Bab 4 – Lembah Ketakutan

SEWAKTU McMurdo terjaga keesokan paginya ia memiliki alasan bagus untuk mengingat inisiasinya di Kelompok. Kepalanya terasa sakit karena minuman keras, dan lengannya yang dicap terasa panas dan bengkak. Karena memiliki sumber penghasilan sendiri, ia tidak begitu rajin dalam bekerja. Jadi ia menyantap sarapan yang terlambat, dan tetap tinggal di rumah untuk menulis surat panjang pada seorang teman. Sesudah itu ia membaca Daily Herald. Dalam sebuah kolom khusus yang dicetak pada saat-saat terakhir, ia membaca: “KEKERASAN DI KANTOR HERALD. EDITOR TERLUKA PARAH.”

Berita itu membahas secara singkat fakta-fakta yang lebih diketahuinya daripada si penulis. Tulisan tersebut diakhiri dengan pernyataan:

Masalah ini sekarang sudah ditangani polisi, tapi tipis harapan usaha mereka sekarang akan lebih berhasil daripada di masa lalu. Beberapa di antara pelaku telah dikenali, dan ada harapan bisa diajukan penuntutan. Sumber serangan itu, sebenarnya tidak perlu dituliskan lagi, adalah perkumpulan yang terkenal buruk dan telah mencengkeram masyarakat di sini dalam waktu yang cukup lama, dan yang ditentang Herald. Teman-teman Mr. Stanger yang banyak akan gembira kalau mengetahui, bahwa sekalipun telah dipukuli dengan kejam dan brutal, serta menderita luka-luka di kepala, jiwanya tidak terancam bahaya.

Di bawahnya disebutkan bahwa kantor koran itu dijaga seorang polisi bersenjata Winchester. McMurdo meletakkan koran itu, dan sedang menyulut pipa dengan tangan yang masih gemetar akibat menguras tenaga semalam, sewaktu terdengar ketukan di pintu. Nyonya rumah masuk membawa sepucuk surat yang baru saja diantar seorang bocah. Surat tersebut tidak ditandatangani, dan bunyinya:

Aku ingin bercakap-cakap denganmu, tapi lebih baik tidak di rumahmu. Kau bisa menemuiku di tiang bendera di Miller Hill. Kalau kau bersedia ke sana sekarang, ada hal penting yang harus kaudengar dan kukatakan.

McMurdo membaca surat tersebut dua kali dengan perasaan terkejut yang hebat. Ia tidak bisa membayangkan arti surat ini maupun siapa yang telah menulisnya. Seandainya tulisannya tulisan tangan wanita, ia bisa membayangkan ini awal dari salah satu petualangan yang cukup sering dialaminya di masa lalu. Tapi tulisan dalam surat itu tulisan tangan pria, seseorang yang cukup terpelajar. Akhirnya, setelah ragu-ragu beberapa saat, ia memutuskan untuk menyelediki masalah ini hingga tuntas.

Miller Hill sebuah taman umum yang tidak terawat di tengah kota. Di musim panas tempat itu merupakan tujuan wisata favorit, tapi di musim dingin tempat itu sepi. Dari puncaknya orang bukan saja bisa melihat pemandangan seluruh kota yang muram, tapi juga lembah berliku-liku di bawah, dengan tambang-tambang dan pabrik-pabriknya yang bertebaran menghitamkan salju di kedua sisinya, juga puncak-puncak berhutan dan bersalju yang mengapitnya.

McMurdo berjalan santai menyusuri jalan setapak berkelok-kelok yang dipagari pinus hingga tiba di restoran kosong yang menjadi pusat keramaian musim panas. Di sampingnya terdapat tiang bendera, dan di bawahnya berdiri seorang pria, topinya dikenakan dalam-dalam dan kerah mantelnya ditegakkan. Sewaktu ia berpaling, McMurdo mengenali Saudara Morris, yang telah memicu kemarahan Bodymaster semalam. Mereka saling bertukar salam Kelompok saat bertemu.

“Aku ingin berbicara denganmu, Mr. McMurdo,” kata pria yang lebih tua itu, berbicara dengan keragu-raguan yang menunjukkan bahwa masalah yang hendak dibicarakannya sangat rumit. “Kau baik sekali mau datang.”

“Kenapa kau tidak menuliskan namamu di surat?”

“Orang harus berhati-hati, Mister. Kau tidak akan pernah mengetahui di saat-saat seperti ini bagaimana situasinya bisa berbalik. Kau juga tidak mengetahui siapa yang bisa kaupercayai dan siapa yang tidak.”

“Jelas kau bisa mempercayai sesama saudara dari Kelompok.”

“Tidak, tidak, tidak selalu,” tukas Morris keras kepala. “Apa pun yang kita bicarakan, bahkan kita pikirkan, sepertinya selalu diketahui McGinty.”

“Dengarkan baik-baik!” kata McMurdo tegas. “Baru semalam, seperti yang kauketahui dengan baik, aku bersumpah setia pada Bodymaster kita. Apakah kau memintaku melanggar sumpah?”

“Kalau menurutmu begitu,” kata Morris sedih, “aku hanya bisa mengatakan aku menyesal sudah merepotkan dirimu untuk datang menemuiku di sini. Situasinya telah berubah buruk kalau dua orang warga negara yang bebas tidak lagi bisa saling mengungkapkan pikirannya.”

McMurdo, yang mengawasi rekannya dengan sangat tajam, agak mengendurkan sikap. “Jelas aku hanya berbicara untuk diriku sendiri,” katanya. “Aku pendatang baru, seperti yang kauketahui, dan masih asing dengan semua ini. Bukan hakku untuk membuka mulut, Mr. Morris, dan kalau menurutmu tidak apa-apa berbicara denganku aku siap untuk mendengarnya.”

“Dan menyampaikannya pada Boss McGinty!” kata Morris pahit.

“Kau benar-benar sudah merugikan diriku,” seru McMurdo. “Aku memang setia kepada Kelompok, jadi kukatakan terus terang kepadamu. Tapi aku benar-benar rendah kalau sampai menceritakan kepada orang lain apa yang kau percayakan padaku. Apa pun yang kaukatakan tidak akan tersebar dariku, sekalipun kuperingatkan bahwa kau mungkin tidak akan mendapat bantuan atau simpati.”

“Aku sudah tidak mengharapkan keduanya lagi,” kata Morris. “Aku mungkin memasrahkan keselamatanku ke tanganmu dengan apa yang akan kukatakan. Tapi, sekalipun kau sendiri buruk—dan rasanya semalam kau sudah berubah dari buruk menjadi yang paling buruk—kau masih baru dalam hal ini. Dan hati nuranimu tidak mungkin sekeras mereka. Itu sebabnya kupikir sebaiknya aku berbicara denganmu.”

“Well, apa yang ingin kaukatakan?”

“Kalau kau mengkhianatiku, terkutuklah dirimu!”

“Sudah kubilang aku tidak akan berbuat begitu.”

“Kalau begitu aku ingin bertanya, sewaktu kau bergabung dengan Kelompok Orang Bebas di Chicago dan bersumpah untuk berbakti dan setia, apakah pernah terlintas dalam benakmu bahwa kau akan melakukan kejahatan karena itu?”

“Kalau kau menyebutnya sebagai kejahatan,” jawab McMurdo.

“Menyebutnya sebagai kejahatan!” seru Moris, suaranya bergetar penuh emosi. “Kau hanya melihat sedikit kalau kau tidak menyebutnya begitu. Apakah semalam itu bukan kejahatan jika orang yang cukup tua untuk menjadi ayahmu dipukuli hingga ubannya berlumuran darah? Apakah itu kejahatan—atau apa menurutmu?”

“Ada yang mengatakan itu perang,” kata McMurdo, “perang antara dua golongan dengan melibatkan semuanya, sehingga masing-masing berusaha menyerang sebaik-baiknya.”

“Well, apakah begitu pendapatmu sewaktu kau bergabung dengan Kelompok Orang Bebas di Chicago?”

“Tidak, harus kuakui tidak begitu.”

“Aku juga tidak, sewaktu bergabung di Philadelphia. Organisasi itu hanya klub sosial dan ajang pertemuan. Lalu aku mendengar tentang tempat ini—terkutuklah saat aku pertama kali mendengarnya!—dan aku datang untuk meningkatkan taraf hidupku! Ya Tuhan! Untuk meningkatkan taraf hidupku! Istri dan ketiga anakku turut bersamaku. Aku memulai usaha toko kelontong di Market Square, dan cukup berhasil. Lalu tersebar berita bahwa aku anggota Orang Bebas, dan aku dipaksa bergabung dengan kelompok setempat, sama seperti dirimu semalam. Aku juga mengenakan lencana yang memalukan di lenganku dan sesuatu yang lebih buruk lagi tertanam dalam hatiku. Kudapati aku berada di bawah perintah seorang penjahat kejam dan terperangkap dalam jaringan kejahatan. Apa yang bisa kulakukan? Setiap kata yang kuucapkan untuk memperbaiki situasi justru dianggap sebagai pengkhianatan, sama seperti semalam. Aku tidak bisa melarikan diri, karena semua harta milikku di dunia ini ada di tokoku. Kalau aku meninggalkan Kelompok, aku tahu pasti itu berarti aku akan terbunuh. Dan cuma Tuhan yang tahu bagaimana nasib istri dan anak-anakku nanti. Oh, bung, ini mengerikan—mengerikan!” Ia menutupi wajahnya dengan tangan, dan tubuhnya terguncang-guncang karena menangis.

McMurdo mengangkat bahu. “Kau jelas terlalu lunak untuk urusan ini,” katanya. “Kau orang yang tidak tepat untuk ini.”

“Aku memiliki hati nurani dan agama. Tapi mereka memaksaku menjadi penjahat bersama mereka. Aku dipilih untuk sebuah tugas. Kalau aku mundur, aku tahu apa yang akan menimpa diriku. Mungkin aku pengecut. Mungkin karena memikirkan istri dan anak-anakku yang menjadikan aku pengecut. Pokoknya aku ikut. Kurasa kejadian itu menghantuiku selamanya.

“Rumah itu terpencil, tiga puluh kilometer dari sini, di gunung. Aku diperintahkan untuk menjaga pintu, sama seperti kau semalam. Mereka tidak mau mempercayai diriku untuk melakukan tugas itu. Yang lainnya masuk. Sewaktu mereka keluar lagi, tangan mereka merah hingga pergelangan. Ketika kami pergi seorang anak berlari keluar dari rumah sambil menjerit-jerit. Bocah berusia lima tahun yang menyaksikan ayahnya dibunuh. Aku hampir pingsan karena ngeri. Tapi aku harus tetap menunjukkan sikap berani dan tersenyum, karena aku tahu pasti bahwa kalau tidak begitu, dari rumahkulah mereka akan keluar dengan tangan berlumuran darah. Dan Fred kecilku yang akan menjerit-jerit memanggil diriku.

“Tapi sejak itu aku menjadi penjahat, terlibat dalam pembunuhan, tersesat untuk selamanya di dunia ini, juga di dunia yang akan datang. Aku penganut Katolik yang taat, tapi pastor tidak bersedia berbicara denganku sewaktu mendengar aku anggota Scowrer. Dan aku dikucilkan dari agamaku. Begitulah keadaanku. Dan kulihat kau akan melewati jalan hidup yang sama, dan kutanyakan padamu apa akhirnya? Apakah kau siap menjadi pembunuh berdarah dingin juga, atau kita bisa bertindak untuk menghentikannya?”

“Apa yang akan kaulakukan?” tanya McMurdo tiba-tiba. “Kau mau melapor?”

“Demi Tuhan!” seru Morris. “Memikirkannya saja bisa bisa membuat nyawaku melayang.”

“Bagus,” kata McMurdo. “Menurutku kau lemah dan terlalu berlebihan dalam memandang masalah ini.”

“Terlalu berlebihan! Tunggu sampai kau tinggal di sini lebih lama lagi. Lihat ke lembah itu! Lihat asap dari ratusan cerobong yang menutupinya! Kuberitahu kau bahwa awan pembunuhan menggantung lebih tebal dan lebih rendah daripada asap itu di atas kepala orang-orang. Ini Lembah Ketakutan, Lembah Kematian. Teror ada di hati orang-orang dari subuh hingga senja. Tunggu, anak muda, dan kau akan mengetahuinya sendiri.”

“Well, kuberitahu apa pendapatku sesudah melihat lebih banyak lagi,” kata McMurdo asal-asalan. “Yang jelas kau tidak cocok berada di sini, dan semakin cepat kau jual bisnismu—meskipun kau hanya mendapat sebagian kecil dari nilai yang sebenarnya—semakin baik bagimu. Apa yang baru saja kaukatakan tidak akan kuceritakan pada orang lain. Tapi, by Gar! Kalau sampai kupikir kau informan—”

“Tidak, tidak!” jerit Morris panik.

“Well, kalau begitu kita akhiri sampai di sini saja. Akan kuingat baik-baik apa yang baru saja kaukatakan, dan mungkin suatu hari nanti aku akan memikirkannya lagi. Kurasa kau berniat baik padaku dengan menceritakan semuanya ini. Sekarang aku akan pulang.”

“Satu hal lagi sebelum kau pulang,” kata Morris. “Mungkin ada yang melihat kita bersama-sama. Mereka mungkin ingin mengetahui apa yang kita bicarakan.”

“Ah! Benar-benar pemikiran bagus.”

“Aku menawarkan pekerjaan di tokoku.”

“Dan aku menolaknya. Itu yang kita bicarakan. Well, sampai bertemu, Saudara Morris, dan semoga kau mendapati situasinya membaik di masa depan.”

Siang itu juga, sewaktu McMurdo duduk-duduk di samping tungku di ruang duduknya sambil merokok, asyik melamun, pintu terbuka dan ambangnya dipenuhi sosok besar Boss McGinty. Ia mengucapkan kodenya, lalu duduk di seberang pemuda yang dipandangnya tajam beberapa lama, pandangan yang dibalas sama mantapnya.

“Aku bukan tamu yang baik, Saudara McMurdo,” katanya akhirnya. “Kurasa aku terlalu sibuk menghadapi orang-orang yang mengunjungiku. Tapi kupikir ada baiknya aku mampir di rumahmu.”

“Aku senang dengan kedatanganmu kemari, Penasihat,” jawab McMurdo riang, sambil mengeluarkan botol wiski dari lemari. “Ini kehormatan yang tidak kuduga.”

“Bagaimana lenganmu?” tanya McGinty.

McMurdo mengernyit. “Well, aku tidak melupakannya,” katanya. “Tapi aku layak mendapatkannya.”

“Ya, memang layak,” kata McGinty, “bagi mereka yang setia dan taat membantu kelompok. Apa yang kaubicarakan dengan Saudara Morris di Miller Hill tadi pagi?”

Pertanyaan itu dilontarkan begitu tiba-tiba, untung McMurdo telah menyiapkan jawabannya. Ia tertawa riang. “Morris tidak mengetahui aku bisa mencari nafkah di rumah. Ia juga tidak boleh mengetahuinya, karena ia memiliki hati nurani yang terlalu baik untuk orang seperti diriku. Tapi ia orang tua yang baik. Ia merasa aku kekurangan uang, dan bisa membantuku dengan menawarkan pekerjaan di tokonya.”

“Oh, begitukah?”

“Ya, memang begitu.”

“Dan kau menolaknya?”

“Tentu saja. Aku bisa mendapat sepuluh kali lipat itu di kamar tidurku dengan hanya bekerja selama empat jam, bukan?”

“Memang. Tapi kalau jadi kau, aku tidak akan terlalu dekat dengan Morris.”

“Kenapa tidak?”

“Well, kurasa karena aku mengatakannya begitu. Itu sudah cukup bagi sebagian besar orang di sini.”

“Mungkin cukup bagi sebagian besar orang, tapi tidak bagiku, Penasihat,” kata McMurdo berani. “Kalau kau bisa menilai orang lain, kau pasti mengetahuinya.”

Raksasa hitam itu memelototinya, dan tangannya yang berbulu sejenak mencengkeram gelas dengan sikap seakan siap untuk melontarkannya ke kepala rekannya. Lalu ia tertawa keras tapi tidak tulus.

“Kau benar-benar sulit ditebak,” katanya. “Well, kalau kau ingin alasan, akan kuberitahukan. Apakah Morris mengatakan apa pun yang menentang Kelompok?”

“Tidak.”

“Atau diriku?”

“Tidak.”

“Well, itu karena ia tidak berani mempercayai dirimu. Tapi dalam hatinya ia bukan saudara yang setia. Kami mengetahuinya dengan baik. Jadi kami mengawasinya dan menunggu saat untuk menghukumnya. Kupikir saat itu sudah semakin dekat. Tidak ada tempat untuk pengecut di tempat kita. Tapi kalau kau terus berteman dengan orang yang tidak setia ini, kami mungkin akan mengira kau juga tidak setia. Mengerti?”

“Tidak mungkin aku tetap berteman dengannya, karena aku tidak menyukainya,” jawab McMurdo. “Sedangkan mengenai tidak setia, kalau bukan kau yang mengatakannya, ia tidak akan menggunakan kata itu dua kali terhadapku.”

“Well, itu sudah cukup,” kata McGinty, sambil menghabiskan isi gelasnya. “Aku kemari untuk memberimu nasihat, dan kau sudah menerimanya.”

“Aku ingin tahu,” kata McMurdo, “bagaimana kau bisa mengetahui aku berbicara dengan Morris?”

McGinty tertawa. “Sudah menjadi urusanku untuk mengetahui apa yang terjadi di kota ini,” katanya. “Kurasa sebaiknya kau menghargai kemampuanku mendengar semua kejadian. Well, sudah waktunya, dan aku hanya akan mengatakan—”

Tapi kata-katanya terpotong dengan cara yang paling tidak terduga. Dengan suara keras pintu didobrak terbuka, dan tiga orang bertopi polisi dengan wajah berkerut tegang memelototi mereka. McMurdo melompat bangkit dan setengah mencabut revolver, tapi lengannya berhenti di tengah jalan sewaktu ia menyadari kedua pucuk senapan Winchester itu diarahkan ke kepalanya. Seorang pria berseragam masuk ke ruangan, membawa senapan berpeluru enam. Pria itu Kapten Marvin, tadinya di kepolisian Chicago, dan sekarang menjadi Polisi Pertambangan. Ia menggeleng-geleng sambil setengah tersenyum memandang McMurdo.

“Sudah kuduga kau akan terlibat masalah, Mr. McMurdo, Bajingan dari Chicago,” katanya. “Kau tidak bisa menahan diri, bukan? Ambil topimu dan ikut kami.”

“Kurasa kau akan membayar semua ini, Kapten Marvin,” kata McGinty. “Siapa kau, hingga berani mendobrak masuk ke dalam rumah seperti ini dan melecehkan seseorang yang jujur dan taat hukum?”

“Kau jangan mencampuri masalah ini, Penasihat McGinty,” kata kapten polisi itu. “Kami tidak mengincar dirimu, tapi si McMurdo ini. Kewajibanmu adalah membantu, bukan menghalangi kami melaksanakan tugas.”

“Ia temanku, dan aku yang bertanggung jawab atas tingkah lakunya,” kata McGinty.

“Silakan, Mr. McGinty. Kau mungkin harus mempertanggungjawabkan tingkah lakumu sendiri suatu hari nanti,” jawab kapten tersebut. “Si McMurdo ini bajingan sebelum datang kemari, dan ia masih tetap bajingan. Awasi dia, Opsir, sementara aku melucutinya.”

“Itu pistolku,” kata McMurdo tenang. “Mungkin, Kapten Marvin, kalau kau dan aku sendirian dan berhadap-hadapan, kau tidak akan mampu menangkapku semudah ini.”

“Mana surat perintahmu?” tanya McGinty. “By Gar! Selama kau memimpin kepolisian penduduk Vermissa rasanya seperti tinggal di Rusia. Ini kekerasan kapitalis, dan kujamin kau akan mendengar kelanjutan kejadian ini.”

“Silakan melakukan apa yang menurutmu merupakan tugasmu, Penasihat. Kami melakukan apa yang merupakan tugas kami.”

“Aku dikenai tuduhan apa?” tanya McMurdo.

“Terlibat dalam penganiayaan Editor Stanger di kantor Herald. Bukan salahmu kalau tuduhannya bukan pembunuhan.”

“Well, kalau hanya itu tuduhanmu,” seru McGinty sambil tertawa, “lebih baik jangan bersusah payah dan batalkan sekarang juga. Orang ini bersamaku di salon, bermain poker hingga tengah malam. Dan aku bisa mendatangkan selusin orang untuk membuktikannya.”

“Itu urusanmu, dan kurasa kau bisa membereskannya di sidang besok. Sementara itu, ayo, McMurdo, dan jangan melawan kalau kau tidak ingin kepalamu dihajar senapan. Menyingkirlah, Mr. McGinty, karena kuperingatkan aku tidak suka dihalangi dalam melaksanakan tugasku!”

Sikap kapten itu menunjukkan tekad yang begitu bulat sehingga baik McMurdo maupun bosnya terpaksa menerima situasinya. Bosnya berhasil membisikkan beberapa kata pada si tahanan sebelum mereka berpisah.

“Bagaimana dengan—” McGinty menyentakkan ibu jarinya ke atas untuk mengisyaratkan percetakan uangnya.

“Tidak apa-apa,” bisik McMurdo, yang telah merancang tempat persembunyian yang aman di bawah lantai.

“Kuucapkan selamat jalan,” kata Boss, sambil menjabat tangannya. “Akan kutemui pengacara Reilly dan akan kuurus sendiri pembelaannya. Camkan baik-baik bahwa mereka tidak akan bisa menahanmu.”

“Aku tidak percaya. Jaga tahanannya, kalian berdua, dan tembak ia kalau macam-macam. Akan kugeledah rumahnya sebelum kita pergi.”

Ia melakukannya, tapi tampaknya tidak menemukan alat cetak tersembunyi itu. Kemudian ia dan anak buahnya mengawal McMurdo ke markas. Malam telah tiba, dan badai besar tengah mengamuk sehingga jalan-jalan hampir kosong. Tapi beberapa orang mengikuti mereka dan, karena tersembunyi kegelapan, berani meneriakkan makian ke arah tahanan.

“Hancurkan Scowrer terkutuk itu!” seru mereka. “Gantung dia!” Mereka tertawa-tawa dan mencibir saat McMurdo didorong masuk ke dalam kantor polisi.

Sesudah pemeriksaan resmi yang singkat oleh inspektur yang bertugas, ia dimasukkan ke sel. Di sana ia mendapati Baldwin dan tiga pelaku penganiayaan semalam, semua ditangkap sore itu dan menunggu sidang keesokan harinya.

Tapi bahkan di dalam benteng hukum itu pun, lengan-lengan panjang Orang Bebas mampu menjangkau. Larut malam seorang sipir membawa setumpuk jerami untuk alas tidur mereka. Dari dalam jerami ia mengeluarkan dua botol wiski, beberapa gelas, dan setumpuk kartu. Mereka melewati malam yang riuh-rendah, tanpa gelisah sedikit pun memikirkan esok pagi.

Dan mereka memang tidak memiliki alasan untuk itu, sebagaimana yang ditunjukkan hasilnya. Hakim tidak bisa, berdasarkan bukti mengajukan mereka ke pengadilan yang lebih tinggi. Di satu sisi para penata letak dan wartawan terpaksa mengakui bahwa cahaya yang ada kurang terang, bahwa mereka sendiri sangat terkejut, dan bahwa sulit bagi mereka untuk bersumpah mengenai identitas para penyerang, meskipun mereka percaya para tertuduh termasuk para penyerang itu. Pemeriksaan silang oleh pengacara pandai sewaan McGinty semakin mengaburkan bukti-bukti.

Korban mengakui ia begitu terkejut oleh serangan tiba-tiba itu sehingga tidak bisa memberikan pernyataan apa pun kecuali fakta bahwa orang pertama yang menyerangnya berkumis. Ia menambahkan bahwa ia mengetahui para penyerangnya adalah para Scowrer, karena tidak ada orang lain di kalangan masyarakat yang mungkin menyimpan dendam padanya. Dan ia telah lama mendapat ancaman karena editorialnya yang vokal. Di sisi lain, seperti dikatakan dengan jelas dan tegas oleh enam penduduk, termasuk pejabat tinggi kota Penasihat McGinty, para tertuduh bermain kartu di Gedung Serikat hingga satu jam setelah penyerangan itu.

Tidak perlu dikatakan lagi bahwa tuduhan terhadap mereka dibatalkan diiringi apa yang hampir merupakan permintaan maaf dari para hakim karena kerepotan yang mereka akibatkan, bersama kritikan terhadap Kapten Marvin dan anak buahnya karena sikap mereka.

Keputusan itu disambut sorak keras para pengunjung sidang yang banyak dikenal McMurdo. Para saudara dari Kelompok tersenyum dan melambaikan tangan. Tapi ada orang-orang lain yang duduk dengan mulut terkatup rapat dan pandangan muram saat mereka keluar dari ruang sidang. Salah satunya, seorang pria kecil berjanggut hitam, dengan sikap yang menunjukkan kebulatan tekad, melontarkan apa yang menjadi pendapatnya dan pendapat rekan-rekannya kepada para mantan tahanan yang melewatinya.

“Kalian para pembunuh terkutuk!” katanya. “Kami akan membereskan kalian!”

One thought on “Bab 4 – Lembah Ketakutan

  1. Pingback: Valley of Fear (Lembah Ketakutan) | BLACK LOTUS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s