang yang hanya mementingkan kesenangan dirinya sendiri saja.

Perang yang terjadi dalam batin Bun Beng menambah luka dalam yang dideritanya dalam pertandingan berat sebelah ketika melawan kakek kembar dalam keadaan sakit itu. Karena itu, perjalanan ke utara bersama Syanti Dewi itu dilakukan dengan susah payah dan lambat, bahkan akhirnya Bun Beng jatuh sakit lagi!

Di dalam perjalanan ini, di waktu dia terserang sakit, lebih jelas kenyataannya bahwa yang diduga dan ditakuti Bun Beng adalah benar. Perawatan yang dilakukan Syanti Dewi terhadap dirinya amat luar biasa, penuh ketelitian, penuh pe­ngorbanan dan ketekunan. Diam-diam Bun Beng yang menderita sakit itu mengambil keputusan bahwa kalau dia sudah dapat bertemu dengan Jenderal Kao Liang, dia akan menyerahkan Syanti Dewi dalam perlindungan jenderal yang dipercayanya itu, kemudian dia akan pergi untuk selamanya, tidak akan mencampuri dunia ramai lagi, seperti dahulu sebelum berte­mu dengan Syanti Dewi dan terpaksa mengantarkan dara itu ke kota raja.

***

Kita tinggalkan dulu Bun Beng yang sedang menderita sakit dan melakukan perjalanan dengan amat sukar bersama Syanti Dewi menuju ke perbatasan utera untuk menemui Jenderal Kao Liang, dah mari kita mengikuti perjalanan Ceng Ceng yang secara kebetulan sekali juga telah melakukan perjalanan ke utara!

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Ceng Ceng telah ditolong dari bahaya tenggelam oleh Tek Hoat, kemudian secara kebetulan dia dapat mende­ngarkan percakapan antara pemuda itu dengan Pangeran Liong Khi Ong sehingga terbukalah rahasia pemuda itu sebagai kaki tangan Pangeran Liong Bin Ong yang membuat rencana pemberontakan. Masih untung bagi Ceng Ceng bahwa pada saat yang berbahaya itu, dia keburu dicegah oleh Pengawal Kaisar Souw Kee It dan diajak pergi melarikan diri. Andaikata dia tidak bertemu dengan kakek pengawal itu dan terang-terangan mene­gur Tek Hoat, tentu pemuda itu tidak akan segan-segan untuk membunuhnya agar rahasianya dapat tertutup.

Dengan bantuan Souw Kee It, penga­wal kawakan yang telah berpengalaman, Ceng Ceng melakukan perjalanan setelah menyamar sebagai seorang pria tampan yang berkumis tipis! Bermacam perasaan bercampur aduk di dalam hati dara ini. Pertama-tama dia merasa gembira bukan main mendengar dari Souw Kee It bahwa Syanti Dewi telah diselamatkan oleh seorang nelayan. Dia merasa bersyukur sekali dan ingin dia bertemu dengan kakak angkatnya itu yang tidak diketahui ke mana perginya. Akan tetapi di sam­ping kegembiraannya ini terdapat perasa­an duka, kecewa dan marah kalau dia teringat kepada Tek Hoat. Pemuda yang amat dikaguminya itu, pemuda yang tampan dan memiliki kepandaian demiki­an tinggi, ternyata adalah seorang kaki tangan pengkhianat dan pemberontak! Betapa rendah dan hina! Dan pemuda itu dengan terus terang menyatakan bahwa dia mencinta Syanti Dewi! Kalau dulu di waktu dia mendengar pergakuan ini timbul rasa panas dan agak cemburu di hatinya, kini sebaliknya malah. Dia merasa panas dan marah, tidak rela bahwa kakak angkatnya itu dicinta oleh seorang yang demikian rendah! Dia harus menghalang-halangi ini. Siapa tahu, pemuda yang tampan dan pandai itu akan dapat bertemu dengan Syanti Dewi dan berhasil merayunya atau memaksanya.

Selama dalam perjalanan, Souw Kee It menceritakan kepada Ceng Ceng akan keadaan di kota raja yang kacau karena adanya pertentangan secara diam-diam antara perdana menteri yang setia kepada kaisar dan dua orang pangeran tua, yaitu Pangeran Liong Khi Ong dan Liong Bin Ong.

“Mengapa sri baginda kaisar diam saja? Bukankah jelas bahwa dua orang pangeran itu bermaksud memberontak?”

Souw Kee It menarik napas panjang. “Sri baginda kaisar adalah amat bijaksana. Beliau tidak menghendaki adanya perpe­cahan dan keributan antara keluarga kerajaan. Hal ini akan mencemarkan dan melemahkan kedudukan keluarga kaisar dan merendahkan martabatnya di mata rakyat. Apalagi karena niat pemberontakan kedua orang pangeran itu belum ada buktinya, baru merupakan desas-desus belaka. Oleh karena itulah, maka sri baginda hanya memberi tugas kepada para pengawal yang dipercaya, dan dipimpin sendiri oleh Puteri Milana, untuk secara diam-diam membasmi kaki tangan yang berniat memberontak. Jika tidak ada kekuatan dari luar yang mendorong, ten­tu niat hati kedua orang pangeran itu akan lenyap sendiri.”

Ceng Ceng bersungut-sungut. “Terlalu sabar. Kalau dikasih hati, dua orang pengkhianat itu makin merajalela.”

“Demikian pula pendapat perdana menteri, sehingga kini secara berterang, para pengawal perdana menteri sering bentrok dengan para pengawal kedua orang pangeran itu. Dan demikian pula pandangan Puteri Milana yang sudah mulai menumpas semua tokoh jahat yang mencurigakan dan yang ada hubungannya dengan niat pemberontak itu.”

“Akan tetapi kulihat pemuda yang bernama Tek Hoat itu lihai bukan main! Kalau dia tidak dapat dibasmi, kelak tentu akan menimbulkan bahaya!” Berka­ta demikian Ceng Ceng teringat kepada kakak angkatnya, Syanti Dewi yang dianggapnya terancam keselamatannya oleh pemuda itu yang telah menyatakan cinta kepada Puteri Bhutan itu.

Souw Kee It mengangguk. “Memang akupun sudah melihat kelihaiannya. Dia adalah tenaga baru yang belum kami kenal, dan agaknya dia telah ditugaskan untuk mengacaukan dan menggagalkan perjodohan yang hendak diikat oleh sri baginda kaisar antara Puteri Bhutan dan Pangeran Liong Khi Ong.”

“Heran sekali, mengapa sri baginda mengambil keputusan yang demikian aneh? Puteri Bhutan adalah seorang dara yang muda remaja, mengapa hendak dijodohkan dengan pangeran yang sudah tua, mata keranjang dan jahat lagi?” Dia teringat akan percakapan antara Tek Hoat dan pangeran tua di perahu.

“Aihh, engkau tidak tahu, nona. Demi keselamatan kerajaan, tentu saja sri baginda akan melakukan apa saja. Taktik pengikatan jodoh antara Puteri Bhutan dan Pangeran Liong Khi Ong mempunyai­ dua maksud yang amat penting. Pertama, dengan menarik Kerajaan Bhutan menjadi keluarga, tentu saja Bhutan dijadikan sebuah perisai atau benteng pertahanan di barat, juga berarti bertambahnya se­buah negara keluarga yang bersahabat. Kedua, ikatan jodoh itu dimaksudkan untuk membuktikan kesabaran dan keba­ikan hati kaisar sehingga biarpun ada desas-desus akan pengkhianatan Pangeran Liong berdua, tetap saja kaisar meng­anugerahinya dengan sebuah pernikahan dengan Puteri Bhutan yang terkenal can­tik jelita.”

“Hemm, sungguh aku tidak mengerti mengapa perasaan perorangan diabaikan sama sekali demi kepentingan kerajaan.”

“Memang tentu mengherankan bagi seorang yang tidak pernah mendekati urusan kerajaan seperti engkau, Nona. Akan tetapi aku yang sudah sejak muda berkecimpung di dekat keluarga kerajaan, seperti juga kakekmu dahulu, tidak me­rasa heran. Apalagi hanya perasaan, bah­kan nyawa perorangan tidaklah begitu berarti lagi dibandingkan dengan kepen­tingan kerajaan. Dalam urusan pernikahan inipun yang hancur hatinya adalah Pangeran Yung Hwa.”

“Pangeran Yung Hwa? Siapa dia dan mengapa?”

“Dia juga putera dari sri baginda, se­orang pangeran muda remaja, baru ber­usia dua puluh tahun. Sesungguhnya, Pa­ngeran Yung Hwa inilah yang ketika mendengar berita tentang Puteri Syanti Dewi, jatuh cinta dan mohon kepada sri baginda untuk dilamarkan. Akan tetapi, permintaannya ditolak karena Puteri Syanti Dewi hendak dijodohkan dengan Pangeran Liong Khi Ong.”

“Si tua bangka!” Ceng Ceng meng­omel.

“Dan karena itu, Pangeran Yung Hwa lolos dari istana.”

“Lolos?”

“Ya, patah hati dan minggat dari is­tana. Begitulah orang muda….”

Ceng Ceng terdiam, merasa terharu. Heran juga dia mengapa Pangeran Yung Hwa dapat jatuh cinta kepada seorang gadis yang belum pernah dilihatnya! Ja­tuh cinta hanya karena mendengar berita tentang kecantikan dan segala kebaikan Puteri Syanti Dewi! Lucu juga, pikirnya.

Perjalanan dilanjutkan dengan cepat karena mereka berkuda. Karena Ceng Ceng menyamar sebagai pria berkumis, maka biarpun Tek Hoat yang kehilangan gadis itu sudah cepat mengerahkan kaki tangan Pangeran Liong Khi Ong untuk mengejar dart mencari, namun hasilnya sia-sia. Dan di sepanjang perjalanan itu, biarpun ada banyak mata-mata pembe­rontak yang melihat mereka, namun ti­dak ada yang menduga bahwa “pemuda ganteng berkumis” itu adalah adik angkat Puteri Syanti Dewi yang dicari-cari. Tentu saja Tek Hoat merasa menyesal bukan main, karena dianggapnya gadis itu merupakan orang penting sekali untuk dapat menemukan Syanti Dewi yang hi­lang dan dia hanya dapat menyumpah-nyumpah.

Pada suatu pagi, Ceng Ceng dan pe­ngawal Souw telah tiba di sebuah dusun di dekat tapal batas utara. “Kita sudah memasuki wilayah kekuasaan Jenderal Kao,” kata kata pegawal itu. “Oleh ka­rena itu, boleh dikatakan kita tiba di daerah aman dan kau boleh menanggal­kan penyamaranmu.”

Ceng Ceng merasa girang sekali ka­rena dia merasa kurang leluasa dalam penyamarannya itu. Dibuangnya “kumis” yang menarik perhatian para wanita di sepanjang perjalanan itu, dan diubahnya pakaiannya sehingga kini dia berubah menjadi seorang dara remaja yang cantik dan gagah, dengan kepala dilindungi se­buah caping lebar.

“Karena perjalanan ke utara, ke benteng di mana Jenderal Kao Liang berada merupakan perjalanan yang cukup sukar dan melelahkan, melalui daerah tandus, maka sebaiknya klta mengganti kuda di dusun ini.”

“Apakah di sini engkau juga mempu­nyai kawan-kawan, Souw-lopek?”

“Tidak, akan tetapi dusun ini terkenal sebagai tempat pusat perdagangan kuda. Banyak kuda Mongol yang baik dijual di dusun ini, dan kita hanya menukarkan kuda kita yang sudah lelah dengan me­nambah sedikit uang.”

Benar saja, setelah mereka memasuki dusun itu, di tengah-tengah dusun terda­pat sebuah pasar kuda yang amat besar dan luas dan terdapat ratusan ekor kuda diperjualbelikan di tempat ini.

“Kaubawa kuda kita ke bagian sana, bagian penjualan, dan aku akan memilih kuda-kuda baru di sebelah sini. Kalau aku yang menjual, karena aku laki-laki, harganya akan kurang tinggi.”

“Eh, mengapa begitu, Lopek (paman tua)?” tanya Ceng Ceng terheran.

Souw Kee It tersenyum. “Karena, biasanya para pencuri kuda adalah kaum pria. Jarang ada wanita, biar wanita kang-ouw sekalipun, mau mencuri kuda.”

“Wah, jadi kalau yang menjual disang­ka pencuri kuda, kudanya lalu ditawar murah-murahan? Mengapa ada orang yang mau membeli kuda curian?”

“Hemm, kau masih belum tahu akan ketamakan manusia di dunia ini, Nona. Curian atau bukan, asal mendatangkan keuntungan besar, tentu diterima dengan tangan terbuka. Sudahlah, kau yang men­jual ke sana, berikan kalau ditawar ku­rang leblh dua ratus tail untuk dua ekor ini, kemudian kaubawa uangnya ke sini untuk membeli dua ekor kuda baru. Aku yang memilih, karena kalau tidak pandai memilih, bisa ditipu mentah-mentah oleh para pedagang kuda yang amat licik dan cerdik itu. Kuda sakit dibilang sehat, kuda tua dibilang muda.”

Ceng Ceng mengangguk, lalu menun­tun dua ekor kuda itu menuju ke sebe­rang di mana terdapat banyak tengkulak kuda sedang memeriksa kuda yang akan dijual. Begitu Ceg Ceng tiba di tempat itu, beberapa orang pedagang kuda sudah berlari datang menyambutnya.

“Nona, kudamu sudah amat lelah, me­mang sepatutnya dijual segera!” kata se­orang di antara mereka.

“Agaknya sudah melakukan perjalanan yang amat jauh, lihat tapal kakinya me­nipis dan urat pahanya menggembung!” kata orang ke dua.

“Kalau tidak cepat dipelihara baik-baik bisa terkena penyakit,” kata orang ke tiga.

Ceng Ceng membiarkan para tengku­lak kuda itu ribut-ribut menurunkan nilai dua ekor kudanya. Kalau saja dia belum mendengarkan penjelasan Souw Kee It tentang siasat para pedagang kuda, tentu dia akan marah atau setidaknya akan merasa bimbang dan kecewa. Akan te­tapi, sekarang dia hanya tersenyum, lalu berkata dengan lantang, “Kalian boleh menjelek-jelekkan dua ekor kudaku ini sesuka hati dan seenak perutmu, akan tetapi kalau tidak dua ratus tail, dua ekor kuda ini tidak akan kujual!”

“Ha-ha-ha, pintar sekali!” Tiba-tiba terdengar suara ketawa dan memuji, per­lahan saja namun cukup terdengar oleh Ceng Ceng, karena orang yang memuji itu berada dekat di tempat itu. Dia me­lirik dan melihat dua orang pemuda re­maja yang berwajah tampan, berdiri memandangnya penuh kagum. Kekaguman yang tidak disembunyikan. Terutama se­kali pemuda ke dua yang agaknya sedi­kit lebih muda, yang wajahnya berseri gembira. Melihat Ceng Ceng melirik ke arahnya, pemuda ini lalu menggerakkan kepalanya sedikit sehingga kuncir rambut­nya yang tebal itu bergerak melilit le­hernya sendiri. Pemuda yang tercekik dan terlilit lehernya oleh rambutnya sen­diri, membuat gerakan seperti orang mendelik dan lidahnya terjulur, sambil berkata dengan nada mengejek kepada para pedagang kuda itu. “Hekkk…. hekkk…. mau mencekik malah tercekik…. mampus, kena batunya sekarang….”

“Bu-te, jangan kurang ajar….!” Pemuda pertama yang agak lebih tua dan yang sikapnya pendiam menegur dengan suara lirih.

Senang hati Ceng Ceng. Dia tidak menganggap pemuda itu kurang ajar ka­rena dia tahu bahwa pemuda itu mengejek para pedagang kuda. Timbullah rasa persahabatan di dalam hatinya dan dia menoleh kepada mereka, lalu tersenyum kecil, kemudian menghadapi para peda­gang kuda.

“Bagaimana, apakah kalian mau mem­beli kudaku yang kelelahan, buruk, ber­penyakitan ini? Dua ekor untuk dua ra­tus tail, tidak kurang sedikitpun juga!”

Para pedagang itu saling pandang, menggaruk-garuk kepala. Memang perki­raan Souw Kee It tadi sudah tepat. Dua ratus tail untuk dua ekor kuda pilihan itu tidaklah mahal, akan tetapi juga ti­dak terlalu murah. Memang harga “pasar­an”. Melihat sikap nona muda itu demi­kian tegas, dan jelas tidak mugkin untuk dikelabui dengan aksi-aksi palsu, mereka tidak banyak bicara lagi lalu menghitung dua ratus tail perak, diserahkan kepada Ceng Ceng yang membungkusnya dengan kain lebar yang sudah disiapkan oleh Kee It sebelumnya. Kemudian dia meninggalkan tempat setelah melirik lagi kepada dua orang pemuda tadi.

“Lee-ko dia hebat sekali! Mari kita berkenalan….”

“Hushh, jangan kurang ajar di tempat umum begini. Kau bisa dimaki orang, Bu-te….”

“Tapi, dia tentu seorang gadis kang-ouw, dan tentu suka berkenalan. Apa sih jahatnya orang berkenalan?”

Dua orang muda itu bukan lain adalah Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu. Se­perti kita ketahui, kakak beradik ini se­telah menyelamatkan rombongan harta­wan yang diganggu oleh para tosu Pek-lian-kauw, melanjutkan perjalanan menuju ke kota raja dan pada hari itu berhenti di dusun untuk membeli kuda.

Melihat adiknya nekat hendak meng­ikuti dara cantik jelita yang menjual kuda tadi, terpaksa Kian Lee mendam­pingi karena dia tidak ingin melihat adik­nya membuat ribut di tempat ramai itu. Tiba-tiba Kian Lee memegang tangan adiknya, dengan gerakan mukanya dia menunjuk ke depan.

Kian Bu juga sudah melihat seorang laki-laki kurus yang berada di belakang gadis itu. Jelas tampak oleh keduanya bahwa laki-laki itu tentulah seorang pen­copet yang sedang mengincar buntalan uang yang berada di tangan kiri gadis itu.

Tiba-tiba, di tempat yang agak sepi, di tempat perbatasan antara bagian pen­jualan dan bagian pembelian kuda-kuda di pasar itu, laki-laki kurus tadi bergerak cepat sekali, tangannya meraba buntalan. Tampak pisau berkilau dan agaknya pen­copet itu bukan ingin merebut semua buntalan melainkan hendak merobek bun­talan dan mengambil uang dari dalamnya.

“Plakk…. krekk….! Aduhhh….!” laki-laki itu memegangi lengannya yang patah tulangnya sedangkan pisaunya ter­lempar entah ke mana. Kiranya begitu ada gerakan orang, Ceng Ceng sudah menggerakkan tangan kanannya sambil memutar tubuh dan sekali dia menampar, pergelangan tangan orang yang meme­gang pisau itu menjadi patah tulangnya.

“Ampunkan saya…. anak-anak saya kelaparan….” Orang itu berkata de­ngan muka pucat dan tubuh gemetar ke­takutan karena kalau sampai semua orang turun tangan, dia akan menjadi mayat di tempat itu.

Ceng Ceng mengeluarkan sepotong uang perak dan melemparkannya ke de­pan orang itu. “Ambillah dan pergilah!”

Pencopet itu mengambil uang perak dengan tangan kiri, lalu mengangguk dan cepat menyelinap pergi. Melihat ini, Kian Lee dan Kiam Bu terbelalak kagum.

“Wah, kiranya seorang yang lihai!” Kian Bu hampir bersorak karena baru se­kali ini dia melihat seorang dara cantik jellta yang memiliki kepandaian tinggi seperti itu.

“DIa tentu seorang pendekar wanita dunia kang-ouw seperti yang sering dice­ritakan oleh Ibu, maka lebih baik kita jangan mengganggunya, kata Kian Lee yang merasa kagum sekali.

Kian Bu bersungut-sungut kecewa apalagi melihat seorang laki-laki gagah setengah tua yang menghampiri gadis itu

kemudian mereka membeli dua ekor kuda, Kian Bu tidak berani melanjutkan niatnya menghampiri. “Hemm, aku masih merasa penasaran, Lee-ko. Apa sih salahnya kalau aku hanya ingin berkenalan?”

“Adikku, harus kuakui bahwa engkau tidak bersalah. Aka tetapi, sejak kecil kita hidup di tempat terasing dari perga­ulan umum, maka tentu saja kita berdua merasa bebas. Ketahuilah bahwa kehidup­an umum di daerah daratan ini tidaklah bebas sama sekali, kehidupan manusia sudah dibelenggu dan diikat oleh segala macam peraturan, di antara peraturan-peraturan itu ialah bahwa menegur se­orang wanita yang bukan keluarga dan bukan kenalannya merupakan perbuatan yang kurang ajar!”

“Aneh dan tidak adil! Kalau tidak le­bih dulu menegur, mana bisa kenal? Pula apa sih jeleknya kalau hanya menegur untuk berkenalan saja? Nona itu tadi pun bercakap-cakap dengan para pembeli kuda, padahal mereka pun belum saling mengenal.”

“Itu lain lagi namanya, kan ada keperluannya, jual beli kuda?”

“Wah, serba salah! Peraturan yang li­cik sekali. Baik buruknya kan tergantung dari niat yang terkandung di dalam per­buatan, bukan si perbuatan itu sendiri. Seorang pria menegur seorang wanita untuk berkenalan, masa tidak boleh? Peraturan macam apa itu?”

“Itu namanya peraturan kesusilaan, Adikku. Dan masih banyak lagi aturan-aturan antara pria dan wanita, apalagi kalau kita tiba di kota raja, sama sekali tidak boleh dilanggarnya.”

“Hemm, daratan begini luas akan tetapi seperti penjara saja!”

“Memang, kita manusia hidup seperti dalam penjara, dikurung dan dibelenggu oleh segala macam peraturan dan hukum. Akan tetapi, semua itu sudah menjadi kebiasaan umum, kalau dilanggarnya, kau akan dianggap liar dan kurang ajar, tidak tahu kesopanan dan lain sebagainya sehingga engkau akan dianggap jahat dan dimusuhi.”

“Konyol!” Kian Bu makin tidak puas dan makin penasaran. Memang pemuda itu belum mau mengerti akan semua ke­biasaan di dunia “sopan” ini. Hidup di Pulau Es tentu saja merasa bebas, tidak terikat oleh peraturan apa pun karena mereka hanya hidup bersama ayah dan ibunya, sedangkan pertemuan yang ka­dang-kala dengan para nelayan yang men­jelajah di pulau-pulau agak jauh dari Pulau Es, juga merupakan pertemuan dengan orang-orang sederhana yang hidup wajar dan polos, tidak banyak terikat oleh segala macam peraturan. Kini, da­rah mudanya yang menuntut sehingga timbul daya tarik terhadap kaum wanita, menghadapi penghalang yang sangat besar dan dirasakan amat mengganggu kebebas­annya. Berbeda dengan Kian Lee yang sungguhpun keadaan hidupnya di Pulas Es tiada bedanya dengan Kian Bu, namun pemuda ini memperhatikan semua yang diceritakan tentang dunia ramai oleh ibu­nya, bahkan suka membaca-baca kitab tentang sejarah dan kehidupan di dunia ramai. Oleh karena itu biarpun dia baru sekali ini turun ke daratan besar, namun segala peraturan tidaklah terlalu mengejutkan hatinya dan dapat dihadapinya dengan tenang dan sabar.

Demikianlah, Kian Bu hanya dapat memandang saja ketika melihat gadis yang mengagumkan hatinya itu meloncat ke atas kuda bersama kakek itu, lalu ke­duanya membalapkan kuda keluar dari dusun itu. Hatinya ingin sekali menegur, bertanya dan berkenalan, namun dia memaksa diri diam saja, hanya memandang dan makin tertarik hatinya ketika meli­hat betapa dara itu mengerling ke arah mereka sambil tersenyum manis!

“Siapakah mereka….?” Souw Kee It bertanya setelah mereka keluar dari dusun.

“Hi-hik, pemuda-pemuda yang lucu.” Ceng Ceng lalu menceritakan pertemuan­nya dengan dua orang muda itu ketika dia menjual kuda.

“Hemm, mereka mencurigakan. Nona, kita harus berhati-hati.”

“Kau sendiri mengatakan bahwa ini daerah aman, Lopek.”

“Benar, memang tadinya kuanggap demikian. Akan tetapi di dalam pasar kuda tadi, aku melihat banyak mata yang me­mandang kepadaku secara sembunyi. Hal seperti itu sudah terlalu sering kualami sehingga aku dapat merasakannya. Juga, kalau aku tidak salah, aku melihat wajah seorang kakek yang menyelinap di antara banyak orang, padahal kalau aku tidak salah ingat, itu adalah wajah seorang tosu Pek-lian-kauw. Dan kabarnya Pek-lian-kauw juga sudah memasukkan tangan-tangan kotor ke dalam usaha pemberon­takan ini.”

“Ihhh….!” Ceng Ceng menjadi ka­get mendengar ini.

“Keadaan menjadi berbahaya kalau begini, Nona.” Souw Kee It mengerutkan alisnya dan menahan kudanya agar dia dapat menerangkan lebih jelas lagi. “Kalau sampai di dusun itu terdapat orang-orang­nya pemberontak tanpa diketahui oleh Jenderal Kao, maka hal itu hanya ber­arti bahwa kaki tangan pemberontak sudah menyelundup ke utara. Mungkin saja di antara para pembantu Kao-goanswe sendiri ada yang sudah terpengaruh. Dan ini berbahaya bagi pertahanan di utara.”

“Habis, apa yang hendak kaulakukan, Lopek?” Ceng Ceng bertanya, khawatir juga mendengar suara orang tua itu yang amat serius.

Tiba-tiba kakek itu memandang ke depan dan matanya terbelalak, lalu ber­kata, “Tenang, tak usah khawatir, akan tetapi siap menghadapi mereka itu. Ku­rasa mereka bukan orang-orang yang mengandung niat baik….”

Ceng Ceng juga memandang ke depan dan tampaklah olehnya dua orang tosu dan dua orang laki-laki yang dikenalnya sebagai dua di antara para pembeli kuda tadi telah menghadang di depan. Kuda tunggangan empat orang itu ditambatkan pada pohon tak jauh dari situ dan jelas­lah bahwa empat orang ini memang se­ngaja menanti dan menghadang mereka di tempat ini!

“Lopek, hajar saja mereka!” Ceng Ceng berteriak dengan gemas dan kedua tangannya sudah meraba sepasang pisau belati yang diselipkan di pinggangnya.

Memang mereka sudah bersiap sedia dan Souw Kee It telah memberikan dua batang pisau itu sebagaimana yang dipilihnya sendiri ketika pengawal itu menawarkan senjata apa yang paling digemarinya.

“Kauhadapi dua orang mata-mata yang menyamar sebagai pedagang kuda itu, dan biarlah aku yang menghadapi dua orang tosu Pek-lian-kauw itu,” bisik Souw Kee It.

Ceng Ceng mengangguk dan dengan tenang keduanya turun dari atas kuda, menambatkan kuda mereka di pohon lalu menghampiri empat orang yang meng­awasi gerak-gerik mereka tanpa berkata-kata itu. Biarpun dia merasa amat gemas dan marah, namun Ceng Ceng tidak be­rani sembrono turun tangan, melainkan membiarkan pengawal itu yang bicara.

“Jiwi-totiang (bapak pendeta berdua) agaknya mempunyai keperluan dengsnku maka sengaja menanti di sini. Ada keper­luan apakah?” Souw Kee It bertanya sambil menghadapi kedua orang tosu itu.

Dua orang tosu itu tidak menjawab, melainkan membuat gerakan membuka jubah depan mereka, yang menutupi jubah di dalam dan tampaklah lukisan teratai putih di depan dada mereka. Tentu saja Souw Kee It sudah tahu sebelumnya bah­wa dua orang tosu itu adalah tosu-tosu Pek-lian-kauw, akan tetapi dia berpura-pura kaget dan tidak mengerti.

“Kalau tidak salah, ji-wi adalah tosu dari Pek-lian-kauw. Ada keperluan apa­kah dengan kami paman dan keponakan?”

“Souw Kee It, tidak perlu kau berpu­ra-pura lagi!” Tiba-tiba seorang di antara mereka, tosu yang ada tahi lalatnya di dagu, berkata mengejek. “Dan tidak perlu lagi mengaku dia ini keponakanmu. Ketika dia masih menjadi pemuda berkumis, memang kami ragu-ragu. Souw Kee It, dan kau Nona! Hayo katakan di mana adanya Puteri Syanti Dewi!”

Souw Kee It terkejut juga. Demikian hebat gerakan para pemberontak ini se­hingga mata-matanya tersebar ke mana-mana, bahkan perjalanannya bersama Ceng Ceng, penyamaran dara itupun diketahui belaka oleh tosu-tosu ini. Yang tidak mereka ketahui, seperti yang dia sendiri pun belum mengetahui, adalah di mana adanya Putri Syanti Dewi. Hal ini melegakan hatinya, juga melegakan hati Ceng Ceng, karena berarti bahwa Syanti Dewi belum terjatuh ke tangan kaum pemberontak.

“Pemberontak hina dina!” bentak Souw Kee It dan tanpa banyak cakap lagi pe­ngawal ini sudah meloncat ke depan, me­nerjang sambil memutar pedangnya yang berubah menjadi segulungan sinar terang. Dua orang tosu Pek-lian-kauw itu juga sudah mencabut pedang masing-masing dan menangkis sambil membalas dengan serangan dahsyat. Namun, mudah saja serangan mereka ditangkis oleh Souw Kee It dan melihat gerakan-gerakan me­reka, hati pengawal kawakan ini menjadi lega karena dia yakin akan dapat menga­tasi mereka. Dia mengkhawatirkan Ceng Ceng yang juga sudah membentak nyaring dan sudah menerjang maju disambut oleh dua orang pedagang kuda palsu itu dengan golok mereka. Terdengar suara nyaring berdencing berkali-kali ketika dua orang pedagang kuda palsu itu sibuk menangkis sinar terang dari sepasang belati di ta­nga Ceng Ceng yang menyambar-nyambar ganas ke arah mereka! Tersenyumlah Souw Kee It menyaksikan sepak terjang dara dari Bhutan itu. Hebat dan lincah, dan dia maklum bahwa dia tidak perlu mengkhawatirkan Ceng Ceng. Hal ini mem­buat dia dapat mencurahkan seluruh perhatiannya untuk menghadapi dua orang tosu dari Pek-lian-kauw.

“Nona Lu, mari cepat robohkan mere­ka!” bentaknya karena pengawal ini mak­lum bahwa kalau para kaki tangan pem­berontak ini mempunyai banyak kawan dan datang mengeroyok, keadaan akan menjadi berbahaya.

“Baik, Lopek!” Ceng Ceng memang tadinya hendak mempermainkan dua orang lawannya, kini mendengar seruan itu dia memperhebat permainan sepasang pisau belatinya sehingga dua orang itu terdesak hebat!

Souw Kee It juga sudah mengerahkan tenaga mengeluarkan kepandaiannya, pe­dangnya bergulung-gulung sinarnya tidak memberi kesempatan kepada dua orang pengeroyoknya yang main mundur terus. Terdengar bentakan keras dua, kali dari mulut pengawal itu dan robohlah dua orang tosu itu, roboh untuk tidak bangun kembali karena dada mereka tertembus pedang!

“Haiiittt….!” Ceng Ceng yang mera­sa penasaran memekik dan pisaunya me­nyambar, berhasil merobek pipi kanan seorang lawari yang berteriak-teriak kesa­kitan.

“Aku mencari bantuan….!” Seorang di antara mereka berteriak dan lari mening­galkan kawannya yang robek pipinya.

“Lari ke mana?” Ceng Ceng memben­tak, tangan kirinya bergerak dan pisau belati yang kiri meluncur ke depan, me­ngejar lawan yang lari itu.

“Auuggghhh….!” Orang itu roboh dan pisau belati hanya tampak gagangnya saja menancap di punggungnya. Orang ke dua yang terluka pipinya menjadi nekat, akan tetapi kaki kiri Ceng Ceng menen­dang, tepat mengenai pergelangan tangan­nya sehingga golok yang dipegangnya ter­lepas dan sebelum dia sempat mengelak, pisau belati Ceng Ceng sudah bersarang di dadanya, membuat dia roboh terjengkang dan tewas tak lama kemudian.

Ceng Ceng mencabut dua batang pi­saunya, membersihkan senjata itu di pa­kaian korbannya sambil mendengarkan pesan Souw Kee It, “Nona, sudah jelas bahwa pihak pemberontak telah menge­tahui keadaan kita. Hal ini membuktikan bahwa kaki tangan pemberontak telah menguasai pula daerah ini dan mungkin sekali sudah ada mata-mata yang menye­linap ke dalam pasukan penjaga tapal batas. Hal ini berbahaya sekali. Jenderal Kao adalah seorang panglima yang amat setia, akan tetapi kalau dia dikelilingi pemberontak tanpa diketahuinya, amatlah berbahaya. Sekali pertahanan di tapal batas ini bobol, bahaya utara akan mem­banjir ke selatan dan merupakan ancam­an besar.”

“Kalau begitu, kita cepat menghadap Jenderal Kao untuk menceritakan keadaan, Lopek.”

Souw Kee It menggeleng kepala. “Kita harus membagi tugas. Di benteng terdekat sebelah barat sana yang bertugas sebagai seorang komandan seorang saha­batku. Aku akan pergi ke sana untuk ce­pat memperingatkan sahabatku itu agar dia dapat bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Sedangkan engkau, Nona, harap kaulanjutkan perjalanan ini ke utara. Karena lebih tiga puluh li lagi dari sini, engkau akan tiba di benteng di mana kau dapat menghadap Jenderal Kao sendiri dan kauceritakan segala yang kau telah ketahui dan dengar dari aku menge­nai keadaan di ibu kota.”

Ceng Ceng mengangguk. “Baik, Lo­pek.”

Souw Kee It mengeluarkan sebuah benda dan memberikan itu kepada Ceng Ceng sambil berkata, “Kaubawalah tek-pai ini sebagai pelindung kalau terjadi sesuatu. Aku sendiri tidak memerlukan­nya karena Panglima Kim yang akan ku­hubungi adalah wakil dari Jenderal Kao dan adalah bekas sahabatku ketika kami bersama bertugas di kota raja. Kalau kau menghadapi kesukaran dari pihak pasukan, tek-pai ini tentu akan menyelamatkanmu.”

Ceng Ceng menerima benda itu yang ternyata adalah sebuah tek-pai, yaitu se­potong bambu yang merupakan sebuah tanda bahwa pemegangnya telah diberi kuasa oleh pihak atasan. Biasanya, jika kaisar memberi kekuasaan kepada seseo­rang ponggawa untuk melakukan suatu pekerjaan penting, ponggawa ini diberi sebuah tek-pai. Akan tetapi tek-pai yang diserahkan oleh Souw Kee It kepada Ceng Ceng adalah tanda kuasa yang diberikan oleh Puteri Milana.

“Berangkatlah, Nona dan hati-hatilah di jalan. Kurasa tidak akan ada gangguan lagi seperti tadi setelah Nona berada di dekat benteng pasukan Jenderal Kao.”

Mereka lalu berpisah dan Ceng Ceng lalu membalapkan kudanya menuju ke utara. Adapun Souw Kee It sendiri juga lalu meloncat ke atas kudanya, memutar kudanya menuju ke kiri di mana dia tahu ada markas dari pasukan yang dipimpin oleh wakil dari Jenderal Kao, yaitu Panglima Kim. Pencegatan tosu Pek-lian-kauw tadi terjadi di daerah kekuasaan pasukan Panglima Kim, maka dia perlu sekali harus cepat memberi tahu bekas sahabat­nya itu agar dapat mengadakan operasi pembersihan karena dia yakin bahwa ten­tu daerah ini telah kemasukan kaki tangan pemberontak.

Memang daerah yang merupakan front ke dua ini dipimpin oleh wakil dari Jen­deral Kao Liang, yaitu Panglima Kim Bouw Sin yang dahulu pernah menjadi pengawal kaisar, rekan dari Souw Kee It. Panglima Kim Bouw Sin yang berusia lima puluh tahun ini bertubuh kecil ting­gi, bermata tajam dan dia merupakan seorang yang ahli dalam ilmu perang, selain ahli pula dalam ilmu silat. Dahulu­nya dia hanya seorang guru silat yang karena kepandaiannya yang tinggi maka banyak putera bangsawan menjadi murid­nya di kota raja. Akhirnya dia diangkat menjadi pengawal dan memang orang she Kim ini amat rajin dan pandai pula meng­ambil hati bekas-bekas muridnya yang banyak terdapat diantara para pangeran sehingga akhirnya dia terus naik pangkat sampai menjadi wakil Jenderal Kao Liang dan mengepalai puluhan ribu perajurit di tapal batas utara.

Akan tetapi, kenaikan demi kenaikan yang membawanya ke tempat yang lebih tinggi dan mulia, kedudukan demi kedu­dukan yang telah dicapainya itu sama sekali tidak pernah memadamkan api cita-cita yang selalu berkobar di dalam dada Kim Bouw Sin. Tidak pernah mem­buat dia merasa puas dan cukup. Cita-cita atau ambisinya terus meningkat dan kedudukan wakil panglima komandan per­batasan masih jauh daripada memuaskan hatinya yang penuh ambisi, karena di sa­na, jauh di tinggi, masih tampak keduduk­an panglima, kedudukan menteri-menteri, perdana menteri, panglima tertinggi dan kaisar sendiri! Ambisi inilah yang kemudian menyeret dia untuk diam-diam ber­sekutu dengan Pangeran Liong Bin Ong dan biarpun secara terang-terangan dia menjadi wakil panglima di perbatasan utara, namun gelap-gelapan dia adalah pemimpin pemberontak, kepercayaan Liong Bin Ong yang sudah siap melaku­kan gerakan besar di utara!

Seperti halnya Kim Bouw Sin, seperti pula dapat kita lihat dalam penghidupan manusia sehari-hari, betapa kita ini di­cengkeram, dibuai dan dipermainkan oleh cita-cita, oleh ambisi. Cita-cita dan am­bisi adalah masa depan sehingga kita hidup seperti dalam mimpi, hidup ditun­tun oleh masa depan sehingga kita men­jadi seperti buta akan masa kini, saat ini, tidak dapat melihat segala keindahan dan kebahagiaan saat ini karena mata kita selalu kita tujukan ke depan dan ke atas! Kita selalu mementingkan tujuan, sehingga terjadilah kepalsuan-kepalsuan dalam cara atau tindakan karena semua itu dituntun demi mencapai tujuan! Ka­rena mementingkan tujuan, maka timbul­lah perbµatan-perbuatan yang palsu, ka­rena yang penting bukanlah caranya lagi, melainkan tujuannya. Timbullah anggapan palsu bahwa tujuan menghalalkan secara cara! Maka terjadilah segala kepalsuan yang dapat kita lihat sehari-hari di dalam kehidupan kita. Betapa demi tujuan men­dapatkan keuntungan, kita tidak segan­segan untuk mencapainya dengan cara apapun, dengan judi, dengan korupsi, dengan penyogokan, dengan penipuan dagang, dengan penyelundupan, dan banyak lagi macamnya. Semua itu kita lakukan demi untuk satu tujuan, yaku mencari keuntungan! Lebih hebat lagi, demi tujuan mencapai kemenangan, kita manusia sa­ling bunuh-membunuh dalam perang, bah­kan tidak segan-segan memakai nama Tuhan, negara, bangsa dan lain-lain yang hanya merupakan suatu cara palsu untuk mencapai tujuan, yaitu kemenangan tadi!

Umumnya kita menganggap bahwa cita-cita atau ambisi mendatangkan ke­majuan! Kalau tidak bercita-cita, tidak ada kemajuan, demikian kita berkata dan anggapan atau pendapat ini telah berakar di dalam hati dan pikiran. Akan tetapi kalau kita mau membuka mata dan mempelajarlnya, benarkah demikian? Benarkah ambisi mendatangkan kemajuan? Kalau kita ukur kemajuan dengan lembaran uang, mungkin ada benarnya, yaitu bahwa ambisi mendatangkan uang! Akan tetapi, apakah itu suatu kemajuan? Apakah itu dapat dikatakan maju kalau menjadi kaya-raya karena korupsi, karena dagang gelap, karena penipuan dan lain-lain? Apa artinya kaya-raya kalau batinnya miskin? Dapatkah kekayaan mendatangkan kebahagiaan? Tanya saja kepada para hartawan dan semua akan menjawab per­tanyaan itu dengan geleng kepala!

Yang penting adalah sekarang ini! Saat ini! Tindakan ini! Cara ini! Bukan tujuannya, bukan cita-citanya! Kalau ca­ranya atau tindakannya benar, tujuannya pun benar! Biarpun tujuannya benar, kalau caranya tidak benar, tujuannya pun men­jadi tidak benar! Daripada membiarkan pikiran melamun dan membayangkan tuju­an atau cita-cita atau ambisi di masa depan, hal-hal yang belum ada dan hanya merupakan khayal belaka, marilah kita tujukan seluruh perhatian kita kepada saat ini, saat demi saat sehingga apa yang kita lakukan, apa yang kita ucap­kan, semua kita lakukan dengan kesadar­an sepenuhnya, dengan perhatian sepenuh­nya, sehingga kita dapat menghayati hidup ini saat demi saat! Dengan demikian akan timbul kewaspadaan, kita da­pat melihat yang palsu sebagai palsu dalam diri kita sendiri dan di luar diri kita.

Souw Kee It sama sekali tidak pernah mengira bahwa bekas sahabat dan rekan­nya itu kini telah menjadi orang keper­cayaan Pangeran Liong Bin Ong. Dia datang dan menghadap bekas temannya yang telah menjadi wakil panglima per­batasan itu. Akan tetapi begitu dia menceritakan tentang pencegatan dua orang tosu Pek-llan-kauw dan dua orang kaki tangan pemberontak lain yang berhasil dibunuhnya, seketika dia disergap, dikeroyok dan akhirnya, dalam perlawanan mati-matian, pengawal kaisar yang gagah perkasa ini tewas di depan kaki Panglima Kim Bouw Sin!

Souw Kee It telah menceritakan be­tapa pengawal itu bersama adik angkat Puteri Syanti Dewi telah tiba di utara dan bahkan telah mengetahui bahwa di utara terdapat kaki tangan pemberontak! Dan sekarang gadis itu telah menuju ke markas Jenderal Kao! Hal ini tentu saja menggegerkan hati Kim Bouw Sin dan kawan-kawannya. Maka setelah menyingkirkan mayat pengawal Souw Kee It, Panglima Kim Bouw Sin segera memang­gil semua sekutunya untuk mengadakan perundingan kilat!

Yang hadir dalam perundingan itu se­lain Panglima Kim Bouw Sin sendiri, juga dua orang utusan Pangeran Liong Bin Ong yang menjadi penghubung, dan tiga orang kepala suku Mongol yang memusuhi pemerintah. Memang Kim Bouw Sin amat cerdik. Untuk memperkuat kedudukannya dan memperkuat barisan kalau kelak tiba masanya bahwa pasukannya harus digerak­kan ke selatan, diam-diam dia telah mengadakan persekutuan dengan suku-suku liar di luar tembok besar dan telah mengadakan kontak dengan tiga orang kepala suku Mongol itu.

“Rahasia telah terbuka, mungkin se­karang Jenderal Kao telah mendengar dari gadis itu,” demikian antara lain Panglima Kim berkata kepada lima orang itu. “Dua orang tosu Pek-lian-kauw itu terlalu sembrono, turun tangan tanpa melihat keadaan lawan lebih dulu. Selain mereka gagal, juga tentu akan menimbulkan kecurigaan di hati Jenderal Kao.”

“Bagi Pangeran Liong, hal itu tidak membahayakan,” kata seorang di antara tiga orang utusan Pengeran Liong Bin Ong, “karena kabar pemberontakan itu hanya merupakan desas-desus yang tidak ada buktinya. Akan tetapi tidak demikian dengan kedudukan ciangkun (panglima) di sini. Jenderal Kao terkenal keras, dan Ciangkun sebagai bawahannya tentu da­pat dia perlakukan sesuka hatinya.”

“Itulah yang memusingkan hatiku!” Panglima Kim menghantam meja di de­pannya. “Kecuali kalau dia dapat dising­kirkan lebih dulu, lebih pagi daripada rencana semula! Tetapi, pasukannya be­lum dapat kita kuasai seluruhnya sehing­ga hal itu tentu amatsukar dilakukan.”

“Bukankah Jenderal Kao suka sekali melakukan penyelidikan dan perondaan sendiri, hanya dikawal oleh tiga belas orang pengawalnya yang terkenal?” kata seorang di antara utusan Pangeran Liong. “Bagaimana kalau dipergunakan akal untuk memancingnya keluar bersama para pe­ngawalnya itu dan kita sergap dia?”

Kim Bouw Sin mengangguk. “Memang ada rencana itu, akan tetapi kalau keta­huan bahwa dia tewas, tentu akan tim­bul kegemparan dan mungkin pasukan yang setia kepadanya akan menimbulkan keributan. Kecuali kalau pasukannya su­dah dapat kita kuasai atau…. kalau dapat melenyapkannya tanpa menimbul­kan jejak….”

Tiba-tiba seorang kepala suku Mongol yang kumisnya panjang bergantungan dari kanan kiri mulai menepuk pahanya sen­diri sehingga mengejutkan semua orang yang hadir. “Dapat sekarang!” Teriaknya sehingga semua orang memandangnya penuh perhatian. “Sumur maut! Tempat itu dapat kita pergunakan untuk meman­cing dan menjebak Jenderal Kao!”

Enam orang itu segera bicara berbisik-bisik mengatur rencana, mereka menggu­nakan siasat keji untuk membunuh Jen­deral Kao tanpa diketahui orang dan menimbulkan kesan bahwa jenderal itu terbunuh oleh suku bangsa liar yang me­musuhi pemerintah.

Panglima Kim Bouw Sin kelihatan girang bukan main, wajahnya berseri gembira, di dalam hatinya dia merasa betapa dia dan sekutunya melalukan se­suatu yang cerdik dan yang benar! Demi­kianlah keadaan batin seseorang yang telah diracuni oleh cita-cita, demi terca­painya cita-cita itu, segala cara dianggap­nya baik dan benar belaka. Yang baik dan yang benar hanya diukur dari keun­tungan bagi diri pribadi. Yang menguntung­kan diri sendiri, lahir maupun batin, maka sudah baik dan benarlah itu! Dengan pedoman hidup seperti ini di antara kita semua, herankah kita kalau dunia ini se­lalu kacau dan ribut, kekerasan, permu­suhan dan peperangan terjadi di seluruh dunia?

“Berhenti!” Tiba-tiba bermunculan perajurit-perajurit yang agaknya tadi bersembunyi di balik batu-batu gunung dan lebih dari dua puluh orang perajurit sudah mengepung Ceng Ceng yang cepat menahan kudanya. Melihat sikap mereka yang galak dan berbaris rapi, diam-diam Ceng Ceng menjadi kagum. Mudah diduga bahwa perajurit-perajurit ini merupakan anggauta pasukan pilihan yang kuat, akan tetapi di samping kekagumannya, dia pun merasa penasaran. Dia seorang wanita, akan tetapi pasukan ini memperlihatkan sikap demikian keras dan kaku. Wataknya yang nakal membuat dia ingin sekali menggoda para perajurit Jenderal Kao ini.

“Heiiii, kenapa kalian menyuruh aku berhenti?” teriaknya.

Seorang di antara mereka, komandan­nya yang berusia kurang lebih empat puluh tahun dan tubuhnya tinggi besar dan tegap, melangkah maju dan berkata, suara­nya nyaring, “Nona, kau melanggar wila­yah penjagaan kami. Kau tidak boleh te­rus dan harus kembali.”

Ceng Ceng tersenyum. “Aihh, tanah, pasir dan gunung ini bukan kalian yang bikin, mengapa hendak melarang orang lewat? Bagaimana kalau aku tidak mau kembali dan hendak terus?”

“Terpaksa kau akan kami tangkap dan kami hadapkan kepada atasan kami untuk diperiksa.”

“Begitu mudah?” Ceng Geng tersenyum mengejek. “Coba tangkap aku kalau bisa!”

Para perajurit itu saling pandang, ada yang merasa penasaran dan marah me­nyaksikan lagak dara remaja itu, ada pula yang tersenyum geli, akan tetapi ti­dak ada seorang pun berani bergerak karena mereka menanti perintah komadan mereka.

“Nona, jangan bergurau. Kembalilah saja, atau turun dari kuda untuk kami hadapkan kepada atasan kami,” berkata komandan tinggi besar itu dengan wajah sungguh-sungguh.

“Dan aku tidak bergurau, melainkan menantang kalian semua untuk menang­kap aku kalau bisa!”

Merah wajah komandan itu. Dia me­rasa dipermainkan oleh anak perempuan ini di depan anak buahnya. “Tangkap dia!” teriaknya memberi aba-aba. Setelah ter­dengar aba-aba ini, barulah para perajurit bergerak, mengulur tangan dan seolah-olah hendak berlomba menangkap atau menjamah tubuh dara remaja yang cantik manis dan menggemaskan hati itu!

Ceng Ceng tertawa, kakinya bergerak dan tubuhnya sudah mencelat dan mela­yang melalui atas kepala mereka, bagai­kan seekor burung saja gadis ini meloncat dari atas kudanya melalui kepala para perajurit dan turun ke atas tanah di luar kepungan sambil tertawa-tawa.

Ceng Ceng menggapai kepada para perajurit yang kini membalikkan tubuh memandang kepadanya dengan mata ter­belalak. “Mari, mari! Siapa yang merasa ada kepandaian, boleh maju! Atau kalau kalian tidak tahu malu, boleh mengero­yok aku!”

Tentu saja para perajurit menjadi ma­rah dan bergerak maju, akan tetapi tiba-tiba komandan tinggi besar itu berteriak, “Tahan!”

Serentak para perajurit menghentikan gerakan mereka dan berdiri tegak me­nanti perintah komandan mereka. Akan tetapi komandan itu melambaikan tangan­nya memberi isyarat agar mereka mundur, kemudian dia sendiri melangkah maju menghadapi Ceng Ceng. Sejenak dia memandang dara itu penuh perhatian dan kecurigaan, kemudian dia berkata, “Nona, sebetulnya siapakah engkau, ada keperlu­an apa datang ke tempat ini dan meng­apa menantang kami?”

Ceng Ceng yang sudah kumat nakal­nya dan memang sengaja hendak mem­permainkan orang, tersenyum dan berka­ta, “Soal nama dan keperluan nanti saja. Sekarang karena aku dilarang melanjut­kan perjalanan, aku tantang siapa saja di antara kalian. Kalau aku kalah, aku akan kembali tanpa banyak cerewet lagi, akan tetapi kalau aku menang, kalian harus membolehkan aku melanjutkan perjalanan­ku….”

Komandan itu menggeleng-gelengkan kepala. “Peraturan di sini tidak boleh diubah oleh siapapun juga, Nona. Siapa yang melanggar akan berhadapan dengan kami.”

“Aku tidak mau tunduk akan peraturan itu!”

“Kalau begitu terpaksa Nona akan ku­tangkap.”

“Cobalah!”

Akan tetapi kembali komandan itu ragu-ragu. “Aku adalah seorang laki-laki sejati yang tidak suka memukul wanita. Akan tetapi harap Nona ketahui bahwa kami telah berbulan-bulan bertugas di sini dan jauh dari wanita, maka jangan katakan aku kurang ajar kalau tangan-tanganku menjadi gatal.”

Para perajurit tertawa mendengar kelakar komandan mereka ini, dan wajah Ceng Ceng menjadi merah sekali. Akan tetapi karena dia pun tahu bahwa ko­mandan itu bukan bermaksud untuk ku­rang ajar melainkan bicara sejujurnya, dia pun mejawab, “Tidak usah banyak sungkan, Ciangkun. Mari perlihatkan ke­pandaianmu.”

“Heiiiiitttt!” Komandan itu yang juga memiliki ilmu silat cukup tangguh sudah bergerak maju, menubruk dengan kedua lengannya dipentang lebar.

“Yaaaahhhh!” Dengan lincahnya Ceng Ceng mengelak dan tubuhnya yang kecil ramping itu lolos dari bawah lengan ka­nan komandan itu, tidak lupa untuk menggerakkan tangan kiri menampar belakang pundak kanan.

“Plakkk!” Tubuh komandan itu ter­huyung-huyung dan wajahnya kelihatan kaget bukan main. Tak disangkanya bahwa tubrukannya itu tidak hanya dapat dielak­kan, malah dia kena ditampar, tamparan main-mainan saja karena kalau dara itu menghendaki, tamparan itu tentu dapat diubah menjadi pukulan yag berbahaya. Tahulah dia bahwa gadis ini memang berllmu tinggi maka berani berlagak se­perti itu, maka dia tidak menjadi sung­kan-sungkan lagi dan sambil berteriak keras mulailah dia menyerang, bukan se­kedar untuk mengalahkan.

Ceng Ceng yang memang hanya ingin mempermainkan, menggunakan gin-kangnya dan dengan amat lincah dia selalu dapat mengelak dari semua serangan lawan tanpa membalas karena dia memang tidak berniat untuk bermusuhan. Kemu­dian, ketika komandan itu menyerangnya dengan dahsyat, menggunakan lengan kanan untuk memukul ke arah lambung dan tangan kirinya mencengkeram pundak, Ceng Ceng mengelak dengan loncatan ke kanan sambil menggerakkan kepalanya.

“Plak! Plak!”

Komadan itu terkejut dan cepat me­loncat mundur sambil terhuyung-huyung karena tadi dua helai kuncir dara itu dengan tepat telah menyambar dan me­ngenai leher dan dadanya. Melihat ini, para perajurit sudah bergerak maju hen­dak menolong dan membantu komandan mereka, akan tetapi tiba-tiba Ceng Ceng meloncat jauh ke belakang sambil berse­ru keras, “Tahan….!”

Komandan itu sudah mencabut pedang­nya dan dengan mata terbelalak marah memandang. Ceng Ceng cepat menjura kepadanya dan berkata, “Harap Ciangkun maafkan. Sebetulnya saya hanya main-main saja. Saya hendak menghadap Jen­deral Kao Liang, harap Ciangkun meng­antar saya kepadanya.”

Komandan itu mengerutkan alisnya. Tentu saja dia menjadi makin curiga. Gadis ini adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kedatangannya demikian mencurigakan dan sekarang me­nyatakan ingin bertemu dengan Jenderal Kao Liang, tentu saja dia menjadi curiga sekali.

“Nona, terpaksa kami hanya dapat menghadapkan engkau sebagai seorang tangkapan.”

Ceng Ceng tersenyum, lalu merogoh saku mengeluarkan tek-pai yang diteri­manya dari Pengawal Souw Kee It, me­nyodorkan tek-pai itu ke depan perwira komandan itu sambil berkata, “Apakah engkau masih mencurigai aku?”

Komandan itu memandang tek-pai, bambu kuasa itu dan setelah membaca dan mengenal tulisan di atas tek-pai, melihat cap kebesaran Puteri Milana sendiri, cepat dia menjatuhkan diri berlu­tut. Para perajuritnya terkejut dan biar­pun mereka belum mengerti jelas, mereka pun cepat meniru perbuatan komandan mereka, berlutut.

“Harap Nona maafkan kami yang tidak mengenal Nona,” kata komandan itu. “Aihh, tidak apa-apa, Ciangkun. Salahku sendiri karena memang aku yang ingin main-main dengan pasukanmu yang begini perkasa. Nah, sekarang antarkanlah aku menghadap Jenderal Kao Liang.”

“Baik, Nona.”

Komandan itu meninggalkan perintah kepada anak buahnya, dan dia sendiri lalu mengantarkan Ceng Ceng memasuki benteng besar di mana terdapat penjaga­an yang ketat dan mengagumkan hati Ceng Ceng. Dia maklum betapa akan sukarnya memasuki benteng yang terjaga kuat ini apabila tidak diantarkan oleh komandan itu.

Jenderal Kao Liang yang gagah perka­sa itu menerima kedatangan Ceng Ceng dengan ramah, apalagi ketika Ceng Ceng memperlihatkan tek-pai (bambu tanda kuasa) dari Puteri Milana dan mencerita­kan bahwa dia mewakili Perwira Pengawal Souw Kee It.

“Aih, sungguh patut dipuji seorang wanita muda seperti Nona menempuh segala kesukaran untuk membantu negara. Nona amat gagah perkasa! Silahan duduk di ruangan dalam dan ceritakan semua tugas Nona datang menjumpai kami,” kata jenderal itu yang mengajak Ceng Ceng duduk di ruangan dalam.

Setelah minum teh yang disuguhkan, Ceng Ceng mulai dengan penuturannya. “Souw-ciangkun sekarang pergi ke ben­teng di barat sana untuk melaporkan bahwa daerah ini telah kemasukan kaki tangan pemberontak. Kami berdua telah dicegat oleh dua orang tosu Pek-lian-kauw dan kaki tangannya. Menurut Souw-ciangkun, pemberontak yang sekarang sedang berusaha untuk menghimpun keku­atannya, tidak hanya bergerak di barat, melainkan agaknya juga sudah mulai me­ngulur tangan kotor di daerah perbatasan ini.”

Jenderal Kao Liang tertawa sambil mengangkat cawan arak dan minum arak dengan lahapnya. Dia kuat sekali minum dan tidak pernah menjadi mabuk. “Ha-ha-ha, harap tenangkan hatimu, Nona. Pemberontak-pemberontak itu hanya be­sar mulut saja, akan tetapi tidak ada artinya. Bahkan baru-baru ini aku sendi­ri sudah melakukan pemeriksaan ke barat, memimpin operasi pembersihan membasmi para pemberontak yang berani menggang­gu perbatasan barat. Kalau ada pembe­rontak yang berani muncul di daerah ini, tentu akan kusapu sampai bersih!” Kem­bali dia tertawa bangga lalu melanjutkan. “Sayang bahwa para penjahat itu berhasil mencegat rombongan Puteri Bhutan se­hingga sang puteri kabarnya lenyap. Akan tetapi, Kerajaan Bhutan tentu mau be­kerja sama dengan kami untuk membasmi para pemberontak di sana yang sebetul­nya hanya merupakan segerombolan orang liar dan biadab, di bawah pimpinan pen­jahat besar Tambolon.”

“Agakgya Tai-ciangkun belum tahu jelas akan keadaan yang lebih parah dan berbahaya daripada yang Tai-ciangkun kira.” Ceng Ceng berkata, “Hendaknya diketahui bahwa saya adalah Lu Ceng, atau Candra Dewi, saudara angkat de­ngan Puteri Syanti Dewi dari Bhutan, dan saya pula yang menjadi pengawal pribadinya ketika diboyong ke kota raja.”

“Ehhh….?” Jenderal itu terkejut juga dan kini memandang kepada Ceng Ceng penuh perhatian.

Ceng Ceng lalu menceritakan semua pengalamannya bersama Syanti Dewi yang sekarang entah berada di mana akan tetapi yang menurut kabar disela­matkan oleh seorang nelayan dan pasti belum terjatuh ke tangan pemberontak. Kemudian dia menceritakan pula pertemuannya dengan Ang Tek Hoat yang menjadi orang kepercayaan Pangeran Li­ong si pemberontak, menceritakan pula percakapan yang didengarnya antara Ang Tek Hoat dan Pangeran Liong Khi Ong.

Mendengar semua itu, barulah Jende­ral Kao tidak memandang ringan lagi, bahkan dia menggebrak meja. “Celaka! Kiranya di kota raja sendiri telah penuh dengan manusia-manusia khianat! Kalau begitu, aku sendiri harus ke kota raja untuk memperingatkan kaisar dan berun­ding dengan Puteri Milana yang bijaksana. Ahhh, pengkhianat-pengkhianat yang tak mengenal budi itu harus dibasmi secepat mungkin sebelum gerakan mereka menja­di besar!”

Pada saat itu, seorang pengawal melangkah masuk dan memberi hormat ke­pada Jenderal Kao sambil berkata, “Kim-ciangkun datang dan mohon menghadap!”

“Ah, dia datang? Suruh masuk cepat!” kata jenderal itu.

Ketika Panglima Kim Bouw Sin me­masuki ruangan itu dan memberi hormat kepada Jenderal Kao, Ceng Ceng memandang penuh perhatian. Panglima Kim adalah seorang laki-laki berusia kira-kira empat puluh tahun, mukanya pucat dan matanya sipit sekali. Karena tahu bahwa panglima ini adalah sahabat baik Souw Kee It, maka begitu panglima itu duduk dia bertanya, “Kim-ciangkun, bu­kankah Souw-lopek sudah bertemu de­nganmu?”

Kim Bouw Sin memandang dara itu lalu tertawa. “Tentu Nona adalah Nona Lu Ceng dari Bhutan seperti yang dice­ritakan oleh Souw-sicu. Memang dia te­lah bertemu denganku, Nona. Bahkan kini dia membantu menjadi penunjuk jalan bagi pasukan yang kukirimkan untuk me­lakukan pembersihan ke dusun tempat jual kuda itu.”

“Hemm, Kim-ciangkun! Mengapa urus­an besar seperti itu kauserahkan saja ke­pada bawahanmu dan tidak kaupimpin sendiri? Kita harus mengadakan pember­sihan jangan sampai kaki tangan pembe­rontak memperlebar sayapnya di daerah ini!” Jenderal Kao menegur bawahannya.

Kim Bouw Sin cepat menghadapi atas­annya itu dan berkata, “Memang sebenar­nya harus saya sendiri yang memimpin operasi pembersihan itu. Akan tetapi, ada hal lain yang lebih penting lagi dan yang harus saya laporkan sendiri kepada Goanswe.”

“Hemm…. berita apakah yang be­gitu penting?”

“Para peyelidik kami mendapat kete­rangan bahwa pada hari besuk, para ke­pala suku mengadakan pertemuan dan perundingan tidak jauh dari sini dan me­reka itu akan menerima kujungan seorang kaki tangan penberontak yang tentu akan melakukan pembujukan kepada para kepala suku untuk bersekutu dengan pi­hak pemberontak.”

Wajah Jenderal Kao berubah merah sekali dan dia menggebrak meja. “Bagai­mana bisa ada kejadian seperti ini? Se­lama ini para kepala suku itu baik de­ngan kita!”

Dengan sikap agak ketakutan Kim-ciangkun berkata, “Akan tetapi, pihak pemberontak itu tentu telah berhasil membujuk mereka yang mata duitan dengan menyerahkan hadiah-hadiah. Kalau Goanswe mengijinkan, saya akan melaku­kan penyelidikan sendiri ke tempat itu.”

“Tidak! Hal ini terlalu penting sehing­ga harus aku sendiri yang melakukan pe­nyelidikan. Di mana tempat itu?”

“Di sekitar sumur maut di tengah padang pasir.”

“Hemm, tempat terpencil dan menge­rikan itu?” Jenderal Kao membelai jeng­gotnya, “Baik, biarlah aku akan menye­lidikinya sendiri.”

“Kalau begitu baik sekali, dan saya akan menyusul ke selatan, memimpin sendiri operasi pembersihan di dusun pa­sar kuda,” kata Kim Bouw Sin yang se­gera pamit dan keluar meninggalkan tempat itu. Jenderal Kao lalu menyuruh seorang pengawal mengantar Ceng Ceng ke sebuah kamar tamu agar dara itu dapat beristirahat sambil menanti kem­balinya Souw Kee It, karena dia sendiri sibuk mempersiapkan tiga belas orang pengawalnya dan mengatur rencana untuk menyelidiki sumur maut yang dijadikan tempat pertemuan para kepala suku itu.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi se­kali Jenderal Kao telah berangkat me­ninggalkan benteng itu. Seperti biasanya tiap kali dia mengadakan perondaan atau penyelidikan, dia hanya dikawal oleh tiga belas orang pengawalnya yang gagah per­kasa dan setia.

Derap kaki kuda di luar itu memba­ngunkan Ceng Ceng dari tidurnya. Dia membuka pintu kamar dan bertanya kepada pelayan, mendapat keterangan bah­wa Jenderal Kao telah berangkat. Ceng Ceng lalu mandi, bertukar pakaian lalu keluar dari bangunan itu melihat-lihat. Akan tetapi baru saja dia keluar, tampak olehnya seorang laki-laki berpakaian per­wira menengah berjalan dengan amat ce­patnya sambil menengok ke kanan kiri.

Jelas nampak olehnya betapa orang itu seperti tergesa-gesa dan hati-hati sehing­ga timbullah kecurigaan hatinya. Apalagi orang itu agaknya baru saja meninggal­ka tempat di mana dia menginap, pada­hal dia sejak kemarin tidak pernah ber­temu dengan orang itu, seolah-olah orang itu telah bersembunyi di situ.

Ketika melihat orang berpakaian per­wira itu memasuki sebuah pondok, Ceng Ceng cepat menggunakan kepandaiannya untuk meloncat ke atas genteng dan tak lama kemudian dia sudah mengintai dan mende­ngarkan dari atas. Perwira itu telah berte­mu dengan seorang perwira lain dan biar­pun percakapan mereka hanya singkat saja, namun cukuplah bagi Ceng Ceng mengeta­hui siapa adanya mereka.

“Cepat kau pergi melaporkan Kim-ciangkun bahwa dia telah berangkat,” kata perwira yang dibayanginya tadi.

“Baik, dan kau mempersiapkan semua teman agar mengendalikan semua pasu­kan di sini,” kata orang ke dua.

“Ya, setelah itu aku akan menyusul mereka untuk melihat apakah semua berjalan menurut rencana. Sebaliknya, sebelum engkau berangkat kepada Kim-ciangkun, engkau yang menghubungi te­man-teman di sini. Jangan lupa gadis itu, harus secepatnya dibikin tidak berdaya. Aku akan berangkat sekarang, khawatir kalau-kalau terjadi perubahan dan kega­galan di sana.”

Selanjutnya mereka berbisik-bisik dan Ceng Ceng cepat meloncat turun, me­nyelinap di depan pondok itu dan ber­sembunyi di tempat yang masih gelap. Percakapan yang didengarnya itu cukup baginya dan amat mengejutkan. Jelas bahwa kedua orang itu tentulah mata-mata pemberontak yang menyelinap dan berhasil menjadi perwira-perwira di situ, atau juga perwira-perwira yang telah di­bujuk oleh pihak pemberontak. Yang amat mengejutkan hatinya adalah dise­butnya Kim-ciangkun! Agaknya Kim-ci­angkun juga sekutu mereka! Jantungnya berdebar tegang. Dia teringat akan Souw Kee It yang belum juga muncul setelah pengawal itu pergi mengunjungi Kim-ciangkun. Kecurigaan besar timbul di dalam hatinya. Dia khawatir bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak baik menimpa diri pegawal itu. Akan tetapi Ceng Ceng maklum bahwa dia menghadapi orang yang memiliki pasukan besar, yang tak mung­kin dilawannya begitu saja. Jalan satu-satunya adalah melapor secepatnya kepa­da Jenderal Kao yang telah pergi. Dan orang berpakaian perwira itu agaknya akan menyusul rombongan Jenderal Kao untuk melihat apakah rencana mereka berjalan lancar. Ceng Ceng segera meng­ambil keputusan dan melihat perwira itu berkelebat ke luar, cepat dia membayangi dari jauh.

Perwira itu keluar dari benteng, naik kuda dan membalap ke arah utara! Ceng Ceng terpaksa menggunakan ilmu berlari cepat, akan tetapi sebentar saja sudah tertinggal jauh dan akhirnya perwira berkuda yang dibayanginya itu lenyap. Untung baginya bahwa jejak tapak kaki kuda yang dikejarnya dapat dilihat jelas maka dia dapat terus melakukan penge­jaran ke utara dengan melihat tapak kaki kuda perwira itu.

Sementara itu, Jenderal Kao Liang dan tiga belas orang pengawalnya telah tiba di daerah sumur maut. Dengan te­liti jenderal itu bersama para pengawal­nya memeriksa keadaan di sekitar itu, namun yang tampak hanyalah padang pasir yang luas, tidak kelihatan ada se­orang pun manusia. Sumur maut yang berada di tengah-tengah padang pasir itu pun sunyi saja, hanya tampak dari jauh sebagai suatu lubang yang dikelilingi batu-batu besar yang berserakan. Tidak ada suara apa-apa, tidak ada gerakan apa-apa.

Jenderal Kao telah memecah pasukan pengawalnya menjadi empat untuk meme­riksa di empat jurusan, namun mereka semua kembali dengan tangan hampa, karena memang tidak terdapat seorang pun manusia di sekitar daerah yang amat sunyi itu.

Setelah menanti sampai lama namun tidak juga ada datang kepala-kepala suku seperti yang dikabarkan akan mengadakan pertemuan rahasia di situ, Jenderal Kao mulai menjadi penasaran dan curiga. Apakah berita itu hanya berita bohong belaka?

“Mari kita periksa sumur itu!” Akhir­nya dia berkata dan bergeraklah rom­bongan ini mendekati sumur.

Tiba-tiba terdengar teriakan nyaring disusul suara derap kaki kuda. “Jangan mendekati sumur itu….!”

Semua orang terkejut dan menengok. Kiranya Ceng Ceng yang datang menung­gang kuda dengan cepat sekali dan dara itu yang tadi berteriak. Dara ini telah berhasil mengejar perwira berkuda ketika perwira itu turun dari kudanya setelah tiba dekat daerah sumur maut dan selagi perwira itu mengintai dari jauh, Ceng Ceng menyergapnya. Perwira itu berusaha melawan, namun dia bukanlah lawan dara perkasa dari Bhutan ini, dan dengan mu­dah Ceng Ceng berhasil merobohkannya. Karena perwira itu tetap membungkam ketika Ceng Ceng berusaha membongkar rahasianya, akhirnya Ceng Ceng menotok­nya lumpuh lalu menggunakan kuda per­wira itu untuk membalap dan menyusul Jenderal Kao. Melihat keadaan yang amat sunyi di situ, dan melihat Jenderal Kao dan anak buahnya bergerak mende­kati sumur, Ceng Ceng menjadi curiga dan khawatir, maka dia lalu berteriak memperingatkan jenderal itu.

Ketika Jenderal Kao Liang dan anak buahnya terkejut dan menengok, tepat pada saat itu mereka melihat anak panah berapi meluncur ke atas langit dari em­pat jurusan dan terdengar suara keras. Batu-batu di sekitar sumur maut itu terpental dan dari bawahnya berlompatan ke luar belasan orang, kemudian melun­curlah senjata-senjata rahasia dari tangan mereka, seperti hujan menyerang kepada Jenderal Kao dan tiga belas orang peng­awalnya!

Mereka terkejut namun sebagai orang-orang gagah yang sudah biasa menghadapi bahaya, mereka cepat mengelak dan mencabut senjata masing-masing. Semen­tara itu, Ceng Ceng yang masih memba­lapkan kudanya, tiba-tiba berteriak kaget, kudanya terjungkal roboh karena perut kuda itu telah robek dan tiba-tiba saja muncul seorang kakek yang tadinya bersembunyi di bawah pasir. Kakek kurus yang berjenggot pendek dan kuncir ram­butnya melibat leher.

Dengan amat cekatan Ceng Ceng me­loncat turun sewaktu kudanya terjungkal, akan tetapi tiba-tiba dia sudah diserang oleh kakek itu dengan pukulan-pukulan kedua tangan terbuka yang mendatangkan angin bersiutan, tanda bahwa kedua ta­ngan kakek itu mengandung tenaga sin-kang yang amat kuat! Ceng Ceng berte­riak marah, mengelak dan sudah menca­but keluar sepasang pisau belatinya, mem­balas dengan serangan-serangan dahsyat.

Jenderal Kao dan anak buahnya juga sudah menghadapi serbuan lima belas orang yang tadi bersembunyi di dalam pasir di bawah batu-batu besar. Mereka itu adalah orang-orang yang berkepandai­an tinggi yang sengaja didatangkan dari selatan untuk membunuh Jenderal Kao dan tiga belas orang pengawalnya. Na­mun, jenderal yang gagah perkasa itu berteriak-terlak seperti seekor singa, mengamuk dengan hebat bersama tiga belas orang pengawalnya yang setia sehingga lima belas orang pembunuh bayaran itu menjadi kewalahan, bahkan terde­sak hebat. Dua orang sudah roboh oleh pedang dan hantaman tangan jenderal perkasa itu.

Akan tetapi, tiba-tiba dari empat penjuru tampak pasukan datang berkuda. Biarpun jumlah mereka tidak banyak, namun setelah berkumpul, tidak kurang dari seratus orang anak buah suku bangsa liar mengepung tempat itu dan langsung menyerbu dan mengeroyok Jenderal Kao Liang dan anak buahnya!

Ceng Ceng menjadi terkejut bukan main. Kalau tadi dia merasa agak lega melihat betapa para penjahat hanya ber­jumlah belasan orang dan Jenderal Kao bersama anak buahnya adalah orang-orang pandai, sehingga tidak khawatir akan ka­lah, kini melihat datangnya seratus orang liar itu dia menjadi khawatir sekali. Ka­kek yang mendesaknya juga ternyata amat lihai.

“Haiiiiittttt….!” Ceng Ceng berteriak nyaring, kedua pisaunya menyambar dari kanan kiri, menyilang dengan gerakan berkelebat cepat seperti sambaran kilat. Menghadapi serangan dahsyat dan bertubi ini, kakek itu melompat mundur dan ke­sempatan ini dipergunakan oleh Ceng Ceng untuk lari menghampiri rombongan Jenderal Kao Liang.

Melihat gadis ini, Jenderal Kao ter­tawa, “Ha-ha-ha, kau hebat sekali, Nona! Benar-benar aku merasa kagum dan an­daikata kita gagal membasmi mereka ini, melihat Nona yang begini gagah perkasa merupakan penglihatan terakhir yang akan menjadi bekal menyenangkan ke alam baka!”

Diam-diam Ceng Ceng kagum sekali.

“Hyaaaattt….! Ceppp….! Desss….!” Dua orang Mongol roboh oleh pisau dan tendangan kakinya. Setelah merobohkan dua orang itu, sambil mengelak dan menangkisi hujan golok dan tombak, Ceng Ceng menjawab, “Kao-ciangkun, pembantu­mu itu, Kim-ciangkun, telah memberontak…. dia agaknya yang mengatur semua ini. Engkau dijebak….”

“Prakkk! Desss!” Dua orang pengero­yok roboh dengan kepala pecah dan leher hampir putus terkena hantaman tangan kiri Jenderal Kao dan sambaran pedang­nya.

“Hemm, sudah kuduga! Keparat tak mengenal budi, pengkhianat hina itu! Mari kita basmi anjing-anjing ini, Nona. Baru kita cari dan hancurkan kepala ma­nusia she Kim yang keparat itu!”

Kedua orang itu mengamuk, juga tiga belas orang pengawal setia. Akan tetapi, pihak musuh terlampau banyak. Biarpun mereka berhasil merobohkan puluhan orang musuh, namun akhirnya, seorang demi seorang roboh dan tewaslah tiga belas orang pengawal Jenderal Kao yang gagah perkasa dan setia itu. Hanya ting­gal jenderal itu bersama Ceng Ceng yang masih terus melakukan perlawanan, bahu-membahu dan saling melindungi. Mereka berdua pun sudah mengalami luka-luka dan pakaian mereka sudah ber­lepotan darah, darah para pengeroyok yang mereka tewaskan dan darah mereka sendiri!

Sepasang mata jenderal itu melotot lebar, penuh keganasan, akan tetapi mu­lutnya tersenyum setiap kali dia melirik ke arah Ceng Ceng. “Engkau hebat…. wah, engkau hebat….! Hanya tinggal kita berdua yang masih hidup. Mari klta berlomba, siapa yang lebih banyak mero­bohkan lawan. Ha-ha-ha!” Sambil tertawa-tawa jenderal itu memutar-mutar pedang­nya dengan dahsyat, sedangkan Ceng Ceng yang sudah lelah sekali itu pun menggerakkan kedua pisaunya untuk me­lindungi tubuhnya dan untuk mencari sa­saran pada tubuh para pengeroyoknya yang masih bersisa tiga puluh orang le­bih. Ternyata bahwa dalam perang kecil yang tidak seimbang ini, Jenderal Kao, Ceng Ceng, dan tiga belas orang pengawalnya telah berhasil merobohkan tujuh puluh orang lebih!

Namun, kedua orang tua dan muda yang gagah perkasa itu sudah terlalu le­lah dan terlalu banyak kehilangan darah yang keluar dari luka-luka mereka. Biar­pun jenderal itu masih tertawa-tawa membesarkan hati Ceng Ceng, namun gerakannya sudah lemah dan serbuan hebat dari kakek tua yang melawan Ceng Ceng tadi, dibantu oleh empat orang yang cukup lihai, membuat tangkisan pedang Jenderal Kao kurang kuat dan pedangnya terpental, terlepas dari tangan­nya.

Pada saat itu terdengarlah suara melengking panjang dan nyaring sekali, se­perti suara burung rajawali atau garuda yang sedang marah datangnya dari arah selatan. Namun, Ceng Ceng tidak sempat memperhatikan suara melengking nyaring itu karena dia terkejut bukan main meli­hat Jenderal Kao terguling roboh di de­kat Sumur Maut. Sebelum jenderal itu dapat bangkit kembali, dua orang menu­bruknya dan mengangkat tubuh jenderal itu, kemudian dilemparkan ke arah Sumur Maut yang siap untuk mencaplok apa saja yang memasukinya!

“Heiiiiittt….!” Ceng Ceng menyambit­kan dua batang pisaunya dan tepat sekali dua batang pisau itu menancap ke dalam lambung dua orang yang mengangkat tubuh Jenderal Kao, mereka roboh, akan tetapi tubuh jenderal itu sudah terlempar ke arah sumur!

Ceng Ceng berteriak keras, tubuhnya mencelat ke depan mendahului tubuh Jenderal Kao, kakinya menendang dan tubuh jenderal yang tinggi besar itu ber­hasil dapat ditendangnya, terpental keluar dari mulut Sumur. Akan tetapi, hasil yang menyelamatkan nyawa Jenderal Kao ini ditebus dengan pengorbanan diri Ceng Ceng sendiri. Karena menendang tubuh berat dalam keadaan masih meloncat, tubuh dara perkasa itu terjengkang dan tepat terjatuh masuk ke dalam mulut Sumur Maut yang terbuka lebar, gelap dan mengerikan!

“Nona Ceng Ceng….!” Jenderal Kao menjerit. Akan tetapi sia-sia saja, tubuh dara itu telah lenyap dan tidak terdengar apa-apa lagi dari dalam sumur.

“Keparat, kalian membunuhnya! Jaha­nam busuk, kalian harus mampus semua!” Jenderal itu dengan suara serak karena menahan keperihan dan keharuan hatinya melihat Ceng Ceng yang menolongnya menjadi korban terjeblos ke dalam Sumur Maut, berteriak seperti seekor singa terluka kemudian dengan kedua tangan kosong dia mengamuk seperti seekor na­ga marah. Hatinya terasa sakit bukan main. Dia merasa amat kagum melihat kegagahan Ceng Ceng, kekaguman yang menimbulkan rasa sayang kepada dara remaja itu. Tidak ada yang dapat menimbulkan kekaguman pada hati jenderal yang keras ini kecuali kegagahan, dan apa yang diperlihatkan oleh Ceng Ceng benar-benar menimbulkan kesan mendalam di hati jenderal ini. Sekarang, dia meli­hat dara itu tewas, terjeblos ke dalam Sumur Maut dan hal ini terjadi karena gadis itu menyelamatkannya. Tentu saja hal ini selain mendatangkan keharuan, juga membuat dia merasa sakit hati sekali, maka mengamuklah dia dengan ne­kat tanpa memperdulikan keselamatan dirinya sendiri! Pada saat itu, Kao Liang bukan lagi seorang jenderal yang selalu mempergunakan siasat dalam perang, melainkan seorang pria yang sakit hati melihat orang yang dikagumi dan disa­yangnya seperti anak sendiri, tewas di depan matanya!

Biarpun tubuhnya sudah luka-luka, namun dengan kedua tangan kosong jen­deral ini mengamuk dan robohlah bertu­rut-turut enam orang pengeroyok terde­kat. Akan tetapi, kini kakek lihai dan bebarapa orang temannya yang juga me­miliki kepandaian tinggi mengurungnya dan mendesaknya dengan serangan senja­ta mereka secara bertubi-tubi sehtngga Jenderal Kao terdesak hebat. Dalam be­lasan jurus saja panglima yang perkasa ini telah menderita luka-luka baru lagi. Dia sedikit pun tidak mengeluh, bahkan berteriak-teriak penuh kemarahan dan siap untuk mengadu nyawa.

Suara melengking nyaring terdengar dan keadaan menjadi kacau ketika tiba-tiba semua orang yang mengepung dan mendesak Jenderal Kao terlempar ke kanan kiri seperti disambar petir. Para pengeroyok terkejut melihat munculnya seorang pria setengah tua yang bercaping lebar, menggunakan capingnya itu untuk mengamuk dan siapa pun yang terdekat pasti roboh oleh tamparan capingnya itu! Senjata-senjata tajam beterbangan terle­pas dari pegangan pemiliknya disusul ro­bohnya para pengeroyok.

Melihat munculnya orang yang demi­kian lihainya, maklumlah para kaki ta­ngan pembecontak bahwa usaha mereka membunuh Jenderal Kao telah gagal. Timbul rasa gentar di hati mereka dan tanpa dikomando lagi, larilah sisa pem­berontak itu meninggalkan gelanggang di mana berserakan teman-teman mereka yang menjadi korban pengamukan Ceng Ceng, Jenderal Kao dan tiga belas orang pengawalnya, dan yang terakhir laki-laki bercaping lebar itu.

Orang itu bukan lain adalah Gak Bun Beng, pendekar yang sakti. Bersama Pu­teri Syanti Dewi, Gak Bun Beng tiba di tempat itu dan segera turun tangan me­nolong ketika melihat Jenderal Kao dike­royok banyak orang dalam keadaan terlu­ka. Tak lama kemudian, Syanti Dewi muncul pula dan wajah puteri itu mem­bayangkan kengerian menyaksikan banyak orang yang tewas dan terluka. Tempat itu bergelimang darah dan peuh dengan suara rintihan mereka yang terluka dan belum tewas.

Ketika Jenderal Kao melihat siapa yang telah menolongnya, dia menjadi gi­rang dan cepat menghampiri Gak Bu Beng. “Aha, kiranya kalian pula yang muncul dan menyelamatkan aku dari ancaman maut! Bukankah engkau ini sahabat Gak Bun Beng yang pernah kujum­pai di barat?”

Gak Bun Beng menjura dan berkata, “Benar, Kao-taigoanswe, saya adalah Gak Bun Beng yang datang bersama anak saya dan kebetulan dapat membantu goanswe menghadapi para pemberontak itu.”

“Terima kasih…. terima kasih, engkau memang gagah perkasa….” Tiba-tiba jenderal itu menghentikan kata-kata­nya, mendekati sumur dan melongok-longok ke dalam sumur, menarik napas panjang dan menggeleng-geleng kepala.

“Aihhhh…. sungguh kasihan…. menyesal bahwa engkau tidak datang lebih pagi, Gak-enghiong (orang gagah she Gak). Sayang dia, seorang gadis yang luar biasa, gagah perkasa dan berbudi, penuh kebe­ranian, muda, cantik dan pandai, terpak­sa harus mengalami nasib begini mengerikan….” Dengan kepalan tangannya, jenderal itu mengusap dua butir air mata dari bawah matanya!

Bun Beng mengerutkan alisnya. “Apa­kah maksudmu, Taigoanswe? Siapakah yang kaubicarakan itu?”

“Engkau tidak tahu dan tentu tidak mengenalnya. Dia seorang dara perkasa dari barat, dari Bhutan….”

Tiba-tiba Syanti Dewi meloncat ke de­pan jenderal itu dan dengan suara penuh wibawa dia bertanya, “Siapa dia? Siapa dara itu? Cepat katakan padaku!”

Jenderal Kao memandang heran. Sejak pertemuan pertama dahulu dia sudah me­rasa heran mengapa anak dari orang she Gak ini demikian cantik dan halus, demi­kian agung sikapnya, dan jelas pula bukan orang Han. Kini, menyaksikan sikapnya ketika bertanya, mengingatkan dia akan sikap puteri-puteri istana saja! Namun, karena tidak enak terhadap Gak Bun Beng, dia menjawab juga.

“Nona itu bernama Lu Ceng….”

Syanti Dewi menjerit, matanya terbe­lalak memandang ke Sumur Maut itu. “Lu Ceng….? Candra Dewi….? Dan…. dia…. dia…. di manakah dia….?”

Jenderal Kao makin kaget. Dengan mata masih menatap wajah Syanti Dewi penuh selidik, dia menjawab, “Untuk menolongku, dia telah mengorbankan dirinya dan terjatuh ke dalam sumur maut ini.”

Kembali Syanti Dewi menjerit dan sekali ini dia menjatuhkan diri berlutut di dekat sumur maut sambil menangis tersedu-sedu, Bun Beng juga terkejut karena dia sudah mengenal nama Lu Ceng atau Candra Dewi dari Puteri Bhu­tan ini. Akan tetapi Jenderal Kao yang menjadi terkejut dan terheran-heran. Sambil menghadapi Bun Beng dia berta­nya, “Gak-enghiong, apakah artinya ini?”

“Nona Lu Ceng adalah saudara angkat dari Puteri Syanti Dewi, dan terus terang saja, Tai-goanswe, yang menyamar sebagai anakku ini adalah Sang Puteri Syanti Dewi dari Bhutan yang dikejar-kejar pemberontak.”

“Ahhh….!” Jenderal Kao terkejut bukan main. Tentu saja dia sudah men­dengar pula akan nama Syanti Dewi, puteri raja Bhutan yang akan dijodohkan dengan Pangeran Liong Khi Ong dan yang hilang di dalam perjalanan ketika diboyong. Kiranya puteri ini masih sela­mat, tertolong oleh pendekar yang bernama Gak Bun Beng ini.

“Kao-goanswe, sudah lamakah nona itu terjerumus ke dalam sumur?” Gak Bun Beng bertanya setelah sejenak memandang ke arah sumur itu.

“Baru saja,” jawab jenderal itu dengan suara serak karena dia menjadi makin terharu setelah melihat Puteri Bhutan itu menangisi kematian Ceng Ceng.

“Kalau begitu, biar saya mencoba untuk mencarinya!” Gak Bun Beng cepat lari mencari tali yang banyak terdapat di antara para korban suku Bangsa Mongol karena mereka itu sudah biasa membawa tali untuk keperluan di dalam perantauan mereka, lalu menyambung-nyambung tali itu dan kembali ke dekat sumur di mana Jenderal Kao menantinya dengan heran.

“Gak-enghiong, apa yang akan kaula­kukan?” tanyanya.

“Saya hendak mencarinya di dalam sumur, harap Goanswe suka memegangi tambang ini agar dapat menolong saya kalau di bawah sana terdapat bahaya.”

“Aihh, harap Gak-enghiong jangan melakukan ini!” Jenderal itu berseru kaget. “Sumur ini terkenal sebagai sumur maut dan siapa saja, apa saja yang masuk ke dalamnya, tidak pernah keluar lagi.”

“Betapapun berbahayanya, saya akan mencoba untuk mencarinya dan setidak­nya memeriksa di sebelah dalam. Siapa tahu kalau-kalau nona Lu masih dapat ditolong.”

“Paman…. Paman Gak…. benar­kah saudaraku Candra Dewi masih dapat ditolong?”

“Mudah-mudahan saja.”

“Tapi…. tapi Paman sendiri? Ja­ngan-jangan akan terancam bahaya di bawah sana….” puteri itu bergidik ngeri. “Kalau berbahaya…. harap jangan turun ke sana….” Dia bangkit, menghampiri Gak Bun Beng dan meme­gang tangan pendekar itu.

Gak Bun Beng tersenyum. “Tenang­kanlah hatimu, Dewi. Di sini terdapat Kao-goanswe yang akan memegangi ujung tali. Andaikata aku terancam bahaya, masih dapat ditolong.”

Akhirnya jenderal itu dan Syanti Dewi tidak membantah lagi, melainkan memandang dengan mata terbelalak dan jantung berdebar penuh ketegangan ketika mere­ka melihat betapa Gak Bun Beng mulai menuruni sumur yang kelihatan menganga hitam dan tidak dapat dilihat dasarnya itu. Jenderal Kao memegangi ujung tali dengan kuat, mengulur tali sedikit demi sedikit ketika Bun Beng sudah mulai me­nuruni sumur. Sebentar saja, dua orang itu tidak lagi melihat bayangan Bun Beng yang lenyap ditelan kegelapan yang hitam pekat di dalam sumur itu. Syanti Dewi berlutut di tepi mulut sumur sambil me­mandang dan kedua tangannya dirangkap di depan dada karena diam-diam dia ber­doa demi keselamatan pendekar sakti itu dan demi tertolongnya Ceng Ceng.

“Aahhhhh….!” Tiba-tiba Jenderal Kao berseru kaget, wajahnya berubah dan cepat-cepat dia menarik tambang itu dengan kedua tangannya secepatnya. Tadi, ketika dia mengulur tambang sam­pai hampir habis, tiba-tiba saja tambang itu menegang dan terasa berat, tidak bergerak lagi! Syanti Dewi memandang terbelalak dan pucat mukanya.

Biarpun dia sudah terluka, jenderal itu masih kuat sekali sehingga sebentar saja dia sudah dapat menarik keluar tubuh Gak Bun Beng dari dalam sumur. Tubuh yang tergantung pada ujung tam­bang yang mengikat pinggangnya dan ternyata pendekar itu telah pingsan de­ngan muka pucat dan kulit muka serta leher dan kedua tangannya agak kehi­taman!

“Paman….!” Syanti Dewi hendak menubruk tubuh pingsan yang kini dire­bahkan di atas tanah itu, akan tetapi Jenderal Kao cepat mencegahnya.

“Harap paduka mundur, dia keracunan, biar kucoba menyadarkannya!”

Mendengar ini, Syanti Dewi yang ge­lisah sekali itu hanya dapat memandang dengan air mata bercucuran, sedangkan Jenderal Kao yang berpengalaman itu lalu menempelkan kedua telapak tangan di dada dan perut Gak Bun Beng, menge­rahkan sin-kangnya membantu pendekar itu untuk dapat bernapas lagi dan meng­usir hawa beracun dari dalam dadanya. Akhirnya Bun Beng dapat bernapas kembali dan mengeluh, lalu bangkit dan duduk, memegangi kepalanya yang terasa pening. Ketika dia membuka mata dan melihat Syanti Dewi menangis, dia ber­kata, “Tenanglah, Dewi. Aku tidak apa-apa.” Kemudian kepada Jenderal Kao dia berkata, “Di bawah sana gelap sama sekali, dan dalamnya sukar diukur. Selagi aku masih tergantung, tiba-tiba ada ter­cium bau yang aneh dan napasku menjadi sesak, lalu tidak ingat apa-apa lagi.”

Jenderal itu mengangguk-angguk. “Itu tentulah gas yang keluar dari dalam bumi. Sudah jelaslah nasib nona Lu…. kasihan dia….”

“Dia…. dia…. telah mati….” Syanti Dewi menangis lalu berlutut di tepi sumur. Sejenak mereka bertiga me­mandang ke dalam sumur dan seperti mengheningkan cipta. Barulah mereka sadar ketika terdengar derap kaki kuda dan muncullah pasukan dari benteng di bawah pimpinan seorang perwira yang setia terhadap Jedecal Kao. Perwira itu bernapas lega melihat atasannya selamat, kemudian menceritakan betapa wakil Panglima Kim telah melarikan diri begitu mendengar akan kegagalan rencananya. Juga dia melaporkan bahwa Pengawal Souw Kee It yang datang bersama Ceng Ceng ternyata telah dibunuh oleh Pang­lima Kim sendiri yang memimpin pembe­rontakan.

Jenderal Kao mengepal tinjunya. “Tak kusangka! Akan tetapi, aku bersumpah untuk menangkap dan menghukum jaha­nam she Kim itu!” Dia mendendam hebat karena menganggap bahwa kematian Ceng Ceng adalah gara-gara pengkhianatan Kim Bouw Sin. Bahaya yang mengancam dirinya sendiri, yang hampir menewaskan­nya, tidak teringat lagi olehnya karena sebagai seorang panglima yang telah pu­luhan tahun berkecimpung di dalam ketenteraan, ancaman maut baginya meru­pakan hal yang biasa saja. Akan tetapi kematian Ceng Ceng, hal itu sukar untuk dapat dilupakan oleh jenderal perkasa ini.

Jenderal Kao lalu mengajak Gak Bun Beng dan Puteri Syanti Dewi yang dili­puti kedukaan itu ke bentengnya untuk diajak berunding. Bagaimanakah Gak Bun Beng dan Syanti Dewi dapat datang di sumur maut dan berhasil menyelamatkan Jenderal Kao sungguhpun mereka agak terlambat sehingga tidak dapat menyela­matkan Ceng Ceng? Untuk mengetahui hal ini, sebaiknya kita mundur dulu untuk mengikuti perjalanan dan pengalaman mereka yang hebat-hebat sampai mereka tiba di sumur maut itu.

***

Seperti kita ketahui, Gak Bun Beng melakukan perjalanan dengan susah payah bersama Syanti Dewi, meninggalkan kota raja menuju ke timur karena pendekar sakti itu jatuh sakit keras setelah jan­tungnya terguncang hebat dalam perjum­paannya dengan kekasihnya, yaitu Puteri Milana yang kini telah menjadi isteri orang lain.

Perjalanan ke utara itu bukan main sukarnya bagi Syanti Dewi. Gak Bun Beng benar-benar terserang penyakit yang payah. Sakit luar dalam! Sakit badan karena dia mengalami pukulan-pukulan dahsyat dari Siang Lo-mo, iblis kembar yang amat lihai itu. Sakit hatinya karena perjumpaannya dengan Milana membuat hati yang terluka itu pecah kembali! Semua ini masih ditambah lagi oleh ke­haruan dan kegelisahan hatinya menyaksi­kan sikap Syanti Dewi kepadanya. Sikap seorang wanita muda yang membuat dia amat khawatir karena melihat gejala-gejala yang mencemaskan hatinya bahwa Puteri Bhutan itu telah jatuh cinta kepa­danya! Hal ini membuat penyakit dalam di hatinya makin parah dan otomatis membuat dia makin berhutang budi kepa­da puteri itu karena makin parah sakit­nya, makin tekun dan penuh ketelitian lagi sang puteri merawat dan menjaganya.

Luka yang diderita Bun Beng cukup parah, dan selama ini tidak diobati sama sekali, maka tentu saja keadaannya men­jadi bertambah parah dan lemah. Andaikata hatinya tidak terluka sehebat itu, tentu dengan kepandaiannya yang tinggi, pendekar ini mampu mengobati luka dalam akibat pukulan sepasang iblis itu. Akan tetapi, keadaan hatinya membuat dia seolah-olah tidak perduli lagi akan penderitaan tubuhnya. Andaikata tidak ada Syanti Dewi, tentu dia tidak mau melanjutkan perjalanan, dan akan menye­rah kepada nasib dan bersembunyi di dalam hutan.

“Dewi, kau banyak mengalami keseng­saraan…. aku membuat kau menjadi sengsara saja….”

“Paman, jangan berkata demikian.”

“Betapapun juga, aku harus dapat membawamu menghadap Jenderal Kao Liang, baru akan tenang rasa hatiku akan tetapi…. ah, kesehatanku makin memburuk, padahal perjalanan ini tidak boleh ditunda-tunda….”

“Jangan khawatir, Paman. Aku akan merawatmu….”

Akan tetapi keadaan Bun Beng makin memburuk sehingga pada suatu hari dia tidak kuat berjalan lagi! Pendekar ini maklum bahwa kalau sampai dia mati sebelum bertemu dengan Jenderal Kao Liang, Syanti Dewi akan hidup tanpa pengawal dan keselamatannya terancam.

“Dewi, kaubuatiah alat penyeret dari bambu…. kita harus melanjutkan per­jalanan….”

“Aduh, Paman…. sakitmu bertam­bah parah, bagaimana kita dapat melan­jutkan perjalanan? Marilah kita beristira­hat dulu di hutan ini, biar aku yang merawat sampai Paman sembuh baru kita melanjutkan perjalanan ini.”

“Tidak! Harus dilanjutkan sampai tiba di benteng Jenderal Kao! Setelah tiba di sana, tentu aku akan mendapat perawat­an dan pengobatan. Sebelum tiba di sana, bagaimana hatiku dapat tenteram?”

Sesungguhnya, Bun Beng ingin segera tiba di benteng Jenderal Kao adalah karena dia mengkhawatirkan keadaan Syanti Dewi, sama sekali bukan karena dia ingin memperoleh pengobatan. Ter­paksa Syanti Dewi tidak berani mtmban­tah dan gadis ini lalu membuat alat penyeret dan melanjutkan perjalanan sambil menyeret tubuh pendekar itu yang rebah telentang di atas anyaman bambu yang menjadi alat penyeret itu. Dapat dibayangkan betapa sukarnya dara itu melakukan perjalanan seperti ini. Padahal mereka melalui gunung-gunung dan daerah-daerah tandus, melalui jalan yang amat sukar. Seorang puteri raja yang biasanya hidup mewah dan segala dilayani, segala terse­dia, kini harus melakukan perjalanan sambil menyeret orang sakit seperti itu, mencari makan di tengah jalan yang tan­dus dan merawat orang sakit, dapat di­bayangkan betapa hebat penderitaannya. Namun, Syanti Dewi tidak pernah mengeluh dan selalu mendahulukan kepentingan Bun Beng daripada kebutuhan dirinya sendiri. Dia kurang makan, kurang tidur, kelelahan sampai tubuhnya menjadi kurus dan wajahnya agak pucat, kedua telapak tangannya yang memegang bambu seretan menjadi tebal dan kulit mata kakinya le­cet-lecet!

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Syan­ti Dewi sudah menyeret tubuh Bun Beng keluar dari sebuah hutan di mana sema­lam mereka bermalam di bawah pohon besar, dan kini dara itu mendaki daerah pegunungan yang penuh batu karang sehingga pagi-pagi sudah berpeluh. Tanah pegunungan penuh batu itu kelihatan tan­dus, pohon dan tetumbuhan tidak dapat hidup subur, apalagi pada waktu itu telah tiba musim kering sehingga rumput-rum­put pun menguning kering dan kehausan.

Ketika Syanti Dewi menuruni sebuah puncak batu karang dan tiba pada sebuah tikungan, tampaklah olehnya di depan, sebuah dataran dan dari jauh kelihatan gerakan beberapa orang yang sedang ber­tempur.

“Paman Gak, ada orang bertempur di depan sana!” dara itu berkata sambil berhenti.

“Hadapkan aku ke sana, Dewi.” Bun Beng berkata lirih.

Syanti Dewi memutar alat penyeret itu sehingga Bun Beng dapat melihat ke depan. Setelah memandang sebentar, pendekar sakti yang sedang sakit itu berkata, “Jalan saja terus dan jangan pedulikan mereka, Dewi. Biarpun si kecil itu dikeroyok tiga, dia tidak akan kalah.”

Syanti Dewi melanjutkan perjalanan­nya, matanya memandang ke arah orang-orang yang bertempur dan merasa heran sekali. Yang bertanding adalah empat orang dan merupakan pertempuran berat sebelah dan tidak adil karena seorang di antara mereka, seorang kanak-kanak, dikeroyok oleh tiga orang dewasa! Panas juga hati Syanti Dewi menyaksikan betapa seorang anak kecil yang melihat tinggi­nya tentu tidak akan lebih dari dua belas tahun usianya, yang hanya membawa se­batang ranting, dikeroyok oleh tiga orang tua yang gerakannya lihai bukan main. Akan tetapi anehnya, anak kecil itu sama sekali tidak kewalahan, bahkan dengan gerakan rantingnya yang amat cepat, yang dimainkan seperti sebatang pedang, anak itu berhasil mendesak tiga orang pengeroyoknya!

Karena Gak Bun Beng sudah menyu­ruhnya agar tidak memperdulikan mereka, maka ketika tiba di dataran itu, Syanti Dewi terus berjalan sambil menyeret tubuh pedekar yang sedang sakit itu, sama sekali tidak mengeluarkan suara dan bahkan tidak menengok ke arah em­pat orang yang bertempur itu.

Akan tetapi, ketika tiga orang lihai yang sedang mengeroyok anak kecil itu melihat Bun Beng dan Syanti Dewi, me­reka mengeluarkan seruan girang, melon­cat ke belakang menjauhi anak kecil yang mereka keroyok, lalu lari mengham­piri Syanti Dewi dan menjatuhkan diri berlutut di depan dara itu sambil meng­angkat kedua tangan memberi hormat. Tentu saja Syanti Dewi menjadi terkejut dan heran melihat ini, bingung karena tidak tahu apa artinya semua itu. Oto­matis dia berhenti.

“Dewi, hadapkan aku kepada mereka.” Bun Beng berkata lirih dan Syanti Dewi lalu memutar bambu penyeretnya sehing­ga pendekar itu rebah terlentang meng­hadapi tiga orang yang masih berlutut.

“Harap Lociapwe (orang tua yang ga­gah) sudi memaafkan kami bertiga yang tidak mengadakan penyambutan karena tidak tahu akan keadaan Locianpwe.” Se­orang di antara mereka, yang berkumis tebal, berkata dehgan sikap dan suara amat menghormat.

Bun Beng mengerutkan alisnya. Dia mengerti bahwa orang-orang ini tentulah “salah alamat” dan mengira dia seorang lain. Akan tetapi sebelum dia menjawab, dengan sekali gerakan kaki saja “anak kecil” itu sudah meloncat dekat dan seka­rang tampaklah oleh Syanti Dewi kenya­taan yang sudah dilihat oleh Bun Beng dari jauh tadi bahwa “anak kecil” itu se­betulnya bukanlah anak-anak lagi, mela­inkan seorang tua yang bertubuh kecll dan wajahnya kekanak-kanakan pula!

“Hei, kalian tiga orang Pek-san-pai (Perkumpulan Pegunungan Putih) yang pengecut! Hayo lanjutkan pertandingan kita, ataukah kalian hendak mengajukan orang mau mampus ini sebagai jago? Kalau benar demikian, hayo cepat maju dan lawanlah aku!”

Melihat orang tua bertubuh kanak-kanak ini yang bersifat sombong, Bun Beng mengurungkan niatnya untuk meng­aku bahwa tiga orang itu salah mengenai orang. Dia kini diam saja dan mendengarkan sambil melihat keadaan. Tiga orang itu cepat menoleh dan berkata kapada si kecil, “Engkau orang tua adalah jago undangan Hek-san-pai (Perkumpulan Pegu­nugan Hitam), akan tetapi hari ini bukan­lah saatnya kita bertanding. Engkau men­desak kami, sungguh ini melanggar per­aturan! Saat hari pertandingan adalah besok, di Jembatan Angkasa, akan tetapi mengapa kau mendesak kami?”

“Ha-ha-ha, katakan saja bahwa kalian takut! Pertandingan diadakan sekarang atau besok apa bedanya? Kalau kalian takut, lekas suruh ketua kalian maju, boleh juga kalau mengeroyok aku!”

Tiga orang itu kelihatan marah, akan tetapi juga tampak bahwa mereka itu memang merasa jerih menghadapi si kecil yang amat lihai itu, maka mereka kini memandang kepada Bun Beng dengan sinar mata penuh harapan. Melihat ini, Bun Beng dengan susah payah bangkit duduk di atas anyaman bambu itu, me­mandang kepada si kecil dan berkata, “Kalau aku boleh bertanya, benarkah sudah dijanjikan bahwa saat pertandingan adalah besok pagi di Jembatan Angkasa?”

Melihat sinar mata Bun Beng yang amat tajam dan suaranya yang penuh wibawa, si kecil itu kelihatan ragu-ragu dan menjawab, “Benar, memang saatnya besok di Jembatan Angkasa, akan tetapi kalau sama beraninya, sekarang pun, di tempat ini pun kita dapat mengadu ilmu, mengukur kegagahan!” Sambii berkata demikian, orang tua yang seperti anak-anak itu memutar ranting di antara jari-jari tangannya sehingga lenyaplah ranting itu, berubah menjadi segulungan sinar hijau.

“Sobat,” Gak Bun Beng berkata dengan suara halus namun sikapnya serius dan pandang matanya berwibawa, “seorang yang gagah perkasa tidak akan memamer­kan kegagahannya, seorang yang mengerti tidak menonjolkan pengertiannya. Akan tetapi engkau terlalu mengandalkan kepan­daianmu sehingga tidak lagi memandang kepada orang lain. Seorang yang jantan akan selalu memegang janji yang dihargai­nya lebih dari nyawa, akan tetapi engkau agaknya lebih suka melanggar janji antara dua partai. Kegagahan seseorang bukan­lah diukur dari keberaniannya berkelahi, karena sesungguhnya keberanian berkelahi yang nekat dan konyol hanyalah membuk­tikan bahwa dia dihantui rasa takut dan khawatir. Takut kalah, khawatir dianggap tidak gagah, khawatir tidak akan dipuji, khawatir tidak akan memperoleh nama besar, dan sebagainya lagi. Sobat yang baik, apakah engkau yang menurut per­cakapan tadi adalah seorang jago undang­an dari Hek-san-pai, ingin disebut seorang yang nekat dan hanya berani karena me­rasa lebih kuat, dan seorang yang suka melanggar janji?”

Wajah si kecil itu sebentar pucat sebentar merah. Ranting di tangan kanan­nya menggigil, tangan kirinya yang kecil dikepal-kepal, matanya berapi dan dia sesungguhnya marah sekali. Akan tetapi karena apa yang diucapkan orang sakit itu tak dapat dibantah kebenarannya, sampai lama dia tidak mampu menjawab. Akhirnya dia membanting ranting di atas tanah, diinjaknya dan dia meludah di ta­nah, lalu berkata, “Orang berpenyakitan! Aku menunggu kedatanganmu di atas Jembatan Angkasa besok. Hendak kulihat apakah kepandaianmu selihai mulutmu. Huhh!” Dia membalikkan tubuhnya dan dengan beberapa kali loncatan saja si kecil itu sudah lenyap dari tempat itu.

Gak Bun Beng menarik napas panjang dan diam-diam merasa menyesal sekali karena kata-katanya yang dimaksudkan untuk menyadarkan orang bertubuh kecil itu, ternyata hanya mampu mengurungkan niat orang kecil itu untuk memaksa tiga orang lawannya berkelahi, akan tetapi bahkan mendatangkan rasa dendam di hati si orang kecil. Dia memandang ke­pada tiga orang yang masih berlutut di depannya, lalu bertanya, “Harap sam-wi (saudara bertiga) sudi menjelaskan apakah sebenarnya yang telah terjadi di sini?”

Syanti Dewi merasa lega juga melihat bahwa pamannya berhasil mengusir orang kecil tadi tanpa pertandingan, maka dia pun lalu duduk di atas tanah dekat pa­mannya, mendengarkan penuturan orang berkumis tebal yang ternyata adalah suheng (kakak seperguruan) dari dua orang lainnya.

Di pegunungan itu tinggal dua orang kakak dan adik seperguruan yang berke­pandaian tinggi. Akan tetapi karena guru mereka menurunkan ilmu-ilmu kepada mereka disesuaikan dengan bakat masing-masing, timbullah rasa iri hati di dalam hati masing-masing, mengira bahwa guru mereka lebih sayang kepada saudara se­perguruannya. Perasaan iri hati dan ber­saing ini terus tumbuh dengan subur dan setelah guru mereka meninggal dunia, kedua orang kakak beradik ini berpisah dan akhirnya si suheng (kakak seperguru­an) tinggal di Hek-san (Gunung Hitam) sedangkan si sute (adik seperguruan) tinggal di Pek-san (Gunung Putih). Hek-san dan Pek-san sebetulnya masih satu daerah pegunungan, hanya berbeda pun­cak yang berwarna hitam dan putih. Hek-san berwarna hitam karena batu ka­rang hitam yang keras memenuhi puncak itu, sedangkan Pek-san berwarna putih karena puncaknya banyak mengandung batu kapur. Kedua orang lihai ini akhir­nya menerima murid-murid dan berdiri­lah dua buah perkumpulan yang dinama­kan menurut nama puncak masing-masing yaitu Hek-san-pai dan Pek-san-pai.

Persaingan atau permusuhan secara diam-diam itu berlangsung terus dan akhirnya meledak menjadi permusuhan terbuka karena mereka yang kini mem­punyai banyak anggauta itu membutuhkan air untuk keperluan sehari-hari dan teru­tama sekali untuk keperluan sawah ladang mereka. Padahal air yang amat dibutuh­kan itu hanya terdapat di bawah Jemba­tan Angkasa yang merupakan sumber yang tak pernah kering. Terjadilah ben­trokan-bentrokan kecil memperebutkan air, yang kemudian makin lama menjadi makin hebat sehingga kakak dan adik seperguruan itu sendiri turun tangan sen­diri bertanding di atas jembatan gantung, disaksikan oleh para murid mereka! Be­tapapun juga, kedua orang ini masih ingat akan sumpah mereka di depan men­diang guru mereka bahwa mereka dilarang keras untuk saling membunuh, maka dalam pertandingan ini mereka berdua menjaga agar jangan sampai lawan yang masih saudara seperguruan sendiri itu tewas! Akhirnya, sang sute kalah dan menderita luka-luka. Karena dia tidak dibunuh, maka dia menaruh dendam dan menantang untuk bertanding lagi setahun kemudian.

Demikianlah, permusuhan yang aneh ini berlangsung terus sampai dua tiga keturunan mereka. Setiap tahun diadakan pertandingan di antara mereka, jago me­lawan jago untuk menentukan siapa yang unggul. Mereka yang menang dianggap menguasai mata air di bawah Jembatan Angkasa dan menentukan pembagian air untuk keperluan mereka sampai ada ke­putusan tahun depan dalam pertandingan mendatang!

“Hari pertandingan tahun ini jatuh pada hari besok, Locianpwe,” si kumis tebal mengakhiri ceritanya. “Telah ber­tahun-tahun lamanya, karena ingin men­capai kemenangan, kedua pihak tidak puas dengan jago golongan sendiri dan mulailah mendatangkan jago dari luar kalangan sendiri. Tahun ini, pihak Hek-san-pai telah mendatangkan jago orang yang bertubuh kecil tadi, yang berjuluk Sin-kiam Lo-thong (Anak Tua Pedang Sakti). Baru menggunakan ranting saja, kami bertiga murid-murid kepala Pek-san-pai tidak dapat menandinginya, apa­lagi kalau dia menggunakan pedang!”

“Hemm, lalu mengapa kalian yang ti­dak mengenalku begitu berjumpa telah memberi hormat berlebihan?”

“Biarpun belum pernah bertemu, kami tahu bahwa Locianpwe tentulah Sin-ciang Yok-kwi (Setan Obat Tangan Sakti) dari puncak Ci-lan-kok (Lembah Bunga Ci­lan). Ketua atau guru kami telah mengun­dang Locianpwe, maka begitu Locianpwe muncul kami telah mengenal Locianpwe yang tahun ini diundang oleh suhu (guru) sebagai jagoan kami.”

Bun Beng tersenyum. Kiranya orang-orang ini telah salah menduganya sebagai seorang tokoh yang bernama Sin-ciang Yok-kwi dan yang dicalonkan sebagai jago pihak Pek-san-pai. Dia tidak ingin mencampuri urusan ini, akan tetapi kare­na melihat bahwa orang kecil tadi me­mang lihai dan tentu pihak Pek-san-pai akan kalah, dia ingin melihat perkembangan lebih jauh. Pula, timbul niat di hatinya untuk mengusahakan perdamaian di antara perkumpulan yang masih bersaudara itu.

“Aku bukan Sin-ciang Yok-kwi, akan tetapi aku kebetulan lewat dan biarlah aku akan menonton besok. Kalau Yok-kwi yang kalian tunggu itu tidak muncul, aku akan mengusahakan agar tidak ada pertumpahan darah.”

Tiga orang itu girang sekali. Biarpun mulut mereka tidak mengatakan sesuatu namun pandang mata mereka saling ber­temu dan saling maklum. Bagi mereka, tidak salah lagi bahwa tentu orang sakti ini adalah Sin-ciang Yok-kwi! Ciri-cirinya sama! Biarpun mereka belum pernah jumpa dengan kakek setan obat itu, na­mun kabarnya Yok-kwi adalah seorang yang berpenyakitan dan yang sama seka­li tidak pernah mau mengakui namanya sendiri, tidak mau mengaku sebagai Sin-ciang Yok-kwi! Tentu saja mereka tidak pernah dapat melihat Yok-kwi, karena kabarnya kakek yang tinggal sebagai pertapa di puncak Ci-lan-kok itu watak­nya aneh luar biasa. Orang-orang sakit yang datang kepadanya, pasti sembuh. Akan tetapi orang waras yang berani datang, tentu akan dihajarnya sampai menjadi sakit! Karena itu tidak ada orang waras yang suka atau berani naik ke puncak Ci-lan-kok.

Bun Beng tak membantah ketika ber­sama Syanti Dewi dia diajak pergi ke puncak Pek-san-pai di mana dia disam­but dengan segala kehormatan oleh ketua Pek-san-pai sendiri, seorang laki-laki ber­usia lima puluh tahun lebih yang bertu­buh tinggi besar dan gagah.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi se­kali ketua Pek-san-pai mengajak rombong­annya, juga Bun Beng dan Syanti Dewi, pergi ke Jembatan Angkasa. Empat orang anggauta Pek-san-pai memanggul alat penyeret bambu di mana Bun Beng rebah diikuti oleh Syanti Dewi.

Jembatan Angkasa itu adalah bangun­an batu karang hitam kuat yang menyam­bung satu tepi jurang dengan tepi yang lain, bentuknya seperti jembatan gantung! Jembatan buatan alam ini memang ajaib dan patut dinamakan Jembatan Angkasa karena orang yang melalui jembatan ini berada di tempat tinggi seperti terbang saja melalui tangga awan. Dan tepat di kolong jembatan batu ini terdapatlah sum­ber atau mata air yang dijadikan perebut­an dan bahan pertentangan. Kini semua pihak telah berkumpul, pihak Hek-san-pai di ujung kiri Jembatan Angkasa dan pihak Pek-san-pai di ujung kanan. Seper­ti biasa pada tiap pertemuan pertanding­an itu, sebelum masing-masing jago kedua pihak maju bertanding, terlebih dahulu dua orang ketua masing-masing perkumpulan maju dan bertemu di atas jemba­tan.

Ketua Pek-san-pai sudah mendaki jembatan dan disambut oleh ketua pihak Hek-san-pai yang masih terhitung suheng­nya sendiri. Keduanya bertemu, mengangkat tangan memberi hormat dan ketua Pek-san-pai berkata, “Apakah tahun ini Suheng sebagai ketua Hek-san-pai tetap tidak mau mengalah dan hendak mengu­asai mata air?”

Ketua Hek-san-pai yang mukanya se­perti seekor orang hutan dan hidungnya pesek, tersenyum mengejek. “Tentu saja, Sute. Memang selamanya kami dari Hek-san-pai yang seharusnya menguasai mata air itu.”

“Hemm, kalau begitu, Suheng menan­tang untuk diadakan pertandingan?”

“Tentu saja! Kami sudah mempunyai jago kami, yaitu Sin-kiam Lo-thong!”

“Dan kami juga sudah mengundang jago kami, Sin-ciang Yok-kwi!”

Sin-kiam Lo-thong yang berdiri di ujung kiri jembatan sudah tertawa-tawa dan meraba-raba gagang pedangnya. Se­mentara itu, Syanti Dewi mendengarkan penjelasan seorang anggauta Pek-san-pai tentang sebab permusuhan itu, tentang sumber mata air dan tentang jalannya pertandingan yang ada pantangannya, yaitu tidak boleh membunuh lawan dan siapa yang roboh dianggap kalah dan kekalahan ini harus diterima oleh pihak partai yang menjagoi yang kalah itu.

“Pamanku bukan Sin-ciang Yok-kwi,” kata Syanti Dewi karena dia khawatir sekali melihat Bun Beng yang sedang sa­kit itu hendak disuruh bertanding.

Pemuda Pek-san-pai itu hanya terse­nyum. “Tentu saja bukan….” katanya karena dia pun sudah mendengar bahwa Sin-ciang Yok-kwi tidak pernah mau me­ngaku sebagai Sin-ciang Yok-kwi. “Akan tetapi tanpa bantuan locianpwe itu, pihak kami tentu akan kalah lagi. Sudah lima tahun berturut-turut pihak kami kalah selalu karena Hek-san-pai pandai mencari jago-jago yang lihai. Bahkan tahun ini, jagonya yang berdiri di sana itu amat li­hai.” Pemuda itu menuding ke arah Sin-kiam Lo-thong yang tampak dari situ seperti seorang anak kecil yang berdiri di atas batu.

Karena merasa tidak ada gunanya bersikeras menyangkal, akhirnya Syanti Dewi bertanya, “Di manakah tempat bertapa Sin-ciang Yok-kwi?”

Pemuda itu memandang kepadanya sambil tersenyum, seolah-olah dia meng­anggap dara ini main-main, akan tetapi dia tidak berani untuk tidak menjawab, maka dia lalu menunjuk ke arah sebuah puncak lain yang tidak berapa jauh dari Jembatan Angkasa itu. “Di puncak sana itulah tempat pertapaan tabib dewa itu.”

“Benarkah bahwa dia pandai mengobati segala macam penyakit?”

Pemuda itu mengangguk. “Sepanjang pendengaranku, belum pernah ada orang sakit yang tidak dapat disembuhkannya.”

Percakapan itu terpaksa berhenti karena Syanti Dewi melihat betapa Gak Bun Beng, dengan langkah-langkah lemah dan agak terhuyung, telah naik ke atas Jembatan Angkasa.

“Paman….!” Serunya lirih dan dia meninggalkan pemuda Pek-san-pai itu lari ke jembatan batu.

Gak Bun Beng berhenti, menengok dan memberi isyarat kepada Syanti Dewi agar tidak ikut naik. Dara itu tidak berani membantah, berdiri di kaki jem­batan sambil memandang ke atas, muka­nya pucat sekali dan pandang matanya penuh kekhawatiran.

Gak Bun Beng menghampiri dua orang ketua yang saling berdebat di atas Jem­batan Angkasa itu. Melihat orang yang menderita sakit ini telah maju, Sin-kiam Lo-thong juga berlari-lari mendatangi dari ujung jembatan yang lain.

“Ha-ha-ha, engkau yang disebut Sin-ciang Yok-kwi? Majulah kalau memang engkau dijadikan jago oleh Pek-san-pai, melawan aku Sin-kiam Lo-thong jago Hek-san-pai!” Kakek bertubuh kanak-kanak itu menantang.

Bun Beng sudah tiba di atas jembatan, berdiri tegak dan mengatur pernapasan­nya, kemudian berkata dengan suara halus namun kata-katanya mengejutkan semua orang, terutama ketua Pek-san-pai, “Cu-wi sekalian, memang aku datang dan melihat urusan ini timbul keinginan hatiku untuk mencampurinya. Akan tetapi, aku sama sekali tidak mewakili Pek-san-pai, tidak mewakili atau membantu ke­dua pihak, karena aku adalah pihak ke tiga yang membutuhkan tempat dan sum­ber air ini!”

“Apa katamu….?” ketua Hek-san-pai membentak dengan mata melotot.

“Locianpwe…. apa…. apa artinya ini….?” Ketua Pek-san-pai juga bertanya heran.

“Keparat! Manusia berpenyakitan hampir mampus ini ternyata pengacau! Baik kubasmi dia!” Sin-kiam Lo-thong berteriak marah dan untuk memperlihatkan kelihaiannya dan mencari jasa, dia sudah mencabut pedangnya dan menyerang Gak Bun Beng dengan tusukan kilat!

“Hemm….” Pendekar ini mengge­ram. Biarpun tubuhnya lemah dan sebelah dalam dadanya nyeri, namun sekali ini dia mengerahkan sin-kang, dia dapat me­ngelak cepat dan tangan kirinya menam­par ke arah sinar pedang yang berkelebat.

“Krekkkk! Aughhhh….!”

Pedang itu kena dihantam tangan miring Gak Bun Beng dan patah menjadi dua potong, bahkan sebuah tusukan jari tangan kanan yang cepat mengenai jalan darah di pundak Sin-kiam Lo-thong, mem­buat kakek bertubuh kecil itu terjeng­kang dan roboh tak dapat bangun kemba­li karena sudah tertotok lumpuh!

“Bawa dia pergi….!” Bun Beng berseru ke arah anak buah Hek-san-pai yang cepat berlari-lari datang dan dua orang itu lalu menggotong pergi Sin-kiam Lo-thong yang masih lumpuh kaki ta­ngannya.

Dua orang ketua itu saling pandang, kemudian mereka menghadapi Gak Bun Beng dengan alis berkerut. “Sebetulnya, apakah kehendakmu?” ketua Hek-san-pai yang melihat jagonya roboh itu bertanya.

“Locianpwe, bukankah Locianpwe me­wakili kami sehingga kini fihak Pek-san-pai yang menang?” tanya ketua Pek-san-pai penuh harap.

Gak Bun Beng memandang mereka dengan mulut tersenyum mengejek. “Aku tidak mewakili siapa-siapa. Sudah kukata­kan bahwa aku mewakili diriku sendiri untuk memperebutkan tempat ini berikut sumber airnya.”

“Ahhh! Akan tetapi tempat ini adalah warisan dari nenek moyang kami kedua perkumpulan! Kami kakak beradik seper­guruan saja yang berhak atas tempat ini!” bantah ketua Pek-san-pai yang me­rasa kecewa sekali.

Bun Beng memperlebar senyumnya. “Kakak beradik seperguruan macam apa kalian ini? Kalau kalian sudah mempere­butkan tempat ini dan setiap tahun ber­tanding, biarlah aku juga memperebutkan­nya. Akan tetapi alangkah curangnya kalau untuk kepentingan sendiri harus mengundang jagoan-jagoan bayaran. Hayo, kalian kakak beradik yang membutuhkan tempat ini majulah bersama melawan aku. Kalau kalian kalah, tempat ini men­jadi milikku dan untuk keperluan air, ka­lian boleh membeli atau menyewa dariku. Kalau aku yang kalah, nah, tempat ini menjadi milik kalian berdua, keperluan air kedua pihak tentu dapat dicukupi tanpa adanya permusuhan dan perebutan.”

Dua orang saudara seperguruan yang sudah beberapa keturunan menjadi musuh karena air itu kini saling pandang. Mere­ka menjadi ragu-ragu dan penasaran. Urusan jembatan dan air adalah urusan dalam antara mereka sendiri, dan kini muncul orang luar yang hendak merampas tempat itu dan memaksakan diri masuk ke dalam perebutan turun-temurun itu!

“Apakah kalian ini telah menjadi orang-orang yang demikian pengecut, beraninya hanya ribut antara saudara sendiri dan takut untuk menentang orang luar?” Bun Beng berkata lagi, nadanya amat menghina sehingga wajah kedua orang ketua itu menjadi merah.

“Siapa takut? Kami hanya menghor­matimu karena nama besarmu sebagai Sin-ciang Yok-kwi….” kata ketua Pek­san-pai.

“Aku bukan Yok-kwi (Setan Obat) atau setan apa pun. Aku adalah Gak Bun Beng seorang perantau yang ingin memi­liki jembatan dan sumber air ini. Kalau kalian takut, sudah saja kalian bayar sewa tahunan kepadaku untuk mengguna­kan air di sini. Kalau berani, majulah!”

“Keparat, tempat ini akan kami per­tahankan dengan nyawa!” bentak ketua Hek-san-pai.

“Bagus, kalau begitu majulah kamu berdua. Akan tetapi, kalian harus ingat akan pertaruhan dan janjinya. Kalau aku menang, kalian menjadi penyewa tempat ini dan membayar kepadaku. Kalau aku yang kalah, kalian harus berdamai dan tidak lagi memperebutkan tempat ini, memakainya sebagai milik bersama.”

Kedua orang ketua itu sudah menjadi marah sekali. Dari kanan kiri mereka maju menyerang Bun Beng. Pendekar ini diam-diam merasa gembira karena siasat­nya berhasil baik. Maka dia juga berge­rak dan menangkis tanpa mengerahkan tenaganya karena tadi begitu dia menge­rahkan sin-kang ketika menghadapi Sin-kiam Lo-thong, dadanya terasa makin nyeri. Biarpun kini dia tidak mengerah­kan sin-kangnya, akan tetapi karena dia harus mengelak ke sana ke mari dan menangkisi pukulan-pukulan kedua orang ketua yang juga memiliki ilmu kepandai­an cukup tinggi itu, Bun Beng merasa betapa kepalanya pening. Akhirnya, pukul­an ketua Hek-san-pai mengenai dadanya sedangkan pukulan ketua Pek-san-pai mengenai punggungnya. Bagi tubuh Bun Beng yang sudah memiliki daya tahan dan kekebalan luar biasa, pukulan-pukulan itu tidak berbahaya, namun cukup kuat untuk membuat kepalanya yang sudah pening menjadi makin pening, pandang matanya gelap dan robohlah dia dalam keadaan pingsan!

“Kalian manusia-manusia berhati ke­jam….!” Tiba-tiba Syanti Dewi berlari naik ke atas jembatan menudingkan te­lunjuknya ke arah muka kedua orang ke­tua itu dengan marah. “Butakah mata kalian?”

Kedua orang ketua itu terheran-heran. Tadinya mereka siap menghadapi dara ini karena mereka menyangka bahwa dara itu akan menuntut balas atas kekalahan Gak Bun Beng. Kini mereka saling pan­dang dan bingung.

“Sudah jelas bahwa paman Gak senga­ja hendak memaksa kalian agar berdamai dan menghentikan permusuhan ini, per­musuhan bersifat kanak-kanak yang me­malukan! Paman Gak sengaja mengalah dan mengorbankan dirinya agar kalian menang dan berdamai. Kalau tidak, apa­kah kiranya kalian berdua akan dapat menang menghadapinya? Tidak kalian lihat tadi betapa dalam segebrakan saja dia mampu mengalahkan Sin-kiam Lo-thong? Buta! Kalian buta dan tidak me­ngenal budi!” Setelah berkata demikian, Syanti Dewi lalu berlutut dekat Gak Bun Beng.

Dua orang ketua itu terbelalak seperti disambar petir rasanya. Baru sekarang mereka mengerti. Mereka pun otomatis berlutut dekat tubuh Bun Beng yang masih pingsan.

“Maafkan kami, Nona. Biarlah kami menolong dan merawat locianpwe ini….” kata ketua Pek-san-pai.

“Kami memang bodoh dan locianpwe telah memberi pelajaran hebat kepada kami dengan mengorbankan diri. Maafkan kami, Nona. Kami akan berusaha mera­wat dan mengobatinya.”

Syanti Dewi bangkit berdiri. “Apakah di antara kalian terdapat ahli pengobatan yang pandai?”

Dua orang ketua itu saling pandang, kemudian menggeleng kepala.

“Kalau begitu, tolong bawa paman Gak ke rumah, aku akan pergi menemui Sin-ciang Yok-kwi di Ci-lan-kok.”

Kembali kedua orang ketua itu terte­gun. “Jadi…. benarkah locianpwe ini bukan Sin-ciang Yok-kwi?”

“Kalian memang bodoh dan buta kare­na permusuhan picik ini. Dia adalah pa­man Gak Bun Beng yang sedang sakit dan kebetulan lewat di tempat ini. Aku mau pergi mencari Yok-kwi!”

Syanti Dewi sudah hendak lari ketika dua orang ketua itu berseru “Tahan dulu, Nona!”

“Ada apa lagi?”

“Sebaiknya kalau Gak-locianpwe diba­wa saja ke puncak Ci-lan-kok menghadap dan mohon bantuan Sin-ciang Yok-kwi. Kalau Nona pergi ke sana mengundang­nya, tentu beliau tidak mau bahkan amat berbahaya bagi keselamatanmu.”

“Tidak! Paman Gak sedang menderita dan sakit berat, mana mungkin dibawa naik puncak? Aku akan mencarinya, me­nemuinya dan memintanya turun puncak mengobati paman Gak. Kalian rawat paman Gak baik-baik!” Tanpa menanti jawaban lagi Syanti Dewi lari meninggalkan jembatan itu, tidak memperdulikan peringatan dan cegahan kedua orang ketua itu. Setelah mengadakan permufakatan, akhirnya Gak Bun Beng yang pingsan itu digotong ke tempat tinggal ketua Pek-san-pai dan selanjutnya kedua orang ketua yang masih terhitung kakak beradik seperguruan itu bersama-sama merawat Bun Beng dan nampak rukun sekali. Me­lihat ini, otomatis para anak murid atau anak buah mereka menjadi girang dan tanpa diperintah mereka itu pun menjadi rukun, berkelompok dan bercakap-cakap seperti sahabat-sahabat lama baru saling berjumpa lagi.

Di puncak lembah Ci-lan-kok terdapat sebuah kuil tua yang sudah rusak. Kuil ini ratusan tahun yang lalu dihuni oleh para tosu yang bertapa di tempat itu, dan sekarang telah kosong tidak dipergu­nakan lagi. Akan tetapi semenjak bebe­rapa tahun yang lalu, kuil yang dikabar­kan orang berhantu itu mendapatkan se­orang penghuni baru yang amat aneh. Seorang kakek bertongkat yang menderita sakit, tidak perah kelihatan sehat, akan tetapi hebatnya, kakek berpenyakitan ini memiliki kepandaian yang amat tinggi dalam ilmu pengobatan. Mula-mula yang diobatinya adalah anak-anak penggembala kerbau yang sampai di lereng Ci-lan-kok, kemudian beberapa orang penebang kayu dan pemburu yang terluka. Lama kelamaan banyak orang sakit yang datang kepa­danya. Memang hebat kepandaian kakek ini. Hampir tidak ada penyakit yang tak dapat disembuhkannya dan cara mengobatinya juga amat aneh. Memang sebagi­an besar dari mereka yang datang minta obat kepadanya, diberi obat ramuan daun, bunga, buah dan akar-akaran. Akan tetapl ada kalanya dia menyuruh orang makan tanah, ada yang diludahi, ada yang ditam­par pundak atau dadanya, ada yang dito­tok, ada pula yang dipukul kepalanya dengan tongkat sampai benjol, akan te­tapi apa pun yang diberikan oleh tangan­nya atau dilakukan dengan tangannya, orang yang sakit menjadi sembuh kem­bali! Inilah sebabnya, biar dia tidak per­nah menyebutkan namanya, dia segera memperoleh julukan Sin-ciang Yok-kwi (Setan Obat Bertangan Sakti), karena si­kap dan wataknya memang aneh seperti setan, dan tangannya dianggap sakti.

Dia disebut setan karena memang aneh wataknya. Orang yang menderita sakit, kalau menghadap kepadanya, tentu diObatinya biarpun secara luar biasa dan kadang-kadang menyakitkan hati. Akan te­tapi orang waras yang berani menghadapinya sekedar ingin melihat dan mengenalnya, tentu akan diamuknya, menjadi korban pukulan tongkatnya sehingga orang yang waras itu akan lari lintang-pukang dengan kepala benjol-benjol dan tubuh sakit-sakit! Dan ternyata bahwa ilmu silat kakek itu juga hebat, karena banyak di antara mereka yang dihajar itu sendiri orang-orang yang berkepandaian tinggi, namun yang sama sekali tidak berdaya mengha­dapi hajaran tongkat kakek berpenyakitan itu!

Pada hari itu, seperti biasa, Sin-ciang Yok-kwi duduk bersandar pada dinding di luar kuil, di bawah sebatang pohon besar yang tumbuh di depan kuil. Kakek ini duduk bersandar dengan mata masih me­ngantuk, memegang tongkatnya yang ga­gangnya bengkok dan yang dipakai meno­pang dagunya. Kelihatannya dia masih mengantuk dan lemas sekali, bahkan ka­dang-kadang terdengar dia mengeluh dan merintih seperti orang yang menderita penyakit berat. Kedua kakinya tidak bersepatu dan pakaiannya yang cukup bersih itu amat sederhana. Melihat wajahnya yang sudah penuh keriput, agaknya kakek ini tentu sudah ada enam puluh tahun usianya.

Matahari telah naik tinggi ketika dari lereng puncak Ci-lan-kok muncul belasan orang. Melihat keadaan mereka, jelas tampak bahwa mereka adalah orang-orang yang menderita sakit. Ada yang terhu­yung-huyung, ada yang dipapah, ada yang digotong dan ada yang mengerang dan terengah-engah. Ketika mereka melihat kakek yang mereka harapkan akan dapat menyembuhkan penderitaan mereka itu berada di luar kuil, mereka berhenti. Biarpun mereka itu mengandung harapan untuk disembuhkan, namun nama kakek yang tersohor aneh dan galak ini membu­at mereka takut dan seolah-olah ingin orang lain menghadap lebih dulu. Seperti serombongan orang yang menderita sakit gigi antri di depan kamar periksa dokter gigi! Ingin diobati namun ngeri membayangkan cara pengobatan yang menyiksa.

Seorang di antara mereka, yang masih muda, mengangkat dadanya lalu dengan langkah lebar menghampiri kakek itu, kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan Sin-ciang Yok-kwi yang masih memejamkan mata bersandar dinding butut.

“Locianpwe, saya mohon pertolongan Locianpwe untuk menyembuhkan penderi­taan saya, sesak di dada dan lambung kiri….” Orang muda itu berkata sam­bil berlutut.

Perlahan-lahan mata itu terbuka, me­mandang tak acuh kepada pemuda yang berlutut di depannya. “Huh, kau berkela­hi?” tiba-tiba bibir kakek itu bergerak dan pertanyaan penuh celaan ini membuat pemuda itu menundukkan mukanya.

“Benar, Locianpwe, akan tetapi saya tidak bersalah, saya….”

“Sudah berkelahi berarti bersalah! Kalau sudah berani berkelahi, terluka, tanggung saja sendiri!”

“Harap Locianpwe mengasihi saya…. dada ini terasa sakit bukan main kalau bernapas….”

“Sudahlah! Engkau memang kurang mendapat pukulan!” Tiba-tiba tangan kiri kakek itu meraih ke depan, ujung kuncir rambut pemuda itu yang menggantung di depan telah dipegangnya dan ditariknya sehingga kepala pemuda itu tertarik, tu­buhnya membungkuk, lalu tongkat itu bergerak memukul punggung si peemuda.

“Dukkkk….! Uakkhh….!” Pemuda itu muntahkan darah dan roboh menelung­kup di depan kaki Yok-kwi. Matanya ter­belalak dan mukanya menjadi merah. Dia marah sekali dan cepat dia bangkit duduk lalu meloncat bangun, kedua tangannya dikepal.

“Locianpwe….! Aihhh…. dadaku…. sudah tidak terasa sakit lagi….!” Pemuda itu berloncat-loncatan dengan girangnya biarpun bibirnya masih berle­potan darah.

“Pergilah!” Kakek itu mengangkat tongkatnya hendak memukul dan pemuda itu lari dari tempat itu sambil tertawa-tawa girang.

Mereka yang menyaksikan cara pe­ngobatan itu menjadi makin ngeri sehing­ga diam-diam mereka yang merasa bah­wa penyakitnya tidak berat, segera meninggalkan tempat itu, menuruni puncak tidak berani berobat! Kini yang berlutut di depan kakek itu adalah sepasang suami isteri. Usia mereka tiga puluh tahun lebih, si suami bertubuh gendut dan tiada hentinya mengusap keringat yang mem­basahi dahi dan lehernya, sedangkan iste­rinya yang cantik dan bertubuh montok cemberut karena suami itu kelihatannya jerih dan agaknya dipaksa menghadap Yok-kwi. Dengan tarikan-tarikan tangan­nya, isteri itu mendesak agar si suami cepat bicara kepada Yok-kwi. Suami itu kelihatan ketakutan dan sukar mengeluar­kan kata-kata, keringatnya makin banyak. Maka terjadilah tarik-menarik tangan antara mereka di depan kakek yang sudah melenggut lagi itu. Akhirnya, setelah isteri itu mencubit lengan suaminya se­kerasnya, si gendut itu berteriak kesakit­an dan Yok-kai membuka matanya me­mandang.

“Ada apa kalian ini?” tegurnya.

Laki-laki gemuk itu terkejut dan makin ketakutan, memberi hormat dengan memukul-mukulkan dahi ke atas tanah sambil berkata, “Mohon maaf, Locianpwe…. saya…. eh, kami…. mohon obat kepada Locianpwe…. agar kami berdua…. dapat dikurniai anak….”

Sejenak kakek itu memandang kepada mereka bergantian, lalu bertanya kepada wanita itu, “Benarkah engkau ingin mem­punyai anak?”

Dengan muka berubah merah se­kali wanita itu tanpa berani meng­angkat mukanya menjawab lirih, “Benar…. Locianpwe….”

Kakek itu memukulkan tongkatnya ke atas tanah di dekat si suami, membuat si gendut ini terkejut dan ketakutan. “Kalau ingin mempunyai anak kau harus tidur dengan laki-laki lain!”

Jawaban ini tentu saja mengejutkan suami isteri itu, dan menggelikan hati semua orang, namun tidak ada yang be­rani tertawa. Suami yang gendut itu membentur-benturkan dahinya di atas ta­nah, lalu berkata gagap, “Akan tetapi…. Locianpwe, ini…. ini adalah….”

“Pergi! Lekas! Atau kuketuk kepala kalian dengan tongkat ini!” bentak kakek itu marah-marah.

Si isteri memegang tangan suaminya dan menariknya pergi dari situ. “Hayo cepat pergi….” bisiknya.

Suami gendut itu menurut, dan pergi­lah mereka, suara mereka masih terde­ngar karena mereka agaknya mulai cek-cok. “Kau tergesa-gesa hendak mencari pria lain, ya?” terdengar si suami me­ngomel.

“Cih! Kau yang tak becus!” isterinya membantah.

“Awas kau kalau tidur dengan laki-laki lain….!”

“Sshhhh, manusia tak tahu malu! Di­dengar orang, tahu tidak?”

Orang-orang yang berada di situ ter­senyum geli juga mendengar percekcokan suami isteri itu dan diam-diam merasa heran akan sikap kakek yang sudah me­lenggut pula itu. Tentu saja mereka ti­dak tahu bahwa dua kali pengobatan itu sudah membuktikan kelihaian Yok-kwi. Pemuda tadi telah disembuhkanya dengan cara pukulan sin-kang yang sekaligus me­ngusir bahaya dari dalam tubuh si pemuda dan memunahkan akibat dari pukulan yang membuat pemuda itu mengalami cidera di dalam tubuhnya. Adapun kata-katanya kepada suami isteri itu memang atas dasar kenyataan bahwa menurut penglihatannya yang tidak ngawur mela­inkan menurut perhitungan dan pengalam­an, suami gendut itu memang tidak da­pat memberikan benih keturunan kepada isterinya. Jawaban itu mungkin terdengar tidak sopan dan bahkan kurang ajar dan memang demikianlah watak aneh dari Yok-kwi, namun sebenarnya memang tepat, karena wanita yang bertubuh sehat dan montok itu pasti bisa memperoleh keturunan kalau tidur dengan pria lain yang normal, tidak seperti suaminya!

Setelah beberapa orang yang sakit diobati oleh Yok-kwi dengan cara-caranya yang istimewa, akhirnya tampak sepasang suami isteri berlutut menghadap kakek itu. Si suami yang bertubuh tinggi besar dan biarpun usianya sudah lima puluh ta­hun namun mukanya terpelihara bersih, pakaiannya pun rapi, berwajah pucat dan datang ke tempat itu dipapah oleh isterinya yang baru berusia tiga puluhan tahun, cantik dan bersikap genit penuh daya pikat.

“Locianpwe, mohon sudi mengobati suami saya yang menderita sakit sudah berbulan-bulan,” berkata si isteri sambil berlutut.

Kakek itu memandang laki-laki pucat itu sampai beberapa lama, kemudian me­ngerling ke arah si isteri lalu memben­tak, “Apa kau ingin membunuh suamimu?”

Isteri itu terkejut bukan main, demi­kian pula suaminya. “Apa…. apa maksud Locianpwe?” isteri itu bertanya gagap sedangkan si suami memandang isterinya dengan alis berkerut.

“Kalau tidak ingin membunuh suami­mu, tinggalkan dia kalau malam. Harus pindah kamar sampai tiga bulan lamanya!” Tiba-tiba tangan kanan kakek itu me­nyambar sebutir batu, melemparkan batu kecil ke atas pohon dan jatuhlah seekor burung, mati karena kepalanya disambar batu. “Masak ini dengan arak, tim yang empuk lalu makan habis. Setiap hari harus makan burung seperti ini dengan arak, sampai sebulan. Nah, pergilah!”

Suami isteri itu tidak banyak cakap lagi, menerima bangkai burung dan meng­haturkan terima kasih, cepat pergi dari tempat itu dengan muka merah. Di antara sisa mereka yang hendak berobat, ada yang tersenyum geli. Itulah resikonya seorang laki-laki tua mempunyai isteri muda sekali, pikirnya.

Akhirnya semua orang telah menerima giliran berobat dan yang terakhir sekali seorang dara cantik jelita berlutut di de­pan kakek itu. Yok-kwi memandang de­ngan alis berkerut kepada Syanti Dewi, kemudian berkata galak, “Kau tidak sakit! Kalau kau lekas menikah tentu akan ter­obat rindu di hatimu terhadap pria yang kaucinta! Hayo pergi, kalau bukan seorang anak perempuan, sudah kupukul kepa­lamu!”

Syanti Dewi sudah mendengar akan watak aneh dari kakek ini, bahkan tadi dia telah menyaksikan cara-cara kakek ini mengobati orang. Biarpun dia merasa gentar juga, namun demi keselamatan Bun Beng, dia tidak akan mundur dan bahkan dia telah memperoleh akal untuk mengundang kakek ini agar suka mengo­bati Gak Bun Beng. Betapapun juga, kata-kata kakek itu mengejutkan hatinya dan membuat dia sejenak termenung dengan muka berubah merah. Dia rindu terhadap pria yang dicintanya?

“Hayo pergi….!” Kakek itu mem­bentak dan bangkit berdiri karena dia ingin masuk ke dalam kuil kembali sete­lah semua orang itu pergi.

“Maaf, Locianpwe. Memang saya tidak sakit dan kedatangan saya ini untuk me­nyaksikan sendiri kabar yang saya dengar tentang kepandaian Locianpwe yang kata­nya setinggi langit. Akan tetapi saya ke­cewa melihat cara Locianpwe mengobati orang tadi. Apalagi melihat keadaan Lo­cianpwe sendiri jelas bukan orang waras dan menderita sakit hebat, saya makin tidak percaya.”

Yok-kwi memandang Syanti Dewi de­ngan alis berkerut dan mata terbelalak penuh kemarahan. Sebagai seorang yang berpengalaman dan tajam penglihatannya, dia sekali pandang saya sudah mengenal orang. Dia tahu bahwa wanita muda ini bukan orang sembarangan, gerak-geriknya halus, kata-katanya teratur dan sopan, sikapnya agung. Jelas bukan wanita sem­barangan. Akan tetapi mengapa ucapan­nya seolah-olah sengaja hendak menghina dan merendahkannya?

“Nona, aku tidak tahu engkau siapa dan apa perlumu datang ke tempat ini. Akan tetapi ketahuilah, biarpun aku tidak biasa membuat propaganda seperti tukang jual obat di pasar, aku menantang semua penyakit di dunia ini! Orang yang mende­rita penyakit apapun, asal dia belum mampus, tentu dapat kuobati sampai sembuh!” Suara kakek itu keren dan ma­rah sekali karena kelemahannya telah di­singgung oleh Syanti Dewi dan memang inilah tujuan dara yang cerdik itu. Syan­ti Dewi adalah seorang wanita yang sejak kecil dididik dengan kebudayaan tinggi dan kesopanan dalam istana sehingga otomatis dia memiliki sifat dan sikap yang amat halus. Akan tetapi di balik ini semua terdapat kecerdikan luar biasa, maka melihat sikap dan watak kakek Yok-kwi, dia sudah lantas dapat mengambil sikap yang tepat agar keinginannya terkabul dan pancingannya berhasil untuk menarik kakek ini pergi mengobati Gak Bun Beng.

“Mungkin saja ucapan Locianpwe itu benar, akan tetapi bagaimana saya bisa tahu bahwa Locianpwe tidak hanya men­jual kecap? Buktinya, kalau Locianpwe dapat mengobati semua penyakit asal orangnya belum mati, mengapa Locianpwe tidak bisa mengobati diri sendiri yang menderita sakit berat?”

Kakek itu makin marah. “Bocah lan­cang mulut! Tentu saja aku tidak bisa mengobati diriku sendiri. Orang bisa saja melihat kesalahan orang lain dengan amat jelasnya, akan tetapi melihat kesa­lahan sendiri tidak mungkin! Orang bisa saja melihat keburukan dan cacat cela orang lain dengan amat mudah, akan tetapi tidak mungkin melihat keburukan diri sendiri. Mudah saja untuk menasehati orang lain, akan tetapi tidak bisa mena­sehati diri sendiri. Maka, apa salahnya kalau aku mampu mengobati orang lain akan tetapi tidak mampu mengobati diriku sendiri? Apa perdulimu dengan itu semua?”

Diam-diam, biarpun merasa gentar hatinya, Syanti Dewi makin girang karena makin marah kakek ini, makin mudahlah memancingnya untuk pergi turun puncak mengobati Bun Beng yang amat dia kha­watirkan keselamatannya itu.

Syanti Dewi sengaja tersenyum meng­ejek, kemudian berkata, “Locianpwe, ha­rap jangan marah-marah dulu. Kedatang­anku ini memang sengaja hendak melihat kelihaian Locianpwe karena saya amat tertarik sekali. Keadaan Locianpwe sama benar dengan keadaan pamanku. Pamanku juga seorang yang amat ahli dalam ilmu pengobatan, tidak ada penyakit yang tak dapat disembuhkannya, dan saya percaya dia masih lebih pandai daripada Locian­pwe, sedikitnya tentu tingkatnya lebih tinggi satu dua tingkat! Akan tetapi ce­lakanya seperti Locianpwe pula, dia juga menderita penyakit yang dia tidak mampu obati sendiri. Maka saya sengaja datang untuk menantang Locianpwe mengadu ilmu dengan pamanku itu yang kini berada di rumah ketua Pek-san-pai.”

“Tidak sudi! Kau hanya memancing agar aku mengobati dia! Huh, setelah kau bersikap kurang ajar, masih mengha­rapkan aku menyembuhkan pamanmu? Dia tentu seorang undangan dari pihak Pek-san-pai untuk menghadapi jagoan Hek-san-pai, bukan? Huh, aku sudah tahu semua tentang mereka. Pergilah dan biar pamanmu mampus! Aku tidak sudi meng­obatinya!”

Dapat dibayangkan betapa perih rasa hati Syanti Dewi. Sudah bersusah payah dia berlagak dan menggunakan muslihat, namun tetap tidak berhasil. Betapapun juga, dia tidak putus harapan dan me­nyembunyikan perasaan hatinya. Kakek yang tadinya girang melihat dara itu terpukul dan mengharapkan dara itu akan menangis, menjadi terkejut melihat dara itu kini tersenyum lagi, bahkan berkata nyaring dengan nada penuh ejekan, “Locianpwe, kalau kau takut, katakan saja ta­kut! Pamanku bukanlah orang undangan Pek-san-pai maupun Hek-san-pai. Pamanku seorang pendekar sakti yang berilmu tinggi, dia bukan hanya tidak memihak, malah dia berhasil mendamaikan Pek-san-pai dan Hek-san-pai sehingga mulai sekarang tidak akan ada lagi perang di antara keduanya. Pamanku berhasil men­damaikan dan menginsyafkan mereka. Akan tetapi melihat pamanku sakit dan Locianpwe juga sakit dan memiliki keadaan yang sama, maka aku sengaja datang menantang Locianpwe untuk mengadu ke­pandaian.”

“Apa….?” Kakek itu memukulkan tongkatnya ke atas sebongkah batu dan batu itu pecah berhamburan dan bunga api berpijar. Syanti Dewi terkejut sekali melihat kakek itu marah-marah. “Paman­mu telah mendamaikan mereka? Celaka tiga belas! Pamanmu jahat bukan main! Pamanmu dengki dan jahat!”

Biarpun dia takut, namun mendengar Gak Bun Beng dimaki-maki, Syanti Dewi menjadi marah. “Harap Locianpwe tidak sembarangan memaki orang! Pamanku adalah seorang pendekar sakti yang bu­diman, yang telah mengakurkan dua pihak yang masih bersaudara seperguruan itu dari permusuhan. Mengapa Locianpwe malah memakinya jahat dan dengki?”

“Bodoh….! Bodoh….! Mengapa aku sampai susah payah tinggal di sini, mendekati Hek-san-pai dan Pek-san-pai kalau tidak ada permusuhan tahunan itu? Permusuhan itu menimbulkan banyak korban yang terluka, baik yang ringan maupun yang berat. Sekarang, pamanmu lancang dan dengki, menghentikan permu­suhan dan berarti tidak akan ada pertem­puran lagi. Bukankah itu berarti aku akan kehabisan langganan orang yang sa­kit terluka?”

Mengertilah kini Syanti Dewi dan ma­kin heran dia akan jalan pikiran kakek yang aneh ini. Pandangan kakek itu be­nar-benar aneh dan menyeleweng dari umum, tidak lumrah.

Syanti dewi kembali tersenyum. “Me­mang agaknya pamanku sengaja berbuat demikian, akan tetapi Locianpwe akan dapat berbuat apa? Dalam ilmu pengobat­an pun, Locianpwe akan kalah. Aku be­rani tanggung bahwa pamanku akan sang­gup menyembuhkan penyakit yang diderita Locianpwe .”

“Omong kosong!”

“Mari kita buktikan saja! Mari, kalau Locianpwe berani ikut bersama saya dan coba Locianpwe mengobati pamanku, ke­mudian baru pamanku mengobati Locian­pwe. Hendak kulihat siapa di antara kalian yang lebih sakti!”

Terbakar juga hati Yok-kwi oleh sikap dan kata-kata Syanti Dewi. “Baik! Aku pasti akan datang mengusir penyakitnya, akan tetapi kalau dia tidak mampu menyembuhkan penyakitku, dia akan kubu­nuh dan mungkin kau juga.”

“Boleh, itu taruhanku!” jawab Syanti Dewi girang dan dara ini berlari cepat turun dari puncak, diikuti oleh Yok-kwi yang berjalan dibantu tongkatnya.

Ketua Pek-san-pai dan ketua Hek-san-pai yang masih berada di situ me­nyambut dengan heran dan girang, juga kagum melihat bahwa Syanti Dewi benar-benar berhasil mengajak Yok-kwi turun puncak. Karena nama besar Yok-kwi yang berwatak aneh itu, semua orang memandang dengan segan dan takut, bahkan mereka tidak berani marah ketika kakek itu memasuki pondok tanpa mem­balas penghormatan mereka, bahkan tidak mengacuhkan mereka yang dianggapnya seperti arca saja. Dia langsung mengikuti Syanti Dewi memasuki ruangan besar di mana tubuh Bun Beng yang tadinya ping­san itu dibaringkan.

“Paman….!” Syanti Dewi lari meng­hampiri pembaringan itu dan Bun Beng yang sudah siuman mengangkat muka, tersenyum kepada Syanti Dewi.

“Dewi, apa yang kaulakukan? Ke mana kau pergi….?”

“Aku mengundang Sin-ciang Yok-kwi, Paman. Nah, ini dia sudah datang.”

Bun Beng menengok dan kedua orang sakti itu saling bertemu pandang. Diam-diam Bun Beng terkejut melihat kakek aneh itu, karena dia dapat melihat sinar aneh dari wajah kakek bertongkat itu. Sebelum Bun Beng sempat membuka mu­lutnya, Yok-kwi yang sudah marah sekali dan memandang rendah kepadanya, sudah melangkah maju dan berkata, “Keponakan­mu ini menyombongkan kepandaianmu dan menantangku untuk menandingimu tentang ilmu pengobatan. Biarlah kuobati kau lebih dulu, baru kau mengobati aku, kalau kau mampu!” Tanpa menanti jawab­an, Yok-kwi lalu berdiri tegak, matanya terpejam, pernapasannya seperti terhenti seketika. Kalau Syanti Dewi dan yang lain-lain memandang heran, adalah Bun Beng yang memandang kagum karena dia maklum bahwa kakek itu telah mengerah­kan seluruh panca inderanya untuk mengumpulkan tenaga murni. Kemudian, Yok-kwi membuka matanya yang kini mengeluarkan cahaya berkilat, dan tong­katnya sudah bergerak mengetuk-ngetuk dan menotok-notok seluruh tubuh Bun Beng, dari ujung kaki sampai ubun-ubun kepala! Tentu saja Syanti Dewi terkejut dan khawatir, akan tetapi melihat Bun Beng tersenyum saja hatinya menjadi lega.

“Ahhh….!” Sin-ciang Yok-kwi tiba-tiba berseru kaget ketika dengan tangan kirinya dia menekan-nekan dada dan perut Bun Beng. Yang mengejutkan hati­nya itu adalah karena dia merasa betapa dari dalam pusar orang yang sakit itu keluar tenaga sakti yang amat kuat, yang kadang-kadang panas kadang-kadang dingin, namun kedua macam inti tenaga Yang dan Im itu luar biasa kuatnya. Tahulah dia bahwa dara itu tidak berbo­hong dan memang orang yang sakit ini bukanlah seorang manusia biasa melain­kan seorang yang memiliki kesaktian he­bat! Maka dia pun tidak berani main-main lalu memeriksa keadaan Gak Bun Beng lebih teliti lagi.

Orang-orang yang melihat cara kakek itu memeriksa orang sakit, biarpun hati mereka gentar terhadap kakek aneh yang galak itu, namun mereka merasa geli di dalam hati mereka. Sin-ciang Yok-kwi memang luar biasa. Dia memeriksa tubuh Bun Beng bukan hanya dengan mengetuk sana-sini dengan tongkatnya, memijat sana-sini dengan tangannya, juga dia meng­gunakan hidungnya untuk mencium-cium sana-sini dengan cuping hidung kembang kempis, malah akhirnya dia menjilat ke­ringat di leher Gak Bun Beng, lalu meng­gerak-gerakkan mulut dan matanya terpejam seperti tingkah seorang yang men­cicipi masakan apakah cukup asinnya!

“Aihhh, luka dalam dadanya memang hebat dan akan mematikan orang yang bertubuh kuat sekali pun. Akan tetapi dia dapat bertahan, sungguh luar biasa!” Akhirnya dia berkata, “Bagi dia, luka itu tidak membahayakan, yang lebih hebat adalah keruhnya hati dan pikiran. Akan tetapi, aku bukan seorang ahli pengobat­an yang pandai kalau tidak mampu me­nyembuhkan penyakit macam ini saja!” Kakek itu lalu menuliskan resep yang terdiri dari bahan yang aneh-aneh, sung­guhpun tidak sukar untuk dicari. Di antara banyak daun, buah, bunga dan akar pohon dan tetumbuhan, juga terdapat arang kayu dan tujuh ekor kutu rambut dalam resep itu!

“Beri dia minum ini pasti sembuh. Sepekan kemudian aku menanti dia di puncak Ci-lan-kok!” kata kakek itu lalu pergi dari situ menyeret tongkatnya tanpa memperdulikan ucapan-ucapan te­rima kasih dari Syanti Dewi dan dua orang ketua perkumpulan.

Akan tetapi tentu saja Syanti Dewi tidak memperdulikan sikap kakek aneh itu karena dia sudah cepat-cepat mem­persiapkan obat seperti yang tertulis dalam resep. Dengan bantuan dua orang ketua Pek-san-pai dan Hek-san-pai, akhir­nya dalam hari itu juga terkumpullah se­mua bahan resep yang lalu dimasak oleh Syanti Dewi sampai airnya tinggal semangkuk, lalu setelah dingin diminumkan kepada Gak Bun Beng.

Pendekar itu masih berada dalam ke­adaan setengah pingsan, hanya teringat sedikit saja apa yang terjadi. Akan te­tapi setelah minum obat itu, sinar muka­nya yang tadinya pucat kekuningan ber­ubah menjadi agak merah. Dengan penuh ketekunan Syanti Dewi, dibantu dua orang ketua, merawat dan meminumkan obat menurut resep Sin-ciang Yok-kwi dan da­lam waktu lima hari saja Gak Bun Beng sudah sembuh sama sekali!

Pada pagi hari ke enam, ketika pen­dekar ini terbangun dengan tubuh yang ringan dan nyaman, masuklah dua orang ketua Pek-san-pai dan Hek-san-pai, bersama Syanti Dewi.

“Paman, kau sudah sembuh….!” Syanti Dewi berseru girang sambil duduk di tepi pembaringan.

“Hemm, berkat perawatanmu yang baik, Dewi.”

“Juga berkat bantuan kedua orang Pa­man Ketua, Paman Gak.”

“Ahh, kalau begitu aku berhutang budi kepada Ji-wi (Kalian berdua),” kata Gak Bun Beng kepada kedua orang itu sambil mengangkat kedua tangan yang dirapat­kan itu di depan dada.

“Ah, Taihiap…. kamilah yang harus berterima kasih.” Dua orang itu serta merta menjatuhkan diri berlutut di depan Gak Bun Beng. Pendekar ini terkejut dan cepat dia menggunakan kedua tangannya untuk mengangkat bangun mereka itu.

“Jangan begitu, mari duduk dan kita bicara dengan baik,” kata Gak Bun Beng dan setelah mereka duduk di atas bangku-bangku dalam kamar itu, Bun Beng ber­kata lagi. “Syukur bahwa kalian sudah sadar dan dapat hidup rukun sebagai saudara seperguruan.”

Keduanya menjura. “Kami telah sadar berkat bantuan Taihiap. Memang selama puluhan tahun kami berdua hidup sebagai musuh. Sungguh memalukan sekali. Se­karang kami insyaf dan kami akan ber­usaha menjadi orang baik-baik.”

Gak Bun Beng menghela napas pan­jang. “Ji-wi harus mengerti bahwa ke­baikan tidak dapat diusahakan. Yang penting adalah menginsyafi dan menyadari akan keburukan kita sehingga semua ke­burukan itu hilang. Sumber air itu adalah pemberian alam, untuk siapa saja yang membutuhkan, cukup banyak. Mengapa harus diperebutkan? Lebih baik diusaha­kan agar airnya dapat mengalir di tem­pat-tempat yang membutuhkannya.”

Dua orang ketua itu mengangguk-angguk. Akan tetapi, sungguh sayang bahwa mereka itu kurang memperhatikan sehingga tidak dapat menangkap arti dari kata-kata Gak Bun Beng yang pertama kali tadi seperti juga manusia pada umumnya tidak pernah sadar akan keada­an dirinya sendiri seperti apa adanya. Mata ini tidak pernah dipergunakan untuk memandang keadaan diri sendiri sehingga mengenal diri pribadi saat demi saat, melainkan dipakai untuk merenung jauh ke depan, memandang, melihat dan men­jangkau hal-hal yang belum menjadi ke­nyataan.

Dua orang itu berjanji akan berusaha menjadi orang-orang baik! Dapatkah ke­baikan itu diusahakan dan dipelajari? Ke­baikan barulah sejati kalau menjadi sifat, seperti harum pada bunga. Kebaikan yang telah berada dalam diri manusia menun­tun semua gerak-gerik perbuatan si ma­nusia itu sehingga segala yang dilakukan­pun tentu baik tanpa disadari lagi bahwa itu adalah kebaikan. Sebaliknya, kebaikan yang dipelajari, dilatih dan diusahakan, hanyalah akan menjadi pengetahuan bela­ka dan kalaupun ada perbuatan yang dianggap baik oleh orang yang memaksakan kebaikan dalam perbuatannya,, maka ke­baikan itu hanyalah menjadi suatu cara untuk mencapai suatu tujuan, dan kare­nanya menjadi kebaikan palsu. Seperti kedok belaka. Kalau kita melakukan se­suatu yang kita anggap suatu kebaikan, tentu tersembunyi pamrih tertentu, baik pamrih lahir maupun batin di balik per­buatan yang kita lakukan itu. Dan ke­baikan yang diusahakan, yang berpamrih, bukanlah kebaikan namanya, melainkan palsu, hanya merupakan cara atau jem­batan untuk memperoleh yang dipamrih­kan tadi. Kebaikan seperti itu serupa de­ngan seorang anak yang menyapu lantai dengan tekun dan bersih, namun pekerjaannya itu dilakukan karena dia mengingat bahwa ibunya akan memujinya, ayahnya tidak akan memarahinya kalau dia me­nyapu dengan baik. Baginya yang penting bukanlah menyapu lantai dengan bersih, melainkan ingin dipuji ibunya dan agar tidak dimarahi ayahnya. Sungguh jauh bedanya dengan kalau anak itu menyapu lantai dengan bersih karena memang dia CINTA AKAN PEKERJAANNYA ITU, karena dia memang suka melakukan pe­kerjaan itu tanpa pamrih apa-apa, bahkan dia tidak ingat lagi bahwa dia melakukan itu!

Kebaikan adalah suatu sifat. Tidak dapat diusahakan atau dilatih. Yang penting adalah mengenal diri sendiri, mem­buka mata memandang keadaan diri sendiri. Kalau kita ingin menjadi orang baik, hal ini terdorong oleh kenyataan bahwa kita tidak baik, bukan? Daripada menge­jar kebaikan, lebih baik kita menyadari akan ketidakbaikan kita, akan kekotoran kita. Kesadaran dengan pengertian men­dalam ini akan menghentikan segala ke­tidakbaikan dan kekotoran itu, dan kalau sudah tidak ada ketidakbaikan lagi di dalam diri kita, perlukah kita berusaha menjadi baik? Kalau sudah tidak ada kekotoran di dalam diri kita, perlukah kita mencari kebersihan? Tidak perlu lagi, karena baik dan bersih itu sudah menjadi sifat setelah kejahatan dan ke­kotoran lenyap.

“Aku hanya ingat secara samar-samar tentang seorang kakek yang mengobati­ku. Dia datang bersamamu, Dewi. Siapa­kah dia?” Bun Beng bertanya kepada Syanti Dewi.

“Memang, dia adalah Sin-ciang Yok-kwi, Paman. Dialah yang mengobati Pa­man sampai sembuh. Akan tetapi dia itu orang gila, wataknya aneh dan mengeri­kan. Hanya dengan susah payah dan de­ngan akal saja aku berhasil mengajak dia ke sini mengobati Paman.”

“Aihh, kalau begitu aku harus mengun­junginya dan menghaturkan terima kasih kepadanya.” Bun Beng berkata sambil bangkit berdiri.

“Saya kira tidak usah, Paman. Jangan-jangan dia malah akan menimbulkan ke­ributan baru!” Syanti Dewi lalu mence­ritakan akalnya menantang Sin-ciang Yok-kwi yang akan “diadu” dalam hal ke­saktian dengan pamannya, akal yang di­pergunakan untuk memancing Kakek Se­tan Obat itu agar mau mengobati Bun Beng.

Mendengar penuturan Puteri Bhutan itu, hati Bun Beng terharu sekali. Puteri yang berwatak halus itu sampai rela me­maksa diri menjadi seorang pembohong dan penipu besar hanya karena ingin me­nolongnya! Dia lalu memegang tangan puteri itu dan berkata, “Jangan khawatir, kita harus pergi ke Ci-lan-kok. Ji-wi, kami akan pergi sekarang. Mari, Dewi!”

Kedua orang ketua itu tidak dapat mencegah dan mereka bersama anak buah mereka hanya memandang dengan khawatir ketika melihat dua orang itu mendaki puncak Ci-lan-kok untuk mene­mui Sin-ciang Yok-kwi yang mereka ta­kuti. Di tengah perjalanan menuju ke puncak itu, Syanti Dewi berkata, “Pa­man, perlukah kita menjumpainya? Aku telah membohonginya dan mengatakan bahwa Paman adalah seorang ahli pengo­batan pula. Tentu dia akan marah-marah dan aku takut kalau-kalau hal ini akan menimbulkan sesuatu yang tidak menye­nangkan, Paman.”

“Tenanglah, Dewi. Aku memang bukan seorang ahli pengobatan, akan tetapi aku melihat sesuatu ketika dia memerik­saku. Samar-samar aku masih ingat bah­wa tubuh kakek itu mengeluarkan hawa beracun yang amat berbahaya. Kalau be­nar demikian, aku harus menolongnya.”

Syanti Dewi terkejut. “Begitukah? Ah, kalau demikian, memang seharusnya Pa­man menolongnya!”

Gak Bun Beng menghentikan langkahnya dan memandang dara itu penuh ka­gum. Makin lama dia mengenal Puteri Bhutan ini, makin kagumlah hatinya, ma­kin menonjol dan tampak olehnya sifat-sifat baik dara ini, makin jelas pula tampak olehnya kasih sayang bersinar keluar dari dalam hati dara itu melalui sinar matanya dan senyumnya, dalam kata-katanya. Dan makin gelisahlah dia!

“Syanti Dewi, kau baik sekali. Selama ini…. ah, takkan terlupakan selama hidup­ku, engkau telah bersusah payah untukku, merawatku, membawaku lari dari kota raja melalui perjalanan yang sukar, mem­bawa aku yang sedang sakit, kemudian mempertaruhkan nyawa memancing se­orang aneh seperti Sin-ciang Yok-kwi untuk mengobatiku….”

“Sshhh…., cukuplah, Paman. Diantara kita, kalau mau bicara tentang kebaikan, takkan ada habisnya karena siapakah yang menyelamatkan nyawaku, siapa yang selama ini kugantungi harapanku, yang menjadi pelindungku, menjadi pembelaku? Apa yang kulakukan untuk Paman tidak ada artinya sama sekali dan memang sudah seharusnya. Kita hanya berdua, kalau tidak saling bantu, habis bagaima­na? Pula…. yang penting sekarang ini, asal Paman sudah sembuh kembali, aku sudah merasa girang bukan main. Soal-soal lain tidak perlu dibicarakan lagi, Paman.”

Mereka saling pandang. Dua pasang mata bertemu pandang dan saling bertaut sampai lama. Akhirnya Gak Bun Beng perlahan-lahan membuang muka, meme­jamkan mata seolah-olah tidak tahan dia melihat sinar mata penuh kasih yang di­tujukan kepadanya dari sepasang mata yang bening indah itu! Aku harus men­jauhkan diri darinya, harus dan secepat mungkin, demikian suara hatinya. Kalau dilanjutkan begini, berbahayalah aku! Akan tetapi Milana pun telah menjadi isteri orang lain, tentu saja tidak berhak mencampuri urusannya!

“Kau kenapa, Paman?” Syanti Dewi mendekat dan memegang tangan Bun Beng karena merasa khawatir sekali me­lihat Bun Beng memejamkan mata dan mengerutkan keningnya.

Bun Beng membuka matanya kembali, mata yang agak basah. “Tidak apa-apa, Dewi, mari kita lanjutkan perjalanan kita menemui Sin-ciang Yok-kwi.”

Ketika mereka tiba di depan kuil kuno, ternyata Sin-ciang Yok-kwi sudah menanti di depan kuil, duduk di atas batu besar dan memandang kepada Bun Beng dengan penuh perhatian. Gak Bun Beng cepat menghampiri dan bersama Syanti Dewi dia menjura kepada kakek itu.

“Ha-ha-ha, bocah nakal! Apa kau ma­sih tidak percaya akan kemampuanku mengobati? Sekarang pamanmu telah sembuh, bukan?”

“Terima kasih atas pertolongan Lo­cianpwe dan sejak dahulupun saya tidak pernah meragukan kepandaian Locianpwe,” jawab Syanti Dewi.

“Ha-ha-ha, memang kau nakal dan kau sengaja memancingku. Heii, Gak Bun Beng! Apakah kau datang untuk memper­lihatkan kepandaianmu? Benarkah kau pandai mengobati?”

Melihat sikap yang kasar dan terbuka dari kakek itu, Gak Bun Beng tersenyum dan sambil memandang wajah kakek itu dia berkata, “Sin-ciang Yok-kwi, terus terang saja bahwa keponakanku ini ber­bohong kepadamu. Aku bukan ahli pengo­batan, dan aku berterima kasih kepadamu bahwa kau telah menyembuhkan penya­kitku. Akan tetapi, ketika engkau me­meriksaku, aku mendapat kenyataan bah­wa ada hawa beracun keluar dari dada­mu. Kalau engkau memang tidak kebe­ratan, aku suka untuk mengeluarkan hawa beracun dari tubuhmu.”

Kakek itu kelihatan terkejut, kemudi­an membuka kancing bajunya di depan dada. “Nah, kau boleh memeriksa!”

Bun Beng melangkah dekat, meng­gunakan kedua telapak tangannya ditem­pelkan ke dada kakek itu. Terkejutlah dia! Benar-benar terdapat hawa mujijat dalam dada kakek itu yang amat kuat dan aneh, yang tak dapat dikendalikan oleh kakek itu sehingga menjadi penyakit yang hebat.

“Tidak salah!” serunya. “Ada hawa beracun yang kuat di dalam tubuhmu, Sin-ciang Yok-kwi. Akan tetapi karena bukan tabib, aku tidak tahu mengapa bisa demikian dan mengapa pula sampai berlarut-larut kaudiamkan saja!”

“Engkau hebat,” Yok-kwi berkata. “Biarpun engkau tidak tahu akan ilmu pengobatan, namun dengan rabaan tangan yang penuh dengan sin-kang engkau sudah dapat mengetahui keadaanku yang tak kuketahui sendiri! Sekarang mengertilah aku. Dahulu, karena terlampau ingin me­nguasai ilmu pengobatan terhadap segala macam racun, aku sengaja menelan ber­macam-macam racun lalu kuobati sendiri. Semua obatku bisa menolong memunah­kan racun itu, akan tetapi agaknya hawa racun dan obat yang memunahkannya telah berkumpul sedikit demi sedikit di dalam tubuhku tanpa kurasakan sehingga kini tidak dapat kukeluarkan lagi. Kalau aku mengerahkan kekuatan sin-kang, tentu perlindungan di tubuhku kurang kuat dan hawa itu akan membunuhku. Untung selama ini aku tidak bertanding melawan musuh kuat, karena pengerahan sin-kang yang kuat tentu akan membunuhku sendiri. Hemm…. kau sudah mene­mukan penyakitku, biarpun tidak ada obatnya, aku tidak akan penasaran lagi andaikata penyakit ini akan mencabut nyawaku.”

“Tidak, Sin-ciang Yok-kwi. Hawa itu dapat saja diusir dari dalam tubuhmu. Aku akan membantumu.”

“Tapi…. hal itu membutuhkan tenaga yang amat kuat….”

“Akan kucoba. Duduklah bersila dan mari kita mulai. Dengan kekuatan kita berdua, mustahil hawa itu tidak akan dapat terusir keluar.”

Sejenak kakek itu menatap wajah Bun Beng, kemudian bertanya, “Gak Bun Beng, aku tidak pernah mendengar namamu se­bagai seorang tokoh besar. Dari partai manakah engkau?”

Gak Bun Beng tersenyum den meng­geleng kepala. “Bukan dari partai mana­pun juga. Apa sih bedanya itu? Mari, silakan.”

Sin-ciang Yok-kwi lalu melempar tongkatnya ke samping dan duduk bersila di atas tanah. Bun Beng juga segera duduk bersila di depan kakek itu, melu­ruskan kedua lengannya ke depan sehing­ga kedua tangannya menempel pada dada kakek itu. Syanti Dewi hanya menonton dengan jantung berdebar penuh ketegang­an. Dia mengharapkan pendekar sakti itu akan mampu menyembuhkan kakek itu, akan tetapi di samping ini dia juga kha­watir karena biarpun ilmu silatnya sendiri belum tinggi akan tetapi dia pernah mendengar betapa menyembuhkan orang dengan menggunakan sin-kang itu amat melelahkan. Dia khawatir kalau-kalau Gak Bun Beng yang baru saja sembuh akan kehabisan tenaga dan jatuh sakit lagi.

Sin-ciang Yok-kwi terkejut bukan ma­in ketika dia merasa betapa dari kedua tangan Bun Beng keluar hawa yang amat panas, mula-mula hanya hangat akan te­tapi makin lama makin panas menyerap ke dalam dadanya. Dia mengikutinya, juga dengan pengerahan sin-kangnya, membuat tubuhnya menjadi panas sampai mengepulkan uap! Hawa panas yang ma­suk dari kedua telapak tangan Bun Beng itu amat kuatnya, terasa bergerak ber­putaran di dalam dadanya, hampir tak tertahankan panasnya sampai kakek ini mengeluarkan keringat dan napasnya mulai terengah-engah.

Bun Beng melihat ini, maka dia lalu mengurangi tenaga Hwi-yang Sin-kang (Hawa Sakti Inti Api) sehingga rasa pa­nas yang menyerang Yok-kwi mulai ber­kurang dan makin lama makin dingin, akan tetapi tidak berhenti menjadi nor­mal karena terus menjadi makin dingin sampai luar biasa sekali. Kembali Yok-kwi terkejut dan kagum. Dia sendiri ada­lah seorang ahli tenaga dalam dan memiliki sin-kang yang kuat. Akan tetapi menghadapi hawa dingin yang keluar dari sepasang telapak tangan orang itu, dia tidak mampu mengikutinya terus dan tubuhnya segera menggigil kedinginan. Dia tidak tahu bahwa Gak Bun Beng telah mengganti tenaga Hwi-yang Sin-kang tadi menjadi Swat-im Sin-kang (Ha­wa Sakti Inti Salju)! Dua tenaga sin-kang yang bertentangan dan yang hanya dimi­liki oleh penghuni Pulau Es.

Syanti Dewi memandang dengan bingung dan heran, juga khawatir! Dia ti­dak tahu apa yang telah dan sedang ter­jadi. Dia hanya melihat betapa kakek yang sakti itu tadinya menjadi merah mukanya, mengeluarkan banyak keringat dan tubuhnya beruap, napasnya agak ter­engah-engah, akan tetapi sekarang keadaannya berubah, mukanya menjadi pu­cat dan agak kebiruan, tubuhnya meng­gigil dan napasnya makin terengah-engah!

Dengan kekuatan sin-kangnya yang hebat, perlahan-lahan Bun Beng mendo­rong keluar hawa mujijat yang mengeram di dalam dada dan perut kakek itu dan mulailah tampak uap hitam membubung keluar dari mulut, hidung dan tubuh atas kakek itu!

Gak Bun Beng maklum bahwa kalau dia melanjutkan pengerahan Swat-im Sin-kang, kakek itu tentu tidak akan dapat bertahan, maka melihat betapa hawa be­racun itu sudah mulai keluar, dia meru­bah lagi pengerahan sin-kangnya dan kini dia mengerahkan Tenaga Sakti Inti Bumi yang halus dan lunak namun menyembunyikan kekuatan yang dahsyat pula.

Uap menghitam yang membubung ke­luar itu makin menipis, kemudian kakek itu mengeluarkan keluhan panjang dan tubuhnya terguling roboh, tepat pada saat Bun Beng lebih dulu menarik kem­bali tenaganya. Pendekar ini cepat me­mejamkan matanya, mengumpulkan hawa murni untuk memulihkan tenaganya yang diperas keluar dari tubuhnya yang masih lemah tadi.

Syanti Dewi memandang dengan hati gelisah. Dia melihat Yok-kwi terguling roboh dan tidak bangun kembali, sedang­kan Gak Bun Beng masih duduk bersila dengan muka pucat. Dan kakek kecil pendek yang tadi menyerang dengan lem­paran senjata rahasia sehingga meroboh­kan Yok-kwi telah berdiri di belakang Gak Bun Beng. Sambil menyeringai, Sin-kiam Lo-thong, bekas jagoan panggilan pihak Hek-san-pai, kini mencabut pedang­nya dan menghampiri Gak Bun Beng!

Munculnya kakek bertubuh kanak-ka­nak ini memang mengejutkan dan tidak disangka-sangka. Tadi ketika Gak Bun Beng dan Yok-kwi keduanya sedang men­curahkan seluruh perhatian kepada peng­obatan itu, kakek ini muncul dan lang­sung saja menyerang Yok-kwi dengan jarum merah. Karena tidak menyangka dan terkena jarum tepat pada lehernya, kakek itu roboh terguling dan pingsan, sedangkan Gak Bun Beng yang sedang mengerahkan Tenaga Inti Bumi secara tiba-tiba mengalami kekagetan dan menarik kembali tenaganya secara seren­tak, membuat tubuhnya yang masih le­mah itu mengalami goncangan hebat se­hingga dia terpaksa harus menghimpun hawa murni, kalau tidak jantungnya bisa pecah!

Sin-kiam Lo-thong tersenyum girang. Dia menganggap bahwa Yok-kwi tentu telah tewas karena lehernya kemasukan jarum merahnya, sedangkan sebagai se­orang ahli dia maklum akan keadaan Gak Bun Beng, maka dengan cepat dia sudah menghampiri pendekar itu dengan pedang terhunus.

“Manusia keji….!” Syanti Dewi men­jerit dan cepat dia menyambar batu sebesar kepala, menyambitkan batu itu se­kuat tenaganya ke arah Sin-kiam Lo-thong yang sudah berada dekat sekali di belakang Gak Bun Beng.

Sin-kiam Lo-thong mengangkat lengan kirinya menangkis batu yang menyambar­nya itu.

“Prakkk!” Batu itu hancur berkeping-keping dan Sin-kiam Lo-thong sudah menggerakkan tangan kanannya, pedang­nya membacok ke arah leher Gak Bun Beng.

“Ouhhh…. jangan….!” Syanti Dewi menjerit dengan mata terbelalak dan muka pucat sekali.

“Singgg….!” Pedang di tangan Sin-kiam Lo-thong berkelebat menjadi sinar terang yang menyambar ke arah leher Gak Bun Beng. Syanti Dewi memejamkan mata membayangkan betapa leher pendekar itu akan terbabat putus!

“Takkk! Aughhh….!”

Mendengar pekik ini, Syanti Dewi membuka matanya dan dia terbelalak keheranan namun juga kegirangan melihat bahwa Gak Bun Beng masih tetap saja duduk seperti tadi, bersila dan lehernya masih utuh! Sebaliknya, Sin-kiam Lo-thong terlempar ke belakang, pedangnya terlepas dari pegangan dan kini kakek bertubuh kanak-kanak itu merangkak hendak bangun dengan muka pucat dan ketakutan. Kiranya seluruh tubuh Gak Bun Beng pada saat itu masih terlindung hawa sin-kang Inti Bumi sehingga ketika pedang itu menyambar tengkuk, otomatis tenaga sakti itu melindungi dan tidak hanya membuat pedang itu tidak melukai tengkuk, bahkan reaksi dari tenaga sakti itu membuat pedang terlempar dari tangan Lo-thong dan kakek itu sendiri terpukul hawa mujijat itu dan terlempar ke belakang!

Betapa kagetnya ketika Lo-thong me­lihat bahwa kini Yok-kwi telah bangun dan sedang menghampirinya dengan mata melotot penuh kemarahan. Disangkanya Yok-kwi telah tewas. Tidak mungkin orang yang sudah ditembusi jarum merah lehernya masih dapat hidup! Dan memang Yok-kwi juga masih tertolong oleh hawa sin-kang yang dikerahkan Gak Bun Beng ketika mengobatinya tadi. Hawa sin-kang yang amat kuat itu sedang berputar-pu­tar di seluruh tubuhnya, maka ketika jarum merah menyambar dan mengenai lehernya, otomatis hawa sin-kang itu melindunginya, membuat lehernya kebal sehingga jarum merah itu tidak terus masuk, melainkan menancap setengahnya saja. Yok-kwi tadi pingsan bukan karena jarum merah melainkan karena ditariknya Tenaga Inti Bumi oleh Bun Beng secara tiba-tiba. Perubahan mendadak itulah yang membuat dia pingsan. Akan tetapi dia pingsan hanya sebentar. Ketika siuman dan mencabut jarum dari lehernya, dia melihat Lo-thong terlempar dan kini dia menghampiri kakek kecil itu dengan pe­nuh kemarahan.

Sin-kiam Lo-thong meloncat dan hen­dak melarikan diri, akan tetapi Yok-kwi membentak, “Pemberontak hina, hendak lari ke mana kau?” Tangannya bergerak, jarum merah itu menyambar dan Lo-thong memekik nyaring, roboh dan berkelojotan karena jarumnya sendiri telah menembus ke dalam kepalanya melalui tengkuk!

“Paman….!” Syanti Dewi menghampiri Bun Beng dan berlutut, mukanya masih pucat akan tetapi bibirnya tersenyum tanda girang.

Bun Beng membuka kedua matanya, tersenyum kepada Syanti Dewi, kemudian berdiri dan menengok. Alisnya berkerut ketika dia melihat Lo-thong berkelojotan dalam sekarat.

“Yok-kwi, kenapa engkau membunuh­nya?”

“Dia layak dibunuh dua kali!” jawab kakek itu.

“Kenapa?”

“Pertama, dia tadi hendak membunuh kita berdua. Kedua kalinya, dia adalah seorang anggauta pemberontak laknat, kaki tangan Pek-lian-kauw.”

“Hemm….!” Gak Bun Beng tidak ber­kata apa-apa lagi melainkan memandang kepada tubuh kecil yang sudah tidak ber­gerak lagi itu sambil menarik napas pan­jang.

Yok-kwi menghampirinya dan menjura. “Gak-taihiap, selain amat berterima kasih bahwa engkau telah dapat menyembuhkanku, juga aku merasa amat kagum akan kesaktian Taihiap. Kalau sekiranya kakimu buntung sebelah, tentu engkau inilah yang patut menjadi Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman, To-cu dari Pulau Es yang terkenal.”

Gak Bun Beng tersenyum. “Beliau adalah guruku.”

Kakek itu terbelalak, lalu tertawa dan kembali menjura dengan hormat. “Ha-ha-ha, kiranya begitu? Ah, maafkan aku yang tidak mengenal Gunung Thai-san menjulang di depan mata! Sungguh beruntung sekali aku dapat berjumpa dan bersahabat dengan seorang murid Pende­kar Super Sakti. Gak-taihiap, namaku adalah Kwan Siok, nama yang puluhan tahun kusembunyikan sehingga orang me­nyebutku Yok-kwi. Dan aku datang ke sini bukan hanya untuk mengasingkan diri dan menguji kepandaian dengan mendekati dua perkumpulan yang saling bermusuhan, akan tetapi juga diam-diam aku memperhatikan keadaan para pemberontak yang mulai meluaskan pengaruhnya di perbatasan ini. Diam-diam aku membantu untuk membalas budi kepada Puteri Mi­lana….” Tiba-tiba dia menghentikan kata-katanya ketika melihat Bun Beng me­mandangnya dengan mata bersinar-sinar kaget. Akan tetapi ketika Bun Beng me­rasa betapa jari-jari tangan Syanti Dewi mencengkeram lengannya, dia dapat me­nenangkan hatinya sambll tersenyum dia berkata, “Budi apakah yang kauterima dari puteri yang gagah perkasa dan ter­kenal itu?”

Yok-kwi menjura lagi. “Maaf, tentu Taihiap mengenal baik Puteri Milana. Bukankah dia itu puteri dari Pendekar Super Sakti? Sebagai murid pendekar itu maka kau….”

“Tentu saja, dia terhitung sumoiku sendiri. Nah, katakanlah, budi apa yang kauterima darinya?”

“Ketika aku dikepung oleh musuh-musuhku, para tokoh Pek-lian-kauw yang sudah puluhan tahun menjadi musuhku, dalam keadaan terdesak dan terancam bahaya maut Puteri Milana lewat dan menolongku. Kini, kota raja sedang ribut dengan adanya pertentangan antara para pengeran, dan ada usaha-usaha pembe­rontakan. Melihat Sang Puteri itu sibuk menangani sendiri untuk mengamankan kota raja, diam-diam aku membantu dengan mengamat-amati keadaan di sini.”

Gak Bun Beng mengangguk-angguk. “Aihh, kiranya engkau seorang yang ber­jiwa patriot, Kwan Lo-enghiong (Orang Tua Gagah she Kwa).”

“Gak-taihiap, jangan menyebutku enghiong. Karena orang sudah memberiku nama Yok-kwi, biarlah kupakai terus na­ma itu. Kalau aku boleh mengetahui, mengapa Taihiap dan Nona ini sampai tiba di tempat sejauh ini?”

“Kami hendak pergi menjumpai Jen­deral Kao Liang, untuk menceritakan ke­adaan di kota raja. Dan Nona ini….” Gak Bun Beng ragu-ragu.

Yok-kwi tertawa. “Ha-ha, dia tentu saja adalah Sang Puteri dari Bhutan!”

Syanti Dewi mengeluarkan seruan ter­tahan dan Bun Beng memandang tajam penuh kecurigaan kepada kakek itu. “Yok-kwi, bagaimana kau bisa tahu?”

“Mudah saja, Taihiap. Aku sudah mendengar akan Puteri Bhutan yang le­nyap di tengah perjalanan dan kabar ter­akhir bahwa mungkin puteri itu tertolong oleh seorang sakti ketika hanyut di su­ngai. Sekarang, melihat Taihiap muncul di sini hendak menjumpai Jenderal Kao yang setia, bersama seorang dara yang sikap dan wibawanya seperti puteri, juga yang jelas adalah seorang dara berke­bangsaan tanah barat, mudah saja men­duga-duga.”

“Kau memang cerdik sekali, Yok-kwi. Memang benar, dia adalah Puteri Syanti Dewi dari Bhutan.”

Yok-kwi menjura kepada Syanti Dewi. “Harap Paduka sudi memaafkan segala kekurangajaran saya.”

Syanti Dewi menghampiri Yok-kwi dan memegang tangan kakek itu. “Aih, Locianpwe terlalu merendah. Sayalah yang minta maaf karena telah berani mempermainkan Locianpwe.”

Yok-kwi tertawa bergelak sambil me­raba jenggotnya, “Mempermainkan saya? Ha-ha-ha, kalau tidak ada Paduka, agak­nya aku Si Tua Bangka masih tetap menjadi orang yang berpenyakitan.”

“Akan tetapi Paman Gak juga tentu belum sembuh.”

Mereka tertawa gembira karena men­dapat kenyataan bahwa mereka adalah orang segolongan.

“Kami akan segera melanjutkan per­jalanan kami ke benteng Jenderal Kao di utara,” kata Bun Beng.

“Tidak jauh lagi, Taihiap. Dari sini ke utara, lewat bukit di depan itu lalu membelok ke timur. Saya akan tetap tinggal di sini dan siap setiap saat untuk membantu, biarpun sesungguhnya saya sudah muak berurusan dengan dunia ra­mai yang penuh kepalsuan.”

Mereka berpisah dan Gak Bun Beng yang sudah sembuh sama sekali itu dapat me­lakukan perjalanan cepat bersama Syanti Dewi. Akan tetapi, baru saja turun dari puncak Ci-lan-kok, mereka dihadang oleh orang-orang Hek-san-pai dan Pek-san-pai yang menyediakan dua ekor kuda untuk mereka. Ketika Bun Beng mence­ritakan tentang Sin-kiam Lo-thong, Ketua Hek-san-pai menjadi pucat wajahnya.

“Aahh…. celaka, siapa tahu bahwa dia seorang pengkhianat? Inilah akibatnya kalau bermusuhan dengan keluarga sen­diri. Dia datang dan menawarkan diri menjadi jago. Melihat kelihaiannya, saya menerimanya. Ah, Taihiap, biarlah yang sudah dilupakan saja. Sekarang, kami dari Hek-san-pai dan Pek-san-pai siap untuk membantu pemerintah menghadapi pem­berontak setiap saat kami diperlukan.”

Gak Bun Beng dan Syanti Dewi ber­pisah dari mereka, melanjutkan perjalan­an dengan menunggang kuda. Akan tetapi karena tidak mengenal jalan di daerah yang sunyi itu, mereka salah jalan dan tanpa disengaja keduanya malah tiba di daerah sumur maut di mana Gak Bun Beng berhasil menolong dan menyelamat­kan Jenderal Kao Liang dari pengeroyok­an para pemberontak.

Demikianlah, seperti telah diceritakan di bagian depan, Gak Bun Beng dan Syanti Dewi muncul di tempat itu, agak terlam­bat sehingga biarpun pendekar sakti itu berhasil menolong Jenderal Kao, namun dia tidak berhasil menyelamatkan Ceng Ceng yang terlempar ke dalam sumur maut. Biarpun kemudian pendekar itu mencoba untuk menyelidiki dengan turun ke sumur melalui tambang, sia-sia belaka bahkan hampir saja dia celaka kena di­serang gas beracun di dalam sumur.

Maka dengan penuh duka, terutama sekali Syanti Dewi yang masih menangis, Jenderal Kao mengajak mereka berdua pergi ke bentengnya. Setelah tiba di dalam benteng, pertama-tama Jenderal Kao memerintahkan pasukannya untuk menyerbu benteng pembantunya, yaitu panglima Kim Bouw Sin dan menangkap Panglima itu.

Gak Bun Beng mengkhawatirkan bah­wa akan terjadi perang saudara antara pasukan pemerintah sendiri dan hal ini akan merugikan sekali. Maka dia lalu berkata kepada Jenderal Kao, “Kalau Goanswe tidak berkeberatan, ijinkanlah saya untuk pergi menyelundup ke ben­teng itu dan menangkap Panglima Kim si pemberontak itu. Kalau dia dan kaki ta­ngannya sudah ditangkap dan dilumpuh­kan, tentu pasukannya yang tidak tahu apa-apa itu akan menyerah. Tenaga pa­sukan itu masih amat dibutuhkan, bukan? Perang terbuka antara saudara sendiri hanya akan melemahkan kedudukan per­tahanan di perbatasan ini.”

Kao Liang memandang dengan wajah berseri. “Tepat sekali. Aku memang su­dah mempunyai rencana demikian, hanya tidak berani minta bantuanmu karena engkau bukan anak buah kami, Taihiap. Dan untuk menyuruh orang lain, kiranya tidak ada di antara anak buahku yang memiliki ilmu kepandaian begitu tinggi sehingga diharapkan akan berhasil me­nangkap pengkhianat itu tanpa menimbulkan perang saudara. Kalau Gak-taihiap bersedia, kita akan bersama menangkap­nya, dan biarlah pasukanku hanya mengu­rung saja.”

Jenderal Kao dan Bun Beng lalu meng­atur rencana siasat mereka untuk me­nangkap Kim Bouw Sin dan kaki tangan­nya tanpa menimbulkan perang saudara. Sementara itu Syanti Dewi dipersilakan untuk mengaso dan tinggal di dalam sebuah kamar dan dilayani dengan hormat, dianggap sebagai seorang tamu agung.

***

Bagaimanakah keadaan Ceng Ceng? Benarkah seperti dugaan Jenderal Kao, Gak Bun Beng dan Syanti Dewi bahwa dara perkasa itu tewas di dalam sumur yang mengandung gas beracun dan sukar diukur dalamnya itu? Untuk mengetahui keadaan Ceng Ceng, sebaiknya kita meng­ikuti semua pengalamannya.

Dara perkasa itu terkejut bukan main dan merasa ngeri ketika dia menyela­matkan Jenderal Kao Liang dengan me­nendang tubuh pembesar itu sehingga terpental keluar dari lubang sumur, dia sendiri terdorong dan terjerumus ke da­lam lubang tanpa dapat dicegah lagi! Dia merasa ngeri dan ketika tubuhnya me­lewati bagian yang ada gasnya, dia tak dapat bernapas dan pingsan. Kalau saja dia lebih lama berada di bagian itu, tentu dia akan tewas oleh gas beracun.

Akan tetapi, ternyata bahwa gas itu keluar dari dinding sumur, bukan dari dasar sumur, maka setelah tubuhnya yang melayang ke bawah itu melewati sumber gas, di sebelah bawah tidak ada gas be­racun ini dan dia selamat, biarpun masih dalam keadaan pingsan dan masih terus melayang ke bawah, ke dalam sumur yang seperti tidak ada dasarnya itu.

Daiam keadaan pingsan meluncur ke bawah, tentu tubuhnya akan hancur lebur kalau terbanting ke dasar sumur itu. Akan tetapi, tidak jauh dari dasar sumur yang merupakan lantai batu keras, tiba-tiba tubuh Ceng Ceng terhenti dan ter­tahan oleh sesuatu. Kiranya dia telah di­tangkap oleh seekor ular besar! Ular ini besarnya melebihi paha seorang dewasa dan panjangnya lima meter lebih! Dengan ekornya, ular itu telah “menangkap” tu­buh Ceng Ceng, membelit pinggang dara itu dengan ekornya sehingga Ceng Ceng tidak sampai terbanting mati di dasar sumur. Memang sudah menjadi kebiasaan ular besar ini untuk menangkap binatang apa saja yang kebetulan jatuh dari atas, yang kemudian menjadi mangsanya. Kini, memperoleh korban seorang manusia, ular itu mulai mendekatkan kepalanya kepada Ceng Ceng, dan tubuhnya melingkari batu dinding yang menonjol. Matanya berkilat-kilat, lidahnya keluar masuk dan agaknya dia sudah mengilar sekali meli­hat calon mangsanya.

Tiba-tiba terdengar suara mendesis tajam dari bawah, suara mendesis yang membuat ular itu tampak terkejut dan menoleh ke bawah. Kembali terdengar suara mendesis-desis penuh kemarahan dari mulut seorang nenek yang duduk mendeprok di atas lantai sumur itu. Mula-mula ular besar itu meragu, akan tetapi kemudian dengan perlahan dia merayap turun setelah menggigit punggung baju Ceng Ceng yang masih pingsan, mem­bawa gadis ini turun menghampiri nenek yang duduk di bawah itu.

Setelah tiba di depannya, nenek itu berkata, “Lepaskan dia!”

Ular itu melepaskan gigitannya se­hingga tubuh Ceng Ceng menggeletak di atas lantai batu, kemudian mengangkat kepalanya dan mendesis-desis seperti ragu-ragu.

“Pergi….!” Nenek itu menjerit lagi, tangan kirinya diangkat ke atas dan se­perti seekor anjing jinak yang dibentak majikannya, ular besar itu mengeluarkan suara berkokok lalu merayag pergi, naik lagi ke atas.

Ceng Ceng mengeluh, membuka ma­tanya dan cepat meloncat bangun, berdiri dan siap menghadapi segala kemungkinan. Cahaya dari atas mendatangkan penerang­an yang cukup dan ketika dia menengok ke atas, dia seperti melihat benda bulat yang bercahaya di dalam tempat gelap ini. Kemudian dia teringat dan tahu bahwa benda bulat bercahaya itu adalah mulut sumur yang demikian tingginya se­perti sebuah matahari yang aneh. Mata­nya mulai terbiasa dengan keadaan re­mang-remang itu dan dia menggigil ter­ingat betapa tubuhnya terjatuh dari tem­pat yang sedemikian tingginya. Akan te­tapi mengapa dia tidak mati? Mengapa tubuhnya tidak hancur, bahkan luka pun tidak, hanya terasa agak sakit di pinggangnya? Mendadak ia meloncat mundur ketika melihat gerakan di depannya. Ketika dia memandang, hampir dia men­jerit saking ngerinya. Tadi dia tidak me­lihat apa-apa karena memang tempat itu agak gelap dan di lantai dasar sumur itu yang kelihatan hanya warna hitam belaka. Kini baru terlihat olehnya bahwa di de­pannya, duduk di atas lantai, terdapat seorang manusia yang keadaannya amat aneh dan mengerikan!

Ceng Ceng mengerahkan kekuatan pandang matanya agar dapat melihat lebih jelas lagi. Jantungnya berdebar pe­nuh ketegangan karena dia tidak tahu apakah mahluk yang berada di depannya ini. Manusia ataukah setan? Muka yang amat pucat dan kurus, hanya tengkorak terbungkus kulit, rambutnya panjang riap-riapan, tubuhnya kurus kering terbungkus kain lapuk, kedua kakinya ditekuk di ba­wah dan kini dia memandang kepada Ceng Ceng dengan sepasang mata yang berkilauan dalam gelap seperti mata kucing dan mulut yang tak bergigi lagi itu menyeringai aneh, amat mengerikan hati Ceng Ceng, apalagi ketika dia me­lihat betapa nenek itu merangkak men­dekatinya dengan menggunakan kedua siku lengannya, mengesot karena kedua kaki itu ternyata lumpuh. Mahluk ini lebih menyerupai binatang aneh atau setan daripada seorang manusia.

“Heh-heh-heh, kau cantik, cantik dan muda….!” Nenek itu berkata, suaranya melengking tinggi mengejutkan hati dan Ceng Ceng merasa betapa bulu tengkuk­nya meremang dan terasa dingin.

“Kau…. siapakah….?” Akhirnya dara itu dapat juga mengeluarkan suara melalui kerongkongannya yang terasa kering. “Dan…. bagaimanakah aku dapat…. selamat tiba di sini….?” Dia memandang ke atas, ke arah “matahari” yang tinggi itu dan bergidik. Tak mungkin manusia dapat hidup setelah terjatuh dari tempat se­tinggi itu, pikirnya.

“Heh-heh, kalau tidak ada Siauw-liong (Naga Kecil) itu, tubuhmu tentu sudah hancur di lantai batu ini, heh-heh!” Ne­nek itu berkata sambil menudingkan te­lunjuk kirinya ke atas.

Ceng Ceng memandang ke arah yang ditunjuk dan hampir dia menjerit. Oto­matis dia meloncat ke belakang ketika dia melihat ular besar yang tadinya tak tampak olehnya itu, melingkar di din­ding sumur dan memandang ke bawah dengan mata berkilat-kilat. Seekor ular yang besar dan panjang sekali, yang di­sebut Naga Kecil oleh nenek itu! Bagai­mana ular besar itu dapat menolongnya? Pinggangnya terasa sakit, tentu pernah dililit oleh tubuh ular itu. Ceng Ceng bergidik ngeri.

“Dan sekarang engkau tentu sudah aman di dalam perutnya kalau saja tidak ada Ban-tok Mo-li, heh-heh-heh!”

“Ban-tok Mo-li….?” Ceng Ceng ber­tanya heran. Dia tidak pernah mendengar nama julukan Ban-tok Mo-li (Iblis Betina Selaksa Racun).

“Ya, Ban-tok Mo-li Ciang Si, aku sendiri, heh-heh. Ular Siauw-liong itu menyambarmu ketika tubuhmu melayang turun, sebelum dia mengirimmu ke dalam perutnya, aku mencegahnya.”

Mengertilah kini Ceng Ceng apa yang telah terjadi dengan dirinya. Betapa pun menjijikkan dan menakutkan keadaannya, dia menduga bahwa nenek yang bernama Ban-tok Mo-li ini tentulah seorang yang memiliki kepandaian hebat dan telah menolongnya tadi, maka dia cepat menjatuhkan diri berlutut di depan nenek itu.

“Banyak terima kasih teecu haturkan kepada Locianpwe yang telah menolong teecu dari cengkeraman maut.”

“Heh-heh, aku senang menolongmu, aku senang bertemu denganmu. Siapakah namamu?”

“Nama teecu (murid) adalah Lu Ceng.”

“Kau dapat tiba di sini dengan sela­mat, ini namanya jodoh! Lu Ceng, mari pergi ke tempat tinggalku. Kaulihat, aku tidak bisa jalan. Maukah engkau menggendongku kalau memang benar kau ber­terima kasih kepadaku?”

Ceng Ceng bergidik, akan tetapi dia menekan perasaannya dan mengangguk. Akan tetapi ketika dia hendak membung­kuk untuk mengangkat tubuh nenek yang kedua kakinya lumpuh itu tiba-tiba tubuh itu melesat ke atas dan tahu-tahu telah berada di punggungnya! Dia terkejut bukan main menyaksikan kelincahan luar biasa ini.

“Heh-heh, kaugendonglah aku lewat terowongan itu.” Nenek itu menuding ke depan. Ceng Ceng lalu menggendong nenek itu melalui terowongan yang gelap sekali. Kalau tidak ada nenek itu yang memberi petunjuk, tentu dia akan me­nabrak dinding. Untungnya nenek itu sudah hafal benar akan jalan terowongan gelap ini karena dia selalu memperingat­kan Ceng Ceng, membelok ke kiri, ke kanan, merendahkan tubuh agar tidak terbentur kepalanya dan sebagainya. Se­telah melalui terowongan yang berliku-liku dan gelap itu sepanjang ratusan meter, akhirnya tampak cahaya terang dan keluarlah Ceng Ceng dari terowong­an, memasuki sebuah guha yang meng­hadapi jurang amat curamnya.

“Heh-heh-heh, di guha sinilah aku tinggal,” kata nenek itu, masih tetap du­duk di atas punggung Ceng Ceng. Dara ini melangkah ke depan, ke pinggir ju­rang di depan guha, menengok ke bawah dan bergidik ngeri. Jurang itu selain cu­ram tak mungkin dituruni, juga tidak nampak dasarnya karena terhalang oleh uap halimun saking dalamnya! Menengok ke kanan kiri guha, juga merupakan din­ding batu yang curam dan tegak lurus, licin dan tidak mungkin dijadikan jalan untuk meninggalkan tempat itu. Dia be­nar-benar telah terjebak ke dalam tempat yang benar-benar terputus hubungan­nya dengan dunia ramai!

“Heh-heh-heh, kau mencari jalan ke­luar? Tidak mungkin, Lu Ceng. Aku sen­diri sudah dua puluh tahun lebih berada di sini, tidak menemukan jalan keluar. Jalan satu-satunya hanyalah melalui mu­lut sumur itu, dan tidak mungkin ada manusia dapat naik melalui jalan itu ka­rena dinding sumur itu banyak menge­luarkan gas beracun. Dan menuruni te­bing-tebing jurang di sini, sama dengan membunuh diri. Engkau sudah berjodoh denganku untuk menemaniku selama hi­dupmu di tempat ini, anak manis.”

“Tidak! Tidak mungkin….!” Ceng Ceng menjerit. “Harap Locianpwe turun, teecu hendak mencari jalan keluar.”

Melihat dara itu hendak menurunkan­nya, tiba-tiba nenek itu berkata, “Tidak, aku tidak mau turun lagi selamanya darl punggungmu, heh-heh-heh!”

Ceng Ceng menjadi terkejut sekali, terkejut dan marah. Kedua tangannya sudah bergerak hendak menangkap tubuh nenek itu dan memaksanya turun, akan tetapi tiba-tiba dia merasa betapa jari-jari tangan nenek itu menyentuh ubun-ubun kepalanya.

“Jangan bergerak! Kalau bergerak, kepalamu akan kuhancurkan!” Nenek itu membentak, suaranya mendesis-desis se­perti ular marah. “Aku sudah terlalu lama hidup tanpa kaki, merayap seperti ular. Aku ingin hidup wajar, ingin me­lihat dunia ramai dan tak mungkin kulakukan tanpa kaki. Sekarang aku sudah mendapatkan kedua kaki, kakimu, dan aku tidak akan melepaskannya lagi!”

“Locianpwe…. gila….!” Ceng Ceng berseru, matanya terbelalak dan ngeri dia membayangkan bahwa untuk selama­nya nenek itu tidak mau turun dari punggungnya!

“Heh-heh, aku ahli racun yang nomor satu di dunia ini. Ingat, julukanku adalah Ban-tok (Selaksa Racun) dan memang aku mengenal selaksa racun yang terdapat di dunia ini. Aku bisa menggunakan ilmuku untuk menanam tubuhku ini di punggung­mu, melekat untuk selamanya dan kedua kakimu menjadi pengganti kedua kakiku yang lumpuh, ha-ha-ha!”

Bukan main ngeri dan jijiknya rasa hati Ceng Ceng. Dia telah diselamatkan oleh seorang nenek gila, seorang nenek yang berwatak seperti iblis. Kiranya masih lebih baik mati daripada harus hidup seperti itu, selamanya menggen­dong nenek ini, siang malam, di waktu dia makan, di waktu tidur, mandi dan lain-lain. Selamanya! Mana mungkin? Lebih baik mati! Dia tidak takut mati, akan tetapi agaknya nenek tua renta ini masih sayang akan hidupnya, masih suka hidup. Dara itu tersenyum dan dengan langkah seenaknya dia mendekati tebing jurang lalu berkata, “Baiklah, Locianpwe. Kalau begitu mari kita mampus bersama!”

“Heiii….! Apa…. apa maksudmu….?” Nenek itu menjerit sambil memandang ke bawah, ke dalam jurang yang tertutup kabut tebal itu.

“Locianpwe lebih suka hidup, akan tetapi aku lebih suka mati. Kita melon­cat ke bawah, mungkin di bawah sana terdapat air yang akan menelan dan membuat kita mati tenggelam, mungkin juga batu-batu runcing tajam seperti pedang yang akan menerima tubuh kita sampai hancur berkeping-keping, atau batu keras yang menerima tubuh kita sampai gepeng. Mari kita mampus ber­sama!”

“Heiii, jangan….! Gila kau….! Dua pu­luh tahun aku bersusah-payah memper­tahankan hidupku, masa sekarang akan kauakhiri begitu saja. Biarkan aku turun….!”

Akan tetapi kini Ceng Ceng meng­gunakan kedua tangannya memegang erat-erat dua kaki yang lumpuh itu. “Ti­dak, aku tidak akan menurunkanmu, aku akan mengajakmu mampus bersama, un­tuk menjadi temanku pergi ke neraka menerima siksaan di sana!”

“Lepaskan…. aihh…. aku tidak mau mati…. belum mau mati….!” Kini nenek itu merengek dan hampir menangis.

Ceng Ceng tersenyum geli. Biarpun dia telah terjebak ke tempat mengerikan itu, namun pada saat itu dia lupa akan kesengsaraannya dan dia gembira dapat mempermainkan nenek yang seperti iblis ini. “Aku hanya mau menurunkan Locian­pwe dan tidak akan meloncat ke bawah kalau Locianpwe suka berjanji untuk mengangkat murid kepada teecu dan me­nurunkan semua ilmu kepandaian Locian­pwe kepada teecu.”

“Baik, aku berjanji…. lekas mundur jauhi tebing ini…. hihhh….!”

Ceng Ceng melompat mundur, me­lepaskan kedua kaki nenek itu dan Ban-tok Mo-li meloncat turun. Mereka berhadapan dan kembali Ceng Ceng me­rasa ngeri dan jijik, akan tetapi juga kasihan menyaksikan nenek itu menelungkup seperti seekor kadal.

“Kau…. kau bocah nakal dan cerdlk, hi-hik! Kau memang pantas menjadi mu­ridku, Lu Ceng. Aku memang membutuh­kan teman di sini, dan kalau kau menjadi muridku, berarti kita tidak akan saling berpisah pula, Nah, mulai saat ini kau menjadi muridku.”

Karena tidak ada pilihan lain dan agaknya dia harus pula mengandalkan ke­pandaian nenek ini untuk dapat keluar, selain itu juga dia ingin memperdalam ilmunya agar dia kelak dapat mencari sendiri jalan keluar kalau nenek itu tidak mau membantunya, Ceng Ceng lalu men­jatuhkan diri berlutut sambil berkata, “Teecu Lu Ceng menghaturkan terima kasih kepada Subo (Ibu Guru).”

“Heh-heh-heh, engkau tidak tahu be­tapa beruntungnya kau hari ini, Lu Ceng. Engkau tidak tahu siapakah Ban-tok Mo-li Ciang Si yang kauangkat menjadi guru ini. Aku sendiri mungkin tidak terkenal, akan tetapi suhengku adalah seorang di antara tokoh-tokoh nomor satu dari Pu­lau Neraka. Suhengku Bu-tek Siauw-jin (Manusia Hina Tanpa Tanding) adalah seorang tokoh Pulau Neraka yang suka merantau dan dari Suheng itu aku memperoleh banyak ilmu mujijat. Hi-hik, kau beruntung sekali.”

Mulai hari itu Ceng Ceng berdiam di tempat terasing ini bersama gurunya dan di dalam penyelidikannya, tempat itu benar-benar terputus dari dunia luar.

Untung bahwa di dalam terowongan ter­dapat sumber air yang terus menetes dari dinding batu, dan untuk menyambung hidup, selama puluhan tahun gurunya hanya makan daun-daun dari tanaman yang merambat di tepi jurang di luar guha, jamur-jamur yang banyak tumbuh di dalam terowongan, ribuan macam banyaknya, dan akar-akar tetumbuhan yang terpendam di dalam tanah di guha dan di luar guha.

Akan tetapi Ceng Ceng tidak mau meniru gurunya yang kadang-kadang ma­kan cacing dan binatang dalam tanah lainnya. Dia merasa jijik dan karena dia tidak lumpuh seperti gurunya, akhirnya dia berhasil juga menyambit jatuh burung-burung yang kebetulan terbang di tempat tinggi itu.

Setelah berhari-hari tinggal dengan Ban-tok Mo-li Ciang Si, dia mendengar penuturan gurunya dan memperoleh ke­nyataan bahwa gurunya itu memang me­miliki ilmu kepandaian yang amat hebat. Tidak saja ilmu silatnya luar biasa, akan tetapi terutama sekali gurunya adalah seorang ahli besar dalam soal racun. Berkat latihannya yang tekun selama beberapa puluh tahun, gurunya telah me­nguasai semua racun, bahkan seluruh tu­buh gurunya mengandung racun yang da­pat dipergunakan untuk membunuh lawan. Dari tamparan tangannya, sampai jari kukunya, sabetan rambutnya, gigitan mu­lut yang tak bergigi lagi, sampai ludah­nya mengandung racun yang cukup ber­bahaya dan dapat membunuh lawan!

Biarpun pada waktu itu dia belum melihat kemungkinan untuk dapat terbe­bas dari neraka itu, namun Ceng Ceng tidak putus asa dan tidak mau membe­namkan dirinya dalam kedukaan atau ke­putusasaan yang menggelisahkan. Dia te­tap gembira, merasa yakin bahwa pada suatu saat kalau ilmu kepandaiannya sudah tinggi, dia pasti akan dapat keluar dari tempat itu. Pikiran inilah yang mem­buatnya tetap gembira dan bahkan membuatnya makin tekun mempelajari ilmu dari nenek luar biasa itu.

Pada suatu hari, kurang lebih sebulan semenjak Ceng Ceng berada di tempat itu, sehabis latihan pagi, Ceng Ceng memberanikan dirinya bertanya kepada gurunya, “Subo, bagaimanakah Subo sam­pai dapat berada di tempat ini, dan ba­gaimana pula Subo yang berilmu tinggi sampai dapat menderita penyakit lumpuh kedua kaki Subo?”

Pada saat itu, Ban-tok Mo-li Ciang Si sedang menggelung rambutnya. Semenjak Ceng Ceng berada di situ, melihat ke­bersihan muridnya yang setiap hari mandi dan mencuci pakaian, dia terbawa oleh kebiasaan ini dan mulailah dia mau meng­urus tubuh dan pakaiannya. Pakaiannya kini bersih, dicucikan oleh muridnya dan rambutnya pun bersih dan disanggul, tidak seperti biasanya terurai dan kotor, membuatnya kelihatan seperti kuntilanak. Mendengar pertanyaan muridnya itu, mukanya yang pucat menjadi merah dan sepasang matanya mengeluarkan sinar marah.

“Kalau yang mengajukan pertanyaan itu orang lain, tentu akan kubunuh se­ketika juga karena pertanyaan itu mengingatkan aku akan hal-hal yang tidak menyenangkan. Akan tetapi karena kau muridku, sebaiknya kau tahu karena hanya engkaulah yang kuharapkan kelak akan dapat membalaskan penderitaanku ini kepada mereka itu.”

“Mereka siapakah, Subo? Dan apa yang mereka lakukan kepadamu?”

“Ahhh….” Nenek itu menarik napas panjang. “Mungkin hari ini atau besok mereka akan datang ke sini untuk me­nagih janji, mengambil kitab catatanku tentang racun….”

Ceng Ceng menekan jantungnya yang berdebar-debar keras penuh ketegangan. Mereka akan datang ke tempat itu? Hal ini membuktikan bahwa terdapat jalan untuk memasuki tempat ini dan berarti ada pula jalan keluarnya!

Biarpun dia tidak mengatakan sesuatu, gurunya dapat menduga jalan pikirannya dan gurunya berkata, “Percuma saja, Lu Ceng. Sudah hampir dua puluh tahun aku berada di sini dan apakah kaukira aku selama itu tidak berusaha menemukan jalan keluar itu? Akan tetapi aku tidak berhasil. Jalan rahasia itu hanyalah diketahui oleh mereka berdua, karena me­mang tempat ini adalah milik mereka, dahulu adalah tempat pertapaan mereka.”

“Siapakah mereka?”

“Dua orang iblis berwajah manusia yang terkenal dengan ulukan Siang Lo-mo (Sepasang Iblis Tua), dua orang kembar yang amat jahat.”

“Mengapa mereka menganiaya Subo?”

Nenek itu kembali menarik napas panjang. “Dua puluh tahun yang lalu me­reka bertemu denganku dan hanya sete­lah mereka maju mengeroyok saja aku terpaksa kalah. Mengetahui bahwa aku memiliki ilmu yang tinggi tentang racun, mereka memaksaku untuk membuatkan kitab cacatan tentang selaksa racun. Aku tidak sudi, biarpun mereka memaksaku. Mereka amat keji, dengan marah mereka lalu menghancurkan tulang-tulang kedua kakiku.”

“Aihhh….!” Ceng Ceng menjerit ngeri.

“Kemudian mereka membawa aku yang pingsan ke dalam tempat ini. Keti­ka aku sadar, mereka mengancam akan datang membunuhku kalau aku tidak mau memenuhi permintaan mereka. Aku tetap menolak dan sampai sekarang mereka belum juga membunuhku. Karena aku tahu bahwa tidak dapat keluar dari sini, aku memperdalam ilmuku teniang racun dan aku siap untuk membunuh mereka. Paling akhir mereka mengancam bahwa mereka akan datang untuk yang terakhir, kalau aku tidak memberikan catatan ra­cun, mereka tentu benar-benar akan membunuhku. Hari yang dijanjikan itu adalah hari ini atau besok pagi. Akan tetapi, aku sudah siap menghadapi me­reka dan mereka akan mampus, hi-hi-hi….!”

“Maksud Subo, Subo hendak melawan dan akan dapat mengalahkan mereka?”

“Tidak, kalau melawan berterang, ti­dak mungkin dapat menangkan dua orang kembar itu. Akan tetapi sudah bertahun-tahun aku merencanakan akal, mari kau­lihat saja dan bantu aku membuat per­siapan!”

Ceng Ceng mengikuti subonya mema­suki guha dan sesampainya di mulut te­rowongan yang berada di sebelah dalam guha, nenek itu berhenti dan mengeluar­kan bunyi mendesis-desis dan diseling suara melengking.

“Subo memanggil Siauw-liong (Naga Kecil)?” Ceng Ceng yang sudah pernah mendengar subonya memanggil ular besar itu bertanya. Selama sebulan di tempat itu baru pagi hari ini dia merasakan ke­tegangan hebat setelah mendengar bahwa tempat itu akan kedatangan musuh yang lihai, bukan hanya tegang karena musuh itu melainkan karena harapannya bahwa dia akan dapat menemukan jalan keluar yang dirahasiakan oleh sepasang kakek iblis itu.

Tak lama kemudian, terdengar suara mendesis-desis dan muncullah ular besar yang merayap dari dalam terowongan. Nenek itu juga merayap dekat, lalu me­megang leher dan perut ular dengan ke­dua tangan, kemudian dengan gerakan tiba-tiba dia melemparkan ular itu ke atas, ke arah batu menonjol di atas gu­ha. Ular itu menggunakan ekornya melibat batu dan berdiam di situ tak berani bergerak lagi, melingkari batu.

Setelah melihat ular itu di tempat seperti yang dikehendakinya, Ban-tok Mo-li tertawa, kemudian mengeluarkan se­buah bungkusan dari saku bajunya, membuka bungkusan yang ternyata berisi bubuk berwarna hitam. Ditaburkannya bubuk itu di sepanjang jalan terowongan di mulut guha sebelah dalam. Tidak ada tampak bekasnya namun lantai yang di­taburi bubuk sambil mengesot mundur itu, dari mulut terowongan sampai ke dalam sejauh tiga meter lebih telah ter­lapis dengan bubuk hitam.

“Ha-ha-ha, kau akan melihat mereka bergelimpangan, Lu Ceng.” Nenek itu tertawa sambil mengantongi lagi kertas pembungkus racun hitam tadi.

“Apakah Subo akan berhasil?” Ceng Ceng bertanya ragu, mengingat akan ce­rita gurunya betapa lihai kedua orang kakek itu.

“Hi-hi-hik, tentu saja! Racun itu tidak tampak sama sekali, akan tetapi sekali menyentuhnya, biar memakai sepatu se­kalipun, yang menginjaknya akan roboh dan tewas. Andaikata kakek kembar iblls busuk itu mampu melewatinya, tentu Siauw-liong yang girang melihat kedatangan korban akan menyerang mereka. Serangan ini tentu akan membuat mereka meloncat mundur lagi dan mau tidak mau akan menginjak racun hitam. Heh-heh-heh!”

“Kalau gagal bagaimana, Subo?”

“Hemm, gagal? Aku sudah siap dengan jarum-jarumku yang akan kusebar dari sebelah luar guha. Dan engkau selama ini sudah berlatih melempar jarum beracun dan pasir beracun, kaubantu aku menye­rang dari samping kiri.”

“Baik, Subo.”

“Nah, kita siap sekarang.”

Nenek itu lalu mengesot ke sebelah kanan mulut guha, bersembunyi di balik batu besar. Ceng Ceng juga melompat ke samping kiri mulut guha, siap dengan jarum merah beracun dan pasir yang dikantonginya. Jantungnya berdebar te­gang. Yang menjadi perhatian sepenuhnya adalah kemungkinan baginya untuk me­nemukan jalan rahasia keluar dari tempat itu! Kalau selama sebulan ini dia kurang giat mencari jalan keluar adalah karena dia sudah putus harapan untuk dapat menemukan jalan keluar, karena dia tidak tahu bahwa memang terdapat jalan raha­sia. Kini, setelah mendengar cerita guru­nya, timbul semangatnya. Kalau orang lain mampu keluar masuk tempat ini, mengapa dia tidak?

Menanti merupakan pekerjaan yang paling melelahkan. Apalagi dalam suasana di mana ketegangan mencekam hati se­perti saat itu. Sejak pagi Ceng Ceng menanti bersama subonya, di kanan kiri mulut guha, bersembunyi sambil meng­intai ke sebelah dalam terowongan yang hitam pekat. Apalagi dia sebagai manusia yang dipermainkan pikiran dan khayal pikirannya sendiri, sedangkan ular besar itu pun mulai kelihatan gelisah akan tetapi tidak berani merayap turun kare­na takut sekali kepada nenek itu. Hanya kepalanya saja digoyang-goyang ke kanan kiri, matanya melirik-lirik dan lidahnya berkali-kali dijulurkan keluar sambil mengeluarkan suara mendesis-desis. Setiap kali dia mendesis, nenek itu mendesis-desis keras dan ular itu terdiam.

Ceng Ceng sudah hampir tidak kuat lagi menahan. Dia adalah seorang dara yang lincah gembira, mana dia dapat tahan untuk diam saja seperti arca se­lama berjam-jam? Matahari telah naik tinggi dan sudah lebih dari tiga jam mereka menanti di situ. Akan tetapi baru saja dia hendak membuka mulut mengajak subonya bicara, nenek itu meng­gerakkan tangan memberi isyarat agar dia tidak mengeluarkan suara. Ceng Ceng menarik napas panjang dan menundukkan mukanya. Akan tetapi tiba-tiba dia ter­kejut bukan main. Dengan amat jelas terdengarlah suara orang tertawa, jauh dari sebelah dalam terowongan itu!

“Ha-ha-ha-ha! Ban-tok Mo-1i nenek ular yang buruk! Keluarlah kau…., kami datang menagih janji! Ha-ha-ha-ha!”

Ceng Ceng merasa ngeri. Baru suara­nya saja sudah membayangkan bahwa orang yang tertawa itu mempunyai keke­jaman luar biasa! Keadaan menjadi sunyi sekali dan amat menyeramkan setelah suara tertawa dan kata-kata itu habis gemanya. Dara itu melirik ke arah subonya dan melihat betapa nenek itu juga tegang, memandang ke dalam guha sam­bil mengintai dari balik batu besar, jarum-jarum hitam di kedua tangannya. Ceng Ceng juga mempersiapkan jarum merah di tangan kanan dan pasir di ta­ngan kiri. Pasir yang digenggamnya itu bukanlah pasir biasa melainkan pasir yang didapat di lantai guha itu dan yang sudah direndam dalam racun oleh subo­nya. Dia sendiri sudah menggunakan obat pemunahnya sehingga tidak berbahaya baginya, namun lawan yang terkena pasir ini, sedikit saja lecet kulitnya tentu akan terancam bahaya maut karena dari luka itu racun pasir akan meracuni semua jalan darahnya!

Tiba-tiba tampak bayangan dua orang di sebelah dalam terowongan. Karena di dalam terowongan itu memang gelap se­kali, maka yang tampak hanya bayangan­nya saja, akan tetapi dengan jantung berdebar Ceng Ceng merasa pasti bahwa bayangan itu tentulah sepasang kakek kembar Siang Lo-mo, musuh dari guru­nya. Apakah mereka itu akan menginjak lantai yang beracun? Ataukah akan meloncati tempat itu? Akan tetapi kini dia mengerti akan siasat gurunya. Gurunya mengajak dia bersembunyi, dan hal ini merupakan jebakan dan pancingan. Kalau tidak kelihatan ada orang di situ, tentu dua orang kakek itu akan berhati-hati dan akan maju perlahan-lahan, tidak be­rani sembarangan meloncat begitu saja, khawatir akan terjebak. Dan karena hati-hatinya, tentu dua orang kakek itu akan menginjak lantai yang sudah dipasangi racun dan yang tidak nampak sama se­kali.

Ceng Ceng melihat dua orang atau dua bayangan itu bergerak melangkah maju, dan dia melihat pula betapa Siauw-liong, ular besar itu sudah mulai men­julurkan kepalanya ke bawah, agaknya dengan air liur membasahi lidahnya bina­tang itu sudah siap untuk mencaplok korban yang akan menjadi mangsanya itu.

Setapak demi setapak dan bayangan orang itu melangkah maju, makin men­dekati lantai beracun, dan makin berde­bar pula rasa jantung Ceng Ceng. Mere­ka itu makin dekat dan tiba-tiba terdengar jerit melengking dan kedua orang itu roboh tepat di atas lantai beracun. Mereka roboh begitu kaki mereka me­nyentuh lantai itu! Bukan main ngeri, kagum dan juga girangnya hati Ceng Ceng karena melihat dua orang musuh tangguh dari gurunya itu dapat diroboh­kan sedemikian mudahnya. Dia hendak meloncat keluar akan tetapi mengurung­kan niatnya ini ketika dia menoleh ke arah gurunya, dia melihat gurunya itu dengan muka pucat dan pandang mata gelisah memberi isyarat agar dia tetap bersembunyi. Bahkan gurunya kini siap untuk melemparkan jarum-jarumnya ke depan!

Selagi Ceng Ceng terheran-heran dan bingung melihat sikap gurunya, tiba-tiba terdengar suara dua orang tertawa-tawa dan dari dalam terowongan berkelebatlah dua sosok bayangan orang. Sambil ter­tawa-tawa dua orang itu meloncat ke depan, menginjak punggung dua orang pertama yang masih menelungkup di atas lantai beracun, kemudian dari punggung itu mereka meloncat ke depan dan barulah tampak oleh Ceng Ceng bahwa yang meloncat hanya satu orang sedangkan orang ke dua duduk di atas pundak orang pertama. Orang pertama yang berada di bawah itu memakai sepatu kulit tebal dan orang ke dua yang duduk di atas pundak orang pertama itu tidak berse­patu, bahkan tidak berpakaian kecuali hanya sepotong cawat!

Tiba-tiba ular besar tadi menyerang ke bawah. “Heh-heh-heh!” Orang yang tidak berpakaian dan hanya bercawat itu terkekeh. “Masih ada permainanmu yang lain lagi, Nenek Buruk?” Bentaknya dan kedua tangannya bergerak cepat, dengan jari-jari tangan kurus panjang disodokkan ke arah kepala ular, jari-jari tangan itu telah menembus kulit ular seperti pisau-pisau runcing masuk ke dalam kepala dan leher ular besar itu! Darah muncrat-muncrat dan tubuh ular itu melorot tu­run, mencoba untuk membelit dua orang tadi.

Pada saat itu, Ban-tok Mo-li sudah menggerakkan kedua tangannya berganti­an dan sinar-sinar hitam menyambar ke arah dua orang kakek itu, disusul sinar-sinar merah dari jarum-jarum Ceng Ceng dan sinar putih dari pasir beracunnya. Namun, sambil tertawa kakek yang te­lanjang itu telah memutar-mutar bangkai ular besar sehingga semua serangan ja­rum dan pasir mengenai tubuh ular, mem­buat ular itu mati seketika dan tidak berkelojotan lagi. Kakek telanjang mem­buang bangkai ular dan melompat turun, kemudian kedua orang kakek itu melom­pat keluar mulut guha.

Ceng Ceng kini dapat memandang de­ngan jelas. Wajah kedua orang kakek itu bentuknya sama benar dan jelas bahwa mereka adalah orang kembar. Namun ke­samaan ini lenyap oleh perbedaan-perbedaan lain yang amat mencolok. Kakek pertama memakai pakaian lengkap dan serba baru, dari sepatu kulit sampai baju bulunya yang amat indah, mukanya pun berwarna pucat putih seperti kapur dan mukanya serius. Melihat baju mantel bulu dan penutup kepala bulu halus yang ma­hal itu pantasnya dia adalah seorang har­tawan besar yang mengenakan pakaian untuk musim salju dan agaknya dia terus merasa kedinginan! Adapun kakek ke dua sama sekali tidak memakai pakaian kecuali cawat atau celana pendek sekali itu, tubuhnya yang kurus itu seperti se­lalu terasa gerah dan mukanya pun kemerahan seperti dipanggang! Kakek inilah yang tertawa-tawa dan sikapnya seperti orang gembira biarpun wajahnya yang merah itu kelihatan menyeramkan seperti orang mabuk atau orang yang marah.

“Heh-heh-heh-heh, Ban-tok Mo-li, kaukira kami orang-orang bodoh? Untung kami menemukan dua orang di atas sana dan untung pula ada ular besar. Heh-heh!” kata kakek bermuka merah.

“Ban-tok Mo-li, cepat kauberikan kitab catatan racun kepada kami!” Kakek muka putih menyambung. Si Muka Putih ini berjuluk Pak-thian Lo-mo (Iblis Tua Dunia Utara) sedangkan Si Muka Merah adalah adik kembarnya, berjuluk Lam-thian Lo-mo (Iblis Tua Dunia Selatan). Seperti telah diceritakan di bagian depan cerita ini, kedua orang kakek kembar ini lebih terkenal dengan sebutan Siang Lo-mo (Iblis Tua Kembar) dan pernah me­nyerbu ke Pulau Es memusuhi Pendekar Super Sakti namun dikalahkan oleh pen­dekar itu dan kedua orang isterinya yang sakti. Mereka ini berasal dari Formosa (Taiwan) dan memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali. Si Muka Putih Pak-thian Lo-mo itu memiliki Im-kang yang amat kuat sehingga tubuhnya kedinginan terus maka dia selalu memakai pakaian tebal. Sebaliknya, Si Muka Merah Lam-thian Lo-mo adalah seorang ahli Yang-kang se­hingga tubuhnya yang kurus itu selalu telanjang karena dia merasa gerah terus.

“Aku tidak akan menyerahkan kitab apa pun kepada kalian dua manusia iblis!” Ban-tok Mo-li memekik dengan marah, matanya memandang dengan sinar berapi penuh kebencian.

“Kau bosan hidup!” Pak-thian Lo-mo membentak marah.

“Heh-heh-heh, siapa takut mampus? Kalian majulah, hendak kulihat siapa di antara kita yang akan mampus lebih dulu!” nenek itu menantang sambil tertawa mengejek.

“Singgg….!” Pak-thian Lo-mo sudah melolos sabuknya yang panjang berupa pecut baja yang mengerikan.

“Eihh, Pak-heng (Kakak Pak), perlahan dulu. Jangan mudah dibujuk oleh nenek busuk ini. Keenakan kalau dia dibunuh begitu saja, ha-ha-ha!” Lam-thian Lo-mo mencegah kakak kembarnya. “Kalau dia berkeras tidak mau memberikan ca­tatan itu memang sudah selayaknya dia mampus, akan tetapi harus mati perlahan-lahan dan kita siksa dulu sepuasnya!”

Agaknya Pak-thian Lo-mo yang amat menginginkan pengetahuan tentang segala macam racun itu, mengerti akan akal adik kembarnya, maka dia hanya bersu­ngut-sungut sambil menyimpan kembali senjatanya yang ampuh.

“Ban-tok Mo-li dengarlah.” Lam-thian Lo-mo berkata sambil tertawa. “Telah puluhan tahun engkau hidup seperti ular, kedua kakimu lumpuh, akan tetapi engkau masih dapat menggunakan kedua lenganmu untuk mengesot dan merangkak. Sekarang, kalau kau tidak mau menyerahkan catatan itu, kami akan melumpuhkan kedua lenganmu pula. Hendak kullhat bagaimana kau akan dapat me­rayap maju, apakah akan berlenggak-lenggok seperti ular, ha-ha-ha!”

“Heh-heh-heh, Lam-thian Lo-mo. Si­apa tidak mengetahui kelicikan kalian manusia iblis yang sudah mau mampus?” nenek itu balas mengejek. “Kalian takut mendekati aku, karena begitu mendekat, kalian tentu akan mampus, maka kalian menggertak. Hendak kulihat bagaimana kalian hendak membuntungi atau melum­puhkan kedua tanganku ini, hi-hik. Maju­lah!”

Dua orang kakek itu saling pandang. Memang apa yang diucapkan oleh nenek ini benar. Mereka berdua maklum betapa nenek ini setelah lumpuh kedua kakinya, selama dua puluh tahun memperdalam ilmunya sehingga kini merupakan lawan yang amat berbahaya, seolah-olah keada­an di sekeliling nenek itu beracun!

“Pak-heng, memang kau benar. Nenek busuk ini harus dihajar. Disangkanya kita tidak bisa menghajarnya dari jarak jauh!” kata Si Muka Merah.

“Memang dia harus dihajar sampai mampus!” jawab Si Muka Putih. “Lam-te, mari kita serang dia dengan batu dari jauh, baru kita menggunakan sen­jata.”

Pada saat itu, Ceng Ceng sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Dia meloncat ke depan sambil berseru, “Dua orang kakek berhati kejam!”

“Lu Ceng, jangan….!” Ban-tok Mo-li berteriak namun terlambat karena dara itu sudah menyerang kepada dua orang kakek itu dengan pukulan-pukulan tangan­nya.

“Ha-ha-ha, Ban-tok Mo-li sudah mem­punyai seorang pembantu yang nekat!” Lam-thian Lo-mo tertawa mengejek ketika dia bersama kakaknya dengan mu­dahnya mengelak dari serangan-serangan Ceng Ceng yang marah sekali.

“Sepasang manusia iblis keji! Kalian telah menyiksa Subo, telah membuat hidup Subo amat sengsara, dan kalian masih saja mendesak dan mengganggunya!” Ceng Ceng memaki-maki sambil menyerang lagi dengan ganas. Namun semua serangannya gagal karena dua orang kakek itu amat mudah mengelaknya tan­pa banyak bergerak.

Melihat betapa Ceng Ceng membela­nya mati-matian, nenek itu tercengang dan terheran-heran. Tadinya dia adalah seorang pembenci manusia, siapa pun dibencinya dan dimusuhinya karena dia seperti merasa bukan manusia lagi. Juga terhadap Ceng Ceng sebetulnya dia ben­ci, hanya karena dia enggan kehilangan dara itu yang telah datang di tempat itu dan dapat menjadi temannya, bahkan da­pat pula kelak dipaksa untuk mengajak­nya keluar, maka dia tidak membunuh Ceng Ceng bahkan menerimanya sebagai murid. Akan tetapi sekarang, melihat betapa dara itu membelanya mati-mati­an, dengan nekat melawan dua orang kakek itu, timbul perasaan terharu dan sayang kepada Ceng Ceng, maka tentu saja dia menjadi amat khawatir melihat betapa Ceng Ceng menyerang dua orang kakek yang tentu saja sama sekali bukan lawan muridnya itu.

“Lu Ceng muridku…., jangan….! Mundurlah dan biar aku yang menghadapi mereka!” Nenek itu berteriak-teriak sam­bil mengesot maju.

Dua orang kakek kembar itu adalah orang-orang yang cerdik. Sebetulnya me­reka tidak ingin benar membunuh nenek itu karena memang tidak mempunyai permusuhan apa-apa. Yang penting bagi mereka adalah kepandaian nenek itu ten­tang racun, dan semua penyiksaan dan ancaman yang mereka lakukan terhadap Ban-tok Mo-li semata-mata karena ingin memaksa nenek itu menyerahkan catatan tentang racun. Kalau sampai mereka mem­bunuh nenek itu tentu karena kecewa dan marah akan kekerasan hati nenek itu. Kini mereka dapat melihat sikap Ban-tok Mo-li, dan mendengar dalam suara nenek itu terkandung rasa sayang kepada gadis yang menjadi muridnya itu, maka sekaligus mereka telah dapat menentukan sikap dan akal mereka. Memang ada per­talian batin yang aneh di antara dua orang kembar ini, kadang-kadang tanpa kata-kata mereka sudah dapat mengerti isi hati masing-masing.

Lam-thian Lo-mo tertawa bergelak, lalu tubuhnya bergerak membalas serang­an Ceng Ceng. Dara ini terkejut bukan main menyaksikan serangan yang amat dahsyat itu. Lengan telanjang itu menye­rangnya dengan berbareng, yang kiri mencengkeram ke arah dadanya dengan jari-jari terbuka, yang kanan mencengke­ram ke arah ubun-ubun kepalanya. Dia cepat meloncat ke belakang sambil menggerakkan kedua tangan menangkis, akan tetapi tiba-tiba ada hawa dingin me­nyambar dari arah belakang dan sebelum dia sempat mengelak, kedua pergelangan tangannya sudah ditangkap oleh kedua tangan Pak-thian Lo-mo! Ceng Ceng me­ronta-ronta, akan tetapi Lam-thian Lo­mo tertawa-tawa dan sudah menyambar ke bawah dan di lain saat tubuh dara itu sudah tergantung dan terlentang seperti seekor rusa ditangkap dan hendak disembelih. Kedua tangannya dipegang oleh Pak-thian Lo-mo sedangkan kedua kaki­nya dipegang oleh Lam-thian Lo-mo. Ceng Ceng hanya meronta-ronta memaki-maki, akan tetapi tidak berdaya melepaskan diri dari pegangan kedua orang ka­kek itu. Kalau mereka menghendaki, be­tapa mudahnya bagi mereka untuk mem­bunuh dara itu.

“Lu Ceng….!” Ban-tok Mo-li menjerit ketika melihat muridnya tertawan. “Siang Lo-mo, keparat busuk! Lepaskan murid­ku!”

“Ha-ha-ha!” Lam-thian Lo-mo tertawa dan bersama kakak kembarnya dia meng­hampiri tepi jurang depan guha. “Ban-tok Mo-li, kaulihatlah dulu muridmu yang cantik jelita dan muda belia ini terbang ke bawah sana agar tubuhnya hancur lebur di dasar jurang yang tak tampak dari sini, dengar saja jeritnya yang me­lengking nanti agar dapat kaunikmati se­belum kau mampus pula di tangan kami. Ha-ha-ha!” Bersama kakak kembarnya, Lam-thian Lo-mo mengayun-ayun tubuh dara itu dan siap untuk melepaskan pe­gangan dan melemparkan tubuh itu ke dalam jurang.

“Tunggu….! Tahan….! Kalian menghen­daki catatan racun? Sudah kubuatkan….!” Nenek itu menjerit penuh kegelisahan melihat tubuh muridnya sudah hampir dilempar ke jurang.

“Ha-ha-ha-ha, siapa percaya omongan­mu, nenek busuk?” Lam-thian Lo-mo mengejek.

“Bedebah! Ini kitabnya! Sudah kuper­siapkan!” Nenek itu merogoh pinggangnya mengeluarkan sejilid kitab kecil bersampul hitam.

“Bagus! Berikan itu kepada kami dan kami akan membebaskan muridmu,” kata pula Lam-thian Lo-mo, girang bukan main karena isi kitab itu akan membuat me­reka berdua bertambah lihai.

“Lemparkan dia kepadaku dan aku akan melemparkan kitab ini kepadamu!” nenek itu kini menahan karena melihat betapa musuh amat menginginkan kitab itu.

“Baik, aku akan melemparkannya ke­padamu. Akan tetapi kau juga harus me­lemparkan kitab itu kepadaku.” Lam-thian Lo-mo berkata.

“Nanti dulu, Lam-te!” Pak-thian ber­kata tenang. “Jangan sampai dapat ditipu nenek busuk itu! Peganglah tangan gadis ini!”

Lam-thian Lo-mo memegang pergela­ngan kedua kaki Ceng Ceng dengan ta­ngan kiri sedangkan tangan kanannya kini menggantikan kakak kembarnya meme­gangi kedua pergelangan tangan gadis itu. Kuat sekali kedua tangan kakek kurus bermuka merah ini sehingga Ceng Ceng merasa betapa kedua kaki tangan­nya seperti dijepit alat dari baja dalam genggaman jari-jari tangan kakek itu. Pak-thian Lo-mo lalu mengeluarkan se­pasang sarung tangan putih, kemudian memakainya. Setelah itu baru dia berkata, “Nah, sekarang pertukaran boleh dilakukan, Lam-te.”

“Ha-ha-ha, kau benar cerdik, Pak-heng. Aku sampai lupa bahwa tentu kitab itu penuh dengan racun berbahaya pula!” Dia memandang nenek itu yang kelihatan marah-marah. “Ban-tok Mo-li, lagi-lagi siasatmu tidak berhasil, ha-ha! Hayo lempar kitab itu kepada Pak-heng dan aku akan melemparkan dara ini kepadamu!”

“Keparat, iblis busuk!” Nenek itu me­maki dan melemparkan kitab hitam ke­pada Pak-thian Lo-mo pada saat Lam-thian Lo-mo melemparkan tubuh Ceng Ceng kepadanya.

Tubuh Ceng Ceng tentu akan terban­ting kalau saja kedua tangan subonya tidak menyangganya dan menariknya agar dara itu duduk di sebelahnya dan dapat dilindunginya. Sementara itu, Pak-thian Lo-mo sudah membalik-balik kitab kecil dan wajahnya yang serius itu kini berseri melihat catatan racun-racun de­ngan obat pemunahnya. Dia mengangguk kepada adik kembarnya dan keduanya lalu melompat jauh melewati kepala Ceng Ceng dan Ban-tok Mo-li, melompati pula lantai beracun seperti tadi, yaitu Lam-thian Lo-mo, di atas pundak kakak kembarnya yang meloncat dan menginjak mayat dua orang tadi sebagai batu lon­catan, kemudian keduanya menghilang di dalam terowongan gelap.

Ceng Ceng sudah bangkit berdiri hen­dak mengejar, akan tetapi tangannya dipegang oleh nenek itu. “Kau mau apa?”

“Subo, aku hendak membayangi me­reka untuk mencari jalan keluar mereka.”

“Sssttt…. percuma. Mereka bergerak cepat sekali dan kalau sampai ketahuan kau membayangi mereka, tentu kau akan mereka bunuh.”

Ceng Ceng mengurungkan niatnya, akan tetapi diam-diam dia mengingat se­mua peristiwa tadi, tentang kemunculan mereka, suara mereka ketika pertama kali datang, agar dia dapat menyelidiki dan mengira-ngira dari mana kiranya mereka itu datang ke dalam terowongan. Dia menyangka bahwa sudah pasti di da­lam terowongan yang gelap itu terdapat sebuah pintu rahasia yang menghubungkan tempat itu dengan dunia luar.

“Jangan mengharapkan yang bukan-bukan, muridku. Selama betahun-tahun aku telah menyelidiki seluruh tempat itu, telah memeriksa seluruh terowongan, na­mun tidak berhasil menemukan. Sekarang lebih baik kau tekun belajar agar dapat menguasai semua ilmuku sehingga kelak kalau mereka berdua datang, kau akan mampu merobohkan mereka dan memaksa mereka mengantarmu keluar dari sini.”

“Apakah mereka akan datang lagi se­telah berhasil merampas kitab?”

Nenek itu menyeringai lalu tertawa. “Heh-heh-heh, mereka mengira aku ini orang macam apa? Sudah kuatur sebe­lumnya dan biarpun racun yang kuoleskan pada kitab itu tidak berhasil karena ke­cerdikan Pak-thian Lo-mo, namun aku sengaja membuat obat ramuan pemunah satu diantara racun yang paling jahat se­cara keliru. Kalau mereka kelak menda­pat kenyataan itu, apalagi kalau mereka membutuhkan obat pemunah, tentu me­reka akan turun lagi ke sini! Dan semen­tara itu, engkau tentu sudah pandai dan dapat kita bersama membunuh mereka….”

“Membunuh….?”

“Maksudku, membunuh setelah mereka kita paksa membawa kita keluar.” Nenek itu cepat menyambung. Ceng Ceng boleh jadi cerdik, namun dia tidak mampu me­lawan kecerdikan nenek itu sehingga tidak dapat menduga isi hati nenek itu yang sebenarnya. Nenek itu sama sekali sudah tidak mempunyai keinginan untuk keluar dari tempat itu. Apa gunanya keluar kalau dia sudah menjadi seorang manusia tak berguna seperti itu? Hanya akan mendatangkan penghinaan dan rasa malu. Akan tetapi dia ingin melihat mu­ridnya ini berkepandaian tinggi agar ke­lak dapat membalaskan sakit hatinya, dapat membunuh dua orang kakek itu. Soal mereka akan dapat keluar dari tem­pat itu atau tidak, sama sekali tidak diperdulikannya.

Ceng Ceng yang tidak melihat jalan lain lalu menghibur diri dengan belajar secara tekun sekali sehingga dia mem­peroleh kemajuan pesat dan perlahan-lahan dia pun mulai memasukkan sari-sari racun yang terdapat diantara jamur-jamur yang tumbuh di terowongan dan makin lama dia makin berbahaya karena mulailah dia menjadi seorang “manusia beracun” seperti ibu gurunya sehingga setiap tendangan, setiap pukulan, setiap tamparan atau cengkeraman, mengandung racun hebat. Bahkan dia mulai melatih ilmu sin-kang beracun untuk membuat setiap anggauta tubuhnya, sampai ke ludah-ludahnya mengandung racun yang berbahaya!

***

Pertentangan antara para pangeran yang dipelopori oleh dua Pangeran Tua Liong Bin Ong dan Liong Khi Ong di satu pihak dan Perdana Menteri Su yang setia kepada Kaisar, sungguhpun merupa­kan pertentangan yang tidak terang-te­rangan, namun telah mendatangkan ke­adaan yang panas dan kacau di kota raja. Namun, berkat ketrampilan dan ke­gagahan Puteri Milana dan pasukah-pa­sukan yang dipimpin olehnya sebagai bantuan terhadap tugas suaminya, yaitu Perwira Pengawal Han Wi Kong, keadaan di kota raja dapat dibikln tenteram dan aman. Kedua orang Pangeran Liong tidak berani membuat huru-hara di kota raja karena mereka tahu bahwa pihak Men­teri Su dan Puteri Milana yang tentu saja bekerja sama itu hanya menanti sampai ada bukti-bukti pemberontakan mereka untuk dapat turun tangan menen­tang mereka secara terang-terangan.

Sebagai adik-adik dari Kaisar, tentu saja kedua orang Pangeran Liong ini mempunyai pengaruh yang cukup besar. Tanpa adanya bukti penyelewengan me­reka, Kaisar sendiri tidak dapat meng­ambil tindakan secara begitu saja. Dan mereka cukup cerdik untuk menghapus semua bekas dan bukti pemberontakan mereka, karena mereka memiliki pem­bantu-pembantu yang amat pandai, orang-orang berilmu tinggi yang mewakili me­reka melakukan hubungan dengan luar kota raja.

Pada hari itu, kota raja kelihatan ramai dan banyak pembesar keluar dari gedung masing-masing untuk mengunjungi Istana Pangeran Liong Bin Ong yang merayakan ulang tahunnya yang ke enam puluh! Diadakan perayaan besar-besaran di dalam istana pangeran tua ini dan tentu saja para bangsawan dan keluarga keraja­an datang semua memenuhi undangan ini. Bahkan Perdana Menteri Su dan Puteri Milana sendiri, merasa tidak enak kalau tidak menghadiri pesta itu, di mana me­reka diundang dan termasuk tamu-tamu kehormatan! Bahkan Kaisar sendiri me­ngirim hadiah ulang tahun dan mewakilkan kehadirannya dan ucapan selamatnya kepada Perdana Menteri Su.

Gedung istana yang besar dan megah itu dipajang meriah dan karena jumlah tamu amat banyak, maka yang datang terlambat terpaksa dipersilakan duduk di kursi-kursi yang diatur di luar ruangan depan, yaitu di dalam taman dan di sam­ping kiri ruangan itu, taman yang sudah dihias dan dirubah menjadi ruangan tamu dengan penerangan cukup dan terlindung tenda-tenda besar.

Sejak siang tadi sampai malam, bunyi alat musik tidak pernah berhenti, dan bau arak wangi sampai dapat tercium oleh penduduk yang berdiri menonton pesta di luar pagar di tepi jalan raya depan istana pangeran itu. Karena pesta itu diadakan di waktu malam, maka para tamu datang berbondong-bondong mulai sore dan setelah keadaan menjadi gelap dan tempat pesta itu diterangi oleh banyak sekali lampu penerangan, tempat itu telah penuh dengan para tamu. Juga di luar pagar penuh dengan penduduk yang menonton, sebagian besar anak-anak. Mereka ini tidak hanya ingin men­dengarkan musik dan menonton orang pesta, akan tetapi juga ingin sekali meli­hat orang-orang besar dan bangsawan- bangsawan istana yang pada malam hari itu berkumpul di situ, padahal biasanya amat sukar bagi rakyat untuk menyaksi­kan mereka. Mereka memperhatikan para penyambut tamu yang meneriakkan nama tamu yang terhormat sebagai laporan kepada pihak tuan rumah yang menyam­but di ruangan agar pihak tuan rumah tahu siapa yang telah datang di pintu gerbang dan mempersiapkan sambutan sesuai dengan kedudukan para tamu ter­hormat itu.

Sejak tadi, pihak penyambut tamu di depan tiada hentinya meneriakkan nama-nama para bangsawan yang datang ber­bondong, dari pejabat militer yang tentu berkedudukan panglima sampai kepada pembesar yang merupakan orang-orang penting dalam pemerintahan. Setiap ada nama bangsawan disebut, orang-orang yang berkerumun di luar memanjangkan leher untuk melihat bagaimana bentuk orangnya, karena banyak yang sudah mereka dengar namanya namun belum pernah melihat orangnya.

“Yang terhormat Perwira Pengawal Han Wi Kong bersama isteri, Yang Mulia Puteri Milana….!”

Seruan ini disambut oleh suara gaduh dan bahkan ada suara tepuk tangan di antara para penonton di luar pagar. Si­apakah yang tidak mengenal nama Puteri Milana? Bagi penghuni kota raja, besar kecil semua mengenal nama ini dan me­rasa kagum serta berterima kasih karena puteri inilah yang selalu menentang para pengacau dan puteri ini yang selalu siap melindungi rakyat apabila terjadi penin­dasan dari pihak pemerintah atau alat pemerintah yang menyalahgunakan ke­kuasaannya.

“Hidup Yang Mulia Puteri Milana….!” Terdengar seruan diantara para penonton itu dan bahkan anak-anak yang berada di situ berebut tempat untuk dapat melihat dengan lebih jelas wajah Puteri Milana yang mereka kagumi dan hormati itu. Diantara para penonton ini, terdapat dua orang pemuda yang juga memandang de­ngan mata bersinar-sinar dan wajah ber­seri-seri kepada puteri yang baru turun dari kereta bersama suaminya, seorang perwira yang tampan dan gagah itu.

Perwira itu adalah Han Wi Kong, se­orang pria berusia hampir empat puluh tahun yang bertubuh sedang, berwajah tampan dan pendiam, berpakaian sebagai seorang perwira pengawal dengan seba­tang pedang tergantung di pinggangnya. Dengan sikap menyayang dan menghor­mat dia membantu isterinya turun dari kereta. Begitu turun dan mendengar sam­butan rakyat yang menonton, Puteri Mi­lana menoleh keluar dan mengangkat tangan melambai sambil tersenyum, akan tetapi senyumnya tidak dapat merubah wajahnya yang agak pucat dan dingin. Dia memang cantik jelita, biarpun usia­nya sudah tiga puluh tahun lebih namun tubuhnya masih ramping seperti seorang dara belasan tahun, pakaiannya indah na­mun sederhana dan rambutnya tidak di­hias dengan emas permata. Pakaiannya lebih menyerupai pakaian seorang pende­kar wanita yang sering melakukan per­jalanan jauh, ringkas dan sederhana dari­pada pakaian seorang puteri cucu kaisar dan isteri perwira. Sehelai mantel ber­warna ungu yang lebar menutupi pakaian­nya dan menyembunyikan sebatang pe­dang yang tergantung di pinggangnya. Warna ungu mantelnya itu cocok sekali dengan warna pakaiannya yang serba kuning dan dengan tenang dia melangkah di samping suaminya, mukanya diangkat dan matanya lurus memandang ke depan, sikapnya tenang sekali padahal semua orang dapat menduga dan dia sendiri tahu bahwa dia memasuki guha macan!

Pangeran Liong Bin Ong menyambut Puteri Milana dan suaminya dengan pe­nuh kehormatan dan dengan wajah berseri dan mulut tersenyum lebar, lalu setelah mereka saling memberi hormat seperti yang semestinya karena pangeran itu masih terhitung paman kakeknya sendiri, Puteri Milana lalu diantar duduk di tempat kehormatan di mana telah duduk Perdana Menteri Su yang menyam­but puteri itu dengan pandang mata pe­nuh arti dan mulut tersenyum.

Setelah duduk di kursi yang disedia­kan untuknya, Milana memandang ke se­luruh ruangan itu penuh perhatian. Dia memperoleh kenyataan bahwa pihak tuan rumah telah mengatur sedemikian rupa sehingga golongan yang memihak Kaisar berada di satu kelompok, adapun para bangsawan yang diragukan kesetiaannya duduk tersebar mengelilingi kelompok itu. Seolah-olah kelompok yang setia kepada Kaisar telah dikurung! Namun dia ber­sikap tenang-tenang saja seolah-olah tidak ada hal yang perlu dirisaukan.

“Wah, Enci (Kakak) Milana hebat se­kali, ya?” Seorang di antara dua pemuda yang berada diantara para penonton ber­kata sambil menyiku lengan pemuda ke dua.

“Memang hebat! Mengapa kita tidak menghadap dia, Bu-te?” kata Suma Kian Lee kepada Suma Kian Bu yang kelihatan girang dan bangga sekali melihat kakak­nya. Dua orang pemuda Pulau Es itu baru saja tiba di kota raja siang tadi dan sebagai dua orang pemuda yang be­lum pernah melihat kota besar dan se­indah itu, mereka menjadi kagum dan berkeliling kota, mengagumi segala ke­indahan yang amat luar biasa itu. Akhir­nya mereka terbawa oleh arus orang yang menuju ke depan istana Pangeran Liong Bin Ong yang sedang mengadakan perayaan itu dan mereka ikut pula me­nonton.

“Lee-ko, Ibu telah berpesan kepadaku agar aku pandai membawa diri di kota raja, jangan bersikap liar dan tidak sopan, karena hal itu akan memalukan Enci Milana sebagai seorang puteri istana. Aku tidak berani memanggilnya di tempat ini, Koko.”

“Kau benar, Bu-te. Memang tidak pantas, apalagi pakaian kita sudah kotor begini. Enci Milana dihormat sedemikian rupa dan dikagumi rakyat, kalau kita menegurnya dan semua orang mendengar bahwa kita adalah adik-adiknya, tentu akan menimbulkan keributan dan akan memalukan Enci Milana. Kita menonton saja di sini dan nanti kalau dia pulang, kita ikuti dan kita menghadap di tempat tinggalnya.”

Kian Bu mengangguk dan kedua orang muda itu lalu menonton ke dalam, ber­campur dengan anak-anak dan orang-orang lain. Tentu saja perhatian mereka selalu tertuju kepada Puteri Milana yang tempat duduk kelompoknya agak tinggi sehingga dapat terlihat dari luar.

Sementara itu, sambil kadang-kadang mengangkat cawan arak mengajak para tamunya minum, diam-diam Pangeran Liong Bin Ong tersenyum memandang ke arah kelompok yang duduk di bagian ke­hormatan. Mereka yang memusuhiku ber­ada di situ, pikirnya melamun. Terutama sekali Perdana Menteri Su dan Puteri Milana, musuh besarnya dan penghalang utamanya. Kalau pada saat itu dia me­ngerahkan kaki tangannya dan berhasil membunuh mereka, alangkah balknya! Akan tetapi tentu saja hal itu akan me­nimbulkan geger! Sebaiknya digunakan siasat seperti yang telah diaturnya de­ngan para pembantunya. Betapapun hati­nya menyesal mengapa dia tidak dapat membunuh mereka semua itu selagi ke­sempatan terbuka begini lebar. Sekali dia mengerahkan para pengawal dan pemban­tunya, mereka yang kini terkurung itu tentu tidak akan mampu lolos!

Tiba-tiba seorang pengawalnya meng­hampiri pangeran tua ini, memberi hor­mat dan menyerahkan sepucuk surat tanpa berkata-kata. Pangeran Liong Bin Ong menerima surat itu dan memberi isyarat supaya pengawalnya mundur, ke­mudian sambil tersenyum dibacanya surat kecil itu. Mendadak mukanya berubah agak pucat ketika dia membaca surat laporan dari kepala pengawal yang disu­ruh melakukan penjagaan dan penyelidik­an. Tulisan pengawalnya itu adalah se­perti berikut :

Menurut hasil penyelidikan, orang-­orangnya Puteri Milana telah menye­linap diantara para tamu, para pe­nabuh musik, dan diantara para penonton. Bahkan pasukan istimewa Perwira Han Wi Kong melakukan baris pendam mengurung istana ini.

Pangeran Liong Bin Ong mengusap peluh dengan saputangannya. Untung bah­wa semua rencananya membunuh kelom­pok di tempat kehormatan itu hanyalah merupakan lamunan kosong belaka. Kalau dilaksanakan, sebelum hal itu terjadi, tentu dia telah ditangkap dan istana itu diserbu! Bukan main cerdiknya Puteri Milana dan dia mengerling ke arah puteri itu dan suaminya dengan sinar mata penuh kebencian. Tentu saja para penjaga­nya tidak melihat baris pendam yang te­lah diatur oleh Han Wi Kong. Tentu para anggauta pasukan istimewa itu melakukan pengurungan dengan bersembunyi, hanya siap sewaktu-waktu untuk menyerbu dan melindungi junjungan mereka!

Pangeran Liong Bin Ong masih me­mandang kepada Milana dan suaminya dengan penuh kemarahan dan kebencian. Akan tetapi karena pada saat ituhidangan sedang dikeluarkan, dia menahan sabar dan bahkan dengan muka dimanis-maniskan dia berdiri dari kursinya, menghampiri para tamu terhormat sambil ter­bongkok-bongkok dan mempersilakan me­reka menikmati hidangan yang dikeluar­kan. Mulailah para tamu makan minum sambil bercakap-cakap dan di bagian para tamu yang kebagian tempat duduk di dalam taman, tampak Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu ikut pula makan mi­num dengan lahapnya di sebuah meja!

Ternyata Suma Kian Bu tidak dapat menahan keinginan hatinya ketika dia melihat para tamu mulai makan minum. Bau arak wangi dan masakan yang masih mengepulkan uap, membuat perutnya yang sudah lapar itu menjadi makin lapar, maka dia menyentuh lengan kakaknya dan memberi isyarat dengan kepala, ke­mudian tanpa menanti jawaban Suma Kian Lee yang mengerutkan alisnya, Suma Kian Bu pergi keluar dari rombong­an para penonton yang memandang orang makan sambil menelan air liur itu. Kian Bu mengajak Kian Lee ke bagian yang sunyi, kemudian mereka menggunakan waktu semua penonton memandang ke dalam, seperti dua ekor burung rajawali mereka meloncati pagar tembok dan me­nyusup melalui tempat gelap, akhirnya mereka dapat menyelinap masuk dan duduk di kursi paling belakang dari rom­bongan tamu yang kebagian tempat di taman! Mereka bersikap biasa saja ketika para pelayan datang membawa hidangan dan mengangguk dengan sikap angkuh se­olah-olah mereka juga tamu-tamu kehor­matan ketika para pelayan menaruh hidangan dan memandang hidangan-hidang­an dan arak yang diatur di atas meja itu dengan sikap angkuh dan acuh tak acuh, dengan pandangan yang jelas menyatakan bahwa mereka telah “biasa” dengan hi­dangan seperti itu, seperti sikap orang-orang muda bangsawan dan kaya raya. Akan tetapi begitu para pelayan itu me­ninggalkan meja mereka untuk melayani para tamu lain, Suma Kian Lee dan Su­ma Kian Bu segera menyerbu hidangan-hidangan itu dan makan dengan lahapnya karena memang perut mereka sudah la­par dan selamanya mereka belum pernah makan hidangan mahal selezat itu.

Sementara itu, Pangeran Liong Bin Ong sudah memutar otaknya. Rencananya gagal total. Tadinya dia dan anak buahnya telah merencanakan siasat keji untuk membasmi musuh-musuhnya. Rencana ini adalah memancing keributan sehingga terjadi pertempuran seolah-olah pihak pemberontak mengacaukan pestanya dan di dalam kekacauan ini dia akan menge­rahkan kaki tangannya yang lihai untuk membunuh Puteri Milana dan Perdana Menteri Su, sedangkan dia telah meren­canakan untuk membiarkan dirinya “di­culik” oleh pengacau. Hal ini untuk membuktikan kebersihannya, sehingga selain musuh-musuh yang diseganinya, Perdana Menteri Su dan Puteri Milana dapat di­tewaskan, juga Kaisar akan kehilangan kecurigaannya terhadap dirinya. Tentu saja yang “menculiknya” adalah kaki tangannya sendiri dan dia akan mencari akal untuk dapat lolos dari tawanan para penculik, kalau perlu dengan tuntutan penebusan kepada pihak istana. Akan tetapi, siapa kira, Panglima Han Wi Kong, atau lebih tepat lagi Puteri Milana karena dia menduga keras bahwa puteri itulah yang mengatur semua ini, agaknya telah mencium rahasia itu atau juga telah menduga akan terjadinya sesuatu yang tidak wajar sehingga istana itu dikepung oleh pasukan terpendam sehingga tentu saja rencananya gagal karena kalau dilanjutkan, tentu akan ketahuan bahwa dialah yang mengatur kekacauan itu.

Sambil bersungut-sungut Liong Bin Ong memberi isyarat kepada seorang yang berdiri sebagai penjaga di sudut ruangan. Orang ini sebetulnya adalah ke­pala pengawalnya yang sejak tadi me­mandang ke arah majikannya setelah dia menyuruh seorang pengawal menyerahkan laporan tertulisnya. Melihat kepala pengawal itu memandang kepadanya, Pa­ngeran Liong Bin Ong lalu mengangkat tangan kanannya ke atas, menekuk semua jari tangannya kecuali jari tengah dan telunjuk. Ini merupakan isyarat rahasia bahwa dia menghendaki agar “siasat ke dua” dijalankan, karena siasat pertama gagal total. Memang, sebagai seorang ahli siasat, Pangeran Liong Bin Ong dan anak buahnya telah mengatur rencana selengkapnya, yaitu telah direncanakan siasat cadangan untuk merubah rencana kalau yang pertama gagal.

Rencana ini akan mempergunakan siasat ke dua, tidak lagi untuk membu­nuh Perdana Menteri Su dan Puteri Mi­lana. Tak mungkin lagi dilakukan rencana pembunuhan setelah Puteri Milana dengan cerdiknya mengatur barisan pendam me­ngurung istana, bahkan menyelundupkan pengawal-pengawalnya ke dalam para tamu, para penonton bahkan ahli-ahli musik yang sedang menghibur para tamu. Akan tetapi siasat ke dua dapat dijalan­kan, yaitu untuk membuat pihak Puteri Milana malu di depan para tamu bangsa­wan, yaitu dengan jalan mengadu kepan­daian antara jago-jago yang telah diper­siapkan oleh Pangeran Liong Bin Ong se­belumnya, dan pihak tamu kehormatan yang akan ditantang dengan jalan halus.

Kalau sampai berhasil memancing kema­rahan Puteri Milana dan puteri yang per­kasa itu turun tangan sendiri, itulah yang diharapkan karena hal itu berarti bahwa siasat mereka berhasil. Kalau Sang Puteri maju, maka hanya ada dua kerugian di pihak Puteri Milana. Kalau Sang Puteri kalah, jelas hal ini yang dikehendaki Pa­ngeran Liong Bin Ong, apalagi kalau da­lam pertandingan itu Puteri Milana sam­pai dapat ditewaskan. Andaikata sebalik­nya, karena puteri itu memang amat lihai, setidaknya puteri itu telah meren­dahkan diri melayani jagoan-jagoan, dan merendahkan derajatnya sebagai puteri cucu Kaisar dan tentu hal ini akan mu­dah dijadikan bahan menghasut Kaisar agar Kaisar yang tua itu membenci cucu­nya yang dianggap mencemarkan kehormatan keluarga kerajaan!

Setelah semua tamu selesai makan, Pangeran Liong Bin Ong diam-diam mem­beri isyarat. Tak lama kemudian, dari rombongan tamu yang berada di dalam taman, berdirilah dua orang, yang seorang bertubuh tinggi besar bermuka hitam dan kelihatan kasar dan kuat sekali, sedangkan orang ke dua tinggi kurus dengan muka kuning mata sipit, langkahnya gontai seperti orang lemah. Kedua orang ini seperti orang mabuk berjalan menuju ke tempat kehormatan, lalu men­jatuhkan diri berlutut di atas lantai di tengah ruangan yang memang telah di­persiapkan untuk menjadi tempat gelang­gang adu kepandaian di mana hanya ter­dapat meja besar tempat menyimpan semua hadiah dan sumbangan. Kedua orang itu menghadap kepada Pangeran Liong Bin Ong dan Si Tinggi Kurus yang berkata dengan suara melengking nyaring sehingga terdengar oleh semua yang ha­dir, terutama sekali oleh mereka yang duduk di panggung kehormatan karena kedua orang itu berlutut menghadap ke situ.

“Mohon paduka sudi mengampunkan kami berdua. Akan tetapi kami berdua menagih janji paduka untuk menguji kami di depan para tamu yang mulia agar da­pat memutuskan apakah kami patut men­jadi pengawal pribadi paduka yang dapat dipercaya.”

Semua orang tentu saja memandang dan selain merasa heran juga berkhawatir melihat keberanian dua orang itu meng­ganggu pesta dan tentu Pangeran Liong Bin Ong akan marah sekali. Akan tetapi pangeran itu hanya memandang dengan tersenyum, sedangkan yang menjadi ma­rah adalah Pangeran Liong Khi Ong yang tadi mendekati kakaknya, tak lama se­telah pengawal mengantar surat. Pange­ran Liong Khi Ong bangkit berdiri dari kursinya dan sambil menudingkan telun­juknya kepada kedua orang itu dia membentak, “Manusia-manusia kurang ajar! Berani kalian mengganggu pesta dengan bicara tentang pekerjaan?” Pangeran Liong Khi Ong sudah menoleh kepada pengawal untuk memberi perintah me­nangkap mereka, akan tetapi tiba-tiba Pangeran Liong Bin Ong memegang le­ngan adiknya itu dan berkata nyaring se­hingga semua tamu mendengar suaranya,

“Jangan persalahkan mereka! Memang aku sudah berjanji kepada mereka untuk menguji mereka dalam pesta ini!” Kemu­dian Pangeran Liong Bin Ong bangkit berdiri dan menghadapi para tamu di bagian kehormatan sambil berkata, “Cu-wi sekalian yang mulia. Di dalam keada­an terancam oleh pengacauan-pengacauan para pemberontak suku bangsa di luar tapal batas, kita perlu sekali menghim­pun tenaga untuk menjadi pengawal-pe­ngawal dan melindungl kita.”

Puteri Mllana dan Perdana Menteri Su saling bertukar pandang dan Puteri Mila­na menahan senyum mengejek. Betapa tak tahu malu pangeran tua yang menjadi paman kakeknya itu. Sudah terang, biarpun belum ada bukti, bahwa kedua orang Pangeran Liong itulah yang mengandalkan semua pemberontak suku bangsa, seka­rang masih berani bicara seperti itu!

“Dua orang saudara dari dunia kang-ouw ini mendengar bahwa kami sedang membutuhkan tenaga pengawal-pengawal yang sakti. Kemarin dulu mereka datang menghadap kami dan melamar pekerjaan menjadi pengawal pribadi. Karena kami sedang menghadapi perayaan, maka kami memutuskan untuk menguji mereka pada saat pesta ini, sekalian untuk memeriah­kan suasana pesta. Karena kami mengerti bahwa pada saat inilah terkumpul semua tokoh gagah perkasa yang tentu akan sudi turun tangan membantu kami untuk menguji mereka berdua apakah benar mereka memiliki kepandaian dan patut menjadi pengawal pribadi kami. Yang tinggi besar bermuka hitam ini adalah Yauw Siu, seorang jagoan dari Pantai Po-hai!” Si Muka Hitam bangkit berdiri dan dengan mengerahkan tenaga mem­buat otot-otot lengan dan lehernya tam­pak menggembung, dia membungkuk dan memberi hormat ke empat penjuru.

“Yang tinggi kurus bermuka kuning adalah Sun Giam, jagoan dari pegunungan selatan,” kata pula Pangeran Liong Bin Ong dan Si Tinggi Kurus juga memberi hormat ke empat penjuru.

“Silakan jika di antara Cu-wi ada yang suka membantu kami untuk menguji kedua orang calon pengawal ini!” Pange­ran Liong Bin Ong menutup kata-katanya lalu duduk kembali. Suasana menjadi sunyi sekali. Biarpun terdengarnya seperti seorang yang minta bantuan menguji dan sekaligus memeriahkan suasana pesta, namun bagi mereka yang diam-diam menentang pangeran ini, jelas terasa bahwa pangeran itu mengajukan dua orang jagoannya untuk menantang! Betapapun, di antara para tamu kehormatan tidak ada yang sudi untuk memenuhi tantangan ini, karena mereka tidak sudi merendahkan diri melawan orang-orang yang dianggap­nya rendah itu.

Kesunyian yang mencekam sekali dan tampak Puteri Milana menahan senyum, girang bahwa pancingan pangeran tua itu tidak berhasil. Dua orang jagoan yang kini masih berdiri itu memandang ke sekeliling, dan kelihatan blngung karena tidak ada yang menyambut tantangan Pangeran Liong Bin Ong. Timbullah ke­sombongan dalam hati Yauw Siu yang mengira bahwa diamnya para tamu ini adalah karena mereka gentar kepadanya! Maka sambil mengangkat dada dia ber­kata nyaring setelah tertawa, “Ha-ha-ha, harap para orang gagah yang hadir di sini tidak khawatir karena saya Yauw Siu yang berjuluk Hek-bin Tiat-liong (Naga Besar Bermuka Hitam) tidak perlu mem­bunuh dalam pi-bu (mengadu kepandaian)!”

Tiba-tiba tampak seorang pembesar bangkit dari kursinya, pembesar ini ge­muk dan dia adalah seorang pembesar sastrawan yang berwenang memeriksa hasil ujian para calon sastrawan, seorang pembesar yang mata duitan dan tentu saja suka makan sogokan para calon sastrawan yang mengikuti ujian. Sambil tersenyum pembesar ini menjura ke arah Pangeran Liong Bin Ong dan berkata, “Harap paduka maafkan saya. Melihat bahwa tidak ada orang yang suka mem­bantu paduka untuk menguji kedua orang calon pengawal itu, bagaimana kalau saya mengajukan lima orang pengawal pribadi saya? Kedua orang itu kelihatan gagah perkasa dan tentu lihai sekali, maka tidak tahu apakah mereka berani menghadapi lima orang pengawal saya.”

Sebelum Pangeran Liong Bin Ong menjawab, Yauw Siu si Muka Hitam sudah cepat menjawab, “Boleh sekali! Silakan lima orang itu maju berbareng dan akan saya tandingi sendiri, tidak perlu Saudara Sun Giam turun tangan!”

Jawaban ini memancing suara berisik dari para tamu yang menganggap orang muka hitam itu sombong sekali. Akan tetapi Pangeran Liong Bin Ong melam­baikan tangan dan mengangguk tanda setuju. Pembesar itu lalu menggapai ke belakang, maka muncullah lima orang pengawalnya yang berpakaian seragam biru, lima orang berusia tiga puluhan ta­hun dan kesemuanya bertubuh tegap dan gagah. Setelah menjura dengan penuh hormat kepada semua yang hadir, lima orang itu melangkah maju menghadapi Yauw Siu, sedangkan Sun Giam sambil menyeringai sudah mundur dan duduk di atas lantai di pinggiran.

Yauw Siu sudah menghadapi lima orang gagah itu sambil tersenyum lebar, kemudian terdengar dia bertanya, “Sebe­lum kita mulai, bolehkah saya bertanya Ngo-wi (Anda Berlima) ini murid-murid dari partai manakah?”

Pertanyaan itu sungguh terdengar menantang dan tinggi hati, akan tetapi seorang di antara lima orang pengawal itu menjawab, “Kami adalah murid-murid dari Gak-bukoan (Perguruan Silat Gak) di Seng-kun.”

“Ahhh! Ha-ha-ha, jadi Ngo-wi adalah murid-murid dari Gak-kauwsu? Bagus se­kali! Aku sudah mengenal baik guru kali­an itu dan tahu bahwa guru kalian meng­andalkan ilmu menghimpun tenaga yang amat kuat di kedua lengannya dan ter­kenal dengan Ilmu Pukulan Pek-lek-jiu (Tangan Halilintar), bukan?”

Lima orang itu mengangguk dan Si Muka Hitam melanjutkan, “Kalau begitu, biarlah kalian menguji tenagaku dan se­baliknya aku akan menguji apakah benar-benar kalian telah mempelajari ilmu se­cara baik-baik dari Gak-kauwsu.” Dia memberi isyarat kepada Sun Giam dan orang tinggi kurus ini melemparkan se­gulung tali yang besar dan kuat kepada temannya.

Yauw Siu lalu menyerahkan tali itu kepada lima orang pengawal sambil ber­kata, “Harap Ngo-wi suka mengikat kedua kaki dan tangan, juga pinggangku, kemudian Ngo-wi di satu pihak menarik dan aku di laln pihak mempertahankan. Dengan demikian kita mengadu tenaga satu lawan lima. Bukankah ini menarik sekali dan mengingat akan hubungan diantara kita, tidak perlu ada yang sam­pai roboh terluka atau tewas?” Si Muka Hitam yang sombong itu ternyata pandai bicara dan pandai pula berlagak sehingga menarik perhatian para tamu.

“Bagus! Itu adil sekali! Hayo kalian cepat lakukan!” dari tempat duduknya, pembesar sastrawan itu bertepuk tangan gembira. Tentu saja hatinya menjadi lega dan dia mengharapkan kemenangan lima orang pengawalnya karena pertandingan yang ditentukan oleh Si Muka Hitam sendiri itu menguntungkan pihaknya.

Lima orang itu cepat memenuhi permintaan Yauw Siu. Pergelanaan kaki dan tangan, juga pinggang Si Muka Hitam itu diikat dengan tali, kamudian mereka berlima memegang ujung tali di depan Si Muka Hitam. Semua tamu menon­ton dengan gembira, bahkan diantara para pembesar itu kini sibuk bertaruh sehingga keadaan menjadi berisik dan gembira. Dua orang pangeran tua saling pandang dan tersenyum-senyum, kadang-kadang mereka melirik ke arah Perdana Menteri Su dan Puteri Milana yang kelihatan masih tenang-tenang saja.

“Siap….! Tarik….!” Tiba-tiba Yauw Siu berteriak dan lima orang pengawal itu sudah mengerahkan tenaganya menarik tali yang mengikat tubuh Si Muka Hitam.

Yauw Siu berdiri dengan tegak, menge­rahkan tenaganya sehingga mukanya ber­ubah menjadi makin hitam, urat-urat yang tampak di lengan dan leher yang tidak tertutup pakaian itu menggembung besar, matanya melotot dan betapa pun lima orang lawannya membetot dan mengerahkan tenaga sekuatnya, tetap saja tubuh Si Tinggi Besar itu tidak bergoyang sedikit pun!

“Tahan….!” Yauw Siu memekik keras dan kedua tangannya digerakkan ke be­lakang. Dua orang pengawal yang meme­gang dua ujung tali yang mengikat ta­ngannya itu terhuyung ke depan. Kembali Yauw Siu berseru dan kedua kakinya me­langkah mundur, juga mengakibatkan dua orang pengawal lain terbawa dan terhu­yung, kemudian dia mengeluarkan bentak­an keras, tubuhnya meloncat ke belakang dan lima orang itu jatuh tertelungkup dan terseret!

Tepuk tangan dan sorak memuji ber­gemuruh menyambut kemenangan Yauw Siu ini, yang sambil tertawa-tawa menggunakan jari-jari tangannya yang besar dan kuat untuk memutus-mutuskan tali yang mengikat kedua kaki, tangan dan pinggangnya. Kembali demonstrasi tenaga yang amat kuat ini memancing tepuk tangan gemuruh. Yauw Siu mengangguk dan membungkuk ke empat penjuru me­nerima sambutan dan pujian itu.

Sun Giam meloncat ke depan dan memberi isyarat kepada temannya untuk mundur. Si Muka Hitam lalu mundur dan duduk di pinggiran, di atas lantai, sadang­kan Sun Giam sendiri membantu lima orang itu berdiri, menggulung tali dan melemparnya kepada temannya. Kemudian Sun Giam berkata, ditujukan kepada pembesar sastrawan yang bersungut-su­ngut menyaksikan kekalahan lima orang pengawalnya.

“Apakah Taijin mengijinkan kalau saya menghadapi mereka ini dalam ilmu silat untuk menguji saya?”

Wajah pembesar itu berseri. Kini ter­buka kesempatan untuk membersihkan dan menebus kekalahan tadi. Dia tahu bahwa lima orang pengawalnya adalah ahli-ahli ilmu silat, maka sambil mengangguk dia berkata, “Baik, kami setuju sekali!”

Sun Giam kini berkata, ditujukan ke­pada semua hadirin, “Tadi sahabat saya, Yauw Siu, telah memperlihatkan kekuat­an tubuhnya yang dahsyat. Kalau hanya tenaga dua puluh lima oranq biasa saja kiranya dia masih akan mampu menan­dinginya. Akan tetapi, dia belum mem­perlihatkan ilmu silatnya dan karena dia telah mengeluarkan tenaga, biarlah saya yang akan menghadapi lima orang murid perguruan Gak-bukoan ini.” Sambil meng­hadapi mereka, Si Muka Kuning ini ber­kata, “Harap Ngo-wi suka mendemonstra­sikan pukulan-pukulan Pek-lek-jiu yang telah terkenal itu dan sekaligus maju menyerang saya.”

Lima orang yang sudah kalah dalam mengadu tenaga itu, kini mengepung Si Muka Kuning kemudian terdengar seorang diantara mereka mengeluarkan aba-aba dan serentak menyeranglah mereka de­ngan pukulan-pukulan yang mendatangkan angin dahsyat. Akan tetapi, dengan ge­rakan lemas dan lincah Si Tinggi Kurus itu dapat mengelak ke sana ke mari sambil menggerakkan kedua tangannya menyampok setiap pukulan yang tidak sempat dielakkannya. Tampaklah peman­dangan yang mengagumkan di mana Sun Giam menggunakan kelincahannya dike­royok lima orang itu. Jelas tampak oleh mata para ahli yang duduk di situ bahwa Si Tinggi Kurus ini memang sengaja mendemonstrasikan kepandaiannya maka se­ngaja hanya mengelak dan menangkis, padahal jelas mudah dilihat betapa ting­katnya jauh lebih tinggi daripada para pengeroyoknya.

“Ngo-wi, awas….!” Tiba-tiba dia ber­kata halus, kaki tangannya bergerak de­ngan cepat sekali dan berturut-turut ter­dengar lima orang itu memekik disusul robohnya tubuh mereka di atas lantai karena totokan jari-jari tangan dan ten­dangan kaki Sun Giam.

Kembali terdengar sorak dan tepuk tangan memuji yang disambut oleh Sun Giam dengan membungkuk ke empat pen­juru. Seperti dua orang yang sudah biasa berdemonstrasi dan menjual kepandaian di depan umum, kini Yauw Siu dan Sun Giam sudah berdiri mengangkat tangan ke atas, memberi kesempatan kepada lima orang pengawal itu mengundurkan diri dan setelah pujian agak mereda, ter­dengar Yauw Siu berkata dengan suara­nya yang lantang, “Sahabatku Sun Giam telah memperlihatkan kepandaian. Akan tetapi kami berdua masih belum puas karena apa yang kami perlihatkan tadi tidak ada harganya dan tentu belum me­muaskan hati junjungan kami Pangeran Liong Bin Ong. Oleh karena itu kami mohon dengan hormat sudilah kiranya para tokoh besar yang hadir di sini suka turun tangan menguji kami. Lima orang pengawal tadi, biarpun kepandaiannya cu­kup hebat, namun masih jauh di bawah tingkat kami!”

Hening sampai lama setelah Si Muka Hitam ini bicara. Melihat bahwa tidak ada sambutan, Sun Giam membuka mu­lutnya, “Kami berdua mendengar sebelum memasuki kota raja bahwa kota raja menjadi pusat orang pandai, menjadi pusat para pengawal yang berilmu tinggi. Sungguh kami tidak percaya kalau sekarang tidak ada yang berani menghadapi kami!”

Ucapan ini mulai memanaskan hati para tamu yang merasa memiliki ilmu kepandaian tinggi. Akan tetapi ketika Han Wi Kong yang mukanya menjadi merah karena marah hendak bangkit. Pu­teri Milana, isterinya yang duduk di sam­pingnya, mencegah dengan pandangan matanya. Puteri ini masih kelihatan te­nang-tenang saja karena dia sedang me­mutar otak mencari tahu atau menduga-duga apa gerangan yang tersembunyi di balik semua ini, yang dia yakin tentu diatur oleh Pangeran Liong Bin Ong. Dia tidak mau sampai terpancing oleh pange­ran yang cerdik itu, maka dia menyabar­kan suaminya yang mulai marah melihat sikap dan mendengar kata-kata kedua orang jagoan Pangeran Liong Bin Ong itu.

Sebagian para pengawal yang hadir di tempat itu dalam melaksanakan tugas mengawal para pembesar militer dan sipil, biarpun merasa marah dan penasaran, namun mereka ini tidak berani lancang turun tangan di dalam perjamuan orang-orang besar seperti itu tanpa pe­rintah dari junjungan masing-masing. Se­dangkan para pembesar jarang pula yang berani memerintahkan pengawalnya untuk menghadapi dua orang jagoan itu. Mereka yang memang terpengaruh oleh Pangeran Liong Bin Ong tentu saja tidak suka me­nentang, sedangkan mereka yang berpihak Kaisar dan diam-diam tidak suka kepada pangeran ini, juga tidak berani menyuruh pengawal mereka karena mereka merasa segan untuk menentang pangeran ini secara terang-terangan, mengingat akan pengaruh kedua orang pangeran di situ setelah Sun Giam membuka mulutnya setengah menantang para pengawal kota raja.

Melihat betapa tidak ada sambutan sama sekali, Yauw Siu dan Sun Giam yang memang sudah menerima tugas dari Pangeran Liong Bin Ong untuk memanas­kan suasana dan untuk menujukan tan­tangan kepada Puteri Milana secara halus, lalu saling pandang dan Yauw Siu bangkit berdiri, menghadap ruangan kehor­matan dan berkata lantang, “Kami ber­dua belum lama meninggalkan tempat pertapaan, saya meninggalkan pantai laut dan Sahabat Sun Giam meninggalkan pe­gunungan. Namun, kami telah mendengar akan kehebatan ilmu kepandaian para to­koh di kota raja, maka kami sengaja datang ke kota raja untuk mencari pe­kerjaan agar kepandaian kami dapat dipergunakan demi kepentingan kerajaan! Apakah sekarang tidak ada orang gagah yang sudi menguji kami? Ataukah benar seperti dugaan Sahabat Sun Giam tadi bahwa orang-orang di kota raja agak…. penakut?”

“Manusia busuk….!” Tiba-tiba terde­ngar bentakan nyaring dan berkelebatlah bayangan orang, dan tahu-tahu di depan kedua orang jagoan itu telah berdiri se­orang laki-laki berusia lima puluh tahun, bertubuh tinggi besar dan gagah, pakai­annya preman, jenggotnya panjang sekali dan wajahnya angker, mengandung wi­bawa.

“Di jaman kekacauan merajalela dan banyak manusia tak berbudi memberontak, muncul kalian yang bermulut besar! Ka­lau hanya menghadapi kalian berdua saja, tidak perlu orang-orang gagah di kota raja turun tangan. Aku Tan Siong Khi, cukuplah kiranya menghadapi orang-orang macam kalian yang bermulut besar!” Orang ini memang Tan Siong Khi, penga­wal Kaisar yang gagah perkasa, yang telah kita kenal karena dialah yang me­mimpin rombongan penjemput Puteri Raja Bhutan!

Akan tetapi, sebelum dua orang jago­an itu sempat membuka mulut, tiba-tiba Pangeran Liong Khi Ong bangkit berdiri dan menudingkan telunjuknya kepada Tan Siong Khi sambil berkata, “Bukankah engkau Pengawal Tan Siong Khi yang te­lah gagal melaksanakan tugas mengawal Puteri Bhutan sehingga puteri itu lenyap tak diketahui ke mana perginya?”

“Keparat! Berani engkau muncul di sini setelah engkau melakukan dosa dan kelalaian besar itu? Kebodohan dan ke­lalaianmu menyebabkan Sang Puteri lenyap tidak diketahui masih hidup atau sudah mati. Dan kau berani malam ini datang ke sini dan berlagak menjadi jagoan? Kenapa kegagahanmu tidak kau­perlihatkan ketika rombonganmu dihadang musuh? Mengapa Sang Puteri yang kau­kawal sampai lenyap sedangkan kau ma­sih hidup? Aku akan minta kepada Sri Baginda untuk menjatuhkan hukuman se­beratnya kepadamu!”

Semua tamu memandang dengan hati tegang. Semua mengenal siapa adanya Tan Siong Khi, seorang pengawal keper­cayaan Kaisar, bahkan menjadi pembantu dari Puteri Milana dalam mengamankan kota raja. Mereka semua telah mende­ngar pula akan kegagalan pengawal itu menjemput Puteri Bhutan, calon isteri Pangeran Liong Khi Ong. Maka sepan­tasnyalah kalau pangeran itu, yang urung menjadi pengantin, yang kehilangan calon isterinya marah-marah kepada pengawal ini.

“Mengapa kau berani datang ke sini? Hayo pergi….! Pergi kau….!”

Tan Siong Khi yang kelihatan tenang itu menoleh ke arah Perdana Menteri Su dan Putri Milana. Dia melihat kedua orang pembesar itu mengangguk kepada­nya dan memberi isyarat agar supaya dia pergi. Sebetulnya munculnya Tan Siong Khi di tempat itu adalah karena dia di­tugaskan oleh Kaisar untuk mengawal Perdana Menteri Su yang malam itu juga mewakili Kaisar, berarti dia menjadi pengawal utusan Kaisar. Akan tetapi, se­bagai seorang pengawal setia yang telah berpengalaman dan berpemandangan luas, di tempat umum itu dia tidak mau mem­bela diri dengan menyebut nama perdana menteri, karena dia tidak mau menjadi penyebab terjadinya keributan atau pe­rasaan tidak enak. Setelah menerima isyarat, dia lalu menjura kepada Pange­ran Liong Khi Ong dan berkata, “Baik, hamba dengan langkah lebar meninggal­kan tempat pesta melalui pintu gerbang ­depan.”

Keadaan menjadi sunyi sekali setelah pengawal itu pergi. Peristiwa tadi me­nimbulkan ketegangan. Tiba-tiba suasana yang sunyi itu dipecahkan oleh suara ter­tawa dari Yauw Siu. Dia sudah bangkit berdiri dan berkata, “Sungguh menyesal sekali bahwa Pengawal Tan Siong Khi tadi kiranya seorang yang telah melaku­kan dosa dan kelalaian besar dan sepa­tutnya dia dihukum. Kalau tidak agaknya dia memiliki sedikit kepandaian untuk diperlihatkan agar kami berdua dapat diuji. Harap Cu-wi yang merasa memiliki ilmu kepandaian sudi maju sebagai pengganti­nya. Kami maklum bahwa diantara Cu-wi banyak yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali, akan tetapi jangan khawatir bahwa kami akan celaka. Kami takkan mengecewakan Cu-wi. Selama kami me­rantau, kami belum pernah dikalahkan orang. Bahkan kami tadinya merencana­kan untuk mencari Pulau Es….”

Tiba-tiba terdengar bentakan halus namun suara ini menembus semua ke­gaduhan dan memasuki telinga Yauw Siu seperti jarum-jarum menusuk. “Mau apa kalian mencari Pulau Es?”

Yauw Siu terkejut sekali dan cepat menoleh ke arah Puteri Milana yang telah mengajukan pertanyaan itu. Melihat sepasang mata yang amat tajam itu, diam-diam dia menjadi gentar juga. Ten­tu saja Yauw Siu dan Sun Giam maklum siapa adanya puteri cantik dan agung itu. Mereka maklum bahwa puteri itu adalah puteri dari Majikan Pulau Es, Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman, dan ibunya adalah bekas pangilma besar wa­nita Puteri Nirahai! Kalau saja mereka berdua tidak menjadi kaki tangan kedua orang Pangeran Liong, tentu mereka akan berpikir-pikir dulu untuk berani main-main di depan Puteri Milana. Akan tetapi, justru tugas mereka adalah untuk memancing puteri itu agar bangkit kemarahannya dan membuat puteri itu menjadi serba salah. Maju menghadapi mereka berarti merendahkan derajatnya, kalau tidak berarti terhina karena ditantang tanpa menanggapi!

“Kami hendak mencari Pulau Es kare­na kami tidak pernah bertemu tanding! Kami mendengar bahwa Majikan Pulau Es adalah seorang yang memiliki ilmu ke­pandaian tinggi!” jawab Sun Giam.

“Akan tetapi, sebelum melihat sendiri, bagaimana kami dapat percaya?” sambung Yauw Siu. “Hanya kabarnya, banyak pula muridnya berada di kota raja, maka apa salahnya kalau ada muridnya yang mau mencoba-coba dengan kami agar dari kepandaian muridnya kami dapat mengukur pula tingkat gurunya? Kami adalah dua orang baru yang tidak tahu apakah benar di kota raja ada murid Pendekar Super Sakti Majikan Pulau Es yang terkenal itu.”

Tentu saja Yauw Siu cukup cerdik untuk melindungi diri mereka dengan dalih bahwa mereka tidak tahu menahu tentang Pendekar Super Sakti, tidak tahu bahwa puteri Pendekar Super Sakti ber­ada di tempat perjamuan itu karena kalau demikian halnya, tentu Puteri Mi­lana yang cerdik akan merasa curiga dan menduga akan adanya pancingan dan jebakan.

“Biar aku menghajar mereka!” Pangli­ma Han Wi Kong berkata dan isterinya mengangguk. Tadi Puteri Milana telah menyaksikan gerakan kedua orang jagoan itu dan dia maklum bahwa mereka ber­dua itu hanyalah memiliki tingkat yang biasa saja sehingga dia merasa yakin bahwa suaminya akan dapat mengalahkan mereka. Mendengar dua orang jagoan kasar itu menyinggung nama ayahnya tanpa dia melakukan sesuatu, tentu akan mencemarkan nama dan kehormatannya. Akan tetapi kalau diaturun tangan sendiri juga merupakan hal yang tidak baik karena dia adalah seorang puteri cucu Kaisar dan puteri Pendekar Super Sakti, amat rendahlah untuk melayani dua orang jagoan kasar! Berbeda lagi kalau Han Wi Kong yang turun tangan karena suaminya itu juga bekas seorang pengawal kaisar yang kini turun tangan menghadapi me­reka yang menantang-nantang semua orang gagah di kota raja!

“Manusia-manusia sombong! Biar akulah yang akan menghadapi kalian!” bentak Han Wi Kong yang sekali melancat sudah berada di depan kedua orang itu.

Sun Giam dan Yauw Siu cepat menjura dengan hormat, kemudian Sun Giam menjura ke arah Pangeran Liong Bin Ong sambil berkata, “Harap Paduka Pangeran sudi mengampunkan permohanan hamba berdua. Hamba berdua tentu tidak berani sembarangan mengangkat tangan menghadapi para tamu yang terdiri dari para pembesar dan bangsawan agung. Oleh karena itu, kami baru berani meng­angkat tangan kalau yang datang ke ge­langgang ini menganggap diri sendiri se­bagai seorang kang-ouw, seorang ahli silat tanpa membawa-bawa kedudukannya.”

Sebelum Pangeran Liong Bin Ong atau Liong Khi Ong sempat menjawab, Han Wi Kong sudah membentak, “Aku tidak akan membawa kedudukanku karena aku pun bekas seorang pengawal! Aku maju karena ingin menyaksikan kepandaian ka­lian manusia sombong!” Han Wi Kong cukup mengerti untuk tidak membawa-bawa nama ayah mertuanya, yaitu Pen­dekar Super Sakti, maka dia mengaku bahwa dia maju sebagai seorang bekas pengawal, jadi atas namanya sendiri.

“Bolehkah kami mengetahui nama be­sar paduka?” Yauw Siu bertanya. Tentu saja dia tadinya sudah memperoleh kete­rangan bahwa laki-laki gagah ini adalah suami Puteri Milana, akan tetapi dia ingin memancing agar dari mulut laki-laki ini keluar sendiri pengakuannya. Akan tetapi Han Wi Kong sudah terlalu marah, dan menjawab dengan bentakan nyaring, “Tidak perlu aku memperkenal­kan nama kepada kalian! Semua yang ha­dir sudah tahu siapa aku! Hayo majulah kalian berdua!”

Sun Giam berseru, “Ehh….! Maju ber­dua? Benarkah kami disuruh maju ber­dua?”

Han Wi Kong bukan seorang yang sombong atau sembrono. Kalau dia berani menantang agar mereka maju berdua secara berbareng adalah karena tadi dia sudah menyaksikan sepak-terjang mereka dan merasa yakin akan dapat mengalah­kan mereka berdua, apalagi dia ingin cepat merobohkan mereka yang sombong ini, tidak usah mereka disuruh maju satu demi satu!

“Ya, majulah kalian berdua menge­royokku. Aku ingin menguji kepandaian kalian yang sesungguhnya tidak patut menjadi pengawal seorang pangeran!”

“Bagus! Engkau yang menyuruh sendiri, Sobat. Kalau sampai kami kesalahan tangan membunuh, jangan persalahkan kami.”

“Dalam pibu, membunuh atau terbu­nuh adalah soal biasa, mengapa kalian banyak cerewet lagi? Majulah!”

“Awas serangan. Hiaaaatttt….!” Sun Giam sudah menyerang.

“Haiiittt….!” Yauw Siu juga menyusul dengan pukulannya yang dahsyat.

“Hemmm….!” Han Wi Kong mengge­ram dan cepat dia mengelak sambil me­mutar tubuh dan menangkis dengan kedua lengannya.

“Dukkk! Dukkk!”

Tubuh Han Wi Kong tergetar akan tetapi pukulan kedua orang lawannya juga terpental. Diam-diam Han Wi Kong terkejut. Tak disangkanya sama sekali bahwa kedua orang ini ternyata memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat! Meng­apa tadi mereka tidak memperlihatkan tenaga sin-kang ini? Di dalam otaknya segera dia mencari dan mengerti bahwa kedua orang ini telah menjebaknya! Tadi mereka sengaja berpura-pura sebagai ahli-ahli silat biasa saja dan menyembu­nyikan kepandaian asli mereka dan dia sudah terjebak! Dua orang ini ternyata bukan orang sembarangan dan segera dia memperoleh kenyataan akan hal itu ka­rena kini mereka telah mainkan ilmu silat yang amat aneh, cepat, dan kuat sekali!

Wajah Puteri Milana juga berubah agak pucat. Sebagai seorang ahli silat tinggi, dia pun dapat melihat perubahan yang terjadi pada kedua orang jagoan itu. Dan gerakan-gerakan mereka seka­rang ini, jelas tampak olehnya bahwa mereka bukanlah jagoan-jagoan kasar se­perti semula setelah melihat sepak-ter­jang mereka tadi. Kiranya mereka adalah ahli-ahli yang tangguh, yang menyembu­nyikan kepandaian mereka di balik sikap kasar dan ugal-ugalan tadi. Tentu untuk memancing!

Puteri Milana menjadi serba salah. Memang, di dalam tahun-tahun pertama dari pernikahan mereka, dia telah me­nurunkan beberapa macam ilmu silat ke­pada suaminya dan ilmu kepandaian suaminya sudah meningkat dengan pesat kalau dibandingkan dengan dahulu sebe­lum menjadi suaminya. Namun, suaminya tidak memiliki dasar untuk menjadi se­orang ahli ilmu silat tinggi dan tidak mungkin dapat melatih sin-kang dari Pu­lau Es. Maka kini bertemu dengan dua orang jagoan itu, suaminya berada dalam keadaan terancam! Kalau maju seorang lawan seorang, mungkin suaminya masih dapat mengimbangi, akan tetapi dikero­yok dua!

Memang demikianlah sebenarnya! Dua orang itu bukanlah orang sembarangan dan tadi memang mereka berpura-pura, mengeluarkan ilmu-ilmu kasar untuk memancing dan menjebak. Sebenarnya me­reka adalah ahli-ahli silat yang memiliki kepandaian tinggi dan sudah lama men­jadi tangan-tangan kanan dari Raja Muda Tambolon, yaitu raja muda kaum pembe­rontak di perbatasan barat yang sedang merongrong Kerajaan Bhutan. Karena kedua orang ini tidak pernah muncul di dunia kang-ouw maka mereka sama se­kali tidak terkenal dan memang hal inilah yang dikehendaki oleh Pangeran Liong Bin Ong. Tadinya, untuk keperluan me­mancing kemarahan Puteri Milana untuk menjatuhkan orangnya atau namanya ini, Pangeran Tua Liong Bin Ong hendak menggunakan tenaga Siang Lo-mo, sepa­sang kakek kembar yang amat lihai itu. Akan tetapi sungguh di luar dugaan dan perhitungannya bahwa Siang Lo-mo ketika tiba di kota raja telah bentrok de­ngan Milana di dalam rumah penginapan ketika Siang Lo-mo bertemu dengan Gak Bun Beng yang mereka kenal setama ini sebagai “orang sakit yang lihai”. Karena peristiwa itu, maka Pangeran Liong Bin Ong tidak berani dan tidak jadi meng­gunakan kedua orang kakek itu, dan men­cari penggantinya. Siang Lo-mo pula yang mengusulkan kepada Liong Bin Ong untuk mengundang Yauw Siu dan Sun Giam, dua orang diantara para pembantu Raja Tambolon.

Untuk menjaga nama keluarga isteri­nya, yaitu para penghuni Pulau Es, juga untuk menjaga nama isterinya dan diri­nya sendiri, biarpun maklum bahwa kedua orang itu merupakan dua orang lawan yang terlalu tangguh baginya, namun Han Wi Kong tidak menjadi gentar dan dia sudah menerjang dengan pengerahan te­naga sekuatnya dan mengeluarkan jurus-jurusnya yang paling ampuh. Namun dua orang lawannya dapat mengelak dan me­nangkis dengan cepat, bahkan langsung membalas dengan serangan-serangan dah­syat yang kembali membuat Han Wi Kong terhuyung ke belakang ketika ter­paksa menangkis dua serangan dari depan itu. Segera berlangsunglah pertandingan yang seru sekali antara tiga orang itu, disaksikan oleh banyak pasang mata de­ngan tegang. Diam-diam suasana tegang itu ditimbulkan oleh perasaan bahwa di dalam pertandingan ini seolah-olah terjadi persaingan antara Pangeran Tua Liong Bin Ong dan pihak Milana serta Perdana Menteri Su! Semua tamu maklum belaka atau setidaknya sudah dapat menduga bahwa diantara kedua pihak itu memang terdapat permusuhan atau persaingan ter­pendam! Dan kini, seolah-olah kedua orang jagoan itu mewakili pihak Pangeran Liong Bin Ong, sedangkan Han Wi Kong tentu saja mewakili pihak isterinya, Puteri Milana dan Perdana Menteri Su.

Tentu saja yang merasa paling tegang dan gelisah adalah Puteri Milana sendiri! Diam-diam dia merasa menyesal mengapa tadi dia membiarkan suaminya turun tangan dan memasuki jebakan pihak Pange­ran Liong Bin Ong sehingga kini suami­nya terancam. Dia adalah seorang yang amat cerdas, maka setelah berpikir se­jenak maklumlah dia bahwa sesungguhnya yang diserang adalah dia! Suaminya tidak mempunyai urusan apa-apa dengan Liong Bin Ong yang menjadi paman kakek tiri­nya itu, akan tetapi dia tentu saja di­anggap musuh oleh pangeran tua itu. Maka pertandingan itu tentu dimaksudkan untuk memukul dia! Mulai merah kedua pipi puteri yang gagah perkasa ini dan setiap urat syaraf di tubuhnya menegang, siap untuk membela suaminya. Dia me­rasa kasihan sekali kepada suaminya, seorang pria yang amat baik dan gagah perkasa. Bertahun-tahun dia menjadi isteri Han Wi Kong hanya pada lahirnya saja, namun mereka sebetulnya hanyalah merupakan sahabat setelah keduanya maklum bahwa tidak ada cinta kasih antara pria dan wanita, antara suami dan isteri di dalam hati mereka, atau seti­daknya, di dalam hati Milana. Han Wi Kong maklum akan hal ini, maka dia pun secara jantan dan bijaksana membebaskan isterinya dan hanya mengakui isterinya secara lahiriah saja untuk menjaga nama baik isterinya! Bukan isterinyalah yang menemaninya di dalam kamarnya, me­lainkan dua orang selir cantik yang setengah dipaksakan oleh Milana untuk me­layani suaminya itu!

Biarpun tidak ada hubungan kasih di dalam hatinya terhadap Han Wi Kong, namun Milana menganggapnya sebagai seorang sahabat yang paling baik di du­nia ini, maka tentu saja dia merasa ge­lisah dan khawatir sekali menyaksikan keadaan suaminya dan dia sudah meng­ambil keputusan untuk melindungi suami­nya dari bahaya.

“Yaaahhh!” Tiba-tiba Han Wi Kong yang sudah terdesak terus-menerus itu mengeluarkan teriakan nyaring, tubuhnya menerjang dengan kecepatan kilat ke de­pan, kedua tangannya dikepal dan meng­hantam ke arah muka dan pusar Yauw Siu secara hebat sekali! Milana terkejut menyaksikan gerakan suaminya ini. Kalau suaminya terus memperkuat daya tahan­nya, biar terdesak kiranya masih tidak mudah bagi kedua orang pengeroyoknya untuk merobohkannya. Akan tetapi agak­nya suaminya itu tidak mau didesak te­rus dan kini mengeluarkan jurus nekat yang ditujukan kepada seorang diantara dua orang pengeroyoknya. Agaknya Han Wi Kong sudah bertekad untuk meroboh­kan seorang lawan dengan resiko dia sendiri terpukul oleh lawan ke dua. Mi­lana maklum akan isi hati suaminya, yaitu bahwa biarpun suaminya roboh, setidaknya telah dapat merobohkan seorang lawan pula, sehingga tidaklah akan terlalu memalukan.

“Heiiiittt….!” Yauw Siu berteriak, kaget juga menyaksikan serangan hebat ini, dia mencelat mundur dan ketika lawan terus mengejar, dia juga melonjorkan kedua lengannya dan bertemulah kedua tangannya dengan kepalan tangan Han Wi Kong.

“Desss…. bukkk….!”

Yauw Siu kalah tenaga karena memang sedang mundur, begitu kedua ta­ngannya bertemu dengan tangan lawan, dia terlempar dan terjengkang, akan te­tapi pada saat itu juga, Sun Giam sudah menerjang dari samping dan pukulannya yang amat keras dan ditujukan kepada leher Han Wi Kong, biarpun sudah di­elakkan oleh Han Wi Kong dengan mi­ringkan tubuh, tetap saja masih mengenai pundaknya, membuat bekas panglima pengawal ini roboh pula!

Yauw Siu dan Sun Giam kini melom­pat ke depan, agaknya hendak mengirim pukulan maut kepada lawan yang sudah rebah miring dan belum sampai bangun itu, apalagi Yauw Su yang menjadi ma­rah karena tubuhnya masih tergetar oleh pertemuan kedua tangannya tadi, dan pinggulnya masih panas dan nyeri karena dia terjengkang dan terbanting.

“Plakk! Plakk!”

Dua orang jagoan itu terkejut sekali dan terhuyung-huyung ke belakang. Me­reka terbelalak memandang puteri cantik yang sudah berdiri di depan mereka yang tadi menangkis kedua tangan mereka yang sudah diayun untuk menghantam Han Wi Kong, tangan halus sekali yang ketika menangkis terasa dingin seperti es dan membuat mereka menggigil dan ter­huyung ke belakang.

“Bedebah! Kalian manusia curang, se­telah mengeroyok masih hendak membu­nuh orang yang terluka? Tunggulah se­bentar!” kata Puteri Milana dengan nada suara dingin sekali, lalu dia memapah suaminya kembali ke kursinya. Setelah melihat bahwa luka suaminya tidaklah berat, hanya mengalami patah tulang pundak, dia lalu membalikkan tubuh hen­dak menandingi dua orang jagoan itu. Akan tetapi betapa heran hatinya ketika di tengah tempat pibu itu kini telah muncul dua orang pemuda remaja yang menghadapi Yauw Siu dan Sun Giam sambil tersenyum mengejek! Dan banyak tamu yang berbisik-bisik dan ada yang bertepuk tangan memuji karena ketika Milana sedang memapah suaminya tadi, dari tempat duduk para tamu di samping melayang dua sosok bayangan dan tahu-tahu dua orang pemuda itu telah berdiri di depan Sun Giam dan Yauw Siu. Ge­rakan meloncat yang indah inilah yang menarik perhatian para tamu.

“Siapakah mereka?”

“Dari mana mereka datang?”

Pangeran Liong Bin Ong sendiri ter­kejut dan bingung, akan tetapi melihat bahwa yang muncul hanyalah dua orang pemuda yang masih remaja, dia percaya bahwa dua orang jagoannya itu akan da­pat mengatasi mereka.

Sun Giam yang tinggi kurus bermuka kuning itu sudah meloncat ke depan dan matanya yang sipit menjadi makin sipit seperti terpejam ketika dia membentak marah, “Bocah-bocah lancang mau apa kalian datang ke sini?”

Dua orang pemuda itu bukan lain adalah Kian Bu yang setengah memaksa kakaknya untuk muncul di gelanggang itu, dengan mendahului meloncat dan disusul oleh kakaknya. Ketika tadi melihat Puteri Milana maju menyelamatkan laki-laki gagah yang maju menghadapi dua jagoan dan yang terkena pukulan, Kian Bu dan Kian Lee memandang penuh perhatian. Mereka berdua tidak tahu siapa adanya laki-laki itu. Mereka dahulu masih terlalu kecil ketika bertemu de­ngan Han Wi Kong sehingga mereka tidak ingat lagi. Akan tetapi tentu saja hati mereka berpihak kepada laki-laki ini ketika melihat betapa laki-laki gagah ini menghadapi dua orang jagoan yang menantang Pulau Es! Kalau tidak dicegah kakaknya, ketika mendengar tantangan tadi tentu dia sudah meloncat untuk menghajar Sun Giam dan Yauw Siu. Kini melihat kakaknya menolong laki-laki itu dan membawanya duduk kembali ke kur­sinya, Kian Bu berbisik kepada kakaknya, “Lee-ko, dia itu adalah Ci-hu (Kakak Ipar)!”

“Ah, benar….! Ci-hu telah terpukul oleh mereka!” kata Kian Lee.

“Dan Enci Milana akan maju sendiri, hayo kita dului!” Tanpa menanti jawaban Kian Lee, Kian Bu sudah meloncat dan terpaksa Kian Lee mengikuti adiknya sehingga mereka berdua kini berhadapan dengan Sun Giam dan Yauw Siu.

Kian Bu tahu bahwa dia tidak bisa mengandalkan kakaknya untuk bicara, kakaknya yang pendiam itu, maka dia cepat mendahului kakaknya menjawab bentakan Sun Giam tadi. “Siapa adanya kami bukan hal yang patut diributkan, akan tetapi yang penting adalah siapa adanya kalian berdua! Kalian berdua mengaku hendak melamar pekerjaan pe­ngawal, akan tetapi kami tahu bahwa kalian tidak patut menjadi pengawal, karena kalian hanyalah dua orang badut yang tidak lucu!”

Dapat dibayangkan betapa heran dan kagetnya semua orang mendengar ucapan pemuda tampan yang suaranya lantang itu. Betapa beraninya bocah itu menghina dua orang jagoan yang demikian kosen, yang telah berhasil mengalahkan bekas Panglima Pengawal Han Wi Kong, suami Puteri Milana sendiri! Akan tetapi yang lebih heran dan juga amat marah adalah Sun Giam dan Yauw Siu. Yauw Siu me­langkah maju.

“Setan cilik, apa kau sudah bosan hi­dup?”

“Setan gede, kalian yang sudah bosan hidup berani menjual lagak di sini. Apa kalian kira kami tidak tahu bahwa tadi kalian bermain curang. Kalau kalian ti­dak main curang, mana kalian mampu menang menghadapi orang gagah tadi? Manusia macam kalian ini, jangankan menjadi pengawal, menjadi jongos pun tidak patut,” kata Kian Bu.

“Wah, pantasnya menjadi apa, Adikku?” Kian Lee bertanya membantu adiknya.

“Jadi apa, ya? Pantasnya mereka ini tukang-tukang pukul kampungan, atau pencopet-pencopet di pasar, menjadi pen­jahat besar pun tidak patut!”

Tentu saja makin bising keadaan di situ karena para tamu maklum bahwa dua orang pemuda yang masih remaja itu dengan sengaja hendak mencari perkara dan sengaja menghina dua orang jagoan tangguh itu. Hati mereka menjadi tegang dan bertanya-tanya siapa gerangan dua orang muda yang nekat itu.

Yang paling marah adalah Sun Giam dan Yauw Siu. Mereka adalah dua orang yang kasar dan tak mengenal takut kare­na bertahun-tahun lamanya mereka men­jadi orang-orang yang memiliki kekuasaan diantara gerombolan liar di bawah pim­pinan Raja Tambolon, maka kini dimaki dan dihina oleh dua orang pemuda tang­gung itu, hati mereka seperti dibakar rasanya. Akan tetapi, di samping keka­saran mereka, dua orang ini pun cerdik dan mereka menahan kemarahan hati karena mengingat bahwa di tempat itu terdapat banyak orang pandai dan bahwa mereka berada di kota raja yang besar dan tidak boleh bertindak sembarangan. Kalau saja tidak berada di tempat itu, tentu mereka sudah sejak tadi turun tangan membunuh dua orang pemuda yang berani menghina mereka seperti itu. Mereka masih tidak tahu siapa dua orang pemuda ini. Siapa tahu, melihat sikap mereka yang begitu berani, dua orang pemuda ini adalah putera-putera pembe­sar yang berkedudukan tinggi di kota raja! Maka Sun Giam lalu memberi isya­rat kepada kawannya agar menahan ke­marahan, kemudian dia menoleh dan ber­lutut ke arah Pangeran Liong Bin Ong.

“Mohon paduka mengampuni hamba berdua!” katanya lantang. “Tanpa perke­nan atau perintah paduka, hamba tidak berani turun tangan sembarangan. Akan tetapi, dua orang pemuda ini telah meng­hina hamba berdua dan karena hamba adalah calon pengawal paduka, maka penghinaan yang dilakukan di sini berarti menghina paduka pula. Maka hamba ber­dua mohon perkenan untuk menghajar dua orang pemuda ini dengan perkenan paduka!”

Tadinya Liong Bin Ong juga terkejut dan marah, dan memang diam-diam dia merasa girang bahwa kedua orang jago­annya itu ternyata boleh diandalkan, ber­hasil melukai suami Milana dan mungkin akan berhasil membikin malu puteri yang menjadi musuhnya itu. Dia menduga bahwa kedua orang pemuda itu jelas meru­pakan pendukung puteri itu, maka tanpa ragu-ragu lagi dia lalu mengangguk!

Tentu saja girang bukan main rasa hati Sun Giam dan Yauw Siu. Kalau tadi mereka masih terpaksa menelan kesabar­an adalah karena mereka ragu-ragu kare­na tidak mengenal dua orang pemuda itu, takut kalau kesalahan tangan. Kini, se­telah memperoleh perkenan Pangeran Liong Bin Ong, tentu saja hati mereka menjadi besar dan dengan muka beringas mereka menoleh kepada Kian Lee dan Kian Bu.

“Bocah-bocah lancang, hayo lekas beritahukan siapa kalian dan siapa orang tua kalian. Kami adalah orang-orang gagah yang tidak mau menghajar anak orang tanpa mengetahui siapa ayahnya!” kata Yauw Siu dengan lagak sombong karena dia kini tidak khawatir lagi ter­hadap ayah anak-anak ini setelah dilin­dungi oleh Pangeran Liong Bin Ong.

Semua tamu termasuk Milana yang sudah duduk kembali karena dia dapat melihat sifat luar biasa kedua orang anak itu, memandang dan mendengarkan dengan penuh perhatian karena dia pun ingin sekali mendengarkan siapa gerangan dua orang pemuda remaja yang sudah begitu berani mengacaukan pesta Pange­ran Liong Bin Ong! Akan tetapi, diantara semua tamu yang hadir, hanya Milana seoranglah yang berani mempersiapkan diri untuk melindungi kedua orang pemu­da remaja itu kalau-kalau terancam ba­haya maut di tangan dua orang jagoan itu. Puteri ini tentu saja tidak tega mem­biarkan mereka tewas karena membela dia, atau membela nama Pulau Es yang disebut-sebut dan ditantang oleh dua orang jagoan itu.

Sementara itu, melihat lagak sombong dari Yauw Siu, Kian Lee yang pendiam hanya memandang dengan matanya yang lebar terbelalak, akan tetapi adiknya, Kian Bu sudah tertawa riang dan men­dahului kakaknya menjawab, “Kalian ada­lah she Yauw dan she Su, dan ketahuilah bahwa kakakku ini namanya Ta-yauw-eng (Pendekar Pemukul Orang she Yauw) dan namaku adalah Ta-sun-eng (Pendekar Pemukul Orang she Sun)! Nah, kalian tidak lekas berlutut minta ampun?”

Jawaban yang tak disangka-sangka orang ini selain menimbulkan kemarahan hebat di dalam hati dua orang jagoan itu, juga membuat geli hati mereka yang berpihak kepada suami Puteri Milana yang terluka tadi. Namun kegelisahan hati mereka bercampur dengan kekhawa­tiran karena mereka maklum betapa ma­rahnya dua orang tukang pukul yang sudah memperoleh perkenan dari Pange­ran Liong Bin Ong untuk menghajar dua orang pemuda remaja itu dan tentu me­reka tidak akan bertindak kepalang tang­gung. Mungkin akan dibunuhnya dua orang pemuda remaja yang tampan dan sedikit pun tidak mengenal takut itu.

“Bocah setan! Kau sudah bosan hidup!” Sun Giam dan Yauw Siu membentak dan keduanya menerjang dan menyerang Kian Bu.

“Heeiiitt….! Eiiittt….!” Kian Bu sudah berloncatan ke belakang dengan sikap mengejek dan mempermainkan, lalu me­nudingkan telunjuknya ke arah muka me­reka bergantian. “Kiranya kalian ini be­nar-benar hanyalah tukang-tukang pukul kampungan yang beraninya mengeroyok orang! Tadi kalau tidak mengeroyok dan curang, tentu kalian telah roboh oleh orang gagah itu. Apa sekarang kau hen­dak mengeroyok aku pula?”

Wajah kedua orang jagoan itu menjadi merah. Sudah banyak mereka menghadapi lawan tangguh, akan tetapi baru seka­rang mereka merasa diperrnainkan oleh seorang anak-anak! “Kalian juga berdua, majulah!” teriak Sun Giam menahan ke­marahannya karena dia pun malu kalau dikatakan mengeroyok seorang bocah!

“Eh-eh, nanti dulu!” Kian Bu meng­angkat kedua tangan ke atas menahan mereka, juga sekaligus menahan kakaknya yang sudah bersiap hendak menerjang Yauw Siu. “Katanya kalian adalah orang-orang gagah, maka sekarang di depan begini banyak tamu agung, perlihatkanlah kegagahanmu. Kalian merupakan dua jago tua dan kami adalah dua orang jago muda, mari kita bertanding satu-satu agar lebih sedap ditonton dan lebih dapat dinikmati bagaimana kalian menghajar kami satu-satu! Betul tidak?”

“Betul….!” Otomatis Yauw Siu menjawab karena tertarik oleh cara Kian Bu bicara.

“Hushhh!” Sun Giam membentak dan barulah Yauw Siu sadar bahwa dia telah terseret oleh kata-kata bocah itu dan menanggapinya! Terdengar suara tertawa diantara para tamu menyaksikan sikap dua orang jagoan itu.

Yauw Siu yang menjadi malu sekali sudah melangkah maju. “Baik, mari kita bertanding satu lawan satu!” bentaknya sambil membusungkan dadanya yang bi­dang dan kekar.

“Nanti dulu, kau tidak sabar amat!” Kian Bu berkata sambil tersenyum. “La­wanmu adalah kakakku, ingat? Kakakku adalah Ta-yauw-eng, jadi harus dia yang memukul engkau! Sedangkan aku adalah Ta-sun-eng, biarlah sekarang aku meng­hadapi Sun Giam lebih dulu, baru engkau.”

“Setan! Siapa pun diantara kalian bo­leh maju, kalau perlu boleh maju berdua kulawan sendiri!” teriak Yauw Siu yang hampir tak dapat menahan kemarahannya lagi.

“Heiit, sabar, sabar! Hanya mau mengalami hajaran saja mengapa tergesa-gesa amat? Hayo, engkau orang she Sun, kau­hadapilah aku Tukang Pemukul Orang she Sun!”

Sun Giam lebih pendiam daripada ka­wannya, dan juga dia tidak kelihatan menyeramkan seperti Yauw Siu yang tinggi besar bermuka hitam itu. Akan tetapi, orang berusia empat puluh tahun yang bertubuh tinggi kurus, bermuka kuning dan matanya sipit ini sebetulnya memiliki keahlian yang lebih berbahaya dibandingkan dengan Yauw Siu. Kalau Yauw Siu yang berjuluk Hek-bin-tiat-liong (Naga Besi Bermuka Hitam) itu adalah seorang yang bertenaga raksasa dan seorang ahli gwa-kang (tenaga otot), sebaliknya Sun Giam adalah seorang ahli lwee-keh (tenaga dalam) yang tangguh. Hal ini diketahui dengan baik oleh Mi­lana ketika wanita sakti ini tadi menang­kis pukulan mereka berdua. Tentu saja untuk dia pribadi, kepandaian mereka berdua itu tidak ada artinya, akan tetapi kini melihat betapa Sun Giam berhadapan dengan pemuda remaja yang usianya paling banyak enam belas tahun itu, tidak urung hati Milana menjadi tegang juga.

Sun Giam orangnya pendiam, akan te­tapi menyaksikan lagak dan mendengar­kan ucapan pemuda tampan yang amat memandang rendah kepadanya itu, dia juga sudah tak dapat menahan kemarah­annya. “Baik, bocah kurang ajar. Engkau yang menantang dan semua tamu agung yang hadir menjadi saksi. Kalau kau ter­pukul mampus nyawamu jangan penasaran dan menyalahkan aku!”

Setelah berkata demikian, Sun Giam sudah menggulung kedua lengan bajunya sehingga tampaklah kedua lengannya yang kurus kecil dan panjang. Melihat ini, Kian Bu tertawa, “He-he-he, kedua le­nganmu kecil seperti kayu kering yang lapuk, perlu apa dipamerkan? Jangan-jangan untuk menyerangku menjadi patah-patah nanti!”

Kembali terdengar suara tertawa. Biarpun semua orang masih ragu-ragu apakah pemuda remaja yang tampan dan nakal jenaka itu dapat menandingi Sun Giam, namun setidaknya godaan-godaan itu cukup membuat hati mereka yang tidak suka kepada dua orang jagoan itu menjadi senang.

Akan tetapi suara ketawa itu terhenti dan semua mata memandang penuh ke­tegangan ketika mereka melihat Sun Giam menggerak-gerakkan kedua lengan­nya dengan jari tangan berbentuk cakar dan terdengarlah bunyi berkerotokan me­ngerikan dari tulang-tulang lengan dan tangannya! Juga tampak betapa kedua lengan itu berubah menjadi kehijauan dan mengeluarkan getaran hebat.

Milana menggenggam tangan kanannya. Dia mengenal ilmu yang dimiliki oleh Sun Giam itu, semacam tok-ciang (tangan beracun) yang mengandung sin-kang kuat dan berbahaya karena beracun! Dia mengerti bahwa hantaman kedua tangannya itu selain amat kuat, juga da­pat menembus kulit daging dan meracuni tulang dan otot di tubuh lawan. Dugaan­nya memang tidak salah, Sun Giam telah melatih semacam pukulan beracun dan kedua tangannya itu mahir dengan Ilmu Cheng-tok-ciang (Tangan Beracun Hijau) yang dahsyat!

“Wah-wah, kiranya engkau pandai main sulap. Tentu kau dahulu adalah seorang penjual obat yang suka main di pasar-pasar, bukan? Sayang permainanmu kurang menarik dan tidak kebetulan aku tidak membawa uang kecil!” kata Kian Bu sambil menyeringai. Tentu saja, se­bagai putera Pulau Es, dia pun mengenal kedua tangan itu, akan tetapi dia me­mandang rendah.

“Bocah sombong, terimalah pukulan mautku!”

Sun Giam sudah menghardik sambil bergerak maju. Gerakannya cepat sekali, kedua kakinya maju tanpa diangkat, ha­nya bergeser mengeluarkan suara “syet-syet!” dan kedua lengannya sudah berge­rak-gerak, setelah dekat dengan Kian Bu dia membentak keras,

“Huiii….! Wut-wut-wut-wut!” Empat kali beruntun kedua tangannya menyam­bar dahsyat, dimulai dengan tangan kiri membacok dengan tangan terbuka ke le­her, disusul tangan kanan mencengkeram iga, kemudian tangan kiri menusuk lam­bung dan diakhiri dengan tangan kanan mencengkeram ke arah bawah pusar. Se­tiap serangan merupakan cengkeraman maut yang dapat merenggut nyawa se­ketika.

“Aihh….! Wuusss…. plak-plak-plak….!” Dengan gerakan lincah sekali Kian Bu mengelak lalu menangkis tiga kali dengan tangannya, lagaknya seperti orang kerepotan akan tetapi semua tangkisannya tepat membuat kedua tangan lawan ter­pental.

“Sayang luput…. desss….!” Kembali dia menangkis hantaman ke arah mukanya dengan tangan kiri, lalu tangan kanannya menampar ke depan.

“Plakk….! Aughhh….!” Sun Giam ter­kejut setengah mati. Bukan hanya semua serangannya dapat dielakkan dan ditang­kis, bahkan tahu-tahu pipi kirinya kena ditampar keras sekali sampai kepalanya mendadak menjadi puyeng dan matanya berkunang, pipi kirinya panas berdenyut-denyut! Dia terhuyung ke belakang sambil mengusap pipi kirinya.

“Wah, mukamu menjadi hitam sebelah!” Kian Bu menggoda. “Mari biar ku­tampar yang sebelah lagi agar tidak menjadi berat sebelah!”

Bisinglah keadaan para tamu ketika menyaksikan hal yang dianggapnya amat aneh ini. Pemuda nakal itu dalam sege­brakan saja telah mampu menampar pipi Sun Giam! Dan dilakukan dengan cara semudah itu, seperti mempermainkan se­orang anak kecil saja, malah diejek seolah-olah Sun Giam merupakan lawan yang sama sekali tidak mempunyai ke­pandaian apa-apa.

Sun Giam mengeluarkan suara me­lengking dari kerongkongannya, lalu tu­buhnya mencelat lagi ke depan, kini menggunakan jurus yang amat hebat, ke­dua lengannya sampai kelihatan menjadi amat banyak saking cepatnya kedua ta­ngan itu bergerak mengirim pukulan-pu­kulan maut yang amat gencar bertubi-tubi dan saling susul-menyusul.

“Wuuut-tak-tak-tak-syuuuttt…. aih, lagi-lagi kena angin belaka!” Kian Bu mengejek, tubuhnya berloncatan, ber­putaran, seperti menari-nari dan dengan gerakan aneh menyelinap ke sana-sini namun selalu dia dapat mengelak atau menangkis semua pukulan itu.

“Mampuslah!” Sun Giam yang terus menyerang itu tiba-tiba berteriak, dan kaki kanannya melayang ke arah bawah pusar Kian Bu. Kalau tendangan maut ini mengenai sasaran bagian tubuh yang pa­ling lemah dari seorang pria itu, tentu sukar dapat menyelamatkan nyawa. Se­mua orang yang ahli dalam ilmu silat diam-diam menahan napas menyaksikan serangan maut ini, kecuali Milana yang tampak tenang saja akan tetapi kini ma­tanya mengeluarkan sinar aneh meman­dang pemuda remaja itu, duduknya enak dan sama sekali tidak bersiap-siap lagi untuk membantu.

“Wirrr….!” Tendangan itu melayang dengan kecepatan yang sukar diikuti pan­dangan mata. Kian Bu seolah-olah tidak melihat ini, akan tetapi begitu kaki lawan mendekat, dia menggeser tubuh ke kiri, membiarkan kaki lewat di sebelah kanan tubuhnya, tangan kanannya me­nyambar dan merangkul pergelangan kaki, sedangkan tangan kirinya menyambar ke depan.

“Plakkk!”

Kembali Sun Giam terhuyung ke be­lakang dan mengeluh, otomatis tangan kanannya mengusap pipi kanannya yang kena ditampar.

“Nah, sekarang baru berimbang, mu­kamu menjadi kemerah-merahan seperti muka seorang dara cantik yang segar, he-he-heh!” Kian Bu berkata sambil ber­tepuk tangan. Para tamu yang berpihak kepadanya juga tertawa dan bahkan ada yang bertepuk tangan pula.

Sun Giam menjadi mata gelap saking marahnya. Dia tahu sekarang bahwa pe­muda yang bengal ini ternyata memiliki ilmu kepandaian yang mujijat. Bukan hanya dapat menangkis tangan beracun­nya tanpa terluka sedikit pun, juga pe­muda itu memiliki gerakan yang kelihat­annya seenaknya dan sembarangan saja, namun selalu dengan tepat dapat menangkis semua pukulannya, dan setiap kali pukulannya tertangkis, Sun Giam merasa betapa seluruh lengannya dari ujung jari sampai ke ketiaknya, terasa tergetar hebat sekali tanda bahwa pemuda itu memiliki sin-kang yang amat luar biasa! Dia maklum, akan tetapi tentu saja dia tidak mau menyerah begitu saja. Dia tidak sudi menerima kenyataan bahwa dia kalah menghadapi seorang bocah bengal. Maka sambil mengeluarkan leng­king dahsyat, kembali ia menubruk, dengan kedua lengan dikembangkan dan kedua tangan membentuk cakar harimau, lagaknya persis seekor harimau kelaparan yang menubruk kambing.

Kembali banyak orang terkejut karena melihat betapa pemuda itu enak-enak saja tertawa dan bertepuk tangan, seolah-olah terkaman itu tidak ada artinya sa­ma sekali atau dia tidak tahu betapa dirinya terancam bahaya maut yang me­ngerikan. Dua lengan lawan itu bergerak-gerak dan sukar diduga ke arah mana akan menyerang dan sekali saja dirinya kena dicengkeram tentu akan hebat aki­batnya. Namun tentu saja ini pendapat para penonton, tidak demikian dengan pendapat Kian Bu sendiri. Dia dapat melihat dengan jelas, dapat mengikuti ge­rakan kedua tangan lawan itu, maka dia enak-enak saja. Ketika jaraknya sudah dekat, tiba-tiba dia pun mengulur kedua lengannya dan kedua tangannya menyam­but cengkeraman kedua tangan lawan dan berbareng dia mengangkat lutut kirinya “memasuki” perut lawan.

“Ngekk….!” Biarpun Sun Giam sudah mengerahkan lwee-kangnya untuk mem­buat perutnya keras dan kebal, namun hantaman lutut yang dilakukan dengan kuat dan tiba-tiba itu tidak urung mem­buat perutnya mulas dan napasnya sesak, dan pada saat itu Kian Bu sudah menggerakkan tangan kanan yang saling ber­pegangan dengan tangan kiri lawan, me­nariknya tiba-tiba sehingga tubuh Sun Giam tertarik dan terbawa maju, lalu dengan gerakan yang luar biasa cepatnya Kian Bu menekuk lengan kanannya itu, sikunya menyambar ke depan.

“Croott….!” Siku itu mencium muka Sun Giam, tepat mengenai hidungnya. Bagian ini sukar untuk diisi tenaga lwee-kang sekuatnya, maka biarpun batang hidung itu tidak remuk, akan tetapi ge­taran pukulan siku itu membuat darahnya muncrat keluar dari dalam!

“Aughhh….!” Sun Giam mengeluh dan tubuhnya terhuyung ke belakang. Sibuklah kedua tangannya, yang satu mengelus perut yang mulas, yang satu lagi menu­tupi hidungnya yang berdarah.

“Bocah setan….!” Tiba-tiba Yauw Siu memaki dan langsung dia menubruk ke arah Kian Bu.

“Heiii….! Eh, uh, luput! Eh, kau ada­lah lawan kakakku!” Kian Bu mengelak ke sana ke mari dengan cekatan sekali sehingga setiap pukulan, setiap tubrukan mengenai tempat kosong. Namun Yauw Siu yang marah sekali menyaksikan be­tapa temannya tadi dipermainkan, saking marahnya terus menerjang seperti seekor harimau, kedua lengannya yang besar panjang itu bergerak-gerak dan kedua tangannya menyambar-nyambar ganas. Mukanya yang hitam menjadi makin hi­tam dan matanya melotot lebar menye­ramkan.

Melihat betapa calon lawannya itu mengamuk dan menyerang adiknya, Kian Lee hanya berdiri tersenyum. Tentu saja dia tahu bahwa orang kasar itu sama se­kali bukan tandingan adiknya, biar ada sepuluh orang seperti itu belum tentu akan dapat mengalahkan adiknya, maka dia tenang-tenang saja dan membiarkan adiknya yang jenaka itu bergembira mem­borong semua lawan!

“Wah…. eiiittt…. Koko, bagaimana ini?” Kian Bu masih mengelak terus.

“Ambil saja untukmu, biar aku menonton saja!” jawab Kian Lee.

“Begitukah? Ha-ha, Yauw Siu, engkau masih untung! Kalau melawan kakakku, tentu kepalamu akan hancur. Aku masih mending, kau hanya akan mengalami benjut-benjut saja!”

“Keparat….!” Yauw Siu sudah menubruk lagi, kedua kaki dan tangannya di­pentang lebar, agaknya tidak ada jalan keluar lagi bagi Kian Bu untuk mengelak. Dan pemuda ini pun sama sekali tidak mengelak lagi! Bahkan dia memapaki, menyambut terkaman itu, kedua tangan­nya didorongkan ke depan dan…. tubuh tinggi besar itu seperti daun ditiup angin, terlempar ke samping dan terbanting keras.

Yauw Siu terkejut bukan main. Dia tidak tahu bagaimana dia tadi terbanting roboh, yang dirasakannya hanyalah ada angin menyambar dahsyat, angin yang terasa amat dingin. Akan tetapi dia me­rasa penasaran, cepat dia meloncat ber­diri dan menerjang lagi seperti angin puyuh, mengamuk membabi buta mengi­rim pukulan dan tendangan.

Kian Bu mengeluarkan kepandaiannya. Dengan amat mudah dia mengelak de­ngan jalan meloncat ke belakang dan tahu-tahu lenyaplah dia dari depan Yauw Siu yang menjadi bingung dan terbelalak memandang, mencari ke kanan kiri. Ter­dengar gelak tawa para penonton karena mereka dapat melihat betapa tubuh pe­muda lihai itu tadi mencelat dengan ke­cepatan yang sukar diikuti pandang mata, tahu-tahu telah berada di belakang Yauw Siu sambil tersenyum-senyum. Mendengar suara ketawa para penonton, Yauw Siu menjadi makin bingung dan matanya memandang liar. Tiba-tiba ada yang me­nyentuh pundaknya dari belakang. Dia membalik dan…. “Plak-plak!” kedua pipi­nya kena ditampar dan dia terhuyung-huyung ke belakang. Tepuk tangan me­nyambut “kemenangan” pemuda itu dan Pangeran Liong Bin Ong memandang pu­cat, memberi isyarat dengan pandang matanya kepada para pengawalnya.

Yauw Siu terkejut dan makin marah. Biarpun dia kini juga maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang pemuda yang amat lihai, namun rasa malu dan marah­nya membuat dia nekat.

“Srattt….!” Dia telah mencabut se­batang ruyung lemas yang bergigi, yang tadi melingkar di pinggangnya.

“Singg…. wir-wir-wirrr….!” Sun Giam kini juga sudah mengeluarkan senjatanya yang tadi melibat pinggangnya, yaitu sebuah senjata rantai baja dengan bola berduri di kedua ujungnya.

“Mundurlah, Bu-te!” Kian Lee berkata dengan marah melihat betapa dua orang jagoan itu benar-benar tak tahu diri. Betapapun juga, dia amat sayang kepada adiknya dan melihat kenekatan dua orang itu yang telah mengeluarkan senjata, dia cepat melompat maju.

Kian Bu meloncat ke belakang. “Ce­lakalah kalian sekarang,” katanya meng­ejek kepada dua orang jagoan itu.

Akan tetapi dua orang jagoan yang sudah amat marah itu tidak mempeduli­kan ejekan Kian Bu. Melihat bahwa se­karang pemuda ke dua yang maju dengan tangan kosong saja, dengan sikap tenang sekali namun dengan wajah yang tampan itu membayangkan kemarahan dan mata yang tajam itu memandang tanpa berke­dip, mereka sudah menerjang maju meng­gerakkan senjata masing-masing tanpa mempedulikan lagi teriakan-teriakan para tamu yang memaki mereka dan yang mengkhawatirkan keselamatan pemuda itu.

Han Wi Kong yang pundaknya sudah dibalut dan sejak tadi memandang ka­gum, kini hendak bangkit dari tempat duduknya. “Si keparat tak tahu malu!” desisnya. Akan tetapi tiba-tiba tangan Milana menyentuh lengannya.

“Biarkan saja….”

“Apa….? Kedua orang anak muda itu ­terancam….”

Milana menggeleng kepala, mulutnya tersenyum dan matanya bersinar, wajah­nya berseri-seri. “Apakah kau tidak da­pat menduga siapa mereka? Apakah kau tidak mengenal Sin-coa-kun, kemudian lon­catan Soan-hong-lui-kun dan dorongan pukulan Swat-im Sin-ciang yang dilakukan Kian Bu tadi?”

“Kian Bu…. ahh dan yang satu itu….?”

“Kian Lee, siapa lagi?”

Han Wi Kong memandang terbelalak dan dengan penuh kekaguman dia melihat betapa Kian Lee menghadapi dua orang lawan bersenjata itu dengan sikap tenang sekali. Dua gulungan sinar senjata itu menyambar-nyambar ke depan. Kian Lee berkelebat mengelak diantara dua gulung­an sinar senjata itu, gerakannya cepat sekali sehingga tidak dapat dilihat lagi bentuk tubuhnya, hanya bayangannya saja berkelebatan dan tiba-tiba terdengar dua kali teriakan keras, dua batang senjata itu terlempar dan dua orang jagoan itu terlempar dan roboh terbanting!­

Kian Lee telah berdiri dengan sikap penuh wibawa, kedua kaki terpentang lebar, kedua tangan bersedakap dan dia menghardik, “Kalian masih berani menju­al lagak lagi di sini?”

Dua orang jagoan itu merangkak ba­ngun, muka mereka menjadi pucat sekali, lalu mereka saling pandang dan mem­balikkan tubuhnya.

“Tunggu….!” Klan Bu mencelat dari tempat dia berdiri, tahu-tahu telah ber­ada di depan kedua orang itu. “Tadi kalian melukai orang, terlalu enak kalau kalian dibiarkan pergi begitu saja tanpa dihukum!” Kedua tangannya bergerak cepat menyambar ke depan. Kedua orang jagoan yang masih merasa nanar itu ber­usaha membela diri, akan tetapi mereka jauh kalah cepat.

“Krek-krek! Krek-krek!” Dua orang itu jatuh berlutut, kedua tulang pundak me­reka telah dipatahkan oleh jari tangan Kian Bu yang hendak membalaskan orang gagah yang tadi patah tulang pundaknya. “Nah, pergilah kalian!” bentaknya.

Dua orang itu mengeluh, menggigit bibir, memandang dengan mata melotot, kemudian bangkit berdiri dan pergi cepat meninggalkan tempat itu melalui pintu gerbang dengan gerak langkah yang amat lucu. Kaki mereka melangkah cepat se­tengah berlari, akan tetapi kedua lengan mereka tidak dapat berlenggang, hanya tergantung lumpuh di kanan kiri tubuh.

“Tangkap dua orang pengacau itu….!” Tiba-tiba Pangeran Liong Bin Ong berte­riak memerintah sambil menudingkan te­lunjuknya ke arah Kian Lee dan Kian Bu. Belasan orang pengawal bergerak maju mengepung dengan senjata di tangan.

“Eh, eh, kenapa kami hendak ditang­kap?” Kian Bu berseru heran sambil ber­diri dari tempat duduknya.

“Kaliah mengacau!” Pangeran itu mem­bentak pula karena dia pun melihat be­tapa banyak diantara para tamu meng­gelengkan kepala tidak setuju kalau dua orang muda itu ditangkap.

“Ah! Ah! Jadi kami yang mengacau?” Kian Bu berteriak pula tanpa takut se­dikit pun. “Dua orang jagoan kampungan tadi telah mengeluarkan tantangan dan penghinaan terhadap Pulau Es, dan siapa pun tahu bahwa Majikan Pulau Es adalah Pendekar Super Sakti! Pendekar itu ada­lah mantu dari Yang Mulia Kaisar dan ayah dari Puteri Milana yang hadir di sini sebagai tamu kehormatan! Kami ber­dua maju menghajar orang yang menghina mantu Kaisar malah dituduh penga­cau! Kalau begini, siapa yang mengacau?”

Mendengar ucapan ini, Liong Bin Ong menjadi merah mukanya. Apa yang di­ucapkan dua orang pemuda remaja itu terdengar oleh semua orang dan hampir semua orang mengangguk-angguk mem­benarkan.

“Siapa kalian?” bentaknya.

“Sebagai putera-putera Pendekar Su­per Sakti, tentu saja kami tidak mem­biarkan orang-orang macam mereka itu menghina Pulau Es.”

“Kian Bu….! Kian Lee….!” Milana tak dapat menahan lagi kegirangan hatinya. Dia sudah bangkit berdiri dan mengham­piri dua orang pemuda itu yang serta merta berlutut di depan Milana.

“Enci Milana….!” Mereka berkata hampir berbareng.

Milana tertawa dan sekaligus meng­usap air matanya, menyuruh bangun me­reka dan memeluk mereka, menarik mereka ke ruangan tamu kehormatan dan memperkenalkan mereka kepada Pangeran Liong berdua dan para tamu.

“Mereka adalah adik-adikku Suma Kian Bu dan Suma Kian Lee dari Pulau Es!”

Melihat keluarga yang saling bertemu itu bergembira dan disambut oleh para tamu dengan girang, dua orang Pangeran Liong saling pandang dengan muka pucat. Tentu saja mereka tidak dapat berbuat sesuatu terhadap adik-adik Puteri Milana, yaitu cucu Kaisar sendiri, apalagi karena semua tamu tadi jelas menyaksikan be­tapa dua orang pemuda itu mengalahkan dua orang jagoan yang dianggap menghina Pulau Es. Berbondong para tamu datang dan menghaturkan selamat kepada Puteri Milana yang telah bertemu dengan dua orang adiknya yang gagah perkasa.

Dengan alasan kedatangan dua orang adiknya, Puteri Milana dan suaminya yang terluka pundaknya itu bergegas me­ninggalkan tempat pesta, pulang ke ista­na mereka sendiri. Setelah Han Wi Kong yang patah tulang pundaknya itu mem­peroleh perawatan dari seorang tabib dan mengundurkan diri untuk beristirahat di kamarnya sendiri, Milana mengajak dua orang adiknya bercakap-cakap sampai se­malam suntuk. Tidak ada habis-habisnya mereka saling menceritakan keadaan ma­sing-masing, dan terutama sekali dengan penuh kerinduan hati Milana ingin men­dengarkan segala hal mengenai Pulau Es. Ketika dia mendengar tentang Siang Lo-mo, dua orang kakek kembar yang per­nah dilawannya di rumah penginapan itu ternyata pernah pula menyerbu Pulau Es dengan kawan-kawannya, puteri ini me­ngerutkan alisnya dan dengan penuh kekhawatiran dia dapat menduga bahwa Pangeran Liong ternyata dibantu oleh orang-orang pandai.

Beberapa hari kemudian, setelah mem­bawa dua orang adiknya menghadap ke­pada Kaisar, Milana lalu memberi tugas kepada kedua orang adiknya yang dia tahu memiliki kepandaian yang cukup tinggi untuk menjaga diri dan untuk me­nunaikan tugas rahasia itu. Dia menyuruh Kian Lee dan Kian Bu pergi ke utara, menemui Jenderal Kao Liang dan men­ceritakan semua keadaan di kota raja, mengajak Jenderal Kao yang amat setia dan yang menguasai sebagian besar pa­sukan itu untuk mengerahkan pasukan menumpas pemberontak-pemberontak tan­pa menanti perintah Kaisar lagi karena Kaisar tentu saja terpengaruh oleh para pangeran yang menjadi saudaranya sendiri itu, dan tidak percaya bahwa mereka merencanakan pemberontakan. Pendeknya Milana mengajak Jenderal Kao untuk mendahului gerakan pemberontakan dan sekaligus membasmi pemberontak yang belum sempat bergerak itu.

***

Tengah malam telah lewat. Udara amat dingin membuat para penjaga yang berkumpul di gardu benteng mengantuk dan mereka berusaha untuk melawan dingin dengan api unggun besar. Perang antara dinginnya hawa udara dan panas­nya api unggun mendatangkan kehangatan yang membuat orang cepat mengantuk, apalagi setelah bertugas menjaga dan meronda sehari semalam menanti peng­gantian giliran besok pagi. Banyak dian­tara para penjaga itu yang mendengkur tanpa dapat ditahan lagi, ada yang ber­baring begitu saja di bawah gardu, ada yang tidur sambil bersandar gardu, dan yang belum tidur rata-rata sudah me­lenggut digoda kantuk yang berat. Mere­ka sudah malas meronda. Pula, perlu apa diadakan perondaan secara ketat? Ben­teng itu penuh pasukan tentara, siapa berani mengantar nyawa memasuki ben­teng?

Kelengahan para penjaga karena ngantuknya ini makin memudahkan dua orang yang bergerak seperti iblis saja di malam hari itu. Dengan gerakan ringan bukan main mereka meloncat ke atas pagar tembok, lalu melayang turun dan cepat menyelinap diantara bangunan-bangunan di dalam benteng, menghindar­kan diri dari pertemuan dengan penjaga-penjaga yang bertugas di dalam.

Dua sosok bayangan orang itu berke­lebatan kadang-kadang naik ke atas gen­teng dan berloncatan, kemudian melayang turun lagi dan menyelinap diantara ba­ngunan-bangunan rumah asrama para pa­sukan tentara. Dari gerak-gerik mereka, jelas bahwa selain memiliki kepandaian tinggi, juga dua orang ini sudah hafal akan keadaan di situ.

Tentu saja demikian karena seorang diantara mereka ini adalah Jenderal Kao Liang dan yang seorang lagi adalah Pen­dekar Sakti Gak Bun Beng. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Jenderal Kao Liang dibantu Gak Bun Beng pergi ke benteng yang dikuasai oleh Panglima Kim Bouw Sin, untuk menumpas para pemberontak. Menyetujui pendapat Bun Beng agar tidak mendatangkan perang saudara secara terbuka antara pasukan-pasukan sendiri, maka jenderal itu ber­sama Bun Beng memasuki benteng berdua saja secara diam-diam dan menggunakan waktu malam untuk menyelidik. Sudah tentu saja andaikata Jenderal Kao masuk dari pintu gerbang, para penjaga akan mengenalnya dan tidak akan ada yang berani melarangnya, akan tetapi kalau hal itu dilakukan dan Kim Bouw Sin mendengar akah kedatangannya, tentu panglima yang memberontak itu akan mengadakan persiapan untuk mencelaka­kannya. Maka mereka berdua memasuki benteng malam itu secara diam-diam, dan berkat pengetahuan jenderal itu tentang benteng di mana dahulu dia pernah menjadi komandannya, maka mereka berdua dapat dengan mudah menyelinap masuk dan langsung menuju ke tempat kediaman Panglima Kim Bouw Sin.

Akhirnya, Jenderal Kao dan Bun Beng sudah tiba di balik pintu ruangan besar di mana Panglima Kim Bouw Sin tampak sedang berunding dengan belasan orang, dan kelihatan panglima itu marah-marah.

“Kalian sungguh-sungguh tidak ada gunanya!” Agaknya entah sudah berapa puluh kali dia memaki seperti itu. “Se­karang, semua gagal dan kita akan celaka.”

“Kim-ciangkun, apakah tidak sebaik­nya kalau kita mengirim pasukan yang lebih kuat dan diam-diam berusaha lagi untuk….”

“Jangan sembrono! Setelah kegagalan itu, tentu Kao Liang akan berjaga de­ngan teliti dan kuat. Lebih baik kita ce­pat melaporkan kepada Pangeran Liong dan kalian yang ikut membantu di sumur maut harus cepat menyembunyikan diri sehingga andaikata dia datang memeriksa, dia tidak akan menemukan bukti apa-apa di sini.”

“Bagus sekali siasatmu, akan tetapi rahasiamu telah terbuka, Kim Bouw Sin! Pengkhianat hina, pemberontak busuk, menyerahlah kalian!”

Bentakan suara Jenderal Kao yang amat nyaring ini tentu saja amat menge­jutkan semua orang yang berada di da­lam ruangan itu. Mereka meloncat ba­ngun dan memandang dengan mata ter­belalak dan muka pucat ke arah jendela yang tiba-tiba bobol dari luar diikuti melayangnya tubuh dua orang yang kini sudah berdiri di situ memandang mereka dengan sinar mata berapi. Kim Bouw Sin tidak mengenal siapa adanya laki-laki gagah berpakaian sederhana bercaping lebar yang berdiri di samping Jenderal Kao itu, akan tetapi mengerti bahwa rahasianya telah terbuka, dia cepat ber­seru, “Bunuh mereka!”

Sebelum menyerbu masuk, Jenderal Kao yang melihat betapa diantara belas­an orang itu terdapat Kim Bouw Sin dan tiga orang panglima pembantunya, juga terdapat dua orang yang dia lihat ikut mengeroyoknya di sumur maut, telah membisiki Gak Bun Beng bahwa mereka berdua harus dapat menangkap hidup atau mati Kim Bouw Sin, tiga orang pembantunya, dan dua orang pengeroyok itu. Yang lain-lain hanyalah kaki tangan yang tidak begitu penting, akan tetapi tiga orang pembantu dan dua orang pe­ngeroyok itu merupakan saksi penting sekali akan pemberontakan Kim Bouw Sin yang menjadi kaki tangan Pangeran Liong seperti dapat dibuktikan dari perundingan mereka tadi. Gak Bun Beng mengangguk dan menyerbulah mereka ke dalam ru­angan itu.

Aba-aba yang dikeluarkan oleh mulut Kim Bouw Sin tidak perlu diulang kem­bali karena semua yang hadir dalam pe­rundingan itu mengenal belaka siapa ada­nya laki-laki berusia lima puluhan tahun yang bertubuh tinggi besar, gagah per­kasa dan berpakaian panglima itu. Sung­guhpun kebanyakan diantara mereka tidak ada yang mengenal laki-laki yang lebih muda, berusia empat puluh tahunan ber­pakaian sederhana itu, namun mereka dapat menduga bahwa laki-laki itu tentu­lah kaki tangan Jenderal Kao. Hanya dua orang yang ikut menyerbu ke sumur ma­ut mengenal Bun Beng dan mereka ini menjadi begitu kaget dan ketakutan se­hingga ketika Kim Bouw Sin dan yang lain-lain mencabut senjata dan menyerbu, dua orang ini lari menyelinap dan ber­usaha pergi dari tempat berbahaya itu.

Pada saat itu, Jenderal Kao Liang sudah mencabut pedang panjangnya dan dengan gagah perkasa menghadapi serbu­an lima enam orang, sedangkan Gak Bun Beng dengan tangan kosong sedang meng­hadapi hujan senjata para kaki tangan Kim Bouw Sin yang rata-rata terdiri dari orang-orang berkepandaian tinggi. Akan tetapi melihat dua orang yang tadi di­tunjuk oleh Jenderal Kao sedang berusaha menyelinap pergi, Bun Beng melepaskan topi caping lebarnya dan sekali tangan­nya bergerak, topi caping lebar itu me­luncur, mengeluarkan suara berdesing, berputar-putar seperti gasing dan menyambar ke arah lutut kedua orang yang melarikan diri itu dari belakang.

“Crak-crakkk!”

Dua orang itu mengeluarkan suara menjerit dan roboh terjungkal karena ke­dua lutut kaki mereka seperti dibacok senjata tajam, membuat mereka berdua lumpuh tak dapat bangun kembali sedang­kan mata mereka terbelalak memandang ke arah benda yang masih berputaran dan kini melayang kembali ke arah Gak Bun Beng. Caping itu memang dilempar­kan dengan gerakan istimewa pergelangan tangan sehingga berputar amat cepatnya, maka ketika menyentuh lutut kedua orang itu, dalam keadaan terputar seperti golok tajamnya dan bersentuhan dengan lutut mereka itu membuat caping tadi yang masih berputar cepat itu berbalik arah dan melayang kembali ke arah pemilik­nya. Memang hal ini telah diperhitungkan oleh Bun Beng melalui latihan-latihan yang tekun bertahun-tahun lamanya.

Dengan tenang Bun Beng menghadapi pengeroyokan orang banyak, tubuhnya tiba-tiba mencelat ke atas ketika dia melihat capingnya melayang kembali dan menyambar benda itu, terus dipakai di atas kepalanya dan mulailah dia meng­gunakan kaki tangannya menghadapi pe­ngeroyok.

Jenderal Kao yang dikeroyok oleh Kim Bouw Sin sendiri bersama kaki ta­ngannya, mengamuk hebat. Pedangnya bergerak seperti seekor naga bermain-main di angkasa, lenyap bentuk pedang­nya berubah menjadi segulungan sinar yang menyilaukan mata tertimpa cahaya lampu di ruangan itu dan dalam belasan jurus saja dia telah berhasil merobohkan dua diantara tiga panglima pembantu Kim Bouw Sin yang mengakibatkan se­orang tewas dan yang seorang lagi se­tengah mati karena kaki kanannya buntung dan pundaknya terluka parah.

Gan Bun Beng yang sudah lama sekali, belasan tahun sudah, tidak pernah melukai orang apalagi membunuh, merasa ngeri juga maka dia mengambil keputusan untuk cepat mengakhiri pertempuran itu tanpa terlalu banyak membunuh orang. Tiba-tiba dari dalam perutnya, melalui kerongkongannya keluar pekik melengking yang luar biasa sekali, sedangkan kedua lengannya didorongkan ke depan. Me­nyambarlah angin-angin pukulan yang berhawa dingin, dan semua pengeroyok­nya yang berjumlah delapan orang itu roboh semua, sebagian karena sudah lum­puh mendengar pekik melengking itu dan sebagian lagi roboh oleh dorongan angin pukulan yang mengandung hawa dingin luar biasa itu. Kemudian tubuhnya men­celat ke arah Jenderal Kao yang sedang mengamuk dan dengan beberapa kali menggerakkan tangan dan kakinya, ro­bohlah seorang panglima pembantu dan dua orang yang tadi ditunjuk oleh Jende­ral Kao, yaitu dua orang yang pernah mengeroyok jenderal itu di sumur maut. Jenderal ini kagum dan juga girang se­kali, pedangnya mendesak hebat kepada bekas pembantunya dan betapa pun Kim Bouw Sin mempertahankan dengan pe­dangnya, namun tidak sampai sepuluh jurus dia roboh, pedangnya terlepas dari pegangan dan lehernya sudah dicengke­ram oleh jari-jari tangan kiri Jenderal Kao!

Melihat robohnya para panglima itu, sisa para pengeroyok menjadi jerih dan cepat melarikan diri keluar dari ruangan sambil berteriak-teriak minta bantuan. Dari luar berbondong-bondong masuklah para pengawal dari penjaga yang bersen­jata lengkap.

“Gak-taihiap, lekas bawa dua orang itu!”

Bun Beng sendiri bingung menghadapi keadaan yang amat gawat itu. Kalau se­mua pasukan datang menyerbu, mereka berdua mana mungkin mampu melawan puluhan ribu orang tentara? Maka dia tidak banyak bertanya, cepat dia me­nyambar dua orang yang dirobohkannya tadi, menotok mereka lalu mengempit tubuh mereka, mengikuti Jenderal Kao yang sudah memanggul tubuh Kim Bouw Sin dan meloncat keluar dari ruangan itu melalui jendela.

Terdengar suara anak panah yang ba­nyak sekali mengaung dan berdesir me­nyambar, namun Jenderal kao dapat me­runtuhkannya dengan putaran pedangnya sedangkan Bun Beng sudah melesat ke atas dengan cepat sekali, diikuti oleh Jenderal Kao.

“Mari kauikuti aku!” Jenderal Kao berkata dan keduanya lalu berloncatan melalui atap rumah-rumah di dalam ben­teng itu menuju ke menara! Dengan ke­cepatan luar biasa keduanya dapat tiba di menara. Belasan orang penjaga me­nara ketika melihat bahwa yang muncul adalah Jenderal Kao yang mengempit Panglima Kim Bouw Sin dan seorang pria gagah yang membawa dua orang, menjadi terkejut, bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.

“Hai, para penjaga! Aku Jenderal Kao datang untuk membasmi pemberontakan dan pengkhianatan. Hayo kalian lekas bunyikan tanda agar seluruh perajurit berkumpul!” dengan suara yang nyaring dan penuh wibawa jenderal itu memben­tak, lalu menambahkan. “Ataukah kalian hendak ikut memberontak pula dan ingin kubunuh semua di sini?”

Para penjaga itu menjadi ketakutan, apalagi melihat bahwa panglima mereka telah tidak berdaya. Dua orang diantara mereka cepat meniup terompet dan me­mukul tambur tanda berkumpul bagi selu­ruh penghuni benteng itu. Sementara itu pagi sudah mulai tiba, biarpun cuaca masih remang-remang, namun tidaklah segelap tadi. Para perajurit yang sedang tidur lelap itu terbangun dan menjadi kaget sekali, cepat-cepat mereka berpa­kaian dan berlari-lari menuju ke lapangan terbuka di bawah menara. Dalam ke­adaan hiruk-pikuk itu, tentu saja berita tentang penyerbuan dua orang yang meng­gegerkan itu diterima dalam keadaan bingung dan simpang-siur oleh para pe­rajurit sehingga mereka itu tidak jelas apa yang sebenarnya terjadi dan me­nyangka bahwa tanda berkumpul itu ten­tu ada hubungannya dengan berita kekacauan itu.

Karena sudah terlatih, dalam waktu singkat saja semua perajurit telah berkumpul rapi di lapangan itu, menghadap ke menara dipimpin oleh perwira yang mengepalai pasukan masing-masing. Dari atas menara, Jenderal Kao melihat bahwa tidak ada seorang pun panglima yang hadir. Dari atas dia dapat melihat jelas karena para perajurit yang bertugas ba­gian penerangan telah memasang banyak lampu dan obor untuk menerangi tempat itu. Padahal Kim Bouw Sin mempunyai lima orang pembantu sebagai panglima-panglima di benteng itu. Tiga orang di antara yang lima itu ikut mengkhianati pemerintah dan telah dirobohkan, akan tetapi yang dua lagi, Panglima Kwa dan Panglima Coa, tidak nampak hadir. Apa­kah yang dua itu pun ikut memberontak dan dalam keadaan berbahaya itu telah melarikan diri?

Setelah semua perajurit telah ber­kumpul, Jenderal Kao membawa Pangli­ma Kim Bouw Sin yang setengah pingsan itu ke depan menara sehingga tampak oleh semua perajurit karena di bagian depan menara itu telah dipasangi lampu oleh para penjaga yang menjadi bingung sekali melihat betapa panglima mereka ditawan oleh Jenderal Kao yang terkenal galak dan ditakuti juga disegani dan di­hormati semua perajurit itu.

Melihat munculnya Jenderal Kao yang memegang tengkuk Panglima Kim Bouw Sin dan memaksa bekas komandan ben­teng itu berdiri di sampingnya, terkejutlah semua perajurit dan di bawah menjadi bising.

“Semua tenang….!” Suara Jenderal Kao bergema sampai jauh di bawah menara dan seketika keadaan menjadi he­ning, tidak ada seorang pun yang berani membuka suara. Hati jenderal itu menjadi lega menyaksikan ketaatan ini. Hal ini hanya berarti bahwa belum semua pera­jurit dipengaruhi oleh rencana pemberon­takan Kim Bouw Sin yang menjadi kaki tangan Pangeran Liong Bin Ong. Dan dia pun bersyukur sekali bahwa dia menye­tujui rencana Gak Bun Beng untuk mengakhiri urusan ini secara menyelundup ke dalam benteng, dibantu oleh pendekar yang sakti itu. Kalau dia datang bersama sepasukan tentara, tentulah terjadi salah paham dan pasukan benteng itu akan dapat mudah dibujuk untuk melakukan perlawanan. Akan tetapi sekarang, sete­lah semua panglima yang memimpin pemberontakan dirobohkan dan ditawan, me­reka tidak sempat lagi membujuk dan para perajurit yang kebingungan baru ba­ngun tidur itu tentu saja tidak berniat untuk memberontak karena yang muncul hanyalah seorang saja, yaitu Jenderal Kao Liang yang mereka takuti dan hor­mati.

Setelah melihat semua perajurit te­nang dan suasana menjadi hening, jende­ral itu bicara dan suaranya menggema dari atas menara, “Para perwira dan para perajurit yang gagah perkasa! Di­antara kalian tentu ada yang sudah tahu, ada yang dapat menduga dan mungkin ada pula yang belum tahu bahwa Pangli­ma Kim Bouw Sin juga menjadi koman­dan kalian, yang menjadi pembantuku yang kupercaya, ternyata telah berkhianat dan menyelewengkan kalian ke arah pem­berontakan yang amat hina dan rendah!”

Jenderal itu berhenti sebentar dan melihat banyak mata memandang dengan ketakutan. Cepat dia menyambung, “Ka­lian tahu apa yang akan menimpa kalian kalau hal itu terlaksana? Kalian akan dibasmi, dihancurkan dan masing-masing akan menerima hukuman berat sekali, dicap sebagai pengkhianat dan pemberon­tak yang amat rendah sehingga sampai beberapa keturunan nama kalian menjadi busuk, bahkan nama nenek moyang ter­bawa-bawa ke dalam kehinaan! Untung bahwa aku mengetahui hal itu dan cepat malam ini aku turun tangan menangkap pengkhianat Kim Bouw Sin ini bersama kaki tangannya. Dan aku tahu bahwa kalian tidak berdosa, bahwa kalian hanya terbawa-bawa saja oleh atasan yang me­nyeleweng, oleh karena itu, kalau kalian mau insyaf dan mulai saat ini tunduk dan setia kepada pemerintah, aku Jende­ral Kao Liang akan menanggung bahwa kalian tidak akan dihukum dan tidak di­anggap berdosa. Bagaimana pendapat kalian?”

Hening sejenak, keheningan yang amat menegangkan hati Gak Bun Beng karena pendekar ini maklum bahwa kalau sampai jenderal itu gagal menguasai para perajurit ini sehingga mereka memberontak, tentu dia dan Jenderal Kao tidak dapat meloloskan diri lagi dari kepungan puluh­an ribu orang perajurit itu!

“Hidup Jenderal Kao….!”

“Basmi pemberontak….!”

Gak Bun Beng bernapas lega dan diam-diam dia kagum sekali atas kete­nangan dan kepribadian jenderal itu. Jen­deral Kao mengangkat kedua tangannya dan semua kebisingan yang di bawah ber­henti.

“Yang memimpin pemberontakan ada­lah Kim Bouw Sin dan tiga orang pem­bantunya, mereka sudah kurobohkan, di­bantu pula oleh tenaga-tenaga dari luar benteng. Akan tetapi aku tidak melihat adanya Panglima Kwa dan Panglima Coa, ke manakah kedua orang itu?”

Terdengar jawaban dari bawah, dari mulut seorang perwira, “Kwa-ciangkun dan Coa-ciangkun telah ditangkap dan ditawan oleh Kim Bouw Sin!”

“Ahh!” Jenderal Kao Liang berseru. “Lekas bebaskan mereka dan hadapkan kepadaku!”

Dari bawah terdengar suara menyang­gupi dan tampak beberapa orang perwira berlari ke dalam rumah tahanan dan tak lama kemudian mereka datang kembali membawa dua orang laki-laki bertubuh tegap yang pakaiannya kusut dan robek-robek, yang tubuhnya banyak luka-luka bekas cambukan. Mereka ini berlari ke depan, dan cepat menjatuhkan diri ber­lutut di bawah menara, menghadap ke arah Jenderal Kao.

“Kwa-ciangkun dan Coa-ciangkun, apa yang terjadi? Mengapa kalian ditangkap oleh Kim Bouw Sin?” Jenderal Kao ber­tanya.

“Kami berdua menentang pemberon­takannya, tidak mau terbujuk, maka kami ditangkap dan kami disiksa untuk mau membantu, akan tetapi kami berdua lebih baik memilih mati daripada harus mem­berontak,” jawab Kwa-ciangkun.

“Para perwira dan perajurit! Kalian sudah mendengar sendiri. Itulah baru suara seorang perajurit sejati! Maka, untuk sementara waktu ini, aku meng­angkat Kwa-ciangkun sebagai komandan benteng ini yang baru dan Coa-ciangkun menjadi wakilnya!”

Kembali terdengar sambutan sorak-sorai, sebagian besar dari para perajurit yang merasa beruntung sekali bahwa me­reka yang tadinya terbujuk untuk mem­bantu Kim Bouw Sin, memperoleh peng­ampunan yang demikian mudahnya. Baru sekarang mereka melihat kenyataan be­tapa lemah kedudukan mereka, betapa lemah pemimpin mereka yang mengajak memberontak sehingga dengan munculnya dua orang saja, para pemimpin itu telah dibuat tidak berdaya sama sekali! Kalau mereka terlanjur memberontak, mengha­dapi pasukan pemerintah di bawah pim­pinan seorang panglima seperti Jenderal Kao, tentu mereka akan dibasmi hancur!

Jenderal Kao lalu menyerahkan pim­pinan kepada kedua orang panglimanya yang baru. Kwa-ciangkun dan Coa-ciang­kun lalu menggunakan kesempatan itu untuk memberi “kuliah” kepada para pe­rajurit sampai hari menjadi terang, se­dangkan Jenderal Kao dan Gak Bun Beng menyerahkan para tawanan itu, Kim Bouw Sin dan dua orang kaki tangannya yang akan diajukan sebagai saksi, kepada para penjaga agar mereka itu ditawan dengan kaki tangan dibelenggu. Akan te­tapi ketika mereka turun dari menara dan memasuki ruangan pertempuran tadi, ternyata tiga orang pembantu panglima yang menjadi kaki tangan Kim Bouw Sin telah tewas semua, membunuh diri!

“Ahhh…. saya yang ceroboh, Pangli­ma!” Bun Beng berseru menyesal. “Se­mestinya mereka itu kutotok lumpuh se­belum kita tinggalkan tadi.”

“Tidak mengapa, Taihiap. Mereka pun sudah sepatutnya mampus, manusia-ma­nusia rendah yang hanya mengejar ke­senangan tanpa mempedulikan lagi cara­nya itu sehingga mereka mau saja diper­alat oleh Pangeran Liong untuk mem­berontak. Yang penting adalah Kim Bouw Sin sebagai tokoh utamanya dan dua orang pembantunya itu sebagai saksi karena mereka berdua ikut mengeroyokku di sumur maut.” Jenderal Kao lalu meng­ajak dua orang komandan baru untuk berunding, kemudian dia bersama Gak Bun Beng kembali ke bentengnya sendiri dikawal oleh sepasukan istimewa yang membawa Kim Bouw Sin dan dua orang pembantunya itu dalam kereta kerang­keng, karena Jenderal Kao menghendaki agar tiga orang tawanan itu dibawa ke bentengnya agar langsung berada di ba­wah penjagaannya sendiri menanti saat­nya mereka dihadapkan ke kota raja. Dia pun sudah memerintahkan dengan tegas agar mereka bertiga tidak diberi kesem­patan untuk membunuh diri, karena di dalam hatinya jenderal ini mengambil keputusan untuk menggunakan mereka bertiga itu untuk membongkar rahasia pemberontakan Pangeran Liong Bin Ong.

Rasa persahabatan terhadap Bun Beng makin mendalam berakar di hati jenderal yang perkasa itu. Di sepanjang perjalanan kembali ke bentengnya, mereka yang duduk berkuda berdampingan, tiada henti­nya bercakap-cakap dan di dalam per­cakapan ini Jenderal Kao Liang men­ceritakan tentang keadaannya. Di dalam pelaksanaan tugasnya yang penting, ber­bahaya, dan di perbatasan yang sunyi dan liar, dia tidak membawa keluarganya, meninggalkan isteri dan tiga orang anaknya di kota raja setelah terjadi hal me­nyedihkan ketika keluarganya dibawanya dahulu di perbatasan itu. Di waktu ke­luarganya ikut bersamanya di benteng perbatasan, puteranya yang sulung, ketika itu baru berusia sepuluh tahun, pada suatu hati telah lenyap ketika anak itu bermain-main di luar benteng seorang diri. Tentu saja Jenderal Kao sudah me­ngerahkan pasukan mencari-cari, dia sen­diri pun sudah mencari, mengarungi pa­dang pasir di utara, namun hasilnya sia-sia, puteranya pun tidak dapat diketemu­kan kembali bahkan mayatnyapun tidak! Setelah terjadi peristiwa menyedihkan itu, dia lalu mengirim kembali keluarga­nya ke kota raja dan peristiwa yang sudah terjadi selama belasan tahun yang lalu itu masih saja berbekas di dalam hatinya, kadang-kadang membuatnya ter­menung memandang padang pasir yang luas, teringat akan nasib puteranya yang dianggapnya tentu telah tewas tak tentu kuburnya itu.

Adapun Gak Bun Beng juga merasa makin kagum terhadap pribadi jenderal ini, yang ternyata selain seorang yang amat setia kepada pemerintah, keturunan orang-orang besar dalam bidang kemili­teran, juga adalah seorang laki-laki ga­gah perkasa yang berjiwa besar. Maka hatinya pun menjadi lega bahwa dia te­lah membawa Syanti Dewi kepada jen­deral itu. Dan dia pun lalu menceritakan tentang diri Syanti Dewi selengkapnya, seperti yang diketahuinya.

“Saya merasa kasihan sekali terhadap Syanti Dewi. Dia seorang puteri raja, akan tetapi nasib membawanya mengalami banyak kesengsaraan lahir batin. Tidak hanya dia terpaksa mentaati kehendak orang tua untuk menikah dengan seorang pangeran tua yang sama sekali belum pernah dijumpainya, akan tetapi juga ternyata bahwa pangeran itu seorang berhati curang, bahkan mungkin sekali, karena hal ini belum dapat terbukti kuat, adalah seorang pengkhianat dan pembe­rontak. Lebih lagi setelah tiba di sini, dia mendengar akan kematian Candra Dewi atau Nona Lu Ceng, adik angkat­nya.”

Mendengar disebutnya nama Lu Ceng, Jenderal itu memejamkan matanya se­bentar dan merasa betapa jantungnya se­perti ditusuk. Nona yang telah mati ka­rena menolongnya itu! Tak pernah dia akan dapat melupakan betapa nona itu benar-benar telah mengorbankan nyawa untuk menebus nyawanya sendiri, karena kalau bukan Ceng Ceng yang menendang­nya keluar dari sumur, tentu bukan dara itu melainkan dia yang akan tewas!

“Memang kasihan sekali dia….” kata­nya, tidak tentu lagi siapa yang dimak­sudkan dengan “dia”, puteri itukah atau Ceng Ceng.

“Maka saya mengharapkan kebijaksa­naan dan kemurahan hatimu, Kao-goan­swe, untuk menerima gadis itu dan me­lindunginya. Saya hendak pergi melanjut­kan perjalanan, dan saya menitipkan Syanti Dewi kepadamu agar kelak dapat kauantarkan dia kepada Puteri Milana….”

“Hemm, kenapa kepada Puteri Mila­na?” Jenderal itu menatap tajam wajah pendekar itu.

Bun Beng menahan getaran jantungnya dan bersikap tenang dan biasa saja. “Si­apa lagi yang dapat melindunginya selain puteri yang namanya sudah amat terke­nal sebagai seorang yang gagah perkasa dan budiman, puteri dari Pendekar Super Sakti itu? Kalau Syanti Dewi berada di bawah perlindungannya, barulah hatiku akan merasa tenang.”

“Baiklah, Taihiap. Syanti Dewi akan kuanggap sebagai anakku sendiri. Anakku ada tiga orang, kesemuanya laki-laki, yang paling besar telah hilang, dan aku akan senang sekali menganggap dia se­bagai anakku sendiri. Akan kulindungi dia sampai ada kesempatan bagiku untuk mengantarnya sendiri kepada Puteri Mi­lana.”

Gak Bun Beng seketika mengangkat kedua tangannya memberi hormat dengan wajah berseri-seri. “Budimu amat besar, dan aku tidak akan melupakannya, Goanswe!”

Jenderal Kao memandang wajah itu makin tajam penuh selidik, kemudian dia menarik napas dan berkata, “Gak-tai­hiap, engkau memutarbalikkan kenyataan dan demikian memang sifat pendekar-pendekar budiman. Engkaulah yang telah menyelamatkan nyawaku, kemudian mem­bantuku membasmi pemberontak. Tanpa bantuanmu, takkan begitu mudah urusan ini dapat diatasi. Akan tetapi…. hemm, sungguh aneh sekali…. aneh sekali….!”

Gak Bun Beng yang duduk di atas ku­danya di sebelah kiri jenderal itu, mene­ngok dan bertanya heran, “Apakah yang aneh, Kao-goanswe?”

“Taihiap, pernahkah engkau mende­ngar Jit-hui-houw, tujuh jagoan dari kota Shen-bun?”

Bun Beng memandang penuh perta­nyaan, tidak mengerti mengapa jenderal itu menanyakan ini, mengingat-ingat, ke­mudian menggeleng kepalanya.

“Dan kurang lebih dua tahun yang lalu, pernahkah Taihiap tinggal di kota Shen-yang?”

“Shen-yang dekat kota raja?”

Jenderal itu mengangguk.

“Tidak pernah, Goanswe. Belasan ta­hun saya mengembara di gunung-gunung dan dusun-dusun, tidak pernah tinggal di kota besar.”

Jenderal Kao Liang mengangguk-ang­guk. “Sudah kuduga demikian…. akan te­tapi menurut berita, namanya juga Gak Bun Beng dan juga amat lihai, lebih ter­kenal dengan julukan Si Jari Maut….”

“Aiih, dahulu ketika pertama kali kita saling berjumpa, engkau pun menyebut Si Jari Maut. Siapakah dia dan apa sangkut-pautnya denngan saya, Kao-goanswe?”

“Saya sendiri tidak pernah bertemu dengannya, hanya menurut kabar, dia lihai sekali, lihai dan kejam. Namanya Gak Bun Beng, julukannya Si Jari Maut, kabarnya masih muda, akan tetapi eng­kau pun belum tua benar, Taihiap.”

“Hemm, tentu dia orang lain. Apakah pekerjaannya?”

“Dia merampok, membunuh, memper­kosa….”

“Ahhh….!” Bun Beng mengerutkan alisnya. “Kalau begitu, tentu hanya ada dua kemungkinan.”

“Maksudmu, Taihiap?”

“Pertama, memang ada seorang pen­jahat keji yang lihai dan yang memiliki nama dan she yang sama dengan saya. Ke dua, dia adalah seorang musuh ter­sembunyi yang sengaja hendak merusak nama saya. Yang mana pun kenyataan dari kedua kemungkinan itu, saya harus pergi mencarinya, Kao-goanswe.”

Jenderal itu mengangguk-angguk. “Sa­ya lebih condong menyangka kemungkinan ke dua, Taihiap. Seorang yang lihai se­perti Taihiap tentu dahulu sudah sering kali bentrok dengan golongan hitam dan kaum sesat, maka tidaklah aneh kalau ada yang mendendam dan kini membalas dengan cara memburukkan namamu.”

Gak Bun Beng menggelengkan kepala­nya perlahan. “Agaknya tidak mungkin, Goanswe. Sudah belasan tahun saya tidak pernah terjun ke dunia kang-ouw. Betapa pun juga, saya akan melakukan penyeli­dikan.”

“Berita itu mula-mula muncul dari Shen-yang, kemudian di sekitar daerah sebelah selatan kota raja. Ke sanalah kalau engkau hendak melakukan penyeli­dikan, Taihiap.”

“Baik, hari ini juga saya akan berangkat setelah saya pamit kepada Puteri Syanti Dewi.”

Setelah tiba di benteng, Gak Bun Beng segera menemui Syanti Dewi. Akan tetapi puteri itu tidak berada di dalam kamarnya dan menurut pelayan, puteri itu sejak Gak Bun Beng dan Jenderal Kao berangkat, semalam suntuk tidak memasuki kamarnya dan berada di dalam taman. Bahkan para pelayan yang hendak menemaninya disuruh pergi semua. Cepat Bun Beng memasuki taman dan dengan langkah perlahan dia menghampiri puteri yang sedang duduk menutupi muka dengan saputangan yang basah air mata. Agaknya puteri itu menangis. Bun Beng mengerutkan alisnya dan menduga-duga. Selama dalam perjalanan yang amat su­sah payah, puteri yang sebetulnya lemah itu telah memperlihatkan sikap yang amat tabah dan tahan uji, tahan mende­rita, dan baru sekarang dia melihat pu­teri itu berduka dan menangis, bahkan, katanya semalam suntuk tidak meninggalkan taman itu!

“Dewi….!”

Saputangan basah itu terlepas, muka yang agak pucat dengan mata merah itu tampak, menengok, lalu dia meloncat, lari menghampiri sambil mengeluh pan­jang, “Paman…., ahhh, Paman….!” Syanti Dewi menubruk dan merangkul leher Bun Beng, menangis di atas dada pendekar itu.

Bun Beng mengelus rambut kepala yang halus itu, berkali-kali menarik na­pas panjang dan memejamkan kedua ma­tanya, kemudian baru ia berkata lirih, “Aih, Dewi, kau kenapakah? Semalam engkau berada di taman dan engkau…. menangis? Apa yang menyusahkan hati­mu? Apakah engkau masih berduka ka­rena kematian adikmu Candra Dewi?”

Syanti Dewi terisak-isak dan memper­erat pelukannya, kemudian dia melepas­kan rangkulannya, memandang wajah pendekar itu, berusaha tersenyum akan tetapi kelihatan makin mengharukan. “Maafkan aku, Paman….! Tentu saja aku masih berduka kalau teringat kepada Adik Candra, akan tetapi semalam aku…. aku cemas sekali memikirkan Paman….”

Bun Beng tersenyum dan kembali jan­tungnya seperti ditusuk. Betapa besar kasih sayang dara ini kepadanya! Mence­maskan keadaannya sampai tidak tidur semalam suntuk. Makin terasa olehnya betapa Puteri Bhutan ini mencintanya, makin tidak enaklah rasa hati Gak Bun Beng, apalagi dia juga merasakan betapa hatinya tertarik dan di situ terdapat kecondongan cinta kasih yang amat be­sar terhadap dara ini, seolah-olah pencurahan kasih sayangnya yang gagal dan terputus terhadap Milana kini dibelokkan ke arah Syanti Dewi!

Bun Beng memaksa senyum untuk menutupi perasaan hatinya. “Dewi, kau lucu sekali. Mengapa mengkhawatirkan aku?”

“Ada dua hal yang membuat aku me­rasa khawatir sekali dan yang membuat aku menangis, Paman. Sampai saat ini pun, biar Paman telah kembali dengan selamat, namun masih ada hal ke dua yang mencemaskan hatiku. Yang pertama, tadinya aku khawatir Paman akan celaka dan ternyata Paman telah kembali dengan selamat. Akan tetapi ada hal ke dua….” Kembali Syanti Dewi menunduk­kan muka menahan tangisnya.

“Ada apakah, Dewi? Katakanlah ke­padaku.”

“Aku…. aku khawatir…. bahwa Pa­man…. Paman akan meninggalkan aku….”

“Ah, Dewi, mengapa engkau meng­khawatirkan hal itu?”

Syanti Dewi mengangkat mukanya, lalu memegang kedua lengan pendekar itu, wajahnya berseri, matanya bersinar penuh harapan. “Jadi Paman tidak akan meninggalkan aku? Paman, berjanjilah bahwa Paman tidak akan pernah mening­galkan aku, bahwa kita tidak akan saling berpisah!”

Bun Beng menghela napas panjang. “Aihh, bukan begitu maksudku, Dewi. Mengapa engkau mengkhawatirkan perpi­sahan antara kita yang memang sudah semestinya? Biarpun engkau sudah kuang­gap sebagai keponakan sendiri, akan te­tapi kenyataannya adalah bahwa kita bukanlah sanak kadang, bukan keluarga. Antara kita tidak ada ikatan keluarga, dan memang aku akan melanjutkan per­jalananku, meninggalkan engkau di sini bersama Jenderal Kao yang menganggap kau sebagai anak sendiri….”

“Tidak….! Aku ikut denganmu, Paman.”

Bun Beng menggeleng kepala. “Aku seorang yang hidup sebatangkara, tidak tentu tempat tinggalku, tidak tentu ma­kanku, mana mungkin engkau ikut?”

“Biar! Aku akan ikut ke mana pun engkau pergi!”

“Perjalanan hidupku hanyalah meng­hadapi kesengsaraan belaka….”

“Aku tidak takut! Aku bersedia men­derita sengsara di sampingmu, Paman.”

“Akan tetapi hal itu tidak mungkin dilakukan, Dewi! Diantara kita tidak ada ikatan apa-apa, tidak ada hubungan ke­luarga dan….”

“Siapa bilang tidak ada ikatan apa-­apa, Paman?”

“Maksudmu….”

“Tidak terasakah oleh Paman akan adanya ikatan yang amat erat diantara kita, ikatan batin yang amat kuat? Dan Paman masih mengatakan tidak ada ikatan apa-apa? Mengapa aku, seorang puteri yang biasanya hidup serba mewah dan mudah, dapat melakukan perjalanan yang sukar dan menderita dengan hati tetap bergembira dan berbahagia di samping Paman? Bukankah itu membuktikan ada­nya ikatan yang amat luar biasa diantara kita?”

“Maksudmu….?”

“Maksudku….?” Wajah itu pucat dan dari kedua matanya mengalir air mata di pipinya, akan tetapi pandang matanya bersinar-sinar. “Masih perlukah kujelaskan lagi? Mengapa aku gelisah kalau Paman pergi? Mengapa aku setengah mati kalau Paman sakit? Mengapa aku berbahagia kalau berada di samping Paman? Perlu­kah kujelaskan lagi, Paman? Perlukah….?” Syanti Dewi tersedu.

Wajah Bun Beng pucat. Inilah yang ditakutinya, yang dikhawatirkannya se­lama ini. Bibirnya bergetar, alisnya ber­kerut, seluruh tubuhnya terasa menggigil.

“Kau…. kau….?”

“Aku cinta padamu, Paman! Kurasa Paman tidak buta untuk melihat hal itu….”

“Aku tahu…. aihh, Dewi…. aku tahu…. tapi….”

“Paman….!” Syanti Dewi merangkul dan menangis di dada pria itu, dan Bun Beng juga memeluknya, mengelus ram­butnya, mukanya ditengadahkan, mengha­dap ke angkasa seolah-olah dia mohon kekuatan dari atas, akan tetapi dia me­rasa ngeri untuk menyaksikan kenyataan ini sehingga kedua matanya terpejam. Sampai lama mereka berada dalam ke­adaan seperti itu, saling peluk sambil berdiri dan tak bergerak seperti telah berubah menjadi arca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s