KHO PING HOO – Kisah Sepasang Rajawali Jilid 2

KHO PING HOO!! CIATSSSS!!

mengangkat tubuh harimau ke atas dan membantingnya lagi. Akan tetapi bantingan-bantingan keras itu ternyata hanya membuat binatang itu marah, sama sekali tidak melumpuhkannya. Melihat ini, mengertilah Tek Hoat bahwa binatang itu memang hebat dan ganas sekali, kuat dan kebal.

Setelah lima kali wanita itu menge­nakan ujung sabuk suteranya membanting dan binatang itu masih tetap bangkit dan melawan lebih ganas, agaknya dia menja­di marah dan penasaran sekali. Tangan kirinya bergerak dan sinar emas me­nyambar ke arah harimau, tercium bau harum ketika senjata jarum-jarum halus itu menyambar. Harimau meraung dan berloncat-loncatan aneh ke atas, kemudi­an roboh dan berkelojotan.

“Bunuh dia!” Wanita itu berkata dan empat orang pengawal melompat maju, lalu menggunakan tombak mereka untuk membunuh harimau yang sudah sekarat itu.

Tek Hoat kini maklum bahwa dia bertemu dengan orang-orang pandai, terutama sekali wanita cantik dan pang­lima ini. Maka dia lalu merenggutkan lengannya terlepas dan berjalan pergi dari tempat itu.

Sesosok bayangan yang berkelebat cepat mengejutkannya dan ketika dia melihat bahwa wanita cantik itu seperti terbang saja sudah berada di depannya, dia mengira bahwa dia tentu akan dite­gur atau mendapatkan marah. Maka dia mendahului wanita itu dan memukul!

“Heiiii….!” Wanita itu berseru, menggunakan tangan kirinya menyampok pukulan Tek Hoat yang dilakukan dengan pengerahan sin-kang karena dia maklum akan kelihaian wanita itu.

“Plakkk….!” Tek Hoat terpelanting dan dia hampir menjerit. Lengannya yang ditangkis oleh telapak tangan halus itu terasa sakit bukan main! Dia tahu bahwa dia bukanlah lawan wanita itu, maka dia lalu membalikkan tubuhnya dan lari dari tempat itu dengan hati kecewa dan terpukul hebat. Dia mengagulkan kepan­daiannya dan ternyata menghadapi seo­rang wanita saja dia tidak mampu me­nang! Dengan kepandaiannya serendah itu dia hendak mencari dan menantang Pendekar Siluman! Betapa memalukan!

“Hei, bocah lancang! Tunggu….!” Terdengar panglima itu berseru.

“Biarlah, anak-anak yang mempunyai sedikit kepandaian, memang biasanya keras kepala dan sombong!” terdengar wanita itu mencegah.

Tek Hoat berlari makin kencang. Hatinya panas sekali, panas dan kecewa. Dia kelihatan seperti seorang yang lemah menghadapi panglima dan wanita cantik ini. Dia dikatakan kanak-kanak yang mempunyai sedikit kepandaian. Anak­-anak yang sombong dan keras kepala! Dia mengepal tinjunya. Dia harus belajar lagi. Dia harus mengumpulkan ilmu­-ilmu yang tinggi. Dia harus menjadi jage nomor satu di dunia agar tidak akan ada yang memandang rendah lagi!

Tentu saja dia sama sekali tidak pernah mimpi bahwa dia baru saja ber­temu dengan seorang puteri dari Pendekar Siluman! Puteri itu adalah Puteri Milana yang sedang berburu binatang di hutan itu, bersama suaminya, Panglima Han Wi Kong dan empat orang pengawal mereka. Ilmu kepandaian Panglima Han Wi Kong memang tinggi, maka tentu saja Tek Hoat bukan tandingannya, apalagi kepandaian Puteri Milana!

Seperti telah diceritakan, Puteri Milana telah menikah dengan Panglima Han Wi Kong. Mereka hidup rukun, sungguhpun tak dapat dikatakan bahwa Milana mencintai suaminya. Sayang bahwa mereka tidak mempunyai anak, seandainya ada, agaknya Milana perlahan-­lahan akan dapat mencinta suaminya itu. Betapapun juga, mereka kelihatan rukun dan tak pernah terjadi ribut di antara mereka.

Melihat seorang anak laki-laki yang memiliki kepandaian tinggi dan bersikap aneh itu, Milana dan suaminya terheran­-heran. Apalagi ketika suaminya menceri­takan betapa anak itu tadi tidak mau minggir sehingga terpaksa dia lemparkan dari jalan.

“Hemm, jelas dia bukan bocah biasa,” kata Milana.

“Benar, dia tentu murid seorang pandai. Akan tetapi sikapnya sungguh mencurigakan.”

“Dia bersikap aneh, tentu murid orang aneh pula. Dan gerakannya ketika memu­kul tadi, bukankah mirip sekali dengan Pat-sian-kun? Heran sekali….!”

Mereka lalu kembali ke kota raja. Empat orang pengawal membawa bangkai harimau. Tentu saja Milana sama sekali tidak pernah menyangka anak laki-laki remaja tadi bukan lain adalah keturunan Wan Keng In! Dia mengenal Ang Siok Bi, bahkan dia bersama Ang Siok Bi pernah mengeroyok Gak Bun Beng yang dianggap­nya memperkosa para wanita itu (baca ceritaSepasang Pedang Iblis), akan tetapi kemudian dia tahu bahwa yang melakukan berbuatan terkutuk itu adalah Wan Keng In yang menggunakan nama Gak Bun Beng. Juga dia tidak tahu bahwa anak itu telah dilatih ilmu silat tinggi sampai dua tahun lamanya oleh Sai-cu Lo-mo, bekas orang kepercayaan ibunya. Sai-cu Lo-mo yang tadinya menemaninya di istana, akan tetapi yang pergi semenjak dia menikah.

Tek Hoat mengambil buntalannya yang tadi disembunyikan di bawah pohon, lalu dia melanjutkan perjalanannya de­ngan wajah murung. Kenyataan pahit betapa kepandaiannya tidak sehebat seperti yang dianggapnya selama ini, membuat dia kecewa sekali dan diam-diam mengutuk Sai-cu Lo-mo mengapa tidak mewariskan seluruh ilmunya! Dan dia memaki-maki Bu-tong-pai pula yang tidak mau menerimanya sebagai murid. Kini tahulah dia bahwa jelas sekali dia tidak akan mampu menandingi tokoh­-tokoh Bu-tong-pai. Dia harus belajar lagi. Akan tetapi belajar dari siapa?

Dengan bersungut-sungut Tek Hoat memasuki sebuah dusun dan melihat sebuah rumah makan di dusun itu, dia masuk. Dia tidak lagi pergi ke kota raja. Panglima dan wanita itu tentulah orang-­orang kota raja dan tahulah dia betapa berbahayanya kota raja yang memiliki demikian banyaknya orang pandai. Sebe­lum dia memiliki kepandaian yang tiada lawannya, perlu apa dia pergi ke kota raja hanya untuk dihina orang? Sekali masuk kota raja, dia harus mampu meng­gegerkan kota raja!

“Brukkk!” Meja itu bergoyang-goyang dan tentu ambruk kalau tidak dipegang cepat-cepat oleh Tek Hoat. Buntalannya memang berat karena perak dan emas itu. Didengarnya suara orang berbisik­-bisik. Ketika dia mengerling ke kiri, ternyata di meja sebelah kiri duduk pula empat orang laki-laki yang melihat pakaian dan gerak-geriknya, tentulah sebangsa jagoan silat yang kasar. Mereka memperhatikan Tek Hoat, terutama sekali pandang mata mereka ditujukan kepada buntalan di atas meja di depan pemuda itu.

“Ha-ha-ha, twako. Kalau sekali ini kita tidak bisa mendapatkan kakap, benar-benar sialan kita ini,” kata seorang di antara mereka.

“Aihhh, mana bisa memperoleh kakap di air keruh? Tunggu di air tenang, barulah mudah menangkap kakap gemuk,” kata orang yang kumisnya melintang sampai ke telinga.

“Twako, air di sinipun cukup tenang. Pula siapa sih yang berani membikin keruh? Kakap tinggal tangkap saja, apa sukarnya?”

“Kau benar juga, baik kita melihat gelagat, ha-ha-ha!” kata si kumis panjang sambil tertawa dan minum araknya.

Tek Hoat diam saja karena memang tidak mengerti apa yang mereka bicara­kan, tidak tahu bahwa mereka itu membi­carakan dia yang dianggap kakap karena memiliki buntalan berat. Mata empat orang itu amat tajam, dapat menduga dengan tepat bahwa isi buntalan itu tentu emas! Dengan tenang Tek Hoat minta kwaci dari pelayan dan memesan makanan. Sambil menanti masakan, dia makan kwaci tanpa mempedulikan sedikit pun kepada empat orang itu. Hatinya sedang kesal, wajahnya murung.

“Haii, orang muda. Mengapa engkau duduk sendirian saja? Marilah duduk bersama kami!” tiba-tiba seorang di antara mereka menegur Tek Hoat. Kare­na di rumah makan tidak ada orang lain, tahulah Tek Hoat bahwa dia yang dite­gur, akan tetapi dia hanya melirik dan tidak menjawab, senyumnya amat menge­jek.

“Hei, orang muda. Lihatlah permain­an kami ini, kalau mau menjadi sahabat kami, engkau akan kami ajari ilmu!” kata pula orang ke dua.

Tek Hoat menoleh dan dia melihat si cambang melintang itu menggerakkan kedua tangannya. Terdengar angin bersiut­an dan tampak sinar hitam meluncur ke atas dan lima batang senjata rahasia berbentuk paku telah menancap berturut-­turut di atas balok melintang, berjajar seperti diatur saja!

“Bagaimana? Bagus, bukan? Kalau ditujukan kepada lawan, sekarang juga sudah lima orang lawan roboh binasa. Ha-ha-ha!” Pemimpin rombongan empat orang kasar itu tertawa dengan lagak sombong.

“Huh!” Tek Hoat mendengus dan membuang muka dengan hati jemu menyak­sikan kesombongan orang. Kepandaian seperti itu saja disombongkan, pikirnya. Betapa banyak manusia yang mengagul­kan kepandaian sendiri, tidak tahu bahwa kepandaiannya itu sebetulnya bukan apa­-apa, seperti yang pernah dia sendiri lakukan pula.

Melihat sikap Tek Hoat, si kumis panjang menjadi marah. Tangan kirinya bergerak dan sebatang paku meluncur ke arah buntalan di atas meja Tek Hoat.

“Wirrrr…. trakkk!” Paku itu menem­bus buntalan dan mengenai potongan emas yang berada di sebelah dalam. Tek Hoat terkejut dan ketika dia menoleh, empat orang itu tertawa-tawa. “Kalau yang kubidik tubuhmu, tentu sekarangpun engkau sudah tewas. Ha-ha-ha!”

Tek Hoat bangkit berdiri dengan marah. Empat orang itu tertawa makin bergelak karena menganggap gerak-gerik pemuda itu lucu. Dengan tenang Tek Hoat mencabut paku yang menancap di buntalannya. Empat orang itu masih tertawa akan tetapi tiba-tiba suara mereka terhenti dan mata mereka terbe­lalak ketika melihat betapa jari-jari tangan pemuda remaja itu mematah­matahkan paku seperti orang mematah­-matahkan sebatang lidi saja! Kemudian, tangan kiri Tek Hoat menjemput kwaci di atas piring dan dengan pengerahan tenaga dia melontarkan kwaci-kwaci itu ke atas, ke arah lima batang paku yang menancap di balok melintang. Terdengar suara berdenting dan lima batang paku itu jatuh semua ke atas lantai!

Empat orang itu menjadi pucat wajah­nya, akan tetapi Tek Hoat masih mengge­rakkan tangan kirinya dan segenggam kwaci melayang ke arah empat orang itu. Mereka menjerit dan mengaduh­-aduh dan…. muka mereka berdarah-­darah ketika kwaci-kwaci itu menancap di muka mereka!

Pada saat itu, pelayan datang memba­wa daging dan roti pesanan Tek Hoat. Pemuda ini segera berkata, “Bungkus semua itu, aku akan makan di luar, di sini banyak lalat.”

Pelayan yang melihat empat orang kasar tadi mengaduh-aduh, mencabuti kwaci dari muka dan darah bercucuran, kaget sekali, cepat-cepat membungkus makanan yang dipesan Tek Hoat dan memberikannya kepada pemuda itu. Tek Hoat memasukkan makanan ke dalam buntalan, mengeluarkan uang harganya dan menekan uang itu di atas meja, lalu pergi tanpa berkata apa-apa lagi.

Pelayan itu terbelalak memandang uang yang telah gepeng dan meja yang berlubang terkena tekanan jari tangan pemuda itu. Juga empat orang itu meli­hat ini dan si kumis panjang kaget seka­li. “Jari…. Jari Maut….” Bisiknya, kemudian bersama teman-temannya dia dengan cepat meninggalkan rumah ma­kan, meninggalkan si pelayan yang masih bengong dan kemudian mengambil uang yang gepeng dan melesak di atas meja itu dengan mencukilnya dengan pisau.

Seperti telah diceritakan, Puteri Milana telah menikah dengan Panglima Han Wi Kong. Mereka hidup rukun, sungguhpun tak dapat dikatakan bahwa Milana mencintai suaminya. Sayang bahwa mereka tidak mempunyai anak, seandainya ada, agaknya Milana perlahan-­lahan akan dapat mencinta suaminya itu. Betapapun juga, mereka kelihatan rukun dan tak pernah terjadi ribut di antara mereka.

Melihat seorang anak laki-laki yang memiliki kepandaian tinggi dan bersikap aneh itu, Milana dan suaminya terheran­-heran. Apalagi ketika suaminya menceri­takan betapa anak itu tadi tidak mau minggir sehingga terpaksa dia lemparkan dari jalan.

“Hemm, jelas dia bukan bocah biasa,” kata Milana.

“Benar, dia tentu murid seorang pandai. Akan tetapi sikapnya sungguh mencurigakan.”

“Dia bersikap aneh, tentu murid orang aneh pula. Dan gerakannya ketika memu­kul tadi, bukankah mirip sekali dengan Pat-sian-kun? Heran sekali….!”

Mereka lalu kembali ke kota raja. Empat orang pengawal membawa bangkai harimau. Tentu saja Milana sama sekali tidak pernah menyangka anak laki-laki remaja tadi bukan lain adalah keturunan Wan Keng In! Dia mengenal Ang Siok Bi, bahkan dia bersama Ang Siok Bi pernah mengeroyok Gak Bun Beng yang dianggap­nya memperkosa para wanita itu (baca ceritaSepasang Pedang Iblis), akan tetapi kemudian dia tahu bahwa yang melakukan berbuatan terkutuk itu adalah Wan Keng In yang menggunakan nama Gak Bun Beng. Juga dia tidak tahu bahwa anak itu telah dilatih ilmu silat tinggi sampai dua tahun lamanya oleh Sai-cu Lo-mo, bekas orang kepercayaan ibunya. Sai-cu Lo-mo yang tadinya menemaninya di istana, akan tetapi yang pergi semenjak dia menikah.

Tek Hoat mengambil buntalannya yang tadi disembunyikan di bawah pohon, lalu dia melanjutkan perjalanannya de­ngan wajah murung. Kenyataan pahit betapa kepandaiannya tidak sehebat seperti yang dianggapnya selama ini, membuat dia kecewa sekali dan diam-diam mengutuk Sai-cu Lo-mo mengapa tidak mewariskan seluruh ilmunya! Dan dia memaki-maki Bu-tong-pai pula yang tidak mau menerimanya sebagai murid. Kini tahulah dia bahwa jelas sekali dia tidak akan mampu menandingi tokoh­-tokoh Bu-tong-pai. Dia harus belajar lagi. Akan tetapi belajar dari siapa?

Dengan bersungut-sungut Tek Hoat memasuki sebuah dusun dan melihat sebuah rumah makan di dusun itu, dia masuk. Dia tidak lagi pergi ke kota raja. Panglima dan wanita itu tentulah orang-­orang kota raja dan tahulah dia betapa berbahayanya kota raja yang memiliki demikian banyaknya orang pandai. Sebe­lum dia memiliki kepandaian yang tiada lawannya, perlu apa dia pergi ke kota raja hanya untuk dihina orang? Sekali masuk kota raja, dia harus mampu meng­gegerkan kota raja!

“Brukkk!” Meja itu bergoyang-goyang dan tentu ambruk kalau tidak dipegang cepat-cepat oleh Tek Hoat. Buntalannya memang berat karena perak dan emas itu. Didengarnya suara orang berbisik­-bisik. Ketika dia mengerling ke kiri, ternyata di meja sebelah kiri duduk pula empat orang laki-laki yang melihat pakaian dan gerak-geriknya, tentulah sebangsa jagoan silat yang kasar. Mereka memperhatikan Tek Hoat, terutama sekali pandang mata mereka ditujukan kepada buntalan di atas meja di depan pemuda itu.

“Ha-ha-ha, twako. Kalau sekali ini kita tidak bisa mendapatkan kakap, benar-benar sialan kita ini,” kata seorang di antara mereka.

“Aihhh, mana bisa memperoleh kakap di air keruh? Tunggu di air tenang, barulah mudah menangkap kakap gemuk,” kata orang yang kumisnya melintang sampai ke telinga.

“Twako, air di sinipun cukup tenang. Pula siapa sih yang berani membikin keruh? Kakap tinggal tangkap saja, apa sukarnya?”

“Kau benar juga, baik kita melihat gelagat, ha-ha-ha!” kata si kumis panjang sambil tertawa dan minum araknya.

Tek Hoat diam saja karena memang tidak mengerti apa yang mereka bicara­kan, tidak tahu bahwa mereka itu membi­carakan dia yang dianggap kakap karena memiliki buntalan berat. Mata empat orang itu amat tajam, dapat menduga dengan tepat bahwa isi buntalan itu tentu emas! Dengan tenang Tek Hoat minta kwaci dari pelayan dan memesan makanan. Sambil menanti masakan, dia makan kwaci tanpa mempedulikan sedikit pun kepada empat orang itu. Hatinya sedang kesal, wajahnya murung.

“Haii, orang muda. Mengapa engkau duduk sendirian saja? Marilah duduk bersama kami!” tiba-tiba seorang di antara mereka menegur Tek Hoat. Kare­na di rumah makan tidak ada orang lain, tahulah Tek Hoat bahwa dia yang dite­gur, akan tetapi dia hanya melirik dan tidak menjawab, senyumnya amat menge­jek.

“Hei, orang muda. Lihatlah permain­an kami ini, kalau mau menjadi sahabat kami, engkau akan kami ajari ilmu!” kata pula orang ke dua.

Tek Hoat menoleh dan dia melihat si cambang melintang itu menggerakkan kedua tangannya. Terdengar angin bersiut­an dan tampak sinar hitam meluncur ke atas dan lima batang senjata rahasia berbentuk paku telah menancap berturut-­turut di atas balok melintang, berjajar seperti diatur saja!

“Bagaimana? Bagus, bukan? Kalau ditujukan kepada lawan, sekarang juga sudah lima orang lawan roboh binasa. Ha-ha-ha!” Pemimpin rombongan empat orang kasar itu tertawa dengan lagak sombong.

“Huh!” Tek Hoat mendengus dan membuang muka dengan hati jemu menyak­sikan kesombongan orang. Kepandaian seperti itu saja disombongkan, pikirnya. Betapa banyak manusia yang mengagul­kan kepandaian sendiri, tidak tahu bahwa kepandaiannya itu sebetulnya bukan apa­-apa, seperti yang pernah dia sendiri lakukan pula.

Melihat sikap Tek Hoat, si kumis panjang menjadi marah. Tangan kirinya bergerak dan sebatang paku meluncur ke arah buntalan di atas meja Tek Hoat.

“Wirrrr…. trakkk!” Paku itu menem­bus buntalan dan mengenai potongan emas yang berada di sebelah dalam. Tek Hoat terkejut dan ketika dia menoleh, empat orang itu tertawa-tawa. “Kalau yang kubidik tubuhmu, tentu sekarangpun engkau sudah tewas. Ha-ha-ha!”

Tek Hoat bangkit berdiri dengan marah. Empat orang itu tertawa makin bergelak karena menganggap gerak-gerik pemuda itu lucu. Dengan tenang Tek Hoat mencabut paku yang menancap di buntalannya. Empat orang itu masih tertawa akan tetapi tiba-tiba suara mereka terhenti dan mata mereka terbe­lalak ketika melihat betapa jari-jari tangan pemuda remaja itu mematah­matahkan paku seperti orang mematah­-matahkan sebatang lidi saja! Kemudian, tangan kiri Tek Hoat menjemput kwaci di atas piring dan dengan pengerahan tenaga dia melontarkan kwaci-kwaci itu ke atas, ke arah lima batang paku yang menancap di balok melintang. Terdengar suara berdenting dan lima batang paku itu jatuh semua ke atas lantai!

Empat orang itu menjadi pucat wajah­nya, akan tetapi Tek Hoat masih mengge­rakkan tangan kirinya dan segenggam kwaci melayang ke arah empat orang itu. Mereka menjerit dan mengaduh­-aduh dan…. muka mereka berdarah-­darah ketika kwaci-kwaci itu menancap di muka mereka!

Pada saat itu, pelayan datang memba­wa daging dan roti pesanan Tek Hoat. Pemuda ini segera berkata, “Bungkus semua itu, aku akan makan di luar, di sini banyak lalat.”

Pelayan yang melihat empat orang kasar tadi mengaduh-aduh, mencabuti kwaci dari muka dan darah bercucuran, kaget sekali, cepat-cepat membungkus makanan yang dipesan Tek Hoat dan memberikannya kepada pemuda itu. Tek Hoat memasukkan makanan ke dalam buntalan, mengeluarkan uang harganya dan menekan uang itu di atas meja, lalu pergi tanpa berkata apa-apa lagi.

Pelayan itu terbelalak memandang uang yang telah gepeng dan meja yang berlubang terkena tekanan jari tangan pemuda itu. Juga empat orang itu meli­hat ini dan si kumis panjang kaget seka­li. “Jari…. Jari Maut….” Bisiknya, kemudian bersama teman-temannya dia dengan cepat meninggalkan rumah ma­kan, meninggalkan si pelayan yang masih bengong dan kemudian mengambil uang yang gepeng dan melesak di atas meja itu dengan mencukilnya dengan pisau.

Dengan hati yang mendongkol sekali Tek Hoat keluar dari dusun dan mema­suki sebuah hutan. Kalau saja dia tidak mengingat bahwa ilmu kepandaiannya sebenarnya belum berapa tinggi kalau dibandingkan dengan panglima dan wanita cantik yang ditemuinya dalam hutan, di luar kota raja, tentu dia tadi sudah membunuh empat orang kasar itu. Seka­rang dia harus berhati-hati, tidak menca­ri permusuhan karena kepandaiannya belum tinggi.

“Wan-kangcu….!”

Tek Hoat terkejut sekali. Suara yang tiba-tiba terdengar di belakang itu demi­kian nyaringnya, merupakan lengking yang dahsyat tanda bahwa yang bersuara itu memiliki khi-kang yang kuat sekali. Dia cepat menoleh dan lebih terkejut lagi dia ketika melihat bahwa orang yang berseru itu ternyata masih jauh dan kini orang itu berlari dengan kecepatan yang membuatnya terbelalak heran dan kagum. Sebentar saja orang itu sudah berada di depannya dan untuk ketiga kalinya Tek Hoat terkejut. Orang ini memang luar biasa sekali. Mukanya merah, merah muda! Seperti muka seorang gadis cantik yang dirias bedak dan yanci (pemerah pipi), akan tetapi wajah itu buruk, bulat dan serba besar hidung dan bibirnya. Matanya berputaran liar seperti mata orang yang miring otaknya, dan kepala­nya gundul, ditumbuhi rambut yang jarang dan layu. Tubuhnya gendut pen­dek. Akan tetapi yang membuat Tek Hoat terkejut adalah ketika melihat betapa dari mulut orang itu keluar asap tipis putih yang keluar masuk menurutkan jalan napasnya yang agaknya bukan hanya melalui hidung saja, akan tetapi juga melalui mulutnya yang terbuka itu. Melihat uap putih ini di waktu musim dingin, tidaklah aneh. Akan tetapi seka­rang hawa sedang panasnya, bagaimana orang ini dapat menyebabkan uap dengan napasnya? Dan dari dalam perut orang itu terdengar bunyi seperti orang kalau sedang lapar, hanya bedanya, kalau perut orang lapar terdengar bunyi berkeruyuk, adalah perut orang ini mengeluarkan bunyi berkokok seperti katak, hanya agak jarang terdengarnya dan hanya telinga terlatih saja yang dapat menangkap suara itu.

Sejenak kedua orang ini saling berpandangan. Tek Hoat memandang penuh keheranan sedangkan orang aneh itu
memandang dengan mata berputaran dan mulut menyeringai. Kemudian dia menjatuhkan diri berlutut dan berkata, “Aha, tidak salah lagi, engkau adalah Wan-kongcu (tuan muda Wan)! Ha-ha-ha, akhirnya dapat juga kita saling bertemu!”

Tek Hoat mengerutkan alisnya. Jelas bahwa orang ini adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali, akan tetapi masih diragukan kewarasan otaknya. Maka dia bersikap hati-hati, tidak segera menyangkal dan dia malah memancing, “Siapakah engkau?”

“Heh-heh-heh, kongcu sudah lupa kepada saya? Masa lupa kepada anak buah sendiri? Saya orang yang paling setia di Pulau Neraka, saya Kong To Tek.”

Tentu saja Tek Hoat sama sekali tidak mengenal nama ini, bahkan sebutan Pulau Nerakapun baru sekarang dia mendengarnya. Akan tetapi dia cukup cerdik untuk menyangkal, maka dia diam saja dan segera menurunkan buntalannya, duduk di bawah pohon berhadapan dengan si kepala gundul yang aneh ini. Dikeluar­kannya daging dan roti yang dibelinya tadi.

“Kau mau makan?” Dia menawarkan.

Kong To Tek girang sekali, lalu tanpa sungkan-sungkan, seperti seekor anjing kelaparan, dia menyerbu daging dan roti itu sehingga Tek Hoat hanya kebagian sedikit.

Di dalam ceriteraSepasang Pedang Iblis diceritakan bahwa Kong To Tek adalah seorang di antara tokoh Pulau Neraka, menjadi pembantu ketua Pulau Neraka yang waktu itu dipegang oleh Lulu. Dia bahkan merupakan tokoh pem­bantu pertama, dan yang kedua adalah Ji Song yang kini menjadi pembantu utama ketua baru Pulau Neraka, Hek-tiauw Lo-mo. Pulau Neraka ditinggal oleh para tokohnya, yaitu ketika dua orang kakek sakti tokoh Pulau Neraka yang penuh rahasia, yaitu Cui-beng Koai-ong dan sutenya, Bu-tek Siauw-jin, saling bertanding sendiri dan keduanya tewas bersa­ma, kemudian ketua Pulau Neraka, Lulu juga meninggalkan pulau itu untuk kemu­dian ikut suaminya, Pendekar Siluman ke Pulau Es. Semua ini diceritakan dalam ceriteraSepasang Pedang Iblis . Mengapa Kong To Tek bisa berada di tempat itu, berkeliaran di daratan besar dan tidak tinggal di Pulau Neraka? Biarlah kita dengarkan sendiri penuturannya kepada Tek Hoat.

“Benarkah engkau Kong To Tek tokoh Pulau Neraka?” Tek Hoat yang cerdik sekali itu berkata memancing. “Engkau berubah sekali sampai aku tidak mengenalmu lagi.”

“Ha-ha-heh-heh-heh, di dunia ini masa ada Kong To Tek kedua? Saya adalah Kong To Tek yang tulen, Kongcu. Kong To Tek dari Pulau Neraka yang aseli!” Si gundul itu mengusap sisa makanan di bibir dan menggaruk-garuk kepalanya, matanya memandang liar ke kanan kiri. Diam-diam Tek Hoat merasa ngeri juga menyaksikan sikap liar ini.

“Ka1au engkau betul Kong To Tek yang aseli, coba katakan siapa namaku.”

“Wah, masa aku bisa lupa kepadamu, kongcu. Engkau adalah kongcu Wan Keng In putera tunggal Ketua Pulau Neraka.”

Tek Hoat terkejut sekali, akan tetapi bersikap tenang. Dia sama sekali tidak pernah menduga bahwa yang disebut Wan Keng In itu sebenarnya adalah ayahnya, ayah kandung yang telah memperkosa ibunya! Dan bahwa wajahnya memang mirip sekali dengan Wan Keng In.

“Benar, akan tetapi aku belum puas. Coba katakan siapa guruku?”

“Ha-ha, apakah kongcu main-main? Tentu saja guru kongcu adalah Cui-beng Koai-ong…. dan karena pesan mendiang gurumu itulah maka dengan susah payah saya mencari kongcu.”

Tek Hoat pura-pura kaget. “Apa? Guruku…. Cui-beng Koai-ong telah meninggal dunia?”

Si gundul itu mengangguk-angguk. “Banyak hal terjadi di Pulau Neraka, se­menjak kongcu berlari pergi…. dan tocu (majikan pulau), yaitu ibu kongcu juga tidak pernah kembali lagi….”

Tek Hoat bisa menggambarkan apa yang diceritakan oleh si gundul ini. Agaknya dia disangka putera seorang majikan pulau, yaitu Pulau Neraka dan bahwa dia murid Cui-beng Koai-ong yang telah meninggal dunia. Dan ibunya, yaitu ketua pulau telah pergi dan tidak kemba­li lagi!

“Kong To Tek lopek (paman tua), coba kau ceritakan apa yang terjadi di Pulau Neraka.”

Kong To Tek duduk setengah rebah, bersandar pohon dan sikapnya seenaknya biarpun berada di depan majikannya, hal ini menunjukkan kepada Tek Hoat bahwa orang Pulau Neraka adalah orang-orang liar yang kurang mempedulikan tata susila atau sopan santun. Akan tetapi dia tidak peduli dan mendengarkan penuturan kakek itu dengan penuh perhatian. Kakek ini usianya tentu sudah enampuluh tahun lebih, otaknya miring, akan tetapi jelas berkepandaian tinggi dan ceritanya tentu aneh.

Dan cerita Kong To Tek memang aneh. Dia menceritakan bahwa sebelum terjadi peristiwa hebat di Pulau Neraka, yaitu matinya Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin, kakak beradik seperguruan yang merupakan manusia-manusia sakti jarang ada tandingnya, pada suatu hari dia didatangi oleh Cui-beng Koai-ong Si Mayat Hidup.

“Agaknya gurumu itu telah mempunyai firasat buruk, kongcu. Buktinya, baru dua hari setelah dia mendatangi saya, terjadi­lah pertandingan hebat antara gurumu dan susiokmu Bu-tek Siauw-jin yang mengakibatkan keduanya tewas!”

“Kong-lopek, apa maksudnya mendiang suhu mendatangimu?” Tek Hoat mendesak, makin tertarik dengan cerita aneh ini.

“Gurumu menyerahkan dua buah kitab dan sepatang pedang yang katanya meru­pakan inti segala ilmu yang dimiliki suhumu dan susiokmu, dengan pesan agar kelak aku menyerahkan semua itu kepa­damu.”

Dapat dibayangkan betapa girangnya hati Tek Hoat. Dia melompat bangun dan menghardik. “Di mana pusaka-pusaka itu?”

Si gundul tertawa. “Jangan khawatir, kongcu. Sudah saya simpan baik-baik. Ah, sayang sekali, saya buta huruf dan tidak dapat mempelajari kitab-kitab itu. Pada­hal, baru melihat-lihat gambar-gambarnya dan meniru dari gambar-gambar itu saja sudah membuat saya memperoleh kemaju­an yang hebat ini, kongcu!” Si gundul menghampiri pohon sebesar dua kali tubuh orang. Dia memekik dan menubruk pohon itu dengan kepalanya, dengan loncatan yang kuat sekali.

“Heiii….!” Tek Hoat berseru kaget.

“Desss! Brakkkkk….!”

Pohon itu patah dan tumbang, sedang­kan si gundul sudah tertawa-tawa lagi di depan Tek Hoat. Pemuda ini terkejut setengah mati, akan tetapi diam-diam menjadi girang bukan main. Wajahnya tenang saja, bahkan dia mengejek, “Hem, Kong-lopek, apakah engkau hendak menyombongkan diri di depanku?”

Tiba-tiba si gundul berlutut. “Sama sekali tidak, Kongcu. Ampunkan saya. Saya hanya ingin membuktikan betapa hanya dengan mempelajari gambar-gam­barnya saja, kepandaian saya sudah me­ningkat hebat.”

“Hayo cepat serahkan kitab-kitab dan pedang dari suhu kepadaku!”

“Baik, baik…. mari, kongcu. Benda pusaka itu kusembunyikan di dalam guha yang selama ini menjadi tempat tinggal saya.”

Keduanya berlari-larian. Tek Hoat mengerahkan gin-kangnya dan berlari secepat mungkin, akan tetapi kakek gundul itu sambil tertawa-tawa masih dapat mengimbangi kecepatan larinya. Hebat!

Guha itu berada di daerah berbatu-batu di lereng gunung yang dikelilingi hutan lebat. Sunyi dan tak pernah dikun­jungi manusia. Guha yang cukup besar, dalamnya ada lima meter dan gelap. Ketika akhirnya kakek itu menyerahkan dua buah kitab dan sebatang pedang kepadanya, Tek Hoat menjadi girang sekali dan dengan jantung berdebar dia membawa benda-benda pusaka itu keluar, ke tempat terang. Dicabutnya pedang itu dan matanya menjadi silau. Sebatang pedang yang mengeluarkan cahaya kebi­ruan dan mengandung wibawa yang kuat mengerikan, dan begitu tercabut tercium­lah bau amis bercampur harum yang memuakkan. Ukiran huruf kecil-kecil di dekat gagang memperkenalkan nama pedang itu. Cui-beng-kiam (Pedang Pengejar Nyawa)! Disarungkannya kembali pedang itu dan diselipkan di pinggangnya. Kemudian dia membalik-balik lembaran dua buah kitab itu. Ternyata itu adalah dua kitab yang mengandung pelajaran ilmu silat yang mujijat, inti dari semua ilmu silat yang dikuasai oleh Cui-beng Koai-ong dan yang sebuah lagi adalah hasil ciptaan Bu-tek Siauw-jin. Dahulu, sebelum kedua orang manusia sakti itu saling bertanding sampai mati keduanya, Cui-beng Koai-ong yang agak jerih ter­hadap sutenya telah berlaku curang, mencuri kitab ke dua dari sutenya. Akan tetapi sebelum dia sempat mempelajari kitab sutenya, keburu mereka bertanding karena masing-masing membela murid (baca ceritaSepasang Pedang Iblis).

“Heh-heh-heh, apakah engkau tidak girang, kongcu?”

Tek Hoat memandang kakek gundul itu dan mengangguk. “Terima kasih, Kong-lopek. Kau baik sekali. Memang kau seorang yang paling setia di Pulau Neraka. Kau berjasa sekali dan aku tentu tidak akan melupakan jasamu ini.”

“Heh-heh-heh, betapa banyak keseng­saraan kuderita selama mencarimu, kongcu. Akan tetapi akhirnya berhasil juga, ha-ha, sekarang aku tidak takut lagi kelak harus bertanggung jawab di depan suhumu. Aku ngeri membayangkan betapa aku harus mempertanggungjawabkan kelak kalau aku tidak berhasil me­nyerahkan semua ini kepadamu.”

Diam-diam Tek Hoat heran sekali. Kakek yang amat lihai ini ternyata takut luar biasa kepada “gurunya” yang berna­ma Cui-beng Koai-ong! Tiba-tiba dia mendapatkan sebuah pikiran dan berta­nya, “Kong-lopek, menurut pendapatmu, siapakah yang lebih lihai antara guruku dan Pendekar Siluman Majikan Pulau Es?”

Mendadak tubuh kakek itu gemetar dan kepalanya digeleng-gelengkan. “Ja­ngan…. jangan…. sebut-sebut nama dia…. bisa datang secara tiba-tiba dia nanti…. ihhh…. aku takut, kongcu.”

Kembali Tek Hoat terkejut. Kiranya Pendekar Siluman sedemikian hebatnya sampai kakek inipun ketakutan, padahal baru menyebut namanya saja.

“Jangan khawatir, lopek. Dia tidak akan muncul, tapi katakan, siapa yang lebih lihai di antara mereka?”

“Entahlah, seorang bodoh seperti saya mana bisa menilai? Kepandaian beliau itu terlalu hebat, mengerikan…. tapi kalau suhumu dan susiokmu (paman guru) maju berdua, kiranya akan menang.”

Tek Hoat kagum bukan main. Begitu hebatnya Pendekar Siluman! Akan tetapi kini dia memperoleh kitab wasiat suhu dan susioknya, berarti dia dididik oleh dua orang manusia sakti itu. Kelak tentu dia akan dapat menandingi Pendekar Siluman! Demikianlah, sejak hari itu, Tek Hoat tinggal di dalam guha bersama Kong To Tek yang melayaninya dan yang selalu menjaga di luar guha di waktu Tek Hoat sedang berlatih ilmu silat. Untuk kedua kalinya, pemuda ini berganti nama, kini namanya Wan Keng In, biar­pun hanya terhadap kakek gundul itu! Dengan penuh ketekunan dia mempelajari semua ijmu yang berada di dalam dua kitab itu, dan melatih diri siang malam, kalau siang berlatih gerakan silatnya, kalau malam berlatih sin-kang dan bersa­madhi menurut petunjuk di dalam kitab-kitab itu. Dia melarang Kong To Tek untuk menimbulkan ribut di luaran, dan semua hartanya digunakan untuk persedi­an makan dan pakaian mereka berdua.

***

Kita tinggalkan dulu Tek Hoat yang tekun mempelajari ilmu yang mujijat, ilmu yang amat hebat dan yang kelak akan menggegerkan dunia, menemukan secara kebetulan saja karena pembawa pusaka itu, Kong To Tek, telah menjadi gila dan tidak mengenal orang lagi, mengira Tek Hoat adalah Wan Keng In. Untuk melancarkan jalannya cerita, sebaiknya kalau kita kembali ke barat, ke daerah Kerajaan Bhutan, mengikuti pasukan Pemerintah Bhutan yang sibuk mencari rajanya yang terancam bahaya.

Karena mengkhawatirkan keselamatan rajanya, maka Panglima Jayin sendiri memimpin seribu orang perajurit, dite­mani oleh panglima pengawal dari rom­bongan utusan kaisar, malam-malam berangkat juga meninggalkan kota raja. Pasukan sebanyak seribu orang itu berde­rap dalam sebuah barisan panjang keluar dari kota raja. Obor yang bernyala te­rang dibawa oleh para perajurit dan diangkat tinggi-tinggi itu dari jauh keli­hatan seperti ribuan kunang-kunang di tengah sawah, atau seperti bintang-bintang yang bertaburan di langit hitam. Kalau mereka berlari untuk mengimbangi derap langkah kaki kuda yang cepat, maka dari jauh obor-obor itu mencipta­kan pemandangan yang lebih indah, seperti seekor naga api merayap.

Barisan panjang itu naik turun bukit dan masuk keluar hutan, akhirnya mereka tiba di sebuah padang rumput yang amat luas. Tiba-tiba Panglima Jayin memberi aba-aba dan pasukannya berhenti. Jauh di sebelah utara tampak banyak kunang-kunang bertebaran yang dapat diduga tentulah sebuah barisan lain.

“Agaknya itulah barisan musuh yang mengganggu raja,” kata Jayin perlahan kepada pengawal kaisar yang menunggang kuda di sebelahnya. “Bagaimana penda­patmu, Tan-ciangkun?”

“Kita harus berhati-hati. Musuh yang sudah menduga akan kedatangan kita tentu telah mengadakan persiapan dan jebakan. Karena itu, sebelum ciangkun turun tangan, sebaiknya kalau kita mela­kukan penyelidikan lebih dulu dan menilai kekuatan dan kedudukan musuh.”

Panglima Jayin sependapat dengan Tan-ciangkun. Dia mengangguk-angguk kemudian berkata, “Tan-ciangkun, karena sekarang kita bertugas untuk menyelamat­kan raja, maka aku tidak berani menye­rahkan penyelidikan ini kepada anak buahku. Aku akan pergi melakukan penyelidikan sendiri, dan harap Tan-ciangkun suka mengawani aku.”

“Tentu saja. Mari kita pergi.”

Jayin lalu menyerahkan pimpinan kepada wakilnya dan memesan agar pasukan menanti tanda dari dia. Kalau sampai besok pagi tidak ada tanda dari dia, pasukan boleh menyerbu saja ke depan menyerang musuh. Setelah membe­rikan nasehat dan perintahnya, Panglima Jayin dan pengawal kaisar itu berangkat. Mereka mempergunakan ilmu berlari cepat. Kaki mereka yang berlari di padang rumput itu tidak menimbulkan suara dan seolah-olah mereka terbang ke depan, berkelebat seperti dua orang iblis di tengah malam gelap. Hanya bintang-­bintang di langit saja yang menjadi penerangan bagi mereka, dengan cahaya­nya yang suram.

Tak lama kemudian, dua orang gagah itu tiba di tempat di mana terdapat api­-api bernyala itu. Mereka tertegun ketika melihat bahwa obor yang ratusan banyaknya itu ternyata tidak dipegang orang! Bukan pasukan musuh yang memegang obor yang dilihat mereka dari jauh tadi, melainkan obor-obor bambu yang gagangnya ditancapkan di atas tanah, dan ratusan buah obor yang bernyala ini mengurung sebuah rumah kecil dari tembok yang sederhana dan sunyi, sebuah rumah terpencil yang kelihatan terang oleh banyak obor itu.

“Hemm, aneh sekali. Mari kita me­nyerbu ke dalam, kita periksa rumah itu,” kata Panglima Jayin.

“Ssttt, hati-hati, ciangkun. Lihat baik-­baik. Obor-obor itu teratur seperti ben­tuk barisan pat-kwa. Aku merasa curiga sekali. Ini bukanlah sembarangan obor­-obor saja, melainkan sebuah benteng! Ini tentulah buatan orang pandai. Kalau kita lancang masuk, kita akan terjebak, mungkin bisa masuk takkan bisa keluar lagi. Biarlah aku memeriksanya dulu.”

Panglima Bhutan itu mengangguk dan Tan Siong Khi si jenggot panjang cepat melompat dan berlari mengelilingi ben­teng obor itu. Benar seperti dugaannya, barisan obor itu merupakan benteng yang kokoh kuat dan banyak mengandung raha­sia. Dia sendiri akan sangsi untuk mema­suki benteng obor ini, karena tentu banyak bahaya maut mengancamnya. Dia telah tiba kembali di tempat Panglima Jayin menantinya dengan hati tegang.

“Benar, sukar menembus benteng obor ini. Pula, kita harus berhati-hati. Kalau tidak sudah jelas dan penting, mengapa kita harus memasuki dan menyelidiki rumah itu? Kita tidak tahu jebakan apa yang menanti kita di sana….”

Tiba-tiba terdengar langkah orang, banyak sekali. Dua orang gagah ini cepat membalikkan tubuh, Panglima Jayin sudah mencabut pedangnya dan pengawal Tan Siong Khi sudah siap menghadapi bahaya. Dan ternyata yang muncul itu orang-orang Mongol dan Tibet yang ganas dan kasar, yang kini sedang menyerang kedua orang itu sambil berteriak-teriak. Hujan senjata datang menyerbu kedua orang gagah itu. Panglima Jayin meng­amuk dengan pedangnya, sedangkan Tan-ciangkun yang gagah perkasa itu meng­hadapi para pengeroyoknya dengan tangan kosong. Senjatanya hanyalah kaki tangan­nya ditambah jenggotnya yang panjang. Akan tetapi jenggot ini tidak kalah hebatnya oleh pedang di tangan Panglima Jayin dan terpelantinglah beberapa orang pengeroyok terdepan, roboh oleh kelebat­an pedang Jayin dan hantaman jenggot yang melecut-lecut!

Akan tetapi fihak pengeroyok terlalu besar jumlahnya dan mereka itu terdiri dari orang-orang kasar yang tidak takut mati. Bagaikan segerombolan serigala buas, kurang lebih seratus orang itu mengeroyok Jayin dan Tan Siong Khi maka setelah merobohkan belasan orang, kedua orang gagah ini mulai terdesak hebat, bahkan keduanya sudah terluka di pundak karena sambaran golok para pengeroyok.

“Jayin-ciangkun, terpaksa kita masuk ke benteng obor!” kata Tan-ciangkun dan dia mendahului meloncat masuk. Ketika melihat betapa para pengeroyok itu agaknya jerih dan tidak berani mengejar temannya, Panglima Jayin juga ikut melompati sebuah obor yang tingginya sama dengan manusia itu. Hampir saja pakaiannya terbakar, maka dengan hati-­hati dia lalu menyelinap di antara obor-­obor itu mendekati Tan Siong Khi. De­ngan hati-hati sekali mereka masuk selangkah demi selangkah, akan tetapi ternyata jalan menjadi buntu dengan obor-obor menghadang di depan, dan hawa panas dari obor-obor itu membuat mereka berkeringat, asap dari obor membuat napas menjadi sesak.

Para pengeroyok tadi kini menyerang mereka dari luar benteng obor, dengan menggunakan anak panah! Tentu saja dua orang gagah itu menjadi semakin sibuk! Baru barisan obor itu saja membuat mereka kewalahan dan tidak tahu ke mana harus melangkah, kini diserang oleh hujan anak panah. Repotlah mereka mengelak dan karena tempat mereka terkurung obor dan sempit, terpaksa Tan Siong Khi menggunakan jenggot dan jubahnya yang dipegang di tangan kasar untuk menangkis, sedangkan Jayin menangkis dengan pedangnya. Keadaan mereka berbahaya sekali karena kalau penyerangan itu dilanjutkan, dalam waktu singkat mereka tentu akan terkena anak panah dan kalau roboh terjilat api, tentu mereka akan terbakar hidup-hidup!

Dalam keadaan yang amat gawat itu, tiba-tiba terdengar suara, yang jelas sekali, seolah-olah orang yang bicara itu berada di dekat mereka, suara yang penuh wibawa dan halus tenang. “Ke kiri melalui tiga obor….!”

Mendengar suara ini, dua orang gagah itu saling pandang, kemudian mereka segera melangkah ke kiri sampai melalui tiga batang obor.

“Maju melalui sebatang obor….” kembali terdengar suara itu. “Lalu ke kanan melalui empat batang obor….!”

Dituntun oleh suara itu, dua orang gagah itu bergerak sambil terus menang­kisi anak panah. Suara itu terus menun­tun mereka sampai akhirnya mereka dapat masuk makin jauh dan tidak ada lagi anak panah dapat mencapai mereka. Tak lama kemudian, suara yang memim­pin itu membawa mereka tiba di depan pintu rumah di tengah-tengah kelilingan benteng obor!

Pintu rumah terbuka dan tampaklah panglima pertama dari Bhutan, yaitu Panglima Sangita yang mengawal raja berburu. “Masuklah cepat, untung kalian masih dapat tertolong.”

Dua orang itu cepat masuk dan daun pintu ditutup lagi oleh Panglima Sangita. Begitu memasuki rumah, dua orang gagah itu terkejut dan girang sekali melihat bahwa Raja Bhutan telah berada di situ, duduk di atas sebuah kursi dalam keada­an sehat dan selamat. Dan di depan raja itu berdiri seorang laki-laki yang aneh. Laki-laki yang rambutnya panjang riap­-riapan, rambut yang sudah putih semua, wajahnya masih kelihatan segar tidak setua rambutnya, sepasang matanya tajam bersinar-sinar aneh penuh wibawa, kumis dan jenggotnya terpelihara rapi, pakaiannya sederhana dan kelihatannya seperti orang biasa saja. Yang paling menyolok adalah keadaan kakinya. Kaki kirinya buntung sebatas paha, dan dia berdiri bersandar pada sebatang tongkat butut. Juga sikapnya amat menyolok karena dia seolah-olah tidak bersikap hormat kepada Raja Bhutan, melainkan bersikap biasa saja berdiri bersandar tongkat di depan tubuh dan meja di belakangnya.

Melihat rajanya, dengan girang Jayin lalu menjatuhkan diri berlutut, dan Tan-­ciangkun juga berlutut di depan Raja Bhutan.

“Hamba menghaturkan selamat bahwa paduka masih dalam keadaan selamat!” kata panglima itu dengan girang dan bersyukur.

“Berkat pertolongan orang gagah ini,” kata Raja Bhutan sambil menunjuk ke arah laki-laki berkaki buntung itu. “Kami dan Panglima Sangita sudah dikepung musuh dalam rumah ini, dan Panglima Sangita mempertahankan diri mati-mati­an. Tiba-tiba muncul orang gagah ini yang memukul mundur musuh kemudian mem­buat benteng obor sehingga musuh tidak dapat masuk ke sini. Bangkitlah kalian dan mari kita rundingkan bagaimana baiknya agar kami dapat pulang ke kota raja.”

Setelah mendapat perkenan raja, kedua orang itu bangkit. “Sri baginda, sahabat ini adalah pengawal kaisar, bernama Tan Siong Khi, dia datang bersama rombongan utusan kaisar.”

“Ahhh, sungguh menyesal, Tan-ciang­kun. Urusan itu terpaksa ditunda karena kami tertahan di sini. Hal itulah yang membuat kami banyak pikiran dan ingin lekas dapat kembali ke kota raja.”

Tiba-tiba mereka semua dikejutkan oleh Tan Siong Khi yang begitu melihat pria buntung itu, segera menjatuhkan diri berlutut di depan laki-laki itu! Baru sekarang dia melihat laki-laki itu, karena tadi dia berlutut menghadap Raja Bhutan.

“Harap taihiap sudi memaafkan saya yang tidak tahu. Kiranya taihiap yang telah menyelamatkan raja!” Sikap Tan Siong Khi merendah dan juga penuh hormat dan kagum.

Laki-laki buntung itu menahan senyum­nya dan berkata halus, “Tan-ciangkun, apa perlunya segala kesungkanan ini? Raja Bhutan sendiri tidak memperkenankan kau berlutut, apa lagi hanya aku! Bangkitlah dan mari kita duduk membica­rakan cara untuk menyelamatkan raja dari tempat ini.”

Raja Bhutan dan dua orang panglimanya, tentu saja terheran-heran. Pang­lima Tan Siong Khi adalah seorang yang berkedudukan tinggi, selain menjadi pengawal kepercayaan kaisar, juga men­jadi pemimpin rombongan utusan kaisar untuk memboyong puteri Bhutan. Akan tetapi pengawal itu berlutut di depan laki-laki buntung yang gagah perkasa ini!

Tentu saja mereka tidak tahu, karena laki-laki itu adalah seorang pendekar sakti di Tiongkok. Dia bukan lain adalah Pendekar Super Sakti, atau Pendekar Siluman, Majikan Pulau Es yang bernama Suma Han. Tentu saja bukan tidak ada sebabnya mengapa seorang pengawal kaisar sampai memberi penghormatan dengan berlutut. Pendekar Siluman ini adalah mantu kaisar! Isterinya, Puteri Nirahai adalah puteri kaisar yang amat terkenal. Bahkan puteri pendekar luar biasa ini, Puteri Milana, sekarang menja­di seorang puteri di kota raja, cucu kaisar dan telah menikah dengan seorang panglima muda yang berkedudukan tinggi, yaitu Panglima Han Wi Kong. Maka sepatutnyalah kalau pengawal ini berlutut di depan mantu kaisar ini, bukan hanya karena kedudukannya, juga karena kepan­daiannya yang amat hebat, membuat Pengawal Tan tunduk dan kagum!

“Harap paduka rundingkan rencana penyelamatan paduka dengan tiga orang gagah ini, saya sendiri hendak meneliti keadaan di luar.” Tiba-tiba pendekar itu berkata dan terpincang-pincang dia me­nuju ke pintu, membuka pintu dan berdiri di samping pintu, termenung memandang keluar ke arah benteng obor yang dibu­atnya. Ketika dia melihat raja dan pang­limanya dikepung siang tadi, dia sudah cepat menolong, akan tetapi sukarlah mengalahkan ratusan orang Mongol dan Tibet itu. Tentu saja dia tidak mau memihak dan membunuhi mereka, maka untuk menyelamatkan raja dalam sementara waktu, dia lalu membuat benteng obor itu.

Raja Bhutan lalu mengajak kedua panglimanya dan Tan-ciangkun untuk berunding.

“Betapapun juga, besok hari kami harus sudah berada di kota raja. Urusan puteri kami amatlah penting, dan kalau makin terlambat, tentu akan tidak me­nyenangkan hati kaisar. Ahh, salahku sendiri mengapa pergi berburu mengha­dapi urusan besar. Dan mengapa manusia-manusia biadab itu tidak dibasmi sejak dahulu!”

“Mereka itu jumlahnya lebih tiga ratus orang, mungkin kini sudah ditambah lagi dan mereka bersembunyi mengurung tempat ini,” kata Panglima Sangita yang berusia lima puluh tahun itu.

“Pasukan kita masih menanti agak jauh, dan sudah hamba pesan untuk bergerak pada besok pagi-pagi. Kalau pasukan kita datang, tentu dengan mudah menghancurkan mereka,” berkata Pangli­ma Jayin.

“Bagus kalau begitu!” kata raja. “Kita menanti sampai besok pagi.”

“Sayang sekali, obor-obor ini tidak akan dapat bertahan sampai besok pagi. Sebentar lagi juga padam karena kehabis­an minyak,” tiba-tiba terdengar suara halus tenang, suara Pendekar Siluman dan suara ini pula yang tadi “menuntun” Jayin dan Tan Siong Khi sampai di rumah itu. Mereka terheran, kecuali Tan-ciangkun, betapa orang buntung itu dapat mendengarkan percakapan mereka, pada­hal dia sendiri jauh di ambang pintu depan dan kelihatan termenung meman­dang keluar.

“Ah, kalau begitu bagaimana?” Raja bertanya khawatir.

“Bagaimana kalau kita bertiga mener­jang keluar, kemudian seorang di antara kita lari memanggil pasukan?” Jayin mengusulkan.

“Tidak baik,” kata Tan-ciangkun. “Kita bertiga tentu takkan dapat mela­wan mereka, dan kalau kita bertiga roboh, berarti sia-sia belaka. Lawan terlalu banyak. Andaikata kita bertiga dapat menyelamatkan diri, bagaimana dengan sri baginda?”

Kini semua mata yang diliputi kekha­watiran itu tertuju kepada Pendekar Siluman yang masih berdiri membelakangi mereka.

“Taihiap, bagaimana baiknya?” Tiba-tiba sri baginda berkata kepada Pendekar Siluman. “Harap taihiap suka menolong kami, dan kelak hadiah apa yang taihiap minta tentu akan kami penuhi!”

Tan-ciangkun cepat memberi isyarat dengan gelengan kepala kepada Raja Bhutan, dan raja ini agaknya maklum akan kesalahannya, maka dia cepat berkata lagi, “Maksud kami, kami tidak akan melupakan budi kebaikan taihiap yang amat berharga itu.”

Tubuh yang berkaki satu itu berputar dan sepasang mata yang lembut namun tajam sekali berkata, seolah-olah berkata kepada dirinya sendiri, tidak menjawab langsung ucapan Raja Bhutan itu, “Da­patkah disebut perbuatan baik apabila perbuatan itu dilakukan dengan pamrih sesuatu sebagai pendorongnya? Tidak ada pamrih baik atau buruk, yang ada hanya pamrih saja, keinginan untuk memperoleh sesuatu, baik berupa harta benda, kedu­dukan, nama besar, atau keinginan untuk menjadi baik dengan perbuatan baik. Perbuatan seperti itu bukan baik, mela­inkan palsu dan munafik. Perbuatan baru­lah benar apabila dilakukan tanpa disa­dari sebagai suatu perbuatan baik, tanpa dorongan kewajiban atau apa saja, me­lainkan wajar dan polos penuh kasih.”

Raja Bhutan tercengang, juga merasa terpukul. Kiranya laki-laki yang cacat ini, selain memiliki ilmu kepandaian tinggi, juga memiliki kebijaksanaan luar biasa!

“Taihiap, bagaimana sebaiknya untuk dapat menyelamatkan Sri Baginda Bhutan yang menjadi calon besan kaisar kita?” Tiba-tiba si jenggot Tan Siong Khi ber­tanya.

“Kita menunggu sampai api obor padam.” Pendekar Siluman berkata te­nang sambil terpincang-pincang masuk dan kembali dia bersandar pada meja. “Dalam keadaan gelap, lebih mudah bagi kalian bertiga untuk menerjang keluar dan menyelamatkan diri. Aku akan beru­saha untuk membawa sri baginda keluar.” Setelah berkata demikian Pendekar Silu­man bersandar kepada meja dan tongkat­nya, memejamkan kedua matanya seolah­olah tidur sambil berdiri!

Melihat sikap ini, tidak ada yang berani menegur atau membantah. Raja mengangguk dan kedua orang panglima itu segera menjaga di luar pintu, menung­gu sampai obor kehabisan minyak dan padam seperti yang direncanakan Pende­kar Siluman tadi. Raja, Tan-ciangkun dan Pendekar Siluman masih berada di dalam rumah. Rumah kecil ini memang merupa­kan bangunan yang khusus dibangun di situ untuk tempat raja beristirahat apa­bila sedang melakukan olah raga berburu binatang. Maka biarpun kecil, cukup kuat dan lengkap.

Keadaan menjadi tegang. Api unggun dalam tempat api yang bernyala di depan raja hampir padam dan raja tidak mem­pedulikannya. Ketegangan menghilangkan rasa dingin. Tiba-tiba raja terkejut, juga Tan-ciangkun kaget menengok ketika tiba-tiba pintu luar dibuka oleh Panglima Sangita yang berteriak, “Sudah ada di antara obor yang padam!”

Semua mata kini memandang kepada Pendekar Siluman, mengharapkan petun­juk. Karena memang mereka semua, termasuk Raja Bhutan, hanya mengandal­kan kemampuan pendekar itu untuk dapat keluar dari tempat itu dengan selamat. Sikap pendekar yang selalu tenang itu menimbulkan harapan besar.

Dia menghadapi tiga orang gagah itu, dua Panglima Bhutan dan seorang penga­wal kaisar, lalu berkata, “Kalian bertiga tunggu dan lihat baik-baik. Kalau semua obor di sebelah kiri pintu sudah kupa­damkan semua, kalian boleh menerobos keluar ke arah kiri. Dalam keadaan gelap, fihak musuh tentu tidak berani sembarangan mengeroyok, khawatir me­ngenai kawan sendiri. Selagi mereka sibuk menyalakan obor, kalian harus cepat-cepat meninggalkan tempat itu, selalu bersatu merobohkan lawan, saling membantu dan saling melindungi, akan tetapi jangan sampai terpancing dan terlibat dalam pertandingan karena kalau obor sudah terpasang semua kalian semua tentu tidak akan dapat lolos lagi. Jumlah musuh terlalu banyak dan mereka adalah orang-orang yang tidak kenal menyerah.”

Tiga orang itu mengangguk, akan tetapi Panglima Jayin bertanya tidak sabar karena bagi hamba setia seperti dia, yang terpenting adalah keselamatan rajanya, “Bagaimana dengan sri baginda?”

“Sri baginda adalah bagianku untuk mengawalnya keluar. Beliau akan menanti kalian di tempat pasukan kalian berada.”

Ucapan ini mengherankan mereka bertiga. Sikap pendekar ini demikian tenang, dan demikian pasti! Benarkah pendekar itu akan berhasil membawa raja ke tempat pasukan lebih dulu daripada mereka?

“Sebelum kita mulai, aku hendak bertanya lebih dulu kepada kedua Pang­lima Bhutan. Aku sedang mencari kedua orang puteraku yang bernama Suma Kian Lee dan Suma Kiam Bu. Apakah Ji-wi pernah melihat atau mendengar nama mereka di daerah Bhutan?”

Dua orang Panglima Bhutan itu saling pandang lalu menggelengkan kepala. Pendekar Siluman menghela napas pan­jang, lalu berkata, “Aku hanya minta apabila sewaktu-waktu Ji-wi (anda berdua) mendengar mereka berada di sini agar suka membujuk mereka untuk pulang ke Pulau Es dan menerima mereka sebagai sahabat.”

“Tentu saja, taihiap!” Tiba-tiba raja menjawab. “Kami akan mengerahkan pasukan penyelidik untuk mencari mereka.”

“Terima kasih.” Pendekar Siluman membungkuk, kemudian melanjutkan bertanya kepada Tan-ciangkun, “Apakah Tan-ciangkun juga tidak mendengar tentang mereka di sepanjang perjalanan?”

“Sayang sekali tidak, taihiap.”

Kembali pendekar itu menarik napas panjang. “Tidak mengapa, biarlah. Mari kita mulai. Harap paduka juga ikut keluar dan selalu dekat dengan saya, sri baginda.”

Mereka berlima segera membuka pintu dan keluar. Benar saja, sudah ada sebagian obor yang padam, sebagian pula sudah hampir padam, akan tetapi keada­an masih terang oleh nyala obor. Tampak beberapa bayangan bergerak-gerak di seberang. Tentu keadaan itu menimbulkan ketegangan juga di fihak musuh. Mereka sudah mengurung sejak siang tadi dan betapapun mereka berusaha, mereka tidak mampu memasuki benteng obor, bahkan sudah ada beberapa orang yang menjadi korban dan mati terbakar. Kini obor mulai padam dan agaknya mereka sudah bersiap-siap untuk menerjang ke rumah itu jika semua obor sudah padam. Orang yang berada di dalam rumah kecil itu amat penting bagi mereka. Kalau bisa menawan Raja Bhutan, tentu mereka dapat memaksa Kerajaan Bhutan untuk menakluk kepada mereka! Atau setidak­nya, tentu mereka yang berada di Bhutan bersedia untuk menukar raja dengan harta dalam jumlah besar!

Tiga orang gagah itu terbelalak penuh kagum ketika melihat betapa hanya dengan dua genggam tanah yang disabit-sabitkan, Pendekar Siluman berhasil memadamkan semua obor di sebelah kiri. Akan tetapi mereka tidak berhenti untuk mengagumi kelihaian ini, melainkan cepat berlari maju ke depan dan mener­jang keluar seperti yang dipesankan oleh Pendekar Siluman. Dua orang Panglima Bhutan bersenjatakan pedang sedangkan Tan-ciangkun sudah mencabut sebatang bambu obor dan mereka bergerak cepat sekali, menyelinap di antara bambu-bambu obor yang sudah padam. Tak lama kemudian terdengarlah ribut-ribut di sebelah seberang, tanda bahwa tiga orang gagah itu sudah tiba di seberang benteng obor dan sudah mulai membuat jalan darah untuk lolos dari kepungan musuh.

Suma Han Si Pendekar Super Sakti sudah memadamkan obor di sebelah kanan dengan sabitan tanah pula. Kemudian dengan tenang dia berkata, “Harap paduka suka duduk di punggung saya.”

Tanpa ragu-ragu Raja Bhutan lalu merangkul leher penolongnya dan digen­dong seperti seorang anak kecil. Kemudi­an Raja Bhutan terpaksa memejamkan matanya karena ngeri ketika merasa betapa tubuhnya meloncat ke depan, terus dibawa berloncatan oleh Pendekar Siluman melalui atas bambu-bambu obor itu.

Seperti juga tiga orang gagah itu, ketika tiba di seberang, Pendekar Silu­man disambut oleh orang-orang Mongol dan Tibet. Akan tetapi karena keadaan gelap dan mereka belum sempat menyala­kan obor, mudah saja bagi Pendekar Siluman untuk merobohkan beberapa orang terdepan dengan tongkatnya, ke­mudian tubuhnya meloncat ke atas, melalui kepala mereka, bahkan kadang-kadang menginjak pundak seseorang dipakai sebagai landasan untuk meloncat lagi. Gegerlah semua musuh ketika me­reka menghadapi orang yang pandai “menghilang” ini, dan tak lama kemudian Pendekar Siluman sudah berhasil lolos dari kepungan dan berlari cepat memba­wa Raja Bhutan ke pasukan Kerajaan Bhutan yang masih menanti kembalinya dua orang penyelidik itu, dan bersiap-siap untuk menyerbu begitu malam ber­ganti pagi.

Tentu saja kedatangan raja mereka itu disambut dengan pekik sorak gemu­ruh. Akan tetapi raja sudah berseru keras, “Cepat serbu ke sana! Dua orang panglima dan Tan-ciangkun masih di sana dikeroyok musuh!”

Kemudian barisan segera membawa delapan ratus orang perajurit menyerbu, sedangkan yang dua ratus ditinggalkan untuk mengawal raja kembali ke kota raja. Dalam keributan ini, diam-diam Pendekar Siluman telah lolos dan ketika raja mencarinya, dia sudah pergi jauh sekali!

Setelah pagi tiba, pasukan kerajaan kembali dengan membawa kemenangan. Hampir tiga perempat jumlah musuh dapat terbasmi dan mereka kembali dipimpin oleh dua orang panglima dan juga bersa­ma Tan-ciangkun. Dengan gembira mere­ka lalu mengawal Raja Bhutan kembali ke kota raja. Raja bersyukur sekali akan tetapi dia juga merasa menyesal menga­pa pendekar yang telah menyelamatkan­nya itu pergi tanpa pamit. Diam-diam dia kagum sekali, berterima kasih dan juga ingin sekali dia mendapat kesempat­an bertemu lagi dengan pendekar berkaki satu itu. Tan-ciangkun yang sudah tahu akan sifat dan watak Pendekar Super Sakti, hanya tersenyum dan dialah yang menjadi bulan-bulan pertanyaan Raja Bhutan. Selama dalam perjalanan kembali ke kota raja, Tan-ciangkun terpaksa harus menceritakan segala yang diketahuinya mengenai diri Pendekar Siluman dan Raja Bhutan makin kagum ketika mende­ngar bahwa pendekar yang amat sakti itu ternyata masih mantu dari kaisar sendiri!

***

Tentu saja Suma Han atau Pendekar Super Sakti tidak dapat menemukan kedua orang puteranya. Dia mencari terlampau jauh! Dia sama sekali tidak pernah menduga bahwa dua orang putera­nya itu berada di Pulau Neraka, dan memang sesungguhnya dua orang pemuda tanggung itupun tidak mempunyai niatan pergi ke Pulau Neraka. Menurut dugaan Nirahai dan Lulu, dua orang isterinya, juga dugaannya sendiri, dua orang anak itu tentu telah pergi ke kota raja di daratan besar untuk mencari Milana.

“Kalau begitu, biarlah mereka menca­ri pengalaman,” kata Pendekar Siluman kepada dua isterinya, karena sesungguh­nya dia merasa segan untuk meninggal­kan Pulau Es, meninggalkan kedua orang isterinya tercinta, meninggalkan kehidup­annya yang sudah tenteram di pulau itu, jauh daripada segala keramaian dan keributan dunia ramai. Dia sudah merasa muak dengan kehidupan manusia di dunia ramai, di mana orang selalu mengejar keinginan akan kesenangan jasmani dan rohani dan dalam pengejaran ini mereka tidak segan-segan untuk saling menye­rang, saling membunuh antara sesama manusia. “Mereka sudah cukup besar, sudah lima belas tahun usia mereka, hampir enam belas tahun. Juga mereka sudah memiliki kepandaian lumayan, tidak perlu lagi kita mengkhawatirkan diri mereka seperti mengkhawatirkan anak kecil.”

“Akan tetapi, mereka ini masih hijau, masih belum berpengalaman. Kalau ber­temu dengan orang jahat, tentu mereka menghadapi malapetaka, sedangkan di daratan sana begitu banyaknya orang-orang jahat!” kata Nirahai.

“Dan banyak orang-orang golongan hitam yang mendendam kepada keluarga kita. Kalau mereka mengaku datang dari Pulau Es, tentu mereka akan dimusuhi banyak orang.” Lulu menyambung.

“Hemm, kalau tidak sekali waktu menghadapi bahaya, mana bisa matang?” Pendekar Super Sakti membantah.

Nirahai dan Lulu berkata hampir berbareng, keduanya cemberut, “Kalau tidak mau menyusul, biarlah aku yang pergi mencari!”

Suma Han menarik napas panjang. Takkan ada menangnya bagi dia kalau berdebat melawan kedua orang isterinya yang pandai bicara ini. Sebelum terlahir kedua orang anak itu, kedua isterinya selalu taat, tunduk, dan mencurahkan seluruh kasih sayang dan perhatian mere­ka kepadanya seorang. Akan tetapi begitu mereka mempunyai anak, dia menjadi “orang ke dua”!

“Dan pula, sudah lama sekali engkau tidak menjenguk ke kota raja. Bukankah kasihan sekali Milana kalau tidak pernah kau tengok? Kita tidak tahu bagaimana keadaan anak kita itu di kota raja.” Suara Nirahai menggetar penuh keharuan dan Pendekar Super Sakti sudah khawatir kalau-kalau isterinya ini mencucurkan air mata.

“Baiklah, aku akan mencari dua orang anak bengal itu!” katanya cepat-cepat.

Berangkatlah Pendekar Super Sakti mencari dua orang puteranya. Mula-mula dia mencari ke kota raja dan benar saja, seperti yang dikatakan Nirahai, begitu melihat ayahnya, Milana menjerit dan menubruk ayahnya, menangis terisak-isak seperti anak kecil! Suma Han mera­sa terharu juga akan tetapi dia dapat menahan, hatinya dan sambil mengelus rambut puterinya yang masih tetap cantik jelita ini, dia berkata, “Milana, mengapa kau menangis? Bukankah hidup­mu bahagia di sini?”

Suaminya, Panglima Han Wi Kong setelah menghormat kepada ayah mertua­nya, menjawab, “Dia cukup bahagia, ayah, hanya tentu saja dia amat rindu kepada ayah dan ibu di Pulau Es.”

“Hemm, seperti anak kecil saja kau, Milana.” Suma Han lalu duduk dan bercakap-cakap dengan puterinya dan mantu­nya. Dia menyayangkan bahwa mereka belum mempunyai turunan, dan mende­ngar ini wajah kedua orang itu menjadi muram. Tentu saja mereka tidak berani menceritakan rahasia hati mereka. Sudah lama sekali mereka menjadi suami isteri pada lahirnya saja, padahal sebenarnya mereka tidak lagi tidur sekamar! Milana menyatakan terus terang bahwa dia tidak bisa juga untuk belajar mencinta suami­nya dan diapun rela kalau suaminya itu mengambil selir berapa saja yang dikehendakinya! Namun sampai sebegitu lama, suaminya tetap belum mau mem­punyai selir, hal yang sungguh merupakan suatu keganjilan bagi kehidupan para bangsawan di masa itu.

“Ayah, mengapa tidak mengajak Kian Lee dan Kian Bu?” Milana bertanya untuk mengalihkan percakapan mengenai kehidupannya yang tidak menyenangkan hatinya itu.

Pendekar Super Sakti menarik napas panjang, “Hemmm…., justeru karena mereka berdua, bocah-bocah bengal itulah, maka kehidupannya yang tenang tenteram terganggu. Aku meninggalkan Pulau Es justru untuk mencari mereka yang minggat dari Pulau Es! Menurut dugaan kami, mereka pergi ke sini men­carimu. Apakah mereka tidak ada datang ke sini?”

Milana dan suaminya menggelengkan kepala. “Tidak ada, ayah. Aihhh, ke mana mereka pergi? Ayah, kalau sudah dapat ditemukan, biarlah Kian Bu tinggal di sini saja bersamaku. Setidaknya, untuk beberapa bulan….”

“Hal itu mudah diatur. Aku harus menemukan mereka lebih dulu. Aihh, ke mana gerangan mereka? Menurut dugaan kami, tidak ada lain tempat yang sekira­nya boleh mereka datangi kecuali di sini. Jangan-jangan ada sesuatu yang menarik hati mereka….” Suma Han mengerutkan alisnya.

“Ah! Jangan-jangan rombongan utusan ke Bhutan itu….!” Tiba-tiba Panglima Han Wi Kong berseru.

“Benar! Boleh jadi! Rombongan itu menarik perhatian memang.” kata Milana.

“Rombongan utusan ke Bhutan?” Suma Han bertanya.

“Pamanda kaisar akan berbesan de­ngan Raja Bhutan,” kata Milana menceri­takan, “yaitu pangeran muda putera selir ke tiga dari pamanda kaisar. Pinangan sudah diterima setahun yang lalu, dan rombongan utusan pamanda kaisar itu, dipimpin oleh pengawal Tan Siong Khi, berangkat ke Bhutan untuk memboyong puteri Raja Bhutan yang cantik jelita bernama Syanti Dewi. Rombongan itu sudah berangkat dua minggu yang lalu.”

Suma Han mengangguk-angguk. Me­mang kaisar yang lama, yaitu ayah puteri Nirahai, telah lama meninggal dunia dan kedudukannya telah diganti oleh Pangran Putera Mahkota yang masih paman dari Milana. Kaisar ini merupakan kaisar ke dua dari Kerajaan Mancu.

Tiba-tiba Suma Han menepuk tangannya.

“Aihh….! Bhutan….? Bukankah dekat dengan Pegunungan Himalaya? Kian Lee paling senang mendengar ibunya bercerita tentang Pegunungan Hima­laya yang disohorkan menjadi pusat pertapaan manusia pandai, bahkan dewa-dewa dikabarkan tinggal di sana! Pernah anak itu ketika masih kecil menyatakan bahwa dia ingin sekali melihat sendiri seperti apa itu Pegunungan Himalaya. Mungkin juga kalau begitu. Mungkin mereka di jalan ketemu dengan rombong­an utusan itu, mendengar bahwa mere­ka menuju ke Bhutan dekat Himalaya dan mereka berdua mendekati rombongan itu.”

“Bisa jadi!” Panglima Han Wi Kong berseru. “Yang memimpin rombongan Tan-ciangkun. Dia sudah mengenal gakhu (ayah mertua), kalau adik Kian Lee dan Kian Bu mengaku bahwa mereka itu putera Majikan Pulau Es, sudah tentu saja Tan-ciangkun akan menerima mereka dengan kedua tangan terbuka.”

“Hemm, kalau begitu biarlah aku menyusul ke Bhutan.” kata Suma Han dengan tetap.

“Ayah, bolehkah aku ikut?” Tiba-tiba Milana berkata.

Suma Han memandang tajam. “Kau? Ikut? Ahhh, mana bisa. Engkau bukan seorang dara remaja yang suka merantau lagi seperti dulu, Milana.”

Milana menunduk. “Aku…. aku ingin sekali seperti dulu….”

Suma Han mengerutkan alisnya. Apa yang terjadi dengan puterinya ini? Apa­kah puterinya tidak mengalami kebaha­giaan dalam pernikahannya? Aihh, betapa hidup ini penuh dengan derita dan kekecewaan.

Dia menggeleng kepala. “Tidak, aku akan pergi sendiri. Aku pergi bukan untuk pesiar. Kelak adik-adikmu dan ibu-ibumu biar datang mengunjungimu di sini. Biarlah mereka di sini sampai beberapa bulan.”

Ucapan ini menghibur hati Milana. Akan tetapi ketika ayahnya berangkat, tiba-tiba dia lari mengejar dan merangkul ayahnya di depan rumah yang seperti istana.

“Ayah….”

“Eh, ada apakah, Milana?”

“Ayah….” suaranya lirih sekali, gemetar dan parau, “pernahkah ayah mendengar tentang…. dia….?”

Suma Han memejamkan matanya. Dia merasa seolah-olah jantungnya ditusuk ujung pedang beracun. Dia menggeleng kepala tanpa membuka matanya yang dipejamkan, dan berbisik, “Aku tidak pernah mendengar…. entah di mana…. kau…. kau tidak perlu lagi memikirkannya, anakku….” Suma Han me­maksa dirinya melepaskan rangkulannya dan membalik, melompat pergi dan baru dia berani membuka kedua matanya yang menjadi basah. Dia tidak menengok akan tetapi diapun tahu bahwa anaknya itu tadi mencucurkan air mata, terasa oleh­nya beberapa tetes jatuh menimpa dada­nya. Anaknya itu hidup menderita! Perni­kahannya yang dipaksa itu tidak menda­tangkan bahagia. Anaknya masih selalu mengenangkan Gak Bun Beng! Ahh, mengapa penderitaan batin akibat cinta yang sudah ditanggungnya selama berta­hun-tahun dahulu (baca ceritaPendekar Super Sakti danSepasang Pedang Iblis) kini menimpa pula diri puterinya! Kasih­an Milana….!

Demikianlah usaha Pendekar Super Sakti mencari kedua orang puteranya sehingga dia sampai ke Negeri Bhutan. Namun perjalanannya itu tidak sia-sia karena biarpun dia tidak berhasil mene­mukan Kian Lee dan Kian Bu, dia telah menyelamatkan Raja Bhutan yang teran­cam oleh musuh-musuhnya.

***

Sementara itu, Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu meringkuk di dalam kamar tahanan di Pulau Neraka. Mereka diperlakukan dengan baik, akan tetapi dijaga ketat dan kaki tangan mereka selalu terbelenggu dengan rantai baja yang kokoh kuat. Mereka dapat berjalan, dan dapat makan sendiri, akan tetapi tentu saja tidak mungkin untuk melarikan diri dari pulau itu dengan kaki tangan me­nyeret rantai panjang itu.

Satu bulan sudah mereka ditahan. Pada suatu hari, selagi mereka menjemur diri di luar kamar tahanan, Kian Lee menyikut adiknya. “Lihat itu….!”

Mereka mendongak dan melihat tiga titik hitam yang berada di angkasa, makin lama makin besar dan setelah dapat tampak, ternyata dua titik putih dari satu titik hitam itu adalah dua ekor burung putih dan seekor burung hitam yang besar sekali.

“Ihh, burung apa itu begitu besar, Lee-ko?”

“Entahlah. Agaknya burung garuda seperti yang dulu pernah dimiliki ayah menurut cerita ayah.”

Melihat kakak beradik ini berbisik-bisik dan menunjuk ke atas, penjaga yang melihatnya tertawa. “Kalian mau tahu? Itulah seekor Hek-tiauw (Rajawali Hitam) tunggangan to-cu kami, dan yang dua ekor adalah Pek-tiauw yang masih muda dan menjadi peliharaannya. Mereka datang membawa daging manusia untuk kami, he-he!”

Sambil mengeluarkan bunyi meleng­king nyaring, tiga ekor rajawali itu turun ke dalam kebun di luar rumah-rumah di pulau itu dan kedua orang kakak beradik itu melihat betapa rajawali hitam yang amat besar itu mencengkeram punggung baju seorang laki-laki muda gemuk yang menggigil ketakutan. Laki-laki itu dilepas dan jatuh bergulingan di atas tanah, lalu berlutut dan minta-minta ampun. Akan tetapi dua orang anggauta Pulau Neraka telah melompat maju, menangkap dan membelenggunya, menyeretnya ke dalam untuk dihadapkan kepada Hek-tiauw Lo-mo. Kian Lee dan Kian Bu mendengar suara ketawa kakek raksasa ketua Pulau Neraka itu, kemudian melihat lagi tawan­an itu diseret keluar. Dengan mata terbelalak penuh kengerian, kedua orang pemuda remaja itu melihat tawanan itu ditelanjangi, digantung kedua tangannya dan dibelek perutnya dengan golok tajam dan dikeluarkan isi perutnya! Hampir mereka tak dapat bertahan menyaksikan kekejaman dan mendengar suara teriakan tawanan itu. Kemudian mereka berdua hampir muntah melihat mayat orang itu dipotong-potong, kemudian dimasak dan dipanggang!

“Lee-ko…. aku…. aku takut….” Suma Kian Bu berbisik, berdiri menggigil dan mukanya pucat sekali.

Suma Kian Lee juga berdebar ngeri, dan dia maklum bahwa kalau adiknya yang tak pernah mengenal takut itu kini menyatakan takut, maka keadaannya sudah gawat sekali.

“Bu-te…. kita harus dapat melolos­kan diri…. sekarang juga….” bisiknya sambil merangkul adiknya. Mereka berdua maklum bahwa nasib mereka juga besar kemungkinan akan sama dengan tawanan yang gemuk itu!

Kedua orang pemuda remaja itu menanti kesempatan baik dan ketika ketua Pulau Neraka sedang berpesta pora menikmati daging manusia sambil minum arak, kemudian sisanya dibagi-bagikan kepada para anak buahnya, mereka ber­dua menyelinap ke dalam kebun. Di situ mereka melihat tiga ekor burung rajawali sedang makan isi perut manusia! Dua ekor burung yang putih bulunya dan masih muda, memperebutkan usus yang panjang, saling tarik dan saling betot sambil mengeluarkan bunyi cecowetan.

“Bu-te, sekarang….!” bisik Suma Kian Lee dan keduanya lalu menghampiri dua ekor burung itu. Dengan gerakan yang amat gesit, keduanya mengerahkan gin-kang mereka dan meloncat ke atas punggung burung yang tinggi. Dua ekor burung rajawali putih itu terkejut, me­ronta karena mengira bahwa mereka diserang dan ditubruk musuh. Mereka berusaha untuk melemparkan orang yang berada di punggung mereka dan dalam kemarahan mereka, usus yang diperebut­kan tadi sudah dilupakan lagi. Namun, kedua orang muda itu tetap mendekam di atas punggung mereka sambil merang­kul leher burung dengan ketatnya.

“Rajawali, terbanglah!” Suma Kian Bu membentak. “Kalau tidak, kucabuti se­mua bulu lehermu!” Berkata demikian, pemuda bengal ini mencabuti beberapahelai bulu dari leher burung yang ditung­ganginya. Burung itu menjerit kesakitan, mengembangkan sayapnya lalu terbang ke atas. Burung yang ditunggangi Suma Kian Lee yang juga kebingungan dan ketakut­an, segera mencontoh perbuatan teman­nya dan terbang pula!

“Yahuuuuu….!” Suma Kian Bu bersorak kegirangan. “Lee-ko! Kita terbang seperti dewa….!” Teriaknya pula sambil menoleh ke arah rajawali kedua yang ditunggangi kakaknya.

“Hati-hati, Bu-te, lihat kita dikejar….!”

Kian Bu menoleh ke bawah dan benar saja. Dia melihat rajawali hitam sudah terbang pula ke atas dan di punggung burung besar itu duduk…. Hek-tiauw Lo-mo! Kakek itu kelihatan marah sekali, menggerak-gerakkan kedua tangannya menyuruh dua orang muda itu kembali. Rajawali hitam yang ditungganginya juga mengeluarkan suara melengking-lengking seperti mengundang kedua orang teman­nya, dan dua ekor rajawali putih itu bimbang dan tiba-tiba membalik dan terbang menghampiri rajawali hitam!

“Heiii, dua bocah yang bosan hidup! Kalian berani mencoba melarikan diri? Awas kau, sekali ini aku tidak akan mengampuni kalian lagi. Kalian akan kupanggang hidup-hidup!”

Rajawali hitam itu sudah dekat sekali dan tiba-tiba rajawali putih yang ditung­gangi Suma Kian Bu mengeluarkan pekik nyaring dan…. menerjang rajawali hitam dengan ganasnya!

“Eh-eh, heiiitttt…. kurang ajar!” Hek-tiauw Lo-mo berteriak marah meli­hat rajawali putih itu mengabruk rajawali hitam yang ditungganginya. Akan tetapi dari belakangnya, rajawali putih kedua yang ditunggangi Kian Lee juga datang menyerbu dengan ganas! Apakah yang terjadi? Mengapa kedua rajawali putih itu menyerang temannya sendiri?

Kiranya Suma Kian Bu yang bengal itu menjadi khawatir sekali menyaksikan kedatangan rajawali hitam yang ditung­gangi ketua Pulau Neraka yang menye­ramkan itu. Dalam kegelisahannya, tim­bul akalnya dan dia lalu mencabuti bulu di leher, bahkan mencengkeram leher rajawali yang ditungganginya. Rajawali itu kesakitan dan marah-marah, sedemi­kian marahnya sehingga dia mengamuk membabi buta, karena tidak dapat mem­balas orang yang mendekam di punggung­nya, dia lalu menumpahkan kemarahannya kepada rajawali hitam! Adapun Kian Lee yang mendekam di punggung rajawali putih kedua membisikan kata-kata halus kepada rajawali itu, minta kepada bina­tang itu agar menolongnya, “Rajawali yang baik, kautolonglah kami berdua….”

Tentu saja rajawali yang ditunggangi­nya itu tidak mengerti arti kata-kata Kian Lee, akan tetapi melihat temannya menerjang rajawali hitam, diapun membantu dan menyerangnya dari belakang. Segera terjadi pertandingan yang seru dan mengerikan hati kakak beradik itu antara tiga ekor burung rajawali itu! Siapa tidak akan merasa ngeri kalau burung yang ditunggangi masing-masing itu menukik, menerjang, membalik dan membuat gerakan-gerakan yang luar biasa dan sekali saja mereka terjatuh, tentu mereka akan terbanting dari tem­pat yang luar biasa tingginya itu dan tubuh mereka akan remuk!

Hek-tiauw Lo-mo marah bukan main. Dia memaki-maki, tangannya ikut mem­bantu rajawalinya memukul ke arah kedua ekor rajawali putih, akan tetapi karena gerakan rajawali yang ditungganginya membuat diapun harus berpegang kuat-kuat, maka gerakannya tidak leluasa dan pukulannya meleset selalu.

“Bedebah! Keparat! Kalian berani melawan? Kusembelih kalian!” bentaknya berkali-kali akan tetapi akhirnya dia ter­paksa harus menangkis karena keroyokan dua ekor rajawali putih yang masih muda dan kuat itu membuat rajawalinya sendiri kwalahan dan beberapa patukan dan cakaran kesasar menyerang dirinya! Dia merasa menyesal mengapa tadi tergesa-gesa tidak membawa senjatanya. Tadinya dia sedang makan minum dan terkejut mendengar pekik rajawalinya, maka dia lari keluar tanpa membawa senjatanya ketika anak buahnya berteriak melapor bahwa dua orang pemuda cawan­an itu lari. Pula, dia memandang rendah mereka, sama sekali tidak mengira bah­wa dua ekor burung rajawali itu akan membalik dan melawannya!

Setelah terkena patukan beberapa kali dan kepalanya terluka berdarah, rajawali hitam menjadi panik dan jerih, dan akhirnya sambil berteriak panjang dia membalik dan pergi. Betapapun Hek-tiauw Lo-mo membentak dan membujuk­nya, rajawali hitam itu tidak mau melan­jutkan pengejarannya dan dua ekor raja­wali putih sudah terbang lagi dengan kecepatan yang membuat kedua orang muda itu berpegang semakin erat.

Akan tetapi makin lama, mereka menjadi terbiasa dan tidak terlalu ngeri lagi, bahkan Suma Kian Bu sudah pula mulai bergembira dan bersorak-sorak.

“Aduhh…. indahnya pemandangan di bawah. Lihat, Lee-ko, tuh di sana, pulau itu, aduh indahnya! Berwarna-warna, biru hijau kuning…. dan pepohonan itu demikian kecil!”

Jarak antara kedua ekor rajawali itu memang tidak jauh dan sepasang rajawali itu memang amat akrab, maka mereka dapat saling bercakap-cakap, biarpun mereka harus berteriak agar dapat ter­dengar.

“Bu-te, kita harus kembali ke Pulau Es!” Kian Lee berteriak.

“Benar, Lee-ko, mari kita cari. Tentu akan lebih mudah mencari dari atas.”

Rajawali yang ditunggangi Kian Bu agaknya memang lebih nakal daripada yang ditunggangi Kian Lee. Rajawali itu menukik ke bawah, kemudian terbang berputaran dengan kecepatan yang luar biasa. Kian Bu yang banyak akalnya mulai mempelajari cara menunggang burung raksasa ini. Dia mencoba dengan menarik bulu leher kanan. Kalau merasa leher kanannya sakit, terpaksa burung itu menggerakkan kepala ke kanan, ekornya mengimbanginya dan otomatis terbangnya membelok ke kanan. Demikian pula kalau Kian Bu menarik bulu di leher kiri. Dapat dibayangkan betapa girang rasa hati Kian Bu dan mulailah dia “menyetir” burungnya mencari Pulau Es. Burung yang ditunggangi Kian Lee selalu mengikuti ke mana terbangnya kawannya se­hingga bagi Kian Lee tidak sukar lagi menentukan arah.

“Ah, di sana itu, Bu-te…!” Tiba-tiba Kian Lee berteriak ketika melihat sebuah pulau yang berwarna putih dan berkilauan. Tentu saja belum pernah dia melihat Pulau Es dari angkasa, akan tetapi biasanya kalau dia sedang bermain di puncak bukit kecil di tengah pulau, dia melihat permukaan pulau yang rendah juga berwarna putih dan berkilau seperti itu.

“Benar, mari kita pulang, Lee-ko!” Kian Bu juga sudah melihat pulau itu dan dia memutar burungnya menuju ke sana.

Tak lama kemudian, kedua ekor burung rajawali itu terbang berputaran di atas pulau dan kedua orang anak itu berteriak-teriak kegirangan ketika mengenalnya. Memang benar pulau itu adalah tempat tinggal mereka, Pulau Es!

“Ayaaaaaaahhhhh….! Ibuuuuu….!” Suma Kian Bu berteriak-teriak dari atas.

Tak lama kemudian tampaklah Pende­kar Super Sakti dan kedua orang isteri­nya keluar dari dalam Istana Pulau Es dan ketiga orang itu memandang ke atas dengan penuh keheranan melihat sepasang rajawali itu berputaran di atas pulau.

“Kian Lee! Kian Bu!” Terdengar suara Pendekar Super Sakti melengking nyaring. “Lekas kalian turun….!”

Dua ekor burung itu tetap terbang berputaran dan betapapun kedua orang muda itu berusaha, tetap saja sepasang rajawali itu tidak mau turun. Tentu saja mereka tidak mau turun di pulau yang asing karena mereka merasa takut.

“Ayah! Kami tidak dapat menyuruh mereka turun….!” Kian Lee berseru keras ke bawah.

“Kalian totok pangkal leher mereka di antara kedua sayap, dan tekan kepala mereka ke bawah!” Terdengar lagi Pen­dekar Super Sakti berseru.

Dua orang pemuda remaja itu mentaati perintah ayah mereka dan benar saja, setelah mereka menotok dan menekan kepala tunggangan masing-masing, dua ekor rajawali itu mengeluarkan lengking nyaring dan gerakan mereka menjadi lemah. Pada saat itu Pendekar Super Sakti mengeluarkan suara melengking seperti suara burung-burung itu, akan tetapi lebih nyaring lagi sampai suara lengkingnya bergema di semua penjuru. Mendengar suara ini, sepasang rajawali itu kelihatan terkejut, kemudian menukik ke bawah dan terbang menghampiri Pendekar Super Sakti, hinggap di atas tanah depan pendekar itu dan kelihatan bingung dan takut-takut. Kian Lee dan Kian Bu cepat meloncat dari atas pung­gung sepasang rajawali.

“Kian Lee….!”

“Kian Bu….!”

Dan dua orang ibu itu lari mengham­piri dan memeluk putera masing-masing dengan hati lega. Selama ini kedua orang ibu itu dicekam kegelisahan hebat karena putera mereka pergi sampai lama tanpa ada beritanya.

“Hemm, kalian pergi tanpa pamit sampai berbulan. Apa artinya perbuatan kalian itu?”

Suara Pendekar Super Sakti terdengar penuh wibawa dan menyembunyikan kemarahan. Hal ini terasa sekali oleh kakak beradik itu, maka keduanya lalu menjatuhkan diri berlutut di depan ayah mereka dan hampir berbareng kedua orang anak itu berkata, “Aku telah bersalah, ayah.”

“Hayo ceritanya semuanya, ke mana kalian pergi dan dengan maksud apa,” kata pula Pendekar Super Sakti dengan marah dan kedua orang isterinya hanya memandang dengan hati khawatir. Mere­kapun tahu kalau suami mereka marah dan memang sudah sepantasnya karena kedua orang anak itu pergi tanpa pamit dan telah membuat hati orang tua mere­ka bingung dan gelisah.

Biarpun kalau berada di luar Kian Bu jauh lebih bengal daripada kakaknya, namun menghadapi ayah mereka, Kian Bu paling takut, maka dia hanya menoleh kepada kakaknya, seolah-olah hendak menyerahkan semua jawaban kepada kakaknya. Kian Lee seperti biasanya selalu bersikap tenang, juga kini di depan ayah mereka yang dia tahu sedang ma­rah, dia bersikap tenang sungguhpun jantungnya dicekam rasa jerih. Suaranya tenang dan jelas ketika dia mulai mence­ritakan “petualangan” kakak beradik itu, betapa mereka berdua tadinya berniat mencari kakak mereka Milana yang berada di kota raja, akan tetapi betapa mereka tersesat jalan sampai tiba di Pulau Neraka.

Mendengar disebutnya Pulau Neraka, tiga orang suami isteri itu terkejut, terutama sekali Lulu yang pernah menjadi ketua Pulau Neraka. “Kalian ke Pulau Neraka?” serunya dengan alis berkerut. “Apa yang terjadi di sana?”

“Kami berdua tidak sengaja mendarat di Pulau Neraka.” Kian Lee melanjutkan, “dan di sana, kami dijadikan tawanan oleh ketuanya.”

“Hemmm, siapa ketua Pulau Neraka?” Suma Han bertanya.

Kian Lee lalu menceritakan tentang Hek-tiauw Lo-mo yang suka makan daging manusia dan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali.

“Ah, agaknya pulau itu kini dikuasai oleh seorang biadab!” Nirahai berseru heran.

Mendengar suara ibunya, Kian Bu berani membuka mulut. “Wah, dia me­ngerikan sekali, Ibu! Untung Lee-ko dan aku dapat melarikan diri dibantu oleh sepasang rajawali putih itu. Kami dikejar oleh ketua Pulau Neraka yang menung­gang rajawali hitam, untung saja sepa­sang rajawali ini membela kami dan menerbangkan kami sampai ke sini!” Dia lalu menceritakan pengalamannya ketika dikejar Hek-tiauw Lo-mo, ceritanya asyik sekali disertai gerakan kaki tangan se­hingga Nirahai dan Lulu mendengarkan dengan tertarik.

“Biarlah kubebaskan dulu engkau dari belenggu itu!” Nirahai menghampiri Kian Bu sedangkan Lulu menghampiri Kian Lee dengan niat mematahkan belenggu yang mengikat kaki tangan mereka de­ngan rantai besi panjang itu.

“Jangan buka belenggu itu!” Tiba-tiba Suma Han berkata. Kedua orang isterinya terkejut dan menengok, meman­dang suami mereka.

Dengan suara tenang namun penuh kepastian Suma Han berkata lagi, “Mere­ka adalah dua orang anak yang telah membikin bingung dan gelisah hati orang tua, juga telah mendatangkan kekacauan di Pulau Neraka tanpa sebab. Mereka harus dihukum dan sepantasnyalah beleng­gu-belenggu itu untuk mereka. Hayo kalian naik ke puncak dan bersamadhi di sana selama dua hari dua malam. Pergi!” Suma Han mendekati ke dua orang puteranya dan tangan kirinya menampar dua kali, mengenai punggung mereka.

“Bukk! Bukk!”

Kedua orang anak itu tersungkur, kemudian bangkit berdiri memandang ayah mereka dengan mata terbelalak, menggigit bibir, menahan nyeri, kemudian mereka saling pandang dan melangkah lebar menuju bagian yang paling tinggi di pulau itu, yang mereka sebut puncak.

Lulu dan Nirahai saling pandang dengan alis berkerut. Ketika kedua anak itu sudah tak tampak lagi, barulah Nira­hai berkata, nadanya memprotes, “Meng­apa mereka….?”

“Harus dihukum, biar mereka tahu dan kelak mereka akan memperhitungkan setiap tindakan mereka, tidak sembrono dan asal berani saja,” kata Pendekar Super Sakti dengan suara tegas sehingga kedua orang isterinya tidak berani mem­bantah. Mereka hanya memandang dengan hati terharu melihat dua ekor rajawali itu mengeluarkan suara seperti orang menangis ketika mereka memandang ke arah perginya dua orang muda itu. Ke­mudian, sepasang rajawali itu terbang ke atas dan berputaran di atas Pulau Es.

Pada malam kedua diam-diam Lulu menyelinap ke puncak dan membawakan makanan dan minuman untuk mereka berdua. Ketika tiba di puncak, Lulu melihat bahwa sepasang rajawali ini seolah-olah sedang menjaga Kian Lee dan Kian Bu yang duduk bersila seperti patung, muka dan tubuh mereka penuh salju putih sehingga mereka seperti sudah berubah menjadi manusia salju.

Lulu harus mengurut dan menggun­cang sampai lama dan barulah Kian Lee sadar dari samadhinya. Melihat ibunya, dia hanya menggelengkan kepalanya dan hendak memejamkan matanya kembali.

“Lee-ji, bangunlah dulu. Kau harus makan dan minum dulu, baru boleh bersamadhi lagi. Ingat, tubuhmu takkan kuat bertahan dan kau bisa terancam sakit. Juga adikmu Kian Bu.”

Karena dibujuk terus, akhirnya Kian Lee menurut, membangunkan adiknya dan kedua orang muda ini lalu makan dan minum sekadarnya untuk mengisi perut yang kosong dan menghangatkan tubuh. Setelah makan minum, mereka melanjut­kan samadhi dan terpaksa Lulu meninggalkan mereka.

Pada keesokan harinya, dua hari dua malam telah lewat dan pagi-pagi sekali Pendekar Super Sakti dan dua orang isterinya telah berada di puncak. “Bangunlah kalian, masa hukuman telah habis!” Suma Han berseru dan suaranya yang disertai khi-kang kuat itu seolah-olah menembus keadaan dua orang muda yang sedang samadhi itu sehingga mereka terbangun dan cepat bangkit. Keduanya terhuyung dan menjatuhkan diri berlutut di depan ayah mereka.

Suma Han memandang kedua putera­nya itu, lalu berkata dengan wajah ber­seri, “Sekarang, kerahkan hawa panas yang berputaran di tian-tan (pusar) kalian, dorong ke arah pergelangan tangan dan coba renggutkan belenggu itu agar patah.”

Dua orang muda itu menurut. Me­mang selama mereka bersamadhi, mereka terlindung oleh hawa panas yang berpu­taran di seluruh tubuh mereka, seperti keadaan mereka kalau berlatih sin-kang di waktu hujan salju di Pulau Es. Kini mereka mengerahkan tenaga panas itu ke arah kedua lengan, mengerahkan sin-kang dan merenggut.

“Krekk! Krekk!” Patahlah belenggu di kedua tangan mereka!

Lulu dan Nirahai girang sekali menyaksikan kemajuan putera-putera mereka, akan tetapi Suma Han mengerutkan alisnya dan berkata lantang,

“Haiii….! Apakah selama dua hari dua malam ini kalian pernah berhenti makan dan minum?”

Kakak beradik itu saling pandang, lalu menunduk. Berat rasa hati Kian Lee kalau harus mengaku bahwa ibunya telah membujuknya, dan untuk membohong dan mengatakan tidakpun dia tidak berani.

“Semalam aku datang dan menyuruh mereka makan dan minum,” tiba-tiba Lulu berkata. “Hati siapa yang akan tega menyaksikan anak-anaknya disiksa?”

Suma Han menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengepal-ngepal tangannya sendiri. “Aihhh…. kelemahan hati wanita memang seringkali menimbulkan kegem­paran dan juga kegagalan.”

Lulu memandang suaminya dan wajah­nya berubah. “Eh…., apa…. maksudmu….?”

“Sebelum mengirim mereka ke pun­cak, aku telah membuka saluran hawa di tubuh mereka. Aku melihat bahwa mere­ka sedang dalam keadaan baik sekali, berhati besar dan baru mengalami kete­gangan hebat. Pula, saatnya amat cocok untuk mereka melatih dan menerima kekuatan Inti Salju. Kalau tidak tergang­gu, kiranya saat ini mereka sudah dapat mengumpulkan sin-kang sepuluh kali lebih kuat daripada sekarang!”

“Ohhhh….!” Lulu memegangi dahinya dengan penuh penyesalan. “Mengapa kau tidak bilang lebih dulu sebelumnya?”

“Tak baik kalau diberi tahu lebih dulu, akan menimbulkan ketegangan dan harap­an sehingga dapat menggagalkan latihan. Akan tetapi sudahlah, memang sudah demikian kenyataannya. Yang jelas seka­rang mereka harus berlatih dengan giat sekali. Kian Lee, Kian Bu, kalian tahu betapa ilmu kepandaian kalian masih jauh daripada mencukupi sehingga sekali merantau meninggalkan pulau, kalian menjadi tawanan orang dan hampir saja celaka. Mulai hari ini, kalian harus rajin berlatih dan sebelum sempurna ilmu kepandaian kalian, kalian tidak boleh meninggalkan pulau tanpa pamit. Tidak perlu memikirkan kakak kalian. Milana dalam keadaan selamat di kota raja dan kelak kalau ilmu kepandaian kalian sudah mencukupi, tentu kalian boleh mengun­junginya.”

Dua orang pemuda remaja itu meng­angguk-angguk dan untuk menyatakan penyesalan mereka, mulai hari itu mere­ka seperti berlumba dalam kegiatan berlatih ilmu sehingga memperoleh kema­juan yang pesat. Adapun sepasang raja­wali putih dari Pulau Neraka itu menjadi kian jinak dan menjadi kesayangan mere­ka. Seringkali kedua orang pemuda itu, juga ayah dan para ibu mereka, menung­gangi rajawali sekadar untuk terbang di udara, di atas Pulau Es.

Beberapa bulan kemudian, barulah kedua orang pemuda itu maklum betapa mereka telah membikin repot ayah me­reka ketika mereka pergi tanpa pamit. Baru mereka tahu akan hal ini ketika malam hari itu, setelah mereka semua makan malam, Pendekar Super Sakti menceritakan kepada putera-puteranya betapa dia mencari mereka sampai ke daratan besar, bahkan sampai ke Negara Bhutan, jauh di barat!

“Mengapa ayah menyusul sejauh itu ke Bhutan?” tanya Kian Bu. dengan heran.

“Sebetulnya aku hanya menduga saja kalian ikut rombongan utusan dalam petualangan kalian, akan tetapi kalau tidak ada terjadi suatu hal, akupun tidak akan menyusul sejauh itu.” Pendekar itu lalu menceritakan betapa ketika dia mengunjungi puterinya, Milana, dari Han Wi Kong suami Milana, dia mendengar bahwa kaisar membutuhkan orang pandai untuk menyelidiki keadaan di barat, sekalian mengawal rombongan utusan yang kelak akan memboyong puteri. Hal ini karena ada kekhawatiran di istana bahwa kini di barat mulai timbul pemberontakan-pemberontakan dari suku-suku bangsa dan kerajaan-kerajaan kecil yang sudah mulai memperlihatkan permusuhan. Mendengar ini, Suma Han lalu menghadap kaisar yang masih terhitung mertuanya sendiri itu dan dia menyanggupi untuk menjadi penyelidik. Karena itulah maka Pendekar Super Sakti ini bahkan menda­hului rombongan utusan menuju ke Bhu­tan dan ketika mendahului rombongan itu, dia tahu bahwa kedua puteranya tidak ikut dalam rombongan. Dan seperti telah diceritakan di bagian depan, Pen­dekar Super Sakti berhasil menyelamatkan Raja Bhutan dan ancaman bahaya kepungan para musuhnya.

Seperti biasa kalau mendengarkan cerita-cerita ayahnya, kini mendengarkan pengalaman ayah mereka di Bhutan, kedua orang pemuda itu tertarik sekali dan hati mereka ingin sekali memperoleh kesempatan merantau ke daratan besar yang menurut cerita ayahnya merupakan tempat yang amat luar biasa, penuh ketegangan dan penuh keanehan itu. Keinginan ini mendorong semangat mere­ka untuk berlatih ilmu silat lebih giat lagi.

***

“Kong-lopek, mau apa kau? Jangan mengganggu, aku sedang mencoba membu­at ramuan obat seperti yang ditulis dalam kitab oleh mendiang suhu Cui-beng Koai-ong….”

“Aiiih…. kongcu! Jangan main-main dengan obat itu. Aku masih ingat, bukan­kah obat itu yang namanya obat peram­pas ingatan? Obat itu mengerikan sekali…. masa kongcu sendiri tidak ingat?”

Tentu saja Tek Hoat tidak mengerti dan tidak ingat apa-apa karena dia memang bukanlah Wan Keng In dan bahkan tidak pernah melihat orang yang kini dianggap gurunya, yaitu mendiang Cui-beng Koai-ong itu! Akan tetapi, pemuda yang amat cerdik ini tertawa dan berkata, “Tentu saja aku ingat, Kong-lopek. Mengapa engkau begitu bodoh? Ingatanku tentu lebih kuat daripada ingatanmu!”

“Tentu saja…. tentu saja, kongcu. Karena itu, harap jangan kongcu main-main dengan ramuan racun obat ini….”

“Hemm, aku ingin mencoba kekuatan ingatanmu, Kong-lopek. Coba ceritakan, apa yang kau ingat dahulu sehingga kau menganggap obat ini begitu luar biasa dan menakutkan?”

Kakek yang ingatannya sudah tidak terlalu waras lagi itu menghela napas dan berkata sambil mengangguk-angguk kepalanya yang gundul dan memutar-­mutar kedua matanya. “Hebat sekali obat itu…. siapa yang bisa melupakan peris­tiwa yang terjadi di Pulau Neraka ketika itu? Bukankah engkau sendiri yang mene­rima obat buatan suhumu itu, kongcu? Bukankah obat itu telah memperlihatkan keampuhannya yang mujijat? Puteri Pendekar Siluman sendiri…. ah, dia sampai lupa daratan, hilang ingatannya karena kauberi minum obat beracun itu. Kemudian, lebih hebat lagi, murid Pen­dekar Siluman yang terkenal sebagai seorang wanita gagah perkasa dan kabar­nya sudah kebal akan segala macam racun, bahkan dia telah menjadi murid susiokmu Bu-tek Siauw-jin dan oleh susiokmu telah diberi makan racun se­hingga dia makin kebal racun, ternyata masih dikalahkan oleh suhumu! Nona yang kebal itupun menjadi korban dari obat perampas ingatan yang amat mujijat itu! Dan untuk itu, gurumu girang bukan main karena hal itu membuktikan bahwa dalam hal racun, gurumu lebih lihai daripada susiokmu.”

Mendengar ini, bukan main girangnya hati Tek Hoat. Kalau sampai puteri dan murid Pendekar Super Sakti dibuat tidak berdaya oleh ramuan obat beracun ini, tentu kelak akan berguna sekali baginya! Dia tertawa dan menepuk-nepuk pundak kakek gundul ini. “Ha-ha-ha, kau ternya­ta masih dapat ingat semua itu, Kong-­lopek! Justru karena khasiat obat itu, maka sekarang aku ingin sekali dapat membuat sendiri. Dahulu aku hanya menerima dari mendiang suhu, dan aku tidak pernah diajari membuat obat ini. Sekarang, catatan pembuatan obat itu ada di kitab ini, maka aku ingin menco­ba membuatnya.”

Kong To Tek, kakek gundul bekas tokoh Pulau Neraka itu, menggeleng-­geleng kepala, menarik napas panjang dan berkata, “Terserah kepadamu, kong-cu. Akan tetapi aku merasa ngeri…. hemm, obat itu hebat sekali dan berbahaya….” Dia lalu pergi meninggalkan pemuda yang disangkanya Wan Keng In majikan mudanya itu sambil menggeleng-­geleng kepalanya. Tek Hoat tersenyum lebar dan melanjutkan pekerjaannya mempraktekkan pelajaran membuat obat perampas ingatan seperti yang dibacanya dari kitab peninggalan Cui-beng Koai-­ong ini. Ini bukanlah sembarang obat! Selain membutuhkan ramuan bahan-bahan obat yang sukar dicari dan hanya bisa didapatkannya dengan bantuan Kong To Tek, juga harus dicampuri dengan rambut dan kuku orang mati yang hanya bisa didapatkannya dengan menggali kuburan! Selain itu, apabila hendak memperguna­kannya, mencampurkannya dalam makan­an atau minuman orang yang hendak dirampas ingatannya, ada pula mantram­nya yang harus dibaca. Ternyata bahwa obat perampas ingatan ini bukanlah racun biasa, melainkan racun yang mengandung kekuatan mujijat dari ilmu hitam!

Sampai hampir sebulan lamanya dia mempersiapkan ramuan obat perampas ingatan itu dan akhirnya dia berhasil. Dengan wajah berseri-seri dia meman­dang bubukan berwarna putih yang bera­da di depannya.

“Terima kasih Cui-beng Koai-ong,” bisiknya sambil menengadah. “Aku telah mewarisi sebuah lagi daripada ilmu-­ilmu yang kautinggalkan!”

Kemudian pemuda itu termenung. Obat mujijat itu telah dibuatnya sesuai dengan yang ditulis dalam kitab. Akan tetapi bagaimana cara membuktikannya bahwa buatannya itu memang telah benar? Bagaimana cara membuktikannya bahwa obat perampas ingatan buatannya itu akan ampuh kalau dipergunakan? Jalan satu-satunya harus dicobakan kepada seseorang! Akan tetapi kepada siapa? Berkelebatnya bayangan Kong To Tek di luar guha membuat dia tersenyum. Siapa lagi yang akan dicobanya untuk membuk­tikan kemanjuran obat itu kalau bukan Kong To Tek! Sambil tersenyum-senyum dia lalu membungkus dua macam obat itu, yang putih adalah obat perampas ingatan dan yang merah adalah obat penawarnya, dan membawa dua bungkus­an itu ke dalam guha. Obat merah dia campur dengan arak dan diminumnya sendiri, sedangkan yang putih dia masuk­kan ke dalam guci arak di mana masih ada sisa arak. Selama tinggal di dalam guha, Kong To Tek yang mencarikan segala keperluan mereka, termasuk arak wangi.

“Kong-lopek….!” Kemudian dia memanggil sambil menanti di depan guha, guci arak dan dua cawan kosong di tangannya.

Tak lama kemudian muncullah kakek gundul itu, pringas-pringis seperti biasa­nya. “Kau perlu apakah, kongcu?”

“Kong-lopek aku telah berhasil membuat obat perampas ingatan itu!” Tek Hoat berkata sambil tersenyum girang.

Akan tetapi Kong To Tek mengerutkan alisnya dan mendengus. “Uhhh, obat mengerikan seperti itu, untuk apakah kongcu?”

Tek Hoat tertawa. “Ha-ha-ha, aku sudah dapat membuat rahasia peninggalan suhu, bukankah itu menggirangkan sekali? Kong-lopek, kita harus rayakan ini! Hayo temani aku minum arak untuk merayakan hasil baik ini!” Dia menuangkan arak dari guci ke dalam dua cawan kosong dan ternyata sisa arak itu hanya tepat dua cawan saja, lalu menyerahkan yang secawan kepada Kong To Tek. Tentu saja kakek ini menerima dengan girang tanpa curiga karena selain dia percaya penuh kepada orang yang dianggapnya Wan Keng In putera ketuanya itu, juga dia melihat bahwa pemuda itu juga minum dari cawan ke dua yang diisi dari guci yang sama.

“Terima kasih, lopek. Sekarang pergi­lah beristirahat, aku sendiri sudah lelah sekali.”

Kakek gundul itu mengangguk-angguk dan diam-diam Tek Hoat memperhatikan gerak-geriknya. Melihat betapa kakek itu berulangkali menguap tanda mengantuk, dia girang sekali. Cocok dengan tulisan dalam kitab. Orang yang terkena racun itu tentu akan merasa mengantuk sekali dan setelah orang itu tertidur, maka terjadilah perubahan pada ingatannya, racun itu bekerja dan kalau orang itu bangun, dia tidak akan ingat hal-hal yang telah lalu sama sekali!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Tek Hoat sudah bangun dan meng­hampiri Kong To Tek yang masih tidur di bagian luar guha besar itu. Kakek gundul itu tidur mendengkur dengan keras sekali, tanda bahwa tidurnya amat pulas. Akan tetapi Tek Hoat sudah tidak sabar lagi, mengguncang-guncang pundak kakek itu.

“Lopek! Kong-lopek, bangunlah….!”

“Hemmm…. ahhhh…. masih me­ngantuk…. ehhh, siapa kau….?” Kakek gundul itu membuka matanya, menggosok-gosok kedua matanya dan memandang ke kanan kiri, lalu memandang lagi kepada Tek Hoat, kemudian meloncat bangun dengan kaget dan heran.

“Di mana aku….? Siapa kau ini orang muda….? Ah, mengapa aku bisa berada di sini?” Kakek itu kelihatan seperti orang bingung dan Tek Hoat tersenyum girang sekali. Sikap kakek itu saja jelas membuktikan bahwa obat perampas ingatan itu benar-benar amat manjur dan hebat!

“Lopek, apakah benar-benar engkau tidak ingat apa-apa lagi?”

“Orang muda, siapakah engkau? Dan aku…. hemm…. siapa pula aku dan di mana tempat ini? Mengapa aku tidur di guha?”

Kini Tek Hoat tidak ragu-ragu lagi, akan tetapi untuk lebih yakin, dia senga­ja menguji. “Lopek, masa engkau lupa akan namanya sendiri? Namamu adalah…. Ang Tek Hoat, masa engkau lupa?” Kakek itu menggaruk-garuk kepalanya yang gundul. “Ang Tek Hoat….? Hemm, terdengar asing akan tetapi mungkin itulah namaku. Ya, benar, namaku Ang Tek Hoat, dan engkau siapa, orang muda?”

Tek Hoat menahan ketawanya. “Aku? Namaku Kong To Tek!”

“Kong To Tek? Nama itu tidak asing bagiku. Hemm, kalau begitu tentu engkau sudah kukenal lama, Kong To Tek.”

Tek Hoat tertawa. “Tentu saja, lopek! Kita adalah sahabat-sahabat lama!”

Sehari itu, Tek Hoat memperhatikan gerak-gerik Kong To Tek yang hanya duduk di depan guha sambil termenung, agaknya bingung dan wajahnya memba­yangkan keraguan hebat. Ternyata kakek ini sama sekali tidak ingat akan masa lalu, dan yang diketahuinya hanyalah bahwa dia bernama Ang Tek Hoat dan pemuda itu bernama Kong To Tek! Dia seolah-olah seorang yang sama sekali baru!

Setelah kini merasa yakin akan ke­manjuran ramuan perampas ingatan itu, pada malam harinya, ketika mereka berdua makan, Tek Hoat mencampurkan obat penawar racun itu ke dalam minum­an Kong To Tek. Seperti malam kemarin, kakek itu sehabis makan dan minum obat penawar, tertidur dengan nyenyaknya.

Ketika pada keesokan harinya mereka terbangun, Tek Hoat ingin menggoda Kong To Tek dan dia akan memberitahu bahwa kakek itu telah dijadikan kelinci percobaan dengan hasil baik sekali. “Eh, lopek Ang Tek Hoat, kau baru bangun?” Tegurnya menggoda.

Akan tetapi, segera Tek Hoat melon­cat bangun dan memandang tajam. Sikap kakek itu aneh sekali, lain dari biasanya. Matanya tidak bergerak liar lagi, bahkan mata itu kini memandang kepadanya penuh selidik dan suaranya terdengar penuh wibawa, “Orang muda, siapa eng­kau? Namaku bukan Ang Tek Hoat, melainkan Kong To Tek, tokoh Pulau Neraka! Siapa kau berani memasuki guha rahasia yang menjadi tempat persembunyi­anku ini?”

Tentu saja Tek Hoat kaget setengah mati. Dia meloncat keluar dan kini mereka saling berhadapan di bawah sinar matahari pagi, di depan guha besar itu.

“Kong-lopek, jangan main-main. Bu­kankah engkau sudah mengenalku? Aku adalah Wan Keng In….”

“Bohong….!” Tiba-tiba Kong To Tek membentak marah sekali. “Biarpun wajahmu mirip sekali dengan Wan-kong­cu, akan tetapi engkau sama sekali bukan Wan Keng In! Engkau jauh lebih muda, dan kalau dia masih hidup, tentu dia patut menjadi ayahmu. Orang muda, jangan kau main-main dengan aku! Siapa kau? Hayo mengaku, dan mau apa eng­kau berada di sini?” Tiba-tiba wajah kakek itu menjadi pucat sekali. “Kau…., sudah lamakah berada di sini?”

“Aihhh, Kong-lopek, aku adalah Wan Keng In pewaris pusaka suhu Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin….”

“Pedang itu….!” Kong To Tek menu­ding ke arah pedang Cui-beng kiam yang berada di punggung Tek Hoat. “Kembali­kan! Pedang itu milikku, dan juga kitab-­kitab pusaka…. di mana kitab-kitab itu? Kau sudah mengambilnya pula? Keparat, hayo kembalikan!” Dia menubruk maju hendak merampas pedang, akan tetapi sebuah tendangan kaki dari samping membuat dia terjengkang.

“Aihhhh….! Kau melawan? Kau berani kepada Kong To Tek tokoh Pulau Neraka? Bocah, kau sudah bosan hidup!”

Tek Hoat menjadi terheran-heran dan bingung. Mengapa terjadi perubahan yang hebat pada diri kakek itu? Akhirnya dia dapat menduga sebabnya. Mungkin karena racun perampas ingatan itu. Setelah minum obat penawarnya, agaknya pikiran atau ingatan kakek itu malah sembuh sama sekali, pulih seperti dahulu ketika belum gila sehingga kakek itu teringat akan segala-galanya! Celaka, pikir Tek Hoat, kalau begini berbahaya sekali. Orang ini harus dibunuhnya!

“Bocah keparat, pencuri pusaka! Kau harus mampus!” Dan kakek gundul itu sudah menerjang dengan terkaman seperti seekor singa kelaparan.

“Engkaulah yang akan mampus, Kong To Tek!” Tek Hoat miringkan tubuh ke kiri dan dari kiri tangan kanannya me­nampar ke depan.

“Wuuuuttt…. dessss….!”

“Aihhh….!” Kong To Tek berteriak, karena sakit dan kaget melihat betapa pemuda yang dipandangnya rendah itu ternyata lihai sekali sehingga dua kali dia terjengkang. Tenaga sin-kang yang menyambar dari tangan pemuda itu membuka kedua matanya sehingga dia tahu bahwa pemuda ini memiliki ilmu kepandaian hebat.

“Bagus! Kiranya engkau seorang pen­jahat cilik!” Dia memaki dan kini Kong To Tek mulai mengerahkan tenaga dari pusarnya. Kepandaian kakek ini memang hebat. Dahulu dia merupakan tokoh ke dua sesudah ketua di Pulau Neraka, dan ilmunya yang paling diandalkan adalah sin-kang dari perut yang membuat perut­nya mengeluarkan bunyi seperti katak tertimpa hujan, dan kalau dia sudah mengerahkan tenaga sin-kangnya ini, dari mulutnya menyambar uap beracun pula! Apalagi setelah dia mempelajari kitab-­kitab Cui-beng Koai-ong dari gambar-­gambarnya, latihan itu membuat dia makin kuat dan lihai!

“Wuuuusssshh….!” Mulutnya menyem­burkan uap putih ke arah muka Tek Hoat, tubuhnya merendah seperti berjong­kok dan kedua kakinya bergerak aneh ke depan sambil berjongkok, kemudian tiba-­tiba kedua lengannya bergerak melakukan serangan dari bawah dengan hebat dan hawa pukulan menyambar-nyambar de­ngan dahsyatnya ke arah Tek Hoat.

Kalau saja Tek Hoat belum melatih diri dengan ilmu-ilmu dari dalam kedua kitab peninggalan dua orang datuk Pulau Neraka itu selama hampir dua tahun ini, kiranya dengan ilmu yang dipelajarinya dari Sai-cu Lo-mo saja dia tidak akan mampu menandingi tokoh gundul dari Pulau Neraka ini. Akan tetapi selama hampir dua tahun ini, di dalam guha itu Tek Hoat telah mempelajari ilmu-ilmu kesaktian yang amat hebat sehingga ilmu kepandaiannya menjadi hebat sekali, sama sekali tidak dapat dipersamakan dengan dua tahun yang lalu. Namun, karena dia belum pernah mencoba ilmu-­ilmu barunya, melihat serangan kakek gundul itu, dia terkejut bukan main dan cepat dia meloncat ke belakang untuk menghindarkan diri.

“Haiiiiittt….!” Kong To Tek melon­cat dari kedudukannya berjongkok tadi, tubuhnya meloncat ke atas dan kedua le­ngannya bergerak-gerak, yang kiri mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala sedang yang kanan menonjok ke arah ulu hati Tek Hoat!

Namun kini Tek Hoat sudah siap sedia. Melihat datangnya serangan yang amat dahsyat itu, dia berlaku cepat, mengangkat tangan kanan menangkis ke atas sambil mengerahkan tenaga sin-kang, sedangkan tangan kirinya dengan jari tangan terbuka mendorong ke depan, menerima pukulan tangan kanan lawan.

“Plak! Dessss….!”

Untuk ketiga kalinya tubuh Kong To Tek terdorong dan terjengkang! Kakek itu mendengus keras dan meloncat bangun lagi. Ternyata ujung mulutnya mengucurkan darah, tanda bahwa benturan tenaga dalam tadi sedemikian hebat­nya sehingga dia mengalami luka di dalam tubuhnya!

Melihat hasil tangkisannya, besarlah hati Tek Hoat. Kini dia menghadap terjangan lawan dengan pandang mata mengejek dan sama sekali tidak merasa jerih lagi karena dia telah memperoleh kepercayaan tebal kepada kepandaian sendiri. Ketika kakek itu menerjang dan menyerangnya bertubi-tubi, sambil terse­nyum mengejek dia mengelak dan me­nangkis, kadang-kadang balas memukul. Setiap kali dia membalas, kakek gundul itu pasti terdorong oleh pukulannya yang biarpun tidak mengenai tubuh lawan, namun hawa pukulannya amatlah hebat­nya, tidak kuat kakek itu menahannya.

“Kong To Tek, sekali ini terpaksa aku harus membunuhmu!” bentak Tek Hoat dan tiba-tiba tampak sinar berkilauan ketika dia telah mencabut Cui-beng-­kiam!

Melihat pedang ini, Kong To Tek kelihatan gentar, akan tetapi juga marah. Sambil menerjang maju, dia membentak, “Kembalikan Cui-beng-kiam kepadaku!”

Terjangannya dahsyat sekali karena dia menggunakan jurus-jurus dari Ilmu Silat Liong-jiauw-pok-cu (Cakar Naga Menyambar Manusia). Kedua tangannya membentuk cakar dan bergerak-gerak mencengkeram untuk merampas pedang sedangkan dari perutnya terdengar bunyi berkokokan tanda bahwa dia mengerahkan sin-kangnya yang amat kuat, mulutnya mengeluarkan uap putih.

Melihat terjangan ini, Tek Hoat bergerak ke kanan kiri cepat sekali sehingga tubuhnya seolah-olah berubah menjadi banyak, dan dari kanan kiri menyambarlah gulungan sinar pedang Cui­-beng-kiam yang ampuh.

“Singgggg…. crak! Crokk!”

Terdengar suara pekik melengking dan Kong To Tek roboh terguling, kedua lengannya buntung sebatas siku terbabat pedang Cui-beng-kim yang ampuh!

Melihat tubuh itu berkelojotan dan bergulingan di atas tanah, Tek Hoat tersenyum untuk menekan perasaan hatinya yang menyesal. Kakek itu telah melakukan banyak kebaikan kepadanya!

“Hemmm, terpaksa aku membunuhmu, Kong-lopek. Hidupmu berbahaya bagiku setelah pulih kembali ingatanmu!”

Sambil meringis menahan rasa nyeri yang amat hebat, Kong To Tek bertanya, “Orang muda…. siapakah engkau….?”

“Namaku Ang Tek Hoat. Dengan kebetulan saja aku bertemu denganmu, lopek. Kau menyangka aku bernama Wan Keng In dan engkau menyerahkan pusaka para datuk Pulau Neraka kepadaku. Tentu saja aku tidak dapat menolak datangnya keuntungan ini, dan sekarang pulih pula ingatanmu, maka kau berbaha­ya bagiku.”

“Aughhhh…. kau…. kau…. me­mang mirip sekali dengan Wan-kongcu…., ahhh, agaknya roh Wan Keng In memasuki dirimu…. agaknya Wan-kong­cu muncul kembali untuk dapat memba­las musuh-musuhnya….”

“Siapa sih orang yang bernama Wan Keng In itu?” Tek Hoat bertanya, ingin juga dia mengetahui siapa orang yang katanya mirip dengan dia itu.

“Dia…., dia bekas majikanku…. dia kongcu dari Pulau Neraka putera ketua Pulau Neraka….”

Tek Hoat mengangguk-angguk kagum. “Dan siapa itu musuh-musuhnya?”

“Musuhnya adalah…. Gak Bun Beng…. dan…. dan To-cu Pulau Es….”

Tek Hoat merasa terkejut bukan main mendengar disebutnya dua nama itu! Gak Bun Beng juga musuh besarnya! Dan…. To-cu Pulau Es! “Apakah kaumaksudkan Pendekar Super Sakti dari Pulau Es?”

“Benar…. dia…. dia lihai….”

“Dan Gak Bun Beng, penjahat itu sudah dibunuh mati oleh ibuku!” kata pula Tek Hoat.

Kong To Tek membelalakkan mata­nya. Darah bercucuran dari kedua lengan yang buntung itu. Mukanya pucat karena banyak kehilangan darah. Keadaannya sungguh mengerikan dan tubuhnya sudah mulai lemah. Namun agaknya dia terke­jut mendengar pengakuan Tek Hoat itu dan dia bertanya. “Siapa…. siapa ibumu….?”

Biarpun Tek Hoat tidak suka menceri­takan keadaan keluarganya, namun meli­hat bahwa kakek ini tidak akan hidup lebih lama lagi, dia mengaku, “Ibuku…. hem, ibuku seorang pendekar wanita puteri dari ketua Bu-tong-pai. Ayahku bernama Ang Thian Pa dan ibuku berna­ma Siok Bi….” Tek Hoat menghentikan kata-katanya ketika melihat Kong To Tek bangkit duduk dan matanya terbelalak memandangnya.

Lengan tangan yang hanya tinggal sepotong itu bergerak ke atas dan seolah-­olah menuding sehingga Tek Hoat merasa ngeri juga. “Kau…. kau…. kau anak Siok Bi….? Ahhh…. ah tidak salah lagi…. kau…. kau puteranya…. auhh!” Tubuh itu terguling.

“Apa katamu? Kong-lopek, apa mak­sudmu?” Tek Hoat mengguncang-guncang tubuh itu, akan tetapi Kong To Tek telah menjadi mayat.

Tek Hoat bangkit berdiri, termenung. Apa yang dimaksudkan oleh kakek ini tadi? Agaknya kakek ini mengenal ibu­nya! Dan dia puteranya? Putera siapa? Sayang kakek itu sudah mati. Ah, meng­apa dia memusingkan hal itu? Mungkin hanya igauan orang dalam sekarat. Jelas dari penuturan ibunya bahwa ayahnya bernama Ang Thian Pa dan bahwa ayah­nya terbunuh oleh Gak Bun Beng, akan tetapi musuh besar itu telah dibunuh ibunya pula.

Pada hari itu juga, Tek Hoat mening­galkan mayat Kong To Tek dan guha di mana selama dua tahun dia melatih diri. Dia membawa Cui-beng-kiam dan dua buah kitab yang isinya telah dipela­jarinya akan tetapi belum semua sempat dilatihnya karena memang amatlah sukar melatih ilmu-ilmu yang terdapat dalam kitab itu. Dia akan pulang ke Lembah Huang-ho, ke Bukit Angsa di mana tinggal ibunya yang tentu sudah merindukannya. Dia akan menuturkan pertemuannya dengan Kong To Tek itu kepada ibunya dan barangkali ibunya akan dapat me­ngerti tentang sikap aneh kakek gundul itu sebelum mati.

***

Karena adanya halangan yang hampir merupakan malapetaka dan yang menim­pa diri Raja Bhutan, maka dengan alasan bahwa negaranya masih terancam bahaya dan puterinya masih terlalu muda, Raja Bhutan menyuruh rombongan kaisar pulang dengan surat permohonan kepada kaisar agar pernikahan puterinya itu diundur sampai dua tahun lagi!

Hal ini dilakukan Raja Bhutan yang mendengarkan kata-kata penasehatnya di istana. Pada waktu itu, ketahyulan masih amat kuatnya menguasai hati semua orang, bahkan keluarga kerajaan sendiri tidak terlolos dari pengaruh tahyul dan tradisi. Segala sesuatu dilakukan berda­sarkan “perhitungan” bulan bintang, dan segala peristiwa dianggap sebagai “tanda-­tanda” untuk menentukan sesuatu di masa depan. Karena itu, pernikahan puteri raja tentu saja dilakukan atas dasar “perhitungan” para “ahli nujum” pula. Maka peristiwa yang hampir men­celakakan raja diperhitungkan dengan pernikahan puteri, dihitung pula hari kelahiran Puteri Syanti Dewi, kemudian diputuskan bahwa selama dua tahun mendatang merupakan hari-hari buruk bagi Raja Bhutan, maka tidak dibenarkan kalau mengawinkan puteri itu sebelum lewat dua tahun!

Kaisar menerima surat permohonan itu dan dapat menyetujuinya setelah dia mendengar akan peristiwa yang terjadi di Bhutan. Kaisar sendiri tidak terluput dari kepercayaan itu, apalagi setelah para ahli nujumnya sendiri juga memperhi­tungkan bahwa memang kedatangan Puteri Bhutan dalam waktu dekat akan menimbulkan bahaya bagi kerajaan sendi­ri! Demikianlah, maka acara memboyong Puteri Syanti Dewi dari Bhutan itu diundur sampai dua tahun!

Terjadi perubahan besar dalam kehidupan Lu Ceng, atau Ceng Ceng. Semen­jak pertemuannya dengan Puteri Syanti Dewi, dia diminta tinggal di dalam istana dan tentu saja dia dihormat pula oleh semua penghuni istana karena dia sekarang telah menjadi seorang puteri! Dia adalah adik angkat Puteri Syanti Dewi, maka dengan sendirinya diapunn menjadi seorang puteri istana! Bahkan Raja Bhutan telah menganugerahinya dengan nama baru, nama seorang puteri, yaitu Candra Dewi!

Biarpun dia telah dianggap seorang puteri istana, sikap Ceng Ceng masih biasa saja, bahkan diapun hanya mau mengenakan pakaian puteri kalau ada upacara resmi saja. Untuk sehari-hari, dia tetap mengenakan pakaian yang ringkas seperti biasa, dan rambutnya yang panjang, dikuncir seperti kebiasaan gadis-gadis dusun! Setiap hari dia mene­mani Sang Puteri Syanti Dewi yang suka sekali mempelajari ilmu silat sehingga mereka berdua berlatih bersama. Dari adik angkatnya ini sang puteri memper­oleh banyak petunjuk karena memang tingkat kepandaian Ceng Ceng jauh lebih tinggi daripada dia.

Waktu berjalan dengan amat cepat­nya. Apalagi bagi Ceng Ceng yang selalu hidup gembira bersama Puteri Syanti Dewi dan para puteri lain di istana. Setiap hari, kalau tidak berlatih silat tentu berlatih tari-tarian, bernyanyi, bersenang-senang atau membaca kitab­kitab kuno berisi dongeng-dongeng indah. Dua tahun tak terasa telah lewat dan pada suatu hari, datanglah rombongan utusan kaisar yang sekali ini benar-benar hendak memboyong Sang Puteri Syanti Dewi!

Tidak ada lagi alasan bagi Raja Bhutan untuk menolak. Selama dua tahun ini, kaisar telah mengirim banyak bantu­an, baik berupa pasukan maupun perleng­kapan untuk mengusir para gerombolan pemberontak sehingga Kerajaan Bhutan tidak begitu dirongrong lagi oleh mereka.

Pesta besar diadakan untuk menyam­but rombongan ini dan sekali ini, kembali rombongan itu dipimpin oleh Tan-ciang­kun (Perwira Tan), yaitu Tan Siong Khi yang gagah perkasa dan memiliki jenggot panjang yang indah bentuknya!

Untuk menghormati para utusan kaisar, juga sekaligus merayakan hari diboyongnya Puteri Syanti Dewi yang sudah berusia delapan belas tahun, dan juga pesta perpisahan dengan sang puteri, maka malam hari itu selain diadakan pesta makan minum, juga diadakan pesta tari-tarian tradisionil dari para penari Bhutan.

Dalam pesta ini, Sang Puteri Syanti Dewi keluar pula, duduk di atas sebuah kursi. yang khusus disediakan untuk kelu­arga raja. Tentu saja Ceng Ceng tidak mau ketinggalan dan dia menemani puteri yang telah menjadi kakak angkat­nya itu. Akan tetapi, karena sekali ini dia akan bertemu dengan orang-orang dari kerajaan suku bangsanya sendiri, dia tidak mau mengenakan pakaian puteri Bhutan, dan hanya mengenakan pakaian biasa biarpun masih baru. Ceng Ceng atau Candra Dewi itu berdiri di dekat kursi Puteri Syanti Dewi sambil menon­ton pertunjukan tari-tarian.

Melihat wajah para utusan yang gagah perkasa, terutama sekali si jenggot panjang yang kini tampak makin gagah biarpun sudah makin tua, Ceng Ceng ingin sekali menyaksikan kepandaian mereka. Dia masih teringat betapa dahu­lu, dua tahun yang lalu, dia pernah mengadu kuncirnya dengan jenggot pan­jang itu dan merasa betapa rambutnya terjambak seperti akan copot rasanya! Dan dia mendengar dari kakeknya bahwa si jenggot itu ternyata adalah seorang pengawal pribadi kaisar yang amat lihai! Kini, melihat mereka dan terutama sekali si jenggot panjang, timbul keingin­an di hati Ceng Ceng.

“Kak Syanti….” dia berbisik.

Syanti Dewi menengok. “Ada apakah, Candra?”

Dengan suara berbisik-bisik Ceng Ceng lalu mengajukan usulnya, yaitu agar sang puteri minta kepada ayahnya untuk membujuk para utusan yang gagah perka­sa itu agar menghibur dan meramaikan pesta dengan pertunjukan ilmu silat mereka yang terkenal tinggi! Syanti Dewi memang suka sekali akan ilmu silat, maka mendengar usul adik angkatnya ini, dia cepat mengajukan permintaannya kepada raja. Sebetulnya raja merasa agak enggan juga mengajukan permintaan agar para tamu memperlihatkan kelihaian mereka, akan tetapi karena tidak tega menolak keinginan puterinya yang akan pergi meninggalkannya itu, terpaksa dia menyuruh pengawalnya menghubungi Tan-­ciangkun untuk menyampaikan permintaannya.

Tan Siong Khi bermata tajam. Dia melihat ketika Ceng Ceng tadi berbisik kepada Syanti Dewi. Pengawal kaisar ini tentu saja masih ingat kepada nona yang disangkanya pengacau itu dan yang kini dia dengar telah menjadi adik angkat puteri yang akan diboyongnya ke Tiong­kok. Maka diam-diam dia agak memper­hatikan dan melihat ketika Ceng Ceng tadi berbisik kepada sang puteri kemudi­an sang puteri bicara dengan Raja Bhu­tan. Setelah Raja Bhutan mengutus pengawal menghubunginya dan menyampai­kan permintaan raja, tahulah Tan-ciang­kun bahwa permintaan itu adalah gara-­gara si gadis yang lihai dan bengal itu. Dia tersenyum dan mengangguk-angguk, lalu berunding dengan para temannya, yaitu para perwira yang memiliki kepan­daian tinggi.

Tak lama kemudian suasana pesta menjadi makin meriah seorang demi seorang, majulah para Perwira Mancu Kerajaan Ceng untuk memperlihatkan kepandaian mereka bermain silat. Berma­cam-macam senjata telah mereka pergunakan, dan rata-rata ilmu kepandaian mereka memang amat tinggi bagi para Perwira Bhutan sehingga tepuk tangan penuh kagum menyambut setiap permainan silat dari rombongan utusan itu.

Kemudian, sebagai orang terakhir, tiba giliran Tan-ciangkun sendiri. Penga­wal kaisar yang lihai dan biarpun berpa­kaian biasa namun sesungguhnya dialah yang memimpin rombongan utusan itu, maju dengan kedua tangan kosong. Sete­lah dia memberi hormat dengan bertekuk lutut ke arah Raja Bhutan dan keluarga­nya, dia meloncat bangun, menggulung kedua lengan bajunya sehingga naik ke bawah siku. Kemudian dia mengangkat kedua tangan memberi hormat berkeli­ling, dan berkata dengan suara lantang, “Maafkan kami yang telah berani mem­perlihatkan kepandaian yang dangkal, karena kami hanya memenuhi perintah sri baginda untuk ikut meramaikan pesta ini. Kami tahu bahwa di Bhutan terdapat banyak sekali orang pandai yang jauh melampaui tingkat kami. Saya sendiri tidak memiliki kepandaian apa-apa dan saya merasa agak sayang juga terpaksa harus menghentikan minum anggur Bhu­tan yang demikian lezatnya! Karena itu, saya harap cu-wi maafkan kalau saya hendak melanjutkan minum anggur yang lezat itu.” Setelah berkata demikian, kakek berjenggot panjang ini menggerak­kan kepalanya.

“Wirrrr….!” Jenggotnya yang pan­jang itu menyambar ke depan, ke arah guci anggur yang tadi dihadapinya dan tiba-tiba anggur itu melayang ke atas, dilibat ujung jenggot yang panjang! Guci itu diputar-putar di udara dan dipermainkan oleh jenggot panjang itu, kemudian, ujung jenggot melibat guci dan membawa guci itu menukik ke bawah sehingga anggur yang berada di dalam guci dan masih tinggal seperempat itu tertumpah ke bawah. Kakek ini membuka mulutnya dan anggur itu persis memasuki mulutnya sehingga kelihatannya dia minum anggur dari guci dengan dilayani oleh jenggotnya! Bukan main hebatnya demonstrasi ini dan semua orang berte­puk tangan memuji! Ceng Ceng sendiri diam-diam juga merasa kagum karena biarpun memainkan guci dengan ujung rambut merupakan hal yang tidak begitu sukar, namun jenggot yang dapat tegak “memegang” guci yang cukup berat itu membuktikan sin-kang yang amat kuat!

Kini guci anggur itu sudah habis isinya, hanya tinggal menetes-netes memasuki mulut Tan-ciangkun, sedangkan lengan kanan yang tangannya terkepal itu menggigil, menandakan bahwa kakek itu mengerahkan tenaga sin-kang yang kuat untuk membuat jenggotnya tegak kaku menahan guci, kemudian di bawah tepuk sorak memuji, kakek ini memainkan guci kosong dengan jenggotnya. Guci dilontar­kan ke atas, tinggi sampai hampir me­nyentuh langit-langit, kemudian ketika meluncur turun diterimanya lagi dengan ujung jenggot dan diputar-putar sampai kelihatannya menjadi banyak saking cepatnya.

Setelah Tan Siong Khi mengakhiri permainannya, semua orang bertepuk tangan memuji. Baru jenggotnya saja sudah demikian kuat dan ampuh, apa lagi kaki tangannya! Tan-ciangkun menjura ke sekeliling, kemudian memberi hormat kepada Raja Bhutan dan terdengar suaranya lantang, “Terima kasih hamba hatur­kan atas pujian sri baginda, padahal permainan hamba tidak ada artinya, apalagi kalau dibandingkan dengan kepan­daian tokoh-tokoh Bhutan yang lihai. Sekarang hamba mohon agar paduka sudi memberi kesempatan kepada tokoh-tokoh Bhutan untuk memperlihatkan kepandaian untuk memeriahkan pesta ini.”

Raja Bhutan mengangguk-angguk dan menoleh ke kanan kiri. Dia tahu bahwa para pengawalnya juga rata-rata memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Akan tetapi tiba-tiba Tan-ciangkun berkata lagi, “Hamba tahu bahwa nona yang menjadi adik angkat sang puteri memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali!”

Memang sengaja Tan-ciangkun berkata demikian untuk menyatakan kemendong­kolan hatinya. Kalau tidak gara-gara nona muda itu yang mengusulkan, tentu dia dan kawan-kawannya tidak harus memamerkan kepandaian seperti serom­bongan tukang jual obat atau penari silat di pasar-pasar!

Mendengar ini, Raja Bhutan cepat menengok ke arah Ceng Ceng sambil tersenyum lebar dan berkata, “Aih, sampai lupa aku! Candra Dewi, kau majulah dan perlihatkan kepandaianmu!”

Ceng Ceng terkejut sekali, tidak mengira bahwa dia diperintah raja untuk bersilat! Tentu saja dia tidak berani membantah dan dia sudah berlutut me­nyembah sambil mengeluarkan kata­-kata kesanggupan dengan lirih, matanya melirik gemas kepada Tan-ciangkun yang hanya tersenyum. Kemudian dara itu melompat ke tengah ruangan, mencabut keluar sepasang pisau belati yang sebe­lumnya merupakan hui-to (golok terbang), yaitu senjata rahasia yang disabitkan, dan mulailah dia bersilat dengan sepa­sang belati itu. Gerakannya indah sekali, cepat dan bertenaga sehingga para penon­ton menjadi kagum karena kelihatannya dara itu sedang menari-nari dengan indahnya, namun gulungan-gulungan kecil dari sinar putih yang seperti selendang kecil digerak-gerakkan itu mengandung cakar maut yang dapat membunuh lawan!

Tepuk sorak bergemuruh menyambut dengan kagum ketika Ceng Ceng sudah merubah permainannya, tepuk sorak yang disertai suara ketawa di sana-sini karena selain lucu juga luar biasa sekali permain­an yang kini dilakukan oleh Ceng Ceng. Apa yang terjadi? Dara ini telah menggu­nakan kuncirnya yang sudah dibagi dua untuk bermain silat! Sepasang kuncirnya itu seolah-olah telah berubah menjadi dua ekor ular hitam yang hidup dan ujung kedua kuncir membelit hui-to kemudian dia bergerak-gerak dengan cepat, menggoyang kepalanya sehingga sepasang kuncir itu memainkan sepasang hui-to itu seperti tadi Tan-ciangkun untuk mengejeknya!

Setelah Ceng Ceng mengakhiri perma­inannya, tentu saja dia disambut dengan tepuk sorak gemuruh, juga Tan-ciangkun ikut bertepuk tangan sambil tersenyum karena diapun ikut bangga. Betapapun juga, dara itu dia tahu bukanlah Bangsa Bhutan, melainkan bangsanya sendiri dan ilmu silat yang dimainkan oleh Ceng Ceng itu adalah ilmu silat dari pedalam­an. Dia sudah mendengar bahwa dara yang cantik jelita itu adalah cucu dari kakek Lu Kiong yang dahulu pernah memegang pekerjaan seperti dia, yaitu pernah menjadi pengawal kaisar puluhan tahun yang lalu.

Setelah beberapa orang perwira dan pengawal Raja Bhutan juga memperlihat­kan ilmu kepandaian masing-masing, pesta itu berakhir sampai jauh malam, bahkan sudah lewat tengah malam. Se­mua orang pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Ceng Ceng mengawal kakak angkatnya masuk ke kamar pula. Semenjak menjadi adik angkat Syanti Dewi, Ceng Ceng tidur sekamar dengan puteri itu.

Menjelang pagi, Ceng Ceng terbangun oleh suara tangis. Dia bangkit duduk, menggosok-gosok matanya dan mencoba untuk melihat di dalam kamar yang telah digelapkan itu. Kiranya yang menangis adalah Syanti Dewi! “Eh, suci Syanti…. kau…. kenapakah….?” Ceng Ceng cepat meloncat turun dan menyalakan lilin di atas meja. Dilihatnya puteri itu menelungkup sambil menangis terisak-­isak.

“Enci Syanti, mengapa kau menangis?” Kembali Ceng Ceng bertanya sambil duduk di pembaringan puteri itu dan mengusap pundaknya.

Puteri itu menengok, lalu bangkit berdiri merangkul Ceng Ceng sambil menangis makin sedih. “Adikku…. aihhh…. adikku Candra….!”

Ceng Ceng membiarkan puteri itu menangis di pundaknya sampai agak mereda, kemudian dia berkata, “Kakakku yang baik, beginikah sikap seorang ga­gah? Biarpun kita wanita, namun kita menjunjung kegagahan dan tangis meru­pakan hal yang dipantang, kecuali kalau ada persoalan yang tak terpecahkan dan amat hebat. Apakah yang telah terjadi? Kalau ada persoalan, bicarakanlah dengan­ku, dan marilah kita pecahkan bersama. Tidak ada di dunia ini persoalan yang tidak akan dapat kita pecahkan berdua, bukan?”

Putri itu menghapus air matanya dan memandang adik angkatnya. Tangisnya sudah mereda dan melihat wajah adiknya menimbulkan kepercayaan dan hiburan besar baginya. Dia menghela nafas pan­jang berkali-kali sebelum bicara, kemudi­an sambil memegang tangan adik angkat­nya dia berkata, “Candra, hati siapa ti­dak akan menjadi kecewa, penasaran dan duka? Tadi aku mendengar dari seorang pelayanku yang memang kusuruh melaku­kan penyelidikan di antara rombongan utusan, dan aku mendengar berita yang sangat mengecewakan sebelum tidur tadi.”

“Berita apakah?”

“Berita keterangan tentang Pange­ran Liong Khi Ong….”

“Aihhh, tentang calon suamimu?” Ceng Ceng menahan ketawanya. “Bukan­kah berita itu menggembirakan?”

“Siapa bilang menggembirakan? Ter­nyata dia adalah seorang laki-laki yang usianya sudah lima puluh tahun…. hu-huuukkk….” Putri itu menangis lagi.

Ceng Ceng merangkul dan menghibur­nya. “Lima puluh tahun belum tua bagi seorang laki-laki, apalagi kalau dia se­orang pangeran,” dara ini mencoba meng­hibur sebisanya.

“Tapi…. tapi…. dia mempunyai ba­nyak selir….” kembali puteri itu teri­sak.

“Aihh, enci Syanti, apa anehnya ten­tang itu? Dia seorang pangeran, tentu saja banyak selirnya. Akan tetapi engkau akan menjadi isterinya, mengepalai se­mua selirnya.”

“Tapi…. tapi…. aku tidak suka, Candra. Aku merasa seolah olah berang­kat mati saja…. kehilangan kebebasan­ku…. menjadi budak belian!”

“Ihhhh….! Mengapa kau berkata be­gitu, enci Syanti?” Ceng Ceng berseru kaget.

“Mengapa tidak? Apa bedanya aku de­ngan budak belian? Aku dibeli, dibeli dengan kedudukan dan nama, aku kehi­langan kebebasan, harus menurut menjadi isteri siapa saja! Aku…. aku ingin menjadi isteri orang yang kupilih sendiri, adik Candra….!” Kembali puteri itu menja­tuhkan diri menelungkup, memeluk ban­tal dan menangis.

Ceng Ceng duduk termenung. Dia dapat menyelami perasaan kakak angkat­nya dan tak dapat membantah kebenaran kata-katanya. Memang kaum wanita sama dengan budak belian. Diharuskan menjadi isteri siapa saja, menjadi isteri seorang pria yang belum pernah dilihatnya. Apa bedanya dengan budak belian? Hanya diberi pakaian indah dan penghormatan, namun pada hakekatnya, nasib mereka dalam hal perjodohan tiada bedanya dengan budah belian! Diam-dian hatinya memberontak pula.

“Enci Syanti, kalau begitu, mengapa tidak engkau tolak saja?”

Puteri itu terkejut sekali, lalu bangkit duduk. Dia memandang adiknya, menarik napas panjang dan menggelengkan kepala­nya. “Dahulu, dua tahun yang lalu, aku sama sekali tidak pernah memikirkan ini. Kuterima saja perintah ayah karena memang biasanya demikian, seorang puteri dikawinkan dan aku boleh disebut beruntung menjadi calon isteri seorang pangeran putera kaisar yang besar! Akan tetapi, setelah pernikahan diundur dua tahun, selama ini timbul penasaran di dalam hatiku mengapa aku harus meni­kah, mengikatkan hidupku selamanya, dengan seorang yang sama sekali belum pernah kulihat? Aku masih menghibur diri dengan anggapan bahwa seorang pangeran putera kaisar tentulah seorang pria yang gagah perkasa, tampan, muda dan pendeknya memenuhi impianku ten­tang seorang kekasih. Siapa tahu…. berita itu…. dia sudah tua dan banyak selirnya…. hu-hu-huuukkk….”

Ceng Ceng menggaruk-garuk belakang telinganya, bingung. “Kalau begitu, bagai­mana baiknya, enci Syanti? Kautolak saja sekarang, bagaimana?”

“Ahhh, kau tidak tahu, adikku. Kalau aku menolak, tentu ayah akan memaksa­ku karena hal itu selain akan mencemar­kan nama keluarga Kerajaan Bhutan, juga berbahaya sekali, dapat menyeret negara ke dalam perang.”

“Ohhh….!” Ceng Ceng terkejut sekali. “Habis, bagaimana baiknya? Kalau begitu, mari kita…. melarikan diri saja. Malam ini juga, biar aku menemanimu, enci….”

Mau tidak mau puteri itu tersenyum masam mendengar ajakan ini. Ajakan yang ugal-ugalan. Mana mungkin puteri raja minggat? Selain percuma karena tentu akan dapat ditangkap, juga amat memalukan. “Tidak bisa, adikku, tidak mungkin itu.”

“Habis bagaimana? Apakah kau akan menerima nasib begitu saja?”

“Apa boleh buat. Aku harus menerima nasib, akan tetapi hatiku tentu akan terhibur sekali kalau kau suka menema­niku ke Kerajaan Ceng di timur sana.”

“Tentu saja aku mau! Aku malah ingin sekali ke sana! Baik, aku akan menemanimu.”

“Akan tetapi, apakah kakekmu akan memperkenankan?”

“Dia harus menyetujui!” Ceng Ceng berkata cemberut. “Aku berasal dari timur sana sudah sepatutnya kalau dia mengajakku kembali ke sana. Sekarang ada kesempatan baik. Aku ikut dengan­mu, enci Syanti!”

Demikianlah, keputusan diambil ma­lam itu juga dan pada keesokan harinya, sang puteri memberitahukan ayahandanya bahwa Candra Dewi akan ikut bersama­nya ke timur. Raja Bhutan tak dapat menolak dan kakek Lu Kiong segera diberitahu tentang hal itu. Kakek ini terkejut, akan tetapi diapun tidak berani menghalangi kehendak sang puteri, bah­kan diam-diam dia harus mengakui bahwa sudah sepatutnya kalau dia membiarkan cucunya itu kembali ke timur. Akan tetapi karena dia mengkhawatirkan kese­lamatan cucunya, dia lalu menyatakan hendak ikut mengawal rombongan sang puteri. Tentu saja keputusan kakeknya ini menggirangkan hati Ceng Ceng, karena betapun juga dia merasa kasihan dan tidak tega kalau harus meninggalkan kakeknya yang sudah tua itu sendirian di Negara Bhutan.

Persiapan untuk keberangkatan Puteri Syanti Dewi dilakukan dan keadaan di istana sibuk sekali. Besok pagi-pagi rombongan yang memboyong puteri itu akan berangkat, pasukan istimewa yang khusus sebanyak lima ratus orang akan mengawal rombongan sampai di perbatasan, di mana pasukan Kerajaan Ceng akan menyambut dan mengoper tugas penga­walan. Barang-barang berharga milik sang puteri dikumpulkan sampai berpeti-peti banyaknya. Ceng Ceng sendiri mempero­leh kesempatan untuk pulang ke rumah kakek, membantu kakeknya yang juga berkemas dan dibantu oleh murid-murid kakeknya. Wajah para murid itu kelihatan murung, karena mereka tahu bahwa sekali ini, gurunya pergi untuk tidak kembali lagi ke Bhutan karena gurunya sudah amat tua.

Sementara itu, tanpa disangka-sangka, di pintu penjagaan benteng, yaitu di pintu gerbang besar, terjadi keributan. Seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, berpakaian sederhana dan berkuncir panjang, bertangan kosong, sedang ribut mulut dengan para penjaga. Dari pakaiannya mudah dikenal bahwa orang ini datang dari timur, seorang bangsa Han. Karena di kota raja Bhutan sedang ada kesibukan, maka tentu saja para penjaga itu menghadang orang yang tidak dikenal ini sambil menghardik, “Siapakah engkau dan ada keperluan apa hendak memasuki kota raja?”

Laki-laki itu mengerutkan alisnya. “Hemm, begitukah sikap para penjaga kota raja di Bhutan? Seorang penduduk sinipun tidak akan mengalami gangguan, apalagi seorang pendatang dari luar yang dapat disebut seorang tamu! Aku datang sebagai tamu, sebagai utusan dan aku ingin menghadap sri baginda!”

Akan tetapi, kepala penjaga tertawa mengejek. Orang itu pakaiannya biasa, sama sekali bukan pakaian orang berpang­kat atau seorang perwira, tentu saja dianggap menggelikan dan membohong ketika mengaku sebagai tamu dan utusan, dan bahkan menimbulkan kecurigaan. Orang begini hendak menghadap raja! Tentu berniat tidak baik, pikir kepala penjaga itu.

“Jangan main gila kau!” bentaknya. “Kaukira mudah saja menghadap sri baginda! Hayo cepat pergi, keluar dari tempat ini atau terpaksa akan kami tangkap sebagai mata-mata musuh!”

Orang itu memandang tajam dan tersenyum. “Kepala penjaga, jangan membuka mulut besar dan sembarangan. Lebih baik kaulaporkan kepada atasanmu, kepada Panglima Jayin bahwa ada seo­rang tamu datang hendak bertemu! Kalau masih belum cukup meyakinkan, katakan bahwa yang datang membawa bunga suci!”

Ucapan ini, apalagi kalimat terakhir, membuat kepala penjaga menjadi makin marah. Dia melangkah maju dan mendo­rong dada orang itu sambil berkata, “Engkau masih banyak membantah? Pergilah!”

Akan tetapi, kepala penjaga itu kaget sekali karena dia seperti mendorong sebuah gunung karang saja! Orang itu sama sekali tidak bergerak, maka dengan marah dia lalu memukul dada laki-laki berbaju hitam itu.

“Dukkk!” Bukan tubuh orang itu yang roboh terkena pukulan keras, sebaliknya kepala penjaga itu berteriak dan roboh terpelanting seperti dibanting saja!

“Kau berani melawan?” Dua orang penjaga menyerang dengan tombak mere­ka dari depan dan belakang. Namun dengan gerakan gesit sekali, laki-laki berbaju hitam itu mengelak, kedua ta­ngannya bergerak menyambar tombak, tangan kiri menangkap tombak dari depan, tangan kanan menangkap tombak dari belakang dan sekali dia mengangkat, dua orang penjaga itu terangkat ke atas seolah-olah hanya seperti daun saja ringannya! Tentu saja mereka terkejut dan berteriak, akan tetapi tubuh mereka segera melayang ke depan dan jatuh terbanting cukup keras, membuat mereka hanya dapat bangkit duduk dengan kepala pening dan mata berkunang!

Para penjaga yang lain datang dan segera menyerang laki-laki yang lihai itu sehingga terjadilah pertandingan keroyok­an di depan pintu gerbang. Laki-laki itu menghadapi mereka dengan tenang, hanya menggunakan kaki tangannya untuk menangkis dan merobohkan para pengeroyok tanpa melakukan pembunuhan. Beberapa orang penjaga sudah lari untuk melapor kepada Panglima Jayin.

“Tahan senjata, mundur semua!” Tiba­-tiba terdengar suara Panglima Jayin yang sudah cepat datang ke tempat itu. Para penjaga mundur dan saling membantu karena mereka sudah menderita cidera tangan.

Panglima Jayin melangkah maju, berhadapan dengan laki-laki itu. Orang itu segera menjura dan merangkapkan kedua tangannya dengan jari-jari terbuka dan saling jalin di depan dada, dengan ibu jari saling tindih. Melihat bentuk jari-jari tangan di depan dada ini, Pang­lima Jayin mengerutkan alisnya dan berkata, nadanya menegur, “Apakah Pek­-lian-kauw telah mengalihkan permusuhan­nya kepada Negara Bhutan?” Pertanyaan ini mengandung teguran dan juga tantang­an.

“Ah, ah…. tidak sama sekali, harap tai-ciangkun suka maafkan. Saya hanya seorang utusan, untuk menyampaikan surat dari Raja Muda Tambolon untuk sri baginda di Bhutan.”

“Hemmm…. apalagi sekali ini? Sete­lah dua tahun yang lalu kalian mencoba hendak menawan raja kami?”

“Saya sendiri tidak tahu, hanya ditu­gaskan menyampaikan surat. Harap tai-­ciangkun suka menghadapkan saya kepada sri baginda.”

“Tidak mungkin! Sri baginda sedang sibuk….”

“Ha-ha, dengan keberangkatan pengan­tin? Sayang sekali, puteri cantik harus dihadiahkan kepada….”

“Tutup mulutmu! Apa hubungannya denganmu? Hayo lekas serahkan surat itu kepadaku, atau kau boleh pergi lagi!” Panglima Jayin membentak marah.

Orang itu tersenyum tenang saja. “Begitupun baik. Pokoknya surat ini akan terbaca oleh sri baginda di Bhutan.”

Dia mengeluarkan sebuah sampul panjang dan sekali dia menggerakkan tangannya, surat itu melayang ke arah Panglima Jayin. Perwira tinggi besar ini menyambut dan terkejutlah dia ketika merasa betapa tangannya tergetar hebat pada saat menerima surat yang disabit­kan itu. Dari ini saja dia sudah tahu bahwa orang ini memiliki sin-kang yang amat kuat dan dia bukanlah tandingan orang ini!

“Ha-ha-ha, tai-ciangkun aku mohon diri!”

“Haii, tunggu sebentar, sobat! Tidak kusangka bahwa Pek-lian-kauw berkeliar­an sampai di tempat sejauh ini!” Tiba-­tiba tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu di situ telah muncul Tan Siong Khi yang telah meloncat ke depan dan menghadang orang berbaju hitam itu. Orang itu memandang dengan tajam, kemudian mengeluarkan suara mendengus dari hidungnya seperti orang mengejek. Sedangkan Panglima Jayin cepat berkata. “Tan-ciangkun, harap jangan ganggu dia. Dia hanyalah seorang utusan yang me­nyampaikan surat!” Panglima ini tentu saja memegang peraturan umum bahwa seorang utusan sama sekali tidak boleh diganggu, maka dia menghalangi Tan Siong Khi melarang orang itu pergi.

“Sayang sekali….!” Tan Siong Khi berkata.

“Huhh!” Laki-laki berjubah hitam itu mendengus lagi dan sekali meloncat, tubuhnya melayang tinggi.

“Enak saja kau pergi….!” Tan Siong Khi menggerakkan kakinya dan tubuhnya mencelat ke atas, agaknya hendak meng­hadang tubuh orang itu yang sedang melayang. Akan tetapi, tiba-tiba orang itu berseru keras dan tubuhnya yang sedang meloncat itu berjungkir balik tiga kali dan dapat meloncat lebih tinggi melampaui kepala Tan Siong Khi! Hebat dan indah sekali gerakan ini, membukti­kan kemahiran gin-kang yang luar biasa.

“Bukan main….!” Jayin berkata kepada Tan Siong Khi setelah orang itu pergi jauh. “Dia lihai sekali, kuat sin-kang­nya dan lihat gin-kangnya, merupakan lawan yang lihai.”

Tan-ciangkun tertawa. “Akan tetapi diapun tidak akan menganggap kita orang lemah!”

“Apa maksudmu, Tan-ciangkun?” Tanya Jayin, akan tetapi Tan Siong Khi hanya tersenyum. Tadi ketika tubuh pesuruh Raja Muda Tambolon itu mela­yang di atasnya, dia menggerakkan kepa­lanya dan jenggot panjangnya melayang dan menyambar ke atas, merobek celana di selangkangan kaki orang itu. Kalau dia mau, tentu saja bukan celana yang ro­bek, melainkan bagian tubuh yang lebih penting lagi dan yang mematikan!

“Raja Muda Tambolon ini makin menggila saja,” katanya sambil berjalan memasuki pintu gerbang bersama Tan-­ciangkun. “Dia telah menghimpun semua kekuatan mereka yang bermaksud mem­berontak kepada Kerajaan Ceng, yaitu orang-orang dari Tibet, Turki dan Mo­ngol. Dia sendiri adalah peranakan Tibet dan Mongol, dan khabarnya memiliki ilmu kepandaian yang mujijat. Entah apa maksudnya kali ini, dan anehnya mengapa yang menjadi utusan adalah orang Pek-­lian-kauw.”

“Agaknya perkumpulan agama yang tersesat dan menjadi tukang berontak itu kena pula dibujukkan dan menjadi sekutunya,” kata Tan Siong Khi dan Jayin menganggukkan kepalanya. Memang dugaan ini tidak meleset. Di perbatasan antara wilayah Kerajaan Ceng, yaitu di luar Sin-kiang, gerombolan ini berkum­pul dan makin lama menjadi kekuatan yang cukup besar. Pada waktu itu, baik Tibet, Turki, Mongol dan semua raja muda yang menguasai wilayah-wilayah kecil masing-masing telah ditundukkan dan dihancurkan oleh Pemerintah Ceng. Namun, ada beberapa tokoh-tokoh mere­ka yang belum mau tunduk dan akhirnya mereka ini dapat dihimpun oleh Raja Muda Tambolon untuk bersekutu dan bersama-sama memperkuat diri dalam persiapan mereka menyerang Kerajaan Ceng dan merampas wilayah-wilayah mereka kembali.

Ketika Raja Bhutan membaca surat yang dibawa oleh Jayin, dia berkerut dan kelihatan gelisah. Akhirnya dia mengun­dang semua pembantu dan orang keper­cayaannya untuk membicarakan hal itu.

Bahkan Tan-ciangkun juga disuruh hadir karena Raja Bhutan tentu saja mengharapkan bantuan dan perlindungan dari Pemerintah Ceng yang akan menjadi besannya.

“Isi surat dari Tambolon ini membujuk agar Bhutan tidak melanjutkan hubungan kekeluargaan dengan Pemerintah Man­cu, dan mereka mengajak kami untuk bersekutu. Kami memanggil kalian bukan untuk minta pendapat mengenai permin­taan mereka itu, karena sudah jelas bahwa kami tidak akan menghentikan hubungan kekeluargaan kami dengan Kerajaan Ceng dan kami tidak sudi diajak bersekutu oleh kaum pemberontak bekas orang-orang pecundang dan pelari­an itu. Akan tetapi perlu kita bicarakan tentang penjagaan dan pembelaan diri yang perlu kita adakan karena mereka tentu tidak akan tinggal diam setelah kami tidak menghiraukan permintaan mereka.”

Suasana menjadi hening, dan akhirnya terdengar Tan Siong Khi berkata, “Harap paduka bertenang hati. Hamba mengerti bahwa pemboyongan puteri paduka pasti akan mengalami gangguan dan halangan di jalan, mungkin akan dihadang oleh mereka, akan tetapi hamba dan para pengawal akan melindungi sang puteri dengan taruhan nyawa hamba sekalian!”

“Kami mengerti, Tan-ciangkun. Hanya, perlu diadakan perubahan, karena bukan hanya rombongan itu yang mungkin akan diganggu, akan tetapi juga Bhutan mung­kin akan diserang. Karena itu, kami rasa tidak baik kalau Panglima Jayin sendiri yang mengawal. Dia perlu untuk mem­perkuat pertahanan di sini. Namun, pengawalan harus diperkuat. Inilah yang membingungkan hati kami.”

“Harap paduka tidak gelisah,” akhir­nya Panglima Jayin berkata. “Sudah dipersiapkan pasukan istimewa, lima ratus orang banyaknya dan hamba tidak perlu ikut karena sudah ada suhu Lu Kiong yang memperkuat pengawalan. Apalagi ada Tan-ciangkun dan para pengawal dari rombongan pemboyong. Kiranya rombong­an itu sudah terkawal cukup kuat, dan kalau mereka itu berani menyerang ke sini, kitapun sudah siap untuk memukul hancur mereka! Para pemberontak itu tidak memiliki pasukan besar, kabarnya paling banyak dua ribu saja. Terlalu ba­nyak pasukan merupakan bunuh diri bagi mereka karena tentu tidak akan kuat memberi ransum. Biarkan mereka datang hamba bersumpah akan membasmi mere­ka sampai habis!”

Kata-kata penuh semangat dari Pang­lima Jayin ini melegakan hati sri bagin­da, dan mereka lalu merundingkan ten­tang keberangkatan sang puteri, dan penjagaan-penjagaan yang perlu diadakan.

Sementara itu, Ceng Ceng yang sudah mendengar tentang kedatangan utusan pemberontak, berkata kepada Syanti Dewi, “Enci Syanti, betapapun juga, kurasa jauh lebih baik menjadi isteri seorang Pangeran Kerajaan Ceng daripa­da jatuh ke tangan pemberontak yang liar dan ganas itu. Bayangkan saja kalau kau dijodohkan dengan seorang raja pemberontak! Selalu akan hidup di medan perang, bahkan selalu menjadi orang pelarian, dan mereka itu tentu merupa­kan orang-orang ganas dan liar yang menyeramkan.”

Syanti Dewi mengangguk. “Aku akan menyesuaikan diri, adikku. Kurasa, apa­pun yang akan terjadi atas diriku, aku masih akan terhibur oleh kehadiranmu di sampingku.”

***

Bunyi musik paduan suara terompet, tambur dan canang riuh gembira diseling ledakan-ledakan merecon mengantar dan mengiringkan keberangkatan rombongan Puteri Syanti Dewi sampai di luar pintu gerbang. Ketika rombongan sudah mulai meninggalkan kota raja, dari jauh masih terdengar suara riuh gembira ini di belakang mereka. Dari dalam jolinya, Syanti Dewi mengusap air matanya yang bercucuran. Betapa tidak akan pilu hati­nya meninggalkan orang tua, keluarga dan tempat kelahirannya itu untuk sela­manya? Sedikit sekali kemungkinan dia akan dapat berkunjung ke Bhutan setelah dia menjadi isteri Pangeran Liong Khi Ong!

Ceng Ceng yang berada sejoli dengan puteri itu menghiburnya. Berbeda dengan sang puteri, dara ini kelihatan gembira sekali, wajahnya berseri dan matanya bersinar-sinar. Tentu saja dia girang karena memperoleh kesempatan untuk kembali ke negeri di mana dia dilahirkan, dan kepergiannya ini juga bersama kong-kongnya yang berada di luar bersama para pengawal.

Joli itu tidak dipikul, melainkan merupakan kereta kecil ditarik oleh empat ekor kuda. Beberapa orang pela­yan wanita pribadi naik sebuah kereta ke dua, kemudian di sebelah belakang masih ada pula sebuah kereta besar penuh dengan peti-peti bawaan sang puteri. Para pengawal mengapit tiga buah kereta itu di depan, belakang, kanan dan kiri sehingga sang puteri terkurung rapat dan aman.

Pasukan itu megah dan gagah, dikepa­lai oleh panglima wakil Jayin dan dite­mani oleh kakek Lu Kiong yang gagah perkasa, diiringkan pula oleh Tan Siong Khi dan teman-temannya. Mereka semua berkuda, dan di sepanjang perjalanan, rombongan ini menjadi tontonan yang mengagumkan dan mengherankan para penduduk dusun.

Dan untuk menenteramkan hati sang puteri, atas perintah panglima komandan pasukan, di sepanjang jalan para perajurit itu bersama-sama menyanyikan lagu-­lagu ketentaraan yang terdengar megah dan gagah. Memang megah sekali me­nyaksikan rombongan ini. Bendera kebesaran berkibar-kibar tertiup angin, suara nyanyian lima ratus mulut itu menggegap gempita, diseling ringkik kuda.

Perjalanan selama berhari-hari dilaku­kan dengan aman dan selamat. Tidak tampak ada penghalang sedikitpun sampai mereka tiba di dekat perbatasan antara wilayah Bhutan dan Propinsi Tibet. Lima hari telah lewat dan memang perajurit itu agak lambat karena melalui Pegunung­an Himalaya dan pasukan Bhutan itu agaknya ogah-ogahan melepaskan puteri junjungan mereka sehingga memperlambat perjalanan. Betapapun juga ada perasaan berat untuk melepas puteri itu ke daerah Ceng, karena setelah nanti ber­temu dengan pasukan penjemput di dae­rah Tibet, pasukan Bhutan akan kembali ke Bhutan dan menyerahkan pengawalan itu kepada pasukan Ceng.

Pada hari ke lima, rombongan tiba di kaki gunung dan tampaklah padang pasir membentang luas di depan. Diduga bahwa pasukan penjemput sudah berada dekat, di balik gunung pasir di depan. Karena itu, rombongan berhenti di hutan terakhir sebab lebih baik menanti datangnya pasukan penjemput di daerah yang masih sejuk ini, karena perjalanan selanjutnya akan melalui daerah pegunungan yang sukar dan berbatu-batu sampai lembah Sungai Brahmaputera di sebelah utara perbatasan Bhutan.

Pasukan dihentikan dan semua turun dari kuda masing-masing. Di hutan itu terdapat mata air yang jernih, airnya mengalir menjadi sebatang anak sungai kecil menuju ke utara dan agaknya anak sungai ini akan memuntahkan airnya di Sungai Brahmaputera. Tentu saja setibanya di sungai besar itu, airnya tidak sejernih ketika keluar dari mata airnya di hutan itu. Mendengar dendang anak sungai itu, Sang Puteri Syanti Dewi turun dari jolinya dan ingin sekali membasuh mukanya dengan air yang jernih. Maka berjalanlah Syanti Dewi ditemani Ceng Ceng dan dikawal sendiri oleh panglima pasukan dan kakek Lu Kiong, menuju ke tengah hutan dari mana terdengar suara riak air sungai itu.

Akantetapi, ketika mereka tiba di tengah hutan yang subur itu, mereka tertegun melihat seorang laki-laki sedang tidur di atas rumput, berbantal batu, kedua lengan bersilang depan dada dan mukanya tertutup oleh sebuah caping besar bundar. Seekor kuda yang kelihatan lelah sekali sedang makan rumput tak jauh dari laki-laki itu.

Panglima pasukan dan kakek Lu Kiong yang memang di sepanjang perjalanan menduga akan datangnya penyerbuan fihak musuh, tentu saja menjadi curiga ketika melihat laki-laki itu. Akan tetapi karena merasa terlalu tinggi untuk me­negur, panglima itu memanggil lima orang perajurit yang sedang duduk tak jauh dari situ dengan lambaian tangannya.

“Usir dia pergi! Sang puteri berkenan hendak mandi di mata air ini,” katanya.

Lima orang perajurit itu dengan sikap gagah dan galak, langkah lebar meng­hampiri orang yang sedang tidur. “Heiii! Bangun! Sang puteri hendak memperguna­kan tempat ini, kau pergi dan pindahlah tidur di lain tempat!” bentak seorang di antara para perajurit itu.

Akan tetapi orang itu tetap tidur, sama sekali tidak bergerak.

“Haiiii! Tulikah engkau?” bentak perajurit ke dua.

“Apakah kau sudah mati barangkali?” bentak perajurit ke tiga.

“Tak mungkin mati, lihat lututnya bergerak-gerak!”

Memang, orang yang tertidur itu lutut kanannya terangkat dan kini bergerak, akan tetapi terhenti lagi karena dibica­rakan orang.

“Haiii, petani….! Lekas bangun dan pergi. Apakah kau ingin diseret?” bentak pula seorang perajurit.

Tetap saja orang itu tidak mau ber­gerak. Melihat ini seorang perajurit yang berkumis tebal dan memegang sebelah kaki orang itu, lalu menarik sekuat tenaga. Akan tetapi, betapa herannya semua orang melihat bahwa si kuat ini sama sekali tidak mampu membuat orang itu bergerak, bahkan menggerakkan kaki itupun tidak mampu! Seolah-olah bukan orang yang ditarik-tariknya, melainkan patung batu yang luar biasa beratnya. Teman-temannya menjadi heran, dan juga penasaran, lalu maju bersama dan lima orang itu membetot-betot tubuh orang yang tidur itu. Terdengar mereka menge­luarkan suara ah-uh-uh ketika mengerah­kan tenaga, namun tetap saja orang yang dikeroyok lima ini tidak dapat digerakkan sedikitpun juga!

“Eh-eh, apakah engkau minta dipu­kul?” Seorang perajurit membentak dan kuda orang itu menjadi ketakutan meli­hat dan mendengar ribut-ribut sehingga binatang ini melarikan diri agak jauh dari tempat itu.

Karena orang itu tetap tidur dengan muka ditutup caping, lima orang peraju­rit itu menjadi hilang sabar, malu dan penasaran. Mereka berlima tidak mampu menggerakkan orang yang tidur ini, dan jelas bahwa orang itu tidak tidur, maka mereka merasa dianggap ringan dan hina. Kini mereka berlima turun tangan menyerang dengan pukulan kalang kabut!

“Plak-plak-plak-duk-dukkk….!”

Aneh bukan main. Tanpa menurunkan topi yang menutupi seluruh mukanya, orang itu dapat menggerakkan kaki tangannya menangkisi semua pukulan. Bukan saja pukulan-pukulan itu tertang­kis, bahkan lima orang perajurit itu akhirnya mundur sambil meringis, memegangi lengan mereka yang menjadi bengkak-bengkak terkena tangkisan orang yang masih tertutup mukanya oleh caping itu!

“Hemmm….!” Panglima sudah memegang gagang pedangnya, akan tetapi dia didahului oleh Ceng Ceng yang sekali melompat telah berada di dekat orang itu sambil berkata, suaranya lantang penuh teguran, “Kalau kau seorang gagah, tentu kau tahu bahwa tempat ini bukan milikmu seorang, dan tentu kau mempunyai kesopanan untuk menyingkir karena ada wanita hendak mandi di sini!”

“Adik Candra…. jangan….!” Tiba-­tiba sang puteri berseru dan sudah lari mendatangi dan berkata dengan halus kepada orang yang mukanya masih ditu­tupi topi itu. “Harap kau suka pergi dari sini dan setelah kami selesai mempergu­nakan mata air ini, tentu saja kau boleh menempatinya lagi.”

Tubuh itu bergerak-gerak sedikit, kemudian tangan kanannya meraba tanah, menepuknya dengan pengerahan tenaga dan tubuhnya mencelat ke atas punggung kudanya yang berada agak jauh dari situ, kemudian kuda itu membalap pergi me­ninggalkan suara derap kaki dan sedikit debu mengepul. Semua itu dilakukan tanpa membuat capingnya terbuka!

“Hebat….!” Kakek Lu Kiong memuji dengan kagum.

“Mungkin dia mata-mata musuh….” bisik panglima komandan pasukan yang segera pergi dan memerintahkan para penyelidiknya untuk menyelidiki keadaan di sekitar hutan itu.

Kakek Lu Kiong mengerutkan alisnya, termenung dan meraba-raba jenggotnya, lalu berkata kepada panglima itu, “Dia adalah seorang Han, dan melihat gerak-geriknya, dia memiliki ilmu silat yang tinggi sekali. Sayang bahwa kita belum dapat melihat wajahnya sebelum dia pergi. Kurasa dia bukanlah mata-mata musuh, karena kalau dia mata-mata mu­suh, tentu tidak demikian perbuatannya, melainkan menyelidiki kita dengan diam-diam dan sembunyi-sembunyi. Betapapun juga, dia lihai sekali dan kita harus berhati-hati.”

Juga Tan-ciangkun yang diberitahu tentang orang asing bercaping itu, ter­menung. “Saya mengenal banyak tokoh kang-ouw, dan tentu saja banyak yang bercaping dan berilmu tinggi. Mungkin saya dapat mengenalnya kalau melihat wajahnya. Akan tetapi karena jelas tidak mengganggu, bahkan dalam bentrokan itu dia tidak menewaskan seorangpun peraju­rit, kurasa dia tidak mempunyai niat buruk terhadap rombongan kita.”

Sementara itu, Ceng Ceng dan sang puteri mandi di mata air dan mereka juga membicarakan laki-laki yang aneh tadi.

“Dia tentu orang jahat, kalau tadi dia tidak lekas menyingkir, tentu aku akan menghajarnya!” kata Ceng Ceng yang merasa mendongkol juga karena orang asing itu dipuji-puji dan orang itu men­dapat kesempatan untuk memamerkan kepandaiannya. Memang dara ini memiliki watak yang kadang-kadang keras tidak mau kalah, dan dia paling tidak senang melihat orang memamerkan kepandaian­nya.

“Ahh, belum tentu, adik Candra. Kurasa, melihat gerak-geriknya, dia bukanlah seorang jahat. Buktinya, dikero­yok demikian banyaknya perajurit, dia tidak membunuh seorangpun di antara mereka, padahal kalau melihat kepandai­annya, tentu dengan mudah dia melaku­kan hal itu.”

“Hemm, dia memang sengaja hendak memamerkan kepandaiannya!” bantah Ceng Ceng masih tidak puas. “Kalau saja aku diberi kesempatan, akan kubuktikan bahwa lagaknya itu hanya kosong belaka!”

Maklum akan watak adik angkatnya, puteri itu hanya tersenyum dan tidak menyebut lagi perihal orang aneh itu. Juga para tokoh dalam rombongan itu tidak bicara lagi tentang orang aneh, dan orang itu hanya disebut-sebut dengan bisik-bisik di antara para perajurit. Namun, peristiwa itu mempertinggi kewaspadaan rombongan dan penjagaan dilakukan ketat malam itu. Karena para penjemput belum juga muncul, maka terpaksa mereka bermalam di hutan itu dengan membangun tenda-tenda darurat. Sang puteri dan Ceng Ceng, juga para pelayan wanita, tidur di dalam kereta joli.

Malam itu sunyi sekali setelah lewat tengah malam. Sebagian besar perajurit yang tidak bertugas jaga, tidur nyenyak karena mereka memang sudah lelah sekali. Akan tetapi mereka yang bertugas jaga, tetap berjaga dengan penuh kewas­padaan di tempat masing-masing. Peron­daan dilakukan terus-menerus dari tem­pat penjaga yang satu kepada tempat penjaga yang lain. Juga kakek Lu Kiong, komandan pasukan, dan Tan-ciangkun tidak dapat tidur dan mereka bercakap­-cakap di dalam tenda melewatkan waktu malam yang merupakan bahaya bagi mereka itu.

Di dalam kereta joli, Ceng Ceng dan Syanti Dewi juga tidak dapat tidur. Mereka sudah terbiasa dengan kamar yang serba lengkap, dengan pembaringan yang lunak sehingga tidur di kereta joli setengah duduk itu merupakan hal yang sukar dilakukan. Maka keduanya juga setengah berbaring sambil bercakap-­cakap. Diam-diam keduanya merasakan sesuatu yang aneh dan seolah-olah ada tanda-tanda rahasia akan datangnya hal yang tidak mereka kehendaki. Setelah munculnya orang aneh siang tadi, segala sesuatu kelihatan penuh rahasia. Suara angin berdesir mempermainkan daun-­daun pohon saja terdengar seperti bisikan-bisikan iblis dan siluman. Bayang-bayang pohon yang dibuat oleh sinar lentera penjagaan tampak seperti bayangan raksasa! Keadaan serba menyeramkan dan menegangkan.

“Kulik! Kulik! Kulik!”

Suara burung malam itu terdengar jelas sekali karena suasana yang amat sunyi. Suara itu memecah kesunyian dan Puteri Syanti Dewi menggerakkan kedua pundaknya. Tengkuknya terasa dingin meremang.

“Ihhhh…. menyeramkan sekali….!” Bisiknya. “Adik Candra, hatiku terasa tidak enak sekali. Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu dengan kita?”

Ceng Ceng juga merasa seram, akan tetapi dia menghibur hati kakak angkat­nya dengan senyum lebar. “Apa yang dapat terjadi kepada kita? Engkau dika­wal oleh lima ratus perajurit pilihan, en­ci Syanti.”

“Lima ratus orang perajurit di tempat seperti ini tidaklah meyakinkan sekali, adik Candra. Aku mendengar bahwa di daerah perbatasan ini seringkali muncul gerombolan yang dipimpin oleh Raja Muda Tambolon yang biadab itu.”

“Siapakah Raja Muda Tambolon yang terkenal itu, enci?”.

Syanti Dewi bergidik. “Aku sendiri belum pernah melihat orangnya. Akan tetapi menurut kabar, dia adalah seorang peranakan Tibet dan Mongol, seorang laki-laki bertubuh raksasa yang amat sakti dan juga amat kejam, terutama sekali terhadap wanita.”

“Hemmm, kejam terhadap wanita? Bagaimanakah?”

“Hihh, aku merasa ngeri baru mengi­ngat cerita yang kudengar itu saja. Bayangkan, kalau Tambolon sudah menye­rang sebuah dusun, dia akan membunuh semua laki-laki yang tidak mau menye­rah, dan tidak ada seorangpun wanita yang dilepaskannya. Semua kanak-kanak dibunuh, dan wanita dari usia empat belas tahun ke atas, semua menjadi korban kebiadabannya. Kabarnya, dia sendiri akan memilih sedikitnya lima orang wanita tercantik untuk dia permainkan sampai bosan. Adapun sisanya, semua diberikan begitu saja kepada para anak buahnya dan terjadilah peristiwa yang lebih mengerikan daripada penyembelihan terhadap kaum pria dan anak-anak. Para wanita itu diperkosa di dalam rumah, di jalan-jalan, di sawah, di mana saja me­reka ditemukan, bahkan di antara mayat-­mayat suami dan atau saudara-saudara mereka.”

“Keparat jahanam!” Ceng Ceng men­desiskan kata-kata ini penuh kebencian.

“Dan beberapa hari kemudian, wanita-­wanita tua dibunuh, yang muda digiring sebagai orang tawanan atau lebih tepat lagi, sebagai alat hiburan mereka sampai kaum wanita itu mati atau bunuh diri. Anak-anak yang lahir dari perbuatan laknat ini kelak menjadi anak buah gerombolan. Kabarnya Tambolon sendiri merupakan hasil kelahiran perbuatan biadab seperti itulah.”

“Hemm, kalau begitu biarlah mereka muncul. Ingin aku memenggal leher manusia iblis itu dengan pedangku sendi­ri!” Ceng Ceng berkata lagi.

Tiba-tiba, seolah-olah menjawab kata­-kata Ceng Ceng, terdengar suara meleng­king tinggi berulang-ulang. Mula-mula suara itu datangnya dari arah barat, kemudian disusul dari selatan, timur dan utara. Suara melengking yang agaknya bukan keluar dari leher manusia, melain­kan dari semacam alat tiup yang aneh. Segera terdengar teriakan-teriakan dan kegaduhan hebat di luar kereta joli.

“Apa itu….?” Syanti Dewi bertanya kaget dan mukanya pucat.

“Jangan keluar dulu, biar aku yang memeriksa!” Ceng Ceng sudah meloncat keluar dan dapat dibayangkan betapa kaget hatinya melihat ratusan anak panah berapi datang bagaikan hujan menyerang tempat itu! Di sana-sini terjadi kebakaran pada tenda-tenda dan keadaan menjadi kacau. Para perajurit yang baru saja terbangun dari tidur dan dalam keadaan panik, lari ke sana ke mari sampai akhirnya teriakan-teriakan kakek Lu Kiong, komandan pasukan, Tan­-ciangkun dan beberapa orang perwira lain dapat meredakan kepanikan. Pasukan-­pasukan disusun dan dibagi empat, siap menghadapi serangan dari empat penjuru itu.

Tak lama kemudian, muncullah fihak musuh yang menyerang dari empat penju­ru, dan terjadi pertempuran yang amat hebat. Perang yang terjadi di dalam gelap itu amat kejam dan dahsyat, na­mun sungguh tidak menguntungkan pihak pasukan Bhutan. Mereka sebagian besar baru saja bangun tidur, masih nanar dan agaknya fihak penyerang lebih tangkas dan lebih biasa dengan pertempuran di dalam hutan yang gelap. Selain itu, segera didapatkan kenyataan yang me­ngejutkan bahwa jumlah musuh luar biasa banyaknya, jauh lebih banyak daripada jumlah pasukan Bhutan yang lima ratus orang itu, juga, di fihak musuh banyak terdapat orang-orang pandai dari berma­cam suku bangsa. Ada pendeta Lama dari Tibet, ada orang Turki yang bersor­ban, orang Mongol dan juga orang Han!

Perang tanding mati-matian itu terja­di sampai hampir pagi. Ceng Ceng yang siap dengan pedang di tangan melindungi Syanti Dewi yang juga memegang pedang. Ada beberapa orang musuh dapat menyelundup masuk dan Ceng Ceng sudah merobohkan empat orang musuh, sedangkan Syanti Dewi sendiri yang selama hidupnya belum pernah bertem­pur, apalagi membunuh orang, terpaksa membunuh seorang laki-laki tinggi besar yang hendak menangkapnya. Kini dengan muka pucat dan tubuh menggigil puteri itu memandang korbannya. Pedangnya tertinggal di dalam perut korban itu karena merasa terlalu ngeri untuk men­cabut pedangnya!

Tiba-tiba kakek Lu Kiong datang dengan muka agak pucat. Seluruh pakaian kakek itu berlumur darah, dan mukanya penuh keringat. Pedang di tangan kakek inipun berlepotan darah dan kelihatannya dia lelah sekali. Seperti juga para perajurit dan para pimpinan, kakek ini telah ikut berperang dan mengamuk seperti seekor harimau.

“Ceng Ceng…. cepat persiapkan diri dan tuan puteri! Kita harus melarikan diri, fihak musuh terlalu kuat!”

“Apa? Melarikan diri? Tidak, kong-kong!” Ceng Ceng membantah marah. “Biar kita melawan sampai titik darah terakhir!”

“Hushhhhh! Kaukira kakekmu ini pengecut? Kita tidak boleh memikirkan diri sendiri, kita harus menyelamatkan sang puteri!”

Barulah Ceng Ceng teringat. Dia menoleh dan melihat Syanti Dewi berdiri pucat memandang orang yang telah ditusuk perutnya dengan pedangnya itu. Orang itu masih berkelojotan di depan kakinya!

“Bagaimana kita bisa melarikan sang puteri, kong-kong? Tempat ini sudah terkurung.”

“Cepat, kalian berdua pakai pakaian ini dan mari ikut dengan aku!” Kakek Lu Kiong memberikan dua stel pakaian petani kepada Ceng Ceng dengan nada memerintah. “Sekarang yang terpenting adalah menyelamatkan tuan puteri. Ini sudah diatur oleh kami, komandan pasu­kan, Tan-ciangkun, dan aku sendiri. Kita berdua harus dapat mengawal dan me­nyelamatkan puteri keluar dari tempat ini!”

Dua orang gadis itu tidak banyak membantah lagi, lalu mengenakan pakai­an petani yang agak kebesaran itu, menutupi pakaian mereka sendiri, me­nguncir rambut seperti model laki-laki, kemudian tergesa-gesa mengikuti kakek itu menyelinap di antara pohon-pohon gelap. Sang puteri menyerahkan segeng­gam perhiasan berharga kepada Ceng Ceng untuk membantu membawanya sebagai bekal. Dengan perhiasan di kan­tung baju yang lebar, dan pedang disem­bunyikan di bawah baju, mereka bergerak di bawah pohon-pohon. Syanti Dewi telah mendapatkan kembali pedangnya setelah dicabut dari perut penyerangnya tadi dan dibersihkan darahnya pada pakaian kor­ban.

Akan tetapi, di mana-mana mereka bertemu dengan fihak musuh dan bebera­pa kali terpaksa mereka membuka jalan darah dan merobohkan musuh untuk dapat melanjutkan usaha mereka melari­kan diri. Namun, kakek Lu Kiong sedapat mungkin menghindarkan diri dari pertem­puran, memilih lowongan-lowoagan untuk keluar dari dalam hutan tanpa diketahui musuh.

Akhirnya, setelah matahari pagi tersembul di antara daun-daun pohon, mereka bertiga telah berhasil lolos dan keluar dari dalam hutan di mana masih berlangsung perang yang amat hebat itu. Suara pertempuran masih terdengar jauh di luar hutan. Baru saja hati ketiga orang pelarian itu merasa lega karena dapat lolos, dan memasuki sebuah hutan kecil di antara gurun pasir yang hanya kadang-­kadang saja menyelingi gundukan perbu­kitan, tiba-tiba terdengar bentakan keras dan lima orang sudah berdiri di depan mereka dengan golok terhunus di tangan!

“Ha-ha-ha, sudah kuduga tentu akan ada yang menyelinap ke sini! Eh, kakek tua, apakah kalian ini anggauta rombongan puteri…. ehhhh! Kalian berdua ini begini tampan, persis perempuan…. heiiii, bukankah kalian perempuan?” Seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam bermata lebar menunjuk dengan goloknya ke arah muka Ceng Ceng dan Syanti Dewi.

“Ahhhh, dia puteri Bhutan! Tidak salah lagi! Aku pernah melihatnya, dia Puteri Bhutan!” tiba-tiba terdengar teriak seorang tinggi kurus bermuka kuning. Mendengar ini, lima orang itu cepat maju mengurung.

“Ha-ha-ha, benarkah itu, kawan? Kalau begitu, kita telah berhasil menjebak kakap dalam jaring kita! Ha-ha­ha, raja muda tentu akan memberikan hadiah banyak sekali kepada kita. Tang­kap dia!” teriak si muka hitam yang agaknya menjadi pemimpin gerombolan lima orang kasar ini.

Si muka hitam dan si muka kuning sudah menggunakan golok mereka untuk menerjang kakek Lu Kiong, sedangkan tiga orang teman mereka menubruk Ceng Ceng dan Syanti Dewi. “Plak-plak, dess!” Tiga orang itu tersungkur karena Ceng Ceng sudah memukul dan menendang dua orang, sedangkan Syanti Dewi sendiri merobohkan seorang dengan sebuah ten­dangan kilat.

“Tranggg….! Cringgg….!” Kakek Lu Kiong berhasil menangkis dua batang golok lawan, biarpun dia terkejut sekali karena ketika dia menangkis, dia merasa betapa dua kali pedangnya tergetar hebat, tanda bahwa si muka hitam dan si muka kuning itu memiliki tenaga sin-kang yang kuat sekali!

Melihat tiga orang temannya tersung­kur dan meloncat kembali, si muka hitam tertawa. “Ha-ha-ha, kiranya memi­liki kepandaian juga si puteri dan pelayannya….!”

“Mulut busuk! Aku bukan pelayan!” bentak Ceng Ceng marah sekali dan dia sudah menghunus pedangnya, demikian pula Syanti Dewi.

“Ha-ha-ha, tangkap mereka, jangan sampai mereka terluka. Sang Puteri boleh untuk Raja Muda, akan tetapi si cantik liar itu untukku saja, ha-ha-ha!”

“Keparat!” Lu Kiong sudah menggerak­kan pedangnya menyerang dan dapat ditangkis oleh si muka hitam. Segera terjadi pertandingan yang seru sekali antara kakek Lu Kiong dikeroyok dua orang yang ternyata memiliki ilmu silat yang tangguh juga.

Tiga orang anak buah mereka itu sudah mencabut golok dan kini menye­rang Ceng Ceng dan Syanti Dewi. Akan tetapi karena mereka tidak berani melu­kai, sedangkan dua orang dara itu mela­wan mati-matian, tentu saja tiga orang itu menjadi kewalahan, betapapun lihai ilmu silat mereka. Ceng Ceng mulai mendesak dengan pedangnya dan tiga puluh jurus kemudian, dia sudah merobohkan seorang pengeroyok dengan bacokan pedangnya yang hampir memisahkan kepala dari tubuh lawan itu!

Terdengar teriakan keras dan Ceng Ceng melihat kakeknya juga sudah berha­sil merobohkan si muka kuning yang terbabat hampir putus pinggangnya, akan tetapi betapa kagetnya ketika dia meli­hat bahwa kakeknya juga terluka parah pada pundak kirinya sehingga bajunya penuh darah.

“Kong-kong….!” Teriaknya sambil menangkis dua batang golok yang menye­rangnya.

“Ceng Ceng, jaga sang puteri….!” kakek itu berteriak.

“Wuuuutttt…. singgg….!” Golok itu menjadi sinar terang meluncur cepat sekali dari atas membacok ke arah kepala kakek Lu Kiong. Si muka hitam ternyata marah sekali melihat saudaranya tewas dan kini dia mengerahkan tenaga untuk membalas dendam.

“Tringggg…. augghhh….!” Tubuh kakek Lu Kiong tersungkur dan dia bergulingan. Ketika menangkis tadi, rasa nyeri menusuk pundak kirinya yang terlu­ka sehingga dia kehilangan tenaga dan hanya dengan jalan menjatuhkan diri saja dia terbebas dari bacokan golok. Si muka hitam mengejar dan menghujankan ba­cokan, namun kakek itu dengan sigapnya bergulingan sambil mengangkat pedang beberapa kali menangkis, kemudian de­ngan teriakan keras dia sudah meloncat bangun dan segera terjadi pertandingan mati-matian antara kedua orang itu.

“Kakekmu terluka…. bantulah dia, adik Candra….!” Syanti Dewi berkata sambil membacokkan pedangnya ke arah lawan yang dapat ditangkis oleh lawan itu.

“Tidak, kita bereskan dulu dua ekor anjing ini!” Ceng Ceng berseru karena dia mengerti bahwa puteri itu bukanlah lawan kedua orang yang cukup lihai ini, maka dia cepat memutar pedangnya. Kemarahan melihat kakeknya terluka menambah semangat dara ini dan dengan putaran pedang seperti kitiran cepatnya, akhirnya dia berhasil menendang roboh seorang lawan. Tendangan dengan ujung sepatu yang tepat mengenai sambungan lutut sehingga orang itu berlutut tanpa mampu berdiri kembali.

“Singggg….!” Pedang di tangan Syanti Dewi menyambar.

“Tranggg….!” Orang yang sudah berlutut itu berusaha menangkis, namun karena kedudukannya yang tidak baik, tangkisannya membuat goloknya terpental dan terlempar.

“Wuuuutttt…. crotttt….!” Pedang Ceng Ceng sudah menyambar dan mero­bek tenggorokannya. Orang itu menge­luarkan suara seperti babi disembelih dan roboh terjengkang, darah muncrat-mun­crat dari lehernya yang dicobanya ditutupinya dengan telapak tangan. Melihat ini, Syanti Dewi meloncat mundur dan membuang muka dengan penuh kengerian.

Hampir dia muntah-muntah menyaksikan pemandangan yang mengerikan hatinya ini.

Ceng Ceng mengamuk dan menekan lawan yang tinggal seorang lagi itu. Orang itu kini menjadi panik karena kedua orang kawannya telah tewas. Setelah menangkis tiga kali dan selalu tangannya tergetar sehingga goloknya hampir terlepas, dia berteriak, meloncat ke belakang hendak lari.

“Robohlah….!” Teriak Ceng Ceng. Dengan gerakan indah dia melontarkan pedangnya ke depan. Pedang itu melun­cur seperti anak panah dan menancap di punggung orang itu, menembus sampai ke dada. Dengan teriakan keras orang itu roboh terguling.

“Kong-kong….!” Ceng Ceng menjerit ketika melihat kakeknya terhuyung lalu kakek itu roboh di atas mayat si muka hitam yang baru saja dirobohkan dan ditewaskan. Ternyata kakek yang kosen ini biarpun berhasil membunuh si muka hitam yang lihai, menderita luka pula karena kena bacokan golok si muka hitam yang mengenai dadanya sehingga dada itu terobek lebar!

“Kong-kong….!” Ceng Ceng berlutut dan memangku kepala kakeknya. Wajah­nya pucat dan matanya terbelalak penuh kegelisahan menyaksikan keadaan kakek­nya yang terluka hebat dan seluruh pakaiannya berlepotan darah itu.

Kakek Lu Kiong membuka matanya, memandang kepada Ceng Ceng lalu kepada Syanti Dewi yang juga sudah datang berlutut di dekat Ceng Ceng. “Ceng Ceng, kau…. kau selamatkan puteri…. harus, sekarang juga…. pergilah kau ke kota raja…. jumpai di sana Puteri Milana, dia sahabat mendiang ibumu lindungi puteri dengan nyawamu sebagai…. sebagai keturunan seorang bekas pengawal setia….” Kakek itu menghentikan kata-katanya karena napasnya telah terhenti.

“Kong-kong….!” Ceng Ceng meme­luk kepala kakek itu, kemudian dia mengangkat mukanya. Dia tidak menangis biarpun ada dua butir air mata di pipi­nya yang pucat. “Engkau benar, kong­-kong! Kita adalah pengawal-pengawal setia sampai mati. Engkau gugur sebagai orang gagah, kong-kong! Dan aku akan melanjutkan kegagahanmu.” Dia melepas­kan pelukannya dan dengan hati-hati dia merebahkan tubuh kakeknya itu di antara mayat-mayat lima orang lawan tadi.

“Marilah, enci. Kita harus cepat pergi dari sini sebelum musuh datang!”

“Tapi…. tapi jenazah kakekmu….”

“Tidak apa! Kong-kong akan tahu bahwa kita tidak sempat menguburnya. Biarlah semua orang melihat bahwa kong-kong tewas di antara musuh-musuh­nya dalam tugas sebagai seorang penga­wal perkasa! Marilah….!” Ceng Ceng menahan tangisnya karena sesungguhnya hatinya perih sekali harus meninggalkan mayat kakeknya seperti itu. Namun dia tahu bahwa kalau dia terlambat, musuh akan datang dan dia akan sukar sekali menyelamatkan sang puteri.

Puteri Syanti Dewi menahan isak, mengeluarkan sehelai kalung dan sambil berlutut mengalungkan benda itu di leher kakek Lu Kiong. “Ini adalah kalungku sendiri, biarlah sebagai tanda terima kasihku….” Dia terisak dan lengannya disambar oleh Ceng Ceng lalu diajaknya puteri itu melarikan diri. Hampir saja Ceng Ceng tadi menangis melihat sikap puteri itu, dan dengan mengeraskan hati dia setengah menyeret kakak angkatnya karena kalau dia menurutkan hati dan ikut menangisi jenazah kakeknya, keada­an mereka bisa berbahaya sekali.

Demikianlah, dengan menyamar seba­gai dua orang petani yang melarikan diri karena terjadi perang, Ceng Ceng dan Syanti Dewi melewati gurun pasir, pegu­nungan dan hutan-hutan lebat menuju ke timur. Tentu saja perjalanan itu sukar bukan main bagi mereka berdua, seperti dua ekor ikan kecil yang dilepas di tengah lautan. Mereka tidak mengenal jalan. Satu-satunya yang mereka ketahui hanyalah bahwa kota raja Kerajaan Ceng berada jauh sekali di timur! Mereka membawa bekal banyak perhiasan berhar­ga, namun apa artinya semua itu kalau mereka selama belasan hari tidak pernah bertemu dengan orang lain? Mereka terpaksa harus makan binatang buruan dan daun-daun, minum dari air sungai dan mereka selalu dalam keadaan waspa­da dan gelisah karena mereka maklum bahwa sebelum tiba di kota raja, mereka selalu akan terancam bahaya karena fihak musuh, yaitu orang-orang bawahan Raja Muda Tambolon tentu melakukan pengejaran.

“Lee-ko, mari kita turun dari sini. Lihat itu sepasang rajawali kita beter­bangan di atas permukaan laut, agaknya tentu ada sesuatu terjadi. Mungkin ada ikan besar terdampar ke pulau seperti dahulu!” kata Kian Bu sambil menuding­kan telunjuknya ke bawah puncak di mana tampak sepasang rajawali itu terbang rendah di permukaan laut.

“Ahh, Bu-te, sekarang bukan waktunya bermain-main. Ingat, hari ini kita harus melatih sin-kang untuk menghimpun Hui-­yang-sin-kang (Tenaga Sakti Inti Api) yang amat sukar.”

“Memang sukar, Lee-ko. Tidak semu­dah ketika kita melatih Swat-im-sin­-kang.”

“Tentu saja, untuk menghimpun Swat-­im-sin-kang (Tenaga Sakti Inti Salju) kita dibantu oleh hawa dingin dan salju, sedangkan Hui-yang-sin-kang adalah sebaliknya, menyalurkan sin-kang menjadi berhawa panas. Karena sukarnya, maka kita harus giat berlatih, jangan terlalu banyak main-main. Marilah kita berlatih lagi, kurasa di guha itu sudah cukup panas, apinya sudah sejak pagi tadi­ menyala.”

Kian Bu menghela napas kecewa, akan tetapi tidak berani membantah kakaknya dan mereka memasuki sebuah guha di puncak itu. Kalau orang lain yang belum terlatih, baru memasuki guha itu saja tentu tidak akan kuat bertahan. Di situ dinyalakan api arang yang amat besar sehingga hawa menjadi panas luar biasa, baru masuk saja terasa kulit se­perti dibakar. Namun kedua orang pemuda yang sudah terlatih itu seolah-olah mereka tidak merasakan hal ini. Mereka berjalan masuk dan duduk bersila, mulai berlatih Hui-yang-sin-kang.

Kedua orang muda putera majikan Pulau Es ini memang selalu tekun berla­tih silat semenjak mereka dahulu terse­sat ke Pulau Neraka dan terancam baha­ya maut. Biarpun mereka dapat terhindar dari malapetaka, bahkan pulang ke Pulau Es membawa sepasang rajawali, namun keduanya maklum bahwa ilmu kepandaian mereka masih belum mencukupi sehingga sekali saja keluar merantau hampir celaka, maka di bawah gemblengan dan bimbingan yang amat keras dari ayah mereka, keduanya berlatih setiap hari sehingga memperoleh kemajuan yang pesat sekali.

Akan tetapi belum lama mereka melakukan siulian (samadhi) untuk berla­tih sin-kang, tiba-tiba telinga Kian Bu menangkap suara rajawali yang meleng­king panjang. Dia membuka mata me­mandang keluar guha. Tentu saja dari dalam guha itu dia tidak melihat sepa­sang rajawali, akan tetapi kembali teli­nganya menangkap suara lengking panjang dari sepasang rajawali itu.

“Lee-ko….!”

Kian Lee membuka matanya meman­dang dengan cemberut. “Bu-te, mengapa kau belum juga berlatih? Apa kau ingin mendapat marah dari ayah?”

“Lee-ko dengarkan! Sepasang rajawali kita marah-marah, tentu ada sesuatu!”

Terpaksa Kian Lee mencurahkan perhatiannya pada pendengarannya dan tak lama kemudian dia mendengar leng­king panjang dari sepasang rajawali mereka. Tak salah lagi, memang sepa­sang rajawali itu sedang marah-marah. Hal ini amat mengherankan karena kalau tidak terjadi sesuatu di Pulau Es, meng­apa sepasang rajawali itu marah-marah?

“Hemm, mereka marah sekali. Entah apa yang sedang terjadi….” kata pemu­da yang bersikap tenang ini.

“Mendengar suara mereka, kalau tidak melihat dulu, mana bisa aku menyatukan tenaga untuk berlatih? Aku mau melihat­nya dulu, Lee-ko!” Berkata demikian, Kian Bu sudah menggerakkan kakinya dan tahu-tahu tubuhnya sudah melesat keluar dari guha itu. Gerakannya memang hebat sekali karena pemuda ini sudah memper­oleh kemajuan yang amat pesat.

“Tunggu, Bu-te….!” Kian Lee juga meloncat dengan kecepatan yang sama. Kedua orang kakak beradik itu berlari cepat menuruni puncak dan ketika mere­ka tiba di pantai tampaklah oleh mereka apa yang menyebabkan sepasang rajawali itu beterbangan rendah dan mengeluarkan suara pekik kemarahan. Kiranya Pulau Es kedatangan tamu! Hal yang luar biasa sekali karena selama mereka hidup di Pulau Es, satu kali ini ada orang-orang asing datang di Pulau Es, menggunakan sebuah perahu besar yang berlabuh di tepi pantai.

Kakak beradik itu merasa heran sekali, apalagi ketika melihat bahwa yang datang adalah orang banyak. Ada dua puluh orang yang kini sudah mendarat dan mereka itu berdiri di pantai, berha­dapan dengan Suma Han dan kedua orang isterinya! Karena ayah dan ibu mereka telah hadir, kakak beradik ini tidak berani bersuara, hanya melangkah maju dan mendengarkan percakapan.yang baru berlangsung. Agaknya orang tua mereka juga baru saja datang ke tempat itu menyambut para pendatang ini. Dua puluh orang itu rata-rata telah berusia lanjut, paling muda empat puluh lima tahun sampai ada yang sudah tua sekali. Akan tetapi yang paling menarik adalah dua orang kakek yang berdiri di depan, kare­na mereka ini adalah yang paling aneh di antara mereka semua.

Dua orang kakek ini menarik karena wajah mereka serupa benar. Sukarlah membedakan dua wajah itu yang bentuk dan garis-garisnya sama, bahkan rambut mereka yang panjang terurai sampai ke leher juga sama. Akan tetapi, ada perbe­daan yang amat menyolok pada pakaian mereka dan warna muka mereka. Yang seorang bermuka putih, bukan pucat melainkan putih seperti dicat! Kakek ini memakai baju tebal dari bulu, akan tetapi masih kelihatan seperti orang kedinginan, bahkan mukanya yang lebar bulat itu, yang berwarna putih, agak kebiruan seperti orang menderita dingin hampir beku. Adapun kakek ke dua merupakan kebalikan dari kakek pertama ini. Kakek kedua bermuka merah, muka yang seperti orang kepanasan, dan orang kedua ini hanya memakai celana sebatas lutut dan sepatu, sama sekali tidak memakai baju sehingga tubuhnya yang agak kurus dengan tulang iga menonjol itu kelihatan. Anehnya, biarpun berada di Pulau Es yang dingin sekali, kakek ini masih kelihatan seperti orang kegerahan, mengipas-ngipas tubuhnya yang atas dan telanjang itu dengan sehelai saputangan yang sudah basah oleh keringatnya. Dan ini bukan hanya aksi belaka karena memang lehernya selalu basah oleh keringat!

Delapan belas orang yang lain terdiri dari empat belas orang kakek yang rata-­rata kelihatan aneh dan membayangkan ilmu kepandaian tinggi, dan empat orang wanita berusia kurang lebih lima puluh tahun yang masing-masing membawa pedang di punggung mereka. Empat orang wanita ini kepalanya dibalut dengan kain putih seperti orang berkabung dan wajah mereka angker, penuh kebencian ketika mereka memandang kepada Pendekar Super Sakti dan kedua isterinya. Melihat dari bentuk pakaian mereka, jelas bahwa empat orang wanita ini bukanlah wanita Han, sungguhpun wajah mereka seperti wanita Han biasa, akan tetapi pakaian mereka agak lain. Dan memang mereka itu adalah wanita-wanita dari Korea, dan tergolong tokoh-tokoh orang gagah di negeri itu.

Siapakah kedua orang kakek kembar yang agaknya menjadi pimpinan rombong­an yang secara tidak terduga-duga da­tang mendarat di Pulau Es ini? Nama mereka tidak begitu dikenal di dunia kang-ouw, karena memang kedua kakek kembar ini selama puluhan tahun pergi meninggalkan dunia kang-ouw dan meran­tau di luar negeri. Mereka adalah kakak beradik kembar, berasal dari Taiwan (Formosa) dan pernah mereka menjelajah ke daratan besar dan membuat nama dengan ilmu kepandaian mereka. Akan tetapi, mereka berbeda haluan dengan suheng mereka yang mencari kedudukan dengan menghambakan diri kepada Bangsa Mancu yang menduduki Tiongkok. Suheng mereka kemudian terkenal seba­gai Koksu (Guru Negara), yaitu Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun (bacaSepasang Pedang Iblis). Mereka berdua merasa kecewa melihat kakak seperguruan yang mereka anggap sebagai pengganti suhu itu menghambakan diri kepada musuh, maka keduanya lalu pergi meninggalkan daratan besar dan mereka berpencar untuk meluaskan pengalaman dan memperdalam ilmu mereka. Yang tua pergi ke utara dan selama puluhan tahun bermukim di daerah Kutub Utara yang amat dingin. Adapun yang muda merantau ke selatan, ke daerah panas di mana mata­hari lewat tepat di atas kepala. Bebera­pa tahun yang lalu, kedua orang ini kembali ke daratan besar sebagai dua orang lihai bukan main. Setelah puluhan tahun tinggal di dekat Kutub Utara, kakek tertua menjadi putih mukanya dan selalu berpakaian tebal seperti yang biasa dipakai orang-orang Eskimo di daerah Kutub Utara. Kakek ini kemudian terkenal dengan sebutan Pak-thian Lo­-mo (Iblis Tua Dari Utara). Adapun adik kembarnya, sekembalinya dari daerah panas, menjadi merah mukanya dan selalu merasa kegerahan dan tidak pernah berbaju. Dia kini dijuluki Lam-thian Lo-mo (Iblis Tua Dari Selatan). Biarpun baru datang beberapa tahun saja, kelihai­an mereka membuat nama Siang Lo-­mo (Sepasang Iblis) ini terkenal sekali, terutama pada golongan yang menentang Pemerintah Mancu karena kedua orang inipun terkenal anti kepada Kerajaan Mancu. Memang aneh sekali keadaan kedua orang itu. Lajimnya, orang yang selamanya tinggal di daerah dingin seper­ti Kutub Utara, kalau datang ke tempat yang lebih panas tentu akan kegerahan, akan tetapi Pak-thian Lo-mo sebaliknya malah, terus-menerus kedinginan! Demi­kian pula dengan Lam-thian Lo-mo, puluhan tahun dia tinggal di daerah panas, semestinya kini dia akan merasa kedinginan, akan tetapi biarpun berada di Pulau Es, dia masih terus merasa panas!

Sebetulnya mereka tidak pura-pura dan yang menyebabkannya demikian adalah sin-kang mereka. Di Kutub Utara, Pak-thian Lo-mo melatih diri secara liar sehingga dia dapat menghimpun inti tenaga yang mengandung hawa dingin. Memang hebat sekali tenaga ini, namun akibatnya karena dilatih secara liar, dia selalu merasa kedinginan dan harus memakai jubah tebal berbulu dan sering­kali minum arak tanpa takaran untuk menghangatkan tubuhnya, demikian pula Lam-thian Lo-mo yang telah melatih dan menghimpun inti tenaga sakti yang amat panas sehingga tubuhnya selalu terasa terlalu panas!

Ketika kakek kembar ini mendengar betapa suheng mereka telah digagalkan semua usahanya memberontak oleh Pen­dekar Super Sakti, bahkan kabarnya suheng mereka itu tewas di Pulau Es, tentu saja menjadi marah sekali dan menaruh hati dendam kepada Pendekar Super Sakti Majikan Pulau Es. Apalagi ketika mendengar pendekar yang menjadi musuh besar mendiang suheng mereka itu adalah mantu Kaisar Mancu, kebencian mereka makin meluap-luap. Mereka lalu mengumpulkan kawan-kawan sehaluan, yaitu mereka yang menentang Pemerin­tah Mancu. Di antaranya adalah keempat wanita dari Korea itu. Mereka itu adalah kakak beradik dari Jepang yang telah menikah dengan perwira-perwira Korea. Ketika suami mereka semua gugur dalam perang melawan pasukan Mancu, mereka bersumpah untuk membalas dendam dan menggabung dengan mereka yang anti Pemerintah Mancu sehingga akhirnya mereka dapat bekerja sama dengan Siang Lo-mo. Mendengar bahwa Siang Lo-mo hendak mencari Pulau Es dan menyerang Majikan Pulau Es yang menjadi mantu Kaisar Mancu, tentu saja mereka berem­pat menjadi girang dan segera menyata­kan hendak ikut membantu.

Empat belas kakek yang lainnya seba­gian besar adalah tokoh-tokoh kaum sesat yang merasa dirugikan oleh Peme­rintah Mancu, ada pula yang ikut menyerbu Pulau Es semata-mata untuk memba­las dendam kepada Pendekar Siluman atau Pendekar Super Sakti karena sahabat atau saudara seperguruan mereka pernah roboh di tangan pendekar ini.

Suma Han dan dua orang isterinya yang juga mendengar pekik sepasang rajawali dan melihat sebuah perahu besar mendarat, sudah cepat menyambut dan kini mereka bertiga menanti keluarnya dua puluh orang itu dari perahu. Sikap Suma Han dan dua orang isterinya tenang-tenang saja sungguhpun mereka juga merasa heran sekali melihat rombongan orang asing datang ke pulau mereka dan mereka bertiga sudah dapat menduga bahwa rombongan itu tentulah bukan datang dengan iktikad baik.

Namun, sesuai dengan wataknya yang tenang dan sopan, Suma Han mengangkat kedua tangannya di depan dadanya seba­gai tanda penghormatan, lalu bertanya dengan suara halus, “Siapakah cu-wi (anda sekalian) yang telah mendarat di Pulau Es dan apa gerangan keperluan cu-wi?”

Sejenak kedua orang kakek kembar itu tak dapat menjawab, hanya mata mereka memandang Suma Han penuh perhatian dan penuh selidik, memandang pendekar itu dari rambutnya yang putih semua dan panjang sampai ke pundak sampai kaki­nya yang tinggal sebelah. Akhirnya Pak-­thian Lo-mo menghela napas panjang. Dia merasa heran sekali dan hampir tidak percaya bahwa laki-laki berusia lima puluh tahun lebih yang kelihatannya lemah, tubuhnya sedang, kakinya tinggal yang kanan dan rambutnya sudah putih semua, bersikap halus dan lemah lembut ini adalah Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman yang demikian terso­hor! Dia tersenyum dan dengan sikap tak acuh tanpa membalas penghormatan tuan rumah, dia bertanya, “Apakah engkau yang berjuluk Pendekar Super Sakti, to-cu dari Pulau Es?”

“Kalau benar demikian, kau mau apakah?” Tiba-tiba Lulu tidak dapat menahan kemarahannya melihat sikap orang yang sama sekali tidak menghor­mat suaminya, padahal suaminya telah bersikap sopan dan ramah.

Pak-thian Lo-mo memandang Lulu dan mengangguk-angguk. “Hebat, aku sudah mendengar bahwa Pendekar Super Sakti mempunyai dua orang isteri yang kabarnya lihai bukan main dan bahwa yang seorang adalah puteri dari Kaisar Mancu sendiri! Apakah engkau puteri kaisar itu?”

“Kakek tua bangka yang tidak menge­nal orang!” Nirahai membentak. “Akulah puteri kaisar yang kautanyakan. Engkau siapakah dan mau apa berlagak di tempat ini dengan membawa banyak anak buah?”

Pak-thian Lo-mo saling pandang dengan adik kembarnya, kemudian mere­ka berdua tertawa bergelak. Kini Lam-­thian Lo-mo yang menjawab, suaranya kering namun nyaring sekali, “Eh, Pende­kar Siluman! Kami hendak bertanya, apa­kah benar suheng kami Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun tewas di Pulau Es ini?”

Suma Han dan kedua orang isterinya terkejut. Kiranya dua orang kakek kem­bar yang aneh itu adalah sute-sute dari mendiang Im-kan Sen-jin Bhong Ji Kun (bacaSepasang Pedang Iblis)! Jelas bah­wa kedatangan mereka ini mengandung niat yang tidak baik.

Namun suara Suma Han masih tetap tenang ketika dia menjawab, “Benar, Im-­kan Seng-jin Bhong Ji Kun tewas di tempat ini karena perbuatannya sendiri yang menyalahi kebenaran.

“Kaukah yang membunuhnya?” Pak-­thian Lo-mo bertanya, suaranya penuh ancaman.

Sebetulnya, seperti diceritakan dalam ceritaSEPASANG PEDANG IBLIS , Im-kan Sen-jin Bhong Ji Kun ketika bertanding dengan Gak Bun Beng, terjungkal dari tebing yang amat curam. Akan tetapi bukanlah watak Suma Han untuk menye­butkan kesalahan orang lain hanya untuk melindungi dirinya sendiri, maka jawab­nya, “Yang membunuhnya adalah tingkah lakunya sendiri yang tidak benar.”

Pak-thian Lo-mo mengangkat tangan­nya ke pinggang, bertolak pinggang dengan sikap angkuh sekali. “Pendekar Siluman, dengarlah baik-baik! Kami berdua adalah Siang Lo-mo, aku disebut Pak-thian Lo-mo dan dia ini adikku Lam-­thian Lo-mo. Kami datang untuk menun­tut kematian suheng kami! Bukan itu saja, karena engkau adalah mantu kaisar penjajah dan isterimu itu puteri kaisar, maka kami para patriot bergabung untuk membasmi kalian dan mengambil Pulau Es ini sebagai sebuah markas baru!”

“Iblis tua bangka bosan hidup!” Nira­hai sudah membentak marah sekali dan hampir berbareng dengan Lulu yang juga marah, kedua orang wanita sakti ini sudah melompat ke depan. Terjangan mereka disambut oleh Pak-thian Lo­mo dan Lam-thian Lo-mo yang tertawa­-tawa menghina dan memandang rendah kedua wanita itu.

“Dessss! Desssss!”

Empat pasang lengan saling bertemu dengan hebatnya, dan akibatnya, Nirahai dan Lulu terlempar ke belakang sedang­kan kedua kakek inipun terhuyung! Melihat ketangguhan kedua orang kakek Siang Lo-mo itu, Suma Han berkata kepada kedua orang isterinya yang sudah dapat mengatur keseimbangan tubuh mereka, “Biarlah aku menghadapi mereka.”

“Pendekar Siluman, tibalah saatnya engkau menebus kematian suheng!” Lam-­thian Lo-mo berteriak keras dan bersama saudara kembarnya dia menubruk ke depan dan dari kedua tangannya menyam­bar hawa yang panas seperti api menya­la, sedangkan dari kedua tangan Pak-­thian Lo-mo menyambar hawa yang dingin sekali. Namun Suma Han dengan gerakan tenang sudah menggerakkan tongkatnya ke depan, dengan gerakan aneh, tongkatnya berputar seperti menco­ret-coret huruf di udara.

“Plak-plak….!” Secara aneh sekali tahu-tahu tongkat itu telah memukul tepat mengenai punggung kedua kakek itu yang cepat melompat ke belakang, saling pandang dengan mata terbelalak. Mereka kaget bukan main! Sama sekali mereka tidak mengerti bagaimana tongkat di tangan si kaki buntung itu dapat memukul punggung mereka! Namun me­reka tidak menjadi jerih dan cepat ta­ngan mereka meraba pinggang dan mere­ka melolos sabuk mereka, yang ternyata merupakan sebatang senjata cambuk baja hitam!

Suma Han merasa khawatir sekali di dalam hatinya. Kalau kedua orang kakek itu menggunakan senjata yang dia dapat menduga tentu ampuh dan lihai sekali, maka pertandingan akan menjadi sungguh­-sungguh dan ada kemungkinan dia kesa­lahan tangan dan terpaksa membunuh mereka untuk menyelamatkan diri. Biar­pun dia tidak merasa takut, namun beta­papun juga dia tidak menghendaki dia sekeluarga terpaksa membunuh orang dan mengotori Pulau Es yang sudah beberapa kali dikotori darah manusia yang terbu­nuh di situ akibat kejahatan-kejahatan mereka. Selama puluhan tahun dia hidup damai, tenteram, dan aman bersama dua orang isterinya dan kedua orang putera­nya. Kini dia tidak ingin terjadi pembu­nuhan.

“Jiwi harap bersabar. Apakah urusan ini tidak dapat diselesaikan dengan da­mai?” tanyanya tenang.“Pendekar Siluman, jangan kau kira bahwa kami gentar menghadapi tongkat­mu! Kami datang untuk menantang eng­kau berkelahi!” bentak Pak-thian Lo-mo.

Suma Han menahan napas. “Andaikata terpaksa berkelahi juga, apakah tidak sebaiknya kita menggunakan tangan untuk mengukur siapa yang lebih kuat, dan tidak perlu menggunakan senjata?” Sam­bil berkata demikian, dia menancapkan tongkatnya di depan kaki, tanda bahwa ia tidak akan menggunakan tongkat itu sebagai senjata.

Dua orang kakek itu saling pandang, dan sebagai sepasang saudara kembar, tentu saja hubungan batin mereka lebih erat daripada orang lain sehingga dengan saling pandang saja mereka sudah dapat mengetahui isi hati masing-masing. Keduanya mengangguk, menyelipkan cambuk di ikat pinggang, kemudian keduanya lalu berpencar, menghampiri Suma Han dari kanan kiri.

“Engkau hendak mengadu tenaga sin-kang, ya?” Lam-thian Lo-mo berseru. “Baiklah! Nah, kauterima pukulan kami ini!”

Kedua orang kakek itu mengeluarkan suara menggereng hebat dari dalam perut mereka, kemudian mereka menggerakkan kedua lengan yang menggetar hebat dan tak lama kemudian, kedua lengan Lam­-thian Lo-mo berubah menjadi merah kehitaman dan mengeluarkan uap panas, sedangkan kedua lengan Pak-thian Lo-mo berubah putih pucat seperti lengan mayat dan dari kedua lengan ini juga keluar uap dingin! Kiranya mereka sudah mengumpulkan dan mengerahkan sin-kang istimewa masing-masing, menyalurkannya ke dalam lengan dan tiba-tiba mereka berseru keras, memukul dengan telapak tangan kanan terbuka ke arah Suma Han dari kanan kiri agak ke depan pendekar berkaki tunggal itu.

Suma Han maklum bahwa kalau dia tidak memperlihatkan kekuatannya tentu tidak akan membuat lawan mundur dan dia tidak ingin kalau harus bertanding mati-matian, maka diam-diam diapun telah mengerahkan tenaga sin-kangnya yang istimewa. Pendekar Super Sakti ini memang terkenal sekali dengan sin-kang­nya, karena dia telah menguasai dengan sempurna dua macam tenaga sin-kang yang berlawanan, yaitu Hwi-yang-sin­-kang (Tenaga Inti Api) dan Swat-im­-sin-kang (Tenaga Inti Salju). Kini, meng­hadapi dua serangan yang datang mengandalkan sin-kang yang berlawanan, tentu saja dia sudah siap. Bagi orang lain, betapa kuat sin-kangnya, tentu akan sukar menyelamatkan diri menghadapi serangan dari dua tenaga sin-kang yang berlawanan itu, namun Pendekar Super Sakti dapat dalam satu saat menyalurkan dua tenaga bertentangan itu, lengan kiri penuh dengan tenaga Hwi-yang-sin-kang me­nyambut telapak tangan Lam-thian Lo-mo yang panas, sedangkan telapak tangan kanannya juga mendorong dan menyambut telapak tangan Pak-thian Lo-mo yang dingin.

“Dess! Dess….!”

Pertemuan tenaga mujijat itu hebat luar biasa. Seolah-olah bumi bergetar dan semua orang yang ada di situ dapat mera­sakan getaran hawa panas dan dingin berselang-seling sehingga beberapa orang anak buah sepasang kakek kembar itu menggigil penuh kengerian. Baru pertama kali itu selama hidup mereka yang pu­luhan tahun berkecimpung di dunia kang­-ouw, mereka menyaksikan beradunya tenaga mujijat sehebat itu.

Dan akibatnya juga luar biasa sekali! Tubuh kedua kakek kembar itu terlempar sampai empat meter lebih. Mereka se­perti daun kering tertiup angin, terhu­yung dan terguling-guling dan ketika mereka berdua dapat meloncat berdiri, tampak darah merah menghias ujung bibir mereka! Benturan tenaga dahsyat tadi telah membuat mereka terluka di sebelah dalam, sungguhpun tidak terlalu berat karena mereka telah membiarkan diri mereka terdorong oleh tenaga lawan yang luar biasa kuatnya. Akan tetapi, di lain fihak, biarpun Pendekar Super Sakti masih berada di tempatnya tadi, tidak bergeser selangkahpun, namun tubuhnya menjadi kurang tingginya dan kalau orang melihat ke arah kakinya yang tinggal sebelah itu ternyata telah melesak ke dalam tanah sampai hampir selutut! Ternyata bahwa kekuatan kedua orang kakek kembar itu kuat sekali sehingga dalam menahan pukulan mereka, tubuh Suma Han tertekan sedemikian rupa dan biarpun pendekar ini dapat mempertahan­kan, namun tanah di bawah kakinya tidak dapat menahan sehingga kaki itu masuk ke dalam tanah!

Tadinya kedua kakek kakak beradik itu terkejut bukan main, akan tetapi mereka melihat keadaan lawan, hati mereka menjadi besar. Kiranya keadaan lawan juga tidak lebih baik daripada keadaan mereka. Melihat betapa Pendekar Super Sakti masih berdiri dengan kaki tunggal menancap ke dalam tanah, kedua orang itu sudah mencabut cambuk masing-­masing dan dengan bentakan-bentakan nyaring mereka menerjang maju.

“Tar-tar-tar-tarrr….!” Cambuk hitam mereka meledak-ledak di udara kemudian menyambar ke arah kepala Suma Han.

“Trak-trak-trak-trakkk!”

Tiba-tiba tampak sinar bergulung-­gulung dan kiranya tongkat yang tadi tertancap di atas tanah di depan kakek Pendekar Siluman, kini telah tercabut dan berada di tangan kanannya. Biarpun kaki tunggalnya masih menancap di atas tanah, namun pendekar itu dengan te­nangnya dapat menangkis semua sambar­an sinar berwarna hitam dari kedua cambuk lawan. Ke manapun ujung cam­buk menyambar, tentu akan terbendung oleh gulungan sinar tongkat dan membalik seperti seekor ular bertemu api!

Di antara delapan belas orang teman sepasang kakek kembar, empat orang wanita Korea itu merupakan tokoh-tokoh terpandai. Melihat keadaan musuh mere­ka yang seolah-olah sudah terjebak, mereka mengeluarkan bentakan-bentakan pendek yang nyaring dan ketika tangan mereka bergerak, tampak pedang-pedang panjang melengkung, yaitu pedang samu­rai model Jepang, berada di kedua ta­ngan mereka. Pedang itu terlalu panjang dan berat bagi mereka, maka mereka menggunakan kedua tangan untuk meme­gang gagang pedang, seperti orang me­megang toya dan kini mereka memekik sambil berlari ke arah Suma Han dengan samurai diangkat tinggi-tinggi di atas kepala mereka.

“Haaaiiiiikkkk….!”

“Trang-cring-cring-cring….!”

Empat orang wanita itu terhuyung-­huyung ke belakang dan mereka meman­dang dengan mata terbelalak kepada Lulu dan Nirahai yang ternyata telah mengha­dang mereka dan menangkis samurai-­samurai itu dengan pedang mereka. Lulu memegang pedang Pek-kong-kiam yang bersinar putih, sedangkan Nirahai telah menggunakan senjatanya yang luar biasa, yaitu pedang payung. Merasakan tangkis­an yang membuat tangan mereka terge­tar dan tubuh mereka terhuyung, empat orang wanita Korea itu maklum akan kelihaian dua orang wanita isteri Pende­kar Siluman itu, maka mereka lalu serentak maju menyerang sambil mengeluarkan pekik-pekik dahsyat. Empat belas orang lain juga bergerak maju, hendak mengeroyok Suma Han dan dua orang isterinya.

“Lee-ko, mari….!”

Kian Bu sudah berlari ke medan pertempuran, diikuti oleh kakaknya.

“Manusia-manusia jahat, berani kalian mengacau Pulau Es?” Kian Bu berteriak dan segera dia menyerbu ke depan. “Haiiiitt!”

“Hyaaaahhh!”

Kedua orang pemuda itu mengamuk dan mereka ternyata hebat sekali. Biar­pun mereka hanya bertangan kosong, namun setiap pukulan mereka tentu mengenai seorang lawan yang terjengkang atau terhuyung ke belakang. Biarpun mereka itu dapat bangun kembali, namun amukan kedua orang pemuda ini membu­at mereka menjadi kaget dan panik. Apalagi ketika terdengar lengking me­manjang dari atas dan dua ekor rajawali yang menyambar-nyambar dan mengamuk pula membantu kedua orang majikan mereka! Keadaan makin menjadi panik dan para pengeroyok itu kini sebaliknya malah menjadi sibuk dan terdesak hebat!Pertandingan antara Suma Han dan dua orang kakek kembar juga makin seru, namun diam-diam kedua orang kakek itu harus mengakui bahwa lawan mereka yang berjuluk Pendekar Super Sakti itu memang benar-benar amat sakti! Sering kali kedua orang kakek ini menjadi bingung karena secara aneh dan tiba-tiba sekali lawan mereka yang hanya berkaki satu itu lenyap dari depan mere­ka dan tahu-tahu lawan itu telah menye­rangnya dari atas kepala! Ketika mereka menyambarkan cambuk ke atas, kembali tubuh itu lenyap dan tahu-tahu sudah menerjang dari belakang! Mereka tidak tahu bahwa Pendekar Super Sakti mengeluarkan ilmu silatnya yang mujijat, yaitu Soan-hong-lui-kun (Ilmu Silat Gerak Kilat dan Badai) yang merupakan ilmu

Suma Han menahan napas. “Andaikata terpaksa berkelahi juga, apakah tidak sebaiknya kita menggunakan tangan untuk mengukur siapa yang lebih kuat, dan tidak perlu menggunakan senjata?” Sam­bil berkata demikian, dia menancapkan tongkatnya di depan kaki, tanda bahwa ia tidak akan menggunakan tongkat itu sebagai senjata.

Dua orang kakek itu saling pandang, dan sebagai sepasang saudara kembar, tentu saja hubungan batin mereka lebih erat daripada orang lain sehingga dengan saling pandang saja mereka sudah dapat mengetahui isi hati masing-masing. Keduanya mengangguk, menyelipkan cambuk di ikat pinggang, kemudian keduanya lalu berpencar, menghampiri Suma Han dari kanan kiri.

“Engkau hendak mengadu tenaga sin-kang, ya?” Lam-thian Lo-mo berseru. “Baiklah! Nah, kauterima pukulan kami ini!”

Kedua orang kakek itu mengeluarkan suara menggereng hebat dari dalam perut mereka, kemudian mereka menggerakkan kedua lengan yang menggetar hebat dan tak lama kemudian, kedua lengan Lam­-thian Lo-mo berubah menjadi merah kehitaman dan mengeluarkan uap panas, sedangkan kedua lengan Pak-thian Lo-mo berubah putih pucat seperti lengan mayat dan dari kedua lengan ini juga keluar uap dingin! Kiranya mereka sudah mengumpulkan dan mengerahkan sin-kang istimewa masing-masing, menyalurkannya ke dalam lengan dan tiba-tiba mereka berseru keras, memukul dengan telapak tangan kanan terbuka ke arah Suma Han dari kanan kiri agak ke depan pendekar berkaki tunggal itu.

Suma Han maklum bahwa kalau dia tidak memperlihatkan kekuatannya tentu tidak akan membuat lawan mundur dan dia tidak ingin kalau harus bertanding mati-matian, maka diam-diam diapun telah mengerahkan tenaga sin-kangnya yang istimewa. Pendekar Super Sakti ini memang terkenal sekali dengan sin-kang­nya, karena dia telah menguasai dengan sempurna dua macam tenaga sin-kang yang berlawanan, yaitu Hwi-yang-sin­-kang (Tenaga Inti Api) dan Swat-im­-sin-kang (Tenaga Inti Salju). Kini, meng­hadapi dua serangan yang datang mengandalkan sin-kang yang berlawanan, tentu saja dia sudah siap. Bagi orang lain, betapa kuat sin-kangnya, tentu akan sukar menyelamatkan diri menghadapi serangan dari dua tenaga sin-kang yang berlawanan itu, namun Pendekar Super Sakti dapat dalam satu saat menyalurkan dua tenaga bertentangan itu, lengan kiri penuh dengan tenaga Hwi-yang-sin-kang me­nyambut telapak tangan Lam-thian Lo-mo yang panas, sedangkan telapak tangan kanannya juga mendorong dan menyambut telapak tangan Pak-thian Lo-mo yang dingin.

“Dess! Dess….!”

Pertemuan tenaga mujijat itu hebat luar biasa. Seolah-olah bumi bergetar dan semua orang yang ada di situ dapat mera­sakan getaran hawa panas dan dingin berselang-seling sehingga beberapa orang anak buah sepasang kakek kembar itu menggigil penuh kengerian. Baru pertama kali itu selama hidup mereka yang pu­luhan tahun berkecimpung di dunia kang­-ouw, mereka menyaksikan beradunya tenaga mujijat sehebat itu.

Dan akibatnya juga luar biasa sekali! Tubuh kedua kakek kembar itu terlempar sampai empat meter lebih. Mereka se­perti daun kering tertiup angin, terhu­yung dan terguling-guling dan ketika mereka berdua dapat meloncat berdiri, tampak darah merah menghias ujung bibir mereka! Benturan tenaga dahsyat tadi telah membuat mereka terluka di sebelah dalam, sungguhpun tidak terlalu berat karena mereka telah membiarkan diri mereka terdorong oleh tenaga lawan yang luar biasa kuatnya. Akan tetapi, di lain fihak, biarpun Pendekar Super Sakti masih berada di tempatnya tadi, tidak bergeser selangkahpun, namun tubuhnya menjadi kurang tingginya dan kalau orang melihat ke arah kakinya yang tinggal sebelah itu ternyata telah melesak ke dalam tanah sampai hampir selutut! Ternyata bahwa kekuatan kedua orang kakek kembar itu kuat sekali sehingga dalam menahan pukulan mereka, tubuh Suma Han tertekan sedemikian rupa dan biarpun pendekar ini dapat mempertahan­kan, namun tanah di bawah kakinya tidak dapat menahan sehingga kaki itu masuk ke dalam tanah!

Tadinya kedua kakek kakak beradik itu terkejut bukan main, akan tetapi mereka melihat keadaan lawan, hati mereka menjadi besar. Kiranya keadaan lawan juga tidak lebih baik daripada keadaan mereka. Melihat betapa Pendekar Super Sakti masih berdiri dengan kaki tunggal menancap ke dalam tanah, kedua orang itu sudah mencabut cambuk masing-­masing dan dengan bentakan-bentakan nyaring mereka menerjang maju.

“Tar-tar-tar-tarrr….!” Cambuk hitam mereka meledak-ledak di udara kemudian menyambar ke arah kepala Suma Han.

“Trak-trak-trak-trakkk!”

Tiba-tiba tampak sinar bergulung-­gulung dan kiranya tongkat yang tadi tertancap di atas tanah di depan kakek Pendekar Siluman, kini telah tercabut dan berada di tangan kanannya. Biarpun kaki tunggalnya masih menancap di atas tanah, namun pendekar itu dengan te­nangnya dapat menangkis semua sambar­an sinar berwarna hitam dari kedua cambuk lawan. Ke manapun ujung cam­buk menyambar, tentu akan terbendung oleh gulungan sinar tongkat dan membalik seperti seekor ular bertemu api!

Di antara delapan belas orang teman sepasang kakek kembar, empat orang wanita Korea itu merupakan tokoh-tokoh terpandai. Melihat keadaan musuh mere­ka yang seolah-olah sudah terjebak, mereka mengeluarkan bentakan-bentakan pendek yang nyaring dan ketika tangan mereka bergerak, tampak pedang-pedang panjang melengkung, yaitu pedang samu­rai model Jepang, berada di kedua ta­ngan mereka. Pedang itu terlalu panjang dan berat bagi mereka, maka mereka menggunakan kedua tangan untuk meme­gang gagang pedang, seperti orang me­megang toya dan kini mereka memekik sambil berlari ke arah Suma Han dengan samurai diangkat tinggi-tinggi di atas kepala mereka.

“Haaaiiiiikkkk….!”

“Trang-cring-cring-cring….!”

Empat orang wanita itu terhuyung-­huyung ke belakang dan mereka meman­dang dengan mata terbelalak kepada Lulu dan Nirahai yang ternyata telah mengha­dang mereka dan menangkis samurai-­samurai itu dengan pedang mereka. Lulu memegang pedang Pek-kong-kiam yang bersinar putih, sedangkan Nirahai telah menggunakan senjatanya yang luar biasa, yaitu pedang payung. Merasakan tangkis­an yang membuat tangan mereka terge­tar dan tubuh mereka terhuyung, empat orang wanita Korea itu maklum akan kelihaian dua orang wanita isteri Pende­kar Siluman itu, maka mereka lalu serentak maju menyerang sambil mengeluarkan pekik-pekik dahsyat. Empat belas orang lain juga bergerak maju, hendak mengeroyok Suma Han dan dua orang isterinya.

“Lee-ko, mari….!”

Kian Bu sudah berlari ke medan pertempuran, diikuti oleh kakaknya.

“Manusia-manusia jahat, berani kalian mengacau Pulau Es?” Kian Bu berteriak dan segera dia menyerbu ke depan. “Haiiiitt!”

“Hyaaaahhh!”

Kedua orang pemuda itu mengamuk dan mereka ternyata hebat sekali. Biar­pun mereka hanya bertangan kosong, namun setiap pukulan mereka tentu mengenai seorang lawan yang terjengkang atau terhuyung ke belakang. Biarpun mereka itu dapat bangun kembali, namun amukan kedua orang pemuda ini membu­at mereka menjadi kaget dan panik. Apalagi ketika terdengar lengking me­manjang dari atas dan dua ekor rajawali yang menyambar-nyambar dan mengamuk pula membantu kedua orang majikan mereka! Keadaan makin menjadi panik dan para pengeroyok itu kini sebaliknya malah menjadi sibuk dan terdesak hebat!Pertandingan antara Suma Han dan dua orang kakek kembar juga makin seru, namun diam-diam kedua orang kakek itu harus mengakui bahwa lawan mereka yang berjuluk Pendekar Super Sakti itu memang benar-benar amat sakti! Sering kali kedua orang kakek ini menjadi bingung karena secara aneh dan tiba-tiba sekali lawan mereka yang hanya berkaki satu itu lenyap dari depan mere­ka dan tahu-tahu lawan itu telah menye­rangnya dari atas kepala! Ketika mereka menyambarkan cambuk ke atas, kembali tubuh itu lenyap dan tahu-tahu sudah menerjang dari belakang! Mereka tidak tahu bahwa Pendekar Super Sakti mengeluarkan ilmu silatnya yang mujijat, yaitu Soan-hong-lui-kun (Ilmu Silat Gerak Kilat dan Badai) yang merupakan ilmu

Mereka tidak tahu bahwa Pendekar Super Sakti mengeluarkan ilmu silatnya yang mujijat, yaitu Soan-hong-lui-kun (Ilmu Silat Gerak Kilat dan Badai) yang merupakan ilmu kesaktian paling cepat gerakannya di dunia ini!

Diam-diam Suma Han harus mengakui bahwa ilmu kepandaian dua orang kakek kembar itu hebat sekali, sin-kang mereka kuat dan tubuh mereka kebal, juga me­reka merupakan ahli-ahli silat yang sudah berhasil mengumpulkan intisari segala gerakan ilmu silat, diringkas dan dimain­kan dasarnya saja sehingga mereka ber­dua merupakan lawan yang amat ulet dan kuat. Namun, andaikata dia meng­hendaki, dengan Soan-hong-lui-kun yang membingungkan mereka, tentu saja dia dapat merobohkan mereka dengan tong­katnya, membunuh atau sedikitnya melu­kai mereka. Dia tidak menghendaki hal ini. Dia maklum bahwa jalan kekerasan hanya akan berakhir dengan kekerasan pula, dengan dendam dan kebencian yang tak kunjung henti. Maka dia bersikap sabar dan mengalah.

Ketika Suma Han mendengar bentakan, kedua orang isterinya dan kedua orang puteranya dia menengok dan terkejutlah hati Pendekar Super Sakti ini. Dua orang isterinya dan dua orang pemuda itu mengamuk seperti naga-naga marah. Dua orang wanita Korea telah roboh dan tak dapat bertanding lagi karena terluka parah, sedangkan di antara empat belas orang itu, sudah ada delapan orang yang roboh, entah tewas atau pingsan!

Celaka, dia sendiri tidak mau turun tangan keras, isteri-isteri dan anak-­anaknya malah mengamuk seperti itu! “Heiii, tahan dan mundur kalian semua!” Teriaknya sambil mencelat ke arah kedua isteri dan anaknya. “Kian Bu, Kian Lee, hayo panggil burung-burung setan itu!” teriaknya pula melihat betapa dua ekor rajawali itupun mengamuk hebat, mem­buat para lawan menjadi panik dan sibuk mempertahankan diri dari paruh dan cakar yang kuat.

Kedua isterinya mengerutkan alis, namun mereka mengenal suami mereka dan tidak mau membantah. Mereka maklum bahwa suami mereka akan ber­duka sekali kalau sampai keluarganya menggunakan kekerasan. Juga Kian Lee dan Kian Bu meloncat mundur dan beru­saha memanggil sepasang rajawali yang sedang marah dan mengamuk itu. Akan tetapi, pekerjaan itu tidaklah mudah karena sepasang rajawali itu agaknya telah datang kembali sifat liar mereka dan sekali mencium darah, mereka menjadi buas!

Akan tetapi, sama sekali tidak di­sangka-sangka oleh Suma Han. Dia sendi­ri mundur dan menyuruh anak isterinya untuk berhenti bertanding, akan tetapi sepasang kakek itu, dua orang wanita Korea, dan enam orang teman mereka yang masih belum roboh, sudah datang lagi menerjang dengan kemarahan melu­ap. Suma Han menghela napas panjang. Sedih dia melihat betapa begitu banyak orang ternyata amat membencinya se­hingga mereka itu siap mempertaruhkan nyawa untuk membunuh dia!

“Siang Lo-mo dan cu-wi sekalian! Apakah kalian sudah bosan hidup? Lihat…. bukit itu longsor ke sini….!” tiba­-tiba Suma Han berteriak, suaranya diser­tai khi-kang dan mengandung tenaga sakti mujijat yang bergema di seluruh tempat itu, tongkatnya menuding ke tengah pulau di mana tampak bagian yang men­julang tinggi seperti bukit es yang putih.

Sepasang kakek kembar dan para temannya menengok ke arah yang ditun­juk itu dan tiba-tiba mata mereka terbelalak dan muka mereka pucat seka­li. Mereka melihat betapa bukit itu pecah-pecah, batu dan es yang besar-besar sedang bergulingan dari atas menu­ju ke tempat itu, disertai suara gemuruh dan tanah yang mereka injak bergoyang-­goyang seperti ada gempa bumi yang hebat.

“Celaka….! Lari….!” Pak-thian Lo-mo berteriak sambil menyambar tubuh dua orang pembantu yang terluka.

“Lari…., bawa teman-teman….!” teriak pula Lam-thian Lo-mo yang juga menjadi pucat wajahnya.

Tentu saja tidak perlu dikomando dua kali karena mereka yang belum roboh, menjadi pucat ketakutan menyaksikan malapetaka itu, bencana alam yang amat hebat dan yang tentu akan menggulung dan membasmi mereka semua kalau mereka terlambat lari dari tempat yang agaknya sudah dikutuk dan akan musnah itu. Mereka cepat menyambar teman yang terluka, lalu bersicepat lari ke arah perahu mereka, berloncatan ke dalam perahu dan sekuat tenaga mendayung perahu ke tengah laut. Angin segera mendorong layar dan perahu itu melaju cepat meninggalkan Pulau Es.

Suma Han menghela napas lega. Dua orang pemuda yang tadinya berlutut merangkul kedua kaki ibu masing-masing dengan muka pucat, kini menengadah melihat ibu mereka tersenyum, keduanya bangkit berdiri, menoleh ke arah bukit dan ternyata tidak ada terjadi apa-­apa di sana! Padahal tadi, mereka ikut menengok dan melihat betapa bukit itu pecah dan mengeluarkan suara bergemuruh, mengancam tempat itu dengan gumpalan batu dan es sebesar rumah!

“Untung mereka dapat dikelabuhi….“ Suma Han berkata perlahan.

“Hemmm, kalau mereka tidak lari, tentu sebentar lagi mereka tak sempat berlari lagi!” kata Lulu.

“Mereka itu tidak seberapa kuat, mengapa harus dipergunakan hoat-sut (ilmu sihir)?” kata Nirahai, tidak puas karena tadi sedang “enak-enaknya” mem­babati musuh. Sudah puluhan tahun puteri kaisar yang gagah perkasa ini tidak memperoleh kesempatan untuk mempergunakan ilmunya untuk bertempur, pada­hal dahulu puteri ini mempunyai kesuka­an untuk bertanding ilmu silat. Maka peristiwa tadi sebetulnya amat menggembirakan hatinya, siapa yang tidak mengkal hatinya kalau sedang enak-­enak membabat musuh lalu dihentikan?

“Aihhh…. jadi ayah tadi mempergu­nakan ilmu sihir?” Kian Lee berkata, memandang ayahnya dengan kagum dan heran. “Akan tetapi…. aku melihat sendiri, bukit itu seperti pecah….“

“Karena kau ikut menengok, maka kau menjadi korban pula kekuasaan ilmu sihir ayahmu,” kata Lulu. Dia dan Nira­hai yang sudah tahu bagaimana caranya melawan ilmu sihir itu, tadi tidak mene­ngok dan karenanya tidak terseret.“Wah, hebat sekali, ayah! Harap ajarkan ilmu itu kepadaku!” Kian Bu bersorak.

Ayahnyadiam saja, hanya meman­dang sepasang rajawali yang masih terbang berputaran di angkasa. Tiba-tiba dia mengeluarkan suara melengking nyaring dan kedua ekor burung rajawali itu terkejut, lalu menukik turun dan tak lama kemudian dia hinggap di atas ta­nah, di depan pendekar itu.

“Kian Lee, Kian Bu, lihat apa yang berada di paruh mereka itu!” bentak Suma Han.

Kian Lee dan Kian Bu menghampiri sepasang rajawali dan mengambil sesuatu dari paruh mereka. Kiranya burung raja­wali kesayangan Kian Lee membawa sebatang jari tangan di paruhnya, sedangkan burung rajawali kesayangan Kian Bu membawa sebuah…. daun telinga manusia!

“Ihhh….! Jari tangan orang!” Kian Lee bergidik dan membuang jari tangan itu ke atas tanah.

“Haiiii! Ini daun telinga orang….!” Kian Bu juga membuang benda menjijik­kan itu.

Suma Han menghela napas, menggu­nakan tongkatnya membuat lobang di dalam tanah, kemudian menjemput jari tangan dan daun telinga itu, kemudian sambil menarik napas panjang dan meng­geleng-geleng kepala dia berjalan ke tengah pulau.

“Ayah, ajarkan aku ilmu sihir itu….!” Kian Bu berseru dan hendak mengejar ayahnya. Akan tetapi tangannya dipegang ibunya.

“Ilmu itu tidak mungkin diajarkan ayahmu kepada siapapun juga,” puteri kaisar itu berkata.

“Mengapa tidak mungkin, ibu?”

“Ilmu yang kelihatan seperti ilmu sihir itu dimiliki oleh ayahmu tanpa dipelajarinya karena ayahmu memiliki kekuatan mujijat. Pula, dengan kepandai­an silat yang kau miliki sekarang ini, tidak perlu lagi menginginkan kekuatan sihir karena kau akan mampu menghadapi lawan yang bagaimana kuatpun.”

“Kian Lee, apa yang diucapkan oleh ibumu Nirahai itu benar sekali,” Lulu juga berkata, ditujukan kepada puteranya sendiri. “Tingkat kepandaian kalian ber­dua sudah cukup tinggi, dan melihat gerakan kalian ketika menghadapi musuh tadi, kiranya tingkat kalian tidak berada di sebelah bawah kami berdua. Ketika dahulu aku masih menjadi ketua Pulau Neraka, dan ibumu Nirahai menjadi ketua Thian-liong-pang yang terkenal di seluruh dunia, tingkat kami berdua kiranya masih belum setinggi tingkat kalian sekarang ini.”

Nirahai mengangguk-angguk dan me­nyambung ucapan madunya itu, “Memang benar, apalagi kalau diingat bahwa kalian berdua adalah pemuda-pemuda yang sedang kuat-kuatnya, sedangkan kami makin tua dan makin lemah. Maka ja­ngan kalian berdua menginginkan ilmu kesaktian ayah kalian yang tidak mungkin dipelajari itu.”

Tentu saja hati sepasang pemuda ini menjadi gembira dan girang mendengar pujian Nirahai itu. Kegirangan itu ber­tambah besar ketika pada malam harinya, setelah keluarga itu makan malam, Suma Han berkata dengan suaranya yang selalu tenang dan halus, “Lee-ji dan Bu­-ji, sekarang telah tiba saatnya bagi kalian berdua untuk keluar dari pulau, merantau meluaskan pengetahuan kalian.”

Kedua orang pemuda itu hampir bersorak saking girangnya mendengar ini, dan mereka berdua saling pandang de­ngan muka berseri dan mata bersinar­-sinar. Demikian gembira mereka sampai tidak melihat betapa sebaliknya wajah ibu mereka menyuram.

“Akan tetapi ingat, kalian jangan mengira bahwa kalian boleh berbuat sesuka hati setelah bebas. Kebebasan yang benar adalah kebebasan yang dapat mengatur diri sendiri, bukan kebebasan liar (semau gue!) yang tentu akan me­nyeret kalian ke dalam perbuatan sesat. Memang, tingkat ilmu silat kalian sudah cukup tinggi sehingga tidak perlu dikha­watirkan akan dicelakakan oleh musuh, namun kalian masih kurang sekali dalam pengalaman. Karena itu, dalam meluas­kan pengalaman, kalian pergilah ke kota raja dan jumpai enci kalian, Milana. Dari enci kalian itu kalian akan mendapat banyak petunjuk. Dan ingat, kalian ja­ngan sekali-kali menyebut nama Pulau Es untuk menyombongkan diri. Mengerti?”

Kedua orang pemuda itu mengangguk dan menyembunyikan rasa girang mereka di dalam hati. “Ayah, bolehkah kami membawa sepasang rajawali?”

Suma Han menahan senyumnya. Pute­ranya yang kedua ini selalu berwatak riang gembira dan biarpun usianya sudah hampir delapan belas tahun, masih keka­nak-kanakan sehingga merantaupun ingin membawa rajawali kesayangannya!

“Rajawali jangan dibawa. Sekali ini kalian merantau, berarti akan memasuki tempat-tempat ramai, apalagi akan memasuki kota raja. Kalau kalian mem­bawa sepasang rajawali, tentu akan menimbulkan ribut dan kekacauan. Ingat kalian harus menganggap bahwa kalian adalah seperti sepasang rajawali yang terbang bebas di angkasa, tidak meng­gantungkan nasib dan keselamatan kalian pada perlindungan siapapun juga. Seperti sepasang rajawali, kalian harus selalu waspada jangan lengah karena segala kemungkinan dapat saja terjadi, segala bahaya dapat saja datang dari segala penjuru”.

Setelah banyak-banyak memberi nasi­hat kepada kedua orang puteranya sehing­ga semalam itu mereka hampir tidak ti­dur, pada keesokan harinya berangkat­lah Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu meninggalkan Pulau Es. Mereka hanya membawa bekal beberapa potong emas dan sejumlah uang perak untuk biaya di jalan, akan tetapi mereka berdua tidak diberi bekal senjata. Perahu layar yang membawa mereka pergi meninggalkan Pulau Es, menuju ke arah yang telah ditunjuk dan digambarkan dalam peta oleh ayah mereka, diikuti pandangan mata kedua ibu mereka yang basah oleh air mata.

Setelah perahu itu lenyap dari pandang­an mata, kedua orang wanita itu tidak dapat menahan tangis mereka. Betapa hati mereka tidak akan berkhawatir dan berduka ditinggalkan putera tercinta yang semenjak lahir berada di pulau itu bersa­ma mereka? Suma Han mendiamkan saja kedua isterinya berduka, karena dia dapat menyelami perasaan mereka. Dia hanya berdiri dibantu tongkatnya, meman­dang jauh lepas ke arah lautan, menco­ba untuk mempelajari dan mengerti akan hidup dari permukaan laut yang tak bertepi.

Andaikata ada yang bertanya kepada kedua orang ibu itu mengapa mereka menangis dan mengapa mereka berduka karena berpisahan dengan putera mereka, tentu mereka akan menjawab langsung bahwa mereka berduka karena mereka men­cinta putera mereka yang sekarang pergi meninggalkan mereka. Jelas bahwa mere­ka menangis bukan demi putera mereka, karena sepasang pemuda itu bergembi­ra dan tidak perlu ditangisi. Akan tetapi mereka menangis karena mereka diting­galkan! Mereka menangis demi dirinya sendiri, menangis karena iba diri yang ditinggalkan pergi orang-orang yang dicinta!

“Cinta” yang bersifat pengikatan diri kepada sesuatu yang dicinta, seperti kedua ibu ini, hanya akan membawa kedukaan. Pengikatan diri kepada keluar­ga, kepada harta benda, kepada kemulia­an duniawi, kepada kesenangan, sebenarnya bukanlah cinta kasih sejati, melain­kan nafsu mementingkan dan menyenang­kan diri sendiri belaka. Segala sesuatu, baik benda hidup ataupun mati, yang dipunyai seseorang secara lahiriah, kalau sampai dimiliki pula secara batiniah, ha­nya akan menimbulkan kesengsaraan. Se­gala sesuatu tidak kekal di dunia ini, se­kali waktu tentu terjadi perpisahan. Kalau kita mengikatkan diri kepada sesu­atu, berarti kita memiliki secara batiniah dan seolah-olah yang kita miliki itu telah berakar di dalam hati. Maka jika tiba saatnya kita harus berpisah dari sesuatu yang kita miliki secara batiniah itu, sama saja dengan dicabutnya sesuatu itu dari hati sehingga merobek dan menya­kitkan hati!

Mengikatkan diri kepada apapun juga, kepada suami, isteri, anak, keluarga, harta dan apa saja berarti menghamba­kan diri dan ikatan-ikatan ini yang mem­buat orang menjadi takut dan khawatir. Takut kalau-kalau dipaksa berpisah, kare­na kehilangan, karena kematian dan lain­-lain. Rasa takut akan perpisahan dengan yang telah mengikat dirinya, membuat orang menjaga dan melindungi mati-­matian, dan untuk ini tidak segan-segan orang menggunakan kekerasan. Maka timbullah pertentangan, dan dari perten­tangan ini lahirlah kesengsaraan hidup!

Kita tinggalkan dulu Pulau Es dan suami isteri yang termenung ditinggal­kan putera-puteranya itu, dan kita biar­kan sepasang pemuda itu mulai dengan perantauan mereka seperti sepasang raja­wali, dan mari kita menengok kembali keadaan Syanti Dewi dan Ceng Ceng.

Seperti telah diceriterakan di bagian depan, dua orang dara jelita ini melari­kan diri dan terpaksa meninggalkan kakek Lu Kiong yang tewas oleh pengeroyokan para tokoh pemberontak yang memusuhi Kerajaan Bhutan. Dengan berpa­kaian seperti dua orang petani sederha­na, dua orang gadis itu terus melari­kan diri. Mereka melumuri pipi yang ha­lus putih itu dengan lumpur untuk menyem­bunyikan wajah cantik mereka setelah memperoleh kenyataan bahwa penyamar­an itu dapat diketahui para penghadang sehingga hampir saja mereka tertangkap.

Sukarlah bagi mereka untuk dapat meloloskan diri karena daerah perbatasan itu termasuk daerah kekuasaan pasukan-­pasukan Raja Muda Tambolon. Dusun-­dusun di sekitar daerah itu telah berada di bawah kekuasaannya. Syanti Dewi yang pernah mendengar tentang ini, mengerti akan bahaya yang mengancam mereka, maka dia selalu menganjurkan kepada Ceng Ceng untuk berhati-hati.

Pada suatu senja, pelarian mereka membawa mereka ke sebuah dusun. Mereka menanti di luar dusun sambil bersembunyi, dan setelah cuaca menjadi gelap, barulah mereka berani memasuki dusun itu. Bau masakan dan bumbu terba­wa uap masakan yang sedap membuat mereka tidak menahan diri. Telah beberapa hari lamanya mereka hanya makan daun-daun dan daging panggang tanpa bumbu. Kini perut mereka terasa lapar sekali ketika hidung mereka menci­um bau yang amat gurih dan sedap itu, dan berindap-indap keduanya memasuki warung yang berada di pinggir dusun. Warung itu ternyata cukup besar dan ketika keduanya masuk, di situ terdapat tujuh orang tamu yang pakaiannya agak kotor dan tujuh orang ini semua memba­wa topi caping bundar lebar yang kini mereka taruh di atas meja.

Ketika Syanti Dewi dan Ceng Ceng memasuki warung dengan muka kotor berlumpur dan muka tunduk, mereka berhenti bicara, melirik sebentar akan tetapi melihat bahwa yang masuk hanya­lah dua orang petani muda yang agaknya baru pulang dari sawah karena pakaian dan mukanya kotor, tujuh orang itu melanjutkan pembicaraan mereka. Mereka adalah orang-orang kasar dan jujur dan berani bicara keras begitu melihat keadaan aman.

Syanti Dewi memesan makanan dan makan bersama Ceng Ceng tanpa bicara, akan tetapi mereka berdua tertarik sekali oleh percakapan antara tujuh orang i­tu. “Kabarnya sang puteri lenyap….” ka­ta-kata ini yang membuat mereka terke­jut dan mendengarkan dengan penuh per­hatian.

“Ahhhhh, kasihan sekali kalau begitu. Dan bagaimana dengan rombongan utusan kaisar?”

“Entah, kabarnya banyak yang tewas. Akan tetapi pasukan penjemput dari kerajaan Ceng tiba dan musuh dapat dihalau pergi. Hanya celakanya, sang pu­teri tidak ada lagi….”

“Aihh, jangan-jangan dia tertawan musuh”

“Mungkin sekali….”

“Aduh kasihan!”

“Kalau saja kita dapat menolongnya….”

“Wah, orang-orang pedagang garam macam kita ini bagaimana bisa menolong­nya? Untuk melalui kota Tai-cou saja ki­ta tentu harus mengeluarkan banyak bia­ya untuk menyuap penjaga, baru kita akan boleh masuk.”

“Memang celaka, dan hanya di kota itu garam kita akan laku dengan harga tinggi.”

Syanti Dewi dan Ceng Ceng saling pandang dan sinar mata mereka berseri. Mereka juga harus melalui kota Tai-cou dan setelah dapat melewati kota terakhir dari kekuasaan Raja Muda Tambolon itu­lah mereka dapat dikatakan telah lolos dari cengkeraman musuh. Dan mendengar­kan percakapan antara pedagang garam itu, agaknya mereka itu tak dapat disang­sikan lagi adalah orang-orang yang berpi­hak kepada Kerajaan Bhutan dan Keraja­an Ceng, orang-orang yang anti kepada Raja Muda Tambolon. Hal ini berarti orang-orang itu adalah sahabat!

Betapa kaget dan heran hati tujuh o­rang pedagang garam itu ketika mereka meninggalkan warung dan sedang berjalan sambil bercakap-cakap di lorong dusun yang gelap dan sunyi, tiba-tiba berkele­bat bayangan dua orang dan tahu-tahu dua orang “pemuda” yang tadi makan di warung telah berdiri di depan mereka.

“Para paman harap berhenti seben­tar!” Ceng Ceng berkata.

Mendengar suara wanita, karena Ceng Ceng mempergunakan suara aselinya, tu­juh orang itu tertegun dan mencoba untuk melihat lebih jelas lagi di tempat gelap itu.

“Kami telah mendengar percakapan paman bertujuh dan percaya bahwa paman sekalian akan suka membantu kami untuk meliwati kota Tai-cou, kata pula Ceng Ceng.

“Apa….apa maksudmu…. tuan…. eh, nona….?” seorang di antara mereka yang berkumis tebal bertanya bingung karena dia masih ragu-ragu. Melihat pakaiannya, dua orang itu adalah pria, akan tetapi suaranya seperti wanita!

“Paman, lihatlah baik-baik. Aku ada­lah seorang wanita, dan dia ini bukan lain adalah Puteri Syanti Dewi dari Kerajaan Bhutan yang kalian bicarakan tadi.”

Tujuh orang itu terkejut bukan main. Cepat mereka memandang ke arah Syanti Dewi, membuka caping dan tiba-tiba mereka menjatuhkan diri berlutut di depan puteri itu!

“Maafkan kami…. hamba tidak mengetahui….”

Syanti Dewi cepat berkata, “Harap paman semua bangkit berdiri. Kalau sampai kelihatan orang tentu dicurigai.”

Mendengar ini, mereka cepat bangkit berdiri. Mereka adalah pedagang-peda­gang garam yang berhutang budi kepada Pemerintah Bhutan karena mereka diijin­kan untuk mengangkut garam dari Bhutan yang mereka jual di daerah pedalaman. Dari Pemerintah Bhutan mereka tidak pernah mengalami gangguan, maka tentu saja mereka merasa terlindung dan di dalam hati mereka bersimpati kepada kerajaan ini dan sebaliknya mereka seringkali mengalami gangguan dari anak buah Raja Muda Tambolon maka tentu saja mereka membenci mereka.

“Paman, tolonglah kami agar dapat lewat kota Tai-cou. Kami hendak melari­kan diri ke ibukota Kerajaan Ceng,” kata Syanti Dewi.

“Tentu saja hamba senang sekali kalau dapat menolong paduka. Marilah paduka berdua ikut bersama hamba ke tempat peristirahatan rombongan peda­gang garam di kuil tua.”

Syanti Dewi dan Ceng Ceng meng­ikuti mereka dan ketika mereka tiba di dalam kuil tua yang kini diterangi de­ngan api-api penerangan lilin, tampak oleh mereka bahwa jumlah rombongan pedagang garam itu ada tujuh belas orang! Ketua mereka adalah si kumis tebal tadi, maka begitu mendengar bah­wa Sang Puteri Bhutan yang mereka dengar diboyong ke Tiong-goan dan di tengah jalan rombongan puteri itu diser­bu gerombolan pemberontak, mereka segera berlutut menghaturkan selamat dan dengan senang hati mereka ingin membantu dan melindungi puteri ini melewati kota Tai-cou dengan selamat.

“Kota terakhir di bawah kekuasaan Raja Muda Tambolon ini terjaga kuat sekali,” kata si kumis tebal. “Jalan satu-­satunya bagi sang puteri agar dapat lolos dengan selamat hanya dengan menyamar menjadi seorang di antara kita, menya­mar sebagai pedagang garam dan bersama rombongan kita memikul garam memasuki kota.”

Semua orang menyatakan setuju dan dengan tergesa-gesa dibuatlah dua stel pakaian pedagang garam untuk dipakai Syanti Dewi dan Ceng Ceng, juga mere­ka diberi masing-masing sebuah caping lebar bundar itu beserta sebuah pikulan terisi dua keranjang garam. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali rombongan itu berangkat meninggalkan dusun tanpa membangkitkan kecurigaan penduduk yang tidak tahu bahwa rombongan tujuh belas orang itu kini telah menjadi sembilan belas!

Perjalanan dari dusun itu menuju ke Tai-cou memakan waktu sehari. Di sepan­jang perjalanan, para pedagang garam itu tentu saja membebaskan dua orang dara itu dari memikul garam dan hanya apabi­la mereka melewati dusun-dusun saja kedua orang dara itu harus memikul garam.

Menjelang sore, tibalah rombongan ini di depan pintu gerbang kota Tai-cou. Semua orang menjadi tegang hatinya ketika mereka tiba di pintu gerbang itu dan terpaksa harus berhenti karena akan dilakukan pemeriksaan oleh para penjaga pintu gerbang yang dikepalai oleh seorang perwira komandan yang tinggi besar, galak dan brewok. Kebetulan sekali ketika rombongan pedagang garam yang berjumlah sembilan belas orang ini tiba, di pintu gerbang itu tiba pula rombongan pedagang garam dari lain daerah yang jumlahnya dua puluh orang lebih sehingga keadaan di situ menjadi ramai sekali.

“Haiiii!” Sang komandan yang me­lompat ke atas sebuah meja berteriak dengan tangan di pinggang, lagaknya keras dan angkuh sekali. “Kalian harus masuk seorang demi seorang! Setiap keranjang akan diperiksa, juga setiap orang akan diperiksa baik-baik karena dikhawatirkan ada penyelundup! Kalau kami menangkap seorang saja penyelundup, kalian semua akan dihukum berat!”

Si kumis tebal sudah menyelinap dan mendekati komandan itu, berbisik perla­han sambil menyerahkan sebuah kantung berisi uang. “Maafkan, tai-ciangkun, kami tergesa-gesa sekali. Lihat, ada rombong­an pedagang garam lain, kalau kami kalah dulu, tentu akan jatuh harga garam. Ini sedikit tanda terima kasih untuk tai-ciangkun dan kalau kami sudah men­jual habis garam kami, tentu akan di­tambah lagi….“

Perwira komandan itu menyambar kantung uang dan berkata keren, “Hemm…. kalian akan kuperbolehkan lewat lebih dahulu, akan tetapi tetap harus diperiksa! Keadaan sekarang gawat!”

Si kumis tebal sudah mundur dan wajahnya pucat. Kalau sampai diperiksa dan ketahuan bahwa dua orang di antara mereka adalah wanita, tentu akan terjadi keributan, apalagi kalau sampai sang puteri dikenal! Pada saat itu, terjadi keributan di bagian rombongan pedagang garam yang dua puluh orang lebih itu. Seorang pedagang garam yang mukanya hitam dan bopeng bekas penyakit cacar, berteriak-teriak dan mencak-mencak, “Hayaaa…. celaka…. siapa menaruh ular-ular ini di keranjangku….? Tentu pedagang garam dari barat, keparat….!”

Terjadilah gaduh dan ribut karena memang tiba-tiba muncul banyak sekali ular-ular besar kecil di tempat itu! Ceng Ceng yang bermata tajam tadi melihat betapa pedagang garam yang bermuka hitam bopeng itu telah mengeluarkan bungkusan kain kuning dari dalam keran­jang dan agaknya ular-ular itu keluar dari bungkusan itulah! Dan selagi Ceng Ceng termenung, tiba-tiba dia melihat betapa kaki si bopeng menendang seekor ular kecil. Ular itu melayang ke atas dan…. mengenai dada komandan yang berdiri di atas meja. Tidak ada yang melihat gerakan ini kecuali Ceng Ceng. Si komandan berteriak-teriak dan menge­but-ngebutkan pakaiannya.

“Basmi semua ular….!” teriaknya kepada para anak buahnya. “Hayo kalian segera maju, jangan memenuhi tempat ini!” Teriaknya kepada rombongan si kumis tebal.

Menggunakan kesempatan selagi kea­daan kacau balau itu, Ceng Ceng dan Syanti Dewi sudah memanggul pikulan masing-masing dan dengan desakan dari si kumis tebal mereka cepat memikul keranjang garam memasuki pintu ger­bang.

“Haiii, diperiksa dulu…. eihhh, cela­ka….!” Komandan yang berteriak itu kembali terkejut karena ada seekor ular hijau melayang dan mengenai mukanya, hampir menggigit hidungnya!

Ceng Ceng dan Syanti Dewi dapat lolos dengan cepat, kemudian dilindungi oleh para temannya, kedua orang dara itu melepaskan pikulan dan tergesa-­gesa berjalan memasuki kota Tai-cou. Karena dia tidak memikul garam, maka setelah keadaan gaduh di pintu gerbang itu mereda dan semua pedagang diperiksa, dalam rombongan itu tidak lagi terdapat dua orang wanita ini dan mereka tidak dipanggil karena tidak ada penjaga yang menyangka bahwa dua orang yang berjalan pergi tanpa membawa pikulan itu adalah anggauta rombongan pedagang garam. Apalagi karena semua penjaga tadi sibuk membunuhi ular-ular itu se­hingga perhatian mereka terpecah.

Semalam suntuk itu kedua orang dara itu melarikan diri. Mereka maklum bah­wa kalau mereka tidak cepat-cepat meninggalkan kota Tai-cou, keadaan mereka masih terancam bahaya besar, sungguhpun sampai saat itu tidak ada yang mencurigai mereka. Dengan mudah mereka telah lolos dari Tai-cou, keluar dari sebelah utara dan menempuh perja­lanan di sepanjang malam yang gelap tanpa arah tujuan tertentu kecuali hanya satu keinginan, yaitu melarikan diri sejauh mungkin dari Tai-cou yang meru­pakan benteng terakhir dari kekuasaan Tambolon. Dan mereka hanya tahu bahwa mereka melarikan diri menuju ke timur. Dengan melihat letaknya bintang, mereka dapat mengarahkan kaki menuju ke timur.

Pada keesokan harinya, mereka beris­tirahat sebentar di sebuah hutan, makan roti kering yang mereka bawa sebagai bekal dari pemberian para pedagang garam, minum air jernih yang mereka dapatkan di hutan itu, kemudian berba­ring di atas rumput melepaskan lelah.

“Aihhhhh…. bukan main nyamannya rebah begini….” Sang Puteri Syanti Dewi mengeluh nikmat. “Dan roti kering tadi, betapa lezatnya, air jernih itu juga menyegarkan sekali. Belum pernah sela­ma hidupku aku dapat menlkmati makan-­minum dan tiduran seperti ini!”

Mendengar Ini, Ceng Ceng tertawa bebas sampai kelihatan deretan gigi dan lidahnya. Karena di situ tidak ada orang lain, maka dia tertawa sebebasnya. Mendengar ini, Syanti Dewi memandang heran. ”Eh, kau kenapa, adik Candra? Mengapa tertawa segembira itu?”

“Aku geli mendengarkan ucapanmu tadi, enci Syanti, dan mungkin aku ter­tawa karena merasa lega dan gembira telah terbebas dari bahaya. Ucapanmu tadi membuat aku teringat akan dongeng tentang raja yang tidak suka makan dan tidak dapat tidur. Raja itu meninggalkan istana karena merasa jengkel, dan di tengah hutan dia melihat seorang petani mencangkul tanah lalu makan dengan lahapnya. Raja lalu membantu si petani, mencangkul tanah untuk mendapatkan semangkok nasi dan lauknya yang hanya terdiri dari ikan asin, dan minumnya yang hanya terdiri dari air jernih. Sete­lah dia selesai bekerja keras sampai tangannya lecet-lecet dan tubuhnya lelah bukan main, dia memperoleh makan minum itu dan menikmatinya seperti belum pernah dirasakannya selama hidupnya! Persis seperti keadaanmu ini! Eng­kau adalah seorang puteri raja yang tiap hari makan hidangan yang serba mahal, sekarang makan roti kering minum air jernih, tidurmu bukan di dalam kamar indah dan berlandaskan kasur tebal mela­inkan di hutan, di atas rumput, namun engkau merasa nikmat sekali! Hi-hik, bukankah lucu ini?”

Syanti Dewi tertawa juga. “Kausama­kan aku dengan raja dalam dongeng? Jangan begitu, ah! Dia sih pemalas, kalau aku kan tidak! Akan tetapi akupun heran sekali mengapa aku dapat menikmati ini semua. Pengalaman ini membuka mata­ku, adik Chandra, bahwa yang dikatakan e­nak atau tak enak, menyenangkan atau tak menyenangkan, sama sekali bukanlah ber­gantung kepada keadaan di luar, melainkan kepada hati sendiri! Kepada hati dan kepada tubuh, pendeknya bergantung kepada diri sendiri. Lezatnya makanan bukan berada di mangkok, baik buruknya sesuatu bukan ada di depan kita, melainkan di dalam diri kita sendiri. Pikiranku sekarang sedang lega karena lepas dari bencana, tubuh lelah dan pe­rut lapar. Tentu saja segala makanan dan minuman terasa lezat sekali! Rumput ini ja­uh lebih nikmat ditiduri daripada segala ma­cam kasur bulu karena sekarang tubuhku se­dang lelah sekali. Jadi kalau begitu…. pernyataan bahwa ini enak itu tak enak, ini ba­ik itu tak baik, bukan kenyataan sebenarnya, melainkan pendapat hati yang dipengaruhi oleh keadaan waktu itu.”

“Hemm…. lalu bagaimana?” Ceng Ceng mengerutkan alisnya yang berben­tuk bagus, matanya memandang dengan sinar gembira karena dia mulai dapat menangkap yang dimaksudkan dalam ucapan kakak angkatnya itu.

“Kalau begitu…. tidak ada yang baik atau buruk di dunia ini. Kita sendiri yang menentukan! Dan…. ah, aku jadi bingung sendiri menghadapi kenyataan yang jelas ini! Biasanya kita selalu diper­mainkan oleh pikiran sendiri yang suka mengada-ada saja!”

Ceng Ceng sudah tak dapat menjawab karena dia hampir tidak dapat menahan kantuknya, hanya mengangguk lemah dan menutupi mulut dengan jari tangan mena­han mulut yang ingin menguap saja. Tak lama kemudian, kedua orang dara itu sudah tertidur pulas di bawah pohon, berlandaskan rumput yang lunak. Tubuh yang lelah menuntut istirahat setelah perut yang lapar diisi kenyang.

Matahari telah naik tinggi ketika kedua orang dara itu terbangun dan mereka menjadi terkejut melihat bahwa hari telah siang. Mula-mula Syanti Dewi yang terbangun lebih dulu. Dia terbangun seperti orang kaget dan bangkit duduk, menggosok kedua matanya dan mengeluh lirih. “Uuhh, kiranya hanya mimpi….” bisiknya karena dia telah mimpi tertang­kap dan dihadapkan kepada Raja Muda Tambolon! Ketika mendapat kenyataan bahwa matahari telah naik tinggi, dia menoleh kepada Ceng Ceng.

“Haiii, adik Candra! Bangun! Sudah siang….!” Dia mengguncang pundak adik angkatnya itu.

Ceng Ceng terbangun dan bangkit duduk, menahan kuapnya dengan pung­gung tangan kiri. “Wah, keenakan tidur, enci Syanti. Rasanya malas untuk ba­ngun!”

“Hushh, jangan malas! Matahari telah naik tinggi dan kita enak-enak tidur di sini. Perjalanan masih amat jauh, mari kita lanjutkan, adikku.”

Ceng Ceng sudah bangun berdiri dan kini teringatlah dia akan keadaan mere­ka. “Aihh, hampir aku lupa bahwa kita adalah pelarian yang dikejar musuh! Mari, enci Syanti Dewi!”

Ketika dua orang dara itu melanjut­kan perjalanan, tiba-tiba Ceng Ceng memegang lengan puteri dan berbisik sambil menuding ke kanan, “Lihat itu….!”

Syanti Dewi menengok, dan sang puteri menutupkan tangan ke depan mulut menahan jeritnya. Tak jauh dari situ tampak tubuh seorang laki-laki setengah tua rebah di atas tanah, sudah menjadi mayat dan mukanya yang terlentang itu memperlihatkan sepasang mata yang terbelalak lebar tanpa sinar. Di tenggo­rokan orang itu tampak luka berlubang dan darah masih menetes dari luka itu, tanda bahwa orang ini belum lama ter­bunuh.

“Dan di sana itu…. lihat, enci!” Kembali Ceng Ceng berbisik. Kakak angkatnya menengok dan makin terkejut karena di sebelah kiri, hanya terpisah belasan meter dari situ, juga tampak sebuah mayat yang lehernya berlubang! Mereka berdua saling pandang, kemudian Ceng Ceng menggerakkan kedua kakinya, tubuhnya mencelat ke atas pohon besar dan dari tempat tinggi ini Ceng Ceng memandang ke sekeliling, memeriksa. Namun tidak tampak bayangan seorang­pun manusia dan dari tempat tinggi itu dia melihat bahwa bukan hanya ada dua orang mayat di situ, melainkan ada delapan orang! Delapan orang telah mengurung tempat dia dan kakak angkat­nya tidur tadi dan kini delapan orang itu telah mati semua dengan leher berlu­bang, mungkin terkena senjata rahasia yang ampuh! Setelah yakin bahwa tidak ada orang lain di sekitar tempat itu, dia turun lagi dan menceritakan kepada kakak angkatnya apa yang telah dilihatnya dari tempat tinggi tadi.

“Ahhh, kalau begitu, tentu mereka itu musuh yang tadinya mengepung kita, dan ada sahabat yang telah menolong kita,” kata sang puteri.

Ceng Ceng mengangguk-angguk, akan tetapi alisnya berkerut. Dia juga dapat menduga demikian, akan tetapi hatinya tidak senang kepada penolongnya yang bersikap rahasia itu! Kalau memang orang bersahabat, mengapa tidak meno­long secara berterang? Pula, diapun belum dapat yakin benar bahwa delapan mayat itu adalah fihak musuh.

“Lebih baik kita cepat pergi dari sini, enci,” katanya. Syanti Dewi mengangguk dan berangkatlah mereka melanjutkan perjalanan dengan cepat meninggalkan tempat yang mengerikan itu.

Sore hari mereka tiba di sebuah dusun yang terpencil, sebuah dusun yang cukup besar di kaki gunung. Karena letaknya yang terpencil ini, maka dusun itu agaknya menjadi pos peristirahatan mereka yang melakukan perjalanan di daerah itu, dan di situ terdapat pula sebuah rumah penginapan sederhana dan sebuah warung nasi. Karena merasa ngeri dengan pengalaman mereka tadi, dua orang gadis itu mengambil keputusan untuk bermalam di rumah penginapan.

Para pelayan rumah penginapan hanya sebentar memandang dengan heran kare­na dalam keadaan kacau seperti itu, daerah yang sering kali terjadi perang antara pasukan Raja Muda Tambolon melawan pasukan Ceng atau pasukan Bhutan, tak terlalu mengherankan melihat dua orang gadis yang berpakaian seperti petani biasa dan memakai caping lebar, melakukan perjalanan berdua saja. Banyak sudah wanita-wanita muda yang ketakutan akan perang melarikan diri ke timur karena sudah terkenal betapa pasukan anak buah Raja Muda Tambolon amat kejam terhadap tawanan wanita, apalagi yang masih muda dan cantik. Tentu wanita itu akan dijadikan perebut­an dan akan dipermainkan oleh banyak orang sampai mati dalam keadaan menye­dihkan dan mengerikan sekali.

“Ji-wi kouwnio hendak menginap?” tanya seorang pelayan dengan sikap ramah.

Ceng Ceng merogoh saku dan menge­luarkan potongan perak. Dia memperlihat­kan perak itu sambil berkata, “Kami membutuhkan sebuah kamar dengan dua tempat tidur, harap pilihkan yang ber­sih.”

Melihat potongan perak itu, sikap si pelayan bertambah hormat. Dia maklum bahwa yang membawa uang perak dalam perjalanan hanyalah orang-orang dari kalangan “atas” kalau bukan puteri-puteri hartawan tentulah wanita-wanita kang-ouw yang membekal banyak uang. Sambil mengangguk dan tersenyum lebar dia menjawab, “Harap ji-wi jangan khawatir. Mari, silahkan masuk!”

Tentu saja kamar yang bersih dalam rumah penginapan itu sebetulnya masih terlalu kotor bagi Syanti Dewi karena kamar yang katanya paling bersih itu masih jauh lebih kotor daripada kamar dapur di istananya!

Setelah mencuci muka dan makan malam, kedua orang dara itu duduk di atas pembaringan dalam kamar mereka dan bercakap-cakap dengan suara perla­han setengah berbisik. “Aku khawatir bahwa peristiwa di hutan itu akan ada lanjutannya, enci Syanti. Yang jelas saja, delapan orang itu mati tentu ada yang membunuh, dan si pembunuh tentu tahu akan keadaan kita. Aku merasa seolah­-olah kita di sinipun sedang diawasi o­rang.”

Syanti Dewi mengangguk. “Akupun mempunyai perasaan demikian, Candra. Akan tetapi, kurasa orang yang membunuh mereka itu bukanlah musuh. Kalau musuh, tentu dia atau mereka sudah turun tangan ketika kita tertidur di hutan!”

“Perjalanan kita masih amat jauh dan biarpun kita sudah meliwati kota Tai-cou, namun kita akan melewati daerah yang sama sekali tidak kita kenal dan menurut kong-kong…. eh, mendiang kong-kong….” Sampai di sini, Ceng Ceng tidak dapat melanjutkan ucapannya karena lehernya terasa seperti dicekik ketika dia teringat kepada kakeknya yang tewas dalam keadaan menyedihkan, bahkan jenazahnya pun tidak sampai terkubur!

Syanti Dewi mengerti akan keharuan hati adiknya, maka dia merangkul sambil berkata, “Ahhh, kong-kongmu telah ber­korban nyawa demi keselamatanku, adik­ku! Entah bagaimana aku akan dapat membalas budi kong-kongmu itu ….”

Ceng Ceng cepat menekan hatinya dan dia berkata agak keras, “Jangan berkata begitu, enci!”

Sejenak mereka termenung, kemudian terdengar lagi Syanti Dewi berkata, “Engkau adalah seorang dara perkasa, dan di dalam tubuhmu mengalir darah keturunan petualang kang-ouw yang berani dan perkasa! Agaknya, bagimu keadaan kita ini tidaklah terasa berat, Candra. Akan tetapi aku….! Sejak kecil aku hidup mewah dan senang, sekarang, aku harus menderita kesengsaraan seperti ini, maka tak mengherankan kalau aku sampai bersikap cengeng, adikku. Bagai­mana aku tidak akan berduka? Bukan hanya kong-kongmu tewas, juga menurut cerita para pedagang garam, sebagian besar para anggota rombongan yang mengawalku tewas dalam perang. Dan semua ini gara-gara aku seorang! Bahkan sekarang, engkau adikku yang tercinta, engkaupun harus menderita karena me­ngawalku!”

Ceng Ceng tertawa. “Siapa bilang aku menderita, enci? Aku sama sekali tidak menderita!”

“Apa? Tak usah berpura-pura. Pakaian kitapun hanya yang menempel di tubuh kita! Tak pernah dapat berganti pakaian, padahal sudah berapa lama? Seluruh tubuh terasa gatal-gatal dan aku berani bertaruh bahwa tentu ada kutu di pakai­an kita.”

Tiba-tiba Ceng Ceng menggaruk-garuk dada kirinya dan kelihatan dia merasa ngeri. Aih, jangan bicara tentang kutu, enci! Marilah kita pikirkan dengan tenang dan sejujurnya. Benar bahwa engkau adalah seorang puteri yang tidak pernah menderita kesengsaraan hidup. Akan tetapi apa bedanya dengan aku? Akupun hanya seorang gadis dusun yang belum pernah melakukan perantauan. Keadaan kita sama saja, enci. Akan tetapi betapa pun juga, kita tidak boleh putus asa, tidak boleh merasa gelisah. Kegelisahan hanya akan membuat kita tidak tenang dan mengurangi kewaspadaan kita. Biar­lah kita saling melindungi dan aku bersumpah bahwa aku takkan meninggalkan­mu, aku pasti akan dapat memenuhi pesan mendiang kong-kong, yaitu meng­antarkan enci sampai ke kota raja dan di sana kita bisa minta bantuan Puteri Milana seperti yang dipesankan kong-kong.”

Melihat sikap Ceng Ceng yang penuh semangat itu, bangkit pula semangat Puteri Syanti Dewi. Dia mengepal tinju dan berkata, “Ah, kiranya tidak percuma pula aku dahulu tekun mempelajari ilmu silat, apalagi memperoleh petunjuk-­petunjukmu, adik Candra. Saat ini, aku bukan puteri kerajaan, melainkan seorang dara kang-ouw yang berpetualang dan siap menghadapi bahaya apapun juga! Kalau ada bahaya mengancam, hemmm…. haiittt….!” Puteri itu membuat gerakan silat dengan kaki tangannya, seolah-­olah dia mengamuk dan merobohkan para pengeroyoknya. Sikapnya lincah dan lucu sehingga Ceng Ceng tertawa dan me­rangkul kakak angkatnya itu.

“Bagus! Begitulah seharusnya, enci. Kita seperti sepasang burung yang ter­bang lepas di udara. Bebas dan kita boleh berbuat apa saja menurut kehendak kita sendiri. Bukankah itu menyenangkan sekali? Coba, kalau kita masih berada di istana, lalu enci ingin makan roti kering dan air, ingin menginap di kamar yang begini bersahaja, tentu akan dilarang oleh sri baginda!”

Kedua orang dara itu bercakap-cakap sambil bersenda-gurau dan mereka sudah lupa lagi akan peristiwa siang tadi di hutan. Tak lama kemudian dua orang dara itu telah tidur nyenyak saling berpelukan di atas sebuah pembaringan dan membiarkan pembaringan ke dua kosong. Dengan berdekatan di waktu tidur, mere­ka lebih besar hati dan aman!

Kurang lebih lewat tengah malam kedua orang gadis itu terbangun karena kaget mendengar suara gaduh di atas kamar mereka. Mula-mula Ceng Ceng yang terbangun lebih dulu dan otomatis dia meloncat turun dari pembaringan. Pada saat itu Syanti Dewi juga terba­ngun dan puteri ini berbisik, “Suara apa itu….?”

Ceng Ceng sudah menyambar bungkus­an perhiasan dan topi mereka yang tadi mereka taruh di atas meja, menyimpan bungkusan di dalam saku bajunya yang lebar, menyerahkan topi caping yang sebuah kepada puteri itu sambil berbisik, “Sstttt, ada orang bertempur di atas genting….“

Keduanya sudah siap dan mencurahkan perhatiannya ke atas. Makin jelas kini suara orang bertanding di atas dan me­nurut dugaan Ceng Ceng yang lebih tajam pendengarannya, sedikitnya ada lima orang bertanding di atas genteng kamarnya. Dan mereka semua adalah orang-orang yang berilmu tinggi karena biarpun mereka bergerak cepat, namun tidak ada kaki yang memecahkan genteng yang diinjak. Yang terdengar hanya suara angin menyambar-nyambar, angin senjata tajam dan kadang-kadang terdengar suara nyaring beradunya senjata tajam.

Tiba-tiba di antara suara beradunya senjata dan berdesingnya angin gerakan senjata tajam, terdengar suara seorang laki-laki berpantun, suaranya nyaring dan seperti tidak ada artinya, namun bagi sepasang gadis itu pantun yang dinyanyi­kan memiliki arti penting. Yang mengherankan hati Ceng Ceng dan mendebarkan adalah suara itu, seperti suara yang telah dikenalnya!

“Sepasang merpati terkurung tiada jalan terbang lari, dihadang depan belakang

maut mengintai dari utara di sepanjang lembah sungai!”

“Enci Syanti, mari kita cepat lari….!”

Puteri itu meragu. “Mengapa lari? Di luar…. bukankah lebih berbahaya? Kita berjaga di sini dan kalau ada bahaya ba­ru kita membela diri.”

“Sssttt…. kauturutlah aku, enci. Ce­pat!” Ceng Ceng sudah menggandeng tangan puteri itu, menariknya keluar da­ri kamar terus berlari melalui belakang rumah penginapan. Pintu belakang rumah penginapan itu masih tertutup. Ceng Ceng membuka palang pintu, kemudian mereka berdua meloncat ke dalam gelap, melalui pintu belakang dan terus lari tan­pa menoleh lagi.

“Kita lari ke mana, Candra?” puteri itu bertanya, heran mengapa adik angkat­nya ini tahpa ragu-ragu melarikan diri ke arah tertentu.

“Enci, ingat kata-kata terakhir di setiap baris pantun tadi. Lima kata­-kata itu adalah terkurung-lari-belakang-­utara-sungai! Nah, yang berpantun itu adalah seorang sahabat atau penolong yang menganjurkan kita lari karena kita telah terkurung dan kita dianjurkan lari melalui pintu belakang, menuju ke utara dan kalau aku tidak salah menduga, kita akan tiba di sebuah sungai.”

Syanti Dewi terkejut dan juga kagum akan kecerdikan adik angkatnya, akan tetapi juga ingin sekali tahu siapa orang yang berpantun dan yang menolong me­reka itu.

“Dia siapa, adik Candra?” tanyanya sambil terus berlari di samping adiknya.

“Entahlah, akan tetapi suaranya seperti…. heiii!” Tiba-tiba Ceng Ceng menghenti­kan larinya karena dia kini teringat akan suara itu. “Tentu saja dia orangnya!”

“Apa katamu?” Syanti Dewi berusaha menyelidiki muka Ceng Ceng di dalam gelap itu. “Dia siapa?”

“Penolong kita itu, yang berpantun tadi…. suaranya seperti si muka bopeng yang membikin ribut dengan ular-ular di Tai-cou itu dan…. dan…. wah, tidak mungkin salah, tentu dia orang pandai yang menolong kita.”

Tiba-tiba Ceng Ceng menarik tangan Syanti Dewi dan dia sendiri sudah mele­pas topi capingnya, menggunakan benda itu untuk menghantam ke kanan, ke arah bayangan yang berkelebat dan tadi dili­hat bayangan itu hendak menangkap Syanti Dewi.

“Prakkkk!”

Ceng Ceng terhuyung ke belakang dan caping di tangannya itu hancur berantak­an. Dara ini kaget bukan main. Dia menyerang bayangan itu dengan caping biasa, akan tetapi dia sudah mengerahkan sin-kangnya sehingga bagi lawan yang ilmunya tidak amat tinggi, serangannya itu sudah cukup hebat dan dapat mero­bohkan orang. Akan tetapi, bayangan itu menangkis dengan lengannya, akibatnya tidak hanya capingnya yang hancur, juga dia sampai terhuyung saking kuatnya tenaga orang yang menangkisnya itu! Dia teringat akan pesan kong-kongnya bahwa di pedalaman banyak sekali terdapat orang pandai maka tanpa menanti orang tadi bergerak, dia sudah menerjang ke depan, menggunakan sepasang pisau belati yang disimpan di sebelah dalam bajunya.

“Hyaaatttt….!” Dara perkasa ini mengeluarkan pekik dahsyat, tubuhnya menerjang cepat dan sepasang pisaunya menyambar dari kanan kiri, yang kanan mengarah lambung, yang kiri mengarah leher. Serangan yang dahsyat dan lihai sekali, apalagi dilakukan dalam cuaca yang gelap!

“Plak-plak…. wuuuutttt….!”

Kembali Ceng Ceng tercengang dan kaget. Orang itu telah dapat menangkis serangan dalam gelap, menangkis lengan kanan kiri bahkan telapak tangan orang itu menyambar hendak mencengkeram ubun-ubun kepalanya. Untung dia dapat mengelak cepat, kalau tidak, sekali kepalanya kena dicengkeram oleh tangan yang dia tahu amat kuat itu, akan cela­kalah dia! Kini, bayangan itu menerjang­nya dengan kecepatan yang mengerikan.

Namun Ceng Ceng tidak menjadi gentar, dia menggerakkan kedua tangannya yang memegang pisau, melindungi tubuhnya dan sekaligus dia menggerakkan kepala­nya sehingga kuncir rambutnya menyam­bar seperti seekor ular hidup ke arah mata orang itu!

“Sing, sing…. plakk!” Ceng Ceng mengeluarkan teriakan kaget karena selain sepasang pisaunya dapat dielakkan orang, juga kuncirnya hampir saja dapat ditangkap kalau saja dia tidak dapat melepaskan tendangan yang amat kuat dan membuat lawan itu terpaksa menarik kembali tangannya yang akan menangkap kuncir. Akan tetapi tiba-tiba tubuh orang itu mencelat ke depan dan sebelum Ceng Ceng dapat mencegahnya, bayangan itu sudah menangkap Syanti Dewi! Puteri ini memekik dan berusaha memukul, akan tetapi tingkat kepandaian puteri ini masih jauh sekali di bawah tingkat lawannya yang amat lihai, maka sekali orang itu menggerakkan tangan, tubuh itu telah menjadi lemas tertotok dan dia telah dipondong!

“Jahanam, lepaskan dia!” Ceng Ceng sudah menerjang maju dengan lompatan dahsyat. Hatinya marah bukan main dan sedikitpun dia tidak takut menghadapi lawan yang tangguh itu, yang dia khawa­tirkan adalah Puteri Syanti Dewi, maka begitu menerjang maju dia telah menggunakan sepasang pisaunya untuk menye­rang dan berusaha merampas tubuh Syanti Dewi yang telah dipondong orang itu. Akan tetapi, ternyata lawan gelap itu lihai bukan main, gerakannya ringan sekali sehingga dia dapat mengelak dengan melompat ke kanan kiri. Selain lawan memang lihai, juga Ceng Ceng merasa kurang leluasa gerakannya karena dia takut kalau-kalau senjatanya menge­nai tubuh enci angkatnya. Kemudian dengan beberapa lompatan jauh, orang itu melarikan diri meninggalkan Ceng Ceng.

“Iblis, hendak lari ke mana kau?” Ceng Ceng tentu saja mengejar secepat­nya. Namun dia kalah cepat dan hal ini terutama sekali disebabkan karena Ceng Ceng belum hafal akan keadaan di situ sehingga tentu saja dalam berlari cepat dia harus berhati-hati agar jangan sampai terjatuh dan ketinggalan makin jauh lagi. Dia sudah mulai gelisah sekali karena orang yang melarikan Syanti Dewi itu makin jauh meninggalkannya ketika tiba­-tiba orang itu berteriak dan roboh tergu­ling! Tubuh Syanti Dewi yang masih lemas tertotok, juga ikut terguling, akan tetapi ada tangan menyambarnya dan tubuh itu seketika terbebas dari totokan. Syanti Dewi mengeluh dan cepat menja­uhkan diri sambil terhuyung-huyung dan berpegang kepada sebatang pohon. Ketika Ceng Ceng tiba di tempat itu, orang yang melarikan Syanti Dewi tadi telah lari, dikejar bayangan lain yang agaknya tadi merobohkan penculik itu dan mem­bebaskan totokan Syanti Dewi. Dalam sekejap mata saja dua bayangan yang berkejaran itu telah lenyap dari situ.

“Engkau tidak apa-apa, enci?”

Syanti Dewi menggeleng kepalanya.

Ceng Ceng merasa gembira, cepat dia memegang lengan puteri itu dan diajak­nya terus lari ke utara, seperti yang dipesankan dalam pantun oleh penolong mereka yang aneh. Siapakah penolong itu? Apakah yang menolong Syanti Dewi dari tangan penculik itupun sama orang­nya dengan yang berpantun di atas ka­mar penginapan sambil bertanding, dan sama pula dengan si muka bopeng yang melepas ular di pintu gerbang Tai-cou? Ceng Ceng merasa heran dan bingung. Kalau benar orangnya hanya satu, tentu orang itu lihai bukan main. Dia tahu betapa orang-orang yang bertanding di atas kamar penginapan itu memiliki gin-kang yang amat tinggi, dan kalau penolongnya hanya seorang, berarti dia itu dikeroyok! Tadipun dia mendapat kenya­taan yang tak mungkin dibantah bahwa penculik Syanti Dewi adalah orang lihai yang memiliki kepandaian lebih tinggi daripada dia. Namun penolong itu dalam segebrakan saja mampu merampas Syanti Dewi!

Selain itu, juga hatinya khawatir sekali. Mudah saja diduga bahwa fihak musuh sudah mengenal penyamaran me­reka, sudah tahu bahwa yang menyamar sebagai gadis-gadis petani itu, yang seorang adalah Syanti Dewi. Bahkan di dalam gelap, penculik tadi sudah dapat menentukan mana yang harus diculiknya! Kalau begini, berbahayalah!

“Mari cepat, enci!” Dia berkata dan mereka berlari secepatnya. Namun, betapapun mereka hendak bersicepat, tetap saja mereka menabrak pohon! Apalagi ketika mereka tiba di sebuah hutan yang penuh pohon. Mereka tidak dapat berlari lagi dengan baik, hanya meraba-raba dan menyelinap di antara pohon-pohon, kadang-kadang hampir terguling karena kaki mereka terjerat akar pohon atau semak-semak.

Dengan napas terengah-engah Syanti Dewi mengeluh, “Aduuhhh…. kita berhen­ti dulu…. ah, lelah sekali….”

“Jangan, enci. Banyak musuh yang lihai…. mereka sudah mengenal eng­kau!”

Ucapan Ceng Ceng ini membuat sang puteri terkejut sekali. “Be…. benarkah mereka telah mengenalku? Celaka…. hayo…. hayo lari cepat….” Kini Syanti Dewi yang lari lebih dulu, lari dengan nekat karena takut! Dia merasa ngeri kalau sampai tertawan dan dibawa kepa­da Raja Muda Tambolon…. ah, tidak berani dia membayangkan nasib seperti itu, maka dia lari secepatnya.

“Enci…. hati-hati…. !” Kini Ceng Ceng yang merasa khawatir melihat puteri itu lari cepat dengan nekat tanpa melihat-lihat ke depan.

“Oughhhh….!” Tiba-tiba Syanti Dewi menjerit, tubuhnya terguling masuk ke dalam jurang!

“Enci Syanti….!” Ceng Ceng menje­rit dan cepat menjatuhkan diri mene­lungkup, kemudian merangkak mendekati jurang yang hanya kelihatan menghitam di dalam gelap. Dapat dibayangkan, betapa gelisah hatinya. Sang puteri terje­rumus ke dalam jurang yang gelap!

“Enci Syanti….!” Dia berteriak ke bawah, ke arah sumur menghitam yang menganga di depannya. Sampai lama tidak ada jawaban kecuali gema suaranya sendiri. Akan tetapi selagi dia hendak memanggil lagi, terdengar suara lemah dari bawah, “Adik Candra….!”

Jantung Ceng Ceng berdebar girang, akan tetapi bulu tengkuknya meremang juga. Terjerumus ke dalam jurang segelap itu, benar-benarkah sang puteri masih hidup dan selamat? Jangan-jangan yang memanggil tadi adalah…. arwahnya! Ceng Ceng menggunakan tangan kiri mengusap tengkuknya yang meremang lalu menjulurkan tubuh atasnya ke dalam sambil berteriak lagi, “Enci Syanti…. di mana engkau….?”

“Aku di sini….aku selamat, Candra. Untung ada pohon di sini yang menahan tubuhku. Tidak jauh, aku dapat melihat­mu dari sini, mungkin kau tidak dapat melihat karena di bawah gelap. Lekas kau cari tali tidak perlu panjang kurasa sepuluh kaki cukuplah…. aku dapat memanjat ke atas melalui tali….”

Girang sekali rasa hati Ceng Ceng. Kini dia dapat menangkap suara puteri itu dan memang tidak jauh di bawah. Sepuluh kaki? “Enci, hanya sepuluh kaki, mengapa kau tidak meloncat saja?”

“Ah, tidak mungkin. Pohon ini kecil, kalau dipakai landasan meloncat mungkin tidak kuat. Pula, begini gelap, bagaimana aku dapat meloncat dengan tepat ke atas? Lekas cari tali….”

Ceng Ceng bingung lagi. Ke mana harus mencari tali di dalam gelap seperti itu, apalagi di dalam hutan? Akhirnya dia mendapat akal baik. Tanpa ragu­-ragu lagi ditanggalkannya semua pakaian­nya setelah dia mengeluarkan perhiasan dan uang perak dan emas ke atas tanah. Ditanggalkannya bajunya, celananya, baju dalam dan celana dalam. Seluruh pakai­annya ditanggalkan sehingga dia menjadi telanjang bulat sama sekali! Kemudian, sambil meraba-raba, dia sambung-sam­bungkan semua pakaian itu setelah digu­lungnya sehingga merupakan gulungan kain yang bersambung-sambung, yang kemudian, dengan tubuh telanjang bulat, dia bertiarap di tepi jurang, menggulung-­gulungkan kain itu sambil berteriak, “En­ci Syanti…. ini talinya….!”

“Ke sini, Candra sebelah sini….!” Terdengar jawaban dari bawah dan Ceng Ceng mengulur tali ke arah suara itu.

Tak lama kemudian tali menegang, telah dapat terpegang oleh Syanti Dewi.

“Eh, dari mana kau memperoleh tali kain ini….?”

“Naiklah, enci. Ujung sini sudah kupegang erat. Hati-hati….“

Ceng Ceng mengerahkan tenaganya menahan ketika Syanti Dewi mulai me­manjat naik. Tak lama kemudian, puteri itu sudah meloncat ke atas tanah. Dia menubruk Ceng Ceng dan keduanya saling berpelukan dan menangis! Menangis karena girang dan bersyukur bahwa Syanti Dewi selamat dari bahaya maut yang mengerikan itu.

“Heiii….! Kau…. kau…. telanjang bulat….!” Tiba-tiba Syanti Dewi berseru kaget dan heran sambil meraba-raba tubuh Ceng Ceng. Ceng Ceng menggeliat kegelian dan memegang tangan Syanti Dewi.

”Itulah tali yang memancingmu keluar jurang, enci!”

Syanti Dewi tertawa, dan keduanya tertawa-tawa gembira ketika Ceng Ceng mulai memakai lagi pakaiannya yang tadi telah dipergunakan untuk menyelamatkan nyawa enci angkatnya. Kini dia merasa tubuhnya panas dingin kalau membayang­kan betapa akan jadinya kalau hal itu terjadi di siang hari dan kebetulan ada orang melihat dia bertelanjang bulat seperti seorang bayi tadi!

“Mari kita mencari tempat untuk beristirahat, enci. Malam terlalu gelap. Melanjutkan perjalanan berbahaya sekali, apa lagi kita sudah memasuki hutan di pegunungan. Masih untung Thian melin­dungimu ketika kau terjerumus tadi. Kalau tidak ada pohon itu, apa jadinya?”

“Ahh, paling-paling mati, adikku! Dan agaknya hal itu leblh baik daripada jatuh ke tangan Tambolon.”

“Jangan putus asa, enci. Aku akan melindungimu dengan seluruh jiwa raga­ku “

Mereka melanjutkan perjalanan, kini dengan hati-hati sekali dan setelah me­reka mendapatkan sebuah tempat yang dianggap cukup menyenangkan, yaitu di bawah pohon yang diapit-apit oleh batu gunung yang besar, keduanya berhenti dan duduk beristirahat di atas rumput, bersandar kepada batu gunung. Mereka berusaha untuk melepaskan lelah dan beristirahat secukupnya.

“Tidurlah, enci Syanti, biarlah aku menjaga di sini.”

“Hemm, dinginnya bukan main. Mana bisa tidur? Bagaimana kalau kita mem­buat api unggun?”

“Ah, berbahaya, enci. Api unggun akan menarik perhatian orang, dan pula dapat kelihatan dari tempat jauh.”

Tubuh mereka memang dapat beristi­rahat, akan tetapi hati mereka selalu tegang dan siap siaga menghadapi segala bahaya yang mungkin datang menimpa. Malam itu gelap bukan main, agaknya bintang-bintang di langit dihalangi awan hitam. Dalam keadaan segelap itu, di dalam hutan yang asing, apalagi setelah mengalami hal-hal yang mengerikan, kedua orang dara itu tentu saja merasa khawatir dan gelisah. Mereka duduk berhimpit bersandarkan batu, mata men­coba menembus kegelapan malam dan memandang ke kanan kiri, telinga mereka dicurahkan untuk mendengar apa yang tak dapat dilihat mata. Mereka selalu merasa seolah-olah diikuti oleh sesuatu, entah manusia, binatang atau setan! Bahkan ketika sedang duduk di tempat itu, mereka merasa ada mata yang memandang mereka, ada sesuatu yang memperhatikan mereka! Dapat dibayang­kan betapa ngeri rasa hati mereka. Syanti Dewi adalah seorang puteri yang selama hidupnya belum pernah melakukan perjalanan seorang diri seperti itu, apa­lagi malam-malam berkeliaran di dalam hutan gelap! Adapun Ceng Ceng, biar dia seorang dara perkasa yang sejak kecilnya digembleng oleh kakeknya, namun perja­lanan seperti inipun baru pertama kali dia alami bersama Syanti Dewi itu.

Mereka makin berhimpitan dan makin siap dengan jantung berdebar tegang sekali ketika di dalam kegelapan malam pekat itu mereka seperti mendengar suara-suara yang aneh. Beberapa kali mereka mendengar suara gerengan dari tempat agak jauh, suara lolong anjing, dan lapat-lapat seperti ada orang ber­nyanyi! Mula-mula suara aneh itu seperti lewat terbawa angin lalu, akan tetapi kadang-kadang terdengar dekat sekali, bahkan mereka seperti mendengar suara langkah kaki orang di sekeliling mereka!

Tentu saja semalam suntuk mereka tidak mampu tidur sama sekali. Dengan tinju terkepal kedua orang dara itu duduk bersandar batu, seluruh urat syarat mereka menegang karena mereka mendu­ga bahwa sewaktu-waktu tentu akan muncul musuh mereka. Mata dan telinga mereka siap dengan penuh perhatian meneliti keadaan di depan, kanan dan kiri karena mereka tidak mengkhawatir­kan musuh akan datang menyerang mere­ka dari belakang yang terlindung oleh batu gunung yang besar dan tinggi. Akan tetapi, tidak ada sesuatu terjadi! Bahkan menjelang pagi, suara itu lenyap sama sekali.

Setelah sinar matahari pagi mulai mengusir embun dan kegelapan, keduanya bangkit berdiri. “Hayo kita tinggalkan tempat yang menyeramkan ini, enci Syanti,” kata Ceng Ceng, lega bahwa malam itu dapat mereka lewatkan de­ngan selamat.

“Suara apakah semalam, Candra? Menyeramkan sekali!”

“Entahlah, mungkin kita salah memilih tempat. Mungkin di sini sebuah perkam­pungan siluman yang tentu saja tidak tampak.”

Syanti Dewi bergidik, memegang tangan adik angkatnya dan bergegas mereka melanjutkan perjalanan menuju ke utara meninggalkan tempat menye­ramkan itu. Tubuh mereka terasa letih dan mengantuk, akan tetapi hati lega karena mereka dapat meninggalkan tem­pat itu.

“Haiii…. banyak bangkai anjing di sini….!” Tiba-tiba Ceng Ceng berseru heran ketika mereka keluar dari tempat itu dan melihat belasan ekor anjing serigala telah menggeletak malang melin­tang dalam keadaan mati, ada yang lehernya hampir putus, ada yang kepala­nya pecah. Darah yang masih belum kering betul menunjukkan bahwa gerom­bolan srigala ini dibunuh orang semalam!

“Kalau begitu lolong anjing semalam bukanlah suara siluman, melainkan suara mereka ini!” bisik Syanti Dewi sambil menengok ke kanan kiri.

Juga Ceng Ceng menoleh ke kanan kiri, depan belakang sambil memandang penuh selidik. “Heran sekali, siapa yang membunuh mereka semalam? Aku men­dengar suara orang, seperti orang bernyanyi….”

“Aku juga!” kata Syanti Dewi. Sema­lam ketika mendengar suara-suara itu, keduanya diam saja karena merasa ngeri.

“Dan ada suara langkah-langkah kaki orang….”

“Benar, akupun mendengarnya.”

“Hemmm, kalau begitu, kita masih terus dibayangi orang, enci.”

“Siapa dia gerangan?”

“Tidak perduli siapa, aku tidak takut!” Ceng Ceng menjadi penasaran dan sudah mencabut sepasang pisau belatinya. Dengan mengangkat dadanya yang mulai membusung itu dia berteriak, “Heiii, orang yang membayangi kami, hayo keluar kalau memang engkau seorang gagah! Kalau ada niat busuk, mari kita bertanding sampai seribu jurus!”

Akan tetapi dara itu seperti menan­tang angin karena yang menjawabnya hanya bunyi angin berdesir mempermainkan ujung-ujung ranting pohon. Setelah yakin bahwa di tempat itu tidak ada orang lain kecuali mereka berdua, dua orang dara itu melanjutkan perjalanan ke utara. Akan tetapi, kembali mereka tertegun ketika melihat bangkai dua ekor harimau yang besar juga. Seperti juga gerombolan srigala tadi, dua ekor hari­mau itu belum lama dibunuh orang. Ketika Ceng Ceng memeriksa, diam-­diam dia terkejut dan kagum bukan main melihat bahwa dua ekor raja hutan itu mati dengan kepala berlubang bekas tusukan jari tangan! Dapat dibayangkan betapa kuatnya orang itu, yang membu­nuh dua ekor harimau itu hanya dengan jari tangan saja! Melihat kenyataan ini, hatinya agak jerih juga dan dia tidak lagi mengulangi tantangannya di dekat bangkai gerombolan srigala tadi, melain­kan cepat mengajak Syanti Dewi melan­jutkan perjalanan ke utara.

Pada tengah hari, tibalah mereka di tepi sebuah sungai! Girang hati mereka karena ternyata, nasehat penolong yang berpantun itu ternyata cocok! Mereka tidak.mengenal daerah itu dan tidak tahu sungai apakah itu, akan tetapi mereka tahu bahwa mereka sudah berada di daerah yang aman. Mereka harus menye­berangi sungai itu dan melanjutkan perja­lanan ke utara. Akan tetapi, tempat ini sunyi sekali. Sungai itu mengalir tenang melalui hutan-hutan dan pegunungan.

Sungai itu adalah Sungai Nu-kiang (Salween) yang bermata air di Gunung Thangla, mengalir ke selatan memasuki Negara Birma. Tanpa sepengetahuan mereka, dua dara itu telah tiba di kaki Pegunungan Hengtoan-san. Tentu saja lembah Sungai Nu-kiang di pegunungan ini amat sunyi sehingga sukarlah bagi mereka untuk mencari perahu agar dapat menyeberang. Tempat itu jauh sekali dari perkampungan nelayan.

Akan tetapi, setelah mereka menyu­suri sungai sampai jauh, dari jauh nam­pak sebuah perahu kecil di pinggir su­ngai, sebuah perahu kosong! “Di sana ada perahu, adik Candra!” Syanti Dewi berka­ta girang sambil menuding ke depan. Ceng Ceng juga sudah melihatnya dan gadis ini memegang tangan kakak angkat­nya sambil berkata, “Enci Syanti, karena kita, terutama engkau, adalah orang­-orang pelarian yang dikejar-kejar musuh, maka kurasa sebaiknya mulai saat ini engkau jangan menggunakan nama Syanti Dewi sebelum kita selamat di kota raja Kerajaan Ceng.”

Syanti Dewi mengangguk-angguk. “Engkau benar, adikku. Lalu nama apakah yang sebaiknya kupergunakan?”

“Bagaimana kalau namamu menjadi Sian Cu? She-nya boleh memakai she­ku, yaitu she Lu.”

“Lu Sian Cu? Nama yang bagus sekali!” Syanti Dewi atau Sian Cu berkata girang.

“Dengan nama ini, kalau sekali waktu aku lupa dan menyebutmu enci Syanti, biar disangka menyebutmu Sian-ci (kakak Sian). Dan seperti engkau tahu, namaku adalah Lu Ceng. Kita berdua mengaku sebagai gadis dari daerah perbatasan yang lari mengungsi ke timur.”

“Baiklah, adik…. Ceng. Ah, hampir aku menyebutmu Candra yang bagiku terde­ngar lebih manis.”

“Nah, mari kita dekati perahu itu. Heran sekali, ke mana tukang perahu­nya?” Mereka melangkah lagi mendekati perahu dan setelah tiba di dekat tempat di mana perahu itu tertambat di tepi sungai, tampak seorang laki-laki sedang tidur di atas tanah, berbantal batu yang dilandasi kedua tangannya. Laki-laki itu tidur nyenyak, terdengar suara dengkurnya yang keras.

Ceng Ceng dan Syanti Dewi atau lebih baik disebut nama barunya yaitu Sian Cu, mendekati tukang perahu yang sedang tidur nyenyak itu dan memandang penuh perhatian. Dia seorang laki-laki bertubuh sedang, cukup tegap dan tam­pak kuat karena agaknya biasa bekerja berat, pakaiannya bersih akan tetapi telah terhias beberapa tambalan di dekat lutut dan siku, pakaian sederhana seorang petani atau nelayan, semodel dengan yang dipakai dua orang gadis itu. Sukar ditaksir usia orang itu. Melihat bentuk mukanya, dia kelihatan masih muda sekali, akan tetapi kumis dan jenggotnya yang hitam gemuk dan liar tak terpeliha­ra membuat muka itu kelihatan lebih tua. Model seorang nelayan yang bodoh yang sederhana dan biasa hidup keras dan sukar!

Ceng Ceng menggunakan ujung baju­nya yang lebar untuk mengusap keringat dari dahi ke lehernya. Rambutnya agak awut-awutan dan karena dia tidak me­makai caping lagi, benda itu telah han­cur ketika dipakai melawan musuh yang lihai di malam hari yang lalu itu, muka­nya yang putih halus dan cerah itu agak coklat kemerahan oleh sinar matahari.

“Hei, tukang perahu….!” Ceng Ceng berseru memanggil laki-laki yang sedang tidur nyenyak itu.

Si tukang perahu tetap tidur mendeng­kur, sedikitpun tidak bergerak, juga dengkurnya tidak berubah, tanda bahwa teriakan Ceng Ceng itu sama sekali tidak mengganggu tidurnya.

“Paman tukang perahu….!” Ceng Ceng berteriak lebih nyaring lagi.

Kini suara mendekur itu berubah agak perlahan, dan kumis liar di bawah hidung itu bergerak-gerak lucu, akan tetapi kumis itu diam lagi dan dengkurnya kini menjadi bertambah keras! Ceng Ceng yang berwatak keras itu mulai jengkel hatinya.

“Heii, tukang perahu yang malas! Bangunlah….!” Dia berteriak nyaring dan mengomel, “Wah celaka, bertemu seorang pemalas seperti kerbau!”

Tukang perahu itu menggerakkan kedua kakinya, menarik kedua tangan dari bawah kepala, mulutnya komat-kamit akan tetapi kedua matanya masih terpejam dan terdengar dia bicara de­ngan suara ngelindur. “….aduhh…. siluman rase…. ahhh…. siluman ular….” Dan dia lalu membalikkan tubuh, membe­lakangi dua orang dara itu, tidur mendengkur lagi lebih keras.

Ceng Ceng membanting kaki kanan­nya, mukanya merah dan matanya terbe­lalak marah. “Kurang ajar! Babi pemalas! Tidak bangun malah memaki-maki orang!”

“Sabarlah, Ceng-moi. Dia tidak me­maki, dia sedang tidur dan tentu mimpi.”

“Biarpun mimpi, jelas dia memaki kita. Dia menyebut siluman rase, siluman ular, bukankah itu memaki namanya? Di dongeng manapun juga, siluman rase dan siluman ular selalu menjadi seorang wanita!”

“Tapi jelas dia tidak sengaja, dia sedang tidur.”

“Kalau sengaja, tentu sudah kupatah­kan semua giginya!” Ceng Ceng berkata lagi, mendongkol sekali. Kakinya men­congkel tanah pasir di depannya dan beterbanganlah pasir dan tanah mengenai kepala dan leher tukang perahu itu. Tukang perahu itu terdengar mengeluh, kemudian tubuhnya bergerak dan dia sudah terlentang lagi seperti tadi, kedua tangan ditaruh di bawah kepalanya dan dia sudah tidur lagi mendengkur, hanya bedanya, kalau tadi mulutnya tertutup, kini bibirnya terbuka sehingga tampak di bawah kumis liar itu deretan giginya yang putih dan kuat, seolah-olah tukang perahu itu menantang dan memperlihat­kan giginya untuk dipatahkan oleh Ceng Ceng! Ceng Ceng yang sedang marah itu makin gemas.

“Tukang perahu yang malas seperti kerbau dan babi!” teriaknya lagi. “Hayo bangun, atau…. kulemparkan kau ke dalam sungai!”

Tukang perahu itu tetap tidur.

“Enci, mari kita pakai saja perahu itu!”

“Eh, jangan Ceng-moi. Tak baik mencuri barang orang lain,” kata Sian Cu.

“Kalau begitu, biar kulempar mukanya dengan batu supaya si pemalas itu ba­ngun!”

“Sttt, jangan begitu, Ceng-moi. Ka­sihan dia, lihat tidurnya begitu nyenyak, siapa tahu semalam dia tidak tidur! Orang yang terlalu lelah, orang yang terlalu sedih, tentu dapat tidur seperti pingsan saja. Pula, kita berdua tidak pandai mengemudikan perahu, tanpa dia, bagaimana kita bisa menyeberang? Siapa tahu, dia bisa mengantarkan kita sampai ke kota yang berdekatan. Tentu dia lebih mengenal daerah ini.”

Ceng Ceng menahan kemarahannya dan kembali dia berteriak, “Tukang perahu malas dan tolol! Lekas bangun, kita hendak menyewa perahumu!”

Kini tukang perahu itu menghentikan suara dengkurnya dan sepasang matanya bergerak-gerak lalu kelopak matanya terbuka. Dua orang dara itu kaget melihat sepasang mata yang bersinar tajam sekali, akan tetapi tukang perahu itu mengejapkan matanya beberapa kali seperti belum sadar benar.

“Paman, bangunlah. Kami hendak menyewa perahumu itu!” kata Sian Cu sambil menuding ke arah perahu. Suara­nya lunak dan halus dan memang puteri ini memiliki watak yang jauh lebih halus daripada Ceng Ceng yang keras hati dan jujur.

Tukang perahu itu mengeluh dan bangkit duduk, menggosok-gosok matanya dan ketika dia menurunkan kedua tangan memandang dua orang gadis itu, tiba-­tiba dia melompat berdiri, matanya terbelalak, tubuhnya menggigil dan dia menudingkan telunjuknya kepada Ceng Ceng dan Sian Cu sambil berteriak ketakutan. “Siluman…. eh, siluman…. ja­ngan ganggu aku….!”

“Monyet tua….!” Ceng Ceng sudah bergerak hendak memukul, akan tetapi lengannya dipegang oleh Sian Cu yang tersenyum melihat kemarahan Ceng Ceng. Dengan sabar dia menghadapi tukang perahu yang masih ketakutan itu.

“Paman, tenanglah. Kami bukan silu­man, melainkan dua orang gadis yang ingin menyewa perahumu.”

Tukang perahu itu mengangkat kedua tangan di depan dada dan mulutnya masih komat-kamit, terdengar suaranya. “Aduhhh…. selamat…. selamat…. selamat…., Tuhan masih melindungi aku….! Maafkan, ji-wi kouwnio (kedua nona), tadinya aku mengira bahwa ji-wi adalah siluman-silu­man yang semalam kudengar suaranya yang amat mengerikan! Hiiiihhh….!” Tukang perahu itu menggerakkan kedua pundaknya dan otomatis Ceng Ceng dan Sian Cu juga bergidik, teringat akan pengalamannya semalam.

“Engkau mendengar apakah, paman?” Sian Cu bertanya.

“Semalam…. hihhh, aku tak dapat tidur sama sekali. Tadinya aku mengira bahwa aku akan mati dicekiknya, suara aneh-aneh terdengar dari hutan itu, seolah-olah semua penghuninya, siluman dan iblis, sedang berpesta pora. Huh, untung aku masih hidup, aku ingin tidur sampai kenyang. Harap nona berdua jangan menggangguku.” Tukang perahu itu kembali merebahkan diri, siap untuk melanjutkan tidurnya.

“Eh-eh…. jangan tidur lagi, eng­kau!” Ceng Ceng membentak. “Kami ingin menyewa perahumu!”

Tukang perahu itu bangkit, akan tetapi tidak berdiri, hanya duduk sambil memandang kepada Ceng Ceng. “Nona, melihat pakaianmu, engkau tentu seorang gadis dusun biasa, akan tetapi sikapmu seperti seorang puteri pembesar tinggi saja!”

“Cerewet kau! Siapa aku, tak perlu kau pedulikan! Kami ingin menyewa perahumu, berapapun akan kami bayar!” Dia mengeluarkan dua potong uang perak dari saku bajunya dan memperlihatkannya kepada si tukang perahu, dengan keyakin­an bahwa sinar perak yang berkilauan itu tentu akan melenyapkan kantuk tukang perahu itu.

Akan tetapi, betapa menjengkelkan sikap tukang perahu itu yang memandang tak acuh lalu berkata, “Aku tidak me­nyewakan perahuku.” Dan dia sudah hendak merebahkan dirinya lagi.

“Paman, tolonglah kami. Kami ingin menyeberang, tolong seberangkan kami dan kami akan membayar secukupnya kepadamu.”

Tukang perahu itu memandang Sian Cu, lalu melirik kepada Ceng Ceng yang masih mendelik marah. “Aku tidak me­nyewakan perahuku, juga aku tidak butuh uang.”

“Kau manusia sombong….!” Ceng Ceng berteriak, akan tetapi Sian Cu sudah memegang tangan dara itu dan berkatalah dia dengan suara halus kepada si tukang perahu, “Paman tukang perahu, kalau begitu, kami tidak menyewa pera­humu, hanya minta tolong kepadamu. Aku percaya bahwa paman tentu akan suka menolong dua orang gadis yang tidak berdaya. Kami melarikan diri mengungsi dari daerah perang dan kami ingin melanjutkan perjalanan menyebe­rang sungai.”

Suara yang halus dan sopan dari Sian Cu membuat tukang perahu itu kelihatan sungkan juga. Dengan ogah-ogahan dia bangkit berdiri, menggaruk-garuk kepala­nya dan menguap beberapa kali, lalu memandang ke arah seberang sungai. “Kalian hendak menyeberang? Mau ke mana menyeberang?”

“Kami hendak melanjutkan perjalanan, akan tetapi terhalang sungai ini, maka kami hendak menyeberang,” kata pula Sian Cu mendahului Ceng Ceng yang kelihatannya sudah tidak sabar menyaksi­kan sikap si tukang perahu.

“Menyeberang ke sana dan melanjut­kan perjalanan? Aihh, apakah kalian mencari mati?”

“Apa katamu?” Ceng Ceng sudah membentak lagi.

“Hemm, kau galak sekali, nona. Aku bilang bahwa kalian menyeberang ke sana dan melanjutkan perjalanan mengungsi, berarti kalian mencari mati. Di seberang sana hanya terdapat hutan-hutan yang liar dan tak terbatas luasnya, gurun­-gurun pasir yang tak bertepi, dan pegu­nungan yang sukar sekali dilalui manusia selain penuh dengan binatang-binatang buas dan siluman-siluman jahat! Dan kalian hendak menyeberang ke sana? Eh-eh….!” Dia lalu memandang tajam kepada dua orang gadis itu, pandang mata penuh selidik. “Benar-benarkah…. eh…. kalian ini manusia, bukan siluman-­siluman?”

“Mulut busuk!” Ceng Ceng membentak marah, tidak membiarkan Sian Cu mence­gahnya lagi karena dia sudah marah bukan main. “Kalau kami berdua siluman, maka engkau adalah siluman babi Ti Pat Kai!”

Tukang perahu itu melongo, kemudian tertawa. “Ha-ha-ha, kau pandai juga membadut, nona! Masa yang begini dika­takan Ti Pat Kai!” Ti Pat Kai adalah tokoh dalam cerita See-yu-ki, seorang siluman babi yang terkenal, pelahap, dan mata keranjang!

“Paman, harap jangan main-main. Kami berdua sudah melakukan perjalanan jauh yang amat melelahkan, bahkan semalam kami, tidak tidur sebentarpun. Kami ingin melanjutkan perjalanan. Terus terang saja, kami berniat pergi ke Kota Raja Kerajaan Ceng“

“Wahhhh….? Mimpikah aku? Ataukah benar-benar kalian dua orang gadis dusun ini hendak pergi ke kota raja? Tahukah kalian berapa jauhnya kota raja itu? Kalian harus melalui sedikitnya enam propinsi dan ratusan kota! Mengapa kalian dua orang gadis dusun di perbatas­an hendak pergi ke tempat sejauh itu?”

“Kami berdua hanya ingin menyebe­rang, dan engkau begini cerewet! Tukang perahu macam apa sih engkau ini?” Ceng Ceng sudah membentak lagi. Akan tetapi Sian Cu segera berkata, tidak memberi kesempatan kepada si tukang perahu untuk menanggapi kegalakan Ceng Ceng, “Kami mempunyai seorang bibi di sana. Paman, kalau benar di seberang merupa­kan daerah yang amat berbahaya dan sukar dilalui maka kami harap kau suka menolong kami dan memberi tahu jalan mana yang harus kami tempuh agar kami dapat sampai ke kota raja dengan sela­mat.”

Tukang perahu itu menggaruk-garuk belakang telinganya. “Terus terang saja, aku sendiri belum pernah pergi ke kota raja. Akan tetapi menurut keterangan yang kuperoleh, jalan satu-satunya ke kota raja hanya menggunakan jalan air, menurutkan aliran Sungai Besar Yang-ce-kiang sampai ke kota besar Wu-han, kemudian melalui jalan darat ke utara sampai Sungai Huang-ho dan mengambil jalan air lagi menurutkan aliran Sungai Huang-ho ke timur sampai ke kota besar Cin-an, baru menggunakan jalan darat ke utara menuju ke kota raja. Akan tetapi letaknya amat jauh dan kiranya akan menggunakan waktu berbulan!”

Ceng Ceng sudah mengerutkan alisnya. Turun semangatnya mendengar keterang­an yang membentangkan kesukaran perja­lan itu, akan tetapi Sian Cu berkata, “Terima kasih, paman. Kau baik sekali dan kami akan menggunakan petunjuk itu untuk melanjutkan perjalanan. Lalu bagai­mana kita dapat mencapai Sungai Yang­-ce-kiang?”

“Dari tempat ini dapat berperahu mengikuti aliran sungai sampai ke dusun Kiu-teng, dari sana terdapat jalan menu­ju ke Sungai Lan-cang (Mekong), menye­berangi Sungai Lan-cang dan melalui jalan darat ke timur akan mencapai Sungai Yang-ce-kiang.”

“Ah, terima kasih. Kuharap paman sudi membawa kami ke dusun Kiu-teng.”

“Hemmm….”

“Kami akan membayar sewanya, berapa saja yang kau minta, paman.”

“Sikapmu halus dan baik sekali, nona. Siapakah namamu?”

“Namaku Lu Sian Cu, paman,” jawab Sian Cu sambil menunduk agar tidak tampak perubahan air mukanya.

“Baiklah, Sian Cu. Aku suka mengan­tarkan engkau ke Kiu-teng yang jaraknya cukup jauh dari sini, memakan waktu hampir sehari semalam. Akan tetapi dia itu siapa namanya?” Dia menuding kepada Ceng Ceng. Tentu saja Ceng Ceng sudah marah memandang dengan mata mendelik, akan tetapi dia didahului oleh Sian Cu.

“Dia adalah adikku, namanya Lu Ceng.”

“Aku hanya mau menyeberangkanmu ke Kiu-teng, nona Sian Cu, bahkan tanpa membayar apapun. Akan tetapi dia itu, hemm…. Lu Ceng terlalu galak dan sikapnya tidak menyenangkan, maka….”

“Cerewet! Kalau kau tidak mau aku­pun tidak membutuhkan bantuanmu, manusia sombong! Kalau aku melempar­mu ke dalam sungai dan membawa pera­humu, kau mau bisa apa?”

“Ceng-moi, jangan begitu….!” Sian Cu membujuk adik angkatnya, kemudian berkata kepada si tukang perahu. “Pa­man, kau maafkan adikku yang masih kekanak-kanakan. Kalau aku pergi, diapun harus ada di sampingku. Harap kau suka memaafkan dan membawa kami berdua ke Kiu-teng.”

Tukang perahu itu bersungut-sungut. “Baiklah, akan tetapi hanya dengan satu janji.”

“Janji apa?” Sian Cu bertanya dan Ceng Ceng sudah siap, kalau si tukang perahu minta janji yang kurang ajar, tentu akan dihantamnya dan dilemparkan­nya ke sungai!

“Bagimu engkau tidak usah melakukan sesuatu, tidak usah membayar sesuatu. Akan tetapi nona Ceng ini, dia harus menurut perintahku, dia harus membantu­ku kalau aku perlu bantuannya mendayung perahu atau mengatur layar, dan diapun harus menanak nasi, air, atau memanggang ikan untukku setiap kali kukehendaki.”

“Setan…. kau kira aku siapa….?”

“Adik Ceng, mengapa ribut-ribut? Bukankah permintaannya itu sudah semes­tinya? Dia mau menolong kita, apakah sebaliknya kita tidak mau menolong dia hanya dengan pekerjaan ringan seperti itu?”

Dengan menggigit bibir saking gemas­nya, Ceng Ceng berkata singkat. “Baik­lah!”

Tukang perahu itu tertawa. “Nah, silahkan naik ke perahu. Perahu ini kecil dan tentu saja kurang enak, jangan nanti kalian menyalahkan aku.” Sambil berkata demikian, tukang perahu mengambil buntalannya dan menaruhnya di kepala perahu agar ruangan tengah yang terlin­dung anyaman bambu itu dapat dipakai oleh kedua orang gadis itu.

Mereka memasuki perahu dan melun­curlah perahu itu ke tengah sungai dida­yung oleh si tukang perahu yang mulai dengan gayanya yang terang-terangan hendak menghukum Ceng Ceng yang dianggapnya galak itu. “Eh, nona Ceng, kau masaklah air, itu cereknya, itu batu api, teh di sana…. dan beras ada di ujung sana, masak nasi untuk kita berti­ga. Aku akan memancing ikan untuk lauknya.”

Ceng Ceng mendelik, akan tetapi jawilan jari tangan Syanti Dewi membuat dia tidak membantah dan dengan bersu­ngut-sungut dia mengerjakan perintah tukang perahu itu. Awas saja kau, pikir­nya geram. Nanti kalau kami tidak membutuhkan lagi perahumu, akan kutam­par mukamu dan kucabuti kumis dan jenggotmu. Biarlah sekarang dia mengalah. Melakukan pekerjaan yang diperintah­kan seorang tukang perahu miskin yang kurang ajar. Sialan!

Akan tetapi tukang perahu itu pandai sekali mengail. Sebentar saja dia telah mendapatkan dua ekor ikan yang sebesar betis. Dia melontarkan ikan-ikan itu kepada Ceng Ceng sambil berkata, “Ber­sihkan ikan-ikan itu, beri bumbu. Garam dan lain-lain bumbu ada di poci sebelah kiri itu, dekat kakimu, lalu panggang di atas arang membara. Awas, jangan sam­pai api menyala, nanti hangus dan tidak enak!”

Lagakmu, Ceng Ceng memaki di dalam hatinya. Kaukira aku tidak tahu caranya masak dan memanggang ikan? Akan tetapi karena dia dan encinya membutuhkan perahu itu, bukan hanya perahu itu akan tetapi tukang perahunya karena mereka berdua tidak tahu bagai­mana caranya mengemudikan perahu, dia menahan kemarahannya dan melakukan pekerjaan tanpa banyak mengeluarkan suara.

Ceng Ceng adalah seorang dara yang sejak kecil digembleng ilmu silat oleh kakeknya. Wataknya keras, pemberani dan di samping ini, juga harus diakui bahwa dia terlalu dimanja oleh kong-­kongnya. Selama dia tinggal bersama kong-kongnya yang merupakan seorang guru terhormat, dia diperlakukan dengan hormat oleh semua orang. Terutama sekali setelah dia menjadi adik angkat Puteri Syanti Dewi, derajatnya naik dan dia makin dihormat. Tidak pernah ada orang berani memandang rendah kepada­nya, karena kedudukannya dan juga karena orang maklum akan kelihaiannya. Akan tetapi sekarang, dia bukan saja dipandang rendah, bahkan diperintah oleh si tukang perahu seperti seorang pelayan saja layaknya!

Dapat dibayangkan betapa mendongkol dan mengkal rasa hatinya sehingga ketika mereka bertiga makan, hanya si tukang perahu dan Sian Cu yang dapat menikmatinya sedangkan Ceng Ceng tidak dapat menikmati makanan itu karena hatinya mendongkol sekali. Sikap tukang perahu itu benar-benar menggemaskan hatinya. Setiap gerak-geriknya seolah-­olah mengejeknya, setiap kata-katanya seolah-olah menyindirnya! Mulut yang cengar-cengir itu, dengan kumis yang bergerak-gerak, seperti selalu menterta­wakan padanya! Bedebah benar!

Akan tetapi, melihat sikap Sian Cu yang selalu bersabar, Ceng Ceng dapat menahan kemarahannya dan ditambah oleh kelelahan tubuhnya karena malam tadi sama sekali tidak tidur, malam hari itu dia dapat tidur nyenyak bersama Sian Cu. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, suara tukang perahu itu sudah berteriak-teriak membangunkan mereka.

“Nona Ceng, bangun! Sudah siang!” teriaknya. Suaranya nyaring dan bukan hanya Ceng Ceng yang bangun, juga Sian Cu.

“Siapa bilang sudah siang?” Ceng Ceng bersungut-sungut ketika melihat bahwa hari masih pagi sekali, sungguhpun malam memang telah lewat dan sinar matahari mulai mengusir kegelapan.

“Hanya seorang pemalas saja yang mengatakan bahwa sekarang belum si­ang!” kata tukang perahu. “Aku jelas bukan pemalas karena biasanya pada waktu seperti ini aku sudah bangun tidur dan memasak air dan bubur untuk sara­pan pagi.”

Ceng Ceng hendak membantah, akan tetapi Sian Cu berbisik, “Kemarin kau memaki dia malas.” Teringat akan itu, Ceng Ceng diam saja dan mengerjakan apa yang diperintahkan tukang perahu itu.

Tiba-tiba tukang perahu berkata, “Harap kalian tenang, ada kesukaran di depan!”

Dengan kaget Ceng Ceng dan Sian Cu melihat bahwa di sebelah depan tampak dua buah perahu hitam yang ditumpangi masing-masing oleh lima orang, di antara mereka tampak dua orang tosu tua yang bersikap keren!

“Siapa mereka? Mau apa?” Ceng Ceng bertanya lirih.

“Stttt…. harap kalian diam dan serah­kan saja kepadaku menghadapi mereka.” Tukang perahu menjawab dan ketenangan sikapnya membuat dua orang dara itu menjadi heran. Andaikata mereka itu adalah bajak-bajak sungai yang banyak mereka dengar, sungguhpun hal itu menyangsikan karena di antara mereka terdapat dua orang tosu maka sikap tukang perahu itu terlampau tenang! Sepantasnya, tukang perahu itu tentu akan menjadi panik dan ketakutan tidak bersikap seolah-olah penuh keyakinan dia akan dapat mengatasi keadaan.

Ceng Ceng memberi tanda dengan kedipan mata kepada Sian Cu, dan puteri ini yang mengerti bahwa dialah yang mungkin menjadi incaran musuh, segera menyembunyikan diri ke dalam perahu. Sedangkan dia melirik penuh perhatian dan kewaspadaan. Hatinya berdebar tegang melihat betapa dua buah perahu itu dipalangkan di tengah sungai, agaknya sengaja menghadang perahu yang ditung­ganginya.

“Haii, tukang perahu!” Terdengar suara bentakan dari dua buah perahu itu. “Hendak ke mana?”

“Kami hendak ke Kiu-teng!” Terde­ngar jawaban tukang perahu yang ramah dan tetap gembira.

“Bersama siapa? Membawa apa?” Kembali terdengar pertanyaan yang keren dan berwibawa itu, dan ternyata yang bertanya adalah seorang di antara dua orang tosu yang duduk di dalam perahu pertama.

Tukang perahu itu menoleh ke arah Ceng Ceng yang sedang memasak bubur, lalu berkata, “Bersama isteriku! Kami tidak membawa apa-apa, hendak mencari ikan dan menjualnya ke Kiu-teng!”

Hampir saja Ceng Ceng meloncat dan memaki-maki! Dia diaku sebagai isteri si tukang perahu jahanam itu! Akan tetapi ketika dia menoleh dan sudah siap untuk meloncat, dia melihat Sian Cu memberi isyarat kepadanya dengan jari tangan di depan mulut menyuruhnya diam, bahkan Sian Cu lalu menyelimuti dirinya dengan tikar yang berada di dalam perahu. Tentu kakak angkatnya itu hendak meno­long si tukang perahu yang sudah menya­takan bahwa tukang perahu itu hanya bersama dengan isterinya!

Ketika Ceng Ceng menengok lagi, tentu saja wajahnya nampak oleh orang­-orang di dalam kedua perahu itu, dan terdengarlah suara ketawa lalu seorang di antara mereka yang bermata lebar berseru sambil tertawa, “Haiiiii, isterimu cantik sekali, tukang perahu! Boleh aku menyewanya?”

“Perahuku tidak disewakan!”

“Heh, tolol! Bukan perahumu, akan tetapi isterimu yang kusewa! Berapa sewanya semalam?” Terdengar suara ketawa dari kedua perahu itu. Dapat dibayangkan betapa hebat kemarahan hati Ceng Ceng, akan tetapi melihat bahwa kakak angkatnya sudah bersembunyi, dia tidak tega mengganggu, diapun ingin sekali mendengar apa yang menjadi jawaban tukang perahu gila itu.

“Hemm, berapa kau berani bayar, kawan?”

Benar gila! Ceng Ceng mengepal tinju dan sudah siap untuk menghajar mereka semua. Kedua telinganya mengeluarkan bunyi mengiang-ngiang saking marahnya.

“Ha-ha-ha! Nah, kau terima uang panjarnya dulu, dan kalau kau menolak, ini tambahnya!” Dari dalam sebuah di antara dua perahu itu melayang benda ke dalam perahu yang ditumpangi Ceng Ceng dan ternyata sekantung kecil uang tembaga dan sebatang toya baja yang dilontarkan ke depan kaki tukang perahu itu. Ceng Ceng melirik dengan sudut matanya. Jelas bahwa orang-orang kasar itu memberi uang dan disertai ancaman karena toya itu berarti ancaman kalau permintaan itu ditolak. Si tukang perahu mengambil kantung, membuka untuk melihat isinya yang hanya uang tembaga, juga dia memegang toya dan melihat­lihat benda itu seperti hendak menimbang-nimbang. Kemudian dia berkata, “Wah, penawarannya masih jauh berkurang, sobat! Bagaimana kalau ditambah nyawamu?” Dia lalu melontarkan kembali kantung uang dan toya.

Ceng Ceng terkejut. Betapa beraninya si tukang perahu! Dan dia melihat betapa semua orang di kedua perahu itu meru­bung dan melihat toya dan kantung uang, seolah-olah ada sesuatu yang aneh pada kedua benda itu. Terdengar teriakan lirih dari rombongan itu, “Si Jari Maut!”

Makin heran lagi hati Ceng Ceng ketika dia melihat dua orang tosu itu bangkit berdiri di perahu mereka dan seorang di antara keduanya menjura dengan membentuk tanda jari-jari tangan depan dada sambil berkata. “Harap sudi memaafkan kelakar anak buah kami dan persilakan lewat disertai salam persaha­batan kami!”

Si tukang perahu hanya tersenyum, lalu menggunakan dayungnya untuk melun­curkan perahunya lewat di antara kedua perahu yang telah minggir itu, melempar senyum mengejek ke arah mereka, kemu­dian berkata ke dalam perahu, “Nona Sian Cu, keluarlah, tidak ada bahaya lagi sekarang.”

Ceng Ceng membanting panci terisi bubur panas. Dia meloncat bangun dan menudingkan telunjuknya kepada si tu­kang perahu. “Keparat, mulutmu busuk sekali! Berani kau mengatakan aku seba­gai isterimu? Phuah, tak tahu diri, tu­kang perahu jembel busuk!”

Si tukang perahu mengangkat hidungnya. “Hemm, gadis dusun yang galak! Andaikata benar kau adalah isteriku, ma­ka engkaulah yang untung dan aku yang rugi benar!”

“Jahanam….!” Ceng Ceng tidak dapat menahan kemarahannya lagi dan dia sudah menerjang untuk menampar pipi orang itu. Biar kurontokkan giginya, pikirnya dengan marah.

“Wuuuttttt….!” Tamparan yang dilaku­kan dengan cepat sekali dan disertai tenaga sin-kang yang kuat itu hanya mengenai angin. Terkejutlah Ceng Ceng karena tidak disangkanya sama sekali bahwa tukang perahu itu memiliki gerak­an sedemikian cepatnya, dapat mengelak dari tamparannya. Padahal tamparan itu dilakukan secara tidak terduga dan cepat sekali sehingga jaranglah ada yang dapat mengelakkan begitu mudah! Dia menjadi penasaran sekali dan menerjang lagi, kini tidak lagi menampar, melainkan memukul secara bertubi-tubi dengan kedua tangannya!

“Wuuut-wuuut-wuuut-wuuutt….!” Semua pukulannya adalah jurus-jurus pilihan dan disertai tenaga sin-kang yang amat kuat, namun semuanya dapat dielakkan secara mudah oleh si tukang perahu!

“Ceng-moi, jangan….!” Sian Cu ber­seru.

“Biar!” Ceng Ceng membantah marah. “Dia kurang ajar, harus kupukul manusia jahanam ini!”

“Eh-eh-eh, beginikah engkau membalas budi orang?” Tukang perahu itu terse­nyum sambil mengejek. “Ditolong balas­nya memukul? Ini namanya diberi air susu dibalas dengan air tuba! Benar-­benar gadis galak yang tidak mengenal budi!”

“Setan sungai kau!” Ceng Ceng kini menubruk maju, kakinya menendang dan tangannya menyusul dengan tusukan jari tangannya ke arah perut tukang perahu.

“Wuuutttt…. dukkk!” Tubuh Ceng Ceng terhuyung ketika orang itu terpaksa menangkis tusukan tangannya. Namun hal itu membuat Ceng Ceng makin marah dan dia menerjang lagi.

“Adik Ceng, jangan….!”

“Biarlah, enci. Dia kurang ajar sekali. Dia tentu manusia busuk!” Dia meloncat dan mengirim pukulan yang amat berba­haya karena dia telah menggunakan jurus pilihan dari ilmu silat kong-kongnya.

Pukulan itu bersiut datang ke arah lambung tukang perahu, akan tetapi tiba­-tiba tubuh tukang perahu bergerak dan ternyata dia telah meloncati lewat bilik perahu ke bagian belakang perahu!

“Mau lari ke mana kau!” Ceng Ceng mengejar, juga meloncati bilik itu dan dari atas dia sudah mencengkeram de­ngan kedua tangannya. Namun si tukang perahu itu dengan tersenyum-senyum menyelinap ke bawah, menerobos melalui bilik perahu, dikejar dan memutari tiang layar sambil tertawa-tawa. Sementara itu, semua pukulan dan tendangan yang dilakukan oleh Ceng Ceng dengan kema­rahan meluap-luap itu sama sekali tidak ada hasilnya!

“Ceng-moi…. tahan dulu….!” Sian Cu memegang tangan Ceng Ceng dan beru­saha menahan gadis yang marah itu mengamuk.

“Enci, apakah kau tadi tidak mende­ngar omongan busuknya? Kalau aku tidak dapat memukul pecah mulutnya, aku tidak akan puas!” Dia menarik lengannya secara tiba-tiba sehingga pegangan Sian Cu terlepas dan kembali dia menendang sambil meloncat. Tendangan terbang yang berbahaya sekali, mengarah tenggorokan si tukang perahu.

“Heiiittt…. tendangan hebat!” Si tukang perahu mengelak sambil memuji dengan suara mengejek.

“Mampuslah….!” Ceng Ceng membalik­kan tubuhnya ketika tendangannya tidak mengenai sasaran, sambil membalik tubuhnya maju dan tangannya yang dike­pal menghantam dada.

“Eiiiiihhhh…. hebat, wahhh luput! Sayang sekali….!” Kembali si tukang perahu mengejek dan berhasil mengelak. Dapat dibayangkan betapa jengkel hati Ceng Ceng. Perahu bergerak-gerak mi­ring dan dia sudah menyerang bertu­bi-tubi, namun tidak berhasil sama sekali. Biarpun kini dia maklum bahwa tu­kang perahu itu ternyata lihai, namun kemarahannya membuat dia tidak mengenal takut dan hatinya tidak akan terasa puas sebelum dia berhasil merobohkan orang yang dibencinya itu.

“Adik Ceng…. ahhh, jangan! Lihat, perahu sudah miring…. kita bisa celaka….!”

Memang benar teriakan Sian Cu ini. Gerakan-gerakan dua orang yang berkejar-kejaran seperti tikus dengan kucing ini membuat perahu kehilangan arah dan miring-miring.

“Ha-ha-ha, biarkanlah, nona Sian Cu. Kalau perahu terbalik, baru nona galak itu tahu rasa. Kau jangan khawatir, tentu akan kutolong, tapi dia…. biar kembung perutnya terisi penuh air, ha­-ha-ha!”

“Jahanam busuk….!” Ceng Ceng hampir menangis dan kini dia mengeluar­kan sepasang belatinya. “Engkau harus mampus di tanganku!”

“Adik Ceng….!”

Ceng Ceng yang sudah “mata gelap” saking marahnya itu menyerang dengan dahsyat, tidak peduli akan perahu yang miring. Melihat datangnya dua sinar terang yang menyambarnya, tukang perahu secara tiba-tiba merendahkan tubuh berjongkok dan tiba-tiba Ceng Ceng merasa kedua tangannya lemas karena secara lihai dan tak tersangka sama sekali, dari bawah menyambar jari-jari tangan tukang perahu itu memapaki gerakan tangannya dan pergelangan tangannya telah ditotok sehingga tangan­nya yang lumpuh tak mampu lagi meme­gang sepasang belatinya dan dengan gerakan kilat, sepasang senjatanya itu telah dibuang ke dalam sungai oleh si tukang perahu. Sambil tertawa tukang perahu itu meloncat lagi melewati bilik dan berada di ujung perahu yang lain sambil menyeringai lebar.

“Heh-heh, kau boleh terjun keluar mengejar pisau-pisau dapur itu!”

Kemarahan yang memuncak membuat Ceng Ceng tidak sadar bahwa dia berha­dapan dengan seorang yang memiliki kepandaian yang amat tinggi, jauh lebih tinggi daripada tingkat kepandaiannya sendiri. Akan tetapi dia jengkel sekali, merasa terhina dan ingin dia menangis dan menjerit-jerit! Dia telah dibikin malu, dihina, dibuat tidak berdaya dan sepasang senjatanya dibuang begitu saja ke dalam sungai!

Tiba-tiba timbul akalnya untuk mem­balas dendam! Dia menubruk ke depan, disambarnya dayung, dua batang dayung dari perahu itu, bukan dipergunakan untuk senjata, melainkan dayung yang dua buah itu dilemparnya jauh-jauh keluar dari perahu, ke tengah sungai! Disambarnya tali layar, direnggutnya sampai putus dan dibuangnya pula, lalu dirobeknya layar.

“Heiii…. jangan….! Wah-wah-wah, celaka…. kau benar-benar liar!” Tukang perahu berteriak-teriak, mengangkat kedua tangannya untuk mencegah dan kelihatan bingung sekali. Melihat ini, terobatlah hati Ceng Ceng yang panas dan sakit, akan tetapi dia belum puas. Dia melihat buntalan si tukang perahu, maka cepat buntalan itu disambarnya pula.

“Jangan itu….!” Tukang perahu berteriak dan meloncat dengan kecepatan seperti burung terbang, melewati bilik dan tangannya diulur untuk merampas buntalan. Akan tetapi sambil tersenyum mengejek Ceng Ceng sudah melemparkan buntalan itu sampai jauh ke tengah sungai.

“Byuurrr….!”

“Wah, celaka….!” Tukang perahu berteriak dan diapun meloncat ke dalam air mengejar buntalannya yang dibuang. “Byuurr….!” Air muncrat ke atas dan tukang perahu lenyap, menyelam untuk mengejar buntalan yang sudah tenggelam. Tubuh tukang perahu terseret air yang mengalir cepat.

Ceng Ceng melongo, mukanya agak pucat. Melihat tukang perahu itu lenyap ditelan air, dia kaget dan merasa khawa­tir sekali. Kekhawatiran yang menimbul­kan penyesalan. Jangan-jangan tukang perahu itu akan mati terseret arus yang kencang, pikirnya. Buntalan itu tentu amat penting baginya. Mungkin segala harta milik tukang perahu yang miskin itu berada di dalam buntalan, maka tentu saja dia mati-matian mempertahan­kan miliknya dan jangan-jangan dia mengorbankan nyawa dalam mengejar buntalan.

“Ceng-moi…. celaka…. perahunya hanyut dan miring….!” Terdengar jerit Sian Cu. Ceng Ceng tersadar dan dia mendekati encinya. Segera diapun menja­di bingung. Perahu terseret dan terbawa arus yang kuat sekali dan karena perahu itu kehilangan kemudi, maka dipermain­kan air oleng ke kanan kiri. Ditambah lagi kepanikan mereka yang berdiri di perahu, menjaga keseimbangan badan ketika perahu oleng, malah menambah miring perahu. Kedua orang dara itu menjadi makin bingung!

“Bagaimana, Ceng-moi? Bagaimana kita harus menahan perahu? Mana dayungnya?” Sian Cu menjerit-jerit ngeri karena dia tidak pandai renang.

“Dayungnya….?” Ceng Ceng terkejut. Dayung, tali layar, semua telah dibuang­nya, bahkan layarnya telah dirobek-robek­nya! Dia tidak mampu menjawab, dan tidak tahu harus berbuat apa, untuk menyelamatkan perahu dan mereka ber­dua. Karena tidak dapat melakukan sesuatu, Ceng Ceng hanya merangkul dan melindungi Sian Cu dengan lengannya sambil berpegang erat-erat pada tihang layar yang terbuat dari bambu itu.

“Jangan bergerak-gerak, enci. Tenang saja agar perahu hanyut dengan tenang!”

Kedua orang dara itu tak bergerak dan benar saja, perahu itu tidak lagi miring-miring, akan tetapi setengahnya telah terendam air dan kini hanyut dengan kecepatan yang mengerikan. Untung bahwa bagian sungai itu tidak dalam dan tidak ada batu-batu menonjol sehingga perahu mereka dapat hanyut terus, tidak menabrak batu yang tentu akan membuat perahu tenggelam. Karena menghadapi bahaya maut yang mengeri­kan ini, kedua orang dara itu sudah lupa lagi kepada tukang perahu yang tadi meloncat ke air. Perahu hanyut dengan cepat dan memasuki sebuah dusun yang besar dan ramai. Di tempat ini banyak sekali perahu berada di sungai dan begitu perahu yang ditumpangi Ceng Ceng dan Sian Cu datang dengan cepatnya, geger­lah para nelayan di situ. Perahu-perahu yang berada di tengah dan sedang dida­yung seenaknya cepat-cepat didayung minggir.

“Minggir….! Perahu hanyut….!”

“Celaka…! Krakkkk….!”

“Braaakkkk! Krakkkk….!”

Teriakan-teriakan terdengar dan dua buah perahu yang tidak keburu minggir telah ditabrak oleh perahu yang hanyut itu sehingga terguling dan tenggelam, berikut perahu yang ditumpangi Ceng Ceng dan Sian Cu!

“Ceng-moi….!” Terdengar Sian Cu menjerit sebelum tubuhnya tenggelam.

“Enci Syanti!” Ceng Ceng juga men­jerit dan dara itu biarpun belum pernah belajar berenang, namun dia telah men­dengar bagaimana caranya berenang. Dia menggerak-gerakkan kedua lengannya dan menendang-nendangkan kakinya sehingga tubuhnya tidak tenggelam, akan tetapi karena gerakannya ngawur, tubuhnya segera terseret oleh arus deras.

Orang-orang di situ masih panik dan bingung karena peristiwa itu terjadi secara tiba-tiba dan tidak terduga-duga, maka tidak ada yang melihat gadis yang hanyut terbawa air yang kencang itu. Mereka yang tadinya duduk di dalam perahu yang pertama tertabrak, sebanyak lima orang, sudah berenang dan berusaha membalikkan perahu mereka. Adapun perahu kedua yang tenggelam, tidak tampak timbul kembali, juga penumpangnya, seorang laki-Iaki setengah tua, tidak kelihatan muncul di permukaan air.

Tiba-tiba terdengar banyak orang berteriak-teriak keheranan. Siapa tidak akan menjadi keheranan dan kagum sekali ketika melihat perahu kedua yang tenggelam tadi, tiba-tiba saja muncul dan perahu itu seperti bersayap, tahu-­tahu telah “terbang” di atas permukaan air dan terus mendarat! Di atas perahu itu seorang laki-laki setengah tua yang berpakaian basah kuyup memegang dayung panjang di tangan kanan dan me­ngempit tubuh Syanti Dewi di tangan kiri, berdiri dan mengatur keseimbangan perahu yang meluncur itu dengan tubuh­nya. Setelah perahu itu mendarat di atas pasir, setelah tadi “terbang” melalui beberapa buah perahu lainnya, laki-laki itu meloncat dari perahu, terus berjalan pergi dengan cepat sambil memondong Syanti Dewi atau Sian Cu yang masih pingsan!

Tentu saja semua orang terheran-­heran, apalagi setelah mereka berusaha mengejar, laki-laki itu telah lenyap tanpa meninggalkan bekas. Ramailah orang membicarakan orang yang aneh itu. Dari keterangan beberapa orang yang menge­nal laki-laki aneh itu, ternyata bahwa laki-laki yang usianya sekitar empat puluh tahun itu baru dua bulan lebih tiba di Kiu-teng, yaitu dusun di mana terjadi peristiwa hebat dan aneh itu tadi. Laki­-laki itu seringkali duduk di dalam perahu, termenung, kadang-kadang mengang­kut barang dagangan menyeberang atau ke tempat lain yang tidak begitu jauh. Orang itu pendiam, jarang sekali bicara akan tetapi karena pandang matanya dan tutur bahasanya yang jarang itu selalu manis budi, semua orang suka kepadanya. Dalam menerima biaya pengangkutan, orang itupun tidak cerewet sehingga mulai memperoleh banyak langganan. Anehnya, mereka yang mengenal orang itu, mereka sering kali melihat orang itu mengajak anak-anak kecil untuk bermain­-main, mengajar mereka berenang, ber­nyanyi dan bermain-main. Lebih menghe­rankan lagi, orang itu hampir selalu menghabiskan uang hasil pekerjaannya untuk menyenangkan hati anak kecil itu, bahkan beberapa kali dia membelikan pakaian untuk anak-anak yang miskin.

“Siapa namanya?” tanya seorang.

“Dia tentu seorang pendekar sakti yang menyamar!”

“Mungkin dia seorang dewa! Kalau manusia, mana mampu menerbangkan perahu?”

Orang yang mengenal laki-laki aneh itu menggelengkan kepalanya. “Itulah anehnya. Dia tidak pernah mau mengaku siapa namanya, hanya mengatakan bahwa dia she Gak, sehingga akupun hanya menyebutnya Gak-twako (kakak Gak). Anehnya, sikapnya biasa dan sederhana saja. Siapa tahu ternyata dia adalah seorang yang memiliki kesaktian sehebat itu!” Orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya penuh takjub.

Bagi yang mengenal laki-laki setengah tua itu tentu tidak akan heran menyaksikan kesaktiannya, karena orang itu bukan lain adalah Gak Bun Beng. Para pembaca ceritaSEPASANG PEDANG IBLIS tentu tidak akan pernah melupakan nama ini! Pada waktu itu, di dalam ceritaSEPASANG PEDANG IBLIS , Gak Bun Beng masih muda, seorang pemuda yang memiliki kesaktian yang luar biasa karena pemuda ini telah banyak mewarisi ilmu silat yang tinggi sekali, selain ketika masih kanak-kanak dia menjadi murid seorang tokoh sakti Siauw-lim-pai, ketika menjelang dewasa dia secara kebetulan mewarisi ilmu kesaktian peninggalan seorang manusia dewa yang bernama Koai Lojin. Bukan itu saja, bahkan pernah dia menerima warisan ilmu dari kakek sakti Bu-tek Siauw-jin datuk Pulau Neraka, dan per­nah pula menerima pendidikan sin-kang dari Pendekar Super Sakti! Di waktu dia masih muda saja dia telah memiliki kesaktian-kesaktian luar biasa itu, di antaranya adalah ilmu Lo-thian Kiam-­sut (Ilmu Pedang Pengacau Langit), Tenaga Sakti Inti Bumi dari Bu-tek Siauw-jin, gabungan tenaga sin-kang Swat-im-sin-kang dan Hui-yang-sin-kang dari Pendekar Super Sakti, di samping ilmu silat-ilmu silat lain yang kesemuanya bertingkat tinggi!

Hanya sayang pemuda yang tampan dan gagah perkasa itu malang nasibnya sehingga banyak mengalami kesengsaraan (baca cerita SEPASANG PEDANG IBLIS), bahkan pertalian cinta kasihnya dengan Milana, puteri sulung Pendekar Super Sakti, telah gagal dan putus…. Pada akhir ceritaSEPASANG PEDANG IBLIS , pemuda Gak Bun Beng yang mengunjungi Pulau Es, berpamit dari Pendekar Super Sakti, berpisah dari bekas kekasihnya, Milana, dan pergi tanpa meninggalkan jejak. Semenjak itu, sampai belasan tahun, tidak pernah terdengar namanya di dunia kang-ouw.

Gak Bun Beng menganggap bahwa nasib hidupnya itu sudah sewajarnya. Kalau dia melihat keadaan riwayatnya, dia bahkan menganggap dirinya masih beruntung karena tidak sampai terjeru­mus menjadi seorang penjahat. Ayahnya adalah seorang datuk sesat yang amat jahat, yang bernama Gak Liat dan dia sendiri dilahirkan di dunia karena keja­hatan ayahnya yang memperkosa seorang pendekar wanita Siauw-lim-pai! Dia seorang anak haram, keturunan seorang ayah yang jahat seperti iblis! Mengingat itu semua, Gak Bun Beng tidak pernah menyesali nasibnya dan dia malah me­nyembunyikan diri, hidup di antara rak­yat miskin sederhana, merantau ke pel­bagai tempat dan diam-diam tentu saja memperdalam ilmu-ilmunya. Akhirnya, kurang lebih dua bulan yang lalu, dia tiba di dusun Kiu-teng itu dan hidup sebagai seorang tukang perahu yang sederhana. Di tempat inipun, seperti di lain-lain tempat, dia tidak pernah memperkenalkan namanya kecuali hanya she-nya sehingga oleh tukang perahu lain yang mengenalnya dia hanya dikenal sebagai Gak-twako, seorang tukang pera­hu yang hidup sederhana dan pendiam, penyayang kanak-kanak.

Ketika pada hari itu Gak Bun Beng sedang melamun sambil duduk menanti pesanan orang yang akan menyewa pera­hunya, tiba-tiba perahunya menjadi kor­ban tabrakan perahu yang hanyut itu sehingga terguling dan tenggelam. Bun Beng tidak memperdulikan dirinya sendiri, pertama-tama yang menarik perhati­annya adalah teriakan-teriakan dua orang gadis yang ikut tenggelam bersama perahu yang hanyut itu. Ketika dia mendengar seorang di antara dua orang gadis itu menyebut nama “enci Syanti”, dia menjadi heran sekali. Nama itu terang bukan nama gadis Han! Tentu saja Bun Beng bermaksud menolong mereka, akan tetapi dia bukanlah seorang yang amat ahli dalam ilmu renang, maka dia hanya dapat menolong gadis terdekat. Setelah dia dapat meraih gadis yang pingsan itu dan mulai tenggelam lagi, Bun Beng menggunakan kepandaiannya menyelamatkan perahunya. Dengan keku­atan yang dahsyat dia menggunakan dayungnya sebagai alat menekan sehingga perahunya meluncur ke atas sedemikian kuatnya sehingga melampaui perahu lain dan dapat mendarat di atas pasir. Kare­na keadaan yang memaksanya itu, tanpa sengaja dia mengeluarkan kepandaiannya dan barulah dia teringat akan hal ini setelah perahunya mendarat. Dia menyesali kelengahannya dan terpaksa dia harus meninggalkan perahunya dari tem­pat itu karena kalau tidak, berarti dia membuka rahasianya yang selama belasan tahun ini disimpannya rapat-rapat. Hanya satu hal membuat dia kecewa, yaitu dia tidak dapat menolong gadis kedua yang telah hanyut terbawa arus air yang amat­ kuat. Dia tahu bahwa mengejarnya tidak akan ada gunanya dan gadis itu tentu tewas, kecuali kalau ada pertolongan yang tak tersangka-sangka.

Bun Beng membawa Syanti Dewi ke dalam kuil tua yang kosong di tengah hutan, di sebelah timur dusun Kiu-teng dan di lembah Sungai Nu-kiang, merebah­kan tubuh yang pingsan itu di atas lan­tai, kemudian mengeluarkan air dalam perut dara itu, mengurut beberapa jalan darah sampai dara itu mengeluh dan siuman.

“Ahhhhh….!” Syanti Dewi mengeluh dan bergerak, lalu membuka kedua mata­nya. Bun Beng memandang wajah itu dan di sudut hatinya terharu. Dia merasa yakin bahwa gadis ini tentulah gadis asing yang memiliki kecantikan khas agak mirip dengan Milana, bekas kekasih­nya yang memiliki darah Mancu bangsa­wan, karena Milana adalah cucu Kaisar Mancu!

Ketika Syanti Dewi mendapat kenyata­an bahwa dia rebah di dalam kamar tua dari tembok yang sudah retak-retak, di atas lantai yang kotor, kemudian melihat seorang laki-laki berusia kurang dari empat puluh tahun berjongkok tidak jauh darinya, dia terkejut dan cepat bangkit duduk. Kenyataan pertama bahwa pakaiannya basah kuyup, maka teringatlah dia akan peristiwa yang mengerikan itu ketika perahu yang hanyut itu tenggelam membawa dia dan Ceng Ceng tenggelam pula.

“Di…. di mana aku? Siapakah paman….?”

Biarpun ucapannya itu dikeluarkan da­lam keadaan bingung dan terkejut, namun jelas terdengar kehalusan budi bahasa gadis itu.

“Tenanglah, nona. Engkau telah dapat terbebas dari bahaya tenggelam di sungai dan aku adalah seorang tukang perahu yang kebetulan melihat engkau tenggelam bersama perahu hanyut itu.” Kata Bun Beng dengan suara halus menghibur.

Tiba-tiba sepasang mata dara itu terbelalak dan dia bertanya, “Bagaimana dengan Ceng-moi? Di mana Ceng-moi….?”

“Engkau maksudkan gadis kedua yang turut terguling dan tenggelam dengan perahu hanyut itu?” Bun Beng bertanya.

“Benar…. kami berdua di perahu itu…. bagaimana dengan Ceng-moi? Di mana dia….? Ceng-moi….!” Syanti Dewi menjerit dan memanggil nama adik angkatnya, penuh kekhawatiran.

Bun Beng menggeleng kepalanya dan menghela napas. “Menyesal sekali bahwa tenagaku terbatas, aku hanya berhasil menyelamatkanmu, nona. Adapun nona kedua itu…. aku melihat sendiri dia terseret dan hanyut oleh arus sungai yang amat deras dan kuat….”

Makin terbelalak sepasang mata itu, dan muka Syanti Dewi menjadi pucat sekali. “Paman….! Kau…. maksudkan…. dia…. Ceng-moi….?”

Bun Beng mengangguk. “Kalau tidak terjadi hal yang luar biasa, aku khawatir sekali bahwa dia akan tewas. Air itu deras sekali dan amat dalam.”

“Ceng-moi….!” Syanti Dewi menjerit lalu menangis sesenggukan, menutupi muka dengan kedua tangannya. Bun Beng memandang dengan alis berkerut, akan tetapi dia diam saja karena maklum bahwa pada saat seperti itu, hanya tangis yang merupakan obat terbaik bagi dara ini.

“Ceng-moi…. aihhh…. Candra adik­ku, bagaimana aku dapat hidup tanpa kau? Bagaimana aku berani melanjutkan perjalanan tanpa engkau….? Adik Candra…. tega benar engkau meninggalkan aku…. hu-hu-huhhhh, lalu aku bagaimana….?”

Mendengar wanita muda itu menyebut gadis kedua dengan nama Ceng-moi dan juga adik Candra, Bun Beng merasa heran. Akan tetapi kerut di alisnya mendalam dan tiba-tiba dia berkata, suaranya penuh nada teguran, “Nona, tak kusangka bahwa hatimu kejam dan eng­kau mementingkan dirimu sendiri saja!”

Mendengar teguran aneh ini, tentu saja Syanti Dewi terkejut dan merasa heran sehingga sejenak dia lupa akan tangisnya, mengangkat muka yang pucat dan basah dengan mata merah, meman­dang tukang perahu itu sambil bertanya dengan suara tergagap, “Paman…. apa…. apa maksudnya….? Aku kejam…., terhadap siapa….?”

“Terhadap siapa lagi kalau bukan terhadap adikmu itu?”

“Paman!” Syanti Dewi bertanya de­ngan suara keras karena penasaran. “Apa maksudmu dengan kata-kata itu? Aku kejam terhadap adik Ceng Ceng?”

Bun Beng menarik napas panjang. “Ahhh, aku sampai lupa bahwa engkaupun hanya seorang gadis yang tentu saja takkan berbeda dengan seluruh manusia di dusun ini, hidupnya penuh dengan keakuan yang selalu mementingkan diri sendiri. Akan tetapi, coba engkau sadari­lah, nona. Engkau menangis dan berduka ini, terus terang saja, yang engkau ta­ngisi dan dukakan ini karena adikmu itu mungkin mati, ataukah engkau menangis dan berduka karena engkau ditinggalkan oleh dia yang kausandari? Engkau mena­ngisi dia ataukah engkau menangisi dirimu sendiri?”

Syanti Dewi terkejut bukan main! Ucapan itu terdengar olehnya seperti halilintar menyambar di tengah hari terik, dan memasuki hatinya seperti setetes air dingin sekali di waktu panas. Sejenak dia melongo dan tercengang, hanya memandang orang itu tanpa dapat berkata-kata, dan otomatis tangisnya pun berhenti!

Bun Beng lalu membuat api unggun tanpa berkata-kata, lalu keluar dari dalam kamar kuil tua dan berkata dari luar kamar, “Sekarang yang terpenting menjaga jangan sampai engkau jatuh sakit. Tanggalkan semua pakaianmu dan lemparkan keluar agar dapat kujemur sampai kering. Sementara menanti pakai­an kering, kau duduklah dekat api ung­gun. Dan engkau tidak perlu khawatir, nona. Di tempat ini tidak orang lain kecuali kita berdua, dan aku akan men­jaga di luar kuil.”

Teguran atas tangisnya tadi masih menghunjam di ulu hatinya, masih berke­san dalam sekali di hatinya, maka seper­ti dalam mimpi, dengan mata masih tertuju ke arah pintu dari mana laki-­laki itu keluar, tanpa ragu-ragu Syanti Dewi menanggalkan semua pakaiannya satu demi satu lalu menggulung semua pakaian itu dan melempar keluar pintu. Hanya tampak sebagian lengan tangan menyambar gulungan pakaian itu, lalu lenyap. Syanti Dewi duduk mendekati api unggun, menutupi dadanya dengan ram­butnya yang dilepas kuncirnya. Dia ter­menung, terheran-heran memikirkan laki­-laki aneh yang ucapannya menusuk hati­nya dengan tepat sekali, membuat tangis­nya terhenti seketika karena dia kini malu sendiri kalau harus menangis, kare­na tak dapat dibantahnya bahwa tangis­nya tadi terutama sekali karena merasa khawatir dan iba kepada dirinya sendiri, bukan kepada Ceng Ceng! Dia menangis karena ditinggalkan. Karena DIA yang ditinggalkan, karena DIA kehilangan kawan baik, karena DIA kini menghadapi masa depan di istana kerajaan asing seorang diri saja! Kini dia termenung dan merasa heran tiada habisnya karena sedikit ucapan itu menggugah kesadaran­nya, membuat dia melihat kepalsuan dalam liku-liku kehidupan manusia. Apakah semua tangis yang dikucurkan, semua perkabungan jika ada kematian kesemuanya itu seperti tangisnya tadi juga, semua itu palsu, belaka dan yang menangis itu sesungguhnya hanya mena­ngisi dirinya sendiri saja, bukan menangis demi yang mati?

Bun Beng memeras pakaian gadis itu sampai hampir kering sehingga dijemur sebentar saja pakaian itu sudah kering betul. Pakaian itu digulungnya dan dari luar kamar kuil itu dia berkata, “Nona, pakaianmu sudah kering semua. Terima­lah dan segera pakai kembali pakaian­mu!” Gulungan pakaian itu dia lemparkan ke dalam dan kembali hanya sebagian lengannya saja yang tampak.

Syanti Dewi merasa bersyukur dan berterima kasih sekali. Cepat dia menge­nakan kembali pakaiannya. Di dalam hatinya dia bersyukur kepada Thian bahwa setelah kehilangan Ceng Ceng, kini dia bertemu dengan orang yang demikian baik budinya, seorang laki­-laki yang bukan hanya telah menyela­matkan nyawanya, akan tetapi juga yang secara aneh telah menyadarkan batinnya dan kini bersikap demikian sopan kepadanya!

“Aku sudah berpakaian, paman. Harap suka masuk agar kita dapat bicara,” katanya.

Bun Beng melangkah masuk dan kembali mereka duduk di atas lantai, saling berhadapan. Tanpa malu-malu Syanti Dewi kini menatap laki-laki itu dan terkejutlah dia karena baru sekarang tampak olehnya bahwa orang yang berada di depannya jelas bukanlah seorang tu­kang perahu biasa! Sinar mata laki-laki itu demikian tajam dan berwibawa, namun mengandung kehalusan pandang mata yang penuh kasih sayang dan iba hati. Wajah itu tampan dan kulitnya halus, kumis dan jenggotnya terpelihara, seluruh tubuhnya membayangkan pera­watan dan kebersihan, bahkan kuku-­kuku jari tangannya pun terawat seperti tangan seorang sastrawan, pakaiannya sederhana namun bersih pula. Bukan seorang tukang perahu biasa, agaknya seorang sastrawan yang menyamar sebagai rakyat jelata! Di lain fihak, Bun Beng yang memperhatikan wajah gadis itu, juga dapat menduga bahwa gadis ini selain asing karena nama dan bentuk mukanya, juga tentu seorang gadis terpe­lajar tinggi.

“Nona siapakah?” Bun Beng bertanya singkat.

“Namaku Lu Sian Cu. Boleh aku mengetahui namamu, paman?”

“Sebut saja aku paman Gak. Akan tetapi kuharap engkau tidak merahasia­kan namamu karena aku telah mendengar gadis kedua itu meneriakkan namamu, yaitu Syanti.”

Syanti Dewi tercengang dan maklum bahwa tiada gunanya untuk membohong kepada orang yang jelas beriktikad baik terhadap dirinya itu. “Memang Lu Sian Cu adalah nama baruku, paman. Nama yang ku­pakai dalam perjalanan bersama adikku itu. Nama aseliku adalah Syanti Dewi….” Dara itu berhenti untuk melihat reaksi pada wajah laki-laki itu. Namanya adalah nama puteri Kerajaan Bhutan, tentu laki-­laki itu akan menjadi terkejut mendengar­nya. Akan tetapi, tidak ada reaksi apa-­apa pada wajah laki-laki itu, dan me­mang Bun Beng tidak pernah mendengar nama ini, bahkan dia selama belasan tahun tidak mau mencampuri urusan dunia, tidak pula memperhatikan segala peristiwa yang terjadi mengenai pemerin­tah dan kerajaan manapun juga!

“Engkau dari suku bangsa apakah, nona?”

Kini tahulah Syanti Dewi bahwa laki­-laki ini memang tidak mengenal namanya sama sekali! Hal ini mengherankan hati­nya, karena daerah ini belum jauh dari Bhutan. Memang namanya yang tidak dikenal orang, ataukah laki-laki ini yang bodoh?

“Aku berbangsa Bhutan….!”

“Ah…. dan engkau bersama adikmu datang dari Bhutan berdua saja? Hendak ke manakah dan mengapa kalian hanya pergi berdua? Kuharap kau suka menceritakan semua kepadaku agar aku menjadi jelas ke mana aku selanjutnya harus mengantarmu.”

Bukan main girang dan lega rasa hati Syanti Dewi. Benar-benar dia telah ditemukan oleh Thian dengan orang ini yang demikian baik hati! Maka dia lalu bangkit berdiri dan menjura dengan hormat kepada Bun Beng, yang dibalas oleh laki-laki itu dengan semestinya.

“Paman, aku menghaturkan banyak terima kasih atas pertolonganmu, dan lebih banyak terima kasih lagi bahwa paman akan sudi melanjutkan pertolongan paman itu untuk mengantar aku sampai ke tempat tujuan. Akan tetapi, hal itu berarti bahwa aku akan membuat paman repot sekali!”

“Ah, tidak ada kerepotan apa-apa, nona. Dan akupun bukan menolong. Sudah sewajarnyalah kalau aku menolong seo­rang gadis muda yang kini hanya mela­kukan perjalanan seorang diri saja.”

“Tapi perjalananku amat jauh, paman.”

“Hemm, sejauh manakah?”

“Sampai ke kota raja Kerajaan Ceng.”

“Hehhh….?” Bun Beng menjadi kaget, juga sama sekali tidak menyangka­nya bahwa gadis ini berniat pergi ke kota raja! Akan tetapi dia menduga bahwa tentu ada urusan yang luar biasa pentingnya, maka segera dia berkata, “Memang jauh sekali ke sana, akan tetapi kalau memang perlu, aku bersedia mengantarmu ke sana, nona.”

Kebaikan yang dianggapnya berlebihan ini membuat Syanti Dewi meragu. “Akan tetapi, paman…. kabarnya perjalanan ke sana menghabiskan waktu berbulan, bagaimana paman dapat meninggalkan keluarga paman….?”

Bun Beng tersenyum dan Syanti Dewi makin kagum. Laki-laki ini tampan dan gagah, juga giginya yang tampak sekilat itu terawat baik, tidak seperti gigi sebagian besar tukang perahu atau orang-­orang dusun yang dijumpainya.

“Jangan khawatir, nona. Aku hidup seorang diri di dunia ini, tiada handai taulan, tiada sanak keluarga, tiada rumah tangga. Akan tetapi, karena perjalanan itu jauh sekali, maka aku tadi mengata­kan bahwa kalau perlu, baru aku bersedia mengantarmu. Maka harus dilihat keper­luannya dulu. Kalau saja engkau mau menceritakan semua riwayatmu kepadaku, mengapa engkau hendak ke kota raja, dan bagaimana engkau dan adikmu itu sampai terbawa perahu hanyut. Kalau kuanggap memang sepatutnya engkau ke kota raja, tentu akan kuantar.”

Kembali sang puteri menatap wajah Bun Beng sampai beberapa lama, seolah-­olah hendak menyelidiki keadaan hati orang itu, kemudian berkata, “Paman Gak, terus terang saja kukatakan bahwa riwayatku merupakan rahasia besar yang menyangkut negara, bahkan menyangkut juga mati hidupku. Sekali aku keliru menceritakannya kepada orang yang tidak dapat dipercaya, celakalah aku.”

“Aku tidak perlu membujuk agar engkau mempercayaiku, nona. Hanya, untuk mengantarmu ke tempat yang demikian jauhnya, aku harus memperoleh kepastian dulu akan alasannya.”

“Aku sudah percaya kepadamu, paman Gak. Kalau engkau bukan orang yang dapat dipercaya, agaknya aku telah mati atau mungkin bernasib lebih buruk lagi. Baiklah, aku akan menceritakan semua keadaanku. Pertama-tama, aku adalah Puteri Syanti Dewi, puteri dari Raja Bhutan.” Puteri itu berhenti, hendak melihat reaksi wajah orang itu. Namun, tidak ada reaksi apa-apa, seolah-olah orang she Gak itu menganggap seorang puteri raja sama saja dengan seorang gadis dusun anak petani atau nelayan! Hal ini sedikit banyak mendatangkan kekecewaan di dalam hati Syanti Dewi, dan dia cepat melanjutkan, “Dan aku adalah calon mantu Kaisar Ceng!”

Akan tetapi, Bun Beng tidak kelihatan kaget, hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan memandang tajam, seolah­-olah hendak menjenguk isi hati dara itu. Syanti Dewi menghela napas. Dia kecele kalau ingin melihat wajah orang itu berubah kaget. Agaknya urusan yang menyangkut nama segala raja di raja tidak menggetarkan sedikitpun juga di hati orang itu.

“Rombongan utusan kaisar telah menjemputku di Bhutan, Gak-siok-siok (paman Gak) dan dalam rombongan yang dikawal oleh lima ratus orang pasukan Bhutan itu aku ditemani oleh Ceng-­moi.”

“Adikmu yang bernama Candra itu?”

“Dia hanya adik angkat, nama aseli­nya adalah Lu Ceng, dan nama barunya Candra Dewi, jadi keadaannya berbalik dengan diriku. Dia seorang gadis Han yang memiliki ilmu silat yang lihai sekali.”

Bun Beng mengangguk-angguk, hatinya senang juga mendengar seorang puteri raja mau mengangkat saudara dengan seorang gadis biasa, hal yang membukti­kan bahwa puteri yang ditolongnya ini adalah seorang wanita yang berbudi baik!

SyantiDewi lalu menceritakan semua pengalamannya, semenjak berangkat dari istana Bhutan sampai mereka diserbu pasukan musuh yang amat besar jumlah­nya. Diceritakannya betapa dia bersama Ceng Ceng, dikawal oleh kakek gadis itu, terpaksa menyamar dan melarikan diri karena gelagatnya tidak baik, betapa kakek itu tewas dalam membelanya dan kemudian dia bersama adik angkatnya itu melarikan diri berdua, mengalami segala kesengsaraan sampai akhirnya terbawa perahu yang hanyut, dan dia tertolong oleh paman Gak itu.

“Demikianlah, paman. Sungguh tidak saya sangka bahwa kalau demikian buruk nasib Ceng-moi. Kasihan sekali dia…. demi keselamatanku, dia dan kakeknya sampai mengorbankan nyawa.”

“Hemm, kita belum yakin benar bahwa nona Ceng itu akan tewas. Akan tetapi, tukang perahu yang membawa kalian itu, sungguh menarik dia. Benar­kah dia itu memiliki kepandaian yang hebat?”

“Dia lihai sekali. Hal ini baru kami ketahui setelah adik Ceng marah-marah dan menyerangnya. Ternyata dia memiliki kepandaian yang lebih daripada kepandai­an Ceng-moi yang sudah amat lihai itu. Dan baru saya dapat menduga bahwa para pencegat dalam dua buah perahu itu tentulah jerih terhadap dia, entah menga­pa, bahkan ada yang membisikkan nama julukan Si Jari Maut.”

Bun Beng mengangguk-angguk. Tak disangkanya bahwa dia akan bertemu dengan urusan sebesar ini! Yang ditolong­nya adalah puteri Raja Bhutan, calon mantu kaisar! Dan ternyata di derah barat terjadi pemberontakan yang besar pula. Dia tidak ingin terseret ke dalam urusan apapun juga, akan tetapi setelah secara kebetulan dia menolong puteri ini, tak mungkin pula dia membiarkannya saja pergi seorang diri yang tentu merupakan hal yang amat berbahaya sekali.

“Ketika engkau masih bersama nona Ceng, ke manakah tujuan kalian melari­kan diri?”

“Kami hanya mentaati pesan kakek dari Ceng-moi, yaitu disuruh melarikan diri ke kota raja Kerajaan Ceng dan menemui seorang puteri kaisar di sana.”

“Puteri kaisar?” Bun Beng meman­dang dengan jantung berdebar tegang.

“Ya, namanya Puteri Milana….”

Bun Beng menelan seruan kagetnya, akan tetapi dia tidak dapat menyembu­nyikan wajahnya yang menjadi merah. Perubahan pada wajah ini tampak pula oleh Syanti Dewi yang cepat bertanya, “Ada apakah, paman?”

“Tidak ada apa-apa,” jawab Bun Beng yang segera bangkit berdiri dan terme­nung sejenak. Kemudian dia berkata, “Sebelum kita berangkat ke kota raja yang jauh itu, mari kita mencoba untuk mencari adikmu itu. Siapa tahu dia dapat menyelamatkan diri….”

Keduanya lalu menyusuri Sungai Nu­-kiang, akan tetapi sampai puluhan li jauhnya, mereka tidak melihat ada tanda-­tanda bahwa Ceng Ceng mendarat, akan tetapi juga tidak ada melihat mayat gadis itu. Akhirnya, terpaksa Bun Beng mengajak dara itu menghentikan usaha mereka mencari Ceng Ceng dan mulailah dia mengantarkan dara itu ke kota raja, sebuah perjalanan yang amat jauh sekali dan akan memakan waktu berbulan!

***

“Kau tidak boleh melakukan hal seperti itu, Bu-te! Engkau bisa disangka hendak berbuat kurang patut!”

Mendengar teguran kakaknya itu, Kian Bu tersenyum lebar, “Ahhh, Lee-ko. Perduli apa dengan persangkaan kosong? Buktinya yang penting, dan engkau tentu tahu betul bahwa aku sama sekali tidak ingin melalukan sesuatu yang kurang patut! Aku hanya ingin berkenalan dan mendapat kesempatan bercakap-cakap dengan seorang gadis cantik. Apa salah­nya itu?”

Mau tidak mau Kian Lee tertawa. Memang adiknya ini bengal sekali dan bagi yang tidak mengenalnya betul, tentu perbuatannya akan dianggap sebagai perbuatan kurang ajar dan melanggar susila. Seminggu yang lalu, adiknya itu sudah mempraktekkan kebengalannya. Ketika melihat sebuah joli digotong angin nakal menyingkapkan tirai memperlihatkan bahwa yang berada di dalam joli itu duduk seorang gadis cantik, tanpa ragu-­ragu sama sekali Kian Bu mengejar joli, membuka tirai dan berseru girang, “Haiii, nona Liem….! Engkau hendak ke manakah?”

Tentu saja empat orang penggotong joli mengira bahwa pemuda tampan itu memang kenalan atau anggauta keluarga si nona cantik yang mereka gotong, dan baru mereka tahu bukan demikian halnya ketika terdengar nona itu menjawab dengan nada heran dan marah, “Siapa kau? Aku tidak mengenalmu!”

“Eh, eh, Liem-siocia. Masa lupa lagi kepadaku? Aku Suma….”

“Aku tidak kenal orang she Suma. Dan aku bukan she Liem, aku she Kiem!” nona itu membentak pula, sedangkan tukang joli terpaksa berhenti dan mem­beri kesempatan kepada muda-mudi itu untuk bercakap-cakap.

Suma Kian Bu pura-pura kaget. “Aihh…. maaf, maafkanlah aku, Kiem-siocia. Kau mirip benar dengan Liem-siocia yang…. cantik. Kalau begitu perkenalkanlah, aku…. Suma Kian Bu….”

“Tukang joli, hayo jalan terus!” Nona itu berkata marah dan menutupkan tirai joli.

Ketika joli itu sudah berjalan jauh, Suma Kian Bu hanya tertawa-tawa men­dengarkan teguran kakaknya. “Salah-­salah kau bisa disangka jai-hwa-cat, penjahat tukang perkosa wanita!” Suma Kian Lee mengakhiri tegurannya.

Sekarang baru sepekan kemudian, sudah kumat pula penyakit Suma Kian Bu dan pemuda ini menyatakan hendak “belajar kenal” dengan seorang puteri yang naik joli. Melihat betapa joli itu tertutup rapat tanda bahwa penumpang­nya adalah seorang wanita muda yang tidak mau memperlihatkan diri, Kian Lee mencegah adiknya.

“Biarlah, kalau begitu besok pagi aku akan mencegat dia di depan kelenteng,” kata Kian Bu. “Aku penasaran kalau belum melihatnya. Menurut kata pemilik warung dekat kelenteng, sudah beberapa hari ini nona itu setiap pagi pergi ke kelenteng dan kabarnya cantik sekali.”

“Huh, mata keranjang kau!” Kian Lee berkata. “Biarlah besok kau keluar sendiri, aku tidak sudi melihat kau berbuat ce­riwis terhadap wanita!”

Seperti telah diceritakan di bagian depan, kakak beradik dari Pulau Es ini mulai dengan perantauan mereka. Dengan perahu mereka meninggalkan Pulau Es dan berkat petunjuk peta yang dibuat oleh Pendekar Super Sakti, ayah mereka, kali ini tanpa banyak kesulitan mereka dapat mencapai daratan besar. Mereka lalu mulai melakukan perjalanan yang amat jauh itu, menuju ke kota raja untuk menemui kakak mereka, yaltu Puteri Milana. Akan tetapi karena baru kali itu mereka merantau, mereka tidak tergesa-gesa dan di setiap tempat yang menyenangkan hati, mereka berhenti sampai dua tiga hari. Bekal mereka cukup banyak sehingga mereka tidak khawatir kehabisan bekal uang untuk beaya makan dan penginapan.

Tidak dapat terlalu disalahkan kalau dua orang pemuda itu, terpesona menyak­sikan tamasya alam yang amat indah, yang tidak dapat mereka lihat di Pulau Es, melihat kota-kota besar dan dusun-­dusun yang ramai, apalagi terpesona melihat gadis-gadis cantik yang selama hidup belum pernah mereka lihat. Hanya bedanya, kalau Kian Lee tetap bersikap tenang-tenang saja, adalah Kian Bu yang seperti cacing kepanasan dan setiap kali bertemu gadis cantik, ingin sekali dia berkenalan! Dorongan hasrat yang wajar saja, sama sekali tidak terkandung nafsu berahi atau keinginan yang tidak patut!

Mereka terpaksa bermalam satu malam lagi di rumah penginapan di kota itu karena Kian Bu rewel tidak mau melanjutkan perjalanannya sebelum sem­pat “berkenalan” dengan nona dalam joli yang setiap pagi pergi ke kelenteng, dengan menggunakan “siasatnya” yang hanya dapat diciptakan otak seorang pemuda yang memang memiliki watak urakan (ugal-ugalan) tapi tidak kurang ajar.

Besoknya, pagi-pagi sekali Kian Bu sudah menanti di tepi jalan, dekat kelen­teng, dia meninggalkan kakaknya yang masih tidur di atas pembaringan dalam kamar pembaringan. Jantungnya berdebar tegang dan sebentar-sebentar dia terse­nyum membayangkan betapa dia akan dapat berhadapan dengan gadis cantik dalam joli dan dapat bercakap-cakap! Siapa tahu, kalau awak sedang untung, dia akan mendapatkan tanggapan baik dan akan dapat bersahabat, sungguhpun dia hanya ingin melihat kata-kata ramah dan senyum manis ditujukan kepadanya, lain tidak!

Jantungnya berdebar makin tegang ketika dia melihat joli yang dinanti­-nantikannya dari jauh. Tak salah lagi, tentu dia, pikirnya. Tidak ada joli lain yang digotong menuju ke kelenteng!

“Hendak ke mana, lopek?” tanyanya kepada penggotong joli terdekat. Penggo­tong joli itu melirik tanpa menoleh dan menjawab singkat, “Ke kelenteng.”

Kian Bu lalu menghampiri joil dan berteriaklah dia dengan suara girang sambil tangannya menyingkap tirai. “Haiii, kiranya nona Thio…. hahhh….?” Matanya terbelalak ketika melihat bahwa yang berada di dalam joli itu ternyata adalah Suma Kian Lee, kakaknya sendiri!

Joli dihentikan, Kian Lee meloncat keluar dan tertawa, mentertawakan adiknya yang membanting-banting kaki dan bersungut-sungut karena empat orang penggotong joli sudah tertawa, demikian pula beberapa orang yang menyaksikan peristiwa itu di tepi jalan.

“Lee-ko, engkau terlalu….!” Kian Bu berkata, akan tetapi dia tidak memban­tah ketika tangannya ditarik oleh kakak­nya, diajak kembali ke penginapan untuk mengambil buntalan mereka.

“Bu-te, kalau tidak begitu engkau tidak akan bertobat, Kau tidak boleh melakukan hal itu, karena biarpun aku yakin bahwa engkau tidak berniat kurang ajar, namun engkau membuat seorang gadis merasa malu dan terhina. Salah-­salah engkau akan terlibat dalam perke­lahian, padahal ayah sudah berpesan keras-keras bahwa kita tidak boleh men­cari gara-gara di dalam perjalanan!”

“Sudahlah, sudahlah, aku memang bersalah besar!”

“Engkau tidak salah besar, Bu-te, akan tetapi engkau terlalu jahil dan kenakalanmu itu dapat mengakibatkan urusan besar. Engkau suka mengganggu gadis, padahal engkau tidak tahu dia siapa, anak siapa, dan engkau menda­tangkan rasa terhina dan malu kepadanya. Padahal semua itu kaulakukan hanya untuk main-main, bukan karena memang engkau sungguh tertarik dan suka kepa­danya.”

“Kalau begitu, andaikata aku tertarik benar-benar kepada seorang gadis, aku boleh…. eh, belajar kenal dengannya?”

“Tentu saja boleh, asal caranya tidak kurang ajar dan sewajarnya. Bukan de­ngan cara urakan menegur orang di jalan pura-pura kenal macam yang kaulakukan itu!”

Wajah tampan dari Kian Bu berseri gembira, lenyap sudah kemengkalan hatinya karena penipuan kakaknya tadi. Memang demikianlah watak Kian Bu. Lincah, kocak, nakal, periang, mudah marah dan mudah tertawa lagi. “Bagus! Kalau begitu aku akan mencari akal lain yang lebih baik “ Dia melihat kakak­nya melotot dan cepat menyambung, “yaitu kalau aku sudah tertarik benar-benar kepada seorang gadis.”

“Kau memang mata keranjang dan nakal!” Kakaknya mengomel.

“Eh, Lee-ko, apakah kau tidak terta­rik dan suka melihat gadis cantik? Mere­ka itu begitu cantik, begitu manis, suara­nya begitu halus merdu, lirikan dan senyuman semanis madu, gerak-geriknya menyenangkan. Aku tidak percaya kalau tidak suka pula menyaksikan seorang gadis cantik.”

“Biarpun suka, akan tetapi tidak boleh diutarakan secara kasar seperti kelaku­anmu.”

“Hore! Jadi kaupun suka, koko? Bagus, kalau begitu bukan aku sendiri yang suka melihat gadis cantik! Eh, engkau lebih suka yang bagaimana, koko? Aku suka gadis yang lincah, yang kocak pandang matanya, yang murah senyumnya, yang pandai bergaul, seperti lagak seekor burung murai yang tak pernah diam dan selalu berkicau meriah dan merdu.”

Di dalam hatinya, Kian Lee merasa tidak senang dan malu harus bicara tentang wanita, akan tetapi hanya untuk melawan dan mencela adiknya, dia men­jawab juga, “Sama sekali tidak seperti engkau, aku suka kepada seorang dara yang sopan santun, pendiam, dan menyembuyikan keramahan di balik keso­panan dan kesusilaan.”

“Wah-wah-wah, kalau begitu engkau lebih baik memilih sebuah patung saja, Lee-ko! Ha-ha-ha!”

“Sudahlah, mari kita melanjutkan perjalanan. Aku muak mendengar obrol­anmu tentang wanita.”

Demikianlah, kakak beradik yang wataknya berbeda seperti bumi dengan langit ini tidak pernah rukun di dalam perjalanan, dalam arti kata, rukun dalam sifat mereka. Mereka selalu tidak sepen­dapat mengenai cara hidup, apalagi kalau ada hubungannya dengan pergaulan dan wanita. Mereka hanya rukun dan saling membela mati-matian kalau ada urusan yang langsung mengenai diri mereka. Kian Lee amat mencinta dan membela adiknya, mendahulukan keperluan adiknya daripada keperluannya sendiri. Sebaliknya Kian Bu amat mencinta kakaknya dan amat patuh, sungguhpun pada lahirnya dia suka membantah, dan diam-diam dia kagum dan berterima kasih atas segala kebaikan yang dilimpahkan kakaknya kepadanya.

Watak Suma Kian Bu di samping keriangan dan kelincahannya, juga amat romantis. Dia menikmati keindahan alam dengan cara terbuka, dengan wajah berseri, mata bercahaya dan mulut tiada hentinya mengeluarkan puji-pujian, menga­gumi bunga-bunga yang indah, suka akan makanan enak, suka mendengarkan nyanyian merdu, suka akan pakaian-pakaian indah, suka mempersolek diri, suka bernyanyi-nyanyi dan tentu saja suka sekali melihat dara cantik! Sungguh merupakan kebalikan dari sifat Suma Kian Lee yang pendiam, tidak suka bicara kalau tidak penting, biarpun suka mengagumi keindah­an, namun rasa sukanya itu dipendam dalam batin saja, berpakaian sederhana tidak mengutamakan keindahan melainkan yang enak dipakai, mengutamakan kesusi­laan dan sopan-santun yang bukan paksa­an melainkan timbul dari watak aselinya yang menghargai orang lain.

Betapapun juga, perangai Kian Bu yang riang gembira itu kadang-kadang menular kepadanya sehingga kalau selagi senang hatinya mendengar Kian Bu bernyanyi-nyanyi, dia ikut pula bersenandung sungguhpun tidak bernyanyi dengan nya­ring mengeluarkan semua kegembiraan hatinya melalui nyanyian seperti adiknya itu. Apalagi sikap adiknya yang amat suka akan wanita cantik, kadang-kadang membuatnya termenung dan dia harus mengakui diam-diam bahwa tidak ada kecantikan bunga dan keindahan alam yang melebihi wajah seorang dara, tidak ada suara merdu yang melebihi suara seorang dara!

Pada suatu hari, ketika mereka tiba di sebuah dusun dan karena kemalaman mereka bermalam di sebuah penginapan kecil dan sedang duduk di serambi sambil minum arak hangat, tiba-tiba mereka melihat sebuah kereta yang dikawal oleh rombongan piauwsu berhenti di depan rumah penginapan itu. Kepala pengawal mendekati kereta dan menyingkap tirai, sedangkan pembantu-pembantunya mena­han kuda yang berbusa mulutnya. Agak­nya empat ekor kuda itu sudah bekerja berat, lari melalui jarak jauh sehari itu.

Tiba-tiba ujung kaki Kian Bu menyen­tuh betis kakaknya sebagai isyarat. Kian Lee mengangkat mata melirik adiknya dan menoleh ketika melihat adiknya memandang ke arah kereta. Pintu kereta terbuka, tirai disingkapkan dan turunlah seorang gadis berusia kurang lebih enam ­belas tahun, cantik jelita seperti seorang bidadari turun dari kahyangan. Gerak­geriknya begitu halus gemulai ketika dia turun dari kereta dibantu oleh seorang wanita setengah tua dan seorang laki-­laki setengah tua yang agaknya adalah ayah bundanya.

Sejenak dara itu berdiri di serambi depan ketika ayahnya bicara dengan pengurus penginapan minta disediakan kamar bagi mereka, kemudian dara dengan ayah bundanya itu memasuki penginapan dan lenyap di dalam kamar. Sibuklah para piauwsu menurunkan barang­-barang, dan kereta lalu ditarik ke sebe­lah belakang rumah penginapan itu. Dengan kusirnya semua terdapat sebelas orang piauwsu yang kelihatannya tangkas dan kuat.

Kian Bu yang melihat dara tadi menunduk saja, sedikitpun tidak pernah melirik kepada mereka, melihat sikap yang amat sopan santun dari gadis itu, padahal dia mengharapkan kerlingan dan senyum, merasa kecewa dan tidak puas. Akan tetapi ketika dia memandang kakaknya, dia melihat kakaknya itu terme­nung, mukanya merah dan kedua tangan kakaknya mempermainkan cawan arak yang telah kosong, agaknya kakaknya itu termenung-menung.

Kian Bu tersenyum. Baru sekarang dia melihat kakaknya termenung setelah melihat seorang dara! Maka segera dia menangkap tangan kakaknya sambil berkata, “Lee-ko, bagaimana?”

Kian Lee mengangkat muka meman­dang, melihat sinar mata adiknya yang jelas menggodanya, mukanya menjadi makin merah, “Bagaimana apanya?” Dia balik bertanya, setengah membentak.

Kian Bu menggerakkan kepalanya ke arah belakang rumah penginapan. “Dia tadi, hebat bukan?”

Kian Lee tidak menjawab segera, melainkan menunduk dan berkata lirih, “Hebat atau tidak, ada sangkut paut apa dengan kita? Jangan kau memikirkan yang bukan-bukan!”

“Ah, tidak. Bagiku sih, dia seperti patung hidup! Melirik sedikitpun tidak, tersenyum sedikitpun tidak, bicara sepa­tah katapun tidak!”

“Itu tandanya dia seorang dara terpe­lajar, sopan dan menjaga harga diri tinggi-tinggi, bukan seorang perempuan genit!”

“Hi-hik, aku tahu bahwa dara model inilah yang akan menarik hatimu, koko. Mengapa tidak mengajak dia berkenalan? Eh, secara sopan maksudku?”

Kian Lee memandang adiknya dengan mata melotot. “Mau apa kau? Jangan main gila kau, Bu-te!”

“Ah, tidak. Aku hanya mengatakan bahwa kalau kau tertarik kepada dara itu, apa salahnya kalau kau berkenalan dengan dia? Hanya berkenalan, apa sih buruknya? Kalau tidak berkenalan, bagai­mana bisa mengerti cocok atau tidak?”

“Aku bukan laki-laki mata keranjang yang suka mengganggu gadis yang tidak kukenal.”

“Siapa bilang mengganggu? Aih, koko, engkau benar-benar selalu berprasangka buruk dan tidak percaya kepada adikmu ini. Dan kau selalu hendak berpura-pura, dan bersikap palsu.”

“Hemm, apa lagi ini maksudnya? Jangan kau kurang ajar kepadaku!”

“Koko merasa suka kepada seseorang, akan tetapi pada lahirnya pura-pura dingin, bukankah ini pura-pura namanya? Hati ingin berkenalan, akan tetapi mulut bicara lain, bukankah itu palsu?”

“Kian Bu, engkau masih kanak-kanak akan tetapi lidahmu tajam. Hati-hati kau, kalau kau bicara dengan orang lain seperti itu, tentu engkau akan mudah menanam permusuhan. Memang kuakui bahwa sikap dan keadaan dara tadi menimbulkan kagum di dalam hatiku, akan tetapi apa yang harus kulakukan? Aku bukanlah seorang laki-laki mata keranjang dan kurang ajar seperti eng­kau!”

“Bagus….!” Kian Bu meloncat bangun dan merangkul kakaknya. “Lee-ko, aku hanya ingin mendengar pengakuanmu bahwa kau tertarik kepadanya. Kita bukanlah orang-orang rendah yang suka melakukan hal-hal tidak patut, akan tetapi tanpa siasat, mana mungkin kau berkenalan dengan dara itu? Aku sudah mempunyai suatu rencana, kalau siasat ini dilakukan, engkau tentu akan berke­nalan dengan dia dan bahkan dipandang tinggi dan hormat!” Pemuda tanggung ini lalu berbisik-bisik di dekat telinga ka­kaknya.

Wajah Suma Kian Lee yang tampan sebentar merah sebentar pucat, dia menggeleng-geleng kepala, akan tetapi akhirnya dia berkata lirih, “Berbahaya sekali siasatmu yang nakal itu, Bu-te!”

“Alaaaaa…. kau maksudkan piauwsu-­piauwsu itu? Serahkan padaku, beres. Dan akupun bukan hendak memperpanjang pertempuran dengan mereka. Aku hanya menjadi penculik, kau lalu muncul. Habis perkara. Yang penting, dia akan berhu­tang budi kepadamu dan tentu saja menjadi kenalan. Tidak ada apa-apa yang jahat, bukan?”

“Akan tetapi, kalau kau melukai seorangpun….”

“Koko, kau anggap aku ini orang macam apa? Aku bukan penculik tulen, bukan pula perampok, mau apa melukai orang? Percayalah kepadaku, kelak eng­kau akan berterima kasih kepadaku kalau sudah menjadi sahabatnya, koko!”

Terpaksa Kian Lee tersenyum dan dengan gerakan gemas seperti hendak menampar kepala adiknya. Kian Bu meloncat menjauh lalu tertawa-tawa dan tak lama kemudian kedua orang kakak beradik inipun sudah memasuki kamar mereka dan tidur.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kian Lee telah dibangunkan oleh Kian Bu. Seperti biasa setiap pagi, me­reka duduk bersila dan bersiulian seben­tar, latihan yang sudah menjadi kebiasa­an sehingga sekali saja tidak melakukan­nya terasa kurang enak. Kemudian mere­ka mandi dan membayar biaya penyewa­an kamar lalu berangkat, akan tetapi setibanya di luar dusun, mereka berhenti. Setelah matahari menumpahkan cahaya­nya di permukaan bumi, tampak oleh mereka yang dinanti-nanti sejak tadi, yaitu kereta berkuda empat yang dikawal oleh sepuluh orang piauwsu dan seorang kusir. Mereka membiarkan rombongan itu lewat, kemudian mereka membayangi dari jauh. Biarpun rombongan itu terdiri dari kereta ditarik kuda dan dikawal oleh sepuluh orang piauwsu berkuda, namun tidaklah sukar bagi dua orang muda itu membayangi mereka. Kakak beradik ini memiliki ilmu kepandaian yang hebat, kesaktian yang tinggi dan ilmu berlari mereka luar biasa.

Rombongan memasuki sebuah hutan. “Saudara-saudara, hati-hati dan waspada­lah, di depan adalah hutan yang cukup besar!” berkata kepala piauwsu yang bermuka merah. Sepuluh orang itu lalu melarikan kuda mereka mengurung kere­ta, tiga di depan, tiga di belakang, dan masing-masing dua di kanan kiri.

Tiba-tiba para piauwsu itu terkejut sekali ketika melihat sesosok bayangan orang meloncat turun dari atas pohon besar, langsung menimpa atap kereta dan terdengar kain robek disusul jerit nona yang berada di dalam kereta, lalu tampak pula bayangan itu meloncat turun dari kereta sambil memondong tubuh nona itu yang menjerit-jerit dan meronta ronta.

“Tolong….! Penculik…. tolong Bi Hwa….!” Nyonya dan suaminya tergopoh-gopoh keluar dari kereta yang sudah dihentikan oleh kusir, menangis dan berteriak-teriak. Para piauwsu sudah cepat bergerak. Enam orang melakukan pengejaran kepada Suma Kian Bu yang berlari cepat memondong tubuh dara itu sedangkan yang empat orang lagi tetap menjaga kereta.

“Tangkap penjahat….!” Teriak kepala piauwsu yang memimpin teman-temannya mengejar. Akan tetapi mereka segera terpaksa turun dari kuda dan melanjutkan pengejaran dengan berlari ketika melihat penculik itu membawa dara itu menyusup­-nyusup ke dalam semak-semak tebal.

“Lepaskan aku….! Lepaskan….!” Bi Hwa, dara itu meronta sambil memukul­-mukul ke arah dada muka dan kepala Suma Kian Bu. Akan tetapi pemuda itu hanya tersenyum saja.

“Tenanglah sayang, diamlah manis…. aku takkan mengganggumu….!”

Namun Bi Hwa masih meronta-ronta. Meremang seluruh bulu badannya melihat dirinya dipondong dan dibawa lari dengan begitu hati-hati oleh pemuda yang amat tampan ini. Di dalam hatinya yang dilan­da kaget dan takut, timbul keheranan mengapa pemuda yang masih amat muda dan amat tampan ini menjadi penjahat!

Tiba-tiba muncul seorang pemuda lain yang menghadang di depan sambil mem­bentak, “Penculik, lepaskan dia!”

Suma Kian Bu yang melihat kakaknya sudah muncul, pura-pura membentak marah, “Engkau pendekar, jangan men­campuri urusanku!”

Suma Kian Lee menerjang ke depan, dan beberapa lamanya kakak beradik itu pukul-memukul, akhirnya sebuah pukulan mengenai kepala Suma Kian Bu yang terhuyung dan roboh. Tentu Bi Hwa ikut pula terbanting kalau saja tidak cepat ditahan oleh Suma Kian Lee. Sejenak Bi Hwa berdiri dengan muka pucat meman­dang kepada Suma Kian Lee yang telah menolongnya, kemudian menoleh dan memandang Suma Kian Bu yang rebah miring dengan muka pucat seperti telah menjadi mayat! Kian Lee yang diam-­diam menyesalkan siasat adiknya ini karena jelas tampak betapa gadis itu kaget dan takut, menanti ucapan terima kasih dan sudah siap untuk mengantar­kan dara itu kembali ke kereta dan orang tuanya. Akan tetapi, terjadilah hal yang sama sekali tidak disangka-sangka oleh kakak beradik itu. Si dara jelita yang menoleh dan memandang Kian Bu, tiba-tiba terisak dan lari…. menghampiri­Kian Bu, berlutut di dekat tubuh pemuda ini.

“Aihhh, kau…. kau telah membunuh­nya….! Kau telah membunuhnya….!” Dia menuding ke arah Kian Lee, kemudian dia mengangkat kepala Kian Bu, memang­kunya dan mengusap-usap kepalanya seperti hendak mencari bagian mana dari kepala itu yang pecah dan membuat pemuda ini tewas. “Aduh kasihan sekali engkau….” bisik Bi Hwa.

Kian Lee berdiri dengan muka pucat. Dan Kian Bu lupa akan permainan sandi­waranya, dia begitu terheran-heran se­hingga lupa bahwa dia telah “mati”. Dan membuka matanya memandang dengan melongo.

“Syukur, kau belum mati…. ah, aku girang sekali…. di manakah yang terlu­ka ?” Bi Hwa bertanya.

Kian Bu menggeleng kepala dan menuding ke arah Kian Lee. “Kau…. kau harus cepat menghaturkan terima kasih kepadanya. Dialah penolongmu “

“Dia kejam, memukulmu sampai hampir mati!” Bi Hwa membantah.

“Tapi aku adalah penculikmu, dialah yang menolongmu…. lekas kauhampiri dia….” Kian Bu makin bingung dan me­renggutkan dirinya yang masih dipeluk dara itu.

Pada saat itu, terdengar bentakan. “Penculik busuk, hendak lari ke mana kau?” Dan muncullah enam orang piauw­su dengan pedang atau golok di tangan masing-masing. Melihat ini, Kian Lee meloncat dan berkata, “Bu-te, pergi…. !”

Terbirit-birit Kian Bu meloncat dan melarikan diri mengejar kakaknya. Sam­pai jauh sekali mereka berlari, terengah-­engah mereka berhenti di dalam hutan kecil yang terpisah jauh dari hutan di mana mereka tadi main sandiwara itu.

Tentu saja mereka terengah-engah, bukan karena telah lari cepat dan jauh, melain­kan karena sejak tadi hati mereka penuh ketegangan ketika bersandiwara yang kemudian ternyata gagal total itu! Si gadis manis bukan berterima kasih kepa­da Kian Lee yang “menolongnya” melain­kan menaruh iba kepada Kian Bu “si penculik”! Benar-benar merupakan kebalik­an dari apa yang mereka inginkan, dan hampir saja rahasia mereka terbuka ketika para piauwsu itu datang.

“Kau….!” Kian Lee menggerakkan tangan hampir menampar muka adiknya, akan tetapi ditahannya dan dia menarik napas panjang.

“Lee-ko, jangan salahkan aku! Dialah yang salah, gadis tak tahu terima kasih itu, gadis tidak mengenal budi itu!”

“Diam! Jangan memaki dia! Justeru perbuatannya tadi menambah tingkatnya dalam pandanganku! Dia adalah seorang yang berbudi mulia, mendahulukan rasa iba hatinya terhadap orang yang tertin­das. Karena melihat kau kupukul dan mengira engkau tewas, maka dia melupakan semua urusan pribadinya dan menja­tuhkan rasa iba hatinya kepadamu. Bukan­kah itu menandakan bahwa dia seorang yang baik budi?”

Suma Kian Bu melongo. Kakaknya ini malah lebih aneh daripada gadis tadi. Dia menggerakkan pundaknya dan diam­-diam berjanji dalam dirinya untuk berhati­-hati, agar lain kali jangan mengecewakan hati kakaknya.

“Siasatku tadi memang kurang sem­purna, koko. Meskinya, begitu terpukul, aku pura-pura kalah dan melarikan diri, bukan pura-pura terpukul mati. Kalau aku kalah dan lari, tentu perhatiannya tertuju kepadamu.”

“Sudahlah, salah kita sendiri. Kita bermain sandiwara, bertindak palsu untuk mempermainkan kepercayan hati seorang gadis, maka cara yang tidak baik itu tentu saja mendatangkan hasil tidak baik pula.”

“Aihh, koko, jangan, begitu. Aku telah bersungguh-sungguh membantumu, dan engkau belum pernah membantuku.”

“Hemm, aku memang telah hutang budi kepadamu. Baik, akan kubalas seper­ti yang kaulakukan kepadaku, hanya hasilnya terserah engkau yang menang­gung jawab semua.”

“Tentu saja. Akan tetapi siasatnya harus diperbaiki. Setelah engkau kuse­rang, engkau pura-pura kalah dan mening­galkan gadis itu untuk berterima kasih kepadamu.”

“Hemmmm….” Kian Lee hanya meng­gumam mengkal.

Saat yang dijanjikan oleh Kian Lee kepada adiknya itu tiba ketika perjalanan mereka sudah tiba di pegunungan yang menjadi tapal batas Propinsi Hopei. Perjalanan naik turun gunung dan melalui hutan-hutan besar, hanya jarang saja mereka menjumpai pedusunan atau kota. Pada suatu hari, selagi mereka berjalan perlahan di bawah pohon-pohon yang rindang yang amat sejuk karena terlin­dung dari sinar matahari, mereka berte­mu dengan serombongan orang yang terdiri dari dua buah kereta dan dua losin piauwsu. Rombongan yang cukup besar dan kereta itu merupakan kereta mewah, kudanyapun besar-besar sehingga sudah diduga bahwa penumpangnya tentu­lah sebangsa bangsawan atau hartawan.

“Nah, besar kemungkinan di dalamnya ada gadisnya, koko,” bisik Kian Bu.

Kakaknya cemberut. “Apakah di dalam kepalamu itu isinya hanya bayangan gadis-gadis cantik?” bentaknya.

“Alaaaaaa…., koko. Kalau kau begini terus, sampai kapan kau hendak memba­las budi?”

“Wah, kau memang cerewet dan selalu ingat kalau mengutangkan sesua­tu!” cela kakaknya.

“Dan kau terlalu sabar kalau disuruh membayar hutang!” Adiknya menggoda sehingga Kian Lee kewalahan.

“Kau lihat sendiri, dua buah kereta itu tertutup, mana kita bisa tahu apakah di dalamnya ada gadisnya atau tidak?”

“Ha-ha, apa sih sukarnya untuk me­ngetahui hal itu?” Tangan Kian Bu ber­gerak dan tampak oleh Kian Lee sinar-­sinar hitam kecil menyambar ke depan. Adiknya telah menggunakan tanah liat untuk menyambit ke arah kuda yang mena­rik kereta. Terdengar ringkik keras dan empat ekor kuda yang terkena timpukan tanah liat tepat di bawah telinganya itu meringkik dan meronta berdiri di atas kedua kaki belakang. Tentu saja kusirnya cepat membentak dan menarik kendali. Rombongan terhenti dan semua piauwsu bertanya sehingga ributlah keadaan di situ.

Dua buah kereta itu tersingkap dari dalam. Ada kepala-kepala orang menje­nguk dan bertanya apa yang terjadi dan mengapa ada ribut-ribut di luar, bahkan orang-orang yang menumpang dalam kereta yang kudanya meringkik itu men­jadi agak panik karena keretanya bergo­yang-goyang. Kesempatan itu diperguna­kan oleh Kian Bu untuk mengintai dan betapa girangnya ketika melihat bahwa di kereta kedua, kereta yang besar dan mewah, terdapat tiga orang penumpang yaitu seorang laki-laki tua yang pakaian­nya mewah tanda hartawan, usianya kurang lebih empat puluh tahun, seorang wanita yang usianya kurang lebih empat­ puluh tahun dan seorang gadis cantik manis yang berusia paling banyak sembilan belas tahun! Seorang gadis cantik dan bajunya merah, manis sekali! Juga Kian Lee melihat ini dan diam-diam dia me­muji kecerdikan adiknya. Bocah itu ada saja akalnya! Akan tetapi sekali ini “tugasnya” lebih berat daripada yang dilakukan adiknya sebulan yang lalu. Jumlah pengawal ada dua losin orang, dan di antara mereka banyak yang mem­bawa busur, juga sikap mereka lebih gagah daripada sepuluh orang dahulu itu. Akan tetapi apa boleh buat, kalau dia belum “membayar hutang”, adiknya tentu akan rewel terus. Dia akan menjaga agar adiknya angan bertindak lebih jauh dari sekadar belajar kenal dengan gadis itu!

“Baiklah, aku akan membayar hutang­ku. Kau tunggu di luar hutan ini di sebelah kiri sana,” katanya tanpa banyak cakap lagi. Kian Bu memegang tangan kakaknya.

“Terima kasih, koko!”

Kian Lee merenggut tangannya. “Per­gilah!”

Kian Bu tertawa dan meloncat pergi dengan girang sekali. Mau tidak mau, melihat adiknya berloncatan seperti anak kecil berlari sambil berjingkrakan itu, Kian Lee menggeleng kepala dan menarik napas panjang. Adiknya itu benar-benar seperti anak kecil, akan tetapi begitu besar hasratnya untuk berkenalan dengan gadis-gadis cantik!

Dia cepat berlari mengejar rombongan yang sudah bergerak lagi itu. Sebentar saja dia sudah dapat menyusul. Kian Lee tidak mau menimbulkan keributan seperti yang biasa dilakukan adiknya, maka dia sengaja mendahului rombongan lalu berdi­ri di tengah jalan sambil mengangkat tangan. “Harap cu-wi berhenti dulu!”

Melihat ada seorang pemuda berkele­bat cepat sekali kemudian berdiri meng­hadang di tengah jalan, dua kereta di­hentiikan dan dua losin piauwsu itu cepat menjaga kereta, pemimpinnya seorang piauwsu tua berjenggot putih, bersama belasan orang pembantunya menghadapi Kian Lee.

“Kau siapakah dan mau apa menahan rombongan kami?” bentak si jenggot putih.

Akan tetapi Kian Lee tidak mau melayaninya, melainkan melangkah lebar ke arah kereta kedua. Dia segera diku­rung, akan tetapi dia berjalan terus menuju ke kereta sambil berkata, “Aku mau bicara dengan mereka! Yang berada di dalam kereta!”

Melihat pemuda tampan ini berpakai­an pantas dan tidak membawa senjata, sikapnya seperti seorang pemuda terpela­jar, maka para piauwsu ragu-ragu untuk menurunkan tangan besi, dan kereta itu disingkap dari dalam, muncul wajah tiga orang itu. Kian Lee yang melihat jelas bahwa di dalamnya memang terdapat seorang gadis cantik berbaju merah, segera berkata, “Aku hanya mau menga­jak pergi dia itu!” berkata demikian tubuhnya meloncat cepat sekali ke depan, dan tahu-tahu semua orang melihat dia sudah melesat pergi dan lari memondong tubuh gadis berbaju merah yang berteriak teriak. “Tolong…. toloooonggg….!”

Beberapa orang piauwsu memasang anak panah pada busurnya.

“Hati-hati, jangan salah sasaran. Arahkan kepada kakinya!”

Belasan batang anak panah melesat mengejar Kian Lee, akan tetapi dengan meloncat-loncat, pemuda itu dengan mudahnya menghindarkan kakinya dari sambaran anak panah dan mempercepat larinya. Biarpun para piauwsu melakukan pengejaran secepatnya, namun sebentar saja Kian Lee sudah lenyap dari depan mereka.

“Lepaskan aku….! Tolonggg….!”

“Diamlah, aku hanya menculikmu!” Kian Lee menahan kata-katanya karena hampir saja dia bilang “Sebentar lagi kau akan tertolong!”

Karena cepatnya dia berlari, tak lama kemudian dia sudah keluar dari hutan itu dan tiba-tiba Kian Bu meloncat keluar menghadang. “Heii, perampok! Penculik! Lekas lepaskan gadis manis ini kalau kau tidak ingin kupukul mampus!”

Keduanya segera bertanding menurut rencana dan Kian Lee yang terdesak segera melepaskan gadis itu, menerima beberapa kali pukulan lalu melarikan diri dari situ dengan cepatnya. Dari jauh dia menyelinap dan mengintai ke arah dua orang itu. Dia kagum melihat betapa gadis itu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Kian Bu sambil menangis.

“Saya menghaturkan banyak terima kasih kepada kongcu yang telah menye­lamatkan nyawa saya….” katanya dengan suara merdu.

Kian Bu tersenyum. “Ahhh, tidak mengapa, nona. Urusan kecil saja itu. Tidak perlu berterima kasih. Saya sudah merasa girang kalau nona sudi menjadi sabahat saya.”

Gadis itu bangkit berdiri karena tangannya ditarik oleh Kian Bu. Dari tempat sembunyinya jelas tampak oleh Kian Lee betapa gadis itu tersenyum manis sekali dan matanya mengerling tajam ke arah Kian Bu, sikapnya amat memikat. “Tentu saja, kongcu. Engkau adalah penolongku, apapun yang kongcu kehendaki dariku, tentu akan kulakukan untuk membalas budi….”

Kalau saja yang menerima kata-kata ini bukan seorang pemuda tanggung yang masih hijau seperti Kian Bu, tentu dapat menangkap arti di balik kata-kata memikat ini. Akan tetapi dasar dia masih mentah, Kian Bu hanya tersenyum girang dan berkata, “Terima kasih, aku girang sekali dapat berkenalan denganmu, apala­gi menjadi sahabatmu. Nona, namaku adalah Suma Kian Bu, dan nona siapa­kah?”

“Namaku….?” Gadis itu kelihatan malu-malu dan mengerling tajam disertai senyum simpul. “Aku…. Cia Hong Ciauw….”

“Namamu manis sekali, seperti orang­nya,” kata Kian Bu.

Ucapan yang keluar dari mulut Kian Bu ini hanyalah ucapan jujur saja dan bukan merupakan sanjungan atau bujuk rayu, melainkan diucapkan karena me­mang sesungguhnya dia menganggap nama itu manis dan orangnyapun manis! Akan tetapi, wajah gadis itu menjadi merah sekali, lebih merah dari bajunya, terse­nyumlah dia dengan penuh daya pikat, matanya mengerling, dan dari lehernya keluar suara seperti seekor kucing dibelai.

“Ihiiikk…. kongcu bisa saja memuji orang membikin aku malu saja….” Dan tiba-tiba gadis itu merangkul dan menyembunyikan mukanya di dada Kian Bu.

“Lhoh….! Ehhh….! Bagaimana ini….? Wah, jangan….!” Kian Bu menjadi bi­ngung, tubuhnya menjadi kaku dan me­remang semua, seolah-olah ada ribuan ekor ulat yang merubung tubuhnya.

Dan pada saat itulah muncul kakek dari dalam kereta bersama para piauwsu.

“Hong Ciauw….!” Kakek itu mem­bentak marah.

Gadis itu lalu melepaskan rangkulan­nya, terkejut dan mundur, akan tetapi masih sempat melempar senyum dan kerling manis ke arah Kian Bu, lalu berkata, “Dia ini adalah in-kong (tuan penolong) Suma Kian Bu. Kalau tidak ditolongnya, tentu aku sudah mati di tangan penculik kejam….”

Kian Bu yang melihat kakek itu melotot marah, tahu bahwa keadaannya tidak menguntungkan. Ayah itu tentu marah melihat anaknya merangkul seo­rang pemuda!

“Eh, maaf…. aku…. eh, aku hanya menolong puterimu tanpa pamrih sesua­tu….”

“Puteri siapa? Dia adalah bini muda­ku!” bentak kakek itu.

Sepasang mata Kian Bu makin lama makin lebar sampai menjadi bulat dan tidak dapat lebih lebar lagi, mulutnya juga terbuka sampai lama. Untung di tempat itu tidak banyak lalat! Akhirnya, tanpa mengeluarkan suara bah atau buh, dia membalikkan kedua kakinya dan lari lintang pukang seperti dikejar hantu! Tentu saja para piauwsu yang melihat ini menjadi terheran-heran, apalagi mendapat cerita nyonya muda itu bahwa pemuda tadi telah menolongnya dari tangan penculik yang amat lihai tadi. Benar-­benar seorang pemuda yang aneh, pikir mereka, aneh dan berilmu amat tinggi karena dengan beberapa loncatan saja, bayangan pemuda itu melesat dan lenyap.

Kian Bu berlari terus dengan cepat, merasa seolah-olah gadis manis itu me­ngejarnya,

BACA JILID SEBELUMNYA!!

kisah-sepasang-rajawali-jilid-1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s