KHO PING HOO – Kisah Sepasang Rajawali Jilid 1

KHO PING HOO!! CIATSSSS!!

Kisah Sepasang Rajawali

“Haaiiiii…. hiiyooooo…. huiiiiii….!”

“Eh, Bu-te (adik Bu), jangan main-main! Angin bertiup begini kencang, lekas duduk dan membantu aku. Gulung layar itu, kita bisa celaka kalau angin sebesar ini dan layar tetap berkembang!”

“Yahuuuuu….! Wah, dengar, Lee-ko (kakak Lee), suara terbawa angin tentu terdengar sampai jauh. Hiyooooohhhhh….!”

Mereka adalah dua orang anak laki-laki yang menjelang dewasa, berusia empat belas tahun, berwajah tampan dan bertubuh tegap kuat. Mereka ini kakak-beradik yang mempunyai ciri wajah berbeda sungguhpun sukar dikatakan siapa di antara mereka yang lebih tampan. Yang disebut Lee-ko adalah Suma Kian Lee, sedangkan adiknya itu adalah Suma Kian Bu, dan kedua orang anak laki-laki ini bukan anak-anak nelayan biasa yang bermain-main dengan perahu mereka, melainkan putera-putera Pendekar Super Sakti Suma Han atau yang lebih terkenal dengan julukan Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman, Majikan Pulau Es!

Pendekar Super Sakti yang mengasingkan diri dari dunia ramai selama bertahun-tahun, tinggal di Pulau Es bersama dua orang isterinya, yaitu Puteri Nirahai dan Lulu, dua orang isteri yang cantik jelita dan mencinta suaminya dengan sepenuh jiwa raga mereka. Di dalam cerita Sepasang Pedang Iblis diceritakan betapa suami dengan kedua orang isterinya ini baru berkumpul kembali di pulau itu setelah mereka berusia empat puluh tahun dan hidup bertiga di pulau kosong itu, mengasingkan diri dari dunia ramai dan saling mencurahkan kasih sayang yang terpendam selama belasan tahun berpisah!

Dari curahan kasih sayang yang amat mendalam dan mesra itu, terlahirlah dua orang anak laki-laki itu. Lulu melahirkan puteranya lebih dahulu, dan anak itu diberi nama Suma Kian Lee. Setengah tahun kemudian, Nirahai juga melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Suma Kian Bu. Tentu saja kelahiran dua orang anak laki-laki itu menambah rasa bahagia di dalam kehidupan mereka bertiga sehingga tidak begitu terasalah kesunyian di pulau itu. Dan setelah kedua orang anaknya terlahir, demi kepentingan dua orang anaknya, Suma Han tidak lagi pantang bergaul dengan orang lain, bahkan seringkali dia mengajak kedua orang puteranya pergi meninggalkan Pulau Es mengunjungi pulau-pulau lain di dekat daratan besar yang dihuni oleh nelayan-nelayan.

Karena kedua orang anak itu lebih mirip dengan ibu masing-masing, maka biarpun keduanya sama tampan, namun terdapat perbedaan dan ciri khas pada wajah mereka, juga semenjak kecil sudah tampak perbedaan watak mereka yang menyolok sekali. Suma Kian Lee, putera Lulu, berwatak lembut dan halus, sabar dan tidak pernah melakukan kenakalan, juga pendiam. Sebaliknya, Suma Kian Bu, putera Nirahai, amat nakal dan periang, mudah tertawa dan mudah menangis, bandel dan berani, akan tetapi juga amat mencinta kakaknya dan betapapun nakalnya, akhirnya dia selalu tunduk dan taat kepada kakaknya. Padahal dia berani membangkang terhadap ibunya sendiri, bahkan kadang-kadang dia berani menentang ayahnya!

Pada pagi hari itu, ketika kedua orang ibu mereka sedang sibuk di dapur darr ayah mereka seperti biasa di waktu pagi hari duduk bersamadhi di dalam kamar samadhinya, mereka berdua bermain-main dengan perahu mereka. Kenrudian timbul niatan tiba-tiba dalam kepala Suma Kian Bu untuk pergi menggunakan perahu ke daratan besar dan mencari encinya (kakak perempuannya) yang tinggal di kota raja! Memang anak ini mempunyai seorang kakak perempuan yang bernama Puteri Milana. Puteri Nirahai adalah puteri Kaisar Tiongkok yang lahir dari seorang selir, maka anaknya yang pertama, yang bernama Milana, juga seorang puteri, cucu kaisar! Di dalam ceriteraSepasang Pedang Iblis dituturkan betapa Puteri Milana, kakak Suma Kian Bu ini, oleh ayahnya diharuskan ikut kakeknya, Kaisar Tiongkok, untuk tinggal di istana kaisar dan selanjutnya mentaati semua perintah kakeknya itu. Akhirnya oleh kaisar, Puteri Milana yang cantik jelita itu dijodohkan dengan seorang panglima muda yang juga berdarah bangsawan, setelah panglima muda ini berhasil keluar dari sayembara yang diadakan oleh Milana. Dara bangsawan itu, cucu kaisar, puteri Pendekar Super Sakti, hanya mau dijodohkan dengan seorang yang mampu menahan serangannya selama seratus jurus! Dan kalau dia menghendaki, sukarlah ditemukan orang yang dapat menahan seratus jurus serangannya. Akan tetapi ketika Han Wi Kong, panglima muda itu, memasuki sayembara, pemuda perkasa ini berhasil mempertahankan diri dan dialah yang terpilih menjadi suami puteri jelita dan perkasa itu! Sesungguhnya, hal ini hanya dapat terjadi karena memang Milana memilihnya di antara sekian banyaknya pelamar yang datang memasuki sayembara.

Ketika diadakan pesta pernikahan Puteri Milana, Pendekar Super Sakti bersama kedua orang isteri dan kedua orang puteranya datang pula ke kota raja. Hal ini terjadi ketika kedua orang puteranya masih kecil, baru berusia lima-enam tahun dan itulah pengalaman pertama dari kedua orang anak ini melihat kota raja!

Demikianlah pagi hari itu, Suma Kian Bu membujuk kakaknya untuk pergi menyusul kakak perempuannya di kota raja. Tentu saja Suma Kian Lee menolak dan memperingatkan adiknya bahwa kota raja amatlah jauh dan pergi ke sana tanpa ijin ayah mereka tentu akan membuat ayah mereka marah. Akan tetapi, Suma Kian Bu merengek dan akhirnya Suma Kian Lee yang amat sayang kepada adiknya, terpaksa menyanggupi dan berlayarlah keduanya meninggalkan Pulau Es!

Biarpun kedua orang anak laki-laki itu baru berusia empat belas tahun, akan tetapi sebagai putera-putera Pendekar Super Sakti, tentu saja mereka tidak dapat disamakan dengan anak-anak lain yang sebaya dengan mereka. Semenjak kecil mereka berdua telah digembleng oleh ayah bunda mereka yang berilmu tinggi sehingga mereka merupakan dua orang anak-anak yang telah memiliki ilmu kepandaian silat tinggi dan memiliki tenaga sin-kang latihan Pulau Es yang mujijat. Betapapun juga, mereka hanyalah anak-anak dan sifat anak-anak mereka yang suka bermain-main masih melekat dalam hati mereka. Setelah mereka menjelang dewasa, jiwa petualang yang terdapat dalam hati semua anak laki-laki, bergejolak dan kini dicetuskan oleh Kian Bu yang mengajak kakaknya untuk pergi merantau, menyusul encinya di kota raja.

Perahu mereka telah jauh meninggalkan Pulau Es karena angin di pagi hari itu bertiup kencang sehingga layar yang mereka pasang berkembang penuh. Akan tetapi makin lama angin bertiup makin kencang sehingga Kian Lee merasa khawatir sekali karena perahu mereka sudah miring-miring dan meluncur terlalu cepat. Sebaliknya Kian Bu masih bermain-main, berdiri di kepala perahu, bertolak pinggang dan berteriak-teriak membiarkan suaranya dibawa angin.

“Bu-te, cepat bantu. Berbahaya kalau begini, kurasa akan ada badai!” Kian Lee yang mengemudikan perahu dengan dayungnya berteriak lagi.

Mendengar disebutnya “badai”, otomatis Kian Bu menghentikan teriakan-teriakannya dan air mukanya berubah. Tanpa banyak cakap lagi dia lalu menggulung layar dan membantu kakaknya mendayung sambil berbisik, “Benarkah ada…. badai, Lee-ko?”

“Entahlah, mudah-mudahan saja tidak,” jawab kakaknya. “Dan payahnya, mungkin kita salah jalan, Bu-te. Mengapa belum juga nampak daratan besar?”

Dua orang kakak-beradik ini memang agak gentar terhadap badai. Pernah ayah mereka bercerita betapa hebatnya kalau badai telah mengamuk di daerah lautan ini. Bahkan menurut cerita ayahnya, Pulau Es sendiri pernah diamuk badai sampai tenggelam di bawah permukaan air laut! Betapa mengerikan. Kata ayah mereka, dahulu pulau mereka itu merupakan sebuah kerajaan, akan tetapi semua penghuninya dibasmi habis oleh badai dan hanya tinggal bangunan istananya saja. Biarpun mereka berdua yang sejak kecil tinggal di pulau dan tidak asing dengan lautan, bahkan ahli dalam ilmu renang, pandai pula menguasai perahu, namun mendengar tentang badai sehebat itu, mereka merasa gentar juga. Dan sekarang, berada di tengah lautan, jauh dari Pulau Es, mereka merasa ngeri kalau-kalau ada badai akan mengamuk.

“Lee-ko, bukankah daratan besar letaknya di sebelah barat?”

“Menurut ibu demikian dan tadi aku sudah mengarahkan perahu ke barat. Akan tetapi, angin kencang mengubah haluan dan kita agaknya menyimpang ke utara. Awas, Bu-te, angin makin kencang!”

Kedua orang pemuda tanggung itu kini tidak bicara lagi, melainkan menggerakkan dayung dengan hati-hati untuk mengemudikan perahu mereka yang mulai dipermainkan ombak. Makin lama angin makin kencang bertiup dan ombak makin membesar sehingga perahu mereka diombang-ambingkan seperti sebuah mainan kecil dipermainkan tangan-tangan raksasa! Mereka tidak dapat lagi menentukan arah, hanya mempergunakan tenaga melalui dayung untuk menjaga agar perahu mereka tidak sampai terbalik.

“Tenang saja, Bu-te….” di tengah-tengah amukan ombak itu Kian Lee berkata kepada adiknya.

Kian Bu tersenyum. “Aku tidak apa-apa, Lee-ko, harap jangan khawatir.”

Dua orang pemuda tanggung itu memang memiliki nyali yang amat besar. Biarpun keadaan mereka cukup berbahaya, namun keduanya masih tenang saja, percaya penuh akan kekuatan dan kemampuan diri sendiri.

“Dukk! Dukk!”

“Apa itu….?” Kian Bu berteriak kaget, cepat menggerakkan dayung untuk membantu kakaknya mengatur keseimbangan perahu yang tadi terpental seolah-olah ditabrak sesuatu.

“Hemm, ikan-ikan hiu….! Lihat itu mereka!” Kian Lee berseru sambil menuding ke depan.

Tampaklah sirip-sirip ikan hiu yang berbentuk layar itu meluncur di dekat perahu mereka. Agaknya ikan-ikan itu sudah tahu bahwa perahu kecil itu ditumpangi dua orang yang tentu akan menjadi santapan lezat bagi mereka kalau perahunya dapat terguling. Mereka tadi tidak sengaja menabrak perahu, akan tetapi melihat dua orang di atas perahu, ikan-ikan itu lalu berenang di kanan kiri perahu, agaknya menanti dengan tak sabar lagi sampai dua orang manusia yang akan dijadikan mangsa mereka itu terjatuh ke air dan diperebutkannya.

“Setan air!” Kian Bu memaki. “Lee-ko, jaga perahu, biar kuhajar mereka!”

Tanpa menanti jawaban kakaknya, Kian Bu sudah meloncat keluar dari perahunya, dipandang dengan mata penuh kegelisahan oleh kakaknya. Kakak ini maklum akan keberanian dan kenakalan adiknya, akan tetapi kadang-kadang dia harus menahan napas menyaksikan kenakalan Kian Bu, apalagi sekarang! Kian Bu yang meloncat keluar itu, menggunakan kakinya hinggap di atas sirip seekor ikan hiu besar, sedangkan dayung di tangannya, dayung yang ujungnya dipasangi besi, dihantamkan ke kanan kiri mengenai dua ekor ikan hiu lain, tepat di bagian kepala sehingga kepala dua ekor ikan itu pecah. Segera terjadilah pesta pora, karena dua ekor ikan hiu yang terluka kepalanya dan mengeluarkan darah itu telah dikeroyok oleh belasan ekor ikan hiu lainnya sehingga dalam waktu sebentar saja daging mereka terobek-robek dan ditelan habis. Kian Bu sudah meloncat lagi ke atas perahunya dan sambil tertawa-tawa dia membantu kakaknya untuk mendayung perahu meninggalkan tempat itu.

Akan tetapi karena gelombang lautan masih amat besar, usaha mereka mendayung perahu itu hanya sedikit sekali hasilnya, perahu mereka tetap saja diombang-ambingkan dan mereka tidak tahu lagi ke mana mereka akan dibawa oleh perahu.

“Bu-te, lihat di sana ada pulau!”

Kian Bu menoleh ke kiri dan tampak olehnya sebuah pulau kadang-kadang tampak kadang-kadang tidak karena perahu mereka masih dipermainkan ombak yang naik turun bergelombang. “Lee-ko, mari kita ke sana!”

Dengan susah payah kedua orang kakak beradik ini mendayung perahu mereka dan akhirnya mereka dapat juga mendarat di pulau kecil itu dan menarik perahu sampai ke atas daratan yang tidak tercapai oleh air yang bergelombang. Tiba-tiba mereka dikejutkan suara riuh rendah seperti ada puluhan ekor anjing menggonggong dan menyalak. Ketika mereka naik ke tengah pulau yang agak tinggi, tampaklah oleh mereka pemandangan yang menakjubkan. Kiranya pulau itu merupakan tempat tinggal atau sarang dari sekawanan anjing laut yang jumlahnya mungkin lebih dari seratus ekor!

“Lee-ko, betapa lucunya mereka. Mari kita menangkap seekor anak anjing laut yang jumlahnya mungkin lebih dari seratus ekor dan kita bawa pulang!” Kian Bu sudah berlari menuju ke tempat itu.

“Jangan, Bu-te!” Kian Lee melarang, akan tetapi karena adiknya sudah berlari cepat, terpaksa dia mengejarnya.

Rombongan anjing laut itu makin hiruk-pikuk mengeluarkan teriakan-teriakan mereka ketika melihat dua orang manusia yang berlari menuju ke arah mereka itu, dan dalam sekejap mata saja mereka telah terjun ke air dan berenang ke tengah laut. Tampak tubuh mereka itu timbul tenggelam dan suara mereka masih menguik-nguik sebagai tanda kemarahan karena ketenangan mereka terganggu.

“Bu-te, jangan ganggu mereka. Bukankah tujuanmu mencari enci Milana, mengapa kau hendak menangkap anjing laut?” Kian Lee menegur.

Kian Bu tertawa. “Aihhh, aku sudah lupa lagi akan tujuan perjalanan kita, Lee-ko. Padahal, selain kita masih jauh dari kota raja, sekarang kita bahkan tidak tahu lagi di mana kita berada.”

Suara gerengan dahsyat yang menggetarkan pulau itu mengejutkan mereka. Ketika mereka membalikkan tubuh, ternyata di depan mereka telah berdiri seekor binatang yang besar sekali. Besar dan tinggi binatang itu ada satu setengah kali manusia dewasa dan binatang itu adalah seekor biruang es yang bulunya putih seperti kapas, mata dan moncongnya kemerahan. Biarpun jarang mereka bertemu dengan seekor biruang es, namun kedua kakak beradik itu mengerti bahwa binatang itu marah sekali. Mereka sudah siap dan waspada menghadapi segala kemungkinan.

Sekali lagi binatang itu menggereng dan tiba-tiba saja dia sudah menerjang ke depan. Biarpun tubuhnya amat besar dan canggung, namun ternyata binatang itu dapat bergerak dengan cepat sekali, dan dari sambaran angin tahulah dua orang kakak beradik itu bahwa biruang es ini memlliki tenaga yang amat besar.

“Awas, Bu-te!” Kian Lee berseru memperingatkan karena yang terdekat dengan biruang itu adalah Kian Bu, maka pemuda inilah yang lebih dulu menjadi sasaran serangannya.

Kian Bu adalah seorang pemuda yang berani dan agak ugal-ugalan, terlalu mengandalkan kepandaian dan tenaganya sendiri, berbeda dengan kakaknya yang lebih berhati-hati. Melihat biruang itu menubruknya dengan kedua kaki depan diangkat hendak mencengkeramnya dari kanan kiri, Kian Bu cepat menggerakkan kedua tangan menangkis.

“Dukk!”

Tubuh Kian Bu terjengkang dan tenaga dahsyat dari biruang itu membuat dia terguling-guling. Biruang itu agaknya juga merasa nyeri kedua kakinya ketika terbentur oleh lengan pemuda yang mengandung tenaga sin-kang itu, maka dia menggereng lagi penuh kemarahan, kemudian secepat kilat dia menubruk pemuda yang masih bergulingan di atas tanah itu!

Melihat bahaya mengancam adiknya, Kian Lee cepat menyambar dari samping, memukul ke arah kepala biruang sambil mengerahkan tenaga Inti Es yang dahsyat. Dengan tenaga sin-kang istimewa ini, Kian Lee sanggup menghantam remuk batu karang!

Akan tetapi ternyata biruang yang besar itu gesit sekali, kegesitan yang dikuasainya bukan karena ilmu silat melainkan karena keadaan hidupnya yang penuh bahaya setiap saat membuat dia gesit dan waspada. Nalurinya tajam sekali dan perasaannya amat peka, maka begitu pukulan dahsyat itu menyambar, dia sudah dapat mengelakkan kepalanya dan kedua kaki depannya yang tadi menubruk ke arah Kian Bu kini menyimpang dan menghantam pundak Kian Lee.

“Wuuuuttt…. dessss!” Kian Lee cepat mengelak, melempar diri ke kanan, kemudian dari kanan dia sudah menampar dengan telapak tangan kanannya yang tepat mengenai punggung biruang es. Tamparan ini keras sekali, namun agaknya tidak terasa oleh biruang itu yang hanya terhuyung sedikit, menurunkan kedua kaki depannya ke atas tanah, kemudian secara tiba-tiba dia meloncat dan menubruk orang yang telah menampar pundaknya itu.

“Awas, Lee-ko….!”

Kian Bu yang terkejut melihat serangan biruang itu yang menubruk dengan cepat dan agaknya tak mungkin dapat dielakkan oleh kakaknya karena jaraknya terlalu dekat, sudah berteriak dan menubruk ke depan. Dia merangkul kedua kaki belakang biruang itu dari belakang sehingga biruang yang sedang menubruk itu terguling, membawa tubuh Kian Bu terguling bersamanya! Karena Kian Bu mempergunakan gin-kangnya, membuat tubuhnya ringan dan gerakannya gesit sekali, dia berhasil jatuh di bagian atas, menindih tubuh biruang es itu. Akan tetapi celaka baginya, binatang raksasa itu telah menggunakan kedua kaki depannya yang amat kuat untuk merangkul pinggangnya dan menarik sekuat tenaga, agaknya berusaha untuk mematahkan tulang punggung pemuda itu.

“Auggghhh….!” Kian Bu mengerahkan seluruh tenaganya untuk mempertahankan diri, akan tetapi ternyata binatang itu memiliki tenaga kasar yang kuat sekali!

“Plak! Desss!” Tubuh binatang itu terlempar ketika pada saat yang tepat Kian Lee telah menolong adiknya dengan memukul tengkuk binatang itu dari atas, dan tepat pada saat itu juga, Kian Lee telah menggunakan kedua tangannya untuk menghantam dada binatang itu. Menerima pukulan Kian Lee yang dahsyat, seketika pelukan binatang itu mengendur, maka ketika dadanya dihantam, dia terlempar dan bergulingan.

“Bu-te, hati-hati, dia buas sekali!” Kian Lee memegang tangan adiknya dan kini kakak beradik itu berdiri berdampingan, siap untuk mengeroyok binatang yang amat kuat itu. Biruang es itupun berdiri di atas kedua kaki belakang, matanya makin merah menatap kedua orang muda penuh kemarahan, mulutnya mendesis-desis memperlihatkan taringnya, tetapi agaknya dia gentar juga menghadapi dua orang lawan yang cepat itu. Akhirnya, tidak kuat dia menghadapi tatapan pandang mata yang amat tajam dan pantang menyerah dari kedua orang muda itu, biruang ini mundur-mundur, kemudian membalikkan tubuhnya dan melarikan diri dari situ.

“Bu-te, mari kita lekas kembali ke perahu. Tempat ini berbahaya,” kata Kian Lee yang segera lari diikuti oleh adiknya, kembali ke perahu mereka. Mereka cepat menarik perahu ke laut dan ternyata bahwa laut telah mulai tenang. Kini tampaklah sebuah pulau memanjang yang berwarna hitam, tak jauh membentang di depan.

“Agaknya pulau itu tidak seliar tempat ini, Lee-ko. Mari kita ke sana, siapa tahu kita dapat bertemu dengan nelayan dan kita dapat bertanya arah ke daratan besar kepadanya.”

Kian Lee setuju dan mereka lalu mengembangkan layar. Angin perlahan meniup layar dan tak lama kemudian mereka telah tiba di pulau yang kelihatan penuh dengan hutan liar itu. Tadinya mereka merasa ragu-ragu untuk mendarat, akan tetapi ketika mereka melihat sebuah perahu kecil berwarna hitam berada di tepi pantai, mereka menjadi girang dan cepat mendaratkan perahu mereka dekat perahu hitam, kemudian mereka meloncat turun.

Akan tetapi baru saja kedua orang kakak beradik ini melangkah menuju ke tengah pulau, tiba-tiba dari dalam hutan tampak belasan orang berlari-larian keluar dan yang mengejutkan hati kedua orang pemuda Pulau Es itu adalah ketika mereka melihat gerakan belasan orang itu. Gerakan mereka ketika berlari amat cepat, tubuh mereka berkelebatan seperti terbang, tanda bahwa belasan orang itu telah memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi! Yang lebih mengherankan dan menyeramkan lagi adalah seorang yang memimpin rombongan itu, seorang kakek yang usianya tentu sudah lima puluh tahun lebih, tubuhnya seperti raksasa, tinggi besar dan dua pasang kaki tangannya yang tampak sebatas lutut dan siku, penuh dengan otot-otot yang melingkar-lingkar!

Siapakah mereka itu? Pertanyaan ini mengganggu pikiran kedua kakak beradik itu. Tentu saja mereka tidak tahu dan mereka sama sekali juga tidak pernah menyangka bahwa mereka yang diserang gelombang besar itu ternyata telah kesasar ke Pulau Neraka! Pulau Neraka adalah sebuah pulau yang baru dua-tiga puluh tahun ini terkenal sekali, bahkan sama terkenalnya dengan Pulau Es. Sebetulnya, Pulau Neraka ini menurut riwayatnya masih ada hubungannya dengan Pulau Es (baca ceritera Sepasang Pedang Iblis). Dahulu kala, ratusan tahun yang lalu, ketika di Pulau Es masih terdapat sebuah kerajaan kecil, Pulau Neraka merupakan tempat pembuangan orang-orang yang melakukan dosa besar. Akhirnya, setelah kerajaan di Pulau Es terbasmi habis oleh badai (baca ceritera Bu-kek Sian-su) sehingga seluruh penghuninya tewas, Pulau Neraka dengan penghuninya merupakan daerah yang bebas. Bahkan di dalam ceriteraSepasang Pedang Iblis , Lulu isteri Pendekar Super Sakti pernah pula menjadi ketua atau majikan dari Pulau Neraka ini.

Setelah Pulau Neraka kehilangan semua tokohnya dan tidak ada yang memimpin lagi, terjadilah perebutan kekuasaan. Akan tetapi baru tiga tahun yang lalu, Pulau Neraka kedatangan seorang kakek raksasa yang amat sakti, yang dengan kepandaiannya menundukkan semua penghuni Pulau Neraka sehingga otomatis dia diangkat menjadi ketua.

Dia memperkenalkan diri dengan nama julukan Hek-tiauw Lo-mo (Iblis Tua Rajawali Hitam) dan memang dia pantas memakai nama julukan seperti itu karena selain tubuhnya seperti raksasa dan mukanya yang terhias caling itu seperti iblis, juga dia datang ke Pulau Neraka dengan menunggang seekor burung rajawali hitam! Lebih hebat lagi, di belakang burung rajawali hitam ini terdapat dua ekor burung rajawali lain yang berbulu putih dan bermata emas, akan tetapi dua ekor burung rajawali ini masih muda dan agaknya takluk kepada burung rajawali hitam sehingga dia ikut saja ke mana sang rajawali hitam itu terbang.

Hek-tiauw Lo-mo memang seorang sakti. Dia datang dari daratan negara Kolekok (Korea) dan di sana dia menjadi orang buruan pemerintah karena dia merupakan seorang penjahat yang kejam dan dimusuhi pemerintah dan semua orang gagah. Karena merasa tidak aman berada di negaranya sendiri, Hek-tiauw Lo-mo melarikan diri dengan sebuah perahu ke selatan. Di dunia selatan, dia berhasil menjadi raja suatu bangsa yang masih biadab dan yang tinggal di dalam hutan-hutan pegunungan yang amat liar. Karena kepandaian dan kekuatannya, bangsa biadab ini tunduk kepadanya dan sampai sepuluh tahun dia menjadi raja mereka. Selain dapat memperoleh ilmu-ilmu yang aneh dan tinggi, juga Hek-tiauw Lo-mo ini ketularan kebiasaan dan kesukaan bangsa itu, yaitu kadang-kadang makan daging manusia, musuh mereka dari lain suku yang menjadi kurban perang! Agaknya kebiasaan memakan daging orang inilah yang kemudian membuat gigi calingnya menonjol keluar, membuat dia kelihatan menyeramkan, seperti seorang iblis.

Setelah tidak kerasan lagi tinggal bersama orang-orang liar dan merasa rindu kepada dunia ramai, Hek-tiauw Lo-mo dengan membekal pengalaman hebat dan ilmu kepandaian yang tinggi, menggunakan perahu meninggalkan tempat itu untuk kembali ke utara. Kini dia tidak takut lagi dimusuhi oleh siapa pun juga karena dia mempunyai andalan ilmu-ilmu yang tinggi dan sakti. Akan tetapi, ketika dia berlayar mencari negaranya, dia tersesat jalan dan akhirnya dia tiba di sebuah pulau kosong yang tak pernah didatangi manusia. Di tempat ini dia diserang oleh tiga ekor burung rajawali tadi, akan tetapi karena kepandaiannya, dia berhasil menundukkan mereka, bahkan membuat rajawali hitam yang liar dan ganas itu menjadi jinak dan menjadi binatang tunggangannya. Adapun dua ekor rajawali putih yang masih muda, menurut saja kemana pun perginya rajawali hitam, maka sekaligus dia memperoleh tiga ekor binatang peliharaan yang boleh diandalkan!

Setelah memiliki binatang tunggangan yang hebat ini, dia mencari lagi negaranya dengan menunggang rajawali hitam. Akan tetapi kembali dia tersesat, dan kini rajawali itu membawanya turun ke Pulau Neraka! Begitu melihat keadaan pulau ini dan melihat para penghuninya yang rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi seketika hatinya tertarik. Dia menundukkan mereka semuaa dengan kepandaiannya dan mengangkat diri sendiri menjadi ketua Pulau Neraka. Dan karena selama perantauannya dia sudah membuang nama sendiri, melupakan nama itu yang dianggap sebagai nama buronan yang rendah, maka dia memperkenalkan dirinya sebagai Hek-tiauw Lo-mo. Nama Hek-tiauw diambil dari nama tunggangannya, seekor burung rajawali hitam, dan nama Lo-mo diambilnya karena dia memang merasa sebagai seorang iblis tua yang cocok menjadi ketua Pulau Neraka!

Demikianlah, selama tiga tahun Hek-tiauw Lo-mo menjadi ketua Pulau Neraka, dan dia malah menurunkan ilmu kepada para penghuni Pulau Neraka yang kini hanya tinggal dua puluh orang pria dan tujuh orang wanita itu. Empat orang di antara tujuh orang wanita yang masih muda, biarpun mereka sudah menjadi isteri empat orang penghuni Pulau Neraka, secara paksa diambil oleh Hek-tiauw Lo-mo sebagai selir-selirnya sendiri! Dan dia menganjurkan kepada anak buahnya untuk mencari wanita dari perkampungan nelayan. Dalam tiga tahun itu, bertambahlah penghuni Pulau Neraka dengan tiga puluh orang wanita lagi, wanita-wanita muda yang mereka culik dari perkampungan nelayan di sekitar laut itu.

Kedua kakak-beradik dari Pulau Es yang tadinya merasa girang melihat bahwa di pulau asing itu ada penghuninya, yang menimbulkan harapan bahwa mereka akan dapat menanyakan arah menuju ke daratan besar, kini menjadi terkejut sekali melihat orang-orang ini ternyata berkepandaian tinggi, bersikap liar dan rata-rata mereka mempunyai wajah yang pucat putih seperti dikapur, kecuali wajah kakek raksasa itu. Lebih kaget lagi hati mereka melihat orang-orang itu telah mengurung mereka dengan sikap mengancam.

“Huah-ha-ha-hahh!” Hek-tiauw Lo-mo tertawa bergelak saking girang hatinya melihat dua orang laki-laki muda yang bertubuh tegap sehat dan bersih itu. Mulutnya mengeluarkan air liur ketika seleranya bangkit!

Sebaliknya, Kian Lee dan Kian Bu terkejut sekali dan memandang dengan hati ngeri melihat betapa kakek raksasa itu ternyata bercaling seperti biruang es yang belum lama ini mereka lawan!

Melihat sikap mereka yang mencurigakan dan mengkhawatirkan itu, Kian Lee sudah mengangkat tangan depan dada, menjura sambil berkata, “Harap Cu-wi sudi memaafkan kami berdua kalau kami mengganggu Cu-wi dan datang di sini tanpa ijin Cu-wi. Kami datang hanya ingin menanyakan sesuatu kepada Cu-wi.”

Mendengar cara bicara pemuda tampan itu yang halus dan teratur rapi, Hek-tiauw Lo-mo kembali tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, menarik sekali! Katakanlah, orang muda yang tampan, apa yang hendak kalian tanyakan kepada kami?”

Kian Lee tak ingin berpanjang cerita maka dia berkata singkat, “Kami berdua tersesat jalan karena terbawa gelombang lautan dan kami ingin bertanya ke manakah arah daratan besar.”

Hek-tiauw Lo-mo menoleh kanan kiri memandang anak buahnya, tetsenyum menyeringai lalu berkata, “Dengarkah kalian? Mereka sudah datang ke daratan sini masih ingin mencari daratan besar. Heh-heh!”

Semua penghuni Pulau Neraka yang kini telah datang berkumpul, tersenyum lebar menyeringai. Dua orang pemuda tanggung itu menjadi makin gelisah dan mulailah mereka menduga bahwa tentu akan terjadi hal yang tidak baik bagi mereka.

“Kalau Cu-wi tidak mau memberi tahu, biarlah kami pergi lagi saja dan kami tidak akan mengganggu lebih lama lagi. Marilah, Lee-ko!” kata Kian Bu yang sudah hilang sabarnya menyaksikan sikap mereka.

“Hai, nanti dulu! Kalian hendak pergi ke mana?” Hek-tiauw Lo-mo berkata nyaring dan semua anak buahnya sudah bergerak menghadang kedua orang muda itu.

“Kami hendak pergi dari sini!” Kian Bu membentak, marah sudah. Melihat kemarahan adiknya, Kian Lee cepat berkata dengan suara masih penuh kesabaran dan ketenangan,

“Harap Cu-wi tidak menghalangi kami yang hendak pergi lagi dengan aman.”

“Ha-ha-ha, tidak begitu mudah, orang-orang muda yang baik! Siapapun dia yang sudah mendarat di Pulau Neraka, tidak dapat pergi begitu saja!”

“Pulau Neraka….?” Kedua orang muda itu terbelalak setelah mengeluarkan kata-kata ini. Tentu saja mereka telah mendengar akan Pulau Neraka dari penuturan orang tua mereka, bahkan Kian Lee tahu pula bahwa ibu kandungnya dahulu adalah ketua Pulau Neraka!

“Aihhh! Jadi kalian ini adalah para penghuni Pulau Neraka dan kami berdua berada di Pulau Neraka? Sungguh kebetulan sekali!” teriak Kian Bu dengan girang.

“Ha-ha-ha, mengapa kaukatakan kebetulan, orang muda?” tanya Hek-tiauw Lo-mo, agak kecewa mengapa kedua orang pemuda tanggung ini tidak takut mendengar nama Pulau Neraka.

“Karena ibu kami, ibu kandung kakakku ini, pernah menjadi ketua Pulau Neraka ini!”

“Bu-te….!” Kian Lee terkejut melihat adiknya yang begitu sembrono mengakui hal itu.

Benar saja, kakek itu terkejut sekali, akan tetapi lebih terkejut lagi adalah para penghuni Pulau Neraka itu yang kini memandang kepada Kian Lee dengan mata bengong dan penuh selidik. Mereka semua tahu bahwa majikan mereka yang dahulu, kini telah menjadi isteri Pendekar Super Sakti di Pulau Es. Hek-tiauw Lo-mo yang tidak mengenal apa yang dimaksudkan dengan wanita ketua Pulau Neraka itu, bertanya mendesak, “Benarkah demikian?”

Karena adiknya sudah terlanjur bicara, maka Kian Lee lalu berkata dengan suara tenang, dan sesungguhnya, “Tidak salah ucapan adikku. Ibuku pernah menjadi ketua Pulau Neraka, akan tetapi sekarang ibuku adalah penghuni Pulau Es. Kami berdua datang dari Pulau Es, kami adalah dua orang putera Pendekar Super Sakti, Majikan Pulau Es.”

Mendengar ucapan ini, semua penghuni Pulau Neraka terbelalak dan serta merta mereka menjatuhkan diri berlutut menghadap ke arah dua orang pemuda itu! Melihat betapa semua anak buahnya memperlihatkan sikap menghormat kepada dua orang muda yang mengaku datang dari Pulau Es itu, Hek-tiauw Lo-mo menjadi marah sekali. Dia membanting kedua kakinya yang sebesar kaki gajah itu ke atas tanah sehingga tanah sekeliling tempat dia berdiri tergetar seperti dilanda gempa bumi!

“Bangun semua! Hayo bangkit semua, yang tidak bangkit akan kubunuh!”

Tentu saja para anak buah Pulau Neraka terkejut dan ketakutan. Cepat mereka bangkit berdiri sungguhpun mereka masih memandang ke arah Kian Lee dan Kian Bu dengan sikap sungkan.

Hek-tiauw Lo-mo sudah meloncat ke depan dan dua orang pemuda tanggung itu melihat betapa gerakan kakek ini ringan sekali, sama sekali tidak sepadan dengan tubuhnya yang demikian besarnya.

“Bagus! Jadi kalian adalah putera Pendekar Super Sakti dari Pulau Es? Siapa sih itu Pendekar Super Sakti? Baru sekarang aku mendengar namanya! Tadinya kalian akan kujadikan pesta, daging kalian yang muda tentu enak dipanggang. Akan tetapi karena kalian adalah orang-orang Pulau Es, biarlah aku menjadikan kalian tahanan di sini. Hendak kulihat apa yang akan dapat dilakukan oleh Pendekar Super Sakti!”

Tiba-tiba seorang yang tua dan tubuhnya gendut tinggi besar, menjatuhkan diri berlutut di depan ketuanya.

“Ji Song, kau mau bicara apa?” Hek-tiauw Lo-mo membentak, masih marah karena para anak buahnya tadi memberi penghormatan besar kepada dua orang pemuda itu.

Ji Song adalah seorang tokoh Pulau Neraka yang boleh dibilang tertua, juga dia lihai sekali dan menjadi orang kedua setelah Hek-tiauw Lo-mo. Tentu saja sebagai tokoh tua, dia cukup mengenal kehebatan Pendekar Super Sakti yang amat ditakutinya itu (baca cerita Sepasang Pedang Iblis). Maka begitu mendengar tantangan ketuanya, dia takut akan akibatnya, kalau Pendekar Super Sakti mengamuk, bukan hanya ketua Pulau Neraka, mungkin seluruh penghuni Pulau Neraka akan menanggung akibatnya.

“Tocu, harap maafkan saya…. akan tetapi saya harap tocu tidak main-main dengan…. dengan Pendekar Super Sakti, Majikan Pulau Es. Hendaknya tocu percaya kepada saya dan…. dan sebaiknya kalau kedua orang pemuda ini dibebaskan saja agar jangan timbul banyak urusan yang akan memusingkan saja.”

Raksasa itu mengelus jenggotnya dan mengangguk-angguk. “Hemmm, kalau bukan engkau yang bicara aku tentu tidak akan percaya, Ji Song. Penghuni Pulau Neraka takut terhadap seorang manusia lain? Engkau membangkitkan keinginan tahuku lebih besar lagi, melihat engkau sendiri begitu takut! Seperti apakah Pendekar Super Sakti?”

“Seperti apa? Kalau dia datang, jangan harap engkau akan dapat hidup lebih lama lagi!” Tiba-tiba Kian Bu berkata dengan suara mengejek. “Pula, tidak perlu ayah datang, kami berduapun tidak takut menghadapi kalian!”

“Bu-te….!” Kian Lee mencela adiknya, kemudian dengan suara halus dia berkata kepada ketua Pulau Neraka itu, “Harap tocu suka memaafkan kami dan apa yang dikatakan oleh lopek itu tadi benar. Sebaiknyalah kalau di antara kita tidak timbul permusuhan apa-apa. Harap tocu membiarkan kami pergi.”

“Nanti dulu, orang muda. Tidak begitu mudah menggertak Hek-tiauw Lo-mo, ha-ha-ha! Boleh jadi ayah kalian itu berkepandaian tinggi dan membikin takut hati para penghuni Pulau Neraka, akan tetapi aku yang belum pernah bertemu dengan Pendekar Super Sakti, sama sekali tidak takut!”

“Habis, apa yang hendak kaulakukan terhadap kami?” Kian Bu membentak lagi saking marahnya. Kalau tidak melihat sikap kakaknya, tentu dia sudah menerjang maju dan menggunakan kekerasan untuk membebaskan diri dan meninggalkan pulau berbahaya itu.

“Ha-ha-ha, seperti melihat bumi dengan langit. Begitu besar perbedaan antara mereka, akan tetapi begitu sama tampan dan gagahnya! Orang-orang muda yang gagah dan tampan, siapakah nama kalian?”

“Namaku adalah Suma Kian Lee dan dia ini adalah adikku, Suma Kian Bu. Sekali lagi aku mengharap kebijaksanaan tocu untuk membebaskan kami dan biarlah kami akan menceritakan kepada ayah kami akan kebaikan hatimu itu.”

“Oho! Kau hendak menggunakan nama ayahmu untuk menakuti aku?”

“Habis, kau mau apa?” Kian Bu membentak.

“Kalian tidak boleh meninggalkan pulau ini sampai ayah kalian datang. Kalau benar ayah kalian super sakti dan dapat mengalahkan aku, ha-ha-ha, hal yang sama sekali tak mungkin, kalau aku kalah, baru kalian boleh pergi bersama ayahmu.”

“Manusia sombong! Aku tidak takut, hendak kulihat bagaimana kau hendak menangkap aku!” Kian Bu membentak lagi dan sudah memasang kuda-kuda dengan kokoh, kedua kakinya menyilang dan agak ditekuk lututnya, kedua lengan di depan dan di belakang tubuh, sikap yang siap menghadapi pengeroyokan banyak lawan yang mengurungnya. Kian Lee yang kini maklum bahwa tidak mungkin dapat membujuk ketua Pulau Neraka, juga sudah bersiap untuk membela diri, akan tetapi sikapnya tenang dan penuh kewaspadaan, cepat dia meloncat di belakang tubuh adiknya sehingga mereka berdua berdiri saling membelakangi dan dengan demikian saling melindungi.

“Heh-heh-heh, luar biasa! Ji Song, perintahkan lima orang untuk menangkap mereka. Hendak kulihat gerakan mereka. Dari gerakan anak-anaknya, tentu aku akan dapat mengukur kepandaian ayahnya,” kata raksasa itu sambil tertawa penuh kegirangan.

Kedua alis Ji Song berkerut. Dia takut sekali terhadap Pendekar Super Sakti. Sudah sering kali dia menyaksikan kehebatan sepak terjang pendekar yang menjadi Majikan Pulau Es itu. Bahkan bekas ketuanya, wanita yang memiliki kepandaian tinggi, sekarang menjadi isteri Pendekar Super Sakti dan seorang di antara kedua pemuda ini, yang bersikap tenang dan gagah, adalah putera bekas ketuanya. Tentu saja dia menjadi jerih sekali dan kalau saja tidak takut kepada ketuanya yang baru ini, yang dia tahu juga amat lihai dan kejam, tentu dia akan cepat-cepat membiarkan kedua orang muda itu pergi, seperti membiarkan kedua ekor singa muda yang masuk ke dalam rumahnya. Sekarang terpaksa dia menyuruh lima orang pembantunya yang paling lihai untuk maju menangkap kedua orang muda ini.

“Tangkap mereka, akan tetapi jangan sampai mereka terluka,” perintahnya kepada lima orang anak buahnya itu.

Lima orang itu, tidak berbeda dengan Ji Song, adalah penghuni-penghuni lama Pulau Neraka, tentu saja merekapun gentar terhadap Pendekar Super Sakti dan terhadap Lulu, bekas ketua mereka. Ngeri rasa hati mereka kalau mengingat bahwa mereka disuruh melawan putera bekas ketua mereka itu! Akan tetapi karena mereka maklum bahwa kalau mereka berani membangkang, tentu ketua mereka yang baru takkan ragu-ragu membunuh mereka, bahkan mungkin makan daging mereka, lima orang itu mengangguk lalu meloncat maju mengurung dua orang muda itu.

Kian Lee dan Kian Bu tidak bergerak, tetap memasang kuda-kuda seperti tadi, tubuh mereka seperti arca, sedikitpun tidak bergerak, hanya mata mereka yang melirik ke kanan kiri mengikuti gerakar lima orang pengurung mereka itu. Seluruh urat syarat di dalam tubuh mereka menegang dan dalam keadaan siap siaga.

Lima orang itu juga tidak berani turun tangan secara sembrono karena mereka dapat menduga bahwa dua orang muda ini tentulah memiliki ilmu kepandaian tinggi dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Maka mereka lalu mengurung sambil melangkah perlahan-lahan mengelilingi dua orang muda itu, saling memberi tanda dengan mata untuk mengatur gerakan mereka. Ternyata mereka itu hendak menggunakan bentuk barisan Ngo-seng-tin (Barisan Lima Bintang) seperti yang diajarkan oleh ketua mereka yang baru. Melihat gerakan anak buahnya ini, Hek-tiauw Lo-mo mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya dengan girang, mulutnya tersenyum-senyum dan dia sudah merasa yakin bahwa dalam beberapa gebrakan saja dua orang muda itu tentu sudah dapat diringkus dan ditawan.

Tiba-tiba seorang di antara lima peng­huni Pulau Neraka itu mengeluarkan teriakan yang menyayat hati saking ting­gi lengkingnya, dan teriakan ini disusul oleh teriakan keempat orang kawannya. Teriakan-teriakan ini mempunyai wibawa yang amat kuat dan dengan teriakan-teriakan ini saja, musuh yang kurang kuat sin-kangnya sudah akan dapat diro­bohkan! Harus diketahui bahwa tingkat kepandaian para penghuni Pulau Neraka tidak boleh disamakan dengan dahulu ketika Lulu masih men jadi ketua di situ (bacaSepasang Pedang Iblis). Ketika Lulu masih menjadi ketua, belasan tahun sam­pai dua puluh tahun yang lalu, kepandai­an anak buah Pulau Neraka memang sudah hebat dan tingkat kepandaian atau kekuatan sin-kang mereka ditandai dengan warna muka mereka. Muka mereka sebagai akibat keracunan ketika berlatih di Pulau Neraka, berubah menjadi berwarna-warna, ada yang merah, merah muda, biru, hijau, kuning dan sebagainya. Makin muda warna muka mereka, makin tinggi­lah kepandaian mereka dan makin kuat sin-kang mereka. Ji Song yang kini men­jadi pembantu utama ketua baru, dahulu bermuka merah muda, merupakan tingkat ketiga dari Pulau Neraka. Akan tetapi sekarang, semenjak Hek-tiauw Lo-mo menjadi ketua, tokoh sakti ini telah mem­berikan latihan baru dan kepandaian para penghuni Pulau Neraka meningkat demiki­an hebatnya sehingga warna muka mereka telah berubah menjadi putih semua. Putih seperti dikapur! Hal ini bukan me­rupakan tanda bahwa racun Pulau Neraka yang mengeram di tubuh mereka lenyap, sama sekali tidak, bahkan perubahan itu datang karena hawa beracun lain yang lebih hebat memasuki tubuh mereka. Hawa beracun yang tidak mengancam keselamatan nyawa, melainkan yang mendatangkan tenaga sakti beracun yang hebat!

Mendengar lengking-lengking mengeri­kan dan menyayat hati itu, Kian Lee dan Kian Bu cepat mengerahkan sin-kang me­reka. Biarpun kedua orang pemuda tang­gung ini telah memiliki tingkat kepandai­an yang luar biasa tingginya, akan tetapi mereka tidak pernah bertempur dengan lawan tangguh, maka kini menghadapi pengeroyokan lima orang yang mengguna­kan khi-kang untuk merobohkan mereka itu mereka menjadi terkejut sekali. Mereka mampu mempertahankan serangan suara khi-kang ini dengan mudah, namun rasa kaget di hati mereka membuat tu­buh mereka agak bergoyang. Hal ini disalahtafsirkan oleh Hek-tiauw Lo-mo. Goyangan tubuh kedua orang pemuda tanggung ini dianggapnya sebagai tanda bahwa sin-kang mereka tidaklah begitu kuat, maka dia tertawa bergelak dan membentak, “Lekas tangkap mereka!”

Mendengar aba-aba yang keluar dari mulut sang ketua sendiri, lima orang itu cepat bergerak. Seorang di antara mere­ka mendahului kawan-kawannya, menye­rang Kian Lee, orang kedua menyerang Kian Bu sedangkan tiga orang yang lain sudah menerjang ke tengah-tengah di antara kedua orang muda itu.

Kian Lee dan Kian Bu dengan mudah dapat menangkis serangan lawan masing-masing, akan tetapi ketika melihat tiga orang yang lain menyergap ke bagian kosong di antara punggung mereka, keduanya terkejut dan melompat dengan meng­geser kaki. Sambil mengelak ini, Kian Lee merendahkan tubuhnya, kakinya ber­gerak menyapu dengan keCepatan kilat dan seorang lawan terpelanting! Kian Bu juga mengelak dengan melompat ke atas, dengan gaya yang amat indah tubuhnya berjungkir balik di udara dan kedua ta­ngannya bergerak menyambar ke arah kepala dua orang pengeroyok lain. Gerak­annya cepat sekali dan tidak terduga-duga, juga amat ganas karena serangan­nya adalah serangan yang dapat menda­tangkan maut. Kalau jari tangannya me­nemui sasaran, yaitu ubun-ubun kepala, lawan yang betapa kuatpun tentu akan terancam bahaya maut! Akan tetapi, seorang di antara mereka melempar diri ke belakang sehingga terluput dari serang an itu, yang kedua menangkis dan inilah kesalahannya. Biarpun ditangkis, karena Kian Bu menyerang dari atas dan menggunakan inti tenaga Im-kang yang dingin, tetap saja orang itu mengeluh, tubuhnya menggigil dan roboh terguling! Dia tidak terluka hebat, akan tetapi tubuhnya ter­banting dan dia harus cepat bergulingan menyelamatkan diri. Memang keistimewa­an sin-kang yang dilatih di Pulau Es ada­lah sin-kang yang mengandung hawa di­ngin. Dan seperti gumpalan es yang di­ngin, sin-kang ini amat kuat terhadap perlawanan dari bawah, amat kuat untuk menekan ke bawah, berbeda dengan Yang-kang yang berhawa panas dan kuat sekali untuk mendorong, terutama ke atas, sesuai pula dengan kekuatan api yang panas.

Dalam segebrakan saja, dua orang pengeroyok telah terguling. Biarpun mere­ka tidak roboh terluka, namun mereka telah terguling dan barisan mereka telah kacau, hal ini menunjukkan betapa hebatnya dua orang muda itu! Hek-tiauw Lo-mo memandang dengan melongo. Dia tadi sudah girang menyaksikan gerakan lima orang anak buahnya dan dia melihat pula betapa lima orang itu menggunakan Ngo-seng-tin dengan baiknya. Bahkan gebrakan pertama, sebagai serangan pembuka tadi sudah amat baik, yang dua orang memancing perhatian kedua lawan, yang tiga orang mendobrak untuk membuat dua orang kakak-beradik itu terpisah dan tidak saling melindungi dengan berdiri saling membelakangi. Akan tetapi, biar­pun kedua kakak beradik itu kini berpi­sah, fihak anak buahnya yang menderita rugi, dan kalau dikehendaki, kedua orang pemuda remaja itu tentu telah dapat berdiri saling melindungi lagi. Akan tetapi agaknya mereka menganggap hal itu tidak perlu. Dan memang benar. Gebrakan pertama tadi membuat Kian Lee dan Kian Bu maklum bahwa para pengeroyok mereka tidaklah sehebat yang mereka duga. Pertemuan tangan ketika menang­kis, gerakan mereka ketika menyergap, sekaligus membuat kakak beradik ini mengerti bahwa untuk menghadapi lima orang ini saja, mereka berdua tidak perlu untuk saling melindungi! Bahkan kini Kian Bu berkata, “Lee-ko, mundurlah dan biarlah aku main-main dengan mereka ini.”

Kian Lee percaya akan kekuatan adiknya, maka dia mengangguk lalu mundur dan berdiri dengan sikap tenang. Hal ini tentu membuat Hek-tiauw Lo-mo makin terheran. Benarkah lima orang anak buah­nya hanya akan dihadapi oleh seorang pemuda saja? Pemuda itu masih belum dewasa benar, baru lima belas tahun usianya. Biarpun menerima pendidikan orang pandai, tentu belum matang kepandaiannya dan banyak pengalamannya. Hatinya merasa penasaran sekali dan perasaannya menegang ketika dia melihat lima orang anak buahnya sudah menerjang maju dengan gerakan berbareng, dari lima jurusan menubruk dan seperti lima ekor burung rajawali memperebut­kan seekor kelinci, mereka itu mengulur lengan dengan jari-jari terbuka, siap hendak mencengkeram dan menangkap.

Kian Bu yang memang merasa pena­saran dan marah sekali melihat sikap ketua Pulau Neraka, kini menggunakan kepandaiannya dan mengerahkan sin-kang­nya. Sengaja dia hendak memperlihatkan kepandaiannya, maka tubuhnya sudah bergerak seperti gasing, berputar dan sekaligus dia telah dapat menangkis le­ngan lima orang lawannya dengan keras sekali sehingga lima orang lawannya itu berteriak kaget karena tiba-tiba saja mereka merasa betapa hawa yang amat dingln menjalar melalui lengan yang di­tangkis, membuat mereka menggigil! Itulah inti yang dilatihnya di Pulau Es, tenaga Im-kang yang disebut Swat-in Sin-ciang (Inti Salju). Melihat limag orang lawannya dapat dibuatnya mundur dengar tangkisan tadi, kini tubuhnya bergerak cepat dan kedua lengannya meluncur ke arah lima orang itu seperti dua ekor ular yang bergerak ganas dan cepat sekali. Pemuda ini telah mainkan Ilmu Silat Sin-coa-kun (Ilmu Silat Ular Sakti) yang dipelajarinya dari ibunya, Puteri Nirahai. Demikian cepatnya kedua lengannya itu bergerak sehingga sukar diikuti pandang­an mata para pengeroyoknya, juga amat sukar diduga terlebih dahulu.

“Bu-te, jangan lukai orang!” Kian Lee berseru karena dia tidak menghendaki adiknya yang berwatak keras itu me­nimbulkan keributan dan memperbesar permusuhan dengan Pulau Neraka.

Untung bagi lima orang Pulau Neraka itu bahwa Kian Bu selalu mentaati perin­tah kakaknya, kalau tidak, tentu mereka itu akan tewas! Mendengar ucapan kakaknya, Kian Bu mengubah totokannya yang tadinya ditujukan kepada jalan darah berbahaya dengan tamparan-tamparan yang mengenai dada mereka. Tamparan yang tidak begitu keras tetapi akibatnya cukup hebat. Berturut-turut lima orang itu mengeluh, tubuh mereka menggigil dan tergulinglah mereka ke atas tanah.

Melihat lima orang anak buahnya menggi­gil dan muka mereka kebiruan, Ji Song cepat menghampiri mereka dan dengan menempelkan telapak tangannya sebentar dalam gerakan menekan, dia telah menya­lurkan sin-kang dan membantu mereka mengusir keluar hawa dingin yang menyesak dada. Lima orang itu maklum bahwa mereka bukanlah lawan pemuda tanggung itu, maka mereka lalu mundur mentaati isyarat mata yang diberikan Ji Song kepada mereka.

Hek-tiauw Lo-mo mengerutkan alisnya yang sudah terhias uban. Sama sekali tidak diduganya keadaan akan menjadi demikian. Lima orang anak buahnya ka­lah oleh seorang pemuda tanggung, hanya dalam segebrakan saja! Hal yang tidak mungkin! Akan tetapi jelas telah terjadi! Gerakan dengan pemuda itu tadi amat cepat dan hebat, dilakukan dengan te­nang, ciri khas ilmu silat yang tinggi tingkatnya. Mulai khawatirlah hatinya. Benarkah ayah kedua orang pemuda yang berjuluk Pendekar Super Sakti itu amat hebat ilmunya? Tidak, tidak bisa dia percaya bahwa di dunia ini ada seorang tokoh yang akan mampu menandinginya.

“Bagus sekali!” Hanya satu kali dia menggerakkan kaki dan tubuhnya sudah mencelat ke depan Kian Bu dan Kian Lee. Sejenak dia menatap wajah kedua orang pemuda tanggung itu. “Kalian ternyata memiliki juga sedikit kepandaian. Hendak kulihat apakah kalian dapat ber­tahan sampai sepuluh jurusmelawanku. ”

“Tocu, mengapa tocu mendesak kami? Kami berdua orang muda sama sekali tidak mempunyai niat untuk melawan tocu. Mana kami berani bersikap begitu kurang ajar?” Kian Lee masih berusaha membujuk ketua itu.

“Ha-ha-ha, apakah kalian takut?”

Mati Kian Bu yang sudah merasa tidak puas menyaksikan sikap kakaknya yang terlalu mengalah, kinl meledak menjadi remarahan mendengar tantangan ketua itu. Dia bertolak pinggang dan memben­ak, “Iblis tua, siapa takut kepadamu?”

Kian Lee terkejut mendengar adiknya memaki, akan tetapi karena memang julukan ketua itu adalah Iblis Tua Rajawali Hitam, maka disebut Lo-mo (Iblis Tua) oleh Kian Bu, ketua itu tidak menjadi marah, bahkan tertawa. “Kalau tidak takut, lekas maju dan menyerangku.”

Kian Bu sudah siap, mengepal kedua tinjunya. “Bu-te, perlahan dulu “ kakak­nya memperingatkan.

“Ha-ha, orang muda yang halus. Kau­pun boleh maju. Majulah kalian berdua dan hendak kulihat apakah kalian berdua sanggup bertahan sampai sepuluh jurus.”

“Kakek sombong!” Kian Bu memben­tak lagi. “Mari kita maju, Lee-ko. Dia yang menantang dan akan malulah ayah dan ibu kalau kita tidak menyambut tantangannya!”

Klan Lee mengangguk kepada adiknya dan berkata, “Hati-hatilah, Bu-te, jangan sembrono.”

Melihat kedua orang pemuda itu su­dah siap, Hek-tiauw Lo-mo tertawa. “Ha-ha-ha, majulah kalian….”

Sejenak mereka saling berpandangan. Kakek itu berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar dan kedua tangannya di pinggang. Celana yang pendek, hanya sebatas lutut itu membuat dia kelihatan seperti seorang pengemis saja, akan te­tapi kedua kakinya kelihatan bersih dan putih kulitnya, walaupun penuh dengan bulu dan otot yang melingkar-lingkar. Juga kedua lengannya yang hanya tertu­tup baju dengan lengan sampai ke siku, kelihatan kekar dan kuat.

“Hyaaattt….!” Kian Bu yang sudah marah sekali itu kini sudah mendahului kakaknya, menerjang maju dan kembali dia menggunakan ilmu simpanan yang dipelajarinya dari ibunya yaitu sebuah jurus pilihan dari Ilmu Silat Pat-sian-kun (Ilmu Silat Delapan Dewa). Mula-mula dia meloncat ke depan sambil me­mekik nyaring, dari atas tubuhnya me­nerjang dengan pukulan tangan kanan mengarah dahi lawan, sedang tangan kiri mencengkeram ke arah pusar, akan teta­oi secara tiba-tiba sekali gerakan yang hanya merupakan pancingan itu berubah sama sekali, tubuhnya menurun dan tahu-tahu pukulannya berubah menjadi serang­an dari bawah, menotok ke arah ulu hati dan menonjok ke arah perut. Inilah jurus yang disebut Ciu-san-hoan-eng (Dewa Arak Menukar Bayangan).

“Ha-ha, bagus!” Kakek itu mengubah kedudukan kakinya yang tadi terpentang lebar, dengan loncatan kecil dia mundur, kini menggunakan kuda-kuda dengan kaki kiri di depan dan kanan di belakang, tubuh agak merendah, kedua lengannya yang berotot bergerak cepat, yang kiri menangkis totokan lawan, yang kanan bergerak menangkap pergelangan tangan kiri Kian Bu.

“Dukkkk!” Pertemuan kedua lengan ketika kakek itu menangkis mengejutkan hati Kian Bu karena dia merasa betapa seluruh tubuhnya tergetar hebat, tanda bahwa tenaga sin-kang kakek itu kuat bukan main, sedangkan tangan kirinya yang tadinya memukul, kini tanpa dapat dihindarkan lagi karena luar biasa cepat­nya gerakan lawan, tahu-tahu telah di­cengkeram pergelangannya oleh kakek itu yang masih tertawa-tawa! Kian Bu me­ngerahkan Swat-im Sin-ciang, akan teta­pi kakek itu masih enak saja tertawa, seolah-olah tenaga Inti Salju itu tidak ada artinya baginya. Padahal, diam-diam kakek itu juga terkejut bukan main keti­ka merasa betapa hawa dingin yang tak dapat dilawannya menyusup melalui ta­ngan pemuda itu memasuki lengannya!

Kian Lee lebih hati-hati daripada adiknya. Ketika tadi dia melihat adiknya menyerang dengan dahsyat, dia diam saja, hanya mendekat dan siap memban­tu. Dia maklum bahwa kakek ketua Pu­lau Neraka ini tentu lihai sekali dan dugaannya ternyata tepat ketika melihat betapa menghadapi serangan adiknya yang amat dahsyat itu, Hek-tiauw Lo-mo tidak hanya dapat menangkis, bahkan berhasil memegang pergelangan tangan kiri Kian Bu.

“Wuuuuutttt…. plak-plak!”

Kedua pukulan Kian Lee yang meng­arah lambung dan tengkuk kakek itu dapat ditangkis dengan tepat oleh Hek-tiauw Lo-mo, akan tetapi ketika melihat datangnya pukulan yang mendatangkan angin dingin ini, terpaksa dia melepaskan tangan Kian Bu karena maklum bahwa serangan pemuda kedua inipun hebat sekali. Dia makin penasaran dan mulailah dia mengeluarkan kepandaiannya, tubuh­nya bergerak-gerak seperti orang menari, akan tetapi tarian yang liar dan buruk, dan memang ilmu silat kakek ini bersum­ber kepada tari-tarian bangsa yang masih liar dan belum beradab, dan melihat unsur-unsur ajaib dalam gerakan tari liar ini, dia lalu menciptakan semacam ilmu silat dengan menggabungkan unsur-unsur itu dengan inti ilmu silat yang pernah dipelajarinya.

Terjadilah pertandingan yang amat hebat! Pertandingan antara seorang kakek raksasa yang dikeroyok oleh dua orang pemuda tanggung, yang membuat semua penghuni Pulau Neraka, bahkan Ji Song sendiri, terbelalak dan ternganga penuh kagum. Tubuh tiga orang itu berkelebat­an, kadang-kadang lenyap terbungkus bayangan lengan mereka, kadang-kadang mencelat ke sana-sini, sehingga bagi mereka sukar sekali menentukan siapa di antara kedua fihak yang mendesak dan siapa pula yang terdesak!

Dapat dibayangkan betapa kaget dan penuh penasaran rasa hati Hek-tiauw Lo-mo! Tadi dia menantang dan mengejek karena dia merasa yakin bahwa dalam waktu kurang dari sepuluh jurus dia ten­tu akan berhasil mengalahkan dua orang pemuda tanggung itu dan mampu mena­wannya. Akan tetapi siapa mengira, sete­lah lewat lima puluh jurus belum juga dia mampu mengalahkan mereka, bahkan beberapa kali hampir saja dia menjadi korban kedahsyatan serangan mereka, dan setiap kali bertemu dengan tangan mere­ka, tentu ada hawa dingin menyusup yang sungguhpun dapat dilawannya dengan sin-kangnya yang amat kuat, na­mun tetap saja dia merasa kulit lengan­nya dingin seperti terkena salju.

Rasa penasaran membuat kakek ini merasa malu dan marah. Malu kepada para anak buahnya dan marah kepada kedua orang pemuda itu. Akan tetapi untuk menjatuhkan tangan maut, dia merasa sayang. Selain keinginan makan daging mereka yang timbul melihat da­ging muda mereka yang menimbulkan seleranya, juga dia ingin menggunakan mereka sebagai pancingan agar orang yang berjuluk Pendekar Super Sakti yang amat ditakuti oleh semua penghuni Pulau Neraka itu datang ke tempat itu.

“Terimalah ini….!”

Kedua tangan kakek itu bergerak. Kian Lee dan Kian Bu terkejut dan ce­pat mereka bergerak mengelak karena mengira bahwa kakek itu tentu menggunakan senjata rahasia untuk menyerang mereka. Akan tetapi tiba-tiba tampak benda seperti kabut atau uap tebal me­ngurung mereka dan ketika mereka ber­dua meloncat, ternyata bahwa kabut itu adalah sebuah jala yang terbuat dari bahan tipis sekali namun amat ulet dan kuat! Ketika mereka berdua meloncat, tubuh mereka tentu saja terhalang jala dan mereka berdua terguling. Jala yang aneh itu makin menggulung mereka dan kedua orang pemuda tanggung itu tak dapat meloloskan diri, betapapun mereka meronta-ronta dan menarik-narik jala tipis itu. Penggunaan jala sebagai senjata ini memang luar biasa sekali. Jala itu sedemikian tipisnya sehingga tadi dapat dikepal di kedua tangan Hek-tiauw Lo-mo, akan tetapi setelah dilempar dan dikembangkan, dapat menyelimuti tubuh kedua orang pemuda itu. Senjata istime­wa ini merupakan sebuah di antara senjata-senjata yang hebat dan aneh dari Hek-tiauw Lo-mo, dan jala ini dibuatnya ketika dia menjadi raja bangsa biadab di dalam hutan liar di selatan, bahannya dibuat dari otot-otot binatang semacam rubah aneh yang hanya terdapat di dalam hutan itu. Otot-otot binatang ini amat ulet, sukar dibikin putus oleh senjata tajam sekalipun, dan memiliki sifat me­lar seperti karet.

Setelah menotok jalan darah kedua orang pemuda itu, Hek-tiauw Lo-mo menyimpan kembali jalanya dan meme­rintahkan kepada Ji Song, “Tangkap dan belenggu mereka! Masukkan ke dalam kamar tahanan dan jaga jangan sampai lolos, akan tetapi perlakukan mereka dengan baik.”

Ji Song meneruskan perintah ini ke­pada anak buahnya dan setelah kedua orang pemuda yang tak dapat bergerak lagi itu digotong pergi, Hek-tiauw Lo-mo berkata kepada Ji Song, “Suruh orang menyampaikan berita ke Pulau Es bahwa mereka kita tawan.”

“Maaf, tocu. Apakah tocu sudah me­mikirkan secara mendalam persoalan ini?” Ji Song berkata. “Apa gunanya bermusuh dengan Pendekar Super Sakti? Diapun tidak pernah mengganggu kita. Lebih baik kedua orang pemuda itu dibe­baskan saja.”

Hek-tiauw Lo-mo mengerutkan alis­nya. “Tidak mengganggu kita, ya? Bukan­kah aku mendengar dari kalian bahwa Pulau Neraka ini dahulunya merupakan tempat pembuangan? Pembuangan dari kerajaan di Pulau Es?”

“Itu adalah sejarah dahulu, tocu. Akan tetapi kini Kerajaan Pulau Es telah tidak ada, bahkan kabarnya Pendekar Super Sakti pun bukan keturunan dari Kerajaan Pulau Es.”

“Sudah, diamlah, Ji Song! Aku merasa penasaran kalau belum dapat bertemu dengan dia dan mengalahkannya.”

“Dia sakti sekali, tocu.”

“Aku tidak takut. Aku sudah siap menghadapinya. Pula, kedua orang pute­ranya berada di tangan kita, takut apa?”

***

Kita tinggalkan dulu Kian Lee dan Kian Bu yang tertawan di Pulau Neraka dan dijadikan umpan oleh Hek-tiauw Lo-mo untuk me­mancing datang Pendekar Super Sakti, dan marilah kita menengok peristiwa lain yang terjadi pada waktu itu, terjadi jauh di sebelah barat daratan besar.

Negara Bhutan berada jauh di selatan Tiongkok, merupakan sebuah kerajaan kecil namun yang rakyatnya memiliki kebudayaan tinggi, menjadi perpaduan dan perantara antara Negara India dan Tiongkok. Karena dihimpit oleh dua buah negara besar yang memiliki kebudayaan tinggi itu, Nepal atau Bhutan mencang­kok kebudayaan keduanya dan karenanya di situ terdapat banyak orang-orang pan­dai dari kedua negara itu.

Daerah Pegunungan Himalaya terkenal sebagai pegunungan yang paling tinggi di seluruh dunia, paling tinggi dan paling luas. Selain amat luas, juga pegunungan ini amat terkenal sebagai tempat yang suci, bahkan bagi yang percaya terdapat keyakinan bahwa para dewa yang terse­but dalam dongeng-dongeng bertempat tinggal di pegunungan inilah! Karena kepercayaan ini agaknya, dan terutama sekali karena keindahan alamnya dan kesunyiannya, maka Pegunungan Himalaya menjadi tempat pelarian para pendeta, pertapa dan manusia-manusia yang ingin mengasingkan diri dari dunia ramai.

Di sebuah dusun tak jauh dari kota raja, di kaki Pegunungan Himalaya, pada suatu pagi yang sejuk, tampaklah belasan orang pria yang bertubuh tegap dan kuat sedang berlatih ilmu silat. Tubuh mereka, dari yang besar sampai yang kecil kurus, kelihatan kuat dan berisi tenaga besar ketika mereka bergerak secara berbareng dengan tubuh atas telanjang, hanya me­makai celana panjang dan sepatu, ram­but mereka dikuncir semua, mengikuti petunjuk dan aba-aba yang keluar dari mulut seorang kakek berwajah tampan gagah yang bertopi bulu. Kakek ini usia­nya sudah tua sekali, tentu kurang lebih ada delapan puluh tahun, namun sikapnya masih gagah sungguhpun gerak-geriknya halus dan wajahnya tampan terpelihara.

Suaranya masih lantang ketika dia mengeluarkan aba-aba agar gerakan mereka yang sedang berlatih itu dapat seirama, sedang kaki tangannya masih tangkas ketika dia memberi contoh gerakan.

“Tu-wa-ga-pat-ma-nam-ju-pan! Tu-wa-ga-pat-ma-nam-ju-pan!” Demikian aba-abanya, makin cepat pula gerakan mere­ka yang sedang berlatih, terdengar angin bersiut dan buku-buku lengan kaki ber­kerotokan ketika mereka bergerak me­mukul dan menendang.

“Hemm, mengapa pula engkau, Ceng Ceng?” Kakek itu menghentikan hitung­annya, membiarkan para murid itu ber­gerak dengan irama mereka sendiri, se­dangkan dia melangkah ke arah kanan sebelah kiri rombongan pemuda yang sedang latihan itu kemudian berhadapan dengan seorang dara remaja yang tadinya ikut pula berlatih. Dara remaja itu tentu belum ada lima belas tahun usianya, wa­jahnya cantik manis, bentuk tubuhnya kecil ramping namun juga padat berisi, pakaiannya sederhana dan rambutnya yang panjang dan gemuk itu dibagi men­jadi dua kucir yang besar dan panjang, bergantungan di depan dadanya. Kedua kakinya masih memasang kuda-kuda se­perti mereka yang sedang berlatih, akan tetapi kedua lengannya tidak melakukan gerakan memukul-mukul lagi, mulutnya yang kecil mungil itu cemberut dan ma­tanya yang lebar seperti sepasang bin­tang itu membayangkan kekesalan hati.

Dara itu tidak menjawab teguran kakeknya melainkan mengurut-urut bahu dan lengannya, kepalanya menunduk dan kedua kakinya diluruskannya kembali.

Kakek itu menghela napas panjang. “Hahhhh…. kau…. terlalu, Ceng Ceng! Selalu tidak mentaati perintahku. Mula-mula kau akhir-akhir ini tidak mau berlatih dekat para suhengmu….”

“Kong-kong (kakek), bagaimana aku tahan berlatih dekat mereka. Keringat mereka memercik ke sana-sini!” Dara itu membentak.

Kakek itu menahan geli hatinya. Ga­dis yang menjadi cucunya ini selalu ada saja bahan untuk menyangkal dan mem­bantah, dan selalu menyatakan sesuatu dengan jujur sehingga kadang-kadang lucu. Memang tak dapat dibantah bahwa tubuh-tubuh sehat tanpa baju itu di wak­tu berlatih mengeluarkan banyak keri­ngat dan gerakan cepat itu membuat keri­ngat mereka memercik ke sana-sini!

“Sekarang, latihan yang amat penting ini kauabaikan juga.”

“Habis, kaki tanganku sudah pegal dan kaku semua, kong-kong! Masa untuk satu jurus saja harus diulang sampai limaratus kali!”

“Hemm, kau tidak tahu keganasan jurus istimewa ini. Jurus Kong-jiu cam-liong (Dengan Tangan Kosong Membunuh Naga) ini merupakan satu di antara ju­rus-jurus pilihan dari ilmu silat kita. Diulang sampai limaratus kalipun kalau belum sempurna harus diulang terus!”

“Apa gerakanku belum sempurna?”

“Engkau sudah menguasai gerakan ilmu silat kita, akan tetapi para abang­mu itu. Mereka harus diberi semangat, dan dengan melihat gerakanmu, mereka tentu akan lebih tekun. Lihat, betapa besar semangat mereka melatih jurus ini.”

Dara yang bernama Ceng Ceng itu menengok dan mulutnya yang tadi mere­ngut kini tersenyum mengejek, cuping hidungnya agak bergerak. “Semangat apa? Mereka semua menoleh ke sini!”

Kakek itu cepat menengok dan benar saja. Mereka itu masih bergerak, akan tetapi mata mereka semua mengerling ke arah dara itu sehingga kelihatannya lucu.

“Ihh, engkau yang menjadi gara-gara!” Kakek itu memaki lirih, kemudian meng­hampiri lagi ke depan para muridnya dan kembali terdengar hitungannya yang menambah semangat. Kini para murid itu tidak berani lagi mengerling ke arah sumoi mereka. Terpaksa pula Ceng Ceng juga bergerak lagi, akan tetapi biarpun gerakannya lemas dan baik, dia tidak menggunakan tenaga sehingga kalau para suhengnya itu ngotot dengan pengerahan tenaga, dia kelihatan lebih mirip dengan orang menari!

Kakek itu bukanlah orang sembarang­an. Dia dahulu bekerja sebagai seorang pengawal kaisar di Tiongkok, memiliki ilmu kepandaian tinggi dalam ilmu silat dan ilmu sastera. Namun nasib malang menimpa diri kakek ini ketika dia sudah mengundurkan diri sebagai pengawal dengan adanya peristiwa yang menimpa keluarganya sehingga akhirnya dia meng­asingkan diri di dusun terpencil di kaki Pegunungan Himalaya ini. Ketika masih berada di Tiongkok, kakek ini sudah ke­hilangan putera tunggalnya dan mantu­nya, dan hanya hidup berdua dengan seorang cucunya, cucu wanita yang ber­nama Lu Kim Bwee. Kurang lebih lima­belas tahun yang lalu, peristiwa hebat menimpa diri Lu Kim Bwee ini. Cucunya yang juga telah digemblengnya dengan ilmu silat itu, pada suatu malam telah dibuat tidak berdaya oleh seorang muda dan diperkosa! Akibatnya, Lu Kim Bwee mengandung! Semua peristiwa itu diceri­takan dengan jelas dalam cerita Sepasang Pedang Iblis.

Melihat penderitaan cucunya itu, Lu Kiong lalu mengajak Lu Kim Bwee untuk pergi meninggalkan Tiongkok dan akhir­nya mereka tinggal di dusun kecil di kaki Pegunungan Himalaya itu. Di tem­pat terpencil dan sunyi ini, Lu Kim Bwee melahirkan seorang anak perempu­an, akan tetapi malang sekali, ibu muda itu meninggal dunia ketika melahirkan karena memang dia selalu berduka dan batinnya terhimpit oleh peristiwa yang memalukan dirinya itu. Anak yang terla­hir selamat itu diberi nama Lu Ceng dan sesungguhnya anak ini adalah cucu buyut dari kakek Lu Kiong, akan tetapi diaku sebagai cucunya.

Biarpun kini penghidupannya di dalam dusun itu bersama cucu buyutnya dapat dikatakan tenteram dan penuh damai, namun kakek yang tua ini masih selalu gelisah kalau mengingat akan masa depan cucu buyutnya itu. Pernah dia ditekan dan merasa terdesak oleh pertanyaan Ceng Ceng yang berwatak periang, cer­dik dan jenaka itu, yaitu pertanyaan mengenai ayah dara itu. Dia tadinya hanya memberi tahu kepada Ceng Ceng bahwa nama ibunya adalah Lu Kim Bwee. Dara yang cerdik itu cepat membantah.

“Tidak mungkin itu, kong-kong!”

“Apanya yang tidak mungkin?”

“Kalau ibu she Lu, mengapa aku juga she Lu?”

“Ahh…. kau sebetulnya…. ah, engkau memang she Lu, cucuku.”

“Hemm, kong-kong menyembunyikan sesuatu dariku! Siapakah ayahku? Dan di mana ayah? Apakah dia sudah meninggal? Mengapa pula aku tidak diberi she (nama keturunan) ayahku?”

Dihujani pertanyaan ini, kakek Lu Kiong menjadi sibuk sekali dan akhirnya dia mengaku juga.

“Ayahmu bernama…. Gak Bun Beng.”

“Gak Bun Beng….” Dara itu membisikkan nama itu seolah-olah hendak menanamkan nama itu di dalam hatinya. “Kalau begitu, namaku adalah Gak Ceng, bukan Lu Ceng!”

“Tidak, Ceng Ceng!” Kakek itu mem­bentak dan terkejutlah dara itu karena selamanya belum pernah dia mendengar suara kakeknya mengandung kemarahan seperti itu.

“Mengapa, kong-kong?”

“Namamu tetap Lu Ceng!”

“Tapi ayahku….”

“Tidak! Kau tidak perlu memakai nama keturunan orang itu!”

“Mengapa….?” Wajah Ceng Ceng menjadi berubah agak pucat.

“Dia…. dia…. telah meninggalkan ibumu, membuat ibumu hidup sengsara sehingga meninggal dunia ketika melahirkan kau.”

“Ouhhh….” Ceng Ceng kecewa bukan main mendengar ini. Akan tetapi pikirannya yang cerdik itu menduga-duga. Tidak mungkin agaknya ayahnya meninggalkan ibunya begitu saja tanpa sebab.

“Mengapa ayah meninggalkan ibu?” desaknya lagi.

“Entahlah. Dia bukan orang baik, karena itu kau harus memakai nama keturunan kita, nama keturunan Lu.”

“Aku akan mencari ayah, biar kutanya sendiri mengapa dia sampai hati mening­galkan ibu!”

“Jangan….! Takkan ada gunanya, dia…. dia sudah mati….”

“Ouhhh….” Dan kini dara itu terisak menangis.Lu Kiong menarik napas panjang. Hatinya terasa perih mengenangkan se­mua peristiwa yang menimpa diri cucu­nya, Lu Kim Bwee, belasan tahun yang lalu. Tentu saja dia tidak mau membuka rahasia itu, tidak sampai hati dia mence­ritakan cucu buyutnya ini bahwa ibunya diperkosa orang, bahwa dia adalah seo­rang anak haram! Dia tidak ingin melihat dara ini menjadi menyesal dan berduka, merasa rendah dan membenci ayahnya sendiri. Biarlah riwayat yang mendatang­kan aib itu dikubur bersama meninggal­nya Lu Kim Bwee dan Gak Bun Beng. Tentu saja diapun tidak mau mencerita­kan bahwa Gak Bun Beng, ayah dara ini, tewas di tangan ibunya sendiri, yaitu ketika Lu Kim Bwee mengeroyok Gak Bun Beng dengan wanita-wanita yang lain yang juga menjadi korban keganasan jai-hwa-cat (penjahat pemerkosa) itu! Tentu saja kakek ini, juga cucunya, Lu Kim Bwee yang telah meninggal dunia ketika melahirkan Ceng Ceng, sama sekali tidak pernah menduga bahwa orang yang ber­nama Gak Bun Beng, yang mereka sang­ka telah tewas itu, sebetulnya sama sekali belum tewas (baca ceritaSepasang Pedang Iblis).

Untuk mengisi kekosongan hidupnya di dusun yang terpencil di kaki Pegunungan Himalaya itu, kakek Lu Kiong menerima murid-murid untuk dilatih ilmu silat. Tentu saja dia memilih dalam penerima­an murid ini, dan setelah dia kumpulkan, hanya ada lima belas orang pemuda di sekitar daerah itu yang diterimanya men­jadi murid-muridnya. Tentu saja karena Ceng Ceng telah digemblengnya sejak kecil sedangkan penerimaan murid dila­kukan setelah Ceng Ceng berusia dua be­las tahun, maka biarpun Ceng Ceng dise­but sumoi (adik perempuan seperguruan) namun dalam hal ilmu silat dara ini jauh lebih pandai daripada semua suhengnya.

Kekesalan hati Ceng Ceng di pagi hari itu bukan hanya karena dia jemu berlatih silat. Sama sekali tidak. Sesung­guhnya dia amat gemar berlatih ilmu silat dan bakatnya amat baik. Akan te­tapi pagi itu lain lagi. Ada berita meng­gemparkan bahwa rombongan utusan kai­sar Tiongkok akan lewat di dusun itu dalam perjalanan mereka menuju ke kota raja, untuk memboyong puteri Raja Bhu­tan ke Tiongkok karena puteri itu telah dijodohkan dengan seorang pangeran Man­cu yang menguasai Tiongkok di waktu itu. Rombongan utusan kaisar Mancu ini kabarnya membawa pula peralatan dan hadiah-hadiah istimewa sehingga semua penduduk di daerah yang akan dilalui rombongan telah bersiap-siap untuk me­nonton! Tentu saja Ceng Ceng, seorang dara remaja yang masih mempunyai sifat kekanak-kanakan dan haus akan segala yang menarik hati, ingin sekali menonton maka latihan-latihan keras yang diadakan kakeknya pada saat seperti itu membuat hatinya mendongkol.

Betapapun juga, Ceng Ceng tidak mau membantah lagi kepada kong-kongnya, apalagi di depan lima belas orang suheng­nya. Dan dia sudah ikut pula berlatih, bi­arpun hanya dengan setengah hati. Latih­an berjalan tertib kembali dan yang ter­dengar hanya bentakan-bentakan mereka yang mengikuti pukulan-pukulan tertentu, suara pernapasan dan suara kakek yang menghitung dengan irama yang khas.

Suara tambur yang terdengar tiba-tiba, datang dari jauh dan makin lama makin mendekat, kini terdengar keras diselingi sorak-sorai suara anak-anak, membuat Ceng Ceng hampir menangis. Suara tambur itu seolah-olah mengejek­nya, seolah-olah mengiringi gerakannya berlatih. Ketika ia melirik ke arah kong-kongnya dan para suhengnya, mereka itu masih tenggelam ke dalam semangat yang tetap menggelora. Hampir Ceng Ceng terisak-isak dan lari dari tempat itu, akan tetapi ia merasa malu kepada para suhengnya, dan takut kepada kong-kongnya. Betapa besar keinginan hatinya untuk pergi menonton rombongan utusan itu! Utusan raja dari Tiongkok! Banyak sudah dia mendengar tentang kehebatan kota raja di sana, akan tetapi hanya mendengar dari cerita kakeknya, kota ra­ja di Tiongkok seratus kali lebih besar dan lebih megah dibandingkan dengan kota raja dengan istananya dan rumah-rumah besar di Bhutan yang sudah per­nah dilihatnya. Dan sekarang, selagi kesempatan tiba dengan datangnya rombong­an utusan kaisar, dia tidak bisa menon­ton, bahkan harus terus berlatih silat! Si­apa tidak akan mendongkol hatinya?

Pada saat itu seorang pelayan mema­suki kebun tempat berlatih itu, mengha­dap kakek Lu Kiong dan memberitahukan bahwa di luar datang seorang tamu yang hendak bertemu dengan kakek Lu Kiong. Kakek itu lalu menggapai muridnya yang pertama.

“Kaulanjutkan, wakili aku memimpin latihan ini baik-baik. Aku akan menemui tamu.”

“Baik, suhu!”

Kakek itu pergi setelah menoleh ke arah cucunya, kemudian menghela na­pas dan pergi bersama pelayan itu me­masuki rumahnya. Begitu kakek itu le­nyap di balik pintu, Ceng Ceng serta merta menghentikan latihannya dan berlari meninggalkan tempat latihan me­nuju ke pintu samping kebun itu.

“Haiii…. sumoi….! Kau tidak boleh pergi!” kata murid pertama yang mewa­kili gurunya.

Akan tetapi Ceng Ceng telah tiba di pintu kebun samping, dan mendengar seruan twa-suhengnya (kakak seperguruan pertama), dia membalikkan tubuh dengan gaya mengejek, membusungkan dada, membuka bibir dari kanan kiri dengan kedua telunjuknya dan menjulurkan lidah­nya untuk mengejek suhengnya itu, ke­mudian tertawa terkekeh dan lari dari tempat itu. Twa-suhengnya hanya mena­rik napas panjang saja karena apa daya­nya terhadap sumoinya yang manja dan bengal itu? Kalau dia berkeras melarang, salah-salah dia bisa dilawan oleh sumoi­nya, dan tentu saja dia tidak menghen­daki hal ini. Dia dan para saudara seperguruannya terlampau sayang kepada su­moi yang cantik jelita, bengal akan teta­pi selalu mendatangkan kegembiraan karena wataknya yang periang dan jenaka itu. Dan dia tahu pula betapa besar keinginan hati sumoinya untuk menonton rombongan utusan kaisar.

***

Hati Ceng Ceng merasa gembira bu­kan main. Dengan mata bersinar-sinar dan wajah berseri dia menonton rombongan yang megah itu lewat di dusun untuk melanjutkan perjalanan mereka ke kota raja yang tidak begitu jauh lagi letaknya dari dusun itu. Bersama para penonton lain yang terdiri dari anak­ anak dan orang tua laki-laki dan wanita, Ceng Ceng terus terbawa oleh rombong­an itu. Tanpa terasa kedua kakinya meng­ikuti rombongan yang berpakaian indah-indah, membawa bendera dan tombak tanda kebesaran yang mengutus mereka, barang-barang berharga dipikul dan bera­da di dalam peti-peti yang berukir indah. Dengan hati kagum Ceng Ceng terus mengikuti rombongan itu, bersama ba­nyak anak-anak lain dan para penonton, menuju ke kota raja.

Akan tetapi setibanya rombongan itu di pintu gerbang istana di kota raja Bhu­tan, para penonton itu tentu saja tidak diperkenankan masuk! Penonton menjadi semakin banyak, tertambah oleh pendu­duk di sekitar istana di kota raja itu sendiri dan dari dusun-dusun lain yang sengaja datang ke kota raja untuk me­nonton keramaian ini. Para penjaga de­ngan ketat menjaga pintu gerbang dan tidak memperkenankan rakyat untuk me­masuki pintu gerbang. Karena hal ini mendatangkan rasa kecewa dan protes para penonton, terutama anak-anak berusia belasan tahun, maka terjadilah sedi­kit kekacauan, dorong-mendorong sehing­ga di pintu gerbang yang tidak berapa lebar itu terjadi desak-mendesak.

Keadaan menjadi makin kacau lagi ketika beberapa orang penjaga terpelan­ting roboh dan hal ini dilakukan oleh Ceng Ceng ketika dara ini yang berusaha untuk memasuki pintu gerbang dengan nekat, dipegang pundaknya oleh seorang penjaga. Ketika penjaga melihat dara yang cantik manis dan masih remaja ini, dengan kurang ajar penjaga itu mengusap dagu Ceng Ceng dan lain tangannya ber­usaha untuk meraba dada. Ceng Ceng menjadi marah, kaki kirinya menendang tulang kering kaki penjaga itu dan selagi penjaga itu berjingkrak saking merasa nyeri sekali seolah-olah tulang keringnya remuk dan rasa nyeri naik sampai ke ulu hati, Ceng Ceng menendang lututnya membuat penjaga itu terjungkal! Tiga orang penjaga lain datang, seorang di antara mereka menunggang kuda, akan tetapi begitu Ceng Ceng bergerak, mereka terpelanting roboh juga, termasuk yang menunggang kuda. Tentu saja kea­daan menjadi ribut dan kacau. Anak-anak yang nakal mempergunakan kesem­patan ini untuk menyelinap masuk, dan ada penjaga yang berusaha mencegah mereka, ada pula yang mengurung Ceng Ceng, dan keadaan makin kacau balau.

Dua orang perwira dari rombongan utusan kaisar maju. Dengan tangan yang membentuk cakar garuda mereka hendak menangkap dara yang membuat kekacau­an itu karena mereka merasa curiga bahwa dara itu tentulah mata-mata mu­suh yang sengaja hendak menggagalkan tugas mereka. Akan tetapi dengan teri­akan nyaring dan marah karena mengira bahwa dua orang perwira inipun hendak berbuat kurang ajar kepadanya, Ceng Ceng sudah menggerakkan kaki tangannya dengan cepat dan dua orang perwira itupun terpelanting mencium tanah! Kea­daan menjadi semakin ribut dan kini para penjaga maklum bahwa dara remaja itu adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan sama sekali tidak boleh dipan­dang rendah!

“Harap Cu-wi mundur semua, biarlah saya menghadapi pengacau cilik ini!” Suara itu terdengar nyaring dan dalam rombongan kaisar muncullah seorang laki-laki berusia empat puluh lima tahun ku­rang lebih, berpakaian preman namun melihat wibawanya dalam rombongan itu dia tentulah seorang yang penting. Me­mang demikian sesungguhnya. Pria ini adalah seorang pengawal pribadi kaisar sendiri, seorang yang ditunjuk untuk me­lindungi rombongan utusan yang penting itu. Orang ini bertubuh tegap, tidak se­berapa tinggi, akan tetapi yang amat menarik perhatian adalah bentuk jenggot­nya yang menyolok. Jenggot itu panjang sekali, dipelihara baik-baik dan berjuntai sampai ke perutnya! Jenggot itu merupa­kan sebuah cambuk tebal dari bulu halus, berwarna mengkilap hitam terhias bebe­rapa warna putih dari uban yang mulai banyak menghias rambut dan jenggotnya.

Pengawal berjenggot panjang ini me­langkah maju, mukanya yang bengis dan keras itu agak berseri ketika dia berka­ta, “Nona cilik, berani kau membikin kacau di sini? Hayo lekas berlutut dan menyerah kepada para penjaga untuk ditangkap!”

“Plak-plak-plak-plak!” Sampai empat kali kedua tangan pengawal kaisar itu dapat ditangkis oleh Ceng Ceng dan pengawal itu merasa kaget dan terheran-heran sekali. Sungguh tidak pernah didu­ganya bahwa di pintu gerbang Istana Raja Bhutan, dia bertemu dengan seorang dara remaja yang masih berbau kanak-kakak yang dapat menangkis terkamannya sampai empat kali!

“Bagus, kau boleh juga!” Dan tiba-tiba pengawal ini menggerakkan kepala­nya dan…. bagaikan seekor ular hitam, atau sebatang cambuk, jenggot pengawal itu telah meluncur dan menotok ke arah jalan darah di leher Ceng Ceng! Dara ini terkejut dan berteriak kaget, akan tetapi tidak percuma dia menjadi cucu buyut bekas pengawal kaisar, tidak percuma kakek Lu Kiong menggemblengnya selama bertahun-tahun sejak dia kecil. Reaksinya terhadap serangan jenggot yang leb1h menjijikkan dan mengerikan hatinya daripada menakutkan itu, membuat diapun menggerakkan kepalanya dan…. dua helai kucirnya yang tadinya tergantung ke ­belakang punggung itu kini melayang ke depan dan menyambut jenggot lawannya!

“Plakkkk!” Ujung jenggot bertemu dengan dua ujung kucir, saling membelit dan kakek pengawal itu tertawa, sebalik­nya Ceng Ceng terkejut sekali. Rambut­nya terasa seperti dijambak-jambak, mem­buat seluruh kepalanya terasa pedih dan seolah-olah rambutnya akan copot semua!

Dalam keadaan yang berbahaya itu, untung sekali bagi Ceng Ceng, tiba-tiba muncul serombongan prajurit mengiring­kan seorang perwira yang bertubuh tinggi tegap keluar dari halaman istana dan sudah tiba di pintu gerbang istana itu.

Melihat komandan pasukan dari da­lam istana yang agaknya merupakan pe­nyambut itu menyebut “sumoi” kepada dara remaja yang menjadi lawannya, pengawal kaisar terkejut, cepat melepas­kan libatan jenggotnya dan melangkah mundur sambil berkata, “Maaf….!”

Perwira tinggi tegap itu adalah seo­rang murid kakek Lu Kiong juga. Sebe­lum menjadi muridnya, memang dia su­dah menjadi seorang perwira di dalam istana. Dia berguru kepada Lu Kiong hanya untuk menambah ilmu kepandaian silatnya saja. Akan tetapi tentu saja diapun menyebut sumoi kepada Ceng Ceng, sedang dara itupun menyebut su­heng kepadanya. Ketika melihat bahwa keributan yang terjadi di luar pintu ger­bang itu adalah gara-gara sumoinya, maklumlah dia karena diapun sudah me­ngenal watak sumoinya yang kadang-ka­dang ugal-ugalan dan bengal. Maka de­ngan suara mencela dia berkata, “Sumoi, apa yang kaulakukan di sini? Mengapa membikin ribut?”

Ceng Ceng cepat memutar otaknya dan dengan cemberut, alisnya berkerut, sikap yang membuat wajahnya kekanak-kanakan akan tetapi bertambah manis, dia berkata, “Aihh, suheng, siapa yang tidak jengkel? Aku ingin bertemu dengan suheng untuk melihat dan mengagumi rombongan utusan kaisar, siapa tahu di tempat ini sumoimu mendapatkan perla­kuan yang kasar dan kurang ajar.”

Perwira itu maklum akan kecantikan sumoinya dan dia bukan tidak percaya bahwa ada penjaga yang bersikap kurang ajar, maklumlah pria-pria kasar mengha­dapi seorang dara jelita selincah Ceng Ceng, maka untuk cepat meredakan sua­sana, dia lalu menghadapi pengawal kai­sar berjenggot panjang itu, menjura dan berkata, “Harap maafkan kesalahpahaman ini. Dia ini adalah adik seperguruan saya sendiri.”

Pengawal berjenggot panjang itu ter­tawa, membalas penghormatan itu dan berkata, “Sungguh hebat sekali kepandai­an sumoi dari ciangkun (perwira) yang masih begini muda. Saya mengucapkan selamat dan merasa kagum.”

Pertemuan itu ditutup dengan upacara penyambutan pasukan yang dipimpin per­wira itu, kemudian rombongan utusan diiringkan memasuki halaman istana yang sudah berada dalam keadaan dan suasana pesta penyambutan yang meriah. Dan munculnya perwira yang menjadi suheng Ceng Ceng itu tentu saja memungkinkan gadis ini untuk diperkenankan ikut me­masuki istana! Tentu saja hati Ceng Ceng girang bukan main ketika dia de­ngan bebas boleh masuk ke dalam istana dan oleh mereka yang belum mengenal­nya, dia tentu dianggap seorang di anta­ra anggauta rombongan utusan sehingga siapapun yang bertemu dengan rombongan itu memandangnya penuh kagum dan penuh hormat. Sementara itu hari telah menjadi siang.

Rombongan utusan kaisar itu disambut dengan upacara meriah oleh para pembe­sar istana dan penyambutan dikepalai oleh pangeran tua, yaitu adik raja sendiri oleh karena pada hari itu, raja yang diharapkan sudah pulang dari berburu binatang pada hari kemarin, masih juga belum tiba! Hal ini tentu saja menimbul­kan kebingungan di dalam hati keluarga raja dan para pembesar, dan sejak kema­rin telah dikirim utusan untuk menyusul ke hutan di pegunungan sebelah barat. Akan tetapi utusan itupun belum pulang sampai hari itu!

Karena kedatangan rombongan utusan kaisar itu adalah untuk memboyong pute­ri, berarti urusan perjodohan, maka tentu saja tanpa hadirnya kaisar sendiri yang menjadi ayah kandung sang puteri, penyambutan resmi belum dapat diadakan. Rombongan itu harus bertemu dan meng­hadap raja untuk menyampaikan segala pesan kaisar dan menghaturkan semua hadiah perjodohan. Maka oleh pangeran tua, setelah diadakan penyambutan meri­ah dan dijamu dengan hidangan mewah, rombongan tamu agung ini dipersilahkan mengaso di dalam kamar-kamar istana yang sudah dipersiapkan untuk para tamu yang penting dan terhormat itu. Dengan hati girang Ceng Ceng juga ikut makan minum di meja sudut ruangan penyam­butan, ditemani oleh suhengnya. Sambil makan dia menyatakan kekagumannya kepada sang suheng akan kelihaian peng­awal kaisar yang berjenggot panjang itu.

Setelah rombongan tamu mengundur­kan diri beristirahat di kamar mereka, Ceng Ceng diajak suhengnya ke rumahnya yang terletak di sebelah kiri dari istana raja. Akan tetapi dara ini mem­bantah ketika suhengnya menyuruh dia lekas pulang agar tidak mengkhawatirkan hati kakeknya.

“Aku ingin sekali menonton sampai sri baginda pulang, aku ingin melihat sang puteri diboyong!”

“Sumoi, engkau tadi mengatakan bah­wa kau pergi tanpa seijin suhu. Keper­gianmu ini tentu akan membikin tidak senang hati suhu. Sebaiknya engkau pu­lang sekarang agar hati orang tua itu tidak gelisah.”

“Biarpun aku pergi tanpa setahu kong-kong, akan tetapi dia tahu bahwa aku ingin sekali menonton keramaian, maka dia tentu dapat menduga pula bahwa aku tentu berada di kota raja bersama su­heng. Hati orang tua itu tidak akan menjadi gelisah. Suheng, kalau suheng keberatan aku bermalam di rumah suheng ini, biarlah aku mencari tempat penginap­an lain, di kuil atau di mana saja. Pen­deknya, aku harus melihat sang puteri diboyong!”

Perwira itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tahu benar akan watak sumoinya ini dan dalam keadaan sibuk dengan kedatangan rombongan utusan itu, tentu saja dia tidak ingin ditambah de­ngan kesibukan mengurus sumoinya yang bengal ini. Maka dia hanya berkata, “Sumoi, tentu saja engkau tahu aku tidak keberatan kau bermalam di sini. Aku hanya ingin bilang bahwa kalau suhu marah, engkau sendiri yang harus menang­gung karena aku sudah berusaha membu­jukmu untuk pulang.”

Ceng Ceng tersenyum manis dan me­megang tangan suhengnya dengan sikap manja, kemanjaan seorang anak-anak kepada orang yang sepatutnya menjadi ayahnya. “Suheng yang baik, seorang gagah harus berani mempertanggungjawab­kan segala perbuatannya, bukan?”

Mau atau tidak perwira itu tertawa. Dia sendiri tidak mempunyai anak, dan sejak dahulu dia amat sayang kepada sumoinya ini yang dianggap seperti seo­rang anaknya sendiri. Isterinya juga amat suka kepada Ceng Ceng yang menyebut isteri suhengnya itu “so-so” (kakak ipar perempuan).

Perwira ini bernama Jayin dan di Kota Raja Bhutan namanya cukup terke­nal karena dia merupakan tokoh kedua dalam deretan nama-nama tokoh besar yang berpengaruh di lingkungan istana dan Kerajaan Bhutan. Dia merupakan seorang perwira tinggi yang mengepalai pasukan pengawal yang bertugas menjaga keselamatan di kota raja. Tokoh pertama adalah panglima sendiri, yang selain me­rupakan panglima perang juga selalu mendampingi raja. Panglima itulah yang kini mengawal raja dalam berburu bina­tang, bersama pasukan pengawal pilihan lain yang jumlahnya semua dua losin orang. Perwira Jayin memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, apalagi setelah ilmu silatnya ditambah dengan latihan-latihan ilmu silat tinggi yang diberikan oleh kakek Lu Kiong kepadanya. Dan sesungguhnya dialah yang menjadi murid pertama dari kakek Lu Kiong, karena kakek itu mengajar silat kepadanya keti­ka Ceng Ceng masih kecil, setelah kakek itu tertarik melihat watak gagah perkasa dari perwira tinggi itu.

Dapat dibayangkan betapa khawatir dan pusingnya hati perwira ini sebagai orang yang bertanggung jawab penuh di kota raja di saat raja dan panglima tidak berada di istana, padahal hari itu terjadi peristiwa amat penting dengan kedatang­an rombongan utusan kaisar. Kesibukan dan kekhawatiran menghadapi urusan itu membuat dia tidak banyak cerewet lagi menghadapi sumoinya, maka setelah me­ngajak sumoinya ke rumah dan “menye­rahkan” dara bengal itu kepada isterinya, perwira itu bergegas kembali ke istana untuk menanti kembalinya raja dan rom­bongannya yang pergi berburu semenjak tiga hari yang lalu.

Sore harinya dia pulang dengan wajah letih lesu dan lagi karena raja yang di­nanti-nanti pulangnya ternyata masih belum pulang, dan pasukan kecil yang disuruh menyusul ternyata juga belum kembali dan tidak ada kabar apa-apa dari rombongan raja yang memburu bina­tang di hutan-hutan lebat Pegunungan Himalaya sebelah barat.

Ceng Ceng tidur dan bermimpi ten­tang yang indah-indah. Tentang rombong­an utusan kaisar, tentang istana yang megah dan mewah dan dalam mimpi itu dia melihat dirinya sendiri berpakaian seperti seorang puteri raja yang dijemput dan diboyong ke istana kaisar! Akan tetapi tiba-tiba dia sadar dari mimpi dan terbangun dari tidurnya oleh suara orang bercakap-cakap. Sebagai seorang ahli ilmu silat yang setiap saat waspada dan seluruh urat syarat di tubuhnya berada dalam keadaan siap bergerak, begitu terbangun Ceng Ceng sudah meloncat turun dari pembaringan dan berindap-indap keluar dari kamarnya, mengintai suhengnya yang terdengar bercakap-cakap dengan seorang laki-laki lain. Pada waktu itu telah lewat tengah malam, maka tentu saja Ceng Ceng menjadi curiga dan menduga bahwa tentu ada peristiwa yang amat penting maka pada saat selarut itu suhengnya masih menerima tamu.

Ketika Ceng Ceng mendengarkan percakapan mereka, jantungnya berdebar keras penuh ketegangan. Kiranya terjadi hal yang demikian hebat, pikirnya! Pan­tas saja suhengnya kelihatan sibuk benar dan malam-malam begitu masih meneri­ma tamu dari istana. Tamu itu adalah komandan bawahannya yang memimpin pasukan kecil yang kemarin pagi menyu­sul rombongan raja. Dan orang ini datang melapor kepada suhengnya bahwa rom­bongan raja yang dikawal oleh panglima dan dua losin pasukan pilihan itu telah mengalami malapetaka! Rombongan raja telah dihadang oleh pasukan besar orang-orang asing yang hendak menawan raja. Terjadi perang kecil. Akan tetapi, biar­pun raja dikawal oleh pasukan pengawal pilihan yang dipimpin panglima sendiri, jumlah musuh terlalu besar, sedikitnya ada seratus orang maka tentu saja pasu­kan pengawal raja menjadi kewalahan. Pasukan pengawal tetap mempertahankan diri sementara raja yang dikawal oleh panglima melarikan diri. Akibatnya, raja berhasil lolos dari kepungan dengan peng­awalan panglima yang lihai, sekarang entah bersembunyi di mana, sedangkan dua losin pengawal pilihan itu memperta­hankan diri sampai tewas semua, terbas­mi oleh fihak musuh yang jauh lebih besar jumlahnya itu.

“Sekarang juga ciangkun diminta da­tang ke istana oleh pangeran tua untuk merundingkan urusan ini.” Demikian pem­bantunya mengakhiri pelaporan. Perwira Jayin mendengar pelaporan itu dan dia cepat berpakaian, kemudian bergegas pergi ke istana bersama pembantunya.

Ceng Ceng tidak dapat tidur lagi. Menghadapi peristiwa yang demikian hebatnya, mana dia bisa tidur? Terlalu hebat peristiwa ini. Betapa kong-kongnya dan para suhengnya akan melongo men­dengarkan ceritanya kelak. Raja teran­cam bahaya! Raja hendak diculik, hendak dibunuh oleh pasukan asing ketika raja dan panglima sedang berburu. Padahal rombongan utusan kaisar sudah tiba! Dan sekarang raja dan panglima tidak tahu berada di mana. Betapa hebatnya cerita ini. Dia harus tahu lebih banyak, demiki­an pikirnya sambil mengenakan pakaian, membereskan rambutnya, mencuci muka dan diam-diam dia meninggalkan rumah suhengnya melalui jendela dan berlari menuju ke istana.

Dia sudah mengambil keputusan untuk masuk ke istana, apapun juga yang akan terjadi, diperkenankan atau tidak! Dia harus mengikuti terus perkembangan keadaan, harus tahu apa yang selanjutnya terjadi agar kelak ceritanya kepada kong-kongnya dan kepada suhengnya dapat lengkap! Betapa senangnya nanti menceri­takan itu semua, pikirnya.

Tentu saja para penjaga menghadang­nya di pintu gerbang karena malam itu, sesuai dengan perintah yang dikeluarkan Perwira Jayin, penjagaan diperketat dengan adanya tamu agung yang bermalam di istana dan dengan terjadinya hal-hal yang mengejutkan seperti yang dilaporkan oleh komandan pasukan yang menyusul rombongan raja.

Dara ini tersenyum mengejek, meng­geser tubuhnya ke bawah penerangan lampu agar mukanya kelihatan sambil berkata, “Hemmm, apakah kalian ini penjaga-penjaga malas hendak mencari ribut lagi dengan aku?”

Mendengar suara wanita dan melihat wajah cantik di bawah sinar penerangan itu, tentu saja para penjaga mengenal Ceng Ceng. Dara yang masih adik seper­guruan Perwira Jayin, yang siang tadi membikin ribut di pintu gerbang, mero­bohnya para penjaga dan dua perwira, bahkan yang berani menandingi pengawal kepala dari rombongan utusan kaisar!

“Eh…. kau lagi…. nona?” Komandan jaga yang mengenalinya berkata gugup.

“Ya, aku! Apakah kau hendak melan­jutkan gerakan tombakmu itu?”

Komandan jaga itu cepat-cepat menu­runkan tombaknya yang tadi menodong. “Ahh, tidak….! Maafkan, nona, tetapi kami menjaga dan tidak ada orang asing yang boleh masuk.”

“Tentu saja! Kalau kau membiarkan orang asing masuk, suhengku Perwira Jayin tentu tidak akan memberi ampun kepadamu! Akan tetapi aku bukannya seorang asing, dan aku disuruh oleh so-so, isteri abangku, untuk menyusul su­heng yang baru saja masuk ke istana.”

Komandan jaga itu bingung dan ragu-ragu. Dia sudah tahu bahwa dara ini adalah sumoi dari Perwira Jayin dan memang benar baru saja perwira itu masuk ke istana!

“Ada ada urusan apakah, nona? Boleh kami yang menyampaikan….”

“Hushhh! Urusan keluarga, urusan isteri hendak kamu campuri, ya? Begitu kurang ajarkah kalian? Akan kulaporkan kepada suheng….”

“Ah, maaf…., maaf…. harap nona tidak marah. Kami bukan berniat bu­ruk….”

“Kalau tidak berniat buruk, mengapa melarang aku menyusul abang? Hayo katakan, apakah masih ada lagi penjaga yang hendak kurang ajar kepadaku?”

Komandan jaga itu kewalahan. Dia memberi isyarat kepada anak buahnya dan mereka semua minggir, memberi jalan dan komandan itu berkata, “Baik­lah, nona masuk saja. Akan tetapi harap jangan bicara yang bukan-bukan kepada ciangkun.”

Ceng Ceng memasuki pintu gerbang itu, menoleh dan tersenyum. “Aku akan melaporkan kepada suheng bahwa koman­dan jaga malam ini, yang berkumis tipis, adalah seorang yang amat baik hati dan ramah.”

Setelah dara itu pergi memasuki halaman istana, komandan jaga yang menjadi berseri wajahnya itu meraba­raba kumisnya, tersenyum-senyum bang­ga! Sikap dan ucapan Ceng Ceng itu sekaligus merobah keadaan hatinya, kalau tadi dia merasa khawatir melakukan pelanggaran, kini dia merasa bangga karena telah melakukan jasa.

Niat hati hendak mencari suhengnya di dalam istana. Akan tetapi karena dia tidak hafal akan keadaan di istana yang demikian besarnya, yang mempunyai ba­nyak lorong-lorong yang hampir sama bentuk dan hiasannya, membuat dia kesa­sar ke lain tempat, ke sebelah kiri bangunan istana besar itu. Padahal suheng­nya saat itu sedang ssbuk terlibat dalam perundingan yang serius dengan Pangeran Tua dan para panglima lainnya yang berlangsung di sebelah kanan bangunan istana. Ceng Ceng tersesat jalan, mema­suki daerah yang dihuni oleh para puteri dan semua anggauta wanita dari keluarga kerajaan.

Barulah dara ini sadar akan kesalahan jalan ini setelah dia melihat beberapa orang penjaga wanita yang sudah ber­munculan dari kanan kiri dan mengurung­nya!

“Siapa kau?”

“Tangkap dia!”

“Dia tentu mata-mata musuh!”

Para penjaga wanita itu sudah berte­riak-teriak dengan kacau sehingga per­cuma saja bagi Ceng Ceng untuk mem­bela diri. Bahkan mereka sudah serentak maju hendak menangkapnya. Ceng Ceng menjadi marah, kaki tangannya bergerak dan dua orang penjaga menjerit dan terpelanting roboh terkena dorongan tangan dan tendangan kakinya.

Ributlah keadaan di situ. Ceng Ceng marah karena para penjaga wanita itu tidak mau mendengarkan kata-katanya dan terus mengeroyoknya seperti seke­lompok kupu-kupu beterbangan di sekelilingnya. Betapapun marahnya, Ceng Ceng masih ingat bahwa dia berada di dalam istana, maka dia mengatur kaki tangan­nya agar jangan sampai melukai berat lawan, apalagi membunuh seorang di antara mereka. Namun, karena kaki dan tangan dara ini sudah terlatih, tetap saja penjaga yang dirobohkannya mengalami bengkak-bengkak dan lecet-lecet sehingga makin ributlah terdengar jeritan wanita-wanita yang terpelanting itu.

“Siapa berani main gila di sini?” Ti­ba-tiba terdengar bentakan halus dan Ceng Ceng memandang dengan penuh kagum dan tercengang ketika dia melihat munculnya seorang dara yang amat can­tik jelita. Dara ini cantik sekali, kulit mukanya halus putih kemerahan, matanya lebar dan jernih, terlindung bulu mata yang panjang dan melengkung, rambutnya gemuk berombak dan dibiarkan terurai di belakang punggungnya, diikat di dekat tengkuk dengan gelang mutiara, sedang­kan di atas kepala tampak ikatan rambut yang dihias dengan seekor burung Hong terbuat daripada emas dan permata. Telinganya terhias anting-anting yang besar dari emas pula, demikian perge­langan tangannya. Pakaiannya juga amat aneh dan serba indah, terbuat dari sute­ra-sutera halus beraneka warna. Seorang dara yang cantik jelita dan pantasnya dia seorang dewi dari kahyangan. Akan teta­pi pada saat itu, dia bukan merupakan seorang dewi yang penuh welas asih, melainkan seorang dewi yang sedang marah, yang tangan kanannya memegang sebatang pedang yang indah pula, pedang yang gagangnya terhias emas terukir halus.

Ceng Ceng sejenak memandang kagum dan terpesona, akan tetapi ketika dara jelita itu menghampirinya dan menampar dengan tangan kirinya, tamparan yang cukup keras, Ceng Ceng sadar dan cepat dia menggerakkan tangan kanannya. Tadi­nya dia hendak menangkis, akan tetapi mengingat betapa halus dan putih lengan dara itu, dia merasa tidak tega, maka dia lalu merobah tangkisannya menjadi tangkapan.

“Plakkk….!” lengan tangan kiri dara itu diterima oleh telapak tangan Ceng Ceng, dan sebelum pedang di tangan kanan dara itu digerakkan, Ceng Ceng telah berkata halus, “Harap tahan dulu dan jangan menyerang. Aku bukan orang ja­hat, aku mencari suhengku, Perwira Ja­yin!”

Mendengar ini, sepasang mata yang lebar itu terbelalak dan tangan kanan yang memegang pedang menurun. Ceng Ceng sudah melepaskan lengan yang berkulit halus itu, lalu melangkah mundur, berdiri tegak dan memandang dengan penuh kagum.

“Dia….?”

“Benar dia….!” Demikian terdengar beberapa orang penjaga wanita berkata.

Dara jelita berpakaian merah itu melangkah maju, memandang Ceng Ceng dengan penuh selidik, sinar matanya me­rayapi tubuh Ceng Ceng dari atas kepala sampai ke ujung kaki, kemudian terde­ngar suaranya, halus namun penuh wiba­wa, “Apakah engkau sumoi dari Perwira Jayin yang siang tadi menimbulkan geger di pintu gerbang dan yang kabarnya telah berani pula melawan pengawal kaisar sendiri?”

Ceng Ceng tersenyum dan dia tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya dia malah bertanya, “Kalau boleh aku me­ngetahui, siapakah anda yang begini can­tik jelita seperti dewi?”

Dara itu tersenyum dan Ceng Ceng seolah-olah silau oleh kecantikan yang makin menonjol itu. Betapa manis se­nyum itu, senyum wajar yang menggerak­kan dan menghidupkan seluruh wajah jelita itu, bahkan yang seolah-olah menyinarkan kehangatan kepada seluruh keadaan di sekitarnya!

“Kabarnya engkau bernama Ceng Ceng dan engkau mengakibatkan geger karena ingin melihat puteri yang akan diboyong oleh rombongan utusan kaisar. Benarkah itu?”

Ceng Ceng mengangguk.

“Nah, akulah puteri itu.”

Mata Ceng Ceng makin melebar dan bibirnya yang kecil mungil dan kemerah­an itu terbuka. Sejenak dia tidak dapat berkata apa-apa, akan tetapi kemudian dia menjatuhkan diri berlutut. “Ampunkan hamba…. ahhh, hamba tidak tahu….”

Puteri itu tertawa, melempar pedang­nya yang disambut oleh seorang di anta­ra para pengawal wanitanya. Kemudian puteri itu maju, memegang pundak Ceng Ceng dan menariknya berdiri. Mereka itu sebaya, dan perawakan merekapun tidak berselisih banyak. Mereka berdiri berha­dapan, saling memandang dan kemudian keduanya tersenyum dengan rasa suka timbul di hati masing-masing.

“Paduka…. paduka Puteri Syanti De­wi….?”

Puteri itu mengangguk, tersenyum dan memegang tangan Ceng Ceng, digandeng­nya dan ditariknya dara itu masuk ke dalam kamarnya yang besar dan indah. Puteri itu memberi isyarat kepada semua pelayan dan penjaganya agar tidak meng­ganggu mereka berdua, kemudian pintu kamarnya ditutupkan dari luar dan dia berkata sambil tersenyum lebar. “Nah, duduklah dan anggap ini kanarmu sendi­ri, Ceng Ceng, siapakah nama lengkap­mu? Kau tentu seorang Han dari Tiongkok, bukan? Kau tidak seperti orang Mancu.”

“Benar, hamba she Lu bernama Ceng akan tetapi biasa disebut Ceng Ceng.”

“Ah, engkau puteri guru Perwira Ja­yin yang bernama Lu Kiong, kakek yang kabarnya memiliki ilmu kepandaian tinggi itu?”

“Bukan anaknya, melainkan cucunya. Paduka amat baik terhadap hamba, pada­hal hamba telah mengagetkan paduka dan telah berani memasuki tempat ini….”

“Hushh, kalau kau tidak merobah sebutan-sebutan itu, aku akan kehilangan rasa sukaku kepadamu, Ceng Ceng, tahu­kah kau betapa muak hatiku dengan semua ini? Setiap hari disembah-sembah orang, setiap hari mendengar sebutan paduka tuan puteri atau yang mulia dan lain-lain yang kosong dan palsu, mendengar orang merendahkan diri dan menye­but hamba yang rendah dan sebagainya. Betapa rinduku diperlakukan seperti ma­nusia biasa, bukan seperti seorang dewi atau seorang siluman yang bukan manu­sia. Tadi hatiku girang sekali menyaksikan sikapmu yang terbuka, menyebutku dengan kata kau atau anda saja. Akan tetapi begitu kau meniru sikap mereka yang merendahkan diri seperti orang menjilat, aku menjadi tidak senang.”

“Habis….?” Ceng Ceng meragu dan terheran, juga geli rasa hatinya mengapa ada seorang puteri raja yang menyatakan pendapat seperti itu.

“Engkau Ceng Ceng, dan aku Syanti saja. Kau sebut saja namaku.”

“Ini…. ini…. mana hamba berani….”

“Kalau tidak berani, lekas kau pergi dari sini dan aku tidak mau bersahabat lagi denganmu.”

“Ahhhh….” Ceng Ceng mengerutkan alisnya dan merasa kecewa sekali. “Ham­ba ingin sekali…. bersahabat…. hamba kagum dan suka kepada paduka….”

“Hushh! Hanya satu syaratnya, yaitu kau menganggap aku sebagai sahabat atau…. eh, bagaimana kalau sebagai saudara? Berapa usiamu?”

“Kurang lebih lima belas tahun.”

“Kalau begitu sama dengan aku. Nah, untuk menghormatiku biarlah kau meng­anggap aku lebih tua setengah bulan da­rimu, dan kau menyebut aku enci (kakak), dan aku menyebutmu moi-moi (adik perempuan). Selanjutnya kau harus ber-engkau dan ber-aku kepadaku, tidak ada lagi paduka-padukaan atau hamba-hamba­an. Bagaimana, maukah kau?”

Ingin Ceng Ceng menari kegirangan. Siapa bisa percaya! Dia, seorang dara dusun, seorang gadis gunung, diaku saha­bat baik, bahkan saudara oleh Puteri Syanti Dewi yang terkenal itu! Duduk berdua sekamar dengan puteri itu, bicara dengan sebutan engkau dan aku! Mana mungkin ini? Hanya dapat terjadi dalam mimpi! Mimpikah dia? Diam-diam Ceng Ceng mencubit pahanya sendiri.

“Haii, Ceng-moi, apa yang kaulaku­kan itu ?” Puteri Syanti memandang he­ran ketika melihat Ceng Ceng mencubit pahanya sendiri dan meringis karena merasa nyeri.

“Ehh….! Ohhh….! Tidak…. tidak­ apa-apa…. eh, enci Syanti.”

Puteri Syanti tertawa lebar sehingga tampak deretan giginya yang rapi dan putih seperti mutiara, rongga mulut yang merah dan lidah yang kecil yang berge­rak hidup dan berwarna merah muda.

“Senang hatiku mendengar kau me­nyebutku enci! Ceng-moi, sebagai saudara kita tidak boleh menyimpan rahasia. Aku melihat kau tadi mencubit pahamu sam­pai kau meringis kesakitan. Mengapa kau begini lucu, mencubit paha sendiri?”

“Habis, tidak ada yang mencubit…. eh, maksudku, kalau ada yang cubit, tentu kutampar mukanya, apalagi kalau dia seorang pria!”

Jawaban ini membuat sang puteri terkekeh geli. “Bagaimana kalau yang mencubit itu pria kekasihmu?”

“Kekasih?” Ceng Ceng bertanya, seo­lah-olah tidak mengerti apa artinya kata-kata ini.

“Kekasih?” Ceng Ceng bertanya, seo­lah-olah tidak mengerti apa artinya kata-kata ini.

“Kekasih, pria yang kaucinta. Bagai­mana kalau dia yang mencubit pahamu?”

“Cinta? Aku tidak tahu, aku tidak mengerti apa itu cinta. Kalau ada pria melakukan hal itu, berarti dia kurang ajar dan tentu akan kutampar mukanya sampai bengkak-bengkak!”

“Ouhhh….!” Puteri itu menutupi mulut­nya dan memandang heran. “Apakah kau hendak mengatakan bahwa engkau belum pernah berpacaran?”

“Hehh? Berpacaran?”

“Ya, mempunyai teman pria yang kau sukai, dengan siapa engkau bersendau-gurau, bersenang-senang, bermain-main bersama dan sebagainya.”

Ceng Ceng menggeleng kepala dan memandang dengan mata jujur. Puteri itu menarik napas panjang dan berkata kepa­da diri sendiri, “Betapa anehnya! Dan kukira dara yang hidup bebas di luar, tidak seperti aku yang dikurung di ista­na, dapat lebih menikmati hidup, dapat memilih pacar dan calon jodoh sendiri….”

“Enci Syanti, apa yang kaubicarakan ini? Aku tidak mengerti.”

“Sudahlah, adik Ceng, memang hanya orang yang tidak mengerti itulah yang beruntung, tidak dilanda suka-dukanya. Aku mengulangi pertanyaanku tadi, meng­apa kau tadi mencubit pahamu?”

“Karena aku masih tidak percaya bahwa aku, seorang gadis gunung, dapat duduk sejajar dengan Puteri Syanti Dewi, bercakap-cakap seperti sahabat bahkan seperti saudara. Aku mengira bahwa aku sedang mimpi, maka kucubit pahaku.”

“Hi-hik, kau memang lucu! Aku suka sekali padamu, adik Ceng.”

“Dan aku…. aku tidak pernah mempu­nyai seorang sahabat seperti engkau, enci Syanti. Aku suka sekali padamu.”

“Kalau begitu….!” Puteri itu melon­cat. “Benar! Sekarang aku tidak terlalu berduka lagi. Kau tahu, adik Ceng, aku selalu menangis dan bersusah hati setelah sri baginda memutuskan perjodohanku dengan pangeran putera Kaisar Tiongkok! Aku merasa seolah-olah masa depanku gelap, seolah-olah aku akan dikirim ke neraka. Sekarang ada engkau! Engkau harus menemani aku, adikku! Ya, engkau harus menemani aku, barulah aku sang­gup menghadapi kepergian ini!”

“Apa….? Aku….? Ikut bersamamu ke kota raja, di Tiongkok? Ke istana kai­sar?” Jantung di dada Ceng Ceng berde­gup keras. Makin hebat dan menarik saja pengalaman ini!

“Maukah engkau, adik Ceng? Katakan­lah engkau mau, kasihanilah aku yang amat memerlukan kehadiran seorang saha­bat, seorang saudara yang kucinta dalam perjalananku yang jauh dan amat meng­gelisahkan hatiku ini” Dan puteri itu memandang Ceng Ceng dengan air mata berlinang!

Ceng Ceng tersenyum lalu mengang­guk kuat-kuat. “Aku mau! Dengan senang hati, enci Syanti!”

“Adikku….!” Saking girangnya puteri itu lalu menubruk, memeluk Ceng Ceng dan mencium pipinya. Ceng Ceng mem­balas pelukan itu dan mereka seperti enci-adik yang mencurahkan perasaan masing-masing yang penuh keharuan, seperti kakak-beradik yang telah lama sekali tidak berjumpa, dan baru sekarang bertemu.

“Akan tetapi bagaimana kalau kong-kong melarangku?” Akhirnya Ceng Ceng yang teringat akan keadaannya, bertanya ragu.

“Jangan khawatir. Aku akan minta kepada sri baginda agar engkau menjadi pengawal pribadiku, dan perintah ayahku sri baginda tentu akan ditaati oleh kong-kongmu.”

Ceng Ceng mengangguk-angguk dan mereka bercakap-cakap dengan penuh kegembiraan, kemudian tidur bersama dalam pernbaringan puteri itu yang me­wah, harum dan enak sekali dipakai.

***

Benar saja apa yang dikatakan oleh Puteri Syanti Dewi. Setelah puteri ini menyatakan kehendaknya mengangkat Ceng Ceng sebagai pengawal pribadinya, pangeran tua sendiripun tidak berani melarang sehingga Perwira Jayin yang tadinya mendengar akan perbuatan Ceng Ceng dan hendak membawa pulang sumoinya itu, jadi “mundur teratur” dan terpaksa dia mengirim laporan kepada suhunya di dusun tentang keadaan Ceng Ceng yang kini diangkat oleh sang puteri menjadi pengawal pribadi, bahkan sudah ditentukan oleh puteri itu bahwa Ceng Ceng akan mengawalnya kalau tiba saat­nya dia diboyong oleh rombongan utusan kaisar!

Sementara itu, pada malam hari itu juga ketika merundingkan persoalan raja yang terancam bahaya dengan para pang­lima dan pembantunya, pangeran tua mengambil keputusan untuk mengirim pasukan yang terdiri dari seribu orang perajurit, dipimpin oleh Panglima Jayin sendiri untuk mencari raja dan menyela­matkannya dari ancaman bahaya.

Berangkatlah Panglima Jayin menunggang kuda memimpin seribu orang peraju­rit itu pada malam hari itu juga. Bhutan bukanlah sebuah negara besar dan karena negara itu selalu berada dalam keadaan aman, jarang sekali dilanda perang, maka tentaranya juga tidak terlatih dan tidak banyak jumlahnya. Kalau sekarang dikerahkan seribu orang pasukan adalah kare­na mereka hendak menolong dan melin­dungi raja mereka. Obor-obor dipasang mengiringi keberangkatan barisan itu keluar dari benteng kota raja.

Akan tetapi ketika barisan itu tiba di pintu gerbang kota raja, terdengar teri­akan penjaga dan Panglima Jayin cepat menengok. Kiranya di antara sinar obor tampak berkelebat bayangan orang yang melompati dinding benteng yang sangat tinggi itu dengan gerakan seperti seorang burung terbang saja.

“Kejar dia! Tangkap! Panah dia!” Pang­lima Jayin yang merasa curiga sekali memerintah dengan suara nyaring. Bebe­rapa orang perajurit ahli anak panah sudah menyerang bayangan itu, akan tetapi karena gerakan bayangan itu cepat laksana burung terbang, serangan anak-anak panah itu sia-sia belaka dan dalam sekejap mata saja bayangan itu telah lenyap ke dalam kota raja.

Panglima Jayin mengangkat tangan menahan gerakan barisannya, kemudian mengumpulkan para perwira pembantunya dan menyuruh mereka menahan barisan untuk berhenti di luar tembok kora raja karena dia ada urusan penting. Seorang diri panglima ini lalu membalapkan kuda­nya kembali ke kota raja, menuju ke istana.

Hati Panglima Jayin mulai merasa curiga terhadap para tamu agung, yaitu para rombongan utusan kaisar. Bukankah malapetaka terjadi ketika rombongan itu di Bhutan? Kebetulan sajakah ini, atau ada apa-apa di balik kedatangan rombong­an itu? Mereka datang pada saat raja berburu dan rombongan raja dihadang oleh pasukan musuh yang kini dia tahu adalah orang-orang Mongol dan Tibet yang telah lama sering mengadakan gang­guan kepada Pemerintah Bhutan. Orang-orang campuran antara Bangsa Mongol dan Tibet yang sesungguhnya merupakan orang-orang pelarian di negara mereka sendiri ini telah membentuk sebuah per­kumpulan besar atau dapat juga dikata­kan sebuah “kerajaan” kecil, dipimpin oleh seorang tokoh hitam yang kabarnya berasal dari Tiongkok dan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Akan tetapi, selama ini, karena jumlah mereka tidak­lah banyak dibandingkan dengan jumlah barisan Kerajaan Bhutan, gangguan mere­ka selalu dapat dihadapi dengan kekeras­an dan sudah lama mereka tidak pernah terdengar beritanya lagi. Mengapa kini tiba-tiba mereka muncul dan mengganggu raja yang sedang berburu, tepat ketika rombongan utusan kaisar tiba?

Bayangan yang dilihatnya meloncat seperti terbang tadi memakai kucir, tan­da bahwa bayangan itu adalah seorang dari Tiongkok! Kecurigaan hati Panglima Jayin terhadap rombongan utusan kaisar makin besar, maka dia menahan barisan­nya dan kini dia kembali ke istana untuk menemui mereka, untuk melihat keadaan dan kalau perlu bertindak.

Ketika panglima memasuki pintu ger­bang istana, menitipkan kuda kepada para penjaga dan dia berlari-lari masuk ke tempat di mana para tamu itu ber­malam, ternyata di situ juga sedang dalam keadaan ribut-ribut. Semua tamu itu telah terbangun dan banyak pula para pengawal istana yang berkumpul di situ. Ketika mereka melihat Panglima Jayin, maka segera menyambutnya dan kepala pengawal kaisar yang memimpin rombong­an utusan kaisar itu dengan langkah lebar menghampiri Jayin dengan muka merah dan alis berkerut.

“Apa yang telah terjadi?” tanya Jayin dengan pandang mata penuh selidik kepa­da pengawal kaisar yang berjenggot pan­jang itu.

Pengawal ini ini bernama Tan Siong Khi, ketika mendengar pertanyaan Jayin dia memandang tajam dan berkata, “Se­harusnya kami yang mengajukan perta­nyaan ini, panglima!”

Jayin mengerutkan alisnya, terheran akan tetapi juga tidak senang mendengar kata-kata itu, “Hemm…. apakah sesung­guhnya yang telah terjadi?”

“Ada orang menyelundup masuk ke tempat penginapan kami, sikapnya men­curigakan sekali. Aku sendiri sudah me­nyerangnya dan berusaha menangkapnya, akan tetapi gagal dan dia berhasil mela­rikan diri dan lenyap.”

Tentu saja Jayin terkejut, “Benarkah? Seperti apa orangnya?”

“Keadaan gelap, dan gerakannya gesit. Kami tidak dapat melihat jelas mukanya. Akan tetapi yang amat mengherankan, mengapa dia dapat memasuki istana yang terjaga kuat dan bagaimana mungkin dia melarikan diri dari istana dan dari da­lam kota raja?”

Biarpun ucapan Tan Siong Khi diucap­kan seperti orang yang merasa heran dan penasaran, namun di dalamnya terkan­dung kecurigaan yang agaknya dinyatakan untuk mengimbangi sikap Jayin yang datang-datang memperlihatkan kecurigaan pula.

Jayin mengerutkan alisnya lagi. Me­mang sukarlah baginya keadaan seperti itu. Kecurigaannya terhadap rombongan utusan ini memang makin besar. Siapa tahu keributan dengan alasan orang luar memasuki tempat penginapan mereka ini hanya sandiwara belaka! Akan tetapi untuk menuduh begitu saja, tidak mung­kin jika tidak ada bukti nyata. Pula, mereka ini adalah utusan dari negara yang besar dan kuat, bahkan rajanya sendiri sampai mengorbankan puterinya untuk menjadi isteri seorang Pangeran Mancu hanya karena mengharapkan ikat­an keluarga agar Bhutan terlindung se­bagai keluarga Kerajaan Mancu yang menguasai seluruh Tiongkok. Akan tetapi Jayin adalah seorang panglima yang su­dah berpengalaman, tidak saja berpenga­laman dalam medan perang, akan tetapi juga berpengalaman dalam hal diplomasi. Dengan cerdik dia lalu berkata dengan muka sungguh-sungguh, “Tan-ciangkun, kami sedang menghadapi urusan besar yang juga menyangkut kepentingan rom­bongon utusan kaisar. Raja kami sedang terancam bahaya.” Dia lalu menuturkan bagaimana rajanya yang sedang berburu itu diserbu oleh musuh dan kini tidak tahu berada di mana dan bagaimana pula keadaannya.

“Kalau raja kami tidak dapat segera diselamatkan, tentu tugas yang ciangkun lakukan akan gagal pula. Maka setelah ciangkun berada di sini, saya pribadi mohon petunjuk ciangkun yang sudah tentu memiliki kepandaian dan pengala­man lebih luas sebagai pengawal kaisar sebuah negara besar. Saya harap ciang­kun tidak akan berkeberatan untuk membantu kami melakukan penyelidikan untuk menolong raja kami.”

Tan Siong Khi juga bukanlah seorang pengawal bodoh. Dia mengerti apa arti­nya permohonan yang diajukan dengan halus oleh Jayin itu. Untuk urusan dalam seperti itu, tidak selayaknya kalau pangli­ma ini minta bantuan orang luar. Tentu saja lahirnya saja menyatakan minta bantuan, akan tetapi sebetulnya dia akan dibawa sebagai sandera karena panglima ini agaknya mencurigai rombongannya! Maka dia tersenyum dan berkata, “Kami diperintahkan untuk menjemput mempe­lai, sekarang melihat Raja Bhutan yang akan menjadi besan dari kaisar kami terancam bahaya, sudah tentu saya suka membantu.”

“Kalau begitu, marilah, Tan-ciangkun. Malam ini juga kita berangkat dan tenta­raku sudah siap di luar tembok benteng kora raja.” Panglima Jayin memerintahkan orangnya mempersiapkan seekor kuda lain dan tak lama kemudian berangkatlah kedua orang perwira tinggi ini, menung­gang kuda keluar dari kota raja dan memimpin pasukan yang seribu orang besarnya itu. Obor di tangan para pera­jurit yang bertugas membawa obor dan berada di depan, tengah, dan belakang, kelihatan dari jauh seperti seekor naga sakti yang menyala-nyala keemasan ter­bang melayang rendah di atas tanah. Mereka menuju ke Pegunungan Himalaya, ke arah utara.

Kembali kita terpaksa meninggalkan barisan Bhutan yang berangkat men­cari raja mereka itu untuk menjenguk bagian lain jauh di sebelah timur, di mana terjadi peristiwa lain yang seolah-­olah tidak ada hubungannya dengan kedua orang kakak-beradik putera Pendekar Su­per Sakti, juga tidak ada hubungannya dengan pasuka Bhutan yang mencari raja mereka, akan tetapi sesungguhnya tokoh-­tokohnya merupakan tokoh penting dalam cerita ini dan perlu kita mengenal mere­ka seorang demi seorang.

Di kota Shen-yang tak jauh dari kota raja. Seorang pemuda tampan berpakaian indah bersih memasuki sebuah rumah makan yang baru saja dibuka dan masih sepi. Hari masih terlalu pagi untuk ma­kan, maka yang penuh dengan orang berlalu lalang hanyalah jalan raya di depan rumah makan itu, dan pemuda ini merupakan pemuda pertama yang disam­but oleh pelayan yang masih kelihatan segar dan bersemangat. Dengan wajah berseri dan ramah pelayan itu menyam­but dan mempersilakan tamunya masuk dan duduk menghadapi meja yang kese­muanya masih kosong. Pemuda itu memi­lih meja di tengah dan duduknya di sebe­lah sehingga dia dapat melihat ke pintu depan dan pintu yang menembus ke ru­angan sebelah dalam rumah makan itu.

Pemuda ini baru kelihatan jelas wajah­nya setelah dia membuka topinya yang berbentuk caping lebar dan diberi tali sutera merah dan diikatkan di bawah dagunya. Setelah menaruhkan caping itu di atas meja, juga menuruhkan buntalan di punggung dan menaruhnya pula di atas meja, pemuda itu mengeluarkan sapu tangan dan menyusuti peluh di muka dan lehernya. Sepagi itu, dengan hawa masih dingin sudah berkeringat! Hati ini menan­dakan bahwa dia telah melakukan perjalanan jauh dan memang demikianlah, sema­lam suntuk dia terus berjalan tak pernah berhenti dan baru berhenti di kota itu setelah melihat rumah makan ini. Perut­nya yang lapar memaksanya berhenti. Setelah memesan makanan, pemuda itu menyandarkan dirinya ke meja dan me­mandang ke luar.

Usianya masih muda sekali, sekitar enam belas tahun, akan tetapi agaknya karena sudah banyak melakukan perantauan, maka pandang matanya yang tajam itu sudah “matang”, gerak-geriknya te­nang, wajahnya yang tampan itu selalu berseri, mulutnya tersenyum namun bibir yang tak pernah ditinggalkan senyum itu membayangkan ejekan dan mata yang tajam bersinar-sinar itu seakan-akan memandang rendah kepada keadaan sekelilingnya.

Siapakah pemuda tampan ini? Dia bernama Ang Tek Hoat dan sesungguhnya pemuda ini bukanlah seorang pemuda sembarangan karena ia cucu bekas ketua Bu-tong-pai yang terkenal dengan sebutan Ang Lojin (Kakek Ang) atau Ang Thian Pa! Ang Lojin atau bekas ketua Bu-tong­pai yang kini telah meninggal dunia dan kedudukannya sebagai ketua Bu-tong-pai telah digantikan oleh seorang sutenya, hanya mempunyai seorang anak tunggal, seorang puteri bernama Ang Siok Bi. Sebagai puteri tunggal, tentu saja Ang Siok Bi juga mewarisi ilmu kepandaian ayahnya yang tinggi.

Di dalam ceritaSepasang Pedang Iblis diceritakan dengan jelas betapa Ang Siok Bi yang masih gadis, baru berusia sembi­lan belas tahun, pada suatu hari diperko­sa oleh seorang pemuda dan biarpun akhirnya dia bersama Puteri Milana dan Lu Kim Bwee, ibu Ceng Ceng seperti yang telah dituturkan di depan, dapat membunuh pemuda yang mernperkosanya itu, namun seperti Lu Kim Bwee pula, perkosaan atas dirinya itu membuat dia mengandung dan akhirnya melahirkan se­orang anak laki-laki anak itu diberi nama Ang Tek Hoat, yaitu pemuda yang berada di dalam ru­mah makan itu. Karena merasa malu akan aib yang menimpa diri puterinya yang melahirkan anak tanpa ayah, hal yang mencemarkan nama besarnya seba­gai ketua Bu-tong-pai, kakek Ang jatuh sakit sampai meninggal dunia ketika Tek Hoat masih bayi. Lebih menyedihkan lagi bagi Ang Siok Bi, melihat dia melahirkan anak tanpa ayah, Bu-tong-pai merasa dinodai namanya dan fihak pimpinan lalu mengeluarkan keputusan untuk mengeluar­kan Ang Siok Bi sebagai anggauta Bu-tong-pai. Peristiwa ini terlalu hebat bagi Ang Siok Bi. Dengan hati yang hancur dia lalu meninggalkan Bu-tong-pai, mem­bawa anaknya yang masih bayi. Untung baginya bahwa para pemimpin Bu-tong­pai masih mengingat dia sebagai puteri bekas ketua mereka, maka kepergiannya disertai bekal yang cukup sehingga Ang Siok Bi dan puteranya tidak akan menga­lami nasib sengsara dan kelaparan.

Ang Siok Bi membawa puteranya itu mengasingkan diri ke sebuah bukit su­nyi di lembah Sungai Hoang-ho. Bukit ini oleh penduduk di sekitar daerah itu dinamakan Bukit Angsa, karena dilihat dari jauh mirip seekor angsa sedang tidur. Dengan uang yang diperoleh dari Bu­tong-pai, juga dengan menjual perhiasan pribadinya, Ang Siok Bi membangun sebu­ah rumah kecil yang cukup mungil di puncak Bukit Angsa, hidup berdua dengan puteranya di tempat sunyi ini. Hanya kadang-kadang saja dia membawa puteri­nya turun bukit mengunjungi dusun-dusun terdekat untuk membeli keperluan hidup­nya yang tidak banyak karena tanah di puncak bukit itu amat subur, penuh tetumbuhan yang dapat dimakan.

Sejak kecil, Ang Siok Bi menggem­bleng puteranya itu. Tujuan hidupnya hanya satu, yakni mendidik agar putera­nya menjadi seorang yang terkenal dan pandai di kemudian hari. Setelah putera­nya agak besar dan Tek Hoat sudah me­ngerti karena pergaulannya dengan anak­ dusun sebaya yang suka menggembala domba di lereng bukit kemudian bertanya kepada ibunya, Ang Siok Bi mengatakan bahwa ayah anak itu telah meninggal du­nia sejak ia ia masih dalam kandungan.

“Mengapa, ibu?” tanya anak kecil berusia enam tahun itu. “Mengapa ayahku meninggal dunia?”

Repot juga hati Ang Siok Bi mengha­dapi pertanyaan anaknya ini, kemudian timbul akalnya agar anak ini tidak terla­lu ingat kepada ayahnya, maka dengan sembarangan saja dia berkata, “Ayahmu meninggal karena dibunuh penjahat. Oleh karena itu, kau harus belajar dengan tekun agar kelak dapat menjadi orang gagah pembasmi penjahat.”

Tek Hoat yang kecil itu mengerutkan alisnya. “Siapa yang membunuh ayah?”

“Tak perlu kauketahui namanya kare­na dia sudah mati. Ibu telah membalas­kan kematian ayahmu.”

“Jadi pembunuh ayah itu telah ibu bunuh? Ahhh, sayang….”

“Eh? Mengapa sayang?”

“Karena kalau dia masih hidup, aku sendirilah yang kelak akan membunuh­nya!”

Ang Siok Bi merangkul anaknya dan mencium pipinya, mengusapkan dua titik air matanya kepada baju anaknya agar Tek Hoat tidak melihatnya. Bicara ten­tang ayah anak ini, teringatlah dia akan segala pengalamannya di waktu dahulu bersama Gak Bun, Beng (baca ceritaSepasang Pedang Iblis), orang yang bagai­manapun juga tak pernah dapat dilupakannya. Biarpun Gak Bun Beng telah memperkosanya, biarpun kemudian dia bersama Milana dan Lu Kim Bwee telah berhasil membunuh laki-laki itu namun harus diakuinya bahwa dia masih mencin­ta Gak Bun Beng. Karena itu, bicara tentang laki-laki itu merupakan hal yang menusuk perasaannya.

“Ibu, siapa namanya?”

“Nama siapa?”

“Nama penjahat yang membunuh ayah itu.”

“Namanya? Namanya…. Gak Bun Beng.”

“Gak Bun Beng? Hemmm, aku takkan melupakan nama itu.”

“Untuk apa, Tek Hoat? Orang itu telah mati.”

“Orangnya sudah mati, akan tetapi namanyakan masih ada. Dan siapakah nama ayahku, ibu?”

Makin repot dan bingunglah Ang Siok Bi menghadapi pertanyaan ini. Dia me­ngerti bahwa tidak ada gunanya menye­butkan nama begitu saja karena putera­nya tentu sudah tahu bahwa nama ketu­runan harus sama dengan keturunan ayahnya. Maka dia teringat kepada ayah­nya. Ayahnya hanya dikenal orang seba­gai Ang Lojin, ketua Bu-tong-pai. Tidak ada, atau jarang sekali, yang tahu bahwa nama ayahnya adalah Ang Thian Pa. Maka dia lalu menjawab, “Ayahmu telah meninggal dan dahulu namanya Ang Thian Pa.”

Anak itu kelihatan puas dan berkali-­kali mengulang nama Ang Thian Pa ini, seolah-olah dia hendak menghafal nama itu, kemudian mengulang nama Gak Bun Beng. Diam-diam hati Ang Siok Bi terasa perih sekali dan dia merasa kasih­an kepada puteranya.

Sebagai seorang gadis yang sebetulnya masih muda kemudian hidup terasing di puncak bukit itu bersama puteranya yang amat disayangnya karena puteranya merupakan satu-satunya manusia yang dekat dengannya, tentu saja Ang Siok Bi tidak tahu tentang cara mendidik anak. Anak itu terlalu dimanjakannya, segala permintaannya dituruti saja, maka Tek Hoat menjadi seorang anak yang amat manja. Apalagi ketika ia memperoleh teman-teman yang bengal, ia lalu men­jadi kepala di antara mereka, karena selain dia paling tampan, paling baik pakaiannya, juga dia paling kuat dengan kepandaian silatnya yang semenjak dia kecil diajarkan ibunya disamping pelajar­an menulis dan membaca.

Harus diakui bahwa Tek Hoat memiliki otak yang cerdas sekali. Semua pelajaran yang diberikan ibunya kepadanya, baik ilmu silat maupun ilmu menulis memba­ca, sekali dihafal dilatih terus saja bisa. Tentu saja ibunya merasa girang dan bangga sekali. Dalam usia empat be­las tahun saja, habislah semua ilmu silat yang dimiliki ibunya, semua sudah diajar­kan kepada puteranya itui Ketika ibunya menyatakan bahwa tidak ada ilmu lain lagi yang dapat diajarkan, Tek Hoat merasa tidak puas.

“Ibu, apakah sekarang aku telah menjadi seorang pendekar?”

Ibunya tertawa dan merangkul putera­nya yang kini telah menjadi seorang jejaka kecil yang tampan sekali. “Pende­kar? Aihh, Hoat-ji (anak Hoat), tidak mudah menjadi seorang pendekar! Di dunia ini banyak sekali terdapat orang pandai, dan kepandaian ibumu terbatas sekali. Memang kalau dibandingkan de­ngan anak sebaya, agaknya engkau sudah merupakan seorang anak yang sukar dicari lawannya. Akan tetapi di dunia kang-ouw, orang-orang yang memiliki kepandaian jauh melebihi kita amat banyak sekali.”

“Ada orang yang lebih pandai dari ibu?” tanya anak berusia empat belas tahun itu.

Ang Siok Bi tertawa. “Baru di Bu-­tong-pai saja, tingkat ibu paling banyak hanya menduduki ke empat!” Tiba-tiba wanita ini berhenti karena baru teringat bahwa dia dengan tanpa disengaja telah membuka rahasia, padahal dia sudah mengambil keputusan untuk menjauhkan puteranya dari Bu-tong-pai?

“Bu-tong-pai?” Tek Hoat bertanya, mendesak ketika melihat ibunya meragu.

Ang Siok Bi menarik napas panjang. Dia sudah terlanjur bicara, dan anaknya cerdik, tentu akan menacuh curiga dan kalau saja kelak anaknya menyelidiki sendiri kemudian tahu bahwa mereka adalah anak murid Bu-tong-pai, tentu anaknya akan menegurnya. Maka dia berkata, “Benar, anakku, Bu-tong-pai. Ibumu adalah murid Bu-tong-pai dan ilmu silat yang kita latih adalah ilmu silat Bu-tong-pai. Ketahuilah bahwa ibumu ini adalah puteri mendiang ketua Bu-tong­-pai yang bernama Ang Lojin.”

Berseri wajah Tek Hoat mendengar ini. “Ahh, jadi jelek-jelek aku ini cucu ketua Bu-tong-pai?”

“Hanya bekas ketua, anakku. Sekarang ketuanya tentu lain orang lagi.”

“Siapa ketuanya, ibu?”

“Ketuanya sekarang adalah seorang tosu bernama Giok Thian-sicu, masih sute dari kong-kongmu sendiri.”

“Ilmu silatnya tentu tinggi sekali, ibu?”

“Tentu saja, dan masih banyak tokoh lain di Bu-tong-pai yang memiliki ilmu kepandaian jauh lebih tinggi dari kita. Akan tetapi itu tidak semua, di dunia kang-ouw ini masih terlalu banyak untuk disebutkan tokoh-tokoh yang amat lihai, yang amat sakti. Bahkan ada yang ilmu kepandaiannya amat luar biasa, seperti dewa saja.”

Tek Hoat membelalakkan matanya. “Benarkah, ibu?” Dia tidak percaya karena selama ini dia menganggap bahwa ibunya merupakan orang paling hebat di dunia ini. “Siapakah mereka yang memi­liki kepandaian melebihi ketua Bu-tong­-pai dan para tokohnya?”

“Banyak, anakku. Akan tetapi kurasa tidak akan ada yang melebihi kepandaian seorang yang amat terkenal dahulu, yang sekarang tidak pernah muncul, seorang yang terkenal dengan julukan Pendekar Siluman.”

“Eh? Dia manusia atau siluman, ibu?”

Ibunya tersenyum. “Tentu saja manu­sia. Saking saktinya, karena dia bisa menghilang, dia bisa mengubah rupa men­jadi apa saja, maka dia dijuluki Pendekar Siluman.”

“Pendekar Siluman….” Tek Hoat berkata perlahan.

“Juga Pendekar…. Super Sakti.”

“Pendekar Super Sakti….” kembali Tek Hoat menggumam penuh kekaguman.

“Dia Majikan Pulau Es!”

“Pulau Es…. di manakah Pulau Es itu, ibu?”

“Siapa tahu? Pulau Es seperti dalam dongeng saja, disebut-sebut orang akan tetapi tidak ada yang tahu di mana letaknya.”

“Ibu, apakah dia orang yang paling pandai di dunia ini?”

“Mungkin begitulah. Siapa yang tahu?”

“Ibu, aku ingin mencari Pendekar Siluman!”

“Eh, mau apa kau?”

“Aku mau menantangnya.”

“Kau gila?”

“Aku ingin membuktikannya sendiri apakah dia itu benar-benar sakti seperti yang ibu katakan. Kalau benar demikian, aku ingin berguru kepadanya agar kelak menjadi seorang pendekar terpandai.”

Ibunya menggeleng-gelengkan kepala­nya. “Mudah diucapkan akan tetapi tak mungkin dilaksanakan, anakku. Entah berapa banyaknya orang yang hendak menemukannya, akan tetapi tidak ada yang tahu di mana adanya pendekar sakti itu, dan di mana pula letaknya Pulau Es.”

“Akan tetapi aku ingin memperdalam ilmu silatku, ibu, dan kau sudah tidak dapat mengajarku lagi, ibu.”

Hati ibu itu menjadi bingung karena apa yang dikatakan puteranya memang benar. Ilmu silatnya sudah habis ditum­pahkan kepada puteranya semua dan kalau pada waktu itu tingkatnya masih lebih menang dari puteranya hanyalah karena dia menang latihan belaka.

“Hoat-ji, ilmu silatmu bersumber kepada ilmu silat Bu-tong-pai, maka yang dapat memperdalamnya hanyalah tokoh-­tokoh di sana….” Tiba-tiba Ang Siok Bi menghentikan kata-katanya dan meman­dang penuh kekhawatiran. Dia kembali telah terlanjur bicara dan bagaimana kalau puteranya menemui ketua Bu-tong-pai? Apakah puteranya akan diteri­ma dan diakui sebagai murid Bu-tong­-pai? Bagaimana kalau ada yang membo­corkan rahasianya sehingga puteranya tahu bahwa dia adalah seorang anak haram yang tidak mempunyai ayah? Memang tidak ada yang tahu bahwa dia telah diperkosa oleh Gak Bun Beng (baca ceritaSepasang Pedang Iblis), akan tetapi semua pimpinan Bu-tong-pai tahu bahwa dia melahirkan anak tanpa suami!

“Ibu, aku akan pergi sekarang juga.”

“Anakku, jangan ke Bu-tong-pai. Ibumu sudah tidak diakui sebagai murid lagi, engkau tentu akan ditolak.”

“Hemm, aku ingin mencari Pendekar Siluman, atau tokoh kang-ouw lain kalau Bu-tong-pai tidak mau menerimaku.”

“Hoat-ji, jangan pergi. Ibumu bagai­mana….?”

Tek Hoat mengerutkan alisnya dan kemudian dia tersenyum, merangkul ibunya yang mulai menangis. “Ibu, meng­apa ibu menjadi cengeng? Bukankah ibu menghendaki anakmu menjadi seorang pendekar tanpa tanding?”

Pandai sekali Tek Hoat menghibur ibunya sehingga akhirnya, biarpun dengan air mata bercucuran, ibunya membiarkan dia pergi dengan bekal secukupnya, dengan janji bahwa setiap tahun dia harus pulang menengok ibunya.

Berangkatlah Tek Hoat yang berusia empat belas tahun itu, masih kanak-kanak akan tetapi memiliki keberanian luar biasa. Mulailah dia merantau dan di sepanjang jalan dia bertanya-tanya kepa­da orang di mana letaknya Pulau Es atau di mana tempat tinggal Pendekar Siluman. Tentu saja dia selalu kecewa. Orang biasa tidak ada yang tahu siapa itu Pendekar Siluman dan di mana itu Pulau Es, sedangkan orang kang-ouw yang ditanyanya membelalakkan matanya dengan heran dan takut, akan tetapi juga tidak ada yang tahu di mana adanya Pulau Es dan di mana pula tinggalnya Pendekar Siluman yang dikenal oleh seluruh tokoh kong-ouw itu. Karena tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepa­danya, akhirnya anak yang belum dewasa akan tetapi memiliki ketabahan luar biasa itu lalu menuju ke Bu-tong-san untuk memperdalam ilmunya dengan berguru kepada Bu-tong-pai. Tentu saja amat mudah mencari Bu-tong-pai sung­guhpun dia harus pula melakukan perjalan­an sampai lebih dari satu bulan lamanya.

Pada waktu dia akhirnya berhasil berhadapan dengan dua orang anggauta pimpinan Bu-tong-pai yang mewakili ketua menemui pemuda kecil ini, kembali Tek Hoat dikecewakan bukan main. Dua orang kakek itu dengan kening berkerut mendengarkan pengakuan Tek Hoat seba­gai putera Ang Siok Bi yang ingin melan­jutkan pelajaran ilmu silat di Bu-tong­-pai.

“Hemm, kami tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan seorang yang berna­ma Ang Siok Bi,” seorang di antara mereka, yang berpakaian tosu berkata. “Dan kami tidak dapat menerima murid dari luar, apa lagi keturunan dari Ang Siok Bi.”

Hati anak yang penuh keberanian itu menjadi panas. Ibunya sudah memperingat­kannya, akan tetapi dia merasa penasar­an dan berkata keras, “Mengapa begitu? Bukankah kakekku dahulu pernah menjadi ketua kalian?”

Tosu itu mengerutkan alisnya dan memandang tajam. “Tidak ada kakekmu yang menjadi ketua kami. Pergilah, anak bandel dan jangan kau berani datang lagi ke sini.”

Dapat dibayangkan betapa kecewa, jengkel dan marah hati anak itu. Sebulan lebih dia melakukan perjalanan yang amat melelahkan untuk mencapai tempat ini, dan setelah berhasil tiba di Bu-­tong-pai di mana kakeknya pernah menja­di ketua, bukan saja dia ditolak untuk menjadi murid, bahkan dia tidak dihor­mati sama sekali, diusir dan dihina!

“Kalau begitu kalian bukan orang Bu­-tong-pai! Kata ibu, Bu-tong-pai adalah pusat orang-orang gagah, akan tetapi sikap kalian sama sekali tidak gagah. Aku malah akan merasa malu menjadi murid Bu-tong-pai!”

“Anak haram!” Orang kedua dari Bu­-tong-pai yang berpakaian seperti seorang petani membentak, tangannya melayang ke arah kepala Tek Hoat. Anak ini tentu saja tidak mau kepalanya ditampar, dan dia lalu mengelak dan balas menendang dengan jurus yang paling lihai dari ilmu silatnya. Sambil menendang, tangannya menyusul dan memukul ke arah ulu hati lawan!

“Plak…. brukkk….!” Tubuh Tek Hoat terbanting keras. Ternyata kakek itu telah dapat menangkap kaki dan tangannya lalu melemparkannya sampai sejauh empat meter dimana dia terban­ting keras membuat kepalanya nanar dan matanya berkunang!

Akan tetapi saking marahnya, Tek Hoat sudah melompat bangun lagi dan berlari ke depan, menerjang marah, melancarkan pukulan bertubi. Kembali dia terjengkang roboh karena sebelum serangannya yang dikenal baik oleh kakek itu mengenai tubuh lawan, dia telah didahului dan didorong. Tek Hoat masih belum mau kalah, sampai lima kali dia maju lagi, lima kali terjengkang dan tubuhnya sudah lecet-lecet, kepalanya bengkak dan pakaiannya robek-robek. Kini dia merangkak bangun, menghapus darah yang mengalir dari bibirnya yang pecah, matanya berapi memandangi kedua orang kakek yang berdiri tenang itu, kepalanya digoyang-goyang, karena pandang matanya berputar, akan tetapi dia bangkit lagi dengan susah payah dan dengan nekat dia hendak menyerang lagi.

“Bocah hina, apakah kau ingin mam­pus?” Kakek itu berteriak marah.

Tek Hoat meloncat maju dan memu­kul nekat.

“Bressss….!” Kini tubuhnya terban­ting dan bergulingan sampai jauh. Pening sekali kepalanya dan dia hanya dapat bangkit duduk, memegangi kepalanya dan dari kedua lubang hidungnya meng­alir darah.

“Hemmm…. orang-orang Bu-tong-pai memukul anak kecil. Betapa anehnya ini!” Tiba-tiba muncul seorang kakek tua yang mukanya menyeramkan. Kakek ini mukanya persegi dan dilingkari rambut putih seperti muka singa, matanya menge­luarkan sinar penuh wibawa, akan tetapi kedua kakinya lumpuh! Hebatnya, biarpun kedua kakinya tak dapat digerakkan dan ditekuk seperti orang bersila, kakek ini mampu bergerak cepat dengan tubuh berlompat-lompatan! Kakek itu mengham­piri Tek Hoat, setelah memeriksa tubuh anak itu dia mengangguk-angguk. “Betapa pun juga, kalian tidak menjatuhkan ta­ngan maut. Kalau hal itu terjadi, tentu aku tidak akan tinggal diam!” Kakek itu lalu menyambar tubuh Tek Hoat dan sekali berkelebat dia telah lenyap dari situ, diikuti pandang mata kedua orang tokoh Bu-tong-pai yang terheran-heran.

Sementara itu, Tek Hoat tadi melihat munculnya kakek lumpuh yang mukanya menakutkan itu. Ketika tiba-tiba kakek itu mengempit tubuhnya di bawah ketiak dan membawanya “terbang” cepat, dia terkejut sekali akan tetapi juga girang. Dia melihat betapa tubuh kakek itu tanpa menggunakan kaki yang bersila, akan tetapi cepatnya seperti seekor rusa membalap sampai dia merasa ngeri dan kadang-kadang memejamkan mata kalau melihat dirinya dibawa terbang melewati sebuah jurang yang lebar dan dalam sekali.

“Kakek yang baik, aku ingin menjadi muridmu!” Tiba-tiba Tek Hoat berkata setelah mereka tiba di dalam sebuah hutan lebat.

Kakek lumpuh ini melepaskan tubuh­nya dan Tek Hoat cepat berlutut. Kakek itu tertawa, mengelus jenggotnya yang putih semua.

“Aku tidak akan mengambil murid! Sekali mengambil murid, tentu hanya akan menimbulkan urusan belaka di kemudian hari. Aku sudah tua, sudah enak-enak hidup tenang dan penuh damai, mengapa mesti mencari perkara? Tidak, aku tidak akan menerima murid.”

Tek Hoat menjadi kecewa bukan main. Dia tahu bahwa kakek ini adalah seorang yang amat lihai, biarpun kedua kakinya lumpuh. Tentu inilah orang yang disebut orang sakti oleh ibunya. Akan tetapi, ternyata kakek itupun menolaknya untuk menjadi murid. Sial benar. Kekecewaan membuat dia menjadi marah dan suaranya kaku ketika dia berkata, “Kalau engkau tidak mau mengambil aku sebagai murid, mengapa kau tadi menolongku? Biarlah aku dibunuh oleh kakek Bu-tong-­pai, apa sangkut-pautnya denganmu?”

Kakek itu tercengang, akan tetapi tetap tertawa. “Melihat anak kecil dipu­kul tokoh-tokoh Bu-tong-pai, bagaimana aku dapat mendiamkannya saja. Hei, anak baik, mengapa engkau dipukuli mereka? Apakah engkau mencuri sesua­tu?”

“Sudahlah, kalau engkau tidak mau mengambil murid kepadaku, mengapa masih banyak cakap lagi? Aku hanya mempunyai sebuah permintaan lagi, kalau kau tidak mau memenuhinya, benar-­benar aku tidak mengerti mengapa kau begini usil mencampuri urusan orang lain! Permintaanku adalah agar kau suka menunjukkan kepadaku tempat tinggal seorang yang kucari-cari. Engkau tentu seorang kang-ouw yang sakti, maka kalau kau mengatakan tidak tahu, berarti kau bohong.”

“Kau anak luar biasa. Katakan, siapa yang kau cari itu?”

“Aku mencari Pendekar Siluman, Majikan Pulau Es. Tahukah engkau di mana dia berada dan bagaimana aku dapat bertemu dengannya? Heii…. engkau kenapa?” Tek Hoat berseru melihat kakek lumpuh itu memandangnya dengan mata terbelalak seolah-olah dia telah berubah menjadi setan yang menakutkan!

Tentu saja kakek itu terkejut bukan main mendengar anak ini mencari Pendekar Siluman! Kakek ini berjuluk Sai-cu Lo-mo (Iblis Tua Bermuka Singa), namanya sendiri yang telah dilupakan orang dan hampir dilupakan sendiri oleh­nya adalah Bhok Toan Kok dan dia dahulu pernah menjadi pembantu utama dari Puteri Nirahai ketika puteri ini menjadi ketua Thian-liong-pang (baca ceritaSepasang Pedang Iblis). Seperti telah diceritakan dalamSepasang Pedang Iblis , Sai-cu Lo-mo meninggalkan Pulau Es yang pertama kali dikunjunginya itu bersama dengan Milana yang oleh ayah­nya disuruh ikut kakeknya, kaisar di kota raja. Kakek lumpuh namun lihai ini seolah-olah menjadi wakil Puteri Nirahai untuk menemani puterinya di kota raja dan sebelum pergi meninggalkan Pulau Es, kakek lumpuh ini oleh bekas ketua­nya, Nirahai, telah dibekali beberapa buah kitab pusaka ilmu silat yang hebat untuk menambah kepandaiannya setelah kedua kakinya lumpuh.

Selama dua tahun Sai-cu Lo-mo tinggal di kota raja, seperti seorang pensiunan di istana karena Milana meng­hendaki demikian dan tentu kaisar me­menuhi permintaan cucunya ini. Akan tetapi melihat betapa Milana seperti terpaksa menikah dengan seorang suami yang memenuhi syarat sayembara, yaitu seorang panglima muda berdarah bang­sawan bernama Han Wi Kong, hati kakek ini merasa perih sekali. Dia maklum betapa dara yang disayangnya itu meni­kah dengan terpaksa, menikah dengan orang yang tidak dicintanya. Dia tahu betapa hati dara itu masih melekat kepada Gak Bun Beng! Dia tidak tahu di mana adanya Gak Bun Ben, cucu kepo­nakannya itu dan melihat betapa ikatan cinta kasih antara Gak Bun Beng dan Milana terputus, melihat betapa Milana kini terpaksa menyerahkan diri menjadi isteri orang lain, hatinya merasa sengsa­ra sekali. Karena inilah, setelah Milana menikah kakek lumpuh ini meninggalkan istana, meninggalkan kota raja dan me­rantau ke mana-mana untuk mencari cucu keponakannya, Gak Bun Beng! Dalam perantauannya ini dia bertemu dengan Ang Tek Hoat dan dapat diba­yangkan betapa kagetnya mendengar betapa bocah yang bandel ini hendak mencari Pendekar Siluman Majikan Pulau Es!

“Eh, anak yang luar biasa anehnya! Engkau benar-benar hendak mencari Pendekar Siluman?”

Tek Hoat memandang kakek itu dengan penuh minat. Jangan-jangan kakek ini sendiri yang berjuluk Pendekar Silu­man! Memang pantas. Mukanya seperti singa, menakutkan, kedua kakinya lumpuh akan tetapi dapat berlari begitu cepat, seolah-olah tanpa kaki dapat berlari secepat terbang. Ini mirip siluman!

“Apakah engkau Pendekar Siluman?”

“Ha-ha-ha-ha!” Sai-cu Lo-mo tertawa sampai matanya mengeluarkan air mata. Dia disangka Suma Han Si Pendekar Super Sakti! Biarpun dia telah mela­tih isi kitab pelajaran ilmu silat tinggi yang dia terima dari bekas ketuanya yang kini menjadi isteri Pendekar Super Sakti, biarpun kini kepandaiannya sudah meningkat jauh lebih tinggi daripada tingkatnya sebelum kakinya lumpuh, namun kalau dibandingkan dengan kepandaian Pendekar Siluman, benar-benar menggelikan!

“Ha-ha-ha, kau belum tahu siapa itu Pendekar Siluman, akan tetapi kau sudah hendak mencarinya. Mau apakah kau mencari Pendekar Siluman”

“Aku mau menantangnya!”

“Heiiii….? Kau….? Menantangnya…?” Sekarang kakek ini terbelalak kare­na jawaban anak ini benar-benar menge­jutkan. “Mengapa?”

“Aku hendak membuktikan kata-kata ibu. Kalau benar dia merupakan pendekar yang terpandai di kolong langit, aku akan berguru kepadanya.”

“Bocah lancang! Kaukira begitu mudah menantang dia atau berguru kepadanya? Mencarinya lebih sukar daripada mencari naga di langit. Eh, kau siapakah dan mengapa kau tadi dipukul orang Bu-tong-pai?”

“Aku datang ke Bu-tong-pai hendak berguru, memperdalam ilmu silatku karena ibuku adalah murid Bu-tong-pai dan kakekku bahkan pernah menjadi ketua Bu-tong-pai. Akan tetapi orang-orang Bu-tong-pai tidak baik, malah memukulku.”

Kakek itu memandang tajam. “Siapa kakekmu?”

“Kakekku sudah meninggal dunia, dahulu dia menjadi ketua Bu-tong-pai, namanya Ang Lojin.”

“Ang Lojin….?” Tentu saja Sai-cu Lo-mo mengenal ketua Bu-tong-pai itu, mengenalnya dengan baik karena ketua Bu-tong-pai itu dahulu pernah ditawan secara halus oleh Thian-liong-pang ketika ketuanya, Nirahai, ingin melihat dasar kepandaian semua tokoh persilatan (baca ceriteraSepasang Pedang Iblis).

“Ya. Dan ibuku bernama Ang Siok Bi, sedangkan namaku Ang Tek Hoat.”

Mata yang biasanya kelihatan seperti orang mengantuk dari kakek lumpuh itu kini terbelalak. Tentu saja dia tahu siapa Ang Siok Bi! Gadis muda berpakaian kuning, puteri ketua Bu-tong-pai, yang bersama-sama Milana dan Lu Kim Bwee telah mengeroyok Gak Bun Beng cucu keponakannya karena dituduh telah mem­perkosanya!

“Ibumu yang suka memakai pakaian kuning itu….?” Tanyanya di luar kesa­darannya karena hatinya yang bicara, menduga-duga setelah dia membayangkan peristiwa belasan tahun yang lalu itu.

Tek Hoat tercengang. “Kau sudah mengenal ibuku?”

Sai-cu Lo-mo tidak menjawab, hanya mengelus jenggotnya dan termenung. Dia mengenangkan semua peristiwa yang terjadi belasan tahun yang lalu. Dia melihat dengan mata kepala sendiri betapa cucu keponakannya, Gak Bun Beng, dikeroyok oleh gadis-gadis yang membencinya. Milana, Ang Siok Bi, Lu Kim Bwee yang menganggap Gak Bun Beng sebagai seorang penjahat besar, seorang pemerkosa yang keji. Karena dia sendiri percaya akan cerita Milana, maka melihat cucu keponakannya dikeroyok dan hendak dibunuh, dia tidak berdaya sampai akhirnya Gak Bun Beng terjerumus ke dalam jurang yang amat dalam. Akan tetapi ternyata Gak Bun Beng tidak tewas dan dia bertemu lagi dengan cucu keponakannya itu di Pulau Es dan di tempat inilah dia mendapat kenyataan hebat, tentang terbukanya semua rahasia yang selama ini mengganggu hati­nya. Dia mendapat kenyataan bahwa Gak Bun Beng sama sekali tidak berdosa! Gak Bun Beng hanya dipergunakan namanya oleh orang lain yang melakukan semua perkosaan itu! Bukan Gak Bun Beng cucu keponakannya yang telah memperkosa Ang Siok Bi, Lu Kim Bwee atau siapapun juga, melainkan orang sengaja hendak merusak nama cucu keponakannya itu. Dan orang itu bukan lain adalah Wan Keng In yang kini telah tewas. Wan Keng In putera Lulu, anak tiri Pendekar Super Sakti (baca ceritaSepasang Pedang Iblis).

Sai-cu Lo-mo memandang Tek Hoat dengan penuh selidik. Kasihan, pikirnya. Jadi anak ini adalah anak Ang Siok Bi, gadis yang telah diperkosa orang yang bernama Gak Bun Beng?

“Anak baik, siapakah nama ayahmu?” Tiba-tiba dia bertanya, di dalam hatinya merasa bersyukur juga bahwa gadis yang telah terhina itu akhirnya dapat juga memperoleh jodoh dan bahkan dari perjo­dohan itu agaknya telah memperoleh anak yang dia lihat amat berbakat, berani, dan cerdik ini.

“Ayahku bernama Ang Thian Pa, sekarang telah meninggal dunia.”

Sai-cu Lo-mo tercengang. Ang Thian Pa? Bukankah Ang Thian Pa nama asli dari Ang Lojin sendiri?

“Siapa bilang bahwa nama ayahmu Ang Thian Pa?”

“Kakek aneh, siapa lagi kalau bukan ibu yang bilang? Saya tidak pernah melihat wajah ayah. Kata ibu, ayah telah meninggal dunia ketika aku berada di dalam kandungan ibu.”

Kembali kakek itu mengelus jenggot­nya. Sungguh tidak disangkanya sama sekali! Sungguh kasihan wanita yang bernama Ang Siok Bi itu. Kini dia tidak ragu-ragu lagi. Anak ini tentu anak yang terlahir akibat perbuatan Wan Keng In yang memperkosa gadis itu! Timbul rasa iba besar di dalam hatinya terhadap anak ini.

“Ang Tek Hoet, aku mau menerima kau sebagai muridku, akan tetapi syarat­nya engkau harus berani hidup sengsara dan kekurangan, ikut aku merantau dan hanya akan kulatih ilmu silat selama dua tahun, dan kelak kau sama sekali tidak boleh menyebut namaku sebagai gurumu. Bagaimana, maukah kau menerima syarat itu?”

Tek Hoat adalah seorang anak yang cerdik sekali. Dengan girang dia lalu berlutut di depan kakek lumpuh itu, mengubah sikapnya menjadi penuh hormat dan berkata, “Suhu, teecu menerima semua syarat itu, dan mohon Suhu sudi memberitahukan nama Suhu.”

“Ha-ha-ha, namaku sendiri aku sudah lupa, akan tetapi orang menyebutku Sai-cu Lo-mo, nama julukan yang dilebih-lebihkan karena singa ini sudah lumpuh!”

Mulai saat itu, Tek Hoat menjadi murid Sai-cu Lo-mo dan ke manapun juga kakek itu pergi, dia mengikutinya, melayani gurunya dengan penuh kebaktian sehingga kakek ini menjadi girang sekali lalu mengajarkan ilmu silat yang tinggi kepada Tek Hoat. Dia mengajarkan ilmu silat gabungan dari Pat-mo Sin-kun (Silat Sakti Delapan Iblis) dan Pat-sian Sin-kun (Silat Sakti Delapan Dewa) yang sudah diperbaikinya setelah kakek ini mempelajari kitab-kitab pusaka pemberi­an Nirahai, juga dia mengajarkan sin-kang yang mengandung hawa panas, juga ilmu ini adalah hasil daripada pemberian Nirahai setelah dia menjadi lumpuh kedua kakinya. Makin girang hatinya melihat ketekunan dan kecerdasan Tek Hoat berlatih dengan ilmu-ilmu ini. Mereka melakukan perantauan ke mana-mana akan tetapi selalu kakek itu meng­hindarkan diri dari persoalan dengan orang lain, bahkan selalu menyembunyi­kan diri karena memang dia sudah mual dengan persoalan di dunia, apalagi dengan permusuhan-permusuhan di antara manusia.

Patut disayangkan, dan amat tidak baik bagi Tek Hoat, kakek itu sama sekali tidak mengacuhkan tentang pendi­dikan. Dia hanya membawa muridnya merantau dan mengajar silat kepadanya, dan tentang pendidikan batin, dia sama sekali tidak mempedulikan. Padahal ketika itu Tek Hoat merupakan seorang remaja, seorang anak laki-laki yang sedang berangkat menuju kedewasaannya. Usia remaja menjelang dewasa ini meru­pakan usia yang paling gawat karena jiwa petualang yang ada dalam diri anak itu sedang menonjol mencari penyaluran dan pemuasan dari keinginantahunya akan segala macam hal.

Demikianlah, selama dua tahun itu Tek Hoat berangkat dewasa tanpa bim­bingan sama sekali, tumbuh dengan liar. Dia telah berusia enam belas tahun, memiliki kepandaian yang hebat dan wataknya aneh, sukar dijenguk isi hatinya karena pada wajahnya yang tampan itu selalu terbayang senyum dan pandang matanya yang tajam tidak membayangkan perasaan hatinya.

Setelah sekali lagi dia harus berjanji kepada Sai-cu Lo-mo bahwa dia kelak tidak akan menyebut-nyebut nama kakek ini sebagai gurunya, mereka saling berpi­sah. Tek Hoat melanjutkan perjalanan seorang diri dan pemuda ini merasa lega hatinya. Selama dekat dengan gurunya, dia tidak merasa bebas karena biarpun gurunya tidak mempedulikannya, dia mengerti bahwa gurunya tentu akan turun tangan apabila dia melakukan sesuatu yang tidak disukai gurunya. Kini dia bebas, seperti seekor burung terbang di angkasa. Dia tidak mau pulang dulu kepada ibunya, karena apa artinya pulang kalau dia tidak membawa hasil apa-apa? Dia memang sudah memperoleh hasil, yaitu ilmu yang tinggi dari Sai-cu Lo-mo, akan tetapi pemuda ini belum merasa puas. Bekal uang yang dibawanya ketika mulai meninggalkan tempat tinggalnya, hampir habis dan pakaiannya yang baik hanya tinggal dua stel lagi. Dia akan ter­lantar kalau tidak lekas mendapatkan uang dan pakaian. Padahal dia masih belum menemukan apa yang dicarinya ketika dia meninggalkan rumah ibunya, ya­itu Pendekar Siluman! Dan dia harus datang lagi ke Bu-tong-pai. Dia akan men­coba kepandaiannya lagi melawan kakek Bu-tong-pai yang dulu pernah menghajar­nya. Sebelum dapat membalas kepada kakek itu, dia akan selalu merasa penasar­an.

Demikianlah, pada pagi hari Tek Hoat tiba di kota Shen-yang, tak jauh dari ko­ta raja, lalu dia memasuki sebuah rumah makan yang baru buka dan masih kosong belum ada tamu lainnya. Hari masih ter­lalu pagi untuk makan, akan tetapi Tek Hoat yang melakukan perjalanan ja­uh yang melelahkan, bahkan semalam suntuk dia tidak berhenti berjalan, mera­sa lapar sekali. Sudah dua hari dua malam dia berpisah dari gurunya, berpisah di hutan yang berada tidak jauh dari ko­ta raja, hanya memakan waktu perjalan­an tiga hari. Maka dia ingin sekali mengunjungi kota raja, karena selama dia bersama gurunya, kakek itu tidak pernah mau memasuki kota besar, apa lagi kota raja. Dari tempat dia duduk, Tek Hoat dapat melihat kesibukan orang berlalu lalang di luar rumah makan, dan kalau dia menengok ke dalam, dia dapat mendengar pula kesibukan di sebelah be­lakang ruangan itu, agaknya di dapur, di sana orang mempersiapkan hidangan yang dipesan tamu. Terdengar suara ayam di­potong, suara orang menuangkan air, mencacah daging dan sebagainya di sebelah dalam itu. Rumah makan ini cu­kup besar, perabotnya masih baru dan agaknya termasuk rumah makan terkenal di Kota Sen-yang. Bahkan Tek Hoat da­pat melihat bayangan wanita di samping mendengar suara mereka yang merdu.

Pemuda itu makan dengan lahapnya. Masakan rumah makan itu memang terkenal enak dan perutnya lapar sekali, maka dia makan dengan penuh semangat sehingga dia tidak perduli akan masuknya serombongan tamu yang disambut dengan penuh hormat oleh dua orang pelayan. Mereka ini terdiri dari tujuh orang, rata-rata bertubuh tinggi besar dan tegap, berpakaian sebagai jagoan silat berikut lagak-lagak mereka, lagak jagoan. De­ngan hiruk-pikuk mereka menaruh golok dan pedang di atas meja, bicara dengan suara keras, tertawa-tawa, tidak memperdulikan keadaan sekelilingnya. Pendeknya, lagak jagoan-jagoan. Ketika seorang di antara mereka mendengus dan membuang ludah dengan suara menjijikkan, barulah Tek Hoat mengangkat muka memandang. Baru dia tahu bahwa di sebelah dalam, tak jauh dari pintu tembusan ruangan itu ke dalam, telah duduk tujuh orang laki-laki kasar itu mengelilingi meja besar sambil tertawa-tawa dan bercakap-cakap dengan sikap dan lagak jumawa. Akan tetapi dia tidak mau perduli lagi kepada mereka dan melanjutkan makan minum.

Tujuh orang itu adalah jagoan-jagoan kota Shen-bun yang letaknya hanya tiga puluh mil dari Shen-yang dan nama mereka amat terkenal di daerah itu sampai ke kota raja. Mereka bukanlah penjahat-penjahat atau perampok, sebalik­nya malah. Mereka adalah gerombolan orang yang tidak bekerja tetapi menjadi kaya karena kejagoan mereka, mendapat “sumbangan” dari para hartawan yang membutuhkan “perlindungan” mereka. Nama Jit-hui-houw (Tujuh Harimau Ter­bang) sudah merupakan momok bagi mereka yang kaya dan demi keamanan mereka dan harta mereka, para hartawan ini dengan rela menyerahkan sejumlah sumbangan kepada mereka setiap bulan dan hal ini memang amat menguntungkan mereka karena tidak ada penjahat berani mengganggu hartawan yang “dilindungi” oleh Jit-hui-houw! Akan tetapi, nama besar dan pengaruh mereka yang mena­kutkan itu mendatangkan kesombongan dalam hati mereka, dan biarpun mereka tidak melakukan perampokan atau keja­hatan lain secara terang-terangan, namun sering juga mereka melakukan perbuatan sewenang-wenang mengandalkan kepandai­an dan nama besar mereka.

Para pelayan rumah makan tentu saja sudah mengenal mereka biarpun baru beberapa kali Jit-hui-houw makan di tempat ini. Kalau agak siang sedikit saja, tentu mereka akan bersarapan di rumah makan lain yang lebih besar. Dengan suara ribut mereka memesan arak dan bakpauw karena bakpauw buat­an rumah makan ini memang terkenal enak. Kemudian mereka menyerang bakpauw, minum arak tanpa takaran lagi sehingga sebentar saja suara ketawa mereka makin lantang, sendau-gurau mereka makin kotor. Ketika mereka melihat berkelebatnya pakaian seorang wanita di bagian belakang rumah makan, mereka lalu berbisik-bisik, kemudian dua orang di antara mereka yang agaknya menjadi pimpinan mereka, berdiri agak terhuyung karena setengah mabok, meng­hampiri meja di mana duduk majikan rumah makan itu dan berkata, “Perut kami mulas. Kami hendak ikut ke kamar kecil di belakang.”

Pemilik rumah makan itu berubah air mukanya. Kakek yang usianya sudah lima puluh tahun lebih itu pucat dan mendapat firasat tidak enak, maka dia hanya mengangguk-angguk karena tidak berani melarang, akan tetapi sambil meneriaki seorang pelayan agar menyuruh nyonya dan nona menyingkir. Akan teta­pi, kedua orang itu sambil tertawa-tawa sudah melangkah masuk mendahului pelayan, semua pelayan yang berada di luar tidak berani masuk, muka mereka pucat sedangkan lima orang jagoan yang masih duduk di luar tertawa bergelak. Ketika kakek pemilik rumah makan, yang melihat gelagat tidak baik, bangkit dan hendak mengejar ke dalam, tiba-tiba tangannya disambar oleh seorang jagoan dan ditariknya ke meja mereka.

“Lopek yang baik, engkau sebagai tuan rumah marilah temani kami minum arak. Bukankah kita adalah sahabat-sahabat baik? Ha-ha-ha!”

“Maaf…. saya…. saya….”

“Ahhh, apakah Lopek tidak menghargai ajakan kami? Jangan khawatir, yang lopek makan dan minum menjadi tang­gung jawab kami untuk membayarnya. Ha-ha-ha!” Tangan yang menggenggam perge­langan kakek itu mencengkeram dan si kakek pemilik rumah makan meringis kesakitan dan tidak berani banyak mem­bantah lagi. Dia duduk akan tetapi mu­kanya yang pucat selalu menoleh ke dalam.

Tek Hoat sudah merasa curiga sekali sejak perhatiannya tertarik kepada tujuh orang itu. Apalagi ketika dua orang di antara mereka memasuki ruangan dalam dan melihat pula pemilik rumah makan dipaksa duduk menemani lima orang yang lain, dia mengerutkan alisnya, menduga bahwa tentu akan terjadi sesuatu. Karena Tek Hoat sudah mencurahkan perhatian­nya, mengerahkan ketajaman tenaganya, maka dia dapat menangkap suara lirih yang keluar dari ruangan dalam di sebe­lah belakang rumah makan itu, suara lirih yang tidak akan dapat tertangkap oleh pendengaran telinga biasa, suara wanita!

“Ampun…. ah, jangan….!” Dan terdengar isak tertahan karena takut.

Cepat sekali tubuh Tek Hoat meloncat dari atas bangkunya dan tubuhnya su­dah berkelebat masuk ke ruangan bela­kang.

“Haiii….!” Lima orang jagoan itu berteriak heran dan mereka sudah bang­kit semua. Akan tetapi Tek Hoat tidak mempedulikan mereka, terus menerobos masuk. Para pelayan yang berada di belakang berkelompok, berdiri ketakutan.

“Di mana mereka?” Tek Hoat berta­nya singkat.

Para pelayan itu menggerakkan muka, menunjuk dengan dagu ke arah sebuah kamar yang tertutup daun pintunya.

“Brakkkk….!” Daun pintu itu pecah diterjang Tek Hoat. Ketika dia masuk pemuda ini terbelalak penuh keheranan, akan tetapi juga kemarahan melihat betapa seorang gadis muda yang cantik sedang bergulat mempertahankan kehor­matannya dari perkosaan seorang di an­tara jagoan tadi. Bajunya sudah terobek lebar sehingga tampak baju dalamnya yang sudah terkoyak pula. Dan hal yang sama terjadi pula di sudut kamar, di atas lantai di mana seorang wanita berusia tiga puluh tahun lebih, akan tetapi cantik sekali, lebih cantik dari gadis itu, dengan tubuh yang padat menggairahkan sedang bergulat dengan jagoan ke dua. Agaknya, terlambat sedikit saja kedatangan Tek Hoat, kedua orang wanita itu, yang di atas pembaringan dan yang di atas lan­tai, tentu takkan dapat bertahan mengha­dapi tenaga kasar dua orang jagoan itu.

“Keparat!” Tek Hoat meloncat ke depan. Dua kali tangannya menyambar ke arah muka jagoan yang menengok kaget itu.

“Prak! Prak!” Dan dua orang jagoan itu terpelanting, tubuh mereka terkulai tak mampu bergerak lagi. Gadis yang ternyata sekarang kelihatan sudah tero­bek seluruh pakaiannya bagian depan, yang tadi tidak nampak karena tertindih oleh jagoan yang menyerangnya, menjerit dan berusaha menutupi tubuhnya, akan tetapi tak dapat dicegah lagi, tubuhnya yang telanjang bulat di bagian depan itu sudah terlihat oleh Tek Hoat. Pemuda ini menjadi merah mukanya, membuang muka dan menjambak rambut kedua orang jagoan, menyeretnya ke pintu kamar.

“Haiii…. siapa dia? Hayo seret ke luar!”

Lima orang jagoan sudah berlari memasuki ruangan dalam, akan tetapi tiba-tiba ada dua sosok tubuh melayang dari dalam dan menerjang mereka.

“Awas….!” Mereka cepat menyam­but terjangan dua sosok bayangan itu dengan pukulan-pukulan tangan mereka sehingga terdengar suara bak-bik-buk ketika pukulan mereka mengenai dua orang kawan itu.

“Celaka!” teriak mereka ketika meli­hat bahwa dua sosok tubuh yang kini menggeletak di depan kaki mereka itu adalah dua orang kawan mereka yang tadi mengganggu wanita di dalam, kini menggeletak dengan pakaian yang masih awut-awutan dan dengan kepala pecah. Yang mereka pukuli tadi adalah tubuh dua orang ini yang dilempar orang dari dalam dan keadaan mereka telah tidak bernyawa lagi! Dapat dibayangkan betapa besar kemarahan lima orang ini melihat dua orang saudara mereka telah tewas. Terdengar suara senjata dicabut dari sarungnya dan tampak sinar berkilauan ketika dua orang mencabut golok dan tiga orang yang lain mencabut pedang.

“Kalian juga sudah bosan hidup?”

Ucapan yang keluar dari mulut pemu­da tanggung itu terdengar lucu, sama sekali tidak menakutkan, sama sekali tidak menyeramkan, akan tetapi amatlah mengherankan dan hampir lima orang itu tidak dapat percaya akan pandangan matanya sendiri. Benarkah dua orang suheng mereka itu tewas oleh bocah ini?

Sejenak lima orang jagoan itu me­mandang dengan mata terbelalak, senjata masing-masing tergenggam di tangan. Siapa yang takkan menjadi ragu-ragu berhadapan dengan seorang pemuda remaja yang bertangan kosong ini? Pemu­da itu hanya memiliki sebuah kelebihan, yaitu ketampanannya, akan tetapi apakah artinya wajah tampan? Tubuhnya kecil dan kelihatan lemah, sama sekali bukan “potongan” jago kang-ouw. Benarkah pemuda remaja ini yang membunuh kedua orang suheng mereka?

“Siapa engkau? Dan apa yang terjadi dengan suheng kami?” tanya seorang di antara mereka sambil melangkah maju, pedangnya bersilang di depan dada.

“Kalian belum tahu mengapa dua orang ini tewas? Mereka hendak mem­perkosa wanita, maka aku telah turun tangan membunuh mereka. Dan mau tahu namaku? Aku bernama…. Gak Bun Beng.” Tek Hoat tiba-tiba saja timbul niat hatinya untuk menggunakan nama ini, nama orang yang membunuh ayahnya. Nama musuh besarnya yang telah mati. Dia sendiri tidak mengerti mengapa dia menggunakan nama itu, karena dia hanya ingin menyembunyikan namanya sendiri, masih terpengaruh oleh sikap gurunya yang tidak mau melibatkan diri dengan urusan lain. Dia hanya ingin mengguna­kan nama sembarangan saja untuk meng­gantikan nama aselinya, dan pada saat dia sedang memilih nama pengganti, tiba-tiba saja nama musuhnya itu menye­linap di kepalanya.

“Gak Bun Beng, berani kau membunuh dua orang suheng kami?” Sambil memben­tak demikian, orang berpedang itu sudah menusukkan pedangnya ke arah dada Tek Hoat. Bagi orang di daerah itu, mungkin sekali nama Jit-hui-houw sudah terkenal dan ilmu kepandaiannya mereka sudah dianggap tinggi dan sukar dicari lawan­nya, akan tetapi bagi Tek Hoat yang sudah memiliki kepandaian tinggi, gerak­an mereka terlalu lambat sehingga de­ngan mudah dia dapat mengikuti gerakan pedang yang menusuk dadanya. Dengan menggerakkan badannya miring, pedang meluncur lewat di samping tubuhnya dan secepat kilat tangan pemuda itu me­nyambar ke depan, jari tangannya menu­suk ke arah mata lawan. Gerakannya demikian cepat sehingga lawan yang terancam matanya itu terkejut, memutar pedang menangkis ke atas untuk memba­bat tangan Tek Hoat. Akan tetapi gerak­an serangan ke arah mata itu hanya tipuan belaka karena yang sesungguhnya bergerak adalah tangan kedua yang diam-diam dari bawah menyambar ke atas, mencengkeram tangan lawan yang memegang pedang dan di lain saat pedang itu sudah berpindah tangan! Dengan seenak­nya, kedua tangan pemuda itu dengan saluran sin-kang yang amat kuat mematah-matahkan pedang itu seperti orang mematah-matahkan sebatang lidi saja! Terdengar bunyi pletak-pietok dan pedang itu sudah patah-patah menjadi lima potong. Sebelum pemilik pedang sadar dari kaget dan herannya, Tek Hoat menggerakkan kedua tangannya berganti­an dan potongan-potongan pedang me­nyambar seperti anak panah cepatnya menuju ke arah tubuh pemiliknya.

Orang itu berusaha mengelak, namun luncuran potongan-potongan pedang itu terlalu laju dan jarak antara dia dan penyerangnya terlalu dekat sehingga lima potong baja itu menembus masuk ke dalam tubuhnya. Orang itu mengeluarkan pekik mengerikan dan roboh terjengkang, tewas seketika.

Empat orang anggauta Jit-hui-houw kaget setengah mati, akan tetapi juga marah sekali. Mereka mengeluarkan teriakan dahsyat lalu berbareng maju menyerang dengan senjata mereka. Penye­rangan mereka cukup hebat dan sinar pedang dan golok berkelebatan menyilau­kan mata. Para pengawal rumah makan sudah lari cerai berai.

Menghadapi serangan bertubi-tubi dari empat orang yang marah itu, Tek Hoat sudah meloncat ke luar dan mereka melanjutkan pertandingan di dalam ruang­an tamu di depan yang luas. Meja kursi beterbangan ditendangi empat orang itu ketika mereka mengejar dan mengepung Tek Hoat. Pemuda ini tenang-tenang saja, bahkan timbul sifat kekanak-kanak­annya yang hendak mengajak empat orang pengeroyoknya main kucing-kucing­an. Dia berlari ke sana ke mari mengi­tari meja, dikejar dan dihadang empat orang pengeroyoknya yang membacok atau menusuk setiap kali ada kesempat­an. Setelah puas mempermainkan mereka sambil tersenyum-senyum mengejek, Tek Hoat lalu menyambar sepasang sumpit panjang dari atas meja, sepasang sumpit bambu dan dengan senjata sederhana ini dia meloncat ke depan, kini tidak lagi melarikan diri dikejar-kejar, bahkan dia yang berbalik menyerang! Begitu menye­rang dia sudah bermain dengan ilmu silat gabungan Pat-mo-kun-hoat dan Pat-sian-kun-hoat yang dilatihnya dari Sai-cu Lo-mo. Ilmu silat ini memang dapat dilaku­kan dengan tangan kosong atau dengan senjata apapun dengan merubah sedikit gerak serangannya disesuaikan dengan senjata yang dipegangnya. Hebat bukan main gerakan pemuda ini, terlalu hebat, aneh, dan cepat bagi empat orang lawan­nya sehingga terdengar teriakan berturut-turut ketika empat orang itu dipaksa melepaskan senjata masing-masing karena pergelangan tangan atau siku lengan mereka tertusuk sumpit!

Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara tangis riuh rendah di sebelah belakang rumah makan. Mendengar itu, Tek Hoat lalu meloncat ke dalam, me­ninggalkan empat orang lawan yang sudah melepaskan senjata dan berdiri dengan muka pucat dan mata terbelalak saling pandang. Untung bagi mereka bahwa pemuda yang luar biasa itu meloncat ke dalam, kalau tidak, dengan gerakan selanjutnya tentu dengan mudah pemuda itu akan membunuh mereka setelah melucuti senjata mereka secara demikian istimewa!

Sementara itu, Tek Hoat yang mende­ngar suara tangis itu merasa khawatir kalau terjadi hal-hal yang memerlukan bantuannya, maka dia meninggalkan empat orang lawannya dan cepat berlari masuk. Melihat dia muncul, pemilik rumah makan yang berusia lima puluh tahun lebih dan isterinya yang masih muda dan cantik, cepat menjatuhkan diri berlutut di depan Tek Hoat. Pemuda ini terkejut dan juga merasa heran mengapa mereka menangis dan dia melihat gadis yang tadi hampir menjadi korban keganasan penjahat, dipegangi oleh dua orang pelayan wanita. Gadis itu menangis dan meronta-ronta, berteriak-teriak, “Lepas­kan aku! Biarkan aku mati….!”

“Harap Ji-wi (anda berdua) bangun, tidak perlu begini,” Tek Hoat berkata sambil menyingkir dari depan kedua suami isteri yang berlutut itu. “Apakah yang terjadi lagi maka ribut-ribut?”

“Taihiap (pendekar besar)…. tolong­lah kami…. kalau tidak, bukan hanya anak saya mati membunuh diri, akan tetapi kami sekeluarga tentu akan habis terbasmi….” Kakek pemilik rumah makan itu berkata sambil menangis.

“Hemm, apa maksudmu, lopek?” Tek Hoat bertanya, dan hatinya senang sekali mendengar dia disebut taihiap. Sebutan yang diidam-idamkannya. Dia seorang pendekar! Seorang pendekar besar!

“Marilah kita bicara di dalam kamar, taihiap.” Ajak kakek itu dan Tek Hoat lalu mengikutinya masuk ke dalam kamar di mana tadi kedua orang wanita itu hampir menjadi korban perkosaan.

Setelah mempersilahkan pemuda itu duduk, kakek pemilik rumah makan berkata, “Taihiap, anak perempuan saya, Siu Li, berkeras hendak membunuh diri, maka terjadi ribut-ribut sampai terdengar oleh taihiap. Dia merasa malu sekali.”

“Ah, bukankah dia tidak sampai diper­kosa?” tanya Tek Hoat, khawatir kalau-kalau dia tadi terlambat.

“Memang benar, akan tetapi taihiap mengerti, sebagai seorang gadis terhormat telah terlihat oleh seorang laki-laki dalam keadaan telanjang bulat…. hal ini menimbulkan rasa malu yang hebat….”

“Mengapa begitu?” Tek Hoat menge­rutkan alisnya. “Bukankah penjahat yang hendak memperkosanya tadi telah kubu­nuh mati?”

“Bukan penjahat itu yang dimaksudkan­nya, taihiap. Laki-laki itu adalah…. taihiap sendiri.”

“Haiii….? Eh, bagaimana pula ini….?”

“Taihiap, bukan hal itu saja yang menyusahkan hati kami, akan tetapi lebih-lebih kenyataan bahwa peristiwa ini tentu akan berekor panjang. Dari fihak petugas keamanan mudah saja diselesai­kan karena memang nama Jit-hui-houw terkenal sebagai orang-orang yang suka bertindak sewenang-wenang dan kematian mereka di warungku cukup membuktikan bahwa mereka yang menimbulkan keonar­an. Akan tetapi kami yakin bahwa mereka tentu akan menuntut balas, kawan mereka dan terutama guru mereka. Kami tentu akan dibasmi habis….” Dan kemba­li kakek itu menjatuhkan diri berlutut di depan Tek Hoat. “Kecuali kalau taihiap menolong kami sekeluarga….”

“Bagaimana aku dapat menolongmu? Ahhhh, mudah saja! Aku akan membunuh mereka semua, tentu tidak akan ada pembalasan dendam lagi!” Sebelum kakek itu sempat menjawab, tubuh Tek Hoat berkelebat lenyap dari dalam kamar dan ternyata pemuda ini sudah berlari keluar, ke ruangan tamu di depan, di mana dia tadi meninggalkan empat orang lawannya. Dia sudah membunuh yang tiga, sedang­kan yang empat lagi baru dia lucuti senjatanya saja. Akan tetapi ketika dia tiba di ruangan depan itu, empat orang anggauta Jit-hui-houw sudah tidak nam­pak bayangannya lagi sedangkan mayat tiga orang itupun sudah lenyap. Mereka telah melarikan diri sambil membawa mayat ketiga suheng mereka!

Terpaksa Tek Hoat kembali ke kamar dan dengan menyesal berkata kepada pemilik rumah makan. “Sayang sekali mengapa aku tadi tidak membunuh yang empat orang lagi.”

“Taihiap, biarpun mereka dapat melari­kan diri, kalau taihiap suka membantu kami, hidup kami akan tenteram dan mereka tentu tak akan berani lagi berma­in gila.”

“Bagaimana aku dapat menolongmu, lopek?”

“Dengan menerima permohonan kami agar taihiap sudi menjadi suami anak kami Siu Li….”

“Hahhh….?” Terbelalak sepasang mata yang tajam itu saking kagetnya. Akan tetapi dia mendengarkan juga ketika kakek itu menceritakan keadaan keluarganya. Kakek itu bernama Kam Siok yang hanya mempunyai seorang anak, yaitu gadis yang berusia tujuh belas tahun yang bernama Kam Siu Li itu. Ibu gadis itu telah meninggal dunia karena sakit, dan Kam Siok lalu menikah lagi tiga tahun yang lalu dengan seorang janda muda, yaitu wanita cantik berusia tigapuluh tahun lebih yang tadi hampir diperkosa bersama Siu Li, anak tirinya. Keadaan mereka cukup berada, karena hasil dari rumah makan itu cukup besar sehingga mereka hidup tenang dan senang. Akan tetapi siapa tahu, hari itu terjadi malapetaka yang hebat dan kalau tidak ada jalan yang baik, tentu mereka akan terancam bahaya pembalasan yang akan membasmi seluruh keluarga mereka.

“Demikianlah, taihiap. Hanya satu jalan bagi kami untuk dapat selamat, baik untuk keselamatan Siu Li agar dia tidak menanggung aib dan nekat hendak membunuh diri, maupun untuk kami sekeluarga agar terbebas dari ancaman pembalasan Jit-hui-houw.”

Pada saat itu, dua orang wanita yang tadi hampir diperkosa, memasuki kamar. Gadis yang bermuka merah sekali, de­ngan air mata bercucuran, digandeng tangannya dan agaknya dipaksa masuk oleh ibu tirinya dan bersama puterinya itu, wanita cantik isteri Kam Siok lalu menjatuhkan diri di depan Tek Hoat sambil berkata dengan suara merdu halus dan penuh daya membujuk, “Mohon kemurahan hati taihiap agar memenuhi permo­honan suami saya karena hanya taihiap­lah bintang penolong kami satu-satunya….” Muka yang cantik dengan sepasang mata yang penuh gairah menantang itu diangkat. Tek Hoat diam-diam kagum dan harus memuji kecantikan wanita ini, matanya, hidungnya, bibirnya yang me­nantang, dan belahan dadanya yang tampak karena pakaiannya yang tadi dirobek penjahat masih belum dibetulkan sama sekali. Adapun gadis yang juga berlutut sambil menunduk itu cantik pula, dengan kulit leher yang putih halus. Sungguhpun kecantikannya tidak menggai­rahkan seperti kecantikan ibu tirinya, namun, Siu Li tergolong dara yang cantik manis.

Hati Tek Hoat tertarik, bukan hanya kepada wanita-wanita itu, terutama sekali mengingat akan kekayaan kakek Kam Siok. Dia memang sudah kehabisan uang dan dia butuh sekali uang banyak dan pakaian yang indah. Apa salahnya kalau dia menerima penawaran ini?

Mulutnya tersenyum, senyum yang membuat wajahnya kelihatan makin tampan akan tetapi senyum yang sinis dan meng­andung ejekan penuh rahasia. Dia mengangguk.

“Baiklah, demi keselamatan kalian sekeluarga, aku menerima usul kalian ini.”

Kakek Kam Siok girang bukan main, maju menubruk dan merangkul calon mantunya, “Anak baik…. Thian sendiri yang agaknya menurunkan engkau dari sorga untuk menolong kami….! Kalau begitu, perayaan pernikahan dapat segera dipersiapkan. Siapakah nama orang tuamu dan di mana mereka tinggal? Eh, siapa pula namamu? Ha-ha-ha, betapa lucunya. Seorang mertua tidak tahu nama mantunya!”

“Tidak perlu repot-repot, lopek. Aku seorang yang sebatangkara, tiada tempat tinggal tiada keluarga. Namaku…. Gak Bun Beng.”

Dapat dibayangkan betapa girangnya hati keluarga Kam Siok ketika Tek Hoat menerima permintaan mereka. Kam Siok merasa terlindung keluarganya, Kam Siu Li merasa tertebus aibnya apalagi mem­peroleh suami yang amat tampan dan gagah perkasa, hal yang sama sekali tak pernah dimimpikan karena dia hanyalah anak seorang anak pemilik rumah makan! Dan ada orang yang diam-diam merasa girang sekali dan memandang hari depan penuh harapan. Orang ini adalah Liok Si, isteri Kam Siok yang masih muda dan cantik. Dengan mata haus dia meman­dang pemuda calon mantu tirinya itu dan hatinya bergelora panas. Dia tentu saja tidak pernah memperoleh kepuasan batin dari suaminya yang dua puluh lima tahun lebih tua daripada dia dan dia memang mau menjadi isteri pemilik rumah makan itu karena mengharapkan jaminan kecu­kupan dunia. Akan tetapi, diam-diam dalam waktu tiga tahun ini, hatinya menderita dan matanya selalu menyam­bar seperti mata burung elang melihat tikus gemuk setiap kali dia melihat seorang pria muda yang tampan. Dan betapapun hatinya merindu, kesempatan tidak mengijinkan sehingga selama ini dia seperti orang kehausan yang tak pernah mendapatkan kepuasan. Akan tetapi sekarang, kesempatan terbuka lebar di depan mata! Seorang pemuda tampan berada serumah dengan dia dan agaknya akan leluasalah dia mendekati pemuda itu, karena bukankah pria muda ini mantunya?

Pesta pernikahan dilangsungkan meri­ah juga. Karena rumah makan itu sudah terkenal dan mempunyai banyak langgan­an, maka perkawinan antara puteri pemi­lik rumah makan dengan “Gak Bun Beng” ini mendapat kunjungan banyak sekali tamu. Selain sebagai langganan, juga para tamu itu ingin sekali menyaksikan pemuda yang telah menggemparkan kota Shen-yang, pemuda yang kabarnya telah merobohkan tujuh orang Jit-hui-houw, bahkan membunuh tiga orang di antara mereka! Sebentar saja nama Gak Bun Beng terkenal di seluruh kota dan sekitarnya, dan lebih menggemparkan lagi ketika sisa Jit-hui-houw yang tinggal empat orang itu kini tidak tampak lagi di Shen-bun, sudah menghilang entah ke mana! Diam-diam banyak orang yang merasa lega dan bersyukur kepada pemuda asing ini.

Ketika sepasang mempelai dipertonton­kan kepada umum, para tamu kagum sekali melihat Tek Hoat. Tak mereka sangka bahwa pemuda yang telah mero­bohkan Jit-hui-houw itu masih demikian muda. Seorang pemuda remaja yang luar biasa tampan dan gagahnya! Betapa untungnya Kam Siong memperoleh seo­rang anak mantu seperti itu, dan lebih untung lagi anak perawannya yang ham­pir diperkosa anggauta Jit-hui-houw, tidak saja terbebas dari malapetaka pemerkosa, bahkan telah memperoleh seorang suami yang demikian gagah perkasa dan tampan!

Pada saat para tamu sedang bergembi­ra menghadapi hidangan, tiba-tiba terjadi kegaduhan dan banyak tamu yang sudah bangkit berdiri dan menyingkir ke tempat aman ketika mereka melihat datangnya lima orang yang membuat mereka terke­jut. Ada tamu yang sampai terbatuk­hatuk karena makanan yang baru saja dijejalkan ke mulut itu tersesat jalan ketika matanya mengenal empat orang dari Jit-hui-houw yang datang itu dengan sikap garang, mengiringkan seorang kakek gemuk pendek yang pakaiannya penuh tambalan dan tangannya memegang sebatang tongkat baja berwarna hitam!

Gegerlah suasana pesta ketika empat orang Jit-hui-houw itu menendangi meja kursi dalam kemarahan mereka karena meja kusi menghalang jalan. Tamu-tamu lari cerai-berai dan hanya berani menon­ton dari tempat jauh walaupun ada pula sebagian para tamu yang berhati tabah tetap berada di tempat pesta itu, berdiri agak jauh di pinggiran.

Dapat dibayangkan betapa paniknya fihak tuan rumah. Biarpun mereka sudah menduga-duga bahwa setiap waktu fihak Jit-hui-houw tentu akan mengacau dan datang membalas dendam, dan biarpun mereka sudah percaya penuh akan perlin­dungan Tek Hoat, namun melihat muncul­nya empat orang Jit-hui-houw bersama seorang jembel tua yang menyeramkan itu, mereka menjadi pucat ketakutan. Kam Siok sendiri sudah menarik tangan anak isterinya ke sebelah dalam, bersembunyi di dalam kamar, kemudian dia sendiri mengintai keluar dengan jantung berdebar tegang.

Tentu saja Tek Hoat merasa merah sekali menyaksikan betapa lima orang itu datang mengacaukan perayaan pesta pernikahannya. Akan tetapi sambil tersenyum pemuda ini melangkah lebar ke ruangan depan yang sudah sunyi itu. Sunyi sekali di situ karena semua orang, yang dekat maupun yang menonton dari jauh, tidak ada yang mengeluarkan suara, bahkan mereka itu seperti menahan napas melihat pemuda yang menjadi pengantin itu melangkah menghampiri lima orang yang sudah berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang lebar dan bersikap menantang itu.

Setelah berhadapan dengan lima orang itu, Tek Hoat berkata sambil tersenyum mengejek dan memandang empat orang sisa Jit-hui-houw, “Beberapa hari yang lalu aku tidak sempat membunuh kalian apakah sekarang kalian datang untuk menyerahkan nyawa?”

Empat orang itu mencabut pedang dan golok, muka mereka merah sekali dan mata mereka mendelik. “Suhu, inilah jahanam yamg telah membunuh tiga su­heng itu!” kata seorang di antara mereka.

Kakek tua berpakaian jembel itu memandang dengan mata terbelalak penuh keheranan. Dia adalah Sin-houw Lo-kai (Jembel Tua Harimau Sakti), seorang pertapa di hutan yang letaknya di luar kota Shen-bun, tinggal di sebuah kuil tua yang kosong dan hidupnya dija­min oleh tujuh orang muridnya, yaitu Jit-hui-houw yang terkenal itu.

Tujuh orang muridnya telah memiliki kepandaian hebat, dan biarpun tak dapat dikatakan luar biasa, namun sukarlah dicari orang yang dapat menghadapi mereka bertujuh kalau maju bersama. Mendengar penuturan empat orang murid­nya bahwa tiga di antara mereka tewas oleh seorang musuh, dia menyangka bahwa murid-muridnya itu tentu dikalah­kan seorang kang-ouw yang ternama. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa heran dan kagetnya ketika empat orang muridnya memperkenalkan seorang pemuda remaja yang menjadi pengantin ini yang menjadi pembunuh tiga orang murid­nya! Dia merasa penasaran sekali. Demi­kian lemahkah murid-muridnya sehingga kalah oleh seorang pemuda yang masih hijau ini? Sukar untuk dipercaya. Kini melihat pemuda tanggung itu, yang kelihatannya masih belum dewasa benar, berdiri tenang tanpa senjata apapun, dia segera membentak kepada empat orang muridnya, “Kalau begitu tunggu apa lagi kalian? Hayo balaskan kematian tiga orang suhengmu!”

Empat orang itu sebetulnya merasa jerih karena mereka sudah maklum beta­pa lihainya pemuda yang kelihatan lemah ini. Akan tetapi karena suhu mereka yang memerintah, dan pula mereka mengandalkan suhu mereka yang tentu akan membantu mereka, maka begitu mendengar perintah ini mereka sudah menerjang maju dengan teriakan-teriakan garang, senjata mereka berkelebat me­nyambar ke arah tubuh Tek Hoat. Pemuda ini biarpun mulutnya tersenyum, namun hatinya panas seperti dibakar saking marahnya. Melihat dua batang pedang dan dua batang golok menyambarnya, dia bergerak cepat sekali, tubuhnya lenyap menjadi bayangan yang menyelinap di antara sambaran sinar senjata lawan, tangan kakinya bergerak dan terdengar suara berkerontangan ketika empat buah senjata itu terlepas dari tangan para pemegangnya yang terkena tamparan dan tendangan, kemudian sebelum mereka sempat mundur dan sebelum kakek jem­bel itu sempat menolong murid-muridnya, Tek Hoat sudah berkelebat cepat sekali, jari-jari tangannya menyambar ke arah kepala dan berturut-turut terdengar pekik kengerian disusul robohnya empat orang Jit-hui-houw itu. Mereka roboh dan berkelojotan sebentar lalu diam tak bergerak, mati dengan kepala berlubang karena tusukan dua jari tangan Tek Hoat!

Peristiwa ini terjadi dengan sedemiki­an cepatnya sehingga sukar diduga terle­bih dulu. Sin-houw Lo-kai yang melihat empat orang muridnya roboh dan tewas terbelalak kaget dan hampir dia tidak dapat menahan kemarahan dan kedukaan hatinya. Kini semua muridnya, ketujuh Jit-hui-houw telah tewas semua, dan kesemuanya dibunuh oleh pemuda yang luar biasa ini! Dia mengeluarkan gereng­an seekor harimau, kemudian membentak, “Bocah kejam! Siapakah namamu? Siapa pula gurumu? Mengakulah sebelum Sin-­houw Lo-kai turun tangan membunuhmu!”

Tek Hoat tersenyum mengejek. “Perlu apa menanyakan nama guruku? Aku bukanlah seorang pengecut macam murid-muridmu yang belum apa-apa sudah merengek dan minta bantuan gurunya! Namaku adalah Gak Bun Beng.”

“Keparat sombong! Engkau telah berhutang tujuh nyawa muridku, hari ini aku Sin-houw Lo-kai harus mengadu nyawa denganmu!” Setelah berkata demi­kian, kakek jembel itu lalu menggerakkan tongkatnya dan menyerang. Karena dia tahu akan kelihaian pemuda itu, maka dia tidak sungkan-sungkan lagi menyerang seorang lawan yang masih begitu muda dan bertangan kosong, menggunakan tongkatnya yang ampuh.

Melihat tongkat menyambar-nyambar dan berbunyi bercuitan, mengeluarkan angin yang berputaran, maklumlah Tek Hoat bahwa kepandaian kakek ini tidak boleh dipandang ringan. Dibandingkan dengan kakek ini, ternyata murid-murid­nya hanyalah gentong kosong belaka! Tongkat yang butut itu ternyata terbuat daripada baja yang kuat dan berat.

Dengan hati-hati sekali Tek Hoat melayani lawannya dengan ilmu silat yang dipelajarinya dari ibunya. Tubuhnya gesit sekali ketika mengelak ke sana­-sini, kadang-kadang meloncat kalau tongkat lawan menyambar dari ping­gang ke bawah dengan lompatan yang ringan dan tinggi.

“Haiit, kau murid Bu-tong-pai!” Kakek itu menahan tongkatnya dan membentak.

Akan tetapi Tek Hoat tidak menja­wab, bahkan menggunakan kesempatan itu untuk tiba-tiba menubruk ke depan, mainkan ilmu silatnya yang amat aneh dan ampuh, yang dilatihnya dari Sai-cu Lo-mo. Melihat pemuda itu menerjang­nya, kakek jembel itu cepat mengelak lalu memutar tongkatnya. Akan tetapi berkali-kali dia berteriak kaget karena hampir saja tubuhnya kena dihantam lawan yang memainkan ilmu silat amat aneh. Ilmu silat pemuda itu dasarnya seperti Pat-kwa-kun, akan tetapi jauh berbeda, terisi penuh tipu muslihat dan keganasan, namun mengandung tenaga yang amat kuat. Itulah ilmu silat gabung­an Pat-sian-sin-kun dan Pat-mo-sin-kun, sedangkan hawa pukulan yang keluar dari kedua telapak tangannya amat panas! Sekali ini, Sin-houw Lo-kai benar-benar terkejut dan tidak dapat dia mengenal lagi ilmu silat yang dimainkan Tek Hoat. Kalau tadi, ketika pemuda itu mengguna­kan ilmu silat yang dia kenal sebagai ilmu silat Bu-tong-pai, dia dapat mende­sak, akan tetapi begitu pemuda itu mainkan ilmu silat yang amat aneh ini, tongkatnya hanya dipergunakan untuk melindungi tubuhnya. Dia merasa seolah­-olah pemuda itu telah berubah menjadi delapan orang yang menyerangnya dari delapan penjuru! Kakek itu makin kaget dan penasaran, akan tetapi dia harus melindungi tubuhnya dari hantaman-­hantaman yang disertai hawa panas membara yang keluar dari kedua telapak tangan pemuda itu. Maka dia lalu memu­tar tongkatnya yang berat sehingga tongkat itu berubah menjadi segulung sinar hitam yang menyelimuti tubuhnya.

Tek Hoat juga merasa penasaran. Pemuda ini terlalu mengandalkan dirinya sendiri, terlalu percaya bahwa dia akan sanggup mengalahkan lawannya yang manapun juga, apalagi setelah dia men­jadi murid Sai-cu Lo-mo selama dua tahun. Kini mampu mengalahkan kakek jembel itu biarpun mereka sudah ber­tanding selama seratus jurus, dia me­rasa penasaran bukan main. Akan tetapi dia tetap keras kepala, tidak mau meng­gunakan senjata. Dia harus mampu me­ngalahkan kakek itu dengan tangan kosong saja!

“Mampuslah….!” Tiba-tiba kakek itu membentak dan tiba-tiba tangan kirinya bergerak.

“Cuat-cuat-cuattttt….!” tiga sinar putih menyambar ke arah tubuh Tek Hoat. Pemuda ini cepat mengelak dari serangan piauw (senjata runcing yang dilontarkan), akan tetapi tiba-tiba kaki­nya tersandung bangku dan dia terguling roboh! Tentu saja Sin-houw Lo-kai menja­di girang sekali. Cepat dia menubruk ke depan dan tongkatnya dihantamkan seku­at tenaganya ke arah kepala lawannya.

“Siuuuuttt…. plakkk!” Tongkat menyambar turun dan cepat bagaikan kilat Tek Hoat sudah meloncat ke atas. Kiranya dia tadi hanya pura-pura jatuh untuk memancing perhatian lawan. Keti­ka melihat lawannya menghantamkan tongkat ke atas kepalanya, Tek Hoat meloncat dan menangkap tongkat itu di tengah-tengah dengan tangan kiri, sedang­kan tangan kanannya menampar ke arah tangan lawan yang masih memegang tongkat.

Kakek itu mengeluh dan terpaksa membiarkan tongkatnya terampas oleh Tek Hoat yang telah membetotnya sam­bil mengerahkan tenaga. Tentu saja kakek itu tidak dapat mempertahankan tamparan Tek Hoat yang dilakukan de­ngan pengerahan sin-kang yang amat panas, sin-kang yang dilatihnya di bawah bimbingan Sai-cu Lo-mo.

Kini Tek Hoat berdiri tegak setelah tadi meloncat ke belakang sambil mem­bawa tongkat rampasannya. Adapun kakek itu telah bersiap untuk bertanding mati-matian, matanya menjadi merah dan mulutnya seolah-olah mengeluarkan uap panas.

“Ha-ha, tongkatmu ini tidak ada gunanya, Sin-houw Lo-kai.” Sambil berka­ta demikian, pemuda itu menekuk-nekuk tongkat baja yang kuat itu dengan kedua tangannya dan tongkat itu tertekuk sampai bengkok-bengkok seperti ular! Dengan senyum mengejek pemuda itu melemparkan tongkat itu ke atas lantai kemudian melangkah maju menghampiri lawannya.

Pucatlah wajah kakek itu. Dia mak­lum bahwa biarpun lawannya masih muda sekali, namun ternyata memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi dan memi­liki tenaga sin-kang yang amat kuat. Dia tahu bahwa dia bukanlah tandingan pemuda ini, akan tetapi setelah pemuda itu membunuh semua muridnya, setelah pemuda itu begitu menghina dan meman­dang rendah kepadanya, tentu saja dia merasa lebih baik mati daripada mundur!

Dia mengeluarkan pekik melengking penuh kemarahan, tubuhnya meloncat ke atas dan menubruk seperti seekor hari­mau. Memang kakek ini terkenal lihai dengan Ilmu Silat Harimau sehingga julukannya Harimau Sakti, bahkan ketujuh orang muridnya yang tewas itupun terke­nal dengan julukan Tujuh Harimau Ter­bang. Lawan yang ditubruk oleh jurus paling ampuh dari ilmu silatnya ini tentu akan menjadi panik, dan gerakan menu­bruk ini banyak sekali perkembangannya. Akan tetapi Tek Hoat yang kini sudah merasa yakin bahwa tenaganya masih lebih kuat daripada kakek itu, meman­dang rendah serangan ini dan dia bahkan menyambut serangan lawan dan siap mengadu tenaga! Maka ketika kakek itu menubruk, dengan kedua tangan dikem­bangkan dan jari-jari tangan terbuka seperti cakar harimau, Tek Hoat juga mengembangkan kedua lengannya dan menerima kedua tangan lawan itu dengan tangannya sendiri.

“Plak! Plak!”

Dua pasang telapak tangan itu berte­mu dan mulailah terjadi adu tenaga sin-kang yang dilakukan tanpa bergerak namun yang kehebatannya tidak kalah dengan adu kecepatan kaki tangan tadi. Kakek itu berdiri dengan kedua kaki terpentang, mukanya beringas seperti muka harimau marah, tubuhnya agak merendah, dia mengerahkan seluruh tenaganya. Tek Hoat berdiri biasa saja, senyumnya masih menghias mulutnya, matanya tajam bersinar-sinar, wajahnya berseri dan diam-diam dia mengerahkan Yang-kang yang mengandung hawa panas itu. Dua pasang lengan itu sampai terge­tar hebat dalam adu tenaga itu, akan tetapi lambat laun kakek jembel itu sukar dapat mempertahankan diri lagi karena hawa panas itu makin mendesak dan makin membakar seolah-olah hendak membakar seluruh tubuhnya. Dia dapat mempertahankan dorongan tenaga sin-kang lawan, akan tetapi menghadapi hawa panas yang meresap ke dalam tubuhnya itu dan membuat dadanya seperti akan meledak, dia merasa tersiksa sekali.

Tek Hoat makin memperkuat dorong­annya makin mengerahkan sin-kangnya sehingga dari telapak tangannya menge­pul uap panas. Kakek itu meringis, makin menderita dan akhirnya kedua kakinya gemetaran, perlahan-lahan lututnya ter­tekuk, makin lama makin rendah dan akhirnya dia jatuh berlutut dan tubuhnya gemetar semua.

Untuk kesekian kalinya Tek Hoat mengerahkan tenaganya, terutama pada tangan kanannya yang sudah menekan tangan kiri lawan.

“Krekkk….! Aughh….!” Sin-houw Lo-kai memekik kesakitan, akan tetapi pekiknya menjadi memanjang, menjadi lengking mengerikan ketika tangan kanan Tek Hoat secepat kilat sudah melepaskan tangan kiri lawan dan menyambar ke arah kepala lawan. Jari tangannya, telun­juk dan jari tengah, menusuk dan masuk semua ke dalam kepala kakek itu. Tubuh kakek itu berkelejotan dan ter­lempar keluar ketika Tek Hoat menen­dangnya, tak lama kemudian tubuhnya tak bergerak lagi, mati seperti empat orang muridnya.

Kakek Kam Siok dan para tamu yang menyaksikan pertandingan itu dan meli­hat betapa lima orang pengacau itu telah ­tewas semua, segera menghampiri Tek Hoat dan mertua yang merasa amat girang dan lega ini merangkul mantunya dengan penuh kebanggaan. Mayat lima orang itu cepat diurus dan kakek Kam Siok membereskannya persoalan itu dengan pembesar setempat. Banyak sekali saksinya bahwa lima orang itulah yang datang mengacau, maka Tek Hoat tidak dituntut, apalagi karena Kam Siok berani mengeluarkan banyak hadiah untuk para petugas yang mengurus persoalan itu.

Pesta perkawinan dilanjutkan dengan meriah dan kegagahan Tek Hoat menjadi bahan percakapan para tamu. Nama “Gak Bun Beng” terkenal sekali dan semua orang merasa kagum akan kegagahan pemuda yang masih muda sekali itu dan menyatakan betapa untungnya Kam Siok memperoleh seorang mantu seperti itu.

Akan tetapi hanya orang luar saja yang menganggap bahwa keluarga Kam berbahagia dengan munculnya pemuda tampan dan gagah itu, karena orang luar tidak tahu keadaan sebenarnya. Adapun kakek Kam Siok dan puterinya, Kam Siu Li, menderita tekanan batin hebat ketika beberapa hari saja setelah pesta pernikah­an itu berlangsung, secara terang-terang­an pemuda itu bermain gila dengan si ibu tiri! Tek Hoat yang masih hijau dalam soal asmara, tentu saja tidak dapat melawan godaan Liok Si yang selain cantik sekali, juga pandai merayu dan bergaya itu. Dengan mudah Tek Hoat dapat ditundukkan dan terjatuh ke dalam pelukan ibu tiri ini. Mungkin karena mengandalkan kelihaian Tek Hoat, Liok Si berani melakukan perjinaan dengan mantu tirinya ini secara berte­rang! Dia seolah-olah menantang suaminya dan anak tirinya! Merayu, merangkul dan mencium mantunya da depan suami dan anak tirinya bukan merupakan hal yang aneh baginya! Adapun Tek Hoat yang masih hijau, menurut saja karena dia mendapatkan kenikmatan yang luar biasa dalam hubungannya dengan Liok Si, kenikmatan yang tak dapat dia rasakan bersama isterinya yang juga sama-sama belum berpengalaman dan masih hijau seperti dia dalam bercumbu rayu.

Dapat dibayangkan betapa hancur hati Siu Li dan betapa marah dan malu rasa hati Kam Siok. Akan tetapi apa yang dapat mereka lakukan? Mereka berhutang budi, bahkan berhutang nyawa kepada “Gak Bun Beng”, dan mereka takut sekali kepada pemuda ini. Ayah dan anak ini hanya dapat bertangis-tangisan jika mereka berdua saja, menyesali nasib mereka yang sangat buruk. Sedangkan Tek Hoat hampir selalu berada di dalam kamar Liok Si, bermain-main dan bersen­dau-gurau sebebas-bebasnya, siang malam!

Barulah terjadi geger bagi orang­-orang di luar rumah makan itu ketika sebulan kemudian setelah pesta pernikah­an yang menghebohkan itu, terjadi ribut-­ribut di rumah makan dan semua orang terkejut ketika mendengar bahwa kakek Kam Siok dan puterinya, Kam Siu Li si pengantin baru, tahu-tahu telah kedapat­an mati di dalam kamarnya dengan kepala berlubang bekas tusukan jari tangan! Pada malam itu, si pengantin pria yang gagah perkasa itu kebetulan sedang pergi ke luar kota. Ketika Tek Hoat pada pagi harinya datang dan menyaksikan isterinya dan ayah mertua­nya sudah tewas dan dirubung para tetangga, dia marah sekali, memaki­maki dan menantang-nantang. “Jahanam keparat!” teriaknya nyaring. “Ini tentu perbuatan teman-teman Jit-hui-houw! Pengecut benar! Mengapa membunuh orang yang tak bersalah dan lemah? Kalau memang berani, hayo datang dan lawanlah aku!”

Semua orang membenarkan dugaan pemuda ini bahwa pembunuhnya tentulah kawan-kawan dari Jit-hui-houw yang membalas dendam, maka mereka diam-­diam merasa kasihan kepada pemuda yang mengagumkan hati mereka itu. Demikianlah pendapat orang luar. Akan tetapi di sebelah dalam rumah itu, Tek Hoat dan Liok Si tertawa-tawa meraya­kan kemenangan mereka dan Tek Hoat membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan kekasihnya yang pandai merayu. Pembunuhan itu tentu saja dilakukan oleh Tek Hoat sendiri atas bujukan Liok Si dan semua harta benda peninggalan Kam Siok tentu jatuh ke tangan mereka.

Akan tetapi, kemesraan di antara mereka berdua tidak dapat bertahan lama. Tek Hoat suka kepada Liok Si yang cantik genit itu hanya karena dorongan nafsu yang dibangkitkan oleh Liok Si yang pandai merayu. Setelah nafsu berahi terlampiaskan, yang muncul hanya kebosanan dan kemuakan. Demiki­an pula dengan Tek Hoat, pemuda hijau yang salah didik ini. Dia mulai merasa bosan dan sebulan kemudian, sering kali dia keluar rumah, bahkan bermalam di kota lain. Jiwa perantauannya timbul kembali dan dia mulai tidak kerasan berada di rumah makan itu. Hal ini tentu saja mengecewakan hati Liok Si, juga membuatnya sengsara. Wanita yang haus cinta ini mana mungkin disuruh melewatkan malam-malam sunyi dan sendirian saja? Mulailah dia mengerling­kan matanya yang bagus itu kepada seorang pemuda tetangga, yang biarpun tidak setampan Tek Hoat, namun memi­liki tubuh tinggi besar sehingga cukup membangkitkan gairahnya. Akhirnya, apabila Tek Hoat tidak bermalam di rumah, Liok Si berhasil memikat pemuda itu memasuki kamarnya di mana dia memuaskan semua kehausannya.

Pada suatu malam, tidak seperti biasanya, Tek Hoat pulang dan pemuda ini memasuki rumah melalui genteng. Ketika dia mendorong daun pintu kamar Liok Si, dia melihat Liok Si dan pemuda tinggi besar itu di atas pembaringan! Tanpa memberi kesempatan kepada mereka untuk mengeluarkan suara, dua kali tangannya menyambar dan dua tubuh yang telanjang itu berkelojotan sebentar, kemudian diam dan mati dengan kepala berlubang bekas tusukan jari tangan!

Diam-diam Tek Hoat mengumpulkan semua perhiasan Liok Si dan semua uang emas dan perak peninggalan kakek Kam, dibuntal dengan bungkusnya, kemudian menjelang pagi dia melompat ke atas genteng sambil mengerahkan khi-kangnya berteriak keras, “Pembunuh! Hendak lari ke mana kau?” Dan dia berkali-kali berteriak “Pembunuh!” sampai para te­tangga terkejut dan keluar.

Setelah semua tetangga masuk dan melihat tubuh Liok Si dan si pemuda tinggi besar yang mereka kenal adalah pemuda tetangga terkapar di atas pem­baringan dalam keadaan telanjang bulat dan mati dengan kepala berlubang, mere­ka terkejut sekali dan keadaan kembali menjadi geger. Tek Hoat lalu mencerita­kan betapa malam itu dia tidur nyenyak, dan bahwa dia tahu ibu mertuanya se­dang kedatangan kekasihnya akan tetapi dia tidak berani mencampurinya. Kemu­dian dia terbangun oleh suara ribut, ketika dia meloncat dan naik ke atas genteng, dia melihat berkelebatnya ba­yangan yang gesit sekali. Dia berusaha mengejar akan tetapi bayangannya ditelan kegelapan malam.

“Dia lihai sekali!” demikian dia me­nyambung. “Tentu dialah orangnya yang telah membunuh isteriku, dan yang seka­rang kembali datang membunuh ibu mertua dan kekasihnya. Bedebah dia! Aku akan mencarinya sampai dapat! Aku tidak akan kembali ke sini sebelum aku dapat membunuh penjahat itu!” Demikian Tek Hoat mengakhiri sandiwaranya, kemudian dia menyerahkan rumah yang harta bendanya telah dikuras itu kepada tetangga di sebelah. Setelah itu, pergilah Tek Hoat membawa buntalan pakaian dan harta benda yang lumayan banyaknya. Semua orang merasa kasihan kepada pemuda perkasa ini, dan nama “Gak Bun Beng” menjadi kenangan mereka di kota itu.

Akan tetapi, banyak di antara para tetangga yang mulai merasa curiga kepada pemuda itu. Mengapa pembunuhan selalu terjadi tanpa setahu pemuda itu? Dan mengapa pula para kawan Jit-hui-­houw yang semua terbunuh oleh pemuda itu membalas sakit hatinya kepada kelu­arga Kam, bukan kepada si pemuda? Dan semua yang tewas itu berlubang kepala­nya! Mereka teringat betapa mayat lima orang yang mengacau pesta pernikahan dahulu itu, si kakek jembel bersama empat orang Jit-hui-houw juga mati dengan kepala berlubang! Dan si tetangga yang diserahi rumah makan, mendapatkan kenyataan bahwa rumah makan itu hanya tinggal perabotnya saja, semua harta benda yang berharga telah lenyap!

Kembali gegerlah kota Shen-yang! Berita tentang kenyataan-kenyataan itu cepat tersebar luas dan timbullah dugaan bahwa si pembunuh keluarga Kam itu tentu bukan lain pemuda Gak Bun Beng itu sendiri! Apalagi setelah terdapat kenyataan bahwa pemuda itu tidak per­nah kembali lagi ke Shen-yang, terkenal­lah nama Gak Bun Beng, kini bukan sebagai pemuda mantu Kam Siok yang gagah perkasa, melainkan sebagai seorang pemuda kejam dan jahat! Dan dugaan ini diperkuat dengan adanya berita yang memasuki kota Shen-yang melalui para pendatang bahwa di dunia kang-ouw kini muncul seorang penjahat muda yang terkenal dengan julukan Si Jari Maut!

Sementara itu, Tek Hoat yang dihe­bohkan di kota Shen-yang dan Shen-bun dengan nama Gak Bun Beng, telah me­ninggalkan kota itu dengan hati lega. Dia telah terbebas dari ikatan yang amat tidak menyenangkan dan amat membo­sankan hatinya. Tentu saja ketika dia menerima penawaran kakek Kam Siok untuk menikah dengan Siu Li, pada saat itu dia terpengaruh untuk menolong mereka, akan tetapi sama sekali dia tidak berniat untuk selamanya menjadi seorang suami yang terikat di rumah makan itu! Kebetulan dia mendapat jalan dengan bujuk rayu Liok Si. Akhirnya, setelah membunuh semua keluarga Kam, dia pergi sambil membawa harta benda mereka. Kini tidak khawatir lagi akan kehabisan bekal di jalan.

Akan tetapi, buntalannya yang berisi banyak emas dan perak itu menarik perhatian para penjahat yang bermata tajam. Namanya yang belum terkenal membuat para perampok makin berani dan banyaklah perampok yang mencoba untuk merampas buntalan pemuda remaja ini. Akan tetapi mereka kecele karena perampok yang bagaimana lihaipun, begitu bertemu dengan pemuda ini, tentu akan dihajar habis-habisan dan banyak pula yang tewas dengan kepala berlu­bang. Maka gegerlah dunia kang-ouw dengan munculnya seorang tokoh baru, seorang pemuda berjari maut dan segera terkenallah julukan Si Jari Maut. Akan tetapi Tek Hoat tidak pernah mau mem­perkenalkan namanya sendiri, dan kalau terpaksa dia harus mengaku, maka dia sengaja memakai nama Gak Bun Beng! Hal ini adalah karena dia ingin orang membenci musuh besarnya yang telah meninggal dunia itu, pula, dia merasa bahwa belum waktunya dia memperkenal­kan nama sebelum dia mencapai keduduk­an sebagai seorang gagah nomor satu di dunia ini! Dan untuk membuktikan bahwa dia adalah orang terpandai, dia harus lebih dulu bisa mengalahkan pendekar yang diagung-agungkan ibunya, yaitu Pendekar Siluman Majikan Pulau Es! Kalau sudah begitu, barulah dia akan memperke­nalkan namanya sendiri.

Ketika Tek Hoat tiba di luar kota raja, di dalam sebuah hutan yang biasa didatangi oleh para bangsawan untuk berburu binatang, dia mengalami hal yang sekaligus membuka matanya dan menyatakan kepadanya bahwa sebetulnya ilmu kepandaiannya masih jauh untuk mencapai tingkat jagoan nomor satu di dunia, dan juga membuka matanya bahwa selama ini dia terlalu memandang tinggi tingkat kepandaiannya sendiri dan bahwa yang dikalahkannya semua itu hanyalah penjahat-penjahat kelas rendahan saja!

Pengalaman yang mengejutkan hatinya ini terjadi ketika dia sedang berjalan seorang diri di dalam hutan itu, sebuah hutan yang penuh dengan pohon-pohon besar dan kaya dengan burung-burung dan binatang hutan. Selagi dia menikmati suara burung dan melihat kelinci dan kijang lari ketakutan melihat dia datang, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan di belakangnya datang lima ekor kuda yang membalap. Jalan dalam hutan itu sempit, akan tetapi dia tidak mau ming­gir, hendak dilihatnya apa yang akan dilakukan lima orang penunggang kuda itu kalau dia tidak mau minggir!

“Haiii….! Minggir….!” Penunggang kuda terdepan berseru.

Akan tetapi Tek Hoat tidak mau minggir, bahkan membalikkan tubuhnya dan memandang dengan senyum sindir. Penunggang kuda terdepan sudah tiba dekat dan mendadak orang itu, seorang berpakaian perwira yang berwajah tam­pan bertubuh tegap, mengulurkan tubuh­nya dari atas kuda ke arah Tek Hoat dan tahu-tahu tubuh Tek Hoat sudah ditangkap dan diangkatnya tinggi-tinggi tanpa pemuda ini dapat mengelak lagi!

“Bocah, apakah kau sudah bosan hidup maka tidak mau minggir?” Bentak perwi­ra itu sambil melemparkan tubuh Tek Hoat ke samping. Tubuh Tek Hoat melun­cur dan anehnya, tanpa dia mengerahkan gin-kangnya, tubuhnya melayang perlahan dan tiba di atas tanah dalam keadaan berdiri! Dia cepat memandang dan meng­ikuti lima orang penunggang kuda itu dengan mata terbelalak. Tahulah dia bahwa perwira itu selain bertenaga besar juga memiliki kepandaian hebat! Dia menjadi penasaran sekali. Masa dia kalah oleh orang itu? Dengan hati penasaran dan ingin sekali mencoba kepandaiannya melawan orang tadi, Tek Hoat lalu berlari mengejar ke dalam hutan.

Tak lama kemudian dia melihat lima orang penunggang kuda itu di tengah hutan. Mereka sudah turun dari kuda dan binatang tunggangan mereka sedang makan rumput, sedangkan mereka sendiri duduk di bawah pohon, menghapus keri­ngat dan memandang kepada seorang wanita yang masih duduk di atas kuda­nya, seorang wanita yang amat cantik dan berpakaian amat indah. Tek Hoat menyelinap dan bersembunyi, memandang dengan mata kagum. Wanita itu sebaya ibunya, akan tetapi bukan main cantiknya dan bukan main mewah dan indah pakai­annya. Kudanyapun merupakan kuda yang tinggi besar dan kuat, dan wanita itu tiada hentinya memandang ke depan. Ketika Tek Hoat memandang pula, dia hampir berteriak saking kagetnya. Di depan wanita itu kelihatan seekor hari­mau yang besar sedang bersiap-siap untuk menubruk! Kuda tunggangan wanita itu kelihatan gelisah sekali, dan lima ekor kuda lain yang tadinya makan rumput juga mulai gelisah ketika harimau besar itu muncul. Namun, lima orang laki-laki yang duduk di bawah pohon kelihatan tenang-tenang saja memandangi wanita itu, sedangkan wanita cantik itu sendiri juga duduk di atas punggung kudanya dengan tenang, tangannya memainkan sehelai sabuk sutera putih.

Melihat wanita itu bertangan kosong, tidak membawa panah atau pedang, timbul kekhawatiran di hati Tek Hoat. Dia sendiripun tidak bersenjata dan selamanya belum pernah melihat hari­mau, apalagi melawannya. Akan tetapi karena melihat binatang itu hanya seper­ti seekor kucing besar, dia tidak takut dan dia ingin sekali memamerkan ilmu kepandaiannya kepada lima orang laki­laki itu terutama sekali kepada perwira tampan gagah yang tadi melemparnya. Maka tanpa berpikir panjang lagi, dia sudah meloncat dengan tubuh ringan sekali, melayang ke depan wanita itu, menghadapi harimau yang kelihatannya terkejut melihat ada orang “terbang” turun di depannya! Harimau itu mengge­reng dan Tek Hoat sudah siap melawan mati-matian sungguhpun kini dia baru tahu bahwa harimau itu kelihatan berba­haya dengan mulut penuh taring.

“Bocah lancang! Mundurlah kau!” Terdengar bentakan halus dan tiba-tiba Tek Hoat merasa pinggangnya seperti dirangkul orang dan tahu-tahu tubuhnya sudah melayang ke atas. Biarpun dia berusaha mengerahkan tenaga, namun sia-sia belaka dan alangkah heran dan kagetnya ketika dia mendapat menyataan bahwa pinggangnya terbelit ujung sabuk sutera putih. Hampir dia tidak dapat percaya bahwa ada orang, apalagi hanya seorang wanita, dapat menggunakan sabuk sutera untuk memaksanya pergi, membuat tubuhnya melayang dan menu­runkan tubuhnya ke atas tanah seolah-­olah sabuk itu bernyawa dan amat kuat­nya!

Dengan penasaran dia ingin meloncat maju, akan tetapi tiba-tiba lengannya dipegang orang dari belakang, pegangan yang kuat bukan main sehingga usahanya untuk merenggutnya lepas sia-sia belaka. Ketika dia menoleh, orang itu adalah panglima yang tadi melemparnya. Kini tampak betapa pakaian orang ini juga mewah dan indah, pakaian seorang pang­lima atau perwira tinggi yang berwibawa dan bermata tajam.

“Sabarlah, orang muda, dan lihat be­tapa ganasnya harimau itu!”

Terdengar gerengan hebat sehingga bu­mi yang di bawah kakinya tergetar. Tek Hoat cepat memandang ke arah harimau dan melihat harimau itu meloncat tinggi sekali, menerkam ke arah wanita yang masih duduk tenang di atas punggung kudanya. Kudanya meronta dan meringkik, akan tetapi anehnya kuda itu tidak mampu bergerak karena sesungguhnya tubuhnya telah dijepit keras oleh kedua kaki wanita itu sehingga tak mampu berkutik. Ketika tubuh wanita itu mela­yang di udara, wanita tadi menggerakkan tangan dan sinar putih panjang menyam­bar ke depan. Itulah sabuk sutera putih yang telah menyambut datangnya terkam­an harimau. Ujung sabuk itu seperti seekor ular hidup melibat perut harimau dan membanting ke bawah.

“Bressss!” Tubuh harimau terguling­-guling sampai mendekati seorang di antara pengawal yang duduk di bawah po­hon. Pengawal itu bangkit berdiri dan menusukkan tombaknya. Harimau yang besar itu mengangkat kakinya menangkis atau mencengkeram ke arah tombak.

“Krekkkk!” Tombak itu patah-patah.

“Hati-hati, mundur….!” Wanita itu berseru lagi dan kembali sabuk suteranya melayang dan menangkap pinggang harimau yang kini hendak menyerang pe­ngawal itu 

One thought on “KHO PING HOO – Kisah Sepasang Rajawali Jilid 1

  1. Pingback: Kisah Sepasang Rajawali Jilid 2 | BLACK LOTUS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s