Bab 5 – Orang-orang Yang Terlibat

“APAKAH Anda sudah selesai memeriksa ruang kerja?” tanya White Mason saat kami masuk kembali ke rumah.

“Untuk saat ini,” kata Inspektur. Holmes mengangguk.

“Kalau begitu, sekarang mungkin kalian ingin mendengar kesaksian beberapa penghuni rumah. Kita bisa menggunakan ruang makan, Ames. Kau mendapat giliran pertama, ceritakan apa yang kauketahui.”

Apa yang disampaikan kepala pelayan itu sederhana dan jelas, dan ia memberikan kesan tulus yang meyakinkan. Ia dipekerjakan lima tahun yang lalu, sewaktu Douglas datang untuk pertama kali ke Birlstone. Ia tahu Mr. Douglas orang kaya yang memperoleh uangnya di Amerika. Ia majikan yang ramah dan penuh perhatian—mungkin memang tidak seperti majikan yang biasa dihadapi Ames, tapi orang tidak mungkin memiliki segalanya, bukan? Ia belum pernah melihat tanda-tanda ketakutan pada Mr. Douglas. Sebaliknya, pria itu orang paling berani yang pernah dikenalnya. Mr. Douglas memerintahkan jembatan tarik diangkat setiap malam karena itu merupakan kebiasaan kuno di rumah tua ini, dan ia senang mempertahankan tradisi lama.

Mr. Douglas jarang ke London atau meninggalkan desa, tapi pada hari sebelum kejahatan tersebut ia berbelanja di Tunbridge Wells. Ames menyadari hari itu Mr. Douglas bersikap gelisah dan penuh semangat, karena ia tampaknya tidak sabar dan jengkel, sesuatu yang tidak biasa baginya. Ames belum tidur malam itu, melainkan ada di dapur di bagian belakang rumah, sedang membereskan peralatan perak, sewaktu mendengar lonceng berbunyi ribut. Ia tidak mendengar suara tembakan, tapi kecil kemungkinan ia bisa mendengarnya karena dapur terletak di bagian paling belakang rumah dan ada sejumlah pintu tertutup dan lorong panjang di antaranya. Pengurus rumah keluar dari kamarnya karena bunyi lonceng. Bersama-sama mereka menuju bagian depan rumah.

Sewaktu tiba di kaki tangga mereka melihat Mrs. Douglas menuruni tangga. Tidak, Mrs. Douglas tidak tergesa-gesa. Menurut Ames, Mrs. Douglas bahkan tidak tampak gelisah. Tepat pada saat Mrs. Douglas tiba di dasar tangga, Mr. Barker bergegas keluar dari ruang kerja. Ia menghentikan Mrs. Douglas dan memintanya kembali.

“Demi Tuhan, kembalilah ke kamarmu!” seru Mr. Barker. “Jack yang malang sudah tewas! Kau tidak bisa berbuat apa-apa. Demi Tuhan, kembalilah!”

Sesudah dibujuk-bujuk di tangga, Mrs. Douglas kembali naik. Ia tidak menjerit. Tidak menangis. Mrs. Allen, pengurus rumah, membimbingnya naik dan menemaninya di kamar tidur. Ames dan Mr. Barker lalu kembali ke dalam ruang kerja, di sana mereka menemukan segala sesuatunya tepat seperti yang ditemui polisi. Pada saat itu lilinnya tidak menyala. Hanya lampu yang menyala. Mereka sudah melihat ke luar jendela, tapi cuaca begitu gelap sehingga mereka tidak bisa melihat atau mendengar apa pun. Mereka lalu bergegas ke ruang depan, di mana Ames memutar roda penggerak untuk menurunkan jembatan tarik. Mr. Barker lalu bergegas pergi ke kantor polisi.

Itulah inti kesaksian si kepala pelayan.

Kesaksian Mrs. Allen, pengurus rumah, sejauh ini mendukung kesaksian Ames. Kamar pengurus rumah tersebut lebih dekat dengan bagian depan rumah daripada dapur, tempat Ames sedang bekerja waktu itu. Wanita itu tengah bersiap-siap tidur sewaktu bunyi keras lonceng menarik perhatiannya. Ia agak tuli. Mungkin itu sebabnya ia tidak mendengar suara tembakan. Tapi, yang jelas, ruang kerja memang agak jauh dari kamarnya. Ia ingat mendengar suara yang menurutnya mirip bunyi pintu ditutup. Itu jauh lebih awal—paling tidak setengah jam sebelum bunyi lonceng. Sewaktu Mr. Ames berlari ke depan rumah ia mengikutinya. Ia melihat Mr. Barker, sangat pucat dan gugup, keluar dari ruang kerja, Mr. Barker mencegat Mrs. Douglas, yang sedang menuruni tangga. Mr. Barker membujuk Mrs. Douglas agar kembali ke kamar, dan Mrs. Douglas mengatakan sesuatu yang tidak bisa didengar Mrs. Allen.

“Ajak ia ke atas! Temani dia!” kata Mr. Barker pada Mrs. Allen.

Oleh karena itu Mrs. Allen mengajak nyonya majikannya ke kamar tidur, dan berusaha menghiburnya Mrs. Douglas gemetar hebat, dan tidak berusaha turun lagi. Ia hanya duduk di dekat perapian kamar, masih mengenakan gaun tidur, dengan kepala terbenam di tangan. Mrs. Allen menemaninya hampir sepanjang malam. Para pelayan lain telah tidur, dan mereka baru menyadari telah terjadi sesuatu menjelang kedatangan polisi. Mereka tidur di bagian paling belakang rumah, dan tidak mungkin bisa mendengar apa pun.

Sejauh ini dalam pemeriksaan silang pengurus rumah itu tidak bisa menambahkan keterangan apa pun, cuma mengungkapkan kekagetan dan kesedihannya.

Kesaksian Cecil Barker kami dengar sesudah Mrs. Allen. Mengenai kejadian semalam, ia hanya bisa menambahkan sangat sedikit apa yang sudah diceritakannya pada polisi. Secara pribadi ia yakin pembunuhnya melarikan diri melalui jendela. Menurutnya jejak darah tersebut cukup jelas menunjukkan hal itu. Lagi pula, karena jembatan tariknya diangkat, tidak mungkin pembunuhnya bisa melarikan diri dengan cara lain. Ia tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi dengan pembunuh tersebut atau kenapa ia meninggalkan sepedanya, kalau memang benar kendaraan tersebut miliknya. Pembunuh itu tidak mungkin tenggelam di parit, yang dalamnya tidak lebih dari semeter.

Ia sudah menyusun teori sendiri yang kuat mengenai pembunuhan tersebut. Douglas pendiam, dan ada beberapa bagian dari kehidupannya yang tidak pernah dibicarakan. Ia pindah dari Irlandia ke Amerika sewaktu masih sangat muda. Ia cukup berhasil dalam usahanya, dan Barker pertama kali bertemu dengannya di California, tempat mereka menjadi rekanan dalam usaha pertambangan yang berhasil di tempat bernama Benito Canyon. Mereka cukup sukses, tapi Douglas tiba-tiba menjual bagiannya dan pindah ke Inggris. Pada waktu itu ia menduda. Barker akhirnya mencairkan uangnya dan menyusul ke London. Dengan begitu mereka pun memperbarui persahabatan mereka.

Douglas menimbulkan kesan dalam diri Barker bahwa ada bahaya yang mengancamnya, dan Barker selalu menganggap kepergian Douglas yang tiba-tiba dari California, serta menyewa rumah di tempat yang sangat sepi di Inggris, ada kaitannya dengan ancaman tersebut. Menurut Barker ada semacam perkumpulan rahasia yang mengikuti jejak Douglas, yang tidak akan berhenti sebelum berhasil membunuhnya. Beberapa komentar Douglas-lah yang menimbulkan gagasan ini, sekalipun Douglas tidak pernah menceritakan organisasi apa, atau bagaimana ia bisa berurusan dengan mereka. Ia hanya bisa menduga bahwa kartu yang tertinggal itu ada kaitannya dengan perkumpulan tersebut.

“Berapa lama Anda bersama Douglas di California?” tanya Inspektur MacDonald.

“Secara keseluruhan, lima tahun.”

“Ia bujangan, kata Anda tadi?”

“Duda.”

“Anda pernah mendengar dari mana asal istri pertamanya?”

“Tidak, saya ingat ia pernah mengatakan istri pertamanya keturunan Jerman. Dan saya pernah melihat fotonya. Ia sangat cantik. Wanita itu meninggal karena tifus setahun sebelum saya bertemu Douglas.”

“Anda tidak mengaitkan masa lalunya dengan kawasan tertentu di Amerika?”

“Saya pernah mendengar ia bicara tentang Chicago. Ia mengenal kota itu dengan baik dan pernah bekerja di sana. Saya pernah mendengarnya berbicara tentang distrik batu bara dan besi. Ia sering bepergian sewaktu masih muda.”

“Apakah ia politikus? Apakah perkumpulan rahasia itu ada hubungannya dengan politik?”

“Tidak, ia tidak peduli dengan politik.”

“Anda tidak memiliki alasan untuk menganggap Douglas penjahat?”

“Sebaliknya, saya belum pernah bertemu orang selurus dirinya.”

“Apa ada yang menarik dari kehidupannya di California?”

“Ia paling senang bekerja di tambang kami di pegunungan. Ia tidak akan menemui orang lain kalau bisa. Itu sebabnya mula-mula saya kira ada orang yang memburunya. Lalu sewaktu ia tiba-tiba pergi ke Eropa, saya pastikan kalau memang benar begitu. Saya yakin ia mendapat semacam peringatan. Seminggu sesudah kepergiannya, ada sekitar enam orang menanyakan dirinya.”

“Orang macam apa?”

“Well, tampang mereka cukup keras. Mereka datang ke tambang dan ingin tahu ke mana ia pergi. Saya katakan ia pergi ke Eropa dan saya tidak tahu cara menemukannya Mereka tidak berniat baik padanya—mudah sekali untuk melihatnya.”

“Apakah mereka orang Amerika—orang California?”

“Well, saya tidak tahu mereka orang California atau bukan. Mereka jelas orang Amerika. Tapi mereka bukan penambang. Saya tidak tahu siapa mereka, dan sangat senang sewaktu mereka pergi.”

“Itu enam tahun yang lalu?”

“Hampir tujuh.”

“Dan pada saat itu Anda sudah lima tahun berteman dengannya di California, jadi urusan ini paling tidak berlangsung sekitar sebelas tahun yang lalu?”

“Begitulah.”

Persehsihan itu pasti sangat serius sehingga tetap berlanjut selama itu. Bukan masalah kecil kalau sampai selama ini.”

“Saya rasa masalah itu menghantuinya seumur hidup. Ia tidak pernah bisa benar-benar melupakannya.”

“Tapi kalau ia mengetahui adanya bahaya yang mengancam, dan tahu bahaya apa itu, kenapa ia tidak minta perlindungan pada polisi?”

“Mungkin ia tidak bisa dilindungi dari bahaya itu. Ada satu hal yang harus Anda ketahui. Ia selalu membawa senjata ke mana-mana. Revolvernya selalu ada di saku. Tapi, sial, semalam ia sedang mengenakan mantel rumah dan meninggalkan pistolnya di kamar tidur. Begitu jembatan diangkat, saya kira ia merasa aman.”

“Saya ingin lebih jelas mengetahui soal waktu ini,” kata MacDonald. “Sudah sekitar enam tahun sejak Douglas meninggalkan California. Anda mengikutinya setahun kemudian, bukan?”

“Benar.”

“Dan ia sudah menikah selama lima tahun. Anda pasti datang sekitar pada waktu ia menikah.”

“Sekitar sebulan sebelumnya. Saya pendamping prianya.”

“Anda kenal Mrs. Douglas sebelum pernikahan itu?”

“Tidak, saya tidak mengenalnya. Saya sudah sepuluh tahun meninggalkan Inggris pada waktu itu.”

“Tapi Anda sering bertemu dengannya sejak itu.”

Barker menatap detektif tersebut dengan tajam. “Saya sering bertemu Douglas sejak itu,” jawabnya “Kalau saya bertemu istrinya, itu karena saya tidak bisa mengunjungi seseorang tanpa mengenal istrinya. Kalau Anda membayangkan ada kaitan—”

“Saya tidak membayangkan apa apa, Mr. Barker. Saya harus mengajukan segala pertanyaan yang mungkin ada hubungannya dengan kasus ini. Tapi saya tidak berniat menyinggung perasaan siapa pun.”

“Beberapa pertanyaan sangat menyinggung perasaan,” jawab Barker dengan nada marah.

“Kami hanya menginginkan fakta. Demi kebaikan Anda dan demi kebaikan semua orang, sebaiknya fakta-fakta itu diperjelas. Apakah Mr. Douglas sepenuhnya menyetujui persahabatan Anda dengan istrinya?”

Wajah Barker memucat, dan tangannya yang besar dan kuat saling meremas-remas. “Anda tidak berhak mengajukan pertanyaan seperti itu!” serunya. “Apa hubungannya dengan masalah yang sedang Anda selidiki ini?”

“Saya harus mengulangi pertanyaannya.”

“Well, saya menolak menjawab.”

“Anda bisa menolak menjawab, tapi Anda harus menyadari bahwa penolakan Anda sendiri merupakan jawaban, karena Anda tidak akan menolak menjawab kalau tidak menyembunyikan apa pun.”

Barker terdiam sejenak dengan wajah kaku, alis hitamnya berkerut. Lalu ia menengadah sambil tersenyum. “Well, saya rasa kalian hanya melakukan tugas kalian, dan saya tidak berhak menghalangi. Saya hanya mengatakan kalian tidak perlu mengkhawatirkan Mrs. Douglas dalam hal ini, karena ia sudah cukup tertekan. Boleh saya katakan bahwa Douglas yang malang hanya memiliki satu kekurangan di dunia, yaitu kecemburuannya. Ia menyukai saya—tidak ada orang yang lebih menyukai teman dibanding dirinya. Dan ia sangat mencintai istrinya. Ia senang dengan kedatangan saya kemari, dan selalu mengundang saya. Tapi kalau istrinya dan saya bercakap-cakap atau terlihat ada simpati di antara kami berdua kecemburuan akan melandanya, dan ia akan lepas kendali serta mengatakan hal-hal yang tidak pantas. Lebih dari sekali saya tidak bersedia untuk datang kemari karena hal itu, dan ia akan menulis surat panjang lebar kepada saya untuk menjelaskan bahwa saya harus datang. Tapi percayalah, Tuan-tuan, tidak ada seorang pun yang memiliki istri yang lebih cinta dan setia daripada Mrs. Douglas—dan saya juga mengatakan bahwa tidak ada teman yang lebih setia daripada diri saya!”

Barker mengucapkannya dengan tegas, tapi Inspektur MacDonald tetap tidak bisa mengesampingkan masalah itu.

“Anda menyadari,” katanya, “bahwa cincin kawin diambil dari jarinya?”

“Tampaknya begitu,” jawab Barker.

“Apa maksud Anda ‘tampaknya?’ Anda tahu kalau itu faktanya.”

Pria itu tampak kebingungan dan tidak bisa mengambil keputusan. “Sewaktu saya katakan ‘tampaknya,’ maksud saya mungkin saja ia sendiri yang menanggalkan cincinnya.”

“Fakta bahwa cincin itu tidak ada, siapa pun yang mengambilnya, tentunya menimbulkan pemikiran bahwa pernikahan dan tragedi ini berkaitan, bukan?”

Barker mengangkat bahunya yang bidang. “Saya tidak bisa mengatakan mengetahui artinya,” jawabnya. “Tapi kalau Anda bermaksud mengatakan fakta itu bisa mempengaruhi penilaian terhadap kehormatan nyonya rumah,”—sesaat matanya berkilau-kilau, lalu dengan usaha keras yang terlihat jelas ia berhasil mengendalikan emosi—”well, Anda melacak jejak yang salah, itu saja.”

“Saya tidak tahu apa lagi yang ingin saya tanyakan pada Anda saat ini,” kata MacDonald dingin.

“Ada satu hal kecil,” kata Sherlock Holmes. “Sewaktu Anda masuk ke ruangan, hanya ada satu lilin yang menyala di meja, bukan?”

“Ya, memang begitu.”

“Dengan cahayanya Anda melihat telah terjadi peristiwa yang mengerikan?”

“Tepat sekali.”

“Anda langsung memanggil bantuan?”

“Ya.”

“Dan bantuan pun datang dengan cepat?”

“Sekitar satu menit.”

“Tapi sewaktu mereka tiba, mereka mendapati lilinnya padam dan lampunya sudah dinyalakan. Itu rasanya luar biasa.”

Sekali lagi Barker menunjukkan tanda-tanda kebingungan. “Saya tidak mengerti mengapa hal itu luar biasa, Mr. Holmes,” jawabnya sesaat kemudian. Cahaya lilin kurang terang. Pikiran pertama saya adalah mendapatkan penerangan yang lebih baik. Lampunya ada di meja, jadi saya nyalakan.”

“Dan memadamkan lilinnya?”

“Tepat sekali.”

Holmes tidak mengajukan pertanyaan lain. Dan Barker, setelah sengaja memandang kami satu per satu dengan sikap yang, menurutku, menantang, berbalik dan meninggalkan ruangan.

Inspektur MacDonald telah memberitahu bahwa ia akan menjumpai Mrs. Douglas di kamarnya sesudah bertemu Barker. Tapi Mrs. Douglas menjawab bahwa ia akan menemui kami di ruang makan. Sekarang ia masuk, seorang wanita jangkung yang cantik di usia tiga puluh, sangat tenang dan percaya diri. Sangat berbeda dengan sosok bayanganku tentang istri yang baru saja mengalami kejadian tragis. Memang benar wajahnya pucat dan sedih, seperti orang yang baru saja mengalami shock hebat. Tapi sikapnya tenang, dan, tangan halus yang diletakkannya di tepi meja semantap tanganku sendiri. Pandangannya yang sedih dan memelas memandangi kami satu per satu dengan ekspresi bertanya-tanya yang aneh. Tatapan tersebut tiba-tiba berubah menjadi kata-kata.

“Apakah kalian sudah menemukan sesuatu?” tanyanya.

Apakah hanya imajinasiku bahwa suaranya lebih bernada takut daripada berharap?

“Kami sudah mengambil semua langkah yang mungkin dilakukan, Mrs. Douglas,” kata Inspektur. “Percayalah bahwa tidak ada yang disepelekan.”

“Jangan pikirkan soal uang,” katanya dengan nada datar. “Saya ingin semua yang bisa dilakukan, dilakukan.”

“Mungkin Anda bisa menceritakan sesuatu yang bisa memperjelas masalah ini.”

“Saya rasa tidak ada, tapi apa yang saya ketahui dengan senang hati akan saya ceritakan.”

“Kami mendengar dari Mr. Cecil Barker bahwa Anda tidak benar-benar melihat—bahwa Anda tidak pernah memasuki kamar tempat tragedi itu terjadi?”

“Ya, ia memaksa saya kembali di tangga. Ia meminta saya kembali ke kamar tidur.”

“Begitu. Anda mendengar suara tembakan, dan Anda bergegas turun.”

“Saya mengenakan mantel kamar, lalu turun.”

“Berapa lama sesudah mendengar suara tembakan waktu Anda dihentikan di tangga oleh Mr. Barker?”

“Mungkin sekitar dua menit. Sulit sekali untuk mengingat waktunya pada saat seperti itu. Ia memaksa saya untuk tidak melanjutkan. Ia meyakinkan saya bahwa tidak ada yang bisa saya lakukan. Lalu Mrs. Allen, si kepala pelayan, membimbing saya ke atas lagi. Rasanya seperti mimpi buruk.”

“Bisakah Anda perkirakan sudah berapa lama suami Anda ada di bawah saat Anda mendengar suara tembakan?”

“Tidak, saya tidak tahu. Ia keluar dari ruang ganti, dan saya tidak mendengarnya pergi. Ia selalu mengelilingi rumah setiap malam, karena ia selalu merasa takut terjadi kebakaran. Hanya itu satu-satunya yang saya tahu bisa menyebabkan ia gugup.”

“Justru itu yang ingin saya bicarakan Mrs. Douglas. Anda mengenal suami Anda di Inggris, bukan?”

“Ya, kami sudah menikah selama lima tahun.”

“Apakah Anda pernah mendengarnya membicarakan apa saja yang terjadi di Amerika dan yang mungkin membahayakan dirinya?”

Mrs. Douglas memikirkannya dengan serius sebelum menjawab. “Ya,” katanya akhirnya, “saya selalu merasa ada bahaya yang mengancamnya. Ia menolak untuk mendiskusikannya dengan saya. Bukannya karena ia tidak mempercayai saya—di antara kami ada cinta dan kepercayaan yang paling utuh—tapi karena ia tidak ingin membuat saya khawatir. Ia mengira saya akan memikirkannya terus seandainya mengetahui hal itu. Jadi ia menutup mulut.”

“Kalau begitu, bagaimana Anda mengetahuinya?”

Mrs. Douglas tersenyum sekilas. “Apakah seorang suami seumur hidup bisa menyimpan rahasia tanpa sedikitpun dicurigai wanita yang mencintainya? Saya mengetahuinya dari banyak hal. Saya tahu dari penolakannya membicarakan kehidupannya di Amerika. Saya tahu dari tindakan jaga-jaga tertentu yang dilakukannya. Saya tahu dari kata-kata tertentu yang diucapkannya Saya tahu dari caranya memandang orang yang tidak dikenal. Saya sangat yakin ia memiliki musuh yang kuat, ia percaya mereka melacaknya, dan ia selalu waspada terhadap mereka. Saya merasa yakin akan hal itu sehingga selama ber-tahun-tahun ini saya selalu merasa ketakutan kalau ia pulang lebih lambat daripada biasanya.”

“Boleh saya bertanya,” kata Holmes, “apa kata-kata yang menarik perhatian Anda?”

“‘Lembah Ketakutan’,” jawab wanita tersebut. “Itu istilah yang digunakannya sewaktu saya menanyainya. ‘Aku pernah berada di Lembah Ketakutan. Aku belum benar-benar keluar dari sana.’ ‘Apakah kita tidak pernah bisa benar keluar dari Lembah Ketakutan?’ Saya pernah menanyakan itu padanya sewaktu melihatnya lebih serius daripada biasanya. ‘Terkadang kupikir kita tidak akan pernah keluar,’ jawabnya.”

“Jelas Anda sudah menanyakan apa yang dimaksudkannya dengan Lembah Ketakutan?”

“Sudah, tapi ekspresinya berubah serius dan ia akan menggeleng ‘Sudah cukup buruk bahwa salah satu dari kita hidup dalam bayang-bayangnya, katanya. Semoga Tuhan menjauhkannya darimu!’ Lembah itu lembah yang sungguh-sungguh ada, tempat ia pernah tinggal dan mengalami kejadian mengerikan, saya yakin akan hal itu. Tapi saya tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.”

“Dan ia tidak pernah menyinggung nama siapa pun?”

“Ya, ia pernah mengigau karena demam sewaktu mengalami kecelakaan berburu tiga tahun yang lalu. Lalu saya ingat ia menyebut-nyebut sebuah nama terus-menerus. Ia mengucapkannya dengan marah dan agak ketakutan. Namanya McGinty—Bodymaster McGinty. Saya bertanya sewaktu ia sudah pulih siapa Bodymaster McGinty itu, dan siapa yang dikuasainya. ‘Bukan aku, syukurlah!’ jawabnya sambil tertawa. Dan hanya komentar itu yang bisa saya peroleh darinya. Tapi ada kaitan antara Bodymaster McGinty dan Lembah Ketakutan.”

“Ada satu hal lagi,” kata Inspektur MacDonald. “Anda bertemu Mr. Douglas di sebuah penginapan di London, bukan, dan bertunangan dengannya di sana? Apakah ada kisah cinta, apa pun yang bersifat rahasia dan misterius, menyangkut pernikahannya?”

“Ada kisah cinta. Selalu ada kisah cinta. Tidak ada yang misterius.”

“Ia tidak memiliki pesaing?”

“Tidak, saya sendirian.”

“Tidak ragu lagi, Anda pasti sudah pernah mendengar bahwa cincin kawinnya diambil. Apakah itu ada artinya bagi Anda? Seandainya musuh dari kehidupannya yang dulu telah melacaknya dan melakukan kejahatan ini, apakah alasan ia mengambil cincin kawin kalian?”

Sejenak aku berani bersumpah wanita itu tersenyum tipis.

“Saya tidak bisa mengatakannya,” jawabnya. “Jelas itu luar biasa sekali.”

“Well, kami tidak akan menahan Anda lebih lama, dan kami minta maaf terpaksa merepotkan Anda pada saat-saat seperti ini,” kata Inspektur. “Ada hal-hal yang lain, tapi kami bisa menanyakannya pada Anda nanti.”

Mrs. Douglas berdiri, dan sekali lagi aku menyadari tatapan cepat bertanya-tanya yang dilontarkannya saat memandang kami. “Bagaimana pendapat kalian mengenai kesaksian saya?” Kurang-lebih begitulah yang diucapkan pandangannya. Lalu, setelah membungkuk, ia berlalu dan dalam ruangan.

“Ia wanita yang cantik—sangat cantik,” kata MacDonald sambil berpikir, setelah pintu tertutup di belakang Mrs. Douglas. “Barker jelas sering berada di sini. Ia orang yang mungkin menarik bagi wanita. Ia mengakui Douglas cemburu padanya, dan mungkin ia sendiri mengetahui apa yang telah menimbulkan kecemburuan itu. Lalu ada persoalan cincin kawin ini. Kau tidak bisa melupakannya begitu saja. Orang yang mengambil cincin kawin dari tangan mayat— Apa pendapatmu, Mr. Holmes?”

Temanku duduk dengan menumpukan kepala pada tangannya, tenggelam dalam pemikiran yang paling dalam. Sekarang ia berdiri dan membunyikan lonceng. “Ames,” katanya sewaktu kepala pelayan tersebut masuk, “di mana Mr. Cecil Barker sekarang?”

“Akan saya cari, Sir.”

Ia kembali sesaat kemudian untuk memberitahu bahwa Barker ada di kebun.

“Apakah kau ingat, Ames, apa yang dikenakan Mr. Barker di kakinya semalam sewaktu kau menggabungkan diri dengannya di ruang kerja?”

“Ya, Mr. Holmes. Ia mengenakan sandal kamar tidur. Saya yang membawakan sepatu botnya sewaktu ia hendak ke kantor polisi.”

“Di mana sandal itu sekarang?”

“Masih di bawah kursi di ruang depan.”

“Bagus sekali, Ames. Tentu saja, penting bagi kami untuk mengetahui yang mana jejak orang luar dan yang mana jejak Mr. Barker.”

“Ya, Sir. Saya ingin mengatakan bahwa saya melihat sandal itu bernoda darah—begitu pula sandal saya sendiri.”

“Itu wajar, mengingat kondisi ruangannya. Bagus sekali, Ames. Kami akan memanggilmu lagi kalau perlu.”

Beberapa menit kemudian kami telah berada di ruang kerja. Holmes membawa sandal karpet dari ruang depan. Sebagaimana yang dilihat Ames, kedua solnya berlumuran darah.

“Aneh!” gumam Holmes, sambil berdiri di depan jendela dan memeriksanya dengan teliti. “Benar-benar sangat aneh!”

Sambil membungkuk ia meletakkan sandal itu di atas jejak darah di kusen. Persis sama. Ia tersenyum sambil membisu ke arah para koleganya.

Inspektur begitu penuh semangat hingga berdiri kaku di tempatnya. Aksen aslinya terdengar bagai suara tongkat digeserkan di pagar.

“Man” serunya, “tidak ragu lagi! Barker sendiri yang meninggalkan jejak di jendela. Jejak itu jauh lebih lebar daripada sepatu bot mana pun. Kalau tidak salah, Anda mengatakan ini jejak orang berkaki rata, dan ini penjelasannya. Tapi apa permainannya, Mr. Holmes—apa permainannya?”

“Ya, apa permainannya?” ulang temanku sambil berpikir.

White Mason terkekeh dan menggosok-gosokkan tangannya yang gemuk dengan sikap puas profesional. “Sudah saya katakan kasus ini membingungkan!” serunya. “Dan memang kasus ini benar-benar membingungkan!”

One thought on “Bab 5 – Orang-orang Yang Terlibat

  1. Pingback: Valley of Fear (Lembah Ketakutan) | BLACK LOTUS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s