Bab 6 – Titik Terang

KETIGA detektif itu menganggap banyak detail yang harus ditanyakan, jadi aku kembali seorang diri ke penginapan kami yang sederhana di desa. Tapi sebelum itu aku berjalan-jalan di kebun gaya lama yang mengapit rumah. Berderet-deret semak yew tua yang dipangkas mengikuti desain aneh tumbuh mengelilinginya. Di dalamnya terdapat hamparan rumput yang indah dengan jam matahari di tengah, secara keseluruhan menimbulkan kesan menenangkan dan santai, yang disukai sarafku yang tegang.

Dalam suasana yang sangat damai ini orang bisa lupa atau mengingatnya hanya sebagai mimpi buruk yang fantastis, ruang kerja di mana terdapat sosok telentang dan berlumuran darah di lantai. Sekalipun begitu, saat aku berjalan berkeliling dan mencoba untuk menenangkan jiwaku, terjadi insiden aneh, yang membuatku teringat kembali pada tragedi tersebut dan menimbulkan kengerian dalam benakku.

Aku sudah mengatakan bahwa sederetan semak yew memagari kebun. Di ujung terjauh dari rumah, sesemakan tersebut menebal membentuk pagar yang menyatu. Di balik pagar hidup ini, tersembunyi dari pandangan siapa pun yang datang dari arah rumah, terdapat bangku batu. Sewaktu mendekati tempat itu aku mendengar suara-suara, suara berat pria yang berkomentar, ditanggapi gelak tawa feminin.

Sesaat kemudian aku telah mengitari pagar hidup tersebut dan melihat Mrs. Douglas dan Barker sebelum mereka menyadari kehadiranku. Penampilan Mrs. Douglas mengejutkan aku. Di ruang makan tadi ia tampak pendiam dan sedih. Sekarang semua kedukaan palsunya telah hilang. Matanya berbinar-binar penuh kebahagiaan, dan wajahnya memancarkan kegembiraan atas komentar temannya. Barker duduk agak condong ke arahnya, tangannya saling menggenggam dan sikunya bertumpu di lutut. Senyum memancar di wajahnya yang tegas dan tampan. Dalam sekejap—tapi terlambat sedetik—mereka kembali menampilkan topeng kesedihan sewaktu melihat kehadiranku. Mereka buru-buru bicara, lalu Barker bangkit dan melangkah mendekatiku.

“Maaf, Sir,” katanya, “tapi apakah benar Anda Dr. Watson?”

Aku membungkuk dengan sikap dingin yang dengan jelas menunjukkan pikiran yang ada dalam benakku.

“Sudah kami duga Andalah orangnya, mengingat persahabatan Anda dengan Mr. Sherlock Holmes begitu terkenal. Apakah Anda tidak keberatan bercakap-cakap dengan Mrs. Douglas sebentar?”

Aku mengikutinya dengan wajah masam. Aku teringat jelas sosok yang luka parah di lantai itu. Di sini, beberapa jam sesudah tragedi tersebut, kutemukan istri dan sahabat dekatnya tertawa-tawa di balik semak-semak kebun yang dulu merupakan kebunnya. Kusapa wanita itu dengan singkat. Tadinya di ruang makan aku turut merasakan kedukaannya. Sekarang kubalas tatapannya dengan pandangan datar.

“Saya rasa Anda menganggap saya sudah mati rasa,” katanya.

Aku mengangkat bahu “Itu bukan urusan saya,” kataku.

“Mungkin suatu hari nanti Anda bisa memberi saya keadilan. Kalau saja Anda menyadari—”

“Dr. Watson tidak perlu menyadari apa pun,” kata Barker tergesa-gesa. “Seperti yang sudah dikatakannya sendiri, ini bukan urusannya.”

“Tepat sekali,” kataku, “dan sekarang saya minta izin untuk melanjutkan acara jalan-jalan saya.”

“Sebentar, Dr. Watson,” seru wanita tersebut dengan suara memohon. “Ada satu pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh Anda dengan otoritas lebih tinggi dibandingkan siapa pun di dunia ini. Dan hal itu sangat berarti bagi saya. Anda mengenal Mr. Holmes dan hubungannya dengan polisi lebih baik daripada siapapun. Seandainya ada masalah yang diberitahukan kepadanya dan harus dirahasiakannya, apakah ia harus menyampaikannya kepada para detektif itu?”

“Ya, betul,” kata Barker penuh semangat. “Apakah ia mandiri atau ia bersama mereka sepenuhnya?

“Saya benar-benar tidak tahu apakah boleh mendiskusikan hal itu.”

“Saya minta—saya mohon Anda bersedia menjawabnya, Dr. Watson! Saya jamin tindakan Anda ini akan membantu kami—sangat membantu kami kalau Anda bersedia.”

Ada nada ketulusan dalam suara wanita tersebut sehingga sesaat aku melupakan semua kebohongannya dan tergerak untuk memenuhi permintaannya.

“Mr. Holmes penyelidik yang independen,” kataku. “Ia tidak bekerja di bawah siapa pun, dan bertindak sesuai penilaiannya sendiri. Pada saat yang sama, ia tentu saja harus setia terhadap para petugas yang menangani kasus yang sama. Dan ia tidak akan menutupi apa pun yang bisa membantu mengadili seorang penjahat. Lebih dari itu saya tidak bisa mengatakan apa-apa, dan saya sarankan sebaiknya Anda tanyakan sendiri kepada Mr. Holmes kalau menginginkan informasi yang lebih lengkap.”

Setelah mengatakan itu aku mengangkat topi dan melanjutkan perjalanan, meninggalkan mereka yang masih duduk di balik sesemakan. Aku berpaling ke sana saat berputar di ujung seberang taman, dan melihat mereka masih bercakap-cakap penuh semangat. Dan, saat mereka menatap ke arahku, jelas sekali perbincangan kamilah yang tengah mereka bicarakan.

“Aku tidak ingin mendengar pengakuan rahasia apa pun dari mereka,” kata Holmes, sewaktu kulaporkan apa yang terjadi. Ia menghabiskan sepanjang siang di Manor House dengan berkonsultasi pada kedua koleganya. Holmes kembali sekitar pukul 17.00 dengan selera makan besar untuk minum teh yang kupesankan. “Tidak ada pengakuan rahasia apa pun, Watson, karena hal-hal seperti itu sangat mengganggu bila akhirnya harus ada penangkapan dengan tuduhan persekongkolan dan pembunuhan.”

“Menurutmu akhirnya akan begitu?”

Suasana hatinya sedang riang. “Watson yang baik, kalau aku sudah selesai menyelidiki kau pasti akan kuberitahu mengenai seluruh situasinya. Maksudku, bukannya kita sudah memperkirakan begitu—jauh dari itu—tapi bila kita sudah menemukan barbel yang hilang itu—”

“Barbel itu!”

“Dear me, Watson, mungkinkah kau masih belum memahami fakta bahwa kasus ini tergantung dari barbel yang hilang itu? Well, well, tidak perlu bersedih, karena, di antara kita sendiri, kurasa baik Inspektur Mac maupun petugas setempat yang cemerlang itu tidak memahami pentingnya kejadian ini. Satu barbel, Watson! Coba pikirkan ada atlet yang hanya memiliki satu barbel! Bayangkan perkembangan otot yang tidak seimbang, ancaman pembengkokan tulang punggung. Mengejutkan, Watson, mengejutkan!”

Ia duduk dengan mulut penuh roti bakar dan mata berbinar-binar, mengawasi kebingunganku. Hanya dengan melihat selera makannya yang besar sudah cukup untuk meyakinkan aku tentang keberhasilan pengungkapan kasus ini, karena aku ingat sekali hari dan malam yang berlalu ketika ia tidak memikirkan makanan sesaat pun, sewaktu otaknya yang berputar kencang berusaha memahami masalah sementara wajahnya yang tirus dan penuh semangat tampak semakin menonjol karena pemusatan perhatian. Akhirnya ia menyulut pipanya, dan sambil duduk di ruang duduk penginapan tua desa itu ia berbicara perlahan-lahan dan secara acak mengenai kasusnya, lebih tepat mengungkapkan apa yang dipikirkannya daripada menyampaikan pernyataan yang telah dipertimbangkan.

“Kebohongan, Watson—kebohongan besar, mencolok, dan tidak terbantah—yang menyambut kita! Itulah titik awal kita. Seluruh cerita yang disampaikan Barker merupakan kebohongan. Tapi cerita Barker didukung oleh Mrs. Douglas. Oleh karena itu Mrs. Douglas juga berbohong. Mereka berdua berbohong, dan bersekongkol. Jadi sekarang masalah yang kita hadapi sudah jelas. Kenapa mereka berbohong, dan kebenaran apa yang dengan susah payah mereka tutupi? Coba lihat, Watson—kau dan aku—apakah kita bisa memahami kebohongan ini dan menyusun kebenarannya.

“Dari mana aku tahu mereka berbohong? Karena kebohongan mereka begitu ceroboh sehingga terlihat jelas. Coba pertimbangkan! Menurut cerita yang disampaikan pada kita, pembunuhnya memiliki waktu kurang dari semenit sesudah melakukan perbuatannya untuk mengambil cincin, yang dikenakan di bawah cincin yang lain, dari jari tangan korban, lalu mengembalikan cincin yang lain itu—sesuatu yang jelas tidak akan pernah dilakukannya—dan meletakkan kartu yang aneh di samping korbannya. Menurutku tindakan itu jelas mustahil.

“Kau mungkin mendebatnya—tapi aku terlalu menghargai pendapatmu, Watson, untuk menganggap bahwa kau akan berbuat begitu—bahwa cincin itu mungkin diambil sebelum korban dibunuh. Fakta bahwa lilinnya belum lama dinyalakan menunjukkan bahwa tidak terjadi percakapan yang panjang. Apakah Douglas, dari apa yang kita dengar mengenai karakternya yang tidak mengenal takut, pria yang bersedia memberikan cincin kawinnya dalam waktu sesingkat itu, atau apakah kita bisa menerima bahwa ia menyerah begitu saja? Tidak, tidak, Watson, pembunuh itu hanya berduaan bersama korban selama beberapa waktu lilinnya menyala. Aku tidak ragu mengenai hal itu.

“Tapi jelas kematiannya disebabkan karena tembakan. Oleh karena itu tembakannya pasti dilakukan jauh lebih awal daripada yang diceritakan pada kita. Tapi dalam hal-hal seperti ini tidak boleh ada kesalahan. Oleh karena itu, kita menghadapi persekongkolan dua orang yang mendengar suara tembakannya—si Barker dan Mrs. Douglas. Setelah aku mampu menunjukkan bahwa jejak darah di kusen jendela sengaja dibuat Barker, untuk memberi petunjuk palsu pada polisi, kau pasti mengakui bahwa kasusnya berkembang menjadi memberatkan dirinya.

“Sekarang kita harus bertanya sendiri pada jam berapa sebenarnya pembunuhan itu terjadi. Hingga pukul 22.30 para pelayan masih berkeliaran di dalam rumah, jadi jelas bukan sebelum itu. Pada pukul 22.45 mereka semua telah masuk kamar kecuali Ames, yang masih berada di dapur. Aku telah melakukan beberapa percobaan sesudah kau meninggalkan kami sore tadi, dan kudapati bahwa suara apa pun yang bisa dibuat MacDonald di ruang kerja tidak bisa kudengar dari dapur bila semua pintu ditutup.

“Tapi lain bila dari kamar pengurus rumah. Kamar itu tidak jauh dari ruang kerja, dan dari sana samar-samar aku bisa mendengar suara yang diperdengarkan dengan sangat keras. Suara tembakan senapan tabur agak teredam kalau jarak tembaknya sangat dekat, dan tidak ragu lagi itulah yang terjadi dalam kasus ini. Suaranya tidak akan keras, tapi dalam kesunyian malam seharusnya suara itu bisa terdengar dengan mudah dari kamar Mrs. Allen. Ia, seperti yang diceritakannya pada kita, agak tuli. Tapi tetap saja dalam kesaksiannya ia menyinggung bahwa ia mendengar suara seperti pintu dibanting tertutup sekitar setengah jam sebelum lonceng dibunyikan. Setengah jam sebelum lonceng dibunyikan berarti sekitar pukul 22.45. Aku tidak ragu bahwa yang didengarnya adalah suara letusan senapan. Dan itulah saat pembunuhannya terjadi.

“Kalau benar begitu, sekarang kita harus menentukan apa yang Barker dan Mrs. Douglas, bisa lakukan sejak pukul 22.45 dengan anggapan mereka bukanlah pembunuh yang sebenarnya—sewaktu suara tembakan membuat mereka ke kamar Douglas—hingga pukul 23.15—sewaktu mereka membunyikan lonceng dan memanggil para pelayan. Apa yang mereka lakukan, dan kenapa mereka tidak segera membunyikan lonceng? Itu pertanyaan yang kita hadapi, dan pada saat mendapat jawabannya kita jelas akan memecahkan masalah ini.”

“Aku sendiri yakin,” kataku, “ada saling pengertian antara kedua orang itu. Mrs. Douglas pasti makhluk yang tidak berperasaan karena duduk dan tertawa-tawa hanya beberapa jam sesudah kematian suaminya.”

“Tepat sekali. Ia tidak menampilkan diri sebagai istri bahkan sewaktu menceritakan kesaksiannya. Aku bukan pengagum wanita, sebagaimana yang sudah kausadari, Watson. Tapi pengalaman hidupku mengajarkan bahwa hanya sedikit istri yang mencintai suaminya yang membiarkan kata-kata orang lain menghalangi dirinya mendekati mayat suaminya. Seandainya aku pernah menikah, Watson, aku berharap bisa menanamkan perasaan sedemikian rupa sehingga membuatnya menolak dibimbing pergi oleh pengurus rumah sementara mayatku tergeletak hanya beberapa meter dari dirinya. Itu drama yang sangat buruk, karena bahkan penyelidik yang paling tidak berpengalaman pun pasti menyadari tidak adanya kesedihan khas wanita. Kalau tidak ada hal yang lain, menurutku kejadian ini saja sudah menunjukkan adanya persekongkolan.”

“Kalau begitu jelas kau menganggap Barker dan Mrs. Douglas bersalah dalam pembunuhan ini?”

“Pertanyaanmu terlalu lugas, Watson,” kata Holmes, sambil menggoyang-goyangkan pipa ke arahku. “Bagiku pertanyaanmu seperti peluru. Kalau maksudmu Mrs. Douglas dan Barker mengetahui kebenaran tentang pembunuhan itu, dan bersekongkol untuk menutupinya, kujawab ya dengan sepenuh hatiku. Aku yakin itu yang mereka lakukan. Tapi pertanyaanmu yang lebih mematikan tidak sejelas itu. Coba kita pertimbangkan sebentar kesulitan-kesulitan yang menghalangi.

“Kita anggap saja pasangan itu dipersatukan oleh ikatan cinta yang salah, dan mereka memutuskan untuk menyingkirkan orang yang menghalangi hubungan mereka. Itu pengandaian yang besar, karena penyelidikan diam-diam di antara para pelayan dan yang lainnya tidak mendukung kemungkinan itu sama sekali. Sebaliknya, ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa suami-istri Douglas sangat menyayangi satu sama lain.”

“Aku yakin itu tidak benar,” kataku, mengingat wajah Mrs. Douglas yang tersenyum di kebun.

“Well paling tidak mereka mengesankan begitu. Tapi, kita akan menganggap mereka pasangan yang sangat hebat, yang berhasil menipu semua orang dalam hal ini, dan bersekongkol untuk membunuh si suami. Ia kebetulan orang yang hidupnya terancam bahaya—”

“Itu kata mereka, dan kita tidak memiliki bukti lain.”

Holmes tampak berpikir. “Aku mengerti, Watson. Kau menyusun teori dengan dasar bahwa semua yang mereka katakan sejak awal adalah bohong. Menurut pendapatmu, tidak pernah ada ancaman tersembunyi, atau perkumpulan rahasia, atau Lembah Ketakutan, atau Boss MacSiapa atau yang lainnya. Well, itu generalisasi yang bagus. Coba lihat apa yang ditunjukkan pikiran seperti itu. Mereka menciptakan teori ini untuk membenarkan kejahatan mereka. Lalu mereka memainkan gagasan ini dengan meninggalkan sepeda di taman sebagai bukti keberadaan orang luar. Noda di kusen jendela juga menunjukkan hal yang sama. Begitu pula dengan kartu di dekat mayat, yang mungkin disiapkan dalam rumah. Semuanya sesuai dengan hipotesismu, Watson. Tapi sekarang ada satu hal yang tidak bisa dimasukkan ke dalam teorimu. Kenapa menggunakan senapan tabur yang dipotong—dan kenapa harus buatan Amerika? Kebetulan saja Mrs. Allen tidak segera keluar kamar untuk mencari tahu tentang suara pintu ditutup yang didengarnya. Kenapa pasangan penjahatmu melakukan semua ini, Watson?”

“Kuakui kalau aku tidak bisa menjelaskannya.”

“Lagi pula, kalau seorang wanita dan kekasihnya bersekongkol untuk membunuh suaminya, apakah mereka akan ‘mengiklankan’ kesalahan mereka dengan terang-terangan mengambil cincin kawinnya sesudah kematian si suami? Apakah menurutmu hal itu mungkin, Watson?”

“Tidak, tidak mungkin.”

“Dan sekali lagi, kalau kaupikirkan tindakan meninggalkan sepeda di luar itu, bukankah tindakan tersebut konyol karena detektif yang paling tolol sekalipun akan mengatakan bahwa jelas itu petunjuk palsu, karena sepeda itu merupakan benda pertama yang diperlukan pelarian ini untuk bisa meloloskan diri.”

“Kuakui aku tidak bisa menjelaskan.”

“Sekalipun begitu, seharusnya tidak ada kejadian yang tidak bisa dijelaskan. Sekadar sebagai latihan mental, tanpa ada pikiran bahwa ini mungkin benar, coba pertimbangkan kemungkinan ini. Kuakui, ini hanya sekadar imajinasi. Tapi seberapa sering imajinasi menjadi awal dari kebenaran?

“Bayangkan saja ada rahasia, rahasia yang benar-benar memalukan dalam kehidupan orang bernama Douglas ini. Rahasia ini menyebabkan ia dibunuh seseorang yang, kita anggap saja, berfungsi sebagai pembalas, seseorang dari luar. Pembalas dendam ini, karena sejumlah alasan yang kuakui masih tidak bisa kujelaskan, mengambil cincin kawin Douglas. Pembalasan ini mungkin dikarenakan masalah yang terjadi pada zaman pernikahan pertama Douglas, dan cincin itu diambil untuk alasan yang kurang-lebih berkaitan dengan itu.

“Sebelum pembalas dendam ini melarikan diri, Barker dan Mrs. Douglas tiba di kamar. Pembunuhnya berhasil meyakinkan mereka bahwa penangkapan dirinya akan memicu penyebaran skandal yang memalukan. Mereka terpengaruh, dan lebih suka membiarkan ia pergi. Untuk tujuan ini, mungkin mereka menurunkan jembatannya, yang bisa dilakukan hampir tanpa suara, dan lalu mengangkatnya lagi. Ia berhasil melarikan diri, dan entah karena apa mengira akan lebih aman kalau ia berjalan kaki daripada mengendarai sepeda. Oleh karena itu ia meninggalkan kendaraannya di tempat yang tidak akan ditemukan sebelum ia telah cukup jauh. Sejauh ini semua itu masih mungkin terjadi, bukan?”

“Well, mungkin saja,” kataku, sambil menahan diri.

“Kita harus ingat, Watson, bahwa apa pun yang terjadi jelas sesuatu yang luar biasa. Well, untuk melanjutkan pengandaian kita, pasangan ini—tidak harus mereka bersalah—menyadari sesudah kepergian pembunuhnya bahwa mereka menempatkan diri sendiri dalam posisi yang mungkin sulit bagi mereka untuk membuktikan bahwa bukan mereka yang melakukan kejahatan ini. Mereka dengan cepat dan agak ceroboh berusaha mengatasi masalah ini. Jejak di kusen jendela dibuat Barker dengan sandalnya yang bernoda darah untuk menunjukkan bagaimana pembunuhnya melarikan diri. Mereka jelas mendengar suara tembakannya, jadi mereka bereaksi sebagaimana seharusnya. Tapi mereka melakukannya setengah jam sesudah kejadian.”

“Bagaimana caramu membuktikan semua ini?”

“Well, kalau memang ada orang luar, ia bisa dilacak dan ditangkap. Itu akan merupakan bukti yang paling efektif. Tapi kalau tidak—well, sumber daya llmu pengetahuan masih belum habis. Kupikir akan sangat membantu kalau aku semalaman seorang diri di ruang kerja itu.”

“Semalaman seorang diri!”

“Aku berniat ke sana sekarang juga. Aku sudah mengaturnya dengan Ames, yang sangat menghormati Barker. Aku akan duduk di ruangan itu dan melihat apakah suasananya memberiku inspirasi. Aku percaya semua tempat memiliki jiwa. Kau tersenyum, Watson. Well, kita lihat saja. Omong-omong, kau membawa payung besarmu, bukan?”

“Ada di sini.”

“Well, kalau boleh aku ingin meminjamnya.”

“Tentu saja—tapi ini senjata yang payah! Kalau ada bahaya—”

“Tidak ada yang serius, Watson, kalau ada aku pasti akan meminta bantuanmu. Tapi payungmu akan kubawa. Pada saat ini aku hanya menunggu kembalinya para kolega kita dari Tunbridge Wells. Mereka sedang berusaha mencari pemilik sepeda itu.”

Malam telah turun saat Inspektur MacDonald dan White Mason kembali dari perjalanan mereka, dan mereka kembali dengan gembira, melaporkan kemajuan besar dalam penyelidikan kami.

“Bung, kuakui aku pernah ragu-ragu apakah memang ada orang luar yang terlibat,” kata MacDonald, “tapi semua sudah berlalu sekarang. Kami sudah berhasil mengidentifikasi sepedanya, dan kami mendapat deskripsi buruan kami. Jadi perjalanan kami sangat berhasil.”

“Bagiku justru kedengaran seperti awal dari akhir,” kata Holmes. “Aku mengucapkan selamat pada kalian dengan sepenuh hati.”

“Well, kumulai dari fakta bahwa Mr. Douglas tampak resah sejak kemarin dulu, sewaktu ia pergi ke Tunbridge Wells. Dengan begitu di Tunbridge Wells-lah ia menyadari adanya bahaya. Oleh karena itu jelas, kalau ada orang yang datang dengan mengendarai sepeda, ia pasti datang dari Tunbridge Wells. Kami membawa sepedanya dan menunjukkannya ke hotel-hotel di sana. Sepeda itu seketika dikenali manajer Eagle Commercial sebagai milik pria bernama Hargrave, yang menyewa kamar di sana dua hari yang lalu. Sepeda dan tas kecil itu satu-satunya barang pria bernama Hargrave tersebut. Ia mengaku berasal dari London, tapi tidak memberikan alamat di sana. Tas ini buatan London, dan isinya buatan Inggris. Tapi orangnya sendiri tidak ragu lagi orang Amerika.”

“Well, well” kata Holmes dengan nada mengejek, “kalian benar-benar sudah bekerja sementara aku duduk menyusun teori bersama temanku. Ini pelajaran untuk bersikap praktis Mr. Mac.”

“Aye, hanya begitu, Mr. Holmes,” kata inspektur tersebut dengan sikap puas.

“Tapi semua ini mungkin sesuai dengan teorimu,” kataku.

“Mungkin atau mungkin tidak. Tapi coba kita dengar hingga selesai. Apakah tidak ada yang bisa mengidentifikasi orang ini?”

“Sedikit sekali yang kami temukan, jelas bahwa orang ini sangat merahasiakan identitasnya. Tidak ada dokumen atau surat, tidak ada tanda pada pakaiannya. Di meja kamar tidurnya terdapat peta untuk bersepeda di negara ini. Ia meninggalkan hotel sesudah sarapan kemarin pagi dengan mengendarai sepedanya, dan tidak ada kabar lagi tentang dirinya hingga kami datang bertanya.”

“Itu yang membingungkan aku, Mr. Holmes,” kata White Mason. “Kalau orang ini tidak ingin diketahui orang, seharusnya ia kembali dan tetap menginap di hotelnya sebagai wisatawan yang tidak mengerti apa-apa. Tapi sebagaimana kenyataannya, ia pasti mengetahui akan dilaporkan ke polisi oleh manajer hotel dan bahwa menghilangnya dirinya akan dikaitkan dengan pembunuhan ini.”

“Seharusnya begitu. Sekalipun begitu, boleh diakui ia cukup cerdas, mengingat hingga sekarang ia belum tertangkap. Tapi deskripsinya—bagaimana?”

MacDonald membuka buku catatannya. “Apa yang kami peroleh hanyalah sejauh yang bisa mereka katakan. Mereka tampaknya tidak terlalu memperhatikan dirinya, tapi portir, petugas hotel, dan pelayan kamar semuanya setuju bahwa kurang-lebih beginilah deskripsi dirinya. Tingginya kurang-lebih 170 sentimeter, usianya sekitar lima puluh tahun, rambutnya agak kaku dan kusut, kumisnya mulai beruban, hidung bengkok, dan wajahnya digambarkan kejam dan pemarah.”

“Well, itu ekspresi orang yang biasa mengunjungi bar, bisa jadi deskripsi Douglas sendiri,” kata Holmes. “Ia berusia lima puluh lebih sedikit, rambutnya kaku dan kusut, juga kumisnya, dan tingginya kurang-lebih sama. Apa lagi yang kalian dapatkan?”

“Ia mengenakan setelan kelabu tebal dengan rompi dan ia mengenakan mantel luar pendek berwarna kuning serta topi lunak.”

“Bagaimana dengan senapan taburnya?”

“Panjangnya kira-kira lima puluh sentimeter. Sangat mungkin untuk disimpan dalam tas. Ia bisa membawanya di balik mantelnya tanpa kesulitan.”

“Menurutmu apa pengaruh semua ini terhadap kasusnya secara keseluruhan?”

“Well, Mr. Holmes,” kata MacDonald, “pada saat kita berhasil menangkap buruan kita nanti— dan kau boleh yakin bahwa aku sudah mengirimkan deskripsinya lima menit sesudah mendengarnya—kita bisa menilai dengan lebih baik. Tapi, sebagaimana kenyataannya sekarang, kita jelas sudah mendapat kemajuan pesat. Kita tahu ada orang Amerika yang mengaku bernama Hargrave datang ke Tunbridge Wells dua hari yang lalu dengan mengendarai sepeda dan membawa tas. Di dalam tas itu terdapat sepucuk senapan tabur yang sudah digergaji, jadi ia datang dengan niat melakukan kejahatan. Kemarin pagi ia berangkat ke tempat ini dengan mengendarai sepedanya, dengan senapan disembunyikan di balik mantel. Tidak seorang pun melihat kedatangannya, setahu kita. Tapi ia tidak perlu melintasi desa untuk tiba di gerbang kebun. Dan ada banyak pengendara sepeda di jalan. Kemungkinan besar ia langsung menyembunyikan sepedanya begitu tiba, lalu ia sendiri juga turut bersembunyi di sana, sambil terus mengamati rumah, menunggu Mr. Douglas keluar. Senapan tabur merupakan senjata yang aneh untuk dipergunakan di dalam rumah, tapi ia berniat menggunakannya di luar. Senapan itu jelas memiliki keuntungan tersendiri, karena tidak mungkin luput, dan suara tembakan begitu umum di kawasan berburu Inggris ini sehingga tidak seorang pun akan memperhatikannya.”

“Semuanya sangat jelas,” kata Holmes.

“Well, Mr. Douglas tidak muncul. Apa yang dilakukannya sesudah itu? Ia meninggalkan sepedanya dan mendekati rumah waktu senja. Ia mendapati jembatannya masih turun dan tidak ada seorang pun di sekitar tempat itu. Ia mengambil risiko, tidak ragu lagi sudah menyiapkan alasan kalau bertemu seseorang di dalam. Ia tidak bertemu siapa pun. Ia menyelinap masuk ke ruangan pertama yang ditemuinya, dan menyembunyikan diri di balik tirai. Dari sana ia bisa melihat jembatan tariknya diangkat, dan mengetahui bahwa satu-satunya jalan untuk meloloskan diri hanyalah dengan menyeberangi parit. Ia menunggu hingga pukul 23.15, sewaktu Mr. Douglas tiba di ruangan itu sesuai kebiasaannya memeriksa rumah. Ia menembak Mr. Douglas dan melarikan diri, sebagaimana rencana semula. Ia menyadari sepedanya akan dideskripsikan orang-orang hotel dan akan menjadi petunjuk yang mengarah pada dirinya; jadi ia meninggalkan sepedanya di sana dan dengan cara lain pergi ke London atau tempat persembunyian aman yang sudah dipersiapkannya. Bagaimana, Mr. Holmes?”

“Well, Mr. Mac, penjelasanmu sangat bagus dan sangat jelas sejauh ini. Itu akhir ceritamu. Akhir ceritaku adalah kejahatan itu dilakukan setengah jam lebih awal daripada yang dilaporkan. Mrs. Douglas dan Barker bersekongkol untuk menutupi sesuatu, dan mereka membantu pembunuhnya melarikan diri—atau paling tidak mereka tiba di ruangan sebelum pembunuhnya sempat melarikan diri—dan mereka mengatur petunjuk agar terkesan ia melarikan diri melalui jendela, sementara kemungkinan besar mereka sendiri yang membebaskannya dengan menurunkan jembatan. Itu dugaanku mengenai paro pertama kasus ini.”

Kedua orang detektif itu menggeleng. “Well, Mr. Holmes, kalau benar demikian, kita hanya menemui misteri demi misteri,” kata inspektur dari London tersebut.

“Dan boleh dikatakan misteri yang satu lebih parah daripada misteri yang sebelumnya,” tambah White Mason. “Wanita itu belum pernah mengunjungi Amerika seumur hidupnya. Ada kaitan apa antara dirinya dengan seorang pembunuh Amerika sehingga ia bersedia melindunginya?”

“Kuakui itulah kesulitannya,” kata Holmes. “Kutawarkan untuk melakukan penyelidikan sendiri malam ini. Dan ada kemungkinan penyelidikanku menyumbangkan sesuatu.”

“Kami bisa membantumu, Mr. Holmes?”

“Tidak, tidak! Kegelapan dan payung Dr. Watson—keinginanku sederhana. Dan Ames, Ames yang setia tidak ragu lagi ia akan mengecualikan diriku. Semua pikiranku membawaku kembali ke satu pertanyaan mendasar—kenapa seorang pria atletis membesarkan posturnya dengan alat yang begitu tidak wajar seperti sebuah barbel?”

Holmes kembali ke hotel larut malam. Kami tidur di kamar dengan double bed, yang terbaik yang bisa disediakan penginapan pedesaan ini. Aku sudah tidur sewaktu separo terjaga oleh ke pulangannya.

“Well, Holmes,” gumamku, “ada hasil?”

Ia berdiri di sampingku sambil membisu, dengan membawa lilin. Lalu sosok yang jangkung dan langsing itu membungkuk ke arahku. “Menurutku, Watson,” bisiknya “apakah kau takut untuk tidur sekamar dengan orang sinting, orang yang menurun kecerdasannya, idiot yang sudah tidak sadar lagi?”

“Sedikit pun tidak,” jawabku heran.

“Ah, beruntung sekali,” katanya, dan setelah itu ia tidak mengatakan apa-apa lagi sepanjang malam.

One thought on “Bab 6 – Titik Terang

  1. Pingback: Valley of Fear (Lembah Ketakutan) | BLACK LOTUS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s