Bab 4 – Kegelapan

PADA pukul 03.00 detektif kepala kepolisian Sussex, yang memenuhi panggilan mendesak Sersan Wilson dari Birlstone, tiba dari markas besar dengan menggunakan kereta yang ditarik seekor kuda. Dengan menggunakan kereta api pukul 05.40 ia mengirim pesan ke Scotland Yard, dan telah berada di stasiun Birlstone pada pukul 12.00 untuk menyambut kami. White Mason pria pendiam yang menarik, mengenakan setelan kotak-korak yang agak kebesaran, dengan wajah kasar yang dicukur rapi, tubuh liat, dan kaki kuat yang dibungkus sepatu tebal. Ia mirip petani, pensiunan penjaga hutan, atau apa pun kecuali petugas penyelidik kejahatan terbaik di daerah.

“Benar-benar membingungkan, Mr. MacDonald!” katanya berulang-ulang. “Orang-orang pers seketika merubung seperti lalat begitu mereka mendengar beritanya. Saya harap kita bisa menyelesaikannya sebelum mereka campur tangan terlalu jauh dan mengacaukan semua jejaknya. Sepanjang ingatan saya tidak ada kasus seperti ini. Ada beberapa bagian yang pasti akan Anda kenali, Mr. Holmes, atau saya keliru. Dan Anda juga, Dr. Watson, karena kalangan medis pasti ingin mengatakan sesuatu sebelum kita selesai. Kamar kalian tersedia di Westville Arms. Tidak ada tempat lain, tapi saya dengar tempat itu bersih dan bagus. Orang ini yang akan membawakan koper-koper kalian. Lewat sini, Tuan-tuan.”

Detektif Sussex ini sangat periang dan ribut. Sepuluh menit kemudian kami telah mendapatkan kamar masing-masing. Sepuluh menit kemudian kami berkumpul di ruang duduk hotel dan mendengar cerita singkat mengenai kejadian yang telah disajikan garis besarnya di bab yang lalu. MacDonald sesekali mencatat, sementara Holmes tenggelam dalam pikirannya, dengan ekspresi terkejut dan kagum, bagai ahli botani saat menemukan bunga langka yang tengah mekar.

“Luar biasa!” katanya, sesudah cerita tersebut selesai, “sangat luar biasa! Seingatku tidak ada kasus yang lebih aneh.”

“Sudah saya duga Anda akan berkata begitu, Mr. Holmes,” kata White Mason gembira. “Kami sangat sibuk di Sussex. Sekarang sudah saya ceritakan bagaimana masalahnya, hingga saya mengambil alih dari Sersan Wilson antara pukul 03.00 dan 04.00 hari ini. Astaga! Saya pacu kuda tua itu sekencang-kencangnya! Tapi ternyata saya tidak perlu tergesa-gesa begitu, karena tidak ada yang harus segera saya lakukan. Sersan Wilson sudah mencatat semua faktanya. Saya periksa fakta-fakta itu dan saya pertimbangkan, dan mungkin menambahkan beberapa hasil pengamatan saya sendiri.”

“Apa itu?” tanya Holmes penuh semangat.

“Well, pertama-tama saya periksa palunya. Ada Dr. Wood yang membantu saya. Kami tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada palu itu. Tadinya saya berharap, seandainya Mr. Douglas membela diri dengan menggunakan palu itu, ia mungkin sempat melukai pembunuhnya sebelum menjatuhkan palu itu ke karpet. Tapi tidak ada noda apa pun.”

“Itu, tentu saja, tidak membuktikan apa pun,” komentar Inspektur MacDonald. “Banyak pembunuhan menggunakan palu yang tidak meninggalkan jejak apa pun pada palunya.”

“Memang benar. Tidak ada bukti kalau palu itu pernah digunakan. Tapi mungkin ada noda, dan mungkin noda itu bisa membantu kita. Kenyataannya tidak ada apa-apa. Lalu saya periksa senapannya. Pelurunya peluru tabur, dan, seperti yang ditunjukkan Sersan Wilson, pelatuknya sudah disatukan sehingga, kalau pelatuk yang belakang ditarik, peluru di kedua larasnya meletus bersama-sama. Siapa pun yang melakukan perubahan itu sudah bertekad tidak mau mengambil risiko luput. Senapan yang sudah digergaji itu panjangnya tidak lebih dari 60 sentimeter—orang bisa membawanya dengan mudah di balik mantel. Nama pembuatnya tidak lengkap, hanya ada tulisan ‘P E N” di antara larasnya, sisanya sudah terpotong.”

“Huruf ‘P’ besar dengan hiasan di atasnya—’E’ dan ‘N’ yang lebih kecil?” tanya Holmes.

“Tepat sekali.”

“Pennsylvania Small Arm Company—perusahaan Amerika yang cukup terkenal,” kata Holmes.

White Mason menatap temanku seperti dokter desa menatap spesialis di Harley Street yang dengan satu kata mampu memecahkan masalah yang membingungkannya.

“Itu sangat membantu, Mr. Holmes. Anda pasti benar. Luar biasa! Luar biasa! Anda mengingat nama semua produsen senjata api di dunia?”

Holmes mengabaikan hal itu dengan lambaian tangannya.

“Tidak ragu lagi kalau itu senapan tabur buatan Amerika,” lanjut White Mason. “Rasanya saya pernah membaca bahwa senapan tabur yang digergaji merupakan senjata yang biasa digunakan dibeberapa kawasan Amerika. Terlepas dari nama di larasnya, gagasan itu sudah melintas dalam benak saya. Kalau begitu, ada bukti bahwa orang yang memasuki rumah dan membunuh pemiliknya ini warga Amerika.”

MacDonald menggeleng, “Wah, Anda terlalu tergesa-gesa,” katanya. “Saya belum mendengar keterangan pasti bahwa ada orang asing masuk ke rumah.”

“Jendela yang terbuka, noda darah di kusen, kartu yang aneh, jejak sepatu bot di sudut, senapannya!”

“Bukan bukti yang tidak bisa diatur sebelumnya. Mr. Douglas warga Amerika, atau pernah tinggal cukup lama di Amerika. Begitu pula Mr. Barker. Anda tidak perlu mengimpor warga Amerika untuk melakukan apa yang dianggap sebagai perbuatan orang Amerika.”

“Ames, si kepala pelayan itu—”

“Ada apa dengannya? Apakah ia bisa dipercaya?”

“Sepuluh tahun bekerja pada Sir Charles Chandos—sekukuh karang. Ia bekerja pada Douglas sejak pria itu membeli Manor House lima tahun yang lalu. Ia belum pernah melihat senapan seperti ini di rumah sebelumnya.”

“Senapan itu dirancang untuk disembunyikan. Itu sebabnya larasnya digergaji. Senapan itu bisa disimpan dalam kotak. Bagaimana mungkin ia berani bersumpah tidak ada senapan seperti itu dalam rumah?”

“Well, pokoknya, ia belum pernah melihat yang seperti itu.”

MacDonald menggeleng dengan sikap keras kepala khas Skotlandia. “Saya masih belum yakin ada orang lain di rumah itu,” katanya. “Tolong pertimbangkan”—aksennya menjadi semakin khas Aberdeen saat ia asyik berdebat—”tolong pertimbangkan apa saja yang terlibat seandainya senapan ini dibawa ke dalam rumah, dan seandainya semua kejadian aneh ini dilakukan orang luar. Oh, bung ini tidak masuk akal! Jelas ini bertentangan dengan logika! Percayalah, Mr. Holmes, kalau mengingat apa yang sudah kita dengar sejauh ini.”

“Well, silakan bicara, Mr. Mac,” kata Holmes dengan sikap bagai hakim.

“Orang ini bukan pencuri, seandainya ia memang ada. Cincin dan kartu ini menunjukkan pembnuhan terencana untuk alasan pribadi. Bagus sekali. Ini orang yang menyelinap masuk ke rumah dengan niat untuk membunuh. Ia mengetahui, kalau ada yang diketahuinya bahwa ia akan menemui kesulitan untuk melarikan diri, karena rumah itu dikelilingi air. Senjata apa yang dipilihnya? Ia pasti akan memilih senjata yang paling tidak bersuara di dunia. Dengan begitu, ia bisa berharap sesudah melaksanakan niatnya, ia bisa menyelinap keluar dari jendela, menyeberangi parit, dan melarikan diri tanpa tergesa-gesa. Itu bisa dipahami. Tapi apakah bisa dipahami bahwa ia mau bersusah payah membawa senjata yang paling berisik yang bisa dipilihnya, walaupun mengetahui senjata itu akan membuat semua penghuni rumah berdatangan secepat mereka mampu berlari, dan ada kemungkinan besar ia kelihatan sebelum sempat menyeberangi parit? Apakah itu masuk akal, Mr. Holmes?”

“Well, pendapatmu cukup kuat,” jawab temanku sambil berpikir. “Jelas memerlukan pembuktian yang tidak sedikit. Boleh kutanya, Mr. White Mason, apakah Anda langsung memeriksa sisi seberang parit untuk melihat apakah ada tanda-tanda orang itu muncul dari dalam air?”

“Tidak ada tanda apa pun, Mr. Holmes. Tapi tepi seberang terbuat dari batu, sulit untuk mengharapkan ada jejak di sana.”

“Tidak ada tanda apa pun?”

“Tidak.”

“Ha! Kalau begitu, apakah Anda keberatan, Mr. White Mason, seandainya kita pergi ke rumah itu sekarang juga? Mungkin ada beberapa hal kecil yang bisa memberi petunjuk.”

“Saya baru saja akan mengajak Anda, Mr. Holmes, tapi saya pikir lebih baik saya sampaikan dulu fakta-faktanya sebelum kita ke sana. Saya rasa, kalau ada yang menarik perhatian Anda—” White Mason menatap kolega amatirnya dengan ragu.

“Saya sudah pernah bekerja bersama Mr. Holmes,” kata Inspektur MacDonald. “Ia biasa menangani masalah seperti ini.”

“Menangani menurut cara saya sendiri,” kata Holmes sambil tersenyum. “Saya menangani kasus untuk membantu menegakkan keadilan dan membantu polisi. Kalau saya memisahkan diri dari satuan resmi, hal itu karena mereka yang terlebih dulu memisahkan diri dari saya. Saya tidak ingin berhasil dengan mengorbankan mereka. Pada saat yang sama, Mr. White Mason, saya menuntut hak untuk bekerja dengan cara saya sendiri dan memberikan hasilnya pada saat yang saya tentukan sendiri—secara lengkap dan bukannya bertahap.”

“Saya yakin kami mendapat kehormatan dengan kehadiran Anda dan bisa menunjukkan semua yang kami ketahui,” kata White Mason riang. “Ayo, Dr. Watson, dan pada saatnya nanti kami semua berharap mendapat tempat dalam buku Anda.”

Kami berjalan menyusuri jalan desa yang sunyi dengan deretan pohon elm di kedua sisinya. Di ujungnya terdapat dua pilar batu kuno yang sudah dimakan cuaca dan berjamur, di puncaknya terdapat sisa-sisa singa Capus of Birlstone yang kini tidak berbentuk lagi. Tidak jauh dari sana, setelah melewati jalan masuk berliku yang diapit pepohonan ek dan semak yang hanya ada di pedalaman Inggris, kami tiba di tikungan. Setelah berbelok, kami melihat rumah bergaya zaman James I yang panjang dan rendah dari bata merah, dengan kebun gaya lama berpagar yew rendah. Saat kami mendekat, tampak jembatan tarik kayu dan parit yang lebar dan indah, tenang dan berkilauan bagai perak cair ditimpa cahaya matahari musim dingin.

Tiga abad telah dilalui Manor House, berisi kelahiran dan kepulangan, tarian pedesaan, dan pertemuan para pemburu rubah. Aneh juga bahwa pada usia tuanya terjadi masalah gelap di bahk dinding-dindingnya yang kokoh! Sekalipun begitu, atap-atapnya yang lancip dan aneh, ujung-ujungnya yang menjulur sangat sesuai un tuk menutupi intrik yang muram dan menakutkan. Saat kupandang jendela jendelanya dan parit yang panjang dan suram itu, aku merasa tidak ada tempat yang lebih cocok untuk tragedi seperti ini.

“Itu jendelanya,” kata White Mason, “tepat di sebelah kanan jembatan tarik. Jendela itu terbuka seperti waktu ditemukan semalam.”

“Tampaknya terlalu sempit untuk dilewati manusia.”

“Well, asal bukan orang yang gemuk. Kami tidak memerlukan deduksi Anda untuk mengetahuinya, Mr. Holmes. Tapi Anda atau saya bisa memasukinya dengan mudah.”

Holmes melangkah ke tepi parit dan memandang ke seberang. Lalu ia memeriksa tepi batu dan rerumputan di sisi seberang.

“Saya sudah mengamatinya dengan teliti, Mr. Holmes,” kata White Mason. “Tidak ada apa-apa di sana, tidak ada tanda-tanda kalau pernah ada yang mendarat. Tapi kenapa ia harus meninggalkan jejak?”

“Tepat sekali. Kenapa ia harus meninggalkan jejak? Apakah airnya selalu sekotor ini?”

“Biasanya warnanya memang begini. Sungainya membawa tanah liat.”

“Seberapa dalam parit ini?”

“Sekitar setengah meter di tepi dan satu meter di tengah.”

“Jadi kita bisa melupakan kemungkinan orang tenggelam karena berusaha menyeberanginya.”

“Ya, bahkan anak kecil pun tidak akan tenggelam di sini.”

Kami berjalan melintas jembatan tarik, dan disambut seorang pria yang pendiam dan keriput yang tetnyata si kepala pelayan, Ames. Pria tua tersebut masih pucat pasi dan gemetar karena shock. Sersan desa, seorang pria jangkung, resmi, dan melankolis masih bertahan di ruang tempat kejadian. Dokternya telah pergi.

“Ada yang baru, Sersan Wilson?” tanya White Mason.

“Tidak ada, Sir.”

“Kalau begitu, kau boleh pulang. Kau sudah bertugas cukup lama. Kami bisa memanggilmu, kalau kau diperlukan. Kepala pelayan sebaiknya menunggu di luar. Bilang padanya untuk memberitahu Mr. Cecil Barker, Mrs. Douglas, dan pengurus rumah bahwa kami mungkin ingin berbicara dengan mereka. Nah, Tuan-tuan, kalau boleh aku ingin menyampaikan pendapatku sendiri terlebih dulu, dan sesudah itu kalian bisa menyusun pendapat kalian sendiri.”

Ia membuatku terkesan, spesialis pedesaan ini. Ia sangat memahami fakta-faktanya dan memiliki kecerdasan yang tenang, tajam, dan logis, yang menguntungkan bagi profesinya. Holmes mendengarkannya dengan teliti, tanpa menampakkan ketidaksabaran yang sering ditunjukkan petugas.

“Ini bunuh diri, atau pembunuhan? Itulah pertanyaan pertama kita, Tuan-tuan. Kalau ini bunuh diri, maka kita harus percaya kalau pria ini memulainya dengan menanggalkan cincin kawinnya dan menyembunyikannya, lalu ia datang kemari dengan mengenakan mantel rumah, membuat jejak sepatu. berlumpur di sudut di balik tirai agar terkesan ada orang yang menunggunya, membuka jendela, mengoleskan darah—”

“Kita jelas bisa mengesampingkan kemungkinan itu,” kata MacDonald.

“Menurut saya juga begitu. Kejadian ini tidak mungkin bunuh diri. Kalau begitu, ini merupakan pembunuhan. Yang harus kita putuskan adalah apakah ini dilakukan orang dari luar atau dari dalam rumah.”

“Well, kita pertimbangkan saja fakta-faktanya.”

“Ada ganjalan yang cukup besar, baik jika dilakukan orang luar maupun orang dalam, tapi pasti pelakunya salah satu dari dua kemungkinan itu. Pertama, kita anggap saja ada satu atau beberapa orang di dalam rumah yang melakukan kejahatan ini. Mereka membereskan orang ini di sini waktu segala sesuatunya sunyi, tapi belum ada yang tidur. Mereka lalu melaksanakan niatnya dengan senjata paling aneh dan paling ribut di dunia agar semua orang mengetahui apa yang terjadi—senjata yang belum pernah dilihat di rumah ini sebelumnya. Rasanya itu mustahil, bukan?”

“Benar.”

“Well, kalau begitu, semua orang sepakat bahwa sesudah kejadian, hanya dalam waktu paling lama satu menit, seluruh penghuni rumah, bukan hanya Mr. Cecil Barker, walaupun ia mengaku sebagai yang pertama tiba di sini, tapi Ames dan semua yang bin juga tiba di sini. Apakah Anda ingin mengatakan bahwa dalam waktu sesingkat itu pelakunya berhasil membuat jejak sepatu di sudut, membuka jendela, menodai kusennya dengan darah, mengambil cincin kawin dari jari korban, dan segala sesuatu lainnya? Mustahil!”

“Anda mengatakannya dengan sangat jelas,” kata Holmes. “Saya cenderung setuju dengan pendapat Anda.”

“Well, kalau begitu, kita terpaksa kembali ke teori bahwa pelakunya orang dari luar rumah ini. Kita masih menghadapi ganjalan besar, tapi pokoknya kesulitan-kesulitan ini tidak lagi mustahil. Orang ini berhasil masuk ke rumah antara pukul 16.30 hingga 18.00—yaitu antara senja hingga saat jembatan tank diangkat. Saat itu ada beberapa orang tamu, dan pintunya terbuka, jadi tidak ada yang menghalanginya. Ia mungkin pencuri biasa, atau mungkin memiliki masalah pribadi dengan Mr. Douglas. Karena Mr. Douglas menghabiskan sebagian besar hidupnya di Amerika, dan senapan tabur ini tampaknya merupakan senjata buatan Amerika, lebih besar kemungkinan kalau kejadian ini merupakan masalah pnbadi. Ia menyelinap masuk ke kamar ini karena ini kamar pertama yang ditemuinya, dan ia bersembunyi di balik tirai. Ia tetap berada di sana hingga lewat pukul 23.00. Pada saat itu Mr. Douglas masuk ruangan. Percakapan di antara mereka berlangsung singkat, kalau memang sempat terjadi percakapan; karena Mrs. Douglas menyatakan suaminya hanya beberapa menit meninggalkan dirinya sewaktu ia mendengar suara tembakan.”

“Lilinnya menunjukkan hal itu,” kata Holmes.

“Tepat sekali. Lilinnya, yang masih baru, baru terbakar satu sentimeter lebih. Ia pasti meletakkannya di meja sebelum diserang. Kalau tidak, lilinnya pasti jatuh bersamanya. Hal ini menunjukkan ia tidak langsung diserang begitu memasuki ruangan. Sewaktu Mr. Barker tiba, lampu menyala dan lilin padam.”

“Itu cukup jelas.”

“Well, sekarang, kita bisa menyusun rekonstruksi berdasarkan hal-hal itu. Mr. Douglas memasuki ruangan. Ia meletakkan lilin. Seorang pria muncul dari balik tirai. Ia bersenjatakan senapan ini. Ia meminta cincin kawinnya—hanya Tuhan yang tahu alasannya, tapi pasti begitulah kejadiannya. Mr. Douglas menyerahkannya. Lalu entah dengan darah dingin atau berkelahi dulu—Douglas mungkin sempat menyambar palu yang ditemukan di karpet—pria itu menembak Douglas dengan cara yang sadis ini. Ia membuang senapannya, juga kartu yang tampak aneh ini—’V.V 341′, apa pun artinya—dan melarikan diri melalui jendela dan menyeberangi parit tepat pada saat Cecil Barker mengetahui tentang kejadian ini. Bagaimana, Mr. Holmes?”

“Sangat menarik, hanya kurang meyakinkan.”

“Bung, omong kosong kalau kejadiannya lebih rumit daripada ini!” seru MacDonald. “Ada yang membunuh orang ini, dan siapa pun pelakunya, aku jelas bisa membuktikan padamu kalau ia pasti melakukannya dengan cara lain. Apa maksudnya membiarkan jalan melarikan dirinya terpotong seperti itu? Apa maksudnya menggunakan senapan tabur sementara kesunyian merupakan satu-satunya kesempatan baginya untuk melarikan diri? Ayolah, Mr. Holmes, kau harus memberi kami petunjuk, karena katamu teori Mr. White Mason kurang meyakinkan.”

Holmes duduk diam penuh perhatian selama diskusi yang panjang ini, tidak melewatkan sepatah kata pun yang diucapkan, pandangannya yang tajam menyambar ke sana kemari, dan keningnya berkerut karena berpikir.

“Aku ingin mendapatkan beberapa fakta lagi sebelum menyusun teori, Mr. Mac,” katanya, sambil berlutut di samping mayat. “Dear me! Luka-luka ini benar-benar mengerikan. Tolong panggilkan kepala pelayan sebentar… Ames, kalau tidak salah kau sudah sering melihat tanda yang tidak biasa ini—cap segitiga dalam lingkaran—di lengan Mr. Douglas?”

“Sering, Sir.”

“Kau belum pernah mendengar spekulasi tentang artinya?”

“Belum pernah, Sir.”

“Pasti sangat menyakitkan sewaktu tanda ini dibuat. Tidak ragu lagi kalau ini luka bakar. Nah, kalau kuamati, Ames, ada sepotong plester kecil di rahang Mr. Douglas. Apakah kau pernah melihatnya sewaktu ia masih hidup?”

“Ya, Sir. Ia melukai dirinya sewaktu bercukur kemarin pagi.”

“Apakah kau tahu ia pernah terluka sewaktu bercukur?”

“Tidak untuk waktu yang sangat lama, Sir.”

“Bagus sekali!” seru Holmes. “Tentu saja, ini mungkin hanya kebetulan, atau menunjukkan kegugupan yang mengindikasikan ia memiliki alasan untuk merasa khawatir akan adanya bahaya. Apakah kau melihat ada yang tidak biasa dalam sikapnya kemarin, Ames?”

“Saya rasa ia agak gelisah dan terlalu bersemangat, Sir.”

“Ha! Serangannya mungkin bukan tak terduga sepenuhnya. Kita tampaknya sudah mendapat sedikit kemajuan, bukan? Mungkin kau ingin bertanya, Mr. Mac?”

“Tidak, Mr. Holmes. Kau lebih baik daripada diriku.”

“Well, kalau begitu, kita lanjutkan mengenai kartu ini—’V.V 341′. Dari kertas karton kasar. Apakah kertas semacam ini ada di sini?”

“Saya rasa tidak.”

Holmes mendekati meja dan meneteskan rinta dari mssing-masing botol ke kertas isap. “Kartunya. tidak ditulis di ruangan ini,” katanya, “yang ini tinta hitam, sementara yang satu lagi keunguan. Ia menggunakan pena yang tebal, padahal pena-pena ini halus. Tidak, menurutku kartu ini ditulis di tempat lain. Kau punya dugaan ini tulisan apa, Ames?”

“Tidak, Sir, tidak ada.”

“Apa pendapatmu, Mr. Mac?”

“Ini mengesankan semacam perkumpulan rahasia, sama seperti lencana di lenganku ini.”

“Saya juga berpikir begitu,” kata White Mason.

“Well, kita bisa menganggapnya sebagai hipotesis, lalu melihat seberapa besar kesulitan kita yang disingkirnya. Seorang agen dari perkumpulan seperti itu memasuki rumah ini, menunggu Mr. Douglas, meledakkan kepalanya dengan senapan ini, dan melarikan diri dengan menyeberangi parit, sesudah meninggalkan sehelai kartu di samping mayat korban, yang bila disebut dalam koran, memberitahu anggota perkumpulan lainnya bahwa pembalasan sudah dilaksanakan Semua tampak masuk akal. Tapi kenapa senapan ini, padahal ada banyak senjata lain?”

“Tepat sekali.”

“Dan kenapa cincinnya hilang?”

“Itulah.”

“Dan kenapa tidak ada yang ditangkap? Sekarang sudah lewat pukul 14.00. Kuanggap sejak subuh setiap petugas dalam radius 64 kilometer dari sini mencari orang tak dikenal yang basah kuyup?”

“Benar, Mr. Holmes.”

“Well, kecuali ia memiliki persembunyian di dekat sini atau mengganti pakaiannya, mereka mustahil tidak menemukannya. Tapi kenyataannya, hingga sekarang ia belum ditemukan!” Holmes mendekati jendela dan memeriksa noda darah di kusen dengan kaca pembesar. “Jelas ini jejak sepatu. Lebar sekali, orang bisa menganggap pelakunya berkaki rata. Aneh juga, karena kalau kita perhatikan jejak berlumpur di sudut, solnya lebih berbentuk. Tapi, yang jelas keduanya sangat samar. Apa ini di bawah meja samping?”

“Barbel, Mr. Douglas,” jawab Ames.

“Barbel—hanya ada satu. Di mana yang satu lagi?”

“Entah, Mr. Holmes. Mungkin selama ini memang hanya ada satu. Saya sudah berbulan-bulan tidak memperhatikan nya ”

“Satu barbel—” kata Holmes serius, tapi komentarnya terhenti oleh ketukan keras di pintu.

Seorang pria jangkung, terbakar matahari, tampak kompeten, dan bercukur rapi memandang kami. Aku tidak sulit untuk menebak bahwa ini adalah Cecil Barker yang pernah kudengar. Pandangannya yang tajam menatap kami satu per satu dengan sorot bertanya.

“Maaf menyela percakapan kalian,” katanya, “tapi sebaiknya kalian mendengar berita terakhir.”

“Ada yang ditangkap?”

“Tidak seberuntung itu. Tapi sepedanya sudah ketemu. Orang itu meninggalkan sepeda. Lihatlah sendiri. Hanya seratus meter dari pintu depan.”

Kami menemukan tiga atau empat pelayan dan penonton di jalan masuk tengah mengerumuni sebuah sepeda yang dikeluarkan dari antara sesemakan tempat kendaraan tersebut disembunyikan. Sepeda itu merek Rudge-Whitworth yang telah lama dipakai, kotor akibat perjalanan jauh. Ada kantong samping berisi kunci Inggris dan kaleng oli, tapi tidak ada petunjuk mengenai pemiliknya.

“Akan sangat membantu polisi,” kata Inspektur, “kalau benda seperti ini diberi nomor dan didaftar. Tapi kita harus mensyukuri apa yang kita miliki. Kalau kita tidak bisa mengetahui ke mana ia pergi, paling tidak kita mungkin bisa mengetahui dari mana ia datang. Tapi kenapa orang ini meninggalkan sepedanya? Dan bagaimana ia bisa melarikan diri tanpa sepedanya? Rasanya kita tidak mendapat kemajuan berarti dalam kasus ini, Mr. Holmes.”

“Sungguh?” jawab temanku sambil berpikir. “Aku tidak sependapat!”

One thought on “Bab 4 – Kegelapan

  1. Pingback: Valley of Fear (Lembah Ketakutan) | BLACK LOTUS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s