Bab 2 – Sang Bodymaster

MCMURDO dengan cepat menjadi terkenal. Ke mana pun ia pergi, orang-orang segera mengetahuinya. Dalam seminggu ia telah menjadi orang yang paling penting di rumah keluarga Shafter. Ada sekitar sepuluh atau dua belas penyewa di sana, tapi mereka para mandor yang jujur atau karyawan toko biasa, sangat berbeda kelas dengan pemuda Irlandia itu. Pada malam saat mereka berkumpul bersama, McMurdo selalu siap melontarkan lelucon, percakapannya selalu yang paling cerdas, dan ia yang paling jago menyanyi. Ia teman yang menarik, dengan pesona yang membangkitkan kegembiraan orang-orang di sekitarnya.

Sekalipun begitu, ia beberapa kali menunjukkan, seperti di gerbong kereta api, kemampuan untuk marah hebat secara tiba-tiba. Kemampuan yang menimbulkan rasa hormat, bahkan rasa takut dari orang-orang yang bertemu dengannya. Terhadap hukum dan juga semua yang berkaitan dengan hukum, ia menunjukkan kebencian besar yang menggembirakan sebagian penghuni dan menimbulkan kewaspadaan sebagian penghuni lainnya.

Sejak awal ia terang-terangan menunjukkan kekagumannya pada putri pemilik rumah. Bahwa ia jatuh hati padanya sejak pertemuan pertama mereka. Dan ia bukanlah laki-laki yang lamban. Pada hari kedua ia memberitahu gadis itu bahwa ia mencintainya, dan sejak saat itu mengulanginya terus tanpa memedulikan apa pun yang dikatakan Miss Ettie untuk meruntuhkan semangatnya.

“Orang lain?” serunya. “Well, sial sekali orang itu! Biar ia berhati-hati! Apakah aku harus kehilangan kesempatan hidup dan seluruh hatiku untuk orang lain? Kau boleh terus menolak, Ettie, suatu hari nanti kau akan menerimaku, dan aku masih cukup muda untuk menunggu.”

McMurdo laki-laki yang berbahaya, dengan lidah Irlandia-nya yang tajam dan caranya yang lihai. Ia juga memancarkan aura berpengalaman dan misterius yang menarik hati wanita, dan akhirnya memikat cintanya. Ia bisa bicara tentang lembah-lembah indah di County Monaghan tempat ia berasal, tentang pulau indah yang jauh, perbukitan rendah dan padang rumput hijau yang rasanya jauh lebih indah saat dibayangkan dari tempat bersalju semuram ini.

Selain itu ia sangat paham mengenai kehidupan kota-kota besar di Utara, Detroit, dan kamp-kamp penebangan kayu di Michigan, Buffalo, dan akhirnya tentang Chicago, tempat ia bekerja di pabrik penggergajian kayu. Selanjutnya McMurdo bercerita tentang cinta, perasaan bahwa ada kejadian aneh yang dialami McMurdo di kota besar itu, begitu aneh dan begitu intim sehingga tidak mungkin dibicarakan. McMurdo terkadang berbicara tentang kepergian yang tiba-tiba, memutuskan ikatan-ikatan lama, pelarian ke dunia asing, yang berakhir di lembah yang gersang ini. Dan Ettie mendengarkan, matanya yang kelam berkilau iba dan simpati—dua perasaan yang dengan cepat dan wajar berubah menjadi cinta.

McMurdo mendapat pekerjaan sementara sebagai tenaga pembukuan, karena ia terpelajar. Pekerjaan itu menyita sebagian besar waktunya di siang hari, dan ia belum mendapat kesempatan untuk melaporkan diri kepada pimpinan kelompok Ordo Orang Bebas Tertinggi. Tapi ia diingatkan akan kelalaian tersebut saat Mike Scanlan, sesama anggota yang ditemuinya di kereta api, yang suatu malam mengunjunginya. Scanlan, pria kecil berciri wajah tajam, gugup, dan bermata hitam itu tampak gembira bisa bertemu lagi dengannya. Sesudah menghabiskan satu atau dua gelas wiski, ia menyinggung tentang tujuan kedatangannya.

“Omong-omong, McMurdo,” katanya, “aku ingat alamatmu, jadi kuberanikan diri untuk datang. Aku terkejut sewaktu mengetahui kau belum juga melapor kepada Bodymaster. Kenapa kau belum menemui Boss McGinty?”

“Well, aku kan harus mencari pekerjaan. Aku sibuk sekali akhir-akhir ini.”

“Kau benar-benar harus menyediakan waktu untuk menemuinya. Ya Tuhan, bung. Kau bodoh sekali kalau tidak segera pergi ke Gedung Serikat dan mendaftarkan diri pada pagi pertama kedatanganmu di tempat ini! Kalau kau bersilang jalan dengannya—well, jangan sampai terjadi, itu saja!”

McMurdo tampak agak terkejut. “Aku sudah menjadi anggota kelompok selama lebih dari dua tahun, Scanlan, tapi aku tidak pernah tahu kalau masalah melapor ternyata semendesak itu.”

“Mungkin tidak di Chicago.”

“Well, di sini sama.”

“Sungguh?”

Scanlan lama menatapnya tajam. Ada kesinisan dalam pandangannya.

“Bukankah begitu?”

“Katakan sebulan lagi. Kudengar kau bercakap-cakap dengan para polisi patroli sesudah aku turun dari kereta api.”

“Dari mana kau tahu?”

“Oh, beritanya menyebar—baik atau buruk, di distrik ini berita selalu cepat menyebar.”

“Well, ya. Kukatakan pendapatku tentang mereka secara terus terang.”

“Demi Tuhan, McGinty akan sangat menyukaimu!”

“Apa, ia juga membenci polisi?”

Scanlan tertawa terbahak-bahak. “Temuilah dia, Nak,” katanya sambil beranjak bangkit. “Bukan polisi, tapi kau, yang akan dibencinya kalau tidak menemuinya! Nah, terimalah nasihat temanmu ini dan pergilah sekarang juga!”

Kebetulan pada malam itu McMurdo melakukan percakapan lain yang semakin mendesaknya untuk menemui McGinty. Mungkin saja perhatiannya terhadap Ettie semakin mencolok dibandingkan sebelumnya, atau perbuatannya akhirnya menarik perhatian tuan rumah keturunan Jerman-nya yang baik. Tapi, apa pun penyebabnya, pengurus tempat kos itu memanggil McMurdo ke ruangannya dan langsung membicarakan masalah itu tanpa basa-basi.

“Menurutku, Mister,” katanya, “kau menaruh hati pada putriku Ettie. Apakah benar, atau aku yang keliru.'”

“Ya, memang benar,” jawab pemuda itu.

“Vell, kuberitahu sekarang juga kalau perbuatanmu tidak ada gunanya. Ada orang lain yang sudah menduluimu.”

“Ia sendiri juga mengatakan begitu.”

“Vell, yakinlah bahwa ia sudah bicara jujur. Tapi apakah ia tidak memberitahukan siapa orang itu?”

“Tidak, telah kutanyakan, tapi ia tidak bersedia memberitahuku.”

“Sudah kuduga ia tidak berani! Mungkin ia tidak ingin membuatmu pergi ketakutan.”

“Ketakutan!” Sejenak McMurdo panas.

“Ah, ya, Sobat! Kau tidak perlu merasa malu jika takut terhadapnya. Orang itu Teddy Baldwin.”

“Siapa dia?”

“Ia bos para Scowrer.”

“Scowrer! Aku pernah mendengar tentang mereka. Scowrer ini dan Scowrer itu, dan selalu dengan berbisik-bisik! Apa yang kalian takutkan? Siapa para Scowrer itu?”

Pemilik rumah itu secara naluriah merendahkan suaranya, sebagaimana yang dilakukan orang-orang kalau membicarakan perkumpulan yang menakutkan itu. “Para Scowrer,” katanya, “adalah Ordo Orang Bebas Tertinggi!”

McMurdo menatapnya. “Wah, aku sendiri anggota ordo itu.”

“Kau! Aku tidak akan pernah menerimamu di rumahku kalau mengetahuinya—sekalipun kau membayarku seratus dolar seminggu.”

“Apa salahnya dengan ordo itu? Tujuannya kan untuk derma dan persahabatan. Peraturannya begitu.”

“Mungkin di tempat lain. Tidak di sini!”

“Memangnya bagaimana di sini?”

“Itu perkumpulan pembunuh.”

McMurdo tertawa terbahak-bahak. “Bagaimana kau bisa membuktikannya?” tanyanya.

“Membuktikannya! Apakah lima puluh pembunuhan tidak cukup untuk membuktikannya? Bagaimana dengan Milman dan Van Shorn, dan keluarga Nicholson, dan Mr. Hyam tua, Billy James kecil dan yang lainnya? Membuktikannya! Apakah ada orang di lembah ini yang tidak mengetahuinya?”

“Dengar!” kata McMurdo. “Kuminta kau menarik kembali kata-katamu, atau sebaiknya kau bisa membuktikannya. Kau harus memilih salah satu sebelum aku meninggalkan ruangan ini. Coba seandainya kau menjadi diriku. Aku orang asing di kota ini. Aku merupakan anggota perkumpulan yang kuketahui cuma perkumpulan biasa. Kau bisa menemukan cabang-cabangnya di seluruh Amerika Serikat, tapi tidak seperti anggapanmu. Nah, sewaktu aku mau menggabungkan diri dengan kelompok itu di sini, kau mengatakan kelompok itu sama dengan perkumpulan pembunuh yang disebut ‘Scowrer’. Kurasa kau harus entah meminta maaf atau menjelaskannya. Mr. Shafter.”

“Aku hanya bisa menceritakan apa yang sudah diketahui seluruh dunia, Mister. Para bos kelompok yang satu merupakan para bos kelompok yang lain. Kalau kau mencari perkara dengan yang satu, yang lain akan menyerangmu. Kami sudah terlalu sering membuktikannya.”

“Itu hanya gosip—aku menginginkan bukti!” kata McMurdo.

“Kalau kau tinggal cukup lama di sini kau akan mendapatkan buktinya. Tapi aku lupa kau sendiri salah satu dari mereka. Tidak lama lagi kau akan sama buruknya dengan yang lain. Tapi kau harus mencari tempat menginap yang lain, Mister. Aku tidak bisa menerimamu di sini. Sudah cukup buruk bahwa salah satu dari mereka memacari Ettie, dan aku tidak berani menolaknya. Tapi kalau harus menerima satu lagi sebagai anak kosku? Ya, sungguh, kau tidak boleh tidur di sini lagi mulai besok!”

McMurdo mendapati dirinya diusir dari kamarnya yang nyaman dan dari gadis yang dicintainya. la mendapati gadis itu tengah seorang diri di ruang duduk pada malam yang sama, dan ia menceritakan seluruh masalahnya.

“Tentu saja, ayahmu sudah memberiku peringatan,” katanya. “Kalau hanya kamarku, aku tidak akan peduli. Tapi sungguh, Ettie, sekalipun baru seminggu mengenalmu, kaulah napas kehidupan bagiku. Dan aku tidak bisa hidup tanpa dirimu!”

“Oh, ssst, Mr. McMurdo, jangan bicara begitu!” tukas gadis itu. “Sudah kukatakan, bukan, bahwa kau terlambat? Ada orang lain, dan kalau aku tidak sudah berjanji untuk menikah dengannya, aku pasti bisa berjanji untuk menikah dengan orang lain.”

“Seandainya aku orang pertama, Ettie, apakah aku akan mendapat kesempatan?”

Gadis itu menutupi wajah dengan tangannya. “Kalau saja kau orang pertama!” katanya sambil terisak.

McMurdo seketika berlutut di depannya. “Demi Tuhan, Ettie, kita anggap saja begitu!” serunya. “Apakah kau akan menghancurkan hidupmu dan hidupku demi janji ini? Ikuti kata hatimu, ! Ini panduan yang lebih aman daripada semua janji sebelum kau menyadari apa yang kaukatakan.”

Ia meraih tangan Ettie yang putih dengan kedua tangannya yang kuat dan kecokelatan.

“Berjanjilah kau akan menjadi istriku, dan kita akan menghadapinya bersama-sama!”

“Tidak di sini?”

“Di sini.”

“Tidak, tidak, Jack!” Sekarang McMurdo memeluknya. “Tidak bisa di sini. Apakah kau bisa membawaku pergi?”

Sejenak ekspresi wajah McMurdo memancarkan pergulatan, tapi akhirnya mengeras bagai granit. “Tidak, di sini,” katanya. “Akan kuhadapi siapa pun yang berani menentang hubungan kita, Ettie, di sini!”

“Kenapa kita tidak pergi bersama-sama saja?”

“Tidak, Ettie. Aku tidak bisa pergi.”

“Tapi kenapa?”

“Aku tidak akan pernah bisa mengangkat kepalaku lagi kalau aku terusir dari sini. Lagi pula, apa yang harus ditakutkan? Bukankah kita orang merdeka di negara merdeka? Kalau kau mencintaiku dan aku mencintaimu, siapa yang berani menghalangi?”

“Kau tidak tahu, Jack. Kau belum lama berada di sini. Kau tidak mengenal Baldwin. Kau tidak mengenal McGinty dan para Scowrer-nya.”

“Ya, aku tidak mengenal mereka, dan aku tidak takut pada mereka, dan aku tidak mempercayai mereka!” kata McMurdo. “Aku pernah hidup di antara orang-orang kasar, Sayang, dan bukan aku yang takut pada mereka, tapi biasanya justru mereka yang akhirnya takut padaku—selalu, Ettie. Sepintas lalu benar-benar sinting! Jika orang-orang ini, seperti yang dikatakan ayahmu, melakukan berbagai kejahatan di lembah ini, dan kalau semua orang mengetahuinya, kenapa tidak ada yang diadili? Jawablah, Ettie!”

“Karena tidak ada yang berani bersaksi menentang mereka. Orang itu tidak akan hidup lebih dari sebulan kalau melakukannya. Juga karena selalu ada orang-orang mereka sendiri yang berani bersumpah bahwa tertuduh berada jauh dari lokasi kejahatan. Tapi jelas, Jack, kau pasti sudah membaca semua ini di koran. Aku tahu semua koran di Amerika Serikat menulis tentang kejadian ini.”

“Well, aku pernah membaca sekilas, memang benar, tapi kukira itu hanya karangan. Mungkin orang-orang ini memiliki alasan kenapa mereka berbuat begitu. Mungkin mereka sudah diperlakukan secara salah dan tidak memiliki cara lain untuk membantu diri sendiri.”

“Oh, Jack, jangan dilanjutkan! Begitulah caranya berbicara—pria yang satu lagi!”

“Baldwin—ia berbicara seperti itu, bukan?”

“Dan itu sebabnya aku sangat membencinya. Oh, Jack, sekarang aku bisa menceritakan yang sebenarnya padamu. Aku membencinya dengan segenap hatiku, tapi aku juga takut padanya. Aku takut demi diriku, tapi di atas semua itu aku takut apa yang akan dilakukannya pada ayahku. Aku tahu kami akan mengalami penderitaan hebat kalau aku berani mengatakan apa yang sebenarnya kurasakan. Itulah sebabnya aku tidak sungguh-sungguh berjanji padanya. Harapan kami satu-satunya hanyalah kebenaran sejati. Tapi kalau kau mau membawaku pergi, Jack, kita bisa mengajak Ayah dan hidup selamanya jauh dari kekuasaan orang-orang jahat ini.”

Sekali lagi ekspresi wajah McMurdo memancarkan pergulatan, dan sekali lagi berubah menjadi sekaku granit. “Tidak akan ada yang menyakitimu, Ettie—atau menyakiti ayahmu. Sedangkan mengenai orang-orang jahat ini, kurasa kau akan menganggap diriku sama jahatnya dengan yang paling buruk di antara mereka sebelum ini berakhir.”

“Tidak, tidak, Jack! Aku akan mempercayai dirimu dimana pun.”

McMurdo tertawa pahit. “Ya Tuhan! Sedikit sekali yang kauketahui tentang diriku! Jiwamu yang masih polos, Sayang, bahkan tidak bisa menebak apa yang kurasakan Tapi, halo, siapa tamu ini?”

Pintunya terbuka dengan tiba-tiba, dan seorang pemuda melangkah masuk terhuyung-huyung dengan sikap seorang majikan. Ia pemuda yang tampan dan memesona, usia dan posturnya kurang-lebih sama dengan McMurdo sendiri. Hidungnya melengkung seperti paruh rajawali. Di bawah topi beludru hitamnya yang lebar, yang sama sekali tidak ditanggalkannya, ia menatap sepasang muda-mudi yang duduk di dekat tungku dengan pandangan buas.

Ettie melompat bangkit dengan terkejut dan waspada. “Senang bertemu denganmu, Mr. Baldwin,” katanya. “Kau datang lebih awal daripada dugaanku. Duduklah.”

Baldwin berdiri sambil berkacak pinggang menatap McMurdo. “Siapa ini?” tanyanya.

“Temanku, Mr. Baldwin, penghuni baru di sini. Mr. McMurdo, perkenalkan, ini Mr. Baldwin.”

Kedua, pemuda itu saling mengangguk dengan sikap masam.

“Mungkin Miss Ettie sudah bercerita tentang hubungan kami?” tanya Baldwin.

“Aku tidak tahu ada hubungan di antara kalian.”

“Begitukah? Well, sekarang kau tahu. Percayalah, wanita muda ini milikku, dan malam ini cuacanya bagus bagimu untuk berjalan-jalan.”

“Terima kasih, aku sedang tidak berminat untuk berjalan-jalan.”

“Begitukah?” Pandangan pemuda tersebut menyambar marah. “Mungkin kau berminat untuk berkelahi, Anak Kos!”

“Kalau itu, ya!” seru McMurdo sambil melesat bangkit. “Baru sekarang kudengar kata-katamu yang cukup menyenangkan.”

“Demi Tuhan, Jack! Oh, demi Tuhan!” seru Ettie yang panik. “Oh, Jack, Jack, ia akan melukaimu!”

“Oh, ‘Jack’ rupanya,” kata Baldwin kesal. “Hubungan kalian sudah akrab rupanya.”

“Oh, Ted, bersikap logislah—berbaik hatilah. Demi aku, Ted, kalau kau mencintaiku, berbesar hatilah dan maafkanlah dia!”

“Kurasa, Ettie, sebaiknya kautinggalkan kami berdua untuk membereskan masalah ini,” kata McMurdo pelan. “Atau mungkin, Mr. Baldwin, kau bersedia keluar ke jalan bersamaku. Malam ini cuaca cerah, dan ada tempat terbuka di blok berikut.”

“Akan kubalas kau tanpa harus mengotorkan tanganku,” kata musuhnya. “Sebelum aku selesai denganmu, kau akan menyesal pernah menginjakkan kaki di rumah ini!”

“Tidak ada waktu yang lebih tepat lagi selain sekarang!” seru McMurdo.

“Akan kutentukan waktuku sendiri, Mister. Serahkan saja waktunya padaku. Lihat ini!” Ia tiba-tiba menggulung lengan bajunya dan menunjukkan sebuah tanda aneh di lengan bawahnya yang tampaknya seperti dicapkan di sana. Tanda tersebut berupa lingkaran dengan segitiga di dalamnya. “Kau tahu apa artinya ini?”

“Aku tidak tahu dan tidak peduli!”

“Well, kau akan mengetahuinya, aku berjanji padamu. Umurmu juga tidak akan panjang lagi. Mungkin Miss Ettie bisa bercerita sedikit mengenai tanda ini padamu. Sedangkan kau, Ettie, kau akan merangkak kembali padaku—kau dengar, girl?—merangkak—lalu akan kuberitahukan apa hukumanmu. Kau sudah menanam—dan demi Tuhan, akan kupastikan kau akan menuai!” Ia memandang mereka berdua dengan murka. Lalu ia berputar, dan sesaat kemudian terdengar pintu luar dibanting di belakangnya.

Sejenak McMurdo dan Ettie berdiri dalam kebisuan. Lalu Ettie menghambur memeluknya.

“Oh, Jack, kau berani sekali! Tapi tidak ada gunanya, kau harus pergi! Malam ini—Jack— malam ini! Hanya itu satu-satunya harapanmu. Ia akan menghabisimu. Aku bisa melihatnya di pandangannya yang mengerikan. Seberapa kesempatanmu menghadapi puluhan orang gerombolannya, dengan Boss McGinty dan seluruh anggota kelompoknya?”

McMurdo melepaskan pelukannya, menciumnya, dan dengan lembut mendudukkannya kembali di kursi. “Tenang acushla, tenang! Jangan merasa resah atau takut mengenai nasibku. Aku sendiri anggota Orang Bebas. Aku sudah memberitahu ayahmu mengenai hal itu. Mungkin aku tidak lebih baik daripada yang lain, jadi jangan menganggap diriku semacam orang suci. Mungkin sekarang kau juga membenciku, sesudah kuceritakan semua ini padamu?”

“Membencimu, Jack? Aku tidak akan pernah bisa membencimu selama aku masih hidup! Aku sudah pernah mendengar bahwa tidak ada salahnya menjadi anggota Orang Bebas di manapun, asal bukan di sini. Jadi buat apa aku berpikiran buruk tentang dirimu hanya karena itu? Tapi kau anggota Orang Bebas, Jack, kenapa kau tidak berteman dengan Boss McGinty? Oh, cepatlah, Jack, cepat! Bicaralah dengan mereka lebih dulu sebelum para anjing pelacak itu memburumu.”

“Aku juga berpikir begitu,” kata McMurdo. “Aku akan pergi sekarang dan membereskannya. Kau bisa memberitahu ayahmu bahwa aku akan tidur di sini malam ini dan mencari tempat lain besok pagi.”

Bar di salon McGinty’s penuh sesak seperti biasa, karena tempatnya merupakan kesukaan semua golongan keras di kota. Orang itu populer, karena ia memiliki sifat periang yang menyembunyikan segala sesuatu lainnya. Tapi terlepas dari kepopuleran ini, ketakutan yang disebarkannya ke seluruh kota, bahkan hingga lima puluh kilometer ke dalam lembah dan melewati pegunungan di kedua sisinya, sudah cukup untuk mengisi barnya. Tidak seorang pun berani menolak niat baiknya.

Selain memiliki kekuatan rahasia yang dipercaya masyarakat digunakannya tanpa belas kasihan, ia pejabat tinggi, penasihat kota, dan pengawas jalan, dipilih gerombolan bajingan yang pada gilirannya mengharapkan balas jasa darinya. Pajak sangat tinggi di sini. Pelayanan umum sangat disia-siakan, rekeningnya kacau balau karena ditangani para auditor yang disuap, dan warga negara biasa diteror agar membayar pemerasan terang-terangan dan menutup mulut rapat-rapat kalau tidak ingin ditimpa bencana.

Oleh karena itu, tahun demi tahun, penjepit berlian Boss McGinty semakin lama semakin menonjol, rantai emasnya semakin berat melintang di rompinya yang semakin mewah, dan salonnya semakin lama semakin luas hingga akan menelan seluruh sisi Market Square.

McMurdo mendorong pintu ayun salon dan menerobos keramaian di dalamnya. Asap tembakau dan bau minuman keras menggantung tebal di udara. Tempat itu terang-benderang, dan cermin-cermin besar yang dipasang di setiap dinding memantulkan cahaya yang ada. Ada beberapa bartender yang melayani para pengunjung, bekerja keras mencampur minuman untuk para pelanggan yang memenuhi sepanjang meja lebar bertepi kuningan.

Di ujung seberang, bersandar di bar dan sebatang cerutu mencuat dari sudut mulutnya, berdiri pria jangkung yang tampak kuat dan kekar. Ia pastilah McGinty yang terkenal itu. Ia bagai raksasa bersurai hitam, berjanggut hingga tulang pipi, dan dengan rambut hitam legam yang menjuntai hingga kerah. Warna kulitnya kehitaman khas keturunan Italia, dan matanya juga sama hitam dan, bila dipadukan dengan kebiasaannya memicingkan mata itu, menimbulkan kesan sinis yang dalam.

Segala hal lainnya pada diri pria itu—proporsinya, wajahnya yang halus, dan keterbukaan yang dipancarkannya—sesuai dengan sikap periang yang ditunjukkannya. Orang akan mengatakan ia pria yang kasar tapi jujur, dan tidak berniat jahat betapa pun kasar kata-katanya. Saat mata hitam tanpa perasaan dan tanpa penyesalan itu memandang lawan bicaranya, barulah orang akan mengkeret diam-diam, merasa tengah berhadapan dengan kejahatan yang luar biasa, dengan kekuatan, semangat, serta kelicikan yang menjadikannya ribuan kali lebih berbahaya.

Setelah mengamati pria itu dengan teliti, McMurdo menerobos maju dengan kesembronoan seperti biasa, dan melewati sekelompok kecil tokoh yang sedang menjilat bos mereka—tertawa terbahak-bahak saat mendengar leluconnya yang paling tidak lucu sekalipun. Mata kelabu pemuda asing itu menatap tanpa takut dari balik kacamatanya membalas sepasang mata hitam yang menatapnya tajam.

“Well, anak muda, aku tidak ingat apakah pernah mengenalmu.”

“Saya orang baru di sini, Mr. McGinty.”

“Tentunya kau tidak sebaru itu sampai tidak mengetahui kedudukan seseorang.”

“Ia Penasihat McGinty, anak muda,” kata seseorang dari kerumunan.

“Maafkan saya, Penasihat. Saya masih asing dengan cara-cara di sini. Tapi saya disarankan untuk menemui Anda.”

“Well, kita sudah bertemu. Itu saja. Apa pendapatmu tentang diriku?”

“Well, sekarang masih terlalu dini. Kalau hati Anda sebesar tubuh Anda, dan jiwa Anda sehalus wajah Anda, tidak ada yang lebih saya inginkan,” kata McMurdo

“By Gar! Paling tidak kau memiliki lidah Irlandia,” seru pengelola salon itu, tidak yakin apakah harus menerima komentar tamunya yang berani ini atau membela diri. “Jadi kau cukup senang dengan penampilanku?”

“Tentu saja,” kata McMurdo.

“Dan kau disarankan untuk menemuiku?”

“Benar.”

“Siapa yang menyarankan?”

“Saudara Scanlan dari Kelompok 341, Vermissa. Saya bersulang untuk kesehatan Anda, Penasihat, dan untuk kebaikan hubungan kita di masa depan.” Ia mengangkat gelasnya ke bibir dan kelingkingnya teracung saat ia minum.

McGinty, yang mengamatinya dengan mata terpicing, mengangkat alisnya yang hitam lebat. “Oh, begitukah?” katanya. “Aku harus menelitinya lagi, Mister—”

“McMurdo.”

“Lebih teliti lagi, McMurdo, karena kami tidak bisa mempercayai seseorang begitu saja di daerah ini, atau percaya pada apa yang kami dengar. Kemarilah sebentar, ke belakang bar.”

Ada sebuah ruangan kecil di sana, tempat tong-tong minuman berjajar. McGinty menutup pintu dengan hati-hati, lalu duduk di salah satu tong yang ada, menggigiti cerutunya sambil berpikir. Ia mengamati tamunya dengan pandangan yang menggelisahkan. Selama dua menit ia duduk membisu. McMurdo menjalani pemeriksaan itu dengan tenang, satu tangan di saku mantel, sementara tangan yang lain memilin-milin kumis cokelatnya. Tiba-tiba McGinty membungkuk dan mencabut sepucuk revolver yang tampak menakutkan.

“Lihat, ini jagoanku,” katanya. “Kalau kukira kau main-main dengan kami, waktumu di sini akan sangat singkat.”

“Ini penyamburan yang aneh,” jawab McMurdo agak tersinggung, “dari seorang bodymaster kelompok Orang Bebas kepada saudaranya yang masih baru.”

“Ay, sekalipun begitu kau masih tetap harus membuktikan diri,” kata McGinty. “Dan hanya Tuhan yang bisa membantumu kalau kau sampai gagal! Di mana kau bergabung?”

“Kelompok 29, Chicago.”

“Kapan?”

“24 Juni 1872.”

“Siapa bodymaster-mu?”

“James H. Scott.”

“Siapa kepala distrikmu?”

“Bartholomew Wilson.”

“Hmm! Kau tampaknya cukup lincah dalam menjawab ujianmu. Apa yang kaulakukan di sini?”

“Bekerja, sama seperti Anda—tapi untuk pekerjaan yang bergaji lebih rendah.”

“Kau cukup cepat menjawab.”

“Ya, saya memang selalu cepat kalau bicara.”

“Apakah kau juga cepat bertindak?”

“Beberapa orang yang mengenal saya dengan sangat baik mengatakan begitu.”

“Well, kami mungkin akan mengujimu lebih cepat daripada dugaanmu. Apakah kau pernah mendengar kabar tentang kelompok di daerah ini?”

“Saya dengar tidak mudah untuk menjadi anggotanya.”

“Memang benar, Mr. McMurdo. Kenapa kau meninggalkan Chicago?”

“Terkutuklah saya kalau sampai saya mau memberitahu Anda!”

McGinty membelalak. Ia tidak biasa dijawab dengan cara seperti itu, dan hal itu menyebabkan ia keheranan bercampur geli. “Kenapa kau tidak mau memberitahuku?”

“Karena saudara tidak boleh membohongi saudaranya.”

“Kalau begitu, kebenarannya terlalu buruk untuk diceritakan?”

“Anda boleh beranggapan begitu kalau mau.”

“Begini, Mister, kau tidak bisa mengharapkan aku, Bodymaster, menerima seseorang ke dalam kelompoknya kalau orang itu tidak mau menjelaskan masa lalunya.”

McMurdo tampak kebingungan. Lalu ia mengeluarkan sehelai guntingan koran yang telah lusuh dari saku dalam.

“Anda tidak akan mengkhianati saudara Anda?” tanyanya.

“Kutampar kau kalau berani bicara seperti itu padaku!” seru McGinty marah.

“Anda benar, Penasihat,” kata McMurdo merendah. “Saya minta maaf. Saya sudah berbicara tanpa berpikir panjang. Well, saya tahu saya aman di tangan Anda. Bacalah kliping ini.”

McGinty membaca sekilas berita penembakan seseorang yang bernama Jonas Pinto, di Lake Saloon, Market Street, Chicago, pada minggu Tahun Baru 1874.

“Pekerjaanmu?” tanyanya, sambil mengembalikan khping koran itu.

McMurdo mengangguk.

“Kenapa kau menembaknya?”

“Saya membantu Paman Sam mencetak dolarnya. Mungkin bikinan saya tidak sebagus miliknya, tapi hasilnya tampak sama dan biayanya lebih murah. Pinto ini membantu saya menyingkirkan—”

“Apa?”

“Well, mengedarkan dolar itu. Lalu ia mengatakan ingin memisahkan diri. Mungkin ia sudah melakukannya. Saya tidak menunggu untuk melihat hasilnya. Saya habisi ia saat itu juga dan pergi ke kawasan batu bara ini.”

“Kenapa kemari?”

“Karena saya baca di koran bahwa di sini orang-orang tidak terlalu memedulikan hal-hal seperti itu.”

McGinty tertawa. “Mula-mula kau membuat uang palsu, lalu membunuh, dan kau kemari karena mengira kedatanganmu akan disambut.”

“Kurang-lebih begitulah,” jawab McMurdo.

“Well, kurasa kau cukup berpengalaman. Omong-omong, kau masih mencetak dolarnya?”

McMurdo mengambil sekitar enam koin dari sakunya “Ini tidak lolos standar Philadelphia,” katanya.

“Yang benar saja!” McGinty mendekatkan uang itu ke cahaya, tangannya berbulu lebat bagai tangan gorila. “Aku tidak melihat perbedaannya. Gar! Menurutku kau bisa sangat berguna Saudara! Kami bisa menerima kehadiran satu atau dua penjahat di antara kami, Sobat McMurdo, karena ada kalanya kami harus bertindak sendiri. Tidak lama lagi kami akan menabrak dinding kalau tidak segera membalas orang-orang yang mendesak kami.”

“Well, saya rasa saya tidak keberatan untuk ambil bagian bersama yang lain.”

“Kau tampaknya cukup bernyali. Kau bergeming sewaktu kuacungkan pistol ke arahmu.”

“Bukan saya yang terancam bahaya.”

“Kalau begitu, siapa?”

“Anda, Penasihat.” McMurdo mencabut sepucuk pistol terkokang dari saku dalam jasnya. “Aku sejak tadi membidikmu. Kurasa tembakanku tidak kalah cepat dengan tembakanmu.”

“By Gar!” McGinty merah padam karena marah, tapi lalu tertawa terbahak-bahak. “Omong-omong, sudah lama sekali kami tidak kedatangan teror seperti ini. Kurasa kelompok ini akan belajar untuk bangga atas dirimu… Well, apa maumu? Apakah aku tidak bisa bercakap-cakap dengan tuan ini selama lima menit tanpa kau ganggu?”

Si bartender agak tersentak. “Maafkan aku, Penasihat, tapi ada Ted Baldwin. Katanya ia harus bertemu dengan Anda sekarang juga.”

Pemberitahuan itu tidak perlu, karena wajah kaku dan kejam Ted Baldwin sendiri tengah memandang dari balik bahu si pelayan. Ia menyuruh bartender itu keluar dan menutup pintu.

“Jadi,” katanya sambil memelototi McMurdo, “kau tiba di sini lebih dulu, ya? Ada yang harus kukatakan kepadamu, Penasihat, mengenai orang ini.”

“Kalau begitu, katakan sekarang juga di depanku,” seru McMurdo.

“Akan kukatakan pada waktuku sendiri, dengan caraku sendiri.”

“Tut! Tut!” kata McGinty, sambil turun dari tong. “Tidak akan pernah begitu. Kita kedatangan saudara baru di sini, Baldwin, dan bukan gaya kita untuk mcnyambutnya seperti itu. Ulurkan tanganmu, bung, dan berbaikanlah!”

“Tidak akan pernah!” seru Baldwin dengan murka.

“Saya tawarkan untuk berkelahi dengannya, kalau menurutnya saya sudah merugikan dirinya,” kata McMurdo. “Akan saya hadapi dia dengan tangan kosong atau, kalau itu kurang memuaskan baginya, akan saya hadapi dia dengan cara apa pun yang dipilihnya. Nah, saya serahkan pada Anda, Penasihat, untuk menghakimi kami sebagaimana seharusnya seorang bodymaster.”

“Memang masalahnya apa?”

“Seorang wanita muda. Ia bebas menentukan pilihannya sendiri.”

“Begitukah?” seru Baldwin.

“Sebagai saudara dari kelompok ini, menurutku memang begitu,” kata McGinty.

“Oh, itu keputusanmu, bukan?”

“Ya, memang, Ted Baldwin,” kata McGinty sambil menatap tajam. “Apakah kau akan menentangnya?”

“Kau akan mengesampingkan orang yang sudah mendukungmu selama lima tahun demi orang yang belum pernah kautemui seumur hidup? Kau tidak menjadi bodymaster seumur hidup, Jack McGinty, dan demi Tuhan! Pada saat pemilihan yang akan datang—”

Penasihat menerkamnya bagai harimau. Ia mencengkeram leher Baldwin, dan melemparkannya ke salah satu tong. Dalam kemurkaannya ia pasti akan mencekik Baldwin hingga tewas kalau McMurdo tidak campur tangan.

“Tenang, Penasihat! Ya Tuhan, tenang saja!” serunya, sambil menyeret McGinty mundur.

McGinty melepaskan cekikannya. Dan Baldwin, masih meringkuk dan terguncang, terengah-engah menghirup udara, dan menggigil, seperti orang yang berada di ambang maut. Ia duduk di tong yang tadi ditabraknya ketika dilemparkan.

“Kau sudah keterlaluan hari ini, Ted Baldwin—sekarang kau mendapatkan ganjarannya!” seru McGinty, dadanya yang bidang naik-turun. “Mungkin kau mengira kalau aku tidak terpilih sebagai bodymaster lagi; kau akan bisa menggantikan diriku. Kelompok yang akan memutuskannya. Tapi selama aku masih menjadi ketua di sini, tidak akan kubiarkan siapa pun membentakku atau menentang keputusanku.”

“Aku tidak menentangmu,” gumam Baldwin, sambil meraba-raba tenggorokannya.

“Well, kalau begitu,” seru McGinty, langsung tenang kembali, “kita semua menjadi teman baik lagi dan masalah ini selesai sampai di sini.”

Ia mengambil sebotol sampanye dari rak dan membuka tutupnya.

“Nah,” lanjutnya, sambil mengisi tiga gelas tinggi. “Mari minum untuk melupakan pertengkaran Kelompok. Sesudah itu, sebagaimana yang kalian ketahui, tidak boleh ada perselisihan di antara kita. Nah, dengan tangan kiri di jakun, aku bertanya padamu, Ted Baldwin, sebenarnya ada masalah apa, Sir?”

“Awan sangat tebal,” jawab Baldwin.

“Tapi cuaca akan cerah.”

“Untuk itu aku bersumpah!”

Keduanya menenggak isi gelas masing-masing, dan upacara yang sama dilakukan oleh Baldwin dan McMurdo.

“Nah!” seru McGinty, sambil menggosok-gosokkan tangan. “Selesai sudah perselisihan ini. Kalian akan dikenai hukuman Kelompok kalau masih melanjutkan, dan hukuman itu sangat berat di kawasan ini, seperti yang diketahui Saudara Baldwin—dan seperti yang akan segera kauketahui Saudara McMurdo, kalau kau mencari masalah!”

“Saya lambat dalam hal itu,” kata McMurdo. Ia mengulurkan tangan ke arah Baldwin. “Aku cepat bertengkar dan cepat memaafkan. Kata orang ini karena darah Irlandia-ku yang panas. Tapi masalah sudah selesai bagiku, dan aku tidak mendendam.”

Baldwin terpaksa menerima tangan yang terulur itu, karena tatapan tajam Boss terarah kepadanya. Tapi wajahnya yang cemberut menunjukkan ia tidak terpengaruh kata-kata McMurdo sama sekali.

McGinty menepuk bahu keduanya. “Tut! Masalah gadis! Masalah gadis!” serunya. “Siapa mengira seorang gadis bisa membuat dua anakku bertengkar! Benar-benar sial! Well, hati mereka sendiri yang harus menyelesaikannya, karena itu sudah di luar wewenang Bodymaster—dan terpujilah Tuhan karenanya! Kita sendiri sudah cukup banyak, tanpa ditambah wanita. Kau akan bergabung dengan Kelompok 341, saudara McMurdo. Kami memiliki cara dan merode tersendiri, berbeda dengan Chicago. Kami mengadakan pertemuan setiap Sabtu malam, dan kalau kau datang nanti, kami akan menjadikanmu anggota Lembah Vermissa untuk selamanya.”

One thought on “Bab 2 – Sang Bodymaster

  1. Pingback: Valley of Fear (Lembah Ketakutan) | BLACK LOTUS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s