Bab 3 – Kelompok 341, Vermissa

KEESOKAN pagi setelah malam berlangsungnya begitu banyak kejadian yang menarik, McMurdo pindah dari rumah si tua Jacob Shafter ke rumah Janda MacNamara di tepi kota. Scanlan, kenalan pertamanya di kereta api, tidak lama kemudian pindah ke Vermissa, dan keduanya menumpang di rumah yang sama. Tidak ada penyewa yang lain, dan induk semang mereka adalah wanita Irlandia tua yang tidak mau mengusik mereka. Jadi mereka bebas untuk berbicara dan bertindak di antara orang-orang yang memiliki rahasia yang sama.

Shafter akhirnya mengalah dengan mengizinkan McMurdo makan di rumahnya kapan pun ia mau, sehingga hubungannya dengan Ettie tidak putus. Mereka justru semakin lama semakin erat seiring berlalunya minggu demi minggu.

Di kamar tidur di tempat kosnya yang baru, McMurdo merasa aman untuk mengeluarkan cetakan uangnya. Dan setelah berulang kali bersumpah merahasiakannya, barulah saudara-saudara sesama anggota diizinkan masuk dan melihatnya, masing-masing pulang dengan membawa sejumlah contoh uang palsu. Uang itu begitu serupa sehingga mereka tidak menghadapi bahaya sedikit pun saat mengedarkannya. Dengan menguasai keterampilan sehebat itu, mengherankan McMurdo masih mencari pekerjaan. Hal itu merupakan misteri bagi rekan-rekannya, sekalipun ia sudah menjelaskan bahwa kalau ia mampu menghidupi diri tanpa pekerjaan yang kelihatan, jelas akan memancing kehadiran polisi dalam waktu singkat.

Salah satu petugas polisi memang telah memburunya. Tapi insiden itu, sebagaimana nasib menentukan justru lebih menguntungkan daripada merugikan si petualang. Sesudah perkenalan pertama, selama beberapa malam ia tidak sempat berkunjung ke salon McGinty dan mengakrabkan diri dengan “anak-anak”, julukan akrab bagi para anggota geng yang berbahaya itu terhadap satu sama lain. Sikapnya yang memesona dan keberaniannya berbicara menyebabkan ia menjadi kesayangan mereka semua. Sementara kecepatan dan kecanggihannya dalam membereskan perselisihan menimbulkan rasa hormat di komunitasnya. Tapi, sebuah kejadian lain meningkatkan penilaian terhadap dirinya.

Tepat pada saat salon tengah ramai pada suatu malam, pintu terbuka dan seorang pria melangkah masuk. Pria itu mengenakan seragam biru dan topi lancip polisi pertambangan. Lembaga itu merupakan organisasi khusus yang didirikan para pengusaha kereta api dan pertambangan untuk membantu pekerjaan polisi biasa, yang sama sekali tidak berdaya menghadapi para penjahat terorganisir yang menteror distrik itu. Ruangan seketika sunyi saat ia masuk, dan banyak yang melirik penasaran ke arahnya. Tapi hubungan antara polisi dan penjahat di beberapa kawasan di Amerika Serikat cukup aneh. Dan McGinty sendiri, berdiri di balik mejanya, tidak menunjukkan keterkejutan sewaktu petugas polisi itu bergabung dengan para pelanggannya.

“Wiski saja, malam ini dingin sekali,” kata perwira polisi itu. “Kurasa kita belum pernah bertemu, Penasihat?”

“Kau kapten yang baru itu?” tanya McGinty.

“Benar. Kami mengharapkan dirimu, Penasihat, dan juga para tokoh masyarakat lainnya, untuk membantu kami menegakkan hukum dan peraturan di kota ini. Namaku Kapten Marvin.”

“Kami bisa berjalan lebih baik tanpa kehadiranmu, Kapten Marvin,” kata McGinty dingin, “karena kami memiliki kesatuan polisi sendiri di kota ini, dan tidak perlu mengimpor dari manapun. Kau ini cuma alat bayaran kapitalis, disewa mereka untuk memukul atau menembak warga negara yang lebih miskin.”

“Well, well, kita tidak akan memperdebatkan hal itu,” kata perwira polisi itu ramah. “Kuharap kita tetap melakukan tugas masing-masing sebagaimana yang kita pahami, tapi kita tidak bisa sepaham dalam semua hal.” Ia menghabiskan wiskinya dan berbalik hendak pergi, sewaktu pandangannya tertuju pada Jack McMurdo, yang merengut menatapnya. “Halo! Halo!” serunya, sambil memandang McMurdo dari atas ke bawah. “Ada kenalan lama!”

McMurdo menjauhinya. “Aku tidak pernah menjadi temanmu atau polisi terkutuk lainnya seumur hidup,” katanya.

“Kenalan tidak selalu berarti teman,” kata kapten polisi itu sambil tersenyum. “Kau Jack McMurdo dari Chicago, bukan? Jangan mengingkarinya!”

McMurdo mengangkat bahu. “Aku tidak mengingkarinya,” katanya. “Kaupikir aku malu dengan namaku sendiri?”

“Kau punya alasan bagus untuk berbuat begitu.”

“Apa maksudmu?” raung McMurdo dengan tinju mengepal.

“Tidak, tidak, Jack, tidak ada gunanya menggertakku. Aku dulu polisi Chicago sebelum pindah ke gudang batu bara sialan ini. Dan aku mengenali bajingan Chicago kalau melihatnya.”

McMurdo memucat. “Jangan bilang kau Marvin dari Chicago Central!” serunya.

“Si tua Teddy Marvin yang sama, siap melayanimu. Kami belum melupakan penembakan terhadap Jonas Pinto di sana.”

“Aku tidak pernah menembaknya.”

“Sungguh? Itu bukti meringankan yang bagus, bukan? Well, kematiannya sangat berguna bagimu, kalau tidak mereka pasti menangkapmu karena mengedarkan uang palsu. Well, kita tidak bisa membiarkan yang lalu tetap berlalu karena, antara kau dan aku—dan mungkin aku sudah melewati batas tugasku dengan mengatakan ini—mereka tidak bisa mendapatkan tuduhan yang jelas untuk ditimpakan padamu. Dan Chicago terbuka bagimu besok.”

“Aku baik-baik saja di sini.”

“Well, aku sudah memberimu petunjuk, dan kau anjing sialan malah tidak berterima kasih.”

“Well, kurasa kau berniat baik, dan aku berterima kasih karenanya,” kata McMurdo dengan sikap yang sama sekali tidak ramah.

“Aku tidak keberatan selama melihatmu menjalani kehidupan yang lurus,” kata kapten tersebut. “Tapi, demi Tuhan! Kalau kau menyimpang lagi sesudah ini, ceritanya akan berbeda! Jadi selamat malam untukmu—dan selamat malam, Penasihat.”

Ia meninggalkan bar itu, tapi kedatangannya ternyata malah menciptakan seorang pahlawan setempat. Tindakan McMurdo di Chicago sebelumnya telah menjadi isu. Ia menghindari setiap pertanyaan dengan senyuman, sebagaimana orang yang tidak ingin dianggap hebat. Tapi sekarang kisah itu telah dikonfirmasi secara resmi. Para pengunjung bar segera mengerumuninya dan menjabat tangannya dengan penuh semangat. Sejak saat itu ia mendapat kepercayaan penuh dari lingkungannya. Ia mampu minum banyak tanpa mabuk sedikit pun, tapi malam itu, seandainya Scanlan tidak ada untuk membawanya pulang, sang pahlawan jelas terpaksa harus tidur di bawah meja bar.

Pada suatu Sabtu malam McMurdo diperkenalkan pada perkumpulan. Ia mengira akan diterima tanpa upacara karena telah diangkat di Chicago. Tapi ada ritual-ritual tertentu di Vermissa yang mereka banggakan, dan ritual-ritual ini telah dijalani setiap anggota. Pertemuan itu berlangsung di ruangan besar yang dibuat untuk tujuan itu di Gedung Serikat. Sekitar enam puluh anggota berkumpul di Vermissa, tapi jumlah itu sama sekali tidak menunjukkan seluruh kekuatan organisasi. Ada sejumlah kelompok lain di lembah itu, juga di seberangnya, yang saling menukar anggota bila ada masalah serius. Dengan begitu, kejahatan bisa dilakukan oleh orang-orang yang merupakan orang asing di kalangan setempat. Secara keseluruhan terdapat tidak kurang dari lima ratus anggota yang tersebar di distrik batu bara itu.

Di ruang pertemuan yang tanpa hiasan mereka berkumpul di sekeliling sebuah meja panjang. Di sampingnya terdapat meja kedua tempat botol-botol minuman dan gelas-gelas. Beberapa anggota telah melirik ke sana. McGinty duduk di kepaia meja, mengenakan topi beludru hitam, dan syal ungu di leher. Sekilas ia mirip pendeta yang akan melakukan ritual setan. Di sebelah kanan dan kirinya duduk pejabat tinggi kelompok. Salah satunya Ted Baldwin yang tampan tapi kejam. Keduanya mengenakan semacam syal atau medali sebagai lambang kedudukan mereka.

Sebagian besar merupakan pria berusia dewasa, tapi yang lainnya terdiri atas pemuda berusia antara 18 hingga 25 tahun, agen-agen yang siap dan kompeten untuk melaksanakan perintah para senior. Di antara para anggota yang lebih tua banyak yang ekspresi wajahnya memancarkan kebuasan khas pelanggar hukum. Tapi secara umum sulit untuk mempercayai bahwa para pemuda yang penuh semangat itu sebenarnya kelompok pembunuh yang berbahaya, yang pemikirannya telah mengalami pergeseran moral begitu hebat sehingga mereka justru merasa bangga akan perbuatannya, dan sangat menghormati orang yang memiliki reputasi mampu melakukan apa yang mereka sebut sebagai “pekerjaan bersih”.

Bagi pemikiran mereka yang telah menyimpang, mengajukan diri secara suka rela untuk menyakiti orang lain yang tidak pernah menyakiti mereka—dan dalam banyak kasus bahkan tidak pernah mereka temui sebelumnya—merupakan kompetisi yang membanggakan. Sesudah melakukan kejahatannya, mereka bertengkar mengenai siapa yang sudah membunuh. Dan mereka menceritakan jeritan dan geliat kesakitan korbannya untuk menyenangkan rekan-rekannya.

Mula-mula mereka merahasiakan perbuatannya. Tapi kemudian cerita mengenai perbuatan mereka tersebar luas, karena kegagalan berulang-ulang hukum untuk membuktikan keterlibatan mereka. Di satu sisi karena tidak ada yang berani memberikan kesaksian yang menentang mereka, dan di sisi lain karena mereka memiliki sejumlah besar orang yang bersedia memberikan kesaksian yang meringankan mereka. Ditambah persediaan dana yang cukup besar untuk menyewa pengacara terbaik di seluruh negeri untuk membela mereka. Selama sepuluh tahun merajalela, tidak satu pun dari mereka dijatuhi hukuman. Dan satu-satunya bahaya yang dihadapi para Scowrer hanyalah dari korban sendiri—yang, sekalipun kalah jumlah dan diserang tiba-tiba, mungkin dan sesekali berhasil meninggalkan tanda-tanda perlawanan pada para penyerang.

McMurdo telah diperingatkan akan adanya halangan yang menghadangnya. Tapi tidak seorang pun mau memberitahu halangan macam apa. Sekarang ia dibawa ke ruang luar oleh dua saudara yang bersikap serius. Dari balik papan partisi ia bisa mendengar gumaman banyak suara dari pertemuan di ruang dalam. Satu atau dua kali ia mendengar namanya sendiri disebut-sebut, dan ia tahu mereka sedang mendiskusikan penerimaan dirinya. Lalu seorang penjaga dalam yang mengenakan sabuk hijau dan emas lebar di dadanya melangkah masuk.

“Bodymaster memerintahkan ia diikat, ditutup matanya, dan dibawa masuk,” katanya.

Mereka bertiga menanggalkan mantelnya, menggulung lengan baju sebelah kanan, dan akhirnya melilitkan tali melewati bahu dan mengikatnya. Lalu mereka menutupi bagian atas ke palanya dengan topi hitam tebal sehingga ia tidak bisa melihat apa apa. Lalu ia dibimbing masuk ke ruang pertemuan.

Memakai topi itu, ia bagai dikelilingi kegelapan total yang sangat menyesakkan. Ia mendengar gemerisik dan gumaman orang-orang di sekitarnya, lalu suara McGinty terdengar seperti teredam dan jauh dari balik kain yang menutupi telinganya.

“John McMurdo,” katanya, “kau sudah menjadi anggota Ordo Orang Bebas Tertinggi?”

Ia membungkuk sebagai jawaban.

“Kau dari Kelompok 29, Chicago?”

Ia kembali membungkuk.

“Malam-malam gelap tidak menyenangkan,” kata McGinty.

“Ya, bagi orang asing yang bepergian,” jawabnya.

“Awan sangat tebal.”

“Ya, ada badai mendekat.”

“Apakah saudara-saudara merasa puas?” tanya Bodymaster.

Terdengar gumam persetujuan.

“Kami tahu, Saudara, dari tanda dan tanggapan yang kauberikan bahwa kau benar-benar salah satu dari kami,” kata McGinty. “Tapi sekarang kami beritahukan bahwa di kawasan ini dan sekitarnya kami memiliki ritual tertentu, dan juga tugas-tugas tenentu yang membutuhkan orang-orang yang hebat. Apakah kau siap untuk diuji?”

“Siap.”

“Apakah kau berani?”

“Ya.”

“Maju selangkah untuk membuktikannya.”

Saat McGinty mengatakannya, McMurdo merasakan ujung dua benda keras yang lancip menempel di matanya, menekannya sebegitu rupa sehingga seakan ia tidak akan bisa maju tanpa kehilangan matanya. Sekalipun begitu, ia membulatkan tekad dan melangkah maju. Dan saat ia bergerak tekanan di matanya berkurang. Terdengar tepuk tangan pelan.

“Ia memang pemberani,” kata McGinty. “Kau bisa menahan sakit?”

“Seperti yang lain,” jawabnya “Uji dia!”

McMurdo terpaksa mengerahkan segenap tekadnya untuk menahan sakit yang menyengat di lengan kanannya. Ia hampir pingsan karena sengatan yang tiba-tiba itu, tapi ia menggigit bibir dan mengepalkan tangan untuk menahan sakit.

“Aku bisa menahan yang lebih sakit lagi,” katanya.

Kali ini terdengar tepuk tangan keras. Belum pernah ada yang begitu hebat saat tampil pertama kali. McMurdo merasa orang-orang menepuk punggungnya, dan topinya pun ditanggalkan. Ia berdiri, mengerjap-kerjapkan mata dan tersenyum sambil menerima ucapan selamat dari saudara-saudaranya.

“Satu pesan terakhir, Saudara McMurdo,” kata McGinty. “Kau sudah bersumpah untuk menjaga kerahasiaan dan kesetiaan. Kau sadar pelanggaran terhadap keduanya adalah kematian seketika?”

“Ya,” jawab McMurdo.

“Dan kau menerima peraturan Bodymaster saat ini dalam segala keadaan?”

“Saya terima.”

“Kalau begitu atas nama Kelompok 341, Vermissa, kusambut kau ke dalam keistimewaan dan perdebatannya. Tolong tuang minuman di meja Saudara Scanlan, dan kita akan minum untuk menyulang saudara kita ini.”

Mantel McMurdo dikembalikan, tapi sebelum mengenakannya ia memeriksa lengan kanannya, yang masih terasa menyengat. Di daging lengan bawahnya terdapat tanda lingkaran dengan segitiga di dalam, dalam dan merah, seperti bekas cap besi. Satu atau dua orang di dekatnya menggulung lengan baju mereka dan menunjukkan tanda Kelompok mereka.

“Kami semua memilikinya,” kata salah satunya, “tapi tidak seberani dirimu sewaktu menerimanya.”

“Tut! Bukan apa-apa,” katanya, tapi tetap saja tanda di lengannya terasa panas dan sakit.

Sewaktu minuman yang menyertai upacara penerimaan telah dibagikan, pembicaraan mengenai urusan Kelompok dilanjutkan. McMurdo, yang terbiasa dengan gaya anggun Chicago, mendengarkan dengan telinga terbuka lebar dan perasaan terkejut yang lebih daripada yang ditunjukkannya.

“Urusan pertama dalam agenda,” kata McGinty, “adalah membacakan surat berikut ini dari Kepala Divisi Windle dari Kelompok 249 Merton County. Katanya:

Dengan hormat,
Ada pekerjaan yang harus dilakukan terhadap Andrew Rae dari Rae dan Sturmash, pemilik pertambangan batu bara di dekat sini. Kau pasti ingat kelompokmu berutang budi pada kami, sesudah mendapat bantuan dua saudara dalam urusan menyangkut seorang petugas patroli musim gugur yang lalu. Harap kirimkan dua orang terbaik, mereka akan diurus oleh Higgins, bagian keuangan kelompok kami, yang alamatnya sudah kauketahui. Ia akan menunjukkan pada mereka kapan dan di mana harus bertindak.—Salam dari saudaramu. J.W. Windle, D.M.A.O.F.

Windle belum pernah menolak kita pada saat kita membutuhkan pinjaman satu atau dua orang, dan tidak layak jika kita menolak permintaannya.” McGinty diam sejenak dan memandang ke sekeliling ruangan dengan matanya yang datar dan kejam. “Siapa yang mengajukan diri untuk tugas ini?”

Sejumlah anggota yang masih muda mengacungkan tangan. Bodymaster memandang mereka sambil tersenyum senang.

“Kau yang berangkat, Tiger Cormac. Kalau kau menanganinya sebaik kau melaksanakan tugas terakhirmu, kau tidak akan keliru. Dan kau, Wilson.”

“Saya tidak punya pistol,” kata si sukarelawan bocah yang masih berusia belasan tahun.

“Ini tugas pertamamu, bukan? Well, kau akan segera terbiasa. Ini awal yang bagus untukmu. Sedang mengenai pistolnya, akan disediakan di sana bagimu, atau aku keliru. Kalau kau melaporkan diri hari Senin, mereka akan punya cukup waktu untuk itu. Kau akan mendapat sambutan yang meriah sepulangmu nanti.”

“Ada hadiahnya kali ini?” tanya Cormac, seorang pemuda kekar, berwajah gelap, dan tampak brutal, yang kekejamannya membuatnya mendapat julukan “Tiger—harimau”.

“Jangan pedulikan hadiahnya. Kau melakukannya demi kehormatan. Mungkin sesudah ini selesai ada beberapa dolar tambahan untukmu.”

“Apa yang telah dilakukan orang ini?” tanya Wilson muda.

“Kalian tidak perlu menanyakan apa yang telah dilakukan orang ini. Ia sudah diadili di sana. Itu bukan urusan kita. Kita hanya perlu melakukan permintaan mereka, sama seperti yang akan mereka lakukan untuk kita. Omong-omong tentang itu, kedua saudara dari kelompok Merton akan datang minggu depan untuk membereskan urusan di daerah ini.”

“Siapa mereka?” tanya seseorang.

“Lebih baik kau tidak menanyakannya. Kalau kau tidak mengetahui apa-apa, kau tidak bisa memberikan kesaksian apa pun. Dan tidak akan ada masalah karenanya. Tapi mereka adalah orang-orang yang akan melakukan pekerjaan bersih ketika melaksanakan tugasnya.”

“Dan memang sudah waktunya!” seru Ted Baldwin. “Orang-orang semakin tidak terkendali di daerah ini. Minggu lalu tiga anggota kita dipecat Mandor Blaker. Kelakuannya sudah cukup lama keterlaluan, dan ia akan mendapat balasan yang pantas.”

“Mendapat apa?” bisik McMurdo pada orang di sampingnya.

“Peluru senapan tabur!” teriak pria itu, dan tertawa terbahak-bahak. “Apa pendapatmu mengenai cara kami, Saudara?”

Jiwa kriminal McMurdo tampaknya telah menyerap semangat perkumpulan jahat di mana ia sekarang menjadi anggota. “Aku sangat menyukainya,” katanya. “Ini tempat yang layak bagi orang yang penuh semangat.”

Beberapa orang yang duduk di sekitarnya mendengar jawabannya dan bertepuk tangan.

“Ada apa?” seru sang bodymaster berambut hitam dari ujung meja.

“Saudara baru kita ini, Sir, yang mendapati cara kita sesuai dengan seleranya.”

McMurdo seketika bangkit berdiri. “Menurut saya, Bodymaster yang mulia, kalau dibutuhkan, saya akan merasa terhormat untuk dipilih membantu kelompok.”

Terdengar tepuk tangan keras menyambutnya.

Rasanya seperti ada matahari baru yang keluar dari balik kaki langit. Menurut sejumlah sesepuh tawaran itu agak terlalu cepat.

“Menurutku,” kata si sekretaris, Harraway, seorang pria tua berwajah burung pemakan bangkai dengan janggut beruban yang duduk di dekat sang ketua, “sebaiknya Saudara McMurdo menunggu hingga saatnya tiba.”

“Tentu saja, itu maksud saya. Saya berada di bawah perintah Anda,” kata McMurdo.

“Waktumu akan tiba, Saudara,” kata sang ketua. “Kami sudah menandai dirimu sebagai orang yang ringan tangan, dan kami percaya kau akan melakukan pekerjaan yang baik di kawasan ini. Ada masalah kecil malam ini yang mungkin bisa kau bantu kalau kau tidak keberatan.”

“Saya akan menunggu tugas yang layak.”

“Kau boleh datang malam ini, dan tugas malam ini akan membantumu mengetahui apa yang kita perjuangkan di sini. Aku akan mengumumkannya nanti. Sementara itu,” McGinty melirik agendanya, “ada satu atau dua hal lagi yang hendak kusampaikan dalam pertemuan ini. Pertama-tama, kuminta bagian keuangan kita melaporkan simpanan kita. Ada pensiun untuk janda Jim Carnaway. Ia tewas sewaktu melakukan tugas untuk kelompok kita. Dan sudah seharusnya kita memastikan jandanya tidak tersia-sia.”

“Jim tertembak bulan yang lalu sewaktu mereka mencoba menghabisi Chester Wilcox dari Marley Creek,” orang di samping McMurdo memberitahunya.

“Dana pada saat ini bagus,” kata bagian keuangan, dengan buku bank terbuka di hadapannya. “Perusahaan-perusahaan sangat dermawan akhir-akhir ini. Max Linder and Co. membayar lima ratus agar tidak diganggu. Walker Brothers mengirimkan seratus, tapi aku mengembalikannya dan meminta lima ratus. Kalau aku tidak mendapat kabar hingga hari Rabu, roda gigi mereka mungkin akan mengalami kerusakan. Kami terpaksa membakar mesin pemecah mereka tahun lalu sebelum mereka bersikap logis. Lalu West Section Coaling Company membayar sumbangan tahunannya. Kita memiliki cukup dana untuk memenuhi kewajiban apa pun.”

“Bagaimana dengan Archie Swindon?” tanya seorang saudara.

“Ia sudah menjual perusahaannya dan meninggalkan distrik ini. Setan tua itu meninggalkan pesan bahwa ia lebih suka menjadi penyapu jalan yang merdeka di New York daripada pemilik perusahaan pertambangan besar yang dikuasai gerombolan pemeras. By Gar! Untung ia sudah pergi sebelum surat itu kita terima! Kurasa ia tidak akan berani datang ke lembah ini lagi.”

Seorang pria tua, wajahnya dicukur bersih, dengan ekspresi ramah dan alis lebat, beranjak bangkit dari ujung meja yang berhadapan dengan Ketua. “Bagian keuangan,” katanya, “boleh kutanyakan siapa yang membeli properti orang yang kita usir dari distrik ini?”

“Ya, Saudara Morris. Propertinya dibeli State and Merton County Railroad Company.”

“Dan siapa yang membeli tambang-tambang Todman dan Lee yang dijual dengan cara yang sama tahun lalu?”

“Perusahaan yang sama, Saudara Morris.”

“Dan siapa yang membeli pengolahan bijih besi Manson, Shuman, Van Deher, dan Atwood? Keempat perusahaan itu menyerah akhir-akhir ini, bukan?”

“Semua dibeli West Gilmerton General Mining Company.”

“Aku tidak mengerti, Saudara Morris,” kata Ketua, “kenapa penting bagi kita siapa yang membelinya? Toh mereka tidak bisa membawanya keluar dari distrik ini.”

“Dengan segala hormat, Bodymaster yang mulia, kupikir hal ini sangat penting bagi kita. Proses ini sekarang sudah berlangsung selama sepuluh tahun. Perlahan-lahan kita mengusir semua pengusaha kecil dari daerah ini. Apa hasilnya? Kita dapati tempat mereka digantikan perusahaan-perusahaan besar seperti Railroad atau General Iron, yang para direkturnya ada di New York atau Philadelphia, dan tidak memedulikan ancaman kita. Kita bisa menyingkirkan bos-bos setempat mereka, tapi itu hanya berarti akan ada orang lain yang dikirim untuk menggantikannya. Dan kita membahayakan diri sendiri. Pengusaha kecil tidak bisa menyakiti kita. Mereka tidak memiliki uang maupun kekuasaan untuk itu. Selama kita tidak memeras mereka hingga habis, mereka akan tetap berada dalam cengkeraman kita. Tapi kalau perusahaan-perusahaan besar ini mengetahui kita menghalangi keuntungan mereka, mereka akan memburu kita dan membawa kita ke pengadilan.”

Mendengarnya, seketika kesunyian timbul. Dan setiap wajah berubah muram saat mereka bertukar pandang. Selama ini mereka begitu kokoh dan tidak terkalahkan sehingga pemikiran adanya kemungkinan pembalasan telah hilang dari benak mereka. Sekalipun begitu, gagasan itu menimbulkan kegentaran bahkan pada orang yang paling nekat di antara mereka.

“Kusarankan,” kata Morris, “untuk bersikap lebih lunak pada para pengusaha kecil. Suatu hari pada saat mereka semua sudah terusir, kekuatan organisasi ini akan hancur.”

Kebenaran yang tidak diterima merupakan sesuatu yang tidak populer. Terdengar seruan-seruan kemarahan sementara anggota itu kembali duduk. McGinty bangkit berdiri sambil mengerutkan kening.

“Saudara Morris,” katanya “sejak dulu kau memang selalu mengacau. Selama para anggota kelompok ini bersatu tidak ada kekuatan apa pun di Amerika Serikat yang bisa mengusik kita. Sudah jelas, kita sering membuktikannya di sidang pengadilan, bukan? Kuharap perusahaan-perusahaan besar menganggap lebih mudah membayar daripada melawan, sama seperti yang dilakukan perusahaan-perusahaan kecil. Dan sekarang, Saudara-saudara,” McGinty menanggalkan topi beludru hitam dan syalnya sambil berbicara, “urusan Kelompok untuk malam ini sudah selesai, kecuali untuk satu hal kecil yang bisa disebut sebagai akhir acara. Sudah tiba waktunya untuk penyegaran persaudaraan dan untuk keharmonisan.”

Sifat manusia memang aneh. Bagi orang-orang ini, pembunuhan merupakan hal yang biasa. Mereka biasa menghabisi nyawa seorang ayah, seseorang yang tidak punya masalah pribadi apa pun dengan mereka, tanpa sedikit pun merasa iba terhadap istri dan anak anak si korban. Sekalipun begitu, kelembutan musik mampu menyebabkan mereka meneteskan air mata. McMurdo memiliki suara tenor yang bagus, dan kalau sebelumnya ia gagal mendapat simpati anggota Kelompok lainnya, sekarang mereka tidak mampu menahannya setelah ia membuat mereka senang dengan lantunan “I’m Sitting on the Stile, Mary”, dan “On the Banks of Allan Water”.

Di malam pertamanya anggota baru itu telah menjadi anggota paling populer di kalangan perkumpulan itu, diyakini akan meningkat dan menduduki jabatan penting. Tapi ada sifat lain yang diperlukan, selain keramahan, untuk menjadi Orang Bebas yang penting. Dan dalam hal ini, ia mendapat contoh sebelum malam berakhir. Botol wiski telah beredar berulang ulang, dan orang-orang telah siap untuk melanggar hukum sewaktu bodymaster mereka kembali berdiri untuk berbicara.

“Anak anak,” katanya, “ada satu orang di kota yang perlu diluruskan. Dan sudah menjadi tugas kalian untuk memastikannya. Yang kumaksud James Stanger dari Herald. Kalian sudah membaca komentar terbarunya mengenai kita?”

Terdengar gumam persetujuan, diiringi sejumlah besar gumam makian. McGinty mengeluarkan potongan koran dari saku mantelnya.

“‘Hukum dan Keteraturan!’ Begitu kepala berita yang dibuatnya ‘Rangkaian Teror di Distrik Batu Bara dan Besi. Sudah dua belas tahun berlalu sejak pembunuhan pertama yang membuktikan kehadiran sebuah organisasi knminal di tengah-tengah kita. Sejak hari itu angkara murka ini tidak pernah berhenti, hingga sekarang mereka telah mencapai tingkat yang menjadikan kita celaan dunia beradab. Apakah untuk hasil seperti ini negara kita yang hebat ini menyambut orang asing yang melarikan diri dari tekanan di Eropa? Apakah supaya mereka menjadi tiran atas orang-orang yang sudah menerima mereka, dan terorisme dan ketiadaan hukum merajalela di bawah bayang-bayang bendera kemerdekaan suci yang akan menimbulkan kengerian dalam benak kita kalau kita menganggapnya berada di bawah monarki lemah di Timur? Orang-orangnya telah dikenal. Organisasinya terbuka. Berapa lama kita harus menanggungnya? Apakah kita bisa selamanya hidup—’ Aku sudah muak membaca sampah ini!” seru Ketua, sambil membuang koran itu ke meja. “Itu pendapatnya tentang kita. Yang ingin kutanyakan pada kalian adalah apa yang akan kita katakan kepadanya.”

“Bunuh dia!” seru dua belas orang dengan suara buas.

“Aku protes,” kata Saudara Morris, pria beralis lebat dan berwajah dicukur licin tadi. “Kuberitahu, Saudara-saudara, bahwa kita sudah terlalu menekan lembah ini. Dan akan ada saatnya ketika setiap orang bersatu untuk membela diri dengan menghancurkan kita. James Stanger hanyalah seorang pria tua. Ia dihormati di kota ini dan di distrik ini. Korannya merupakan perlambang kekokohan di lembah ini. Kalau orang itu dibunuh pasti timbul kekacauan di kawasan ini yang baru berhenti setelah kita hancur.”

“Bagaimana cara mereka menghancurkan kita, Saudara Penakut?” seru McGinty. “Apakah dengan polisi? Jelas, separo dari mereka mendapat upah dari kita dan separo sisanya takut pada kita. Atau dengan sidang pengadilan dan para hakim? Kita sudah pernah mencobanya, dan apa hasilnya?”

“Ada hakim bernama Lynch yang mungkin akan memimpin persidangannya,” kata Saudara Morris.

Teriakan marah menyambut saran itu.

“Aku tinggal mengangkat satu jari,” seru McGinty, “maka aku bisa mendatangkan dua ratus orang ke kota ini yang akan membersihkannya dari ujung ke ujung.” Lalu tiba-tiba ia meninggikan suara dan mengerutkan alisnya yang hitam lebat. “Perhatikan baik-baik, Saudara Morris, aku sudah mengawasi dirimu, dan sudah mengawasimu cukup lama! Kau tidak memiliki keberanian, dan kau mencoba menakut-nakuti yang lain. Akan ada harinya bagimu, Saudara Morris, saat namamu sendiri akan muncul dalam agenda kita. Kupikir sudah seharusnya aku menuliskan namamu di sana.”

Morris tiba-tiba berubah pucat pasi, dan lututnya seakan-akan melemas saat ia duduk kembali. Ia mengangkat gelasnya dengan tangan gemetar dan minum sebelum mampu menjawab. “Aku minta maaf Bodymaster yang mulia, kepadamu dan kepada semua saudara dalam kelompok ini kalau aku sudah mengatakan lebih banyak daripada yang seharusnya. Kalian semua tahu, aku anggota yang setia. Dan karena takut ada kejadian buruk menimpa kelompok kitalah yang menyebabkan aku mengucapkan kata-kata yang menggelisahkan. Tapi aku lebih mempercayai penilaianmu daripada penilaianku sendiri, Bodymaster yang mulia. Dan aku berjanji untuk tidak akan menyinggung perasaan siapa pun lagi.”

Ekspresi wajah Bodymaster melunak saat mendengarkan kata-kata yang merendah itu. “Bagus sekali, Saudara Morris. Aku sendiri akan menyesal kalau terpaksa harus memberimu pelajaran. Tapi selama aku masih menjabat di sini, kita akan memastikan kelompok ini seiya sekata. Dan sekarang, anak-anak,” lanjutnya, sambil memandang anggota-anggota yang lain, “menurutku begini, kalau kita menghabisi si Stanger ini akan menimbulkan lebih banyak masalah daripada yang kita perlukan. Para editor ini sangat bersatu, dan semua koran di seluruh negeri akan berteriak-teriak memanggil polisi dan tentara. Tapi kurasa kalian bisa memberinya peringatan yang cukup keras. Kau bersedia membereskannya, Saudara Baldwin?”

“Tentu saja!” jawab pemuda itu penuh semangat.

“Berapa banyak saudara yang akan kau ajak?”

“Enam orang, dan dua lagi untuk menjaga pintu. Kau ikut, Gower, dan kau, Mansel. Dan kau juga, Scanlan. Dan kedua Willaby bersaudara.”

“Aku sudah berjanji pada saudara baru kita untuk mengikutkan dia,” kata Ketua.

Ted Baldwin memandang McMurdo dengan pandangan yang menunjukkan ia belum melupakan atau memaafkan. “Well, ia boleh ikut kalau mau,” katanya masam. “Cukup sudah. Semakin cepat kita lakukan, semakin baik.”

Pertemuan tersebut bubar diiringi teriakan, jeritan, dan nyanyian mabuk. Bar masih dipenuhi pengunjung, dan banyak di antara anggota Kelompok yang tinggal di sana. Sejumlah kecil yang telah mendapat perintah pergi ke jalan dalam kelompok dua atau tiga orang agar tidak menarik perhatian. Malam sangat dingin, dengan bulan separo bersinar cerah di langit yang membeku dan dipenuhi bintang. Mereka berhenti dan berkumpul di halaman yang menghadap sebuah gedung tinggi. Di dinding, di antara dua jendela yang terang benderang, tertulis kata-kata “Vermissa Herald” dengan huruf-huruf keemasan. Dari dalam gedung terdengar suara dentang mesin cetak.

“Kau, kemari,” kata Baldwin pada McMurdo. “Kau berjaga-jaga di pintu dan pastikan jalanan aman. Arthur Willaby bisa menemanimu. Yang lain ikut aku. Tidak perlu takut, Anak-anak. Ada selusin saksi yang melihat kita di Union Bar saat ini.”

Saat itu hampir tengah malam, dan jalanan sepi, cuma ada satu atau dua pengunjung bar yang dalam perjalanan pulang. Kelompok tersebut menyeberangi jalan, membuka pintu kantor koran itu, lalu Baldwin dan anak buahnya bergegas masuk menaiki tangga yang ada di depan mereka. McMurdo dan seorang anggota yang lain tetap di bawah. Dari ruangan atas terdengar teriakan, jeritan minta tolong, lalu suara kaki menginjak-injak dan kursi yang jatuh. Sesaat kemudian seorang pria beruban bergegas turun dari tangga.

Ia tertangkap sebelum sempat melarikan diri, dan kacamatanya berguling ke kaki McMurdo. Terdengar suara berdebum dan erangan. Pria itu telah tertelungkup, dan enam tongkat menghujaninya bertubi-tubi. Ia menggeliat-geliat, dan tangan serta kakinya yang kurus dan panjang gemetar kesakitan.

Yang lain akhirnya berhenti, tapi Baldwin, sambil tersenyum bagai binatang, terus menghajar kepala pria itu. Pria itu berusaha melindungi kepalanya dengan tangan, tapi sia-sia. Ubannya mulai berlepotan darah. Baldwin masih membungkuk di atas korbannya, menghantam sekuat tenaga setiap kali melihat ada bagian kepala yang tak terlindung. McMurdo bergegas menaiki tangga dan menariknya mundur.

“Kau akan membunuh orang ini!” katanya. “Hentikan!”

Baldwin tertegun menatapnya. “Terkutuk kau!” serunya. “Berani-beraninya turut campur—kau anggota baru di sini? Mundur!” Ia mengangkat tongkatnya, tapi McMurdo telah mencabut pistol dari saku pinggul.

“Mundurlah sendiri!” serunya. “Kuhancurkan wajahmu kalau kau berani menyentuhku. Sedang mengenai kelompok, Bodymaster sudah melarang kita membunuh pria ini. Apa yang kaulakukan sekarang kalau bukan sedang membunuhnya?”

“Ia benar,” kata salah seorang rekan mereka.

“By Gar! Sebaiknya kalian bergegas!” seru anggota di pintu. “Lampu di jendela-jendela mulai menyala, dan seluruh kota akan berkumpul di sini dalam lima menit karena kalian.”

Memang terdengar suara teriakan dari jalan, dan sekelompok kecil penata letak dan wartawan mulai berkumpul di bawah dan memberanikan diri bertindak. Dengan meninggalkan editor yang telah lemas dan tidak bergerak di ujung tangga itu, para penjahat tersebut bergegas turun dan melarikan diri ke jalan.

Sesudah tiba di Gedung Serikat, beberapa dari mereka menggabungkan diri dengan para pengunjung salon McGinty, berbisik-bisik memberitahu Boss bahwa pekerjaan telah dilaksanakan dengan baik. Yang lain, termasuk McMurdo, melangkah ke jalan, dan dengan berliku-liku pulang ke rumah masing-masing.

One thought on “Bab 3 – Kelompok 341, Vermissa

  1. Pingback: Valley of Fear (Lembah Ketakutan) | BLACK LOTUS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s