ORARI – Pelopor Internet Indonesia

images

Tulisan ini adalah ringkasan dari tulisan Prof. Dr. Joshua Barker dari Social Construction of Technology Research Group, Universitas Toronto, Kanada, yang melakukan penelitian tentang Sejarah dan Sosial Budaya Internet di Indonesia.

Sebenarnya tidak terlalu berlebihan mengatakan bahwa ORARI (Organisasi Radio Amatir Indonesia) adalah pelopor Internet di Indonesia. Karena dari merekalah dasar – dasar dari semua perkembangan teknologi informasi yang kita rasakan sekarang ini, bermula.

***

ORARI baru Booming sekitar tahun 1970 dan rata – rata usia penggemarnya antara 15-30. Kemudian mulailah di kenal frekuensi Citizen Band (CB) yang walau tidak terkait langsung dengan perkembangan infrasturktur telekomunikasi, karena hanya di gunakan oleh komunitas yang ber-komunikasi antar-radio sebagai alternatif telpon.

Di masa itu telpon adalah alat komunikasi umum. Namun keharusan membayar dengan biaya tinggi, maka para remaja dan dewasa yang berusia 30-an yang belum punya pekerjaan tetap. Memutuskan menggunakan alternatif lain dan radio panggil (CB) adalah pilihan tepat untuk ngobrol berjam – jam tanpa harus takut kena biaya.

Sedangkan budget yang di perlukan untuk membangun radio panggil pun relatif tidak terlalu mahal, di bandingkan dengan berlangganan telpon.

Komunikasi radio waktu itu, masih menggunakan teknologi Analog (frekuensi AM) serta masih terbatas pada komunitas atau penggemar radio amatir yang di tentukan dalam rage (jarak) tertentu sehingga bisa memungkinkan gelombang radio di terima.

Ketika banyak yang tertarik dengan jenis komunikasi ini, maka mulailah para remaja/dewasa yang lain mengutak – atik radio mereka untuk dapat menjangkau rage frekuensi yang lebih jauh, agar mereka dapat berkomunikasi antara sesama pengguna radio panggil. Dan dari situlah mreka membentuk komunitas dengan nama ORARI.

***

RP (Packet Radio) di perkenalkan pertam kali oleh seorang sesepu ORARI bernama, Robby Soebiakto (YBG1BG), di tahun 1987. Ia menggabungkan teknologi RP dengan Komputer sehingga memungkinkan pengguna radio mengirimkan data teks dengan menggunakan sinyal radio, yang memanfaatkan dua stasiun radio amatir ORARI di Jakarta.

Pengguna radio amatir pun mendirikan BBS radio paket amatir. Metode ini membantu kembangkan komunikasi satu arah menjadi komunikasi dua arah. Kemudian di awal tahun 1990-an, teknologi paket radio amatir pun mulai menggunakan modem telpon yang dalam perkembangannya di kenal dengan jaringan AMPRNet (Amateur Packet Radio Network).

Dan pada akhirnya mengarahkan komunitas penggunanya pada internet. Yang kemudian terlihat pada upaya yang dilakukan kelompok akademisi dan mahasiswa ITB, Amatir Radio Club (ARC) ITB dan Computer Network Research Group (CNRG) ITB, dengan mensosialisasikan penggunaan radio paket sebagai sarana sambungan dengan internet yang terhitung murah, khususnya bagi lembaga-lembaga (pendidikan).

Dari orang-orang inilah muncul sejumlah tokoh yang kemudian memiliki peran penting dalam pengembangan teknologi telekomunikasi, hingga munculnya Internet di Indonesia. Perlu di ketahui bahwa , peranan Pemerintah Indonesia dalam perkembangan jaringan internet di Indonesia memang tidak banyak, namun juga tidak dapat dikesampingkan, walaupun peranan mereka tidak terlalu signifikan.

***

Terima kasih pemuda Indonesia (pelopor komunikasi), seandainya dulu kalian tidak bergerak cepat dalam merespon trend yang terjadi di luar sana, mungkin saat ini kami masih merangkak untuk mencari tahu apa itu teknologi informasi dan varian – variannya, bagaimana cara menggunakannya dan apa manfaatnya.

Mungkin Indonesia saat ini, yang penduduknya 200 juta lebih, serta kebanyakan berbicara politik dan sibuk berdebat masalah paham dan ideologi serta info selebriti dan juga tidak kreatif, pasti tidak akan bisa berbuat banyak untuk kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang begitu luas bisa di dapat dari Internet.

Para politikus yang sibuk ngurusin perut dan kepentingan golongan serta partainya adalah mereka yang menghambat perkembangan ilmu dan pengetahuan untuk Indonesia, itu terbukti di awal – awal perkembangan teknologi Informasi, sangat tidak signifikan peren mereka untuk teknologi yang terjangkau bagi rakyat yang berpenghasilan menengah kebawah.

Semoga kami generasi platinum ini, yang matanya telah terbuka oleh kedatangan teknologi informasi, dapat menyumbangkan sesuatu yang berharga untuk generasi Indonesia yang akan datang. Semoga kami tidak hanya konsumtif tapi produktif dalam memanfaatkan teknologi informasi.

Sofyan Salim/Kompasiana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s