Bab 7 – Pemecahan

KEESOKAN paginya, sesudah sarapan, kami menemui Inspektur MacDonald dan White Mason yang sedang bercakap-cakap di ruang tamu kecil di rumah sersan polisi setempat itu. Di meja depan mereka menumpuk sejumlah surat dan telegram, yang dengan hati-hati mereka pilah-pilah. Tiga di antaranya diletakkan di satu sisi.

“Masih berusaha melacak pengendara sepeda yang lihai itu?” tanya Holmes riang. “Apa kabar terakhir penjahat itu?”

MacDonald menunjuk tumpukan dokumen itu dengan enggan.

“Ia dilaporkan dari Leicester, Nottingham, Southampton, Derby, East Ham, Richmond, dan empat belas tempat lain. Di tiga di antaranya—East Ham, Leicester, dan Liverpool—ia menghadapi kasus yang kuat, dan pernah ditangkap di sana. Negara ini tampaknya penuh dengan pelarian yang mengenakan mantel kuning.”

“Dear me!” kata Holmes dengan nada simpatik.

“Nah, Mr. Mac, dan kau Mr. White Mason, aku ingin memberi kalian nasihat yang tulus. Sewaktu aku bersedia menangani kasus ini bersamamu, aku mengajukan tawaran, yang pasti kau ingat, bahwa aku tidak akan memberikan teori yang separo terbukti, aku berhak melaksanakan gagasanku sendiri hingga merasa puas bahwa teoriku benar. Untuk alasan ini, pada saat ini aku tidak menceritakan semua yang ada dalam pikiranku. Di sisi lain, aku berjanji untuk bersikap jujur pada kalian dalam hal ini, dan kurasa tidak adil kalau membiarkan kalian membuang buang waktu sedetikpun untuk tugas yang tidak ada gunanya ini. Oleh karena itu aku kemari pagi ini untuk memberi saran yang bisa diringkas dalam empat kata—lupakan saja kasus ini.”

MacDonald dan White Mason tertegun menatap kolega mereka yang terkenal itu.

“Kau menganggap kasus ini tidak ada harapan diselesaikan?” seru inspektur tersebut.

“Kuanggap kasus kalian tidak ada harapan diselesaikan. Aku tidak merasa tidak ada harapan untuk mendapatkan kebenaran.”

“Tapi pengendara sepeda ini. Ia bukan khayalan. Kami sudah mendapatkan deskripsinya, tasnya, sepedanya. Orang ini pasti ada di suatu tempat. Kenapa kita tidak bisa menangkapnya?”

“Ya, ya, tidak ragu lagi ia ada di suatu tempat, dan tidak ragu lagi kita akan menangkapnya. Tapi aku tidak akan membiarkan kalian membuang-buang energi di East Ham atau Liverpool. Aku yakin kita bisa menemukan jalan yang lebih singkat untuk mendapatkan hasil.”

“Kau merahasiakan sesuatu. Ini tidak adil, Mr. Holmes.” Inspektur itu tampak jengkel.

“Kau tahu cara kerjaku, Mr. Mac. Tapi aku akan merahasiakannya dalam waktu sesingkat mungkin. Aku hanya ingin memastikan rincianku dengan satu cara, yang bisa dilakukan saat ini juga, lalu mengundurkan diri dan kembali ke London, menyerahkan seluruh hasil penyelidikanku ke tangan kalian. Aku sangat berutang budi pada kalian sehingga tidak akan berbuat lain, karena berdasarkan semua pengalamanku, seingatku aku tidak pernah menemui kasus yang lebih aneh dan lebih menarik.”

“Aku sama sekali tidak mengerti, Mr. Holmes. Kami menemuimu sewaktu pulang dari Tunbridge Wells semalam, dan kau boleh dikatakan menyetujui hasil yang kami peroleh. Apa yang terjadi sejak saat itu sehingga sekarang kau memiliki pendapat yang sama sekali baru mengenai kasus ini?”

“Well, karena kau bertanya, aku akan menjawab. Aku menghabiskan beberapa jam—seperti yang kukatakan—di Manor House semalam ”

“Well, apa yang terjadi?”

“Ah, aku hanya bisa memberikan jawaban yang sangat umum untuk saat ini. Omong-omong, aku membaca sejarah singkat tapi jelas dan menarik tentang gedung tua itu, yang dibeli dengan harga satu penny dari pedagang tembakau setempat.”

Holmes mengeluarkan sebuah buku kecil, di mana terukir gambar Manor House kuno, dari saku rompinya.

“Akan sangat menambah semangat penyelidikan, Mr. Mac yang baik, kalau ia mau secara sadar memedulikan sejarah sekitarnya. Jangan tampak begitu tidak sabar, karena kujamin penjelasan sekering ini sekalipun bisa menimbulkan gambaran akan masa lalu dalam benak seseorang. Izinkan aku memberi contoh. ‘Dibangun pada tahun kelima James I berkuasa, dan berdiri di lokasi bangunan yang jauh lebih tua, Manor House of Birlstone merupakan salah satu contoh terbaik yang masih ada mengenai hunian berparit era James I—”‘

“Kau mempermainkan kami, Mr. Holmes!”

“Tut, tut, Mr. Mac!—reaksi emosional pertama yang kulihat dari dirimu. Well, aku tidak akan meneruskannya, karena kau tampaknya sangat tidak senang. Tapi kalau kukatakan bahwa ada cerita mengenai pengambil-alihan tempat itu oleh seorang kolonel anggota Parlemen pada tahun 1644, penyembunyian Charles selama beberapa hari selama Perang, Saudara, dan akhirnya kunjungan George II, kau akan mengakui bahwa ada berbagai kepentingan yang berkaitan dengan rumah tua itu.”

“Aku tidak meragukannya, Mr. Holmes, tapi itu bukan urusan kita.”

“Sungguh? Sungguh? Keluasan wawasan, Mr. Mac yang baik, adalah salah satu faktor penting dalam profesi kita. Interaksi gagasan-gagasan dan penggunaan tidak langsung ilmu pengetahuan sering sangat menarik. Harap maafkan komentar orang yang, sekalipun hanya pengamat kejahatan, masih lebih tua dan mungkin lebih berpengalaman daripada dirimu sendiri.”

“Aku orang pertama yang akan mengakui hal itu,” kata detektif itu sepenuh hati. “Kau sudah menyampaikan maksudmu, kuakui, tapi kau terlalu berputar-putar dalam mengungkapkannya.”

“Well, well, kulewati saja sejarahnya dan langsung membicarakan fakta saat ini. Semalam aku datang, seperti yang sudah kukatakan, ke Manor House. Aku tidak menemui Barker atau Mrs. Douglas. Aku tidak melihat alasan untuk mengganggu mereka, tapi aku merasa senang mendengar wanita itu tidak tenggelam dalam kedukaan dan menyantap makan malam yang luar biasa. Tujuan kedatanganku untuk menemui Mr. Ames, yang sempat bercakap-cakap denganku, dan akhirnya, tanpa memberitahu siapa pun, mengizinkan aku duduk seorang diri selama beberapa saat di ruang kerja.”

“Apa! Dengan mayat itu?” seruku.

“Tidak, tidak, segalanya sekarang sudah kembali seperti semula. Kau sudah mengizinkannya, Mr. Mac, aku diberitahu begitu. Kamar itu dalam keadaan normal, dan di dalamnya aku menghabiskan waktu seperempat jam yang sangat bermanfaat.”

“Apa yang kaulakukan?”

“Well, tidak ada gunanya merahasiakan hal yang sepele. Aku mencari barbel yang hilang. Fakta itu selalu mengganggu pikiranku. Aku akhirnya berhasil menemukannya.”

“Di mana?”

“Ah, dengan begitu kita tiba di hal-hal yang belum dijelajahi. Kita maju sedikit, sedikit saja, dan aku berjanji kau akan mengetahui semua yang kuketahui.”

“Well, kami sudah berjanji untuk tidak mengusik cara kerjamu,” kata inspektur itu, “tapi kalau tentang melupakan kasusnya—kenapa kami harus melupakan kasusnya?”

“Untuk alasan yang sederhana, Mr. Mac yang baik, bahwa kau sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang kauselidiki.”

“Kami menyelidiki pembunuhan Mr. John Douglas dari Birlstone Manor.”

“Ya, ya, begitulah. Tapi jangan bersusah payah melacak pria bersepeda yang misterius itu. Percayalah, hal itu tidak membantumu.”

“Kalau begitu, menurutmu apa yang sebaiknya kami lakukan?”

“Akan kuberitahu apa yang harus kalian lakukan, kalau kalian mau melakukannya.”

“Well, harus kuakui bahwa kau selalu memiliki alasan di balik semua caramu yang aneh. Akan kupatuhi saranmu.”

“Dan kau, Mr. White Mason?”

Detektif desa itu menatap mereka bergantian dengan pandangan tidak berdaya. Holmes dan metodenya merupakan hal baru baginya. “Well, kalau hal itu cukup baik menurut Inspektur, bagiku juga cukup baik,” katanya akhirnya.

“Bagus sekali!” kata Holmes. “Well, kalau begitu, kusarankan kalian berdua berjalan-jalan di desa ini. Kata orang pemandangan dari Birlstone Ridge di Weald sangat luar biasa. Tidak ragu lagi kita bisa makan siang di penginapan yang layak di sana, sekalipun ketidaktahuanku mengenai pedesaan menghalangiku untuk memberi rekomendasi. Di malam hari, lelah tapi gembira—”

“Bung, ini sudah keterlaluan!” seru MacDonald, sambil bangkit dari kursinya.

“Well, well, lewati saja hari ini sesuka hatimu,” kata Holmes, sambil menepuk-nepuk bahu Inspektur dengan gembira. “Lakukan apa yang kau inginkan dan pergilah ke mana pun kau suka, tapi temui aku di sini sebelum senja dan jangan terlambat—jangan terlambat, Mr. Mac.”

“Kedengarannya lebih waras.”

“Semuanya merupakan nasihat yang bagus, tapi aku tidak akan berkeras, selama kau ada di sini pada saat aku memerlukan dirimu. Tapi sekarang, sebelum kita berpisah, tolong tulis surat kepada Mr. Barker.”

“Well?”

“Akan kudiktekan kalau kau mau. Siap?”

“‘Dear Sir,—Terlintas dalam pikiran saya bahwa sudah menjadi tugas kami untuk mengeringkan paritnya, dengan harapan kami mungkin akan menemukan—'”

“Ini mustahil,” kata inspektur itu. “Kami sudah menyelidiki.”

“Tut, tut! My dear sir, tolong lakukan apa yang kuminta.”

“Well, lanjutkan!”

“‘—-dengan harapan kami mungkin menemukan sesuatu yang berkaitan dengan penyelidikan kami. Saya sudah mengaturnya, dan para pekerja akan mulai bertugas besok pagi-pagi sekali untuk mengalihkan aliran sungai—”‘

“Mustahil!”

“‘—mengalihkan aliran sungai. Jadi saya pikir lebih baik saya memberitahu Anda terlebih dulu.’ Nah, sekarang tolong tandatangani, dan serahkan langsung pada Mr. Barker pada sekitar pukul 16.00. Pada saat itu kita akan berkumpul lagi di ruangan ini. Sebelum itu kita masing-masing boleh berbuat sesuka hati, karena kujamin penyelidikan ini tidak bisa tidak sudah mencapai tahap harus berhenti sejenak.”

Malam mulai turun saat kami berkumpul kembali. Holmes bersikap sangat serius, aku sendiri penasaran, dan kedua orang detektif itu jelas merasa jengkel.

“Well, Tuan-tuan,” kata temanku serius. “Kuminta kalian sekarang mempertaruhkan segalanya pada diriku, dan kalian akan menilai sendiri apakah penyelidikanku membenarkan kesimpulan yang sudah kuambil. Malam ini dingin, dan aku tidak tahu akan berapa lama ekspedisi kita ini, jadi kuminta kalian mengenakan mantel yang paling hangat. Penting sekali agar kita sudah berada di tempat sebelum gelap, jadi dengan seizin kalian kita akan berangkat sekarang juga.”

Kami melewati batas luar kebun Manor House hingga tiba di tempat yang terdapat celah pada pagarnya. Kami menyelinap masuk melalui celah tersebut, dan dalam keremangan senja kami mengikuti Holmes hingga tiba di sesemakan yang tumbuh hampir di seberang pintu utama dan jembatan tarik. Jembatan itu belum diangkat. Holmes berjongkok di balik sesemakan, dan kami bertiga mengikuti langkahnya.

“Well, apa yang kita lakukan sekarang?” tanya MacDonald agak serak.

“Bersabar dan berusaha sedapat mungkin tidak menimbulkan suara,” jawab Holmes.

“Untuk apa kita berada di sini? Aku benar-benar merasa kau seharusnya lebih terbuka pada kami.”

Holmes tertawa. “Watson berkeras aku orang yang paling senang mendramatisir kehidupan,” katanya. “Jiwa seniman dalam diriku mendorongku menampilkan pertunjukan yang dipersiapkan dengan baik. Profesi kita, Mr. Mac, pasti akan menjadi profesi yang membosankan kalau kita kadang-kadang tidak mengatur situasinya agar hasilnya menggemparkan. Tuduhan secara terang-terangan, tepukan keras di bahu—apa yang bisa dihasilkan dari dénouement seperti itu? Tapi deduksi yang cepat, jebakan yang tidak kentara, ramalan tepat akan kejadian yang akan datang, pembuktian teori-teori yang berani—bukankah semua itu merupakan kebanggaan dan pembenaran dari pekerjaan kita? Pada saat ini kau merasa bergairah karena kehebatan situasinya dan antisipasi pemburu. Apakah kau akan merasa bergairah kalau aku sepasti sebuah jadwal? Aku hanya meminta sedikit kesabaran, Mr. Mac, dan semua akan menjadi jelas bagimu.”

“Well, kuharap kebanggaan, pembenaran, dan segala yang lainnya tadi itu akan tiba sebelum kita jadi mayat,” tukas detektif London itu dengan kepasrahan yang lucu.

Kami semua memiliki alasan yang bagus untuk menyetujuinya, karena penantian kami panjang dan pahit. Perlahan-lahan bayangan kegelapan menyelimuti wajah muram dan panjang rumah tua itu. Hawa dingin dan basah yang menyebar dari parit membekukan kami hingga tulang dan menyebabkan gigi-gigi kami bergemeretuk Di gerbang menyala sebuah lampu, juga di ruang kerja yang fatal itu. Bagian bagian lain gelap dan tidak bergerak.

“Berapa lama lagi?” tanya Inspektur akhirnya. “Dan sebenarnya apa yang kita awasi?”

“Aku sendiri tidak tahu berapa lama kita harus menunggu,” balas Holmes agak kasar. “Kalau tindakan para penjahat selalu setepat jadwal kereta api, jelas akan jauh lebih menyenangkan bagi kita semua. Sedangkan mengenai apa yang kita—Well, itu yang kita awasi!”

Saat ia berbicara, cahaya terang kekuningan dari ruang kerja tertutup oleh seseorang yang mondar-mandir di depannya. Sesemakan tempat kami bersembunyi terletak tepat di seberang jendela dan tidak lebih dari seratus meter jauhnya. Jendela itu terbuka diiringi derit engsel-engselnya, dan kami samar-samar bisa melihat sosok kepala dan bahu seorang pria yang memandang kegelapan. Selama beberapa menit ia memandang ke luar dengan hati-hati, seperti orang yang ingin memastikan tidak ada yang mengamati perbuatannya. Lalu ia mencondongkan tubuh ke depan, dan dalam kesunyian kami menyadari suara kecipak pelan air yang terusik. Sosok itu tampaknya tengah mengaduk-aduk parit dengan sesuatu yang ada di tangannya. Lalu tiba-tiba ia menarik sesuatu seperti nelayan menarik ikan—benda besar dan bulat yang tidak terlihat jelas sewaktu diseret masuk melalui jendela yang terbuka.

“Sekarang!” seru Holmes. “Sekarang!”

Kami semua melompat bangun, terhuyung-huyung mengejarnya dengan kaki yang terasa kejang, sementara Holmes berlari sigap menyeberangi jembatan dan membunyikan bel mati-matian. Terdengar gemeretak selot dari balik pintu, dan Ames berdiri tertegun di ambang pintu. Holmes menerobos melewatinya tanpa mengatakan apa-apa, diikuti kami semua, bergegas masuk ke ruangan tempat pria yang tadi kami awasi berada.

Lampu minyak di meja memancarkan cahaya yang tadi kami lihat dari luar. Lampu tersebut sekarang ada di tangan Cecil Barker, yang mengacungkannya ke arah kami saat kami masuk. Cahayanya menerpa wajahnya yang kuat, tegas, tercukur rapi, juga matanya yang memancarkan ancaman.

“Apa-apaan ini semua?” serunya. “Apa yang kalian cari?”

Holmes memandang sekitarnya sekilas, lalu mendekati sebuah buntalan yang basah kuyup, yang diikat seutas tali, di bawah meja tulis.

“Ini yang kami cari, Mr. Barker—buntalan ini, dibebani dengan sebuah barbel, yang baru saja kauambil dari dasar parit.”

Barker menatap Holmes dengan ekspresi tertegun. “Bagaimana kau bisa mengetahuinya?” tanyanya.

“Karena aku yang meletakkannya di sana.”

“Kau yang meletakkannya di sana! Kau!”

“Mungkin seharusnya kukatakan ‘mengembalikannya ke sana’,” kata Holmes. “Kau pasti ingat, Inspektur MacDonald, bahwa aku agak terkejut melihat tidak adanya salah satu barbel. Aku sudah menyinggungnya, tapi karena tekanan kejadian-kejadian lain kau hampir tidak sempat me mikirkannya. Kalau saja kaulakukan, kau akan mampu menarik kesimpulan dari hal itu. Kalau ada air tidak jauh dari sini dan ada beban yang hilang, tidak berlebihan untuk menduga ada sesuatu yang dibenamkan di sana. Gagasan itu paling tidak layak untuk diuji. Jadi dengan bantuan Ames, yang membantuku masuk kemari, dan kait pada payung Dr. Watson, semalam aku berhasil menemukan buntalan ini dan memeriksa isinya.

“Tapi penting sekali jika kita bisa membuktikan siapa yang meletakkannya d sana. Masalah ini kami selesaikan dengan solusi yang paling jelas, dengan mengumumkan bahwa besok paritnya akan dikeringkan. Yang, tentu saja, menyebabkan siapa pun yang sudah menyembunyikan buntalan ini pasti akan mengambilnya begitu kegelapan memungkinkannya untuk berbuat begitu. Kita memiliki tidak kurang dari empat saksi yang melihat siapa yang mengambil kesempatan itu. Jadi, Mr. Barker, kurasa sekarang terserah padamu untuk bercerita.”

Sherlock Holmes meletakkan buntalan yang masih meneteskan air tersebut di meja di samping lampu dan membuka ikatannya. Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah barbel, yang ia lempar ke samping barbel yang lain di sudut. Kemudian ia mengambil sepasang sepatu bot. “Buatan Amerika, seperti yang bisa kaulihat,” katanya, sambil menunjuk sepatu itu. Lalu ia meletakkan sebilah pisau bersarung yang panjang dan mematikan di meja. Akhirnya ia membuka gulungan pakaian, yang terdiri atas pakaian dalam, kaus kaki, setelan tweed kelabu, dan mantel luar pendek berwarna kuning.

“Pakaiannya biasa saja,” kata Holmes, “kecuali mantel luarnya, yang penuh petunjuk.” Ia mengacungkannya dengan hati-hati ke arah cahaya. “Di sini, seperti yang bisa kalian lihat, ada saku dalam yang dijahit hingga tepi mantel dengan bentuk sedemikian rupa sehingga cukup untuk sepucuk senapan yang sudah dipotong. Label penjahitnya ada di bagian leher—’Neale, Penjahit, Vermissa, USA’. Aku sudah menghabiskan sore yang bermanfaat di perpustakaan rektor, dan memperluas pengetahuanku dengan mengetahui fakta bahwa Vermissa merupakan kota kecil yang sejahtera di salah satu lembah penghasil batu bara dan besi terkenal di Amerika Serikat. Aku masih ingat Mr Barker, kau mengasosiasikan distrik batu bara dengan istri pertama Mr. Douglas, dan tidak berlebihan kalau aku memperkirakan VV pada kartu di dekat mayat merupakan singkatan dari Vermissa Valley—Lembah Vermissa—atau bahwa lembah yang mengirim pembunuh inilah yang disebut-sebut sebagai Lembah Ketakutan yang kita dengar. Sejauh ini cukup jelas. Dan sekarang, Mr. Barker, rasanya aku sudah menghalangi penjelasanmu.”

Wajah Cecil Barker selama penjelasan detektif besar tersebut benar-benar menarik untuk diamati. Kemarahan, kekagetan, keresahan, dan kebingungan tampak bergantian. Akhirnya ia menyelamatkan diri dengan ironi masam.

“Kau tahu begitu banyak, Mr. Holmes, mungkin sebaiknya kau yang menceritakan sisanya,” katanya sambil mencibir.

“Aku tidak ragu bahwa aku bisa menceritakan jauh lebih banyak lagi, Mr. Barker, tapi akan jauh lebih baik kalau kau yang bercerita.”

“Oh, kaupikir begitu? Well, aku hanya bisa mengatakan bahwa kalaupun ada rahasia di sini jelas bukan rahasiaku. Dan aku tidak bersedia mengungkapkannya.”

“Well, kalau kau memilih bersikap begitu, Mr. Barker,” kata Inspektur pelan, “kami terpaksa terus mengawasimu hingga mendapat surat perintah untuk menangkapmu.”

“Kau boleh melakukan apa pun yang kau mau,” kata Barker dengan sikap menantang.

Sepanjang penilaian Barker, akhir semua ini tampaknya sudah jelas, karena dari wajah sekaku granit tersebut orang bisa melihat bahwa tidak ada siksaan yang bisa memaksanya bertindak di luar kemauannya. Tapi kebuntuan dipecahkan oleh suara seorang wanita. Mrs. Douglas sejak tadi berdiri mendengarkan di balik pintu yang separo terbuka, dan sekarang ia masuk ke dalam ruangan.

“Kau sudah bertindak lebih dari cukup, Cecil,” katanya. “Apa pun yang terjadi di masa depan, kau sudah bertindak cukup.”

“Cukup dan lebih dari cukup,” kata Holmes serius. “Aku bersimpati padamu, Madam, dan sangat kusarankan kau mempercayai logika hukum kita dan mempercayai polisi sepenuhnya secara sukarela. Ada kemungkinan aku sendiri bersalah karena tidak menindaklanjuti petunjuk yang kauberikan melalui temanku Dr. Watson. Tapi, pada waktu itu aku sangat percaya kau terlibat langsung dengan kejahatan ini. Sekarang aku yakin tidak begitu. Pada saat yang sama, banyak hal tidak bisa dijelaskan, dan aku sangat menyarankan kau minta Mr. Douglas menyampaikan sendiri ceritanya.”

Mrs. Douglas berseru kaget mendengar kata kata Holmes. Para detektif dan aku juga berseru kaget waktu menyadari kehadiran seorang pria yang bagai muncul dari dinding, yang sekarang melangkah keluar dari keremangan sudut. Mrs. Douglas berpaling, dan langsung memeluk pria itu. Barker menjabat tangannya.

“Ini yang terbaik, Jack,” kata istrinya. “Aku yakin ini yang terbaik.”

“Memang benar, Mr. Douglas,” kata Sherlock Holmes. “Aku yakin kau akan menganggap ini yang terbaik.”

Pria itu berdiri sambil mengerjap-kerjapkan mata dengan ekspresi tertegun orang yang baru saja melangkah dari kegelapan ke tempat terang. Wajahnya mengesankan—mata kelabu tajam, kumis pendek kaku, dagu persegi yang menonjol, dan bibir yang seakan selalu tertawa. Ia memandang kami semua dengan teliti, lalu—yang membuatku tertegun—mendekatiku serta menyerahkan setumpuk kertas.

“Saya sering mendengar tentang diri Anda,” katanya dengan suara yang tidak berlogat Inggris maupun Amerika, tapi secara keseluruhan lembut dan menyenangkan. “Anda sejarawan dalam kelompok ini. Well, Dr. Watson, Anda belum pernah mendengar cerita seperti ini dari siapa pun sebelumnya, dan saya berani mempertaruhkan dolar terakhir saya. Ceritakan dengan cara Anda sendiri, tapi ingat fakta-faktanya, dan selama Anda memilikinya, masyarakat tidak akan meninggalkan Anda. Saya sudah terkurung selama dua hari, dan menghabiskan siang hari—sebanyak yang bisa saya dapatkan dalam jebakan tikus itu—untuk menuliskan semuanya. Anda boleh membacanya—Anda dan para pembaca Anda. Ini cerita tentang Lembah Ketakutan.”

“Itu sudah masa lalu, Mr. Douglas,” kata Sherlock Holmes pelan. “Yang kami inginkan sekarang adalah cerita Anda tentang saat ini.”

“Anda akan mendapatkannya, Sir,” kata Douglas. “Boleh saya berbicara sambil merokok? Well terima kasih, Mr. Holmes. Anda sendiri perokok, kalau tidak salah ingat, dan Anda bisa menebak bagaimana rasanya duduk selama dua hari dengan tembakau dalam saku tapi Anda tidak berani mengisapnya karena takut baunya akan mengungkapkan persembunyian Anda.” Ia bersandar di rak perapian dan mengisap dalam-dalam cerutu yang diberikan Holmes. “Saya pernah mendengar tentang diri Anda, Mr. Holmes. Saya tidak pernah menduga akan bertemu dengan Anda. Tapi sebelum Anda selesai membaca itu,” katanya sambil mengangguk ke arah dokumen di tanganku, “Anda akan mengatakan bahwa saya membawakan cerita yang baru bagi Anda.”

Inspektur MacDonald menatap pendatang baru itu dengan tercengang.

“Well, ini benar-benar tidak bisa saya pahami!” serunya akhirnya. “Kalau Anda Mr. John Douglas dari Birlstone Manor, lalu kematian siapa yang kami selidiki dua hari ini, dan dari mana Anda datang? Anda seperti mainan Jack-in-a-box yang tiba-tiba keluar dari lantai.”

“Ah, Mr. Mac,” kata Holmes, sambil menggoyang-goyangkan jari telunjuk, “kau tidak mau membaca tulisan koran setempat yang menggambarkan persembunyian Raja Charles. Di masa itu orang tidak akan bersembunyi kalau tidak ada tempat persembunyian yang sangat bagus. Dan tempat persembunyian yang pernah dipergunakan pasti akan dipergunakan lagi. Aku berhasil meyakinkan diri sendiri bahwa kita pasti bisa menemukan Mr. Douglas di dalam rumah ini.”

“Sudah berapa lama kau memainkan tipuan ini terhadap kami, Mr. Holmes?” kata inspektur tersebut marah. “Sudah berapa lama kau membiarkan kami menyia-nyiakan waktu untuk pencarian yang kau tahu tidak ada gunanya?”

“Sesaat pun tidak, Mr. Mac yang baik. Baru semalam aku menyusun pendapatku mengenai kasus ini. Karena teoriku tidak bisa dibuktikan sampai malam ini, kuminta kau dan kolegamu berlibur sepanjang hari. Apa lagi yang bisa kulakukan? Sewaktu kutemukan pakaian di dalam parit itu, seketika jelas bagiku bahwa mayat yang kita temukan tidak mungkin mayat Mr. John Douglas. Itu pasti mayat pengendara sepeda dari Tunbridge Wells. Tidak ada kesimpulan lain yang masuk akal. Oleh karena itu aku harus menentukan di mana Mr. John Douglas bersembunyi. Kemungkinannya adalah dengan sepengetahuan istri dan temannya ia bersembunyi di dalam rumah—yang cukup nyaman bagi seorang pelarian—dan menunggu saat yang lebih tenang untuk pelarian yang sebenarnya.”

“Well, perkiraan Anda kurang-lebih tepat,” kata Douglas. “Saya pikir saya bisa menghindari hukum Inggris Anda, karena saya tidak yakin bagaimana posisi saya di mata hukum Inggris. Dan juga saya melihat kesempatan untuk melepaskan diri dari para anjing pelacak ini sepanjang sisa hidup saya. Dari awal hingga akhir saya tidak melakukan apa pun yang memalukan, dan tidak ada yang tidak akan saya lakukan lagi, tapi Anda nilai saja sendiri sesudah saya ceritakan pengalaman saya. Tidak perlu memperingatkan saya, Inspektur, saya siap untuk mengungkapkan kebenaran.

“Saya tidak akan memulai dari awal. Semua ada di sana,” ia menunjuk dokumen di tanganku, “dan Anda akan mendapati cerita di sana sangat aneh. Secara garis besar begini: ada beberapa orang yang memiliki alasan kuat untuk membenci saya dan mereka bersedia mempertaruhkan seluruh uang mereka untuk memastikan mereka sudah berhasil menghabisi saya. Selama saya masih hidup dan mereka juga masih hidup, tidak ada tempat yang aman di dunia ini bagi saya. Mereka sudah memburu saya sejak dari Chicago hingga California, lalu mengejar saya sampai ke luar Amerika. Tapi setelah menikah dan menetap di tempat yang tenang ini, saya pikir tahun-tahun terakhir saya akan berlalu dengan damai.

“Saya tidak pernah menjelaskan situasinya pada istri saya. Untuk apa saya melibatkan dirinya? Ia tidak akan pernah merasa tenang lagi, akan selalu membayangkan ada masalah. Saya perkirakan ia mengetahui sesuatu, karena mungkin saya sudah kelepasan bicara di sana-sini. Tapi hingga kemarin, sesudah kalian bertemu dengannya, ia tidak pernah mengetahui masalah yang sebenarnya. Ia memberitahukan semua yang diketahuinya, begitu juga Barker ini, karena pada malam kejadian ini berlangsung, hanya ada sedikit waktu untuk menjelaskan. Ia sekarang mengetahui semuanya, dan saya seharusnya menceritakannya padanya lebih awal. Tapi itu masalah yang berat, Sayang.” Ia meraih tangan istrinya dan menggenggamnya sejenak, “Dan aku bertindak untuk yang terbaik bagi kita.

“Well, Tuan-tuan, sehari sebelum kejadian saya pergi ke Tunbridge Wells, dan sempat melihat sekilas seseorang di jalan. Hanya sekilas, tapi saya cukup cepat dalam hal hal seperti ini, dan saya tidak ragu sedikit pun siapa orang itu. Musuh yang paling buruk di antara semua musuh saya—musuh yang memburu saya bagai serigala kelaparan memburu karibu selama bertahun-tahun ini. Saya mengetahui akan ada masalah, dan saya pulang serta bersiap-siap untuk menghadapinya. Saya kira saya akan berhasil menghadapi semuanya seorang diri. Ada masa di mana saya sangat beruntung. Saya tidak pernah ragu bahwa sekarang pun saya masih beruntung.

“Saya pun terus waspada sepanjang keesokan harinya, dan tidak pernah keluar ke taman. Saya kira lebih baik begitu, kalau tidak ia bisa menghabisi saya dengan senapan tabur sebelum saya sempat menembaknya. Setelah jembatan diangkat—saya selalu merasa lebih santai kalau jembatan sudah diangkat di malam hari—saya singkirkan masalah itu dari pikiran saya. Saya tidak pernah bermimpi ia berhasil masuk ke dalam rumah dan menunggu saya. Tapi sewaktu saya berkeliling dengan mengenakan mantel rumah, sebagaimana kebiasaan saya, saya baru saja memasuki ruang kerja sewaktu merasakan ada bahaya. Saya rasa kalau seseorang terancam bahaya sepanjang hidupnya—dan saya lebih banyak menghadapi bahaya daripada tidak—ada semacam indra keenam yang mengisyaratkan bahaya. Saya melihat tanda-tandanya dengan cukup jelas, tapi saya tidak bisa menceritakan kepada kalian bagaimana tepatnya. Detik berikutnya saya melihat sepatu bot di bawah tirai jendela. Dan saya melihat alasannya dengan cukup jelas.

“Saya hanya membawa sebatang lilin, tapi cahaya lampu ruang depan cukup menerangi ruangan dari pintu yang terbuka. Saya letakkan lilinnya dan melompat mengambil palu yang saya tinggalkan di rak perapian. Pada saat yang sama ia menerkam saya. Saya melihat pantulan cahaya di pisau, dan saya ayunkan palu ke arahnya. Saya berhasil menghantamnya entah di bagian mana, karena pisaunya jatuh ke lantai. Ia menunduk di balik meja secepat belut, dan sesaat kemudian telah mencabut senapan tabur dari balik mantelnya. Saya mendengarnya mengokangnya, tapi saya berhasil mencengkeram senjatanya sebelum ia sempat menembak. Saya mencengkeram larasnya, dan kami bergulat memperebutkannya selama sekitar semenit lebih. Orang yang melepaskan cengkeramannya akan tewas.

“Cengkeramannya tidak pernah terlepas, tapi ia memegangnya dengan laras mengarah ke atas terlalu lama. Mungkin saya yang menarik picunya. Mungkin tidak sengaja karena tarik menarik di antara kami. Pokoknya, ia tertembak tepat di wajah. Dan saya berdiri di sana, menunduk menatap apa yang tersisa dari Ted Baldwin. Saya mengenalinya di Tunbridge Wells, dan saya juga mengenalinya sewaktu ia menerkam saya. Tapi bahkan ibunya sendiri tidak akan mengenalinya sekarang. Saya sudah biasa dengan pekerjaan kasar. Tapi saya boleh dikatakan mual melihat keadaannya.

“Saya sedang bersandar di tepi meja sewaktu Barker bergegas masuk. Saya mendengar suara kedatangan istri saya, dan berlari ke pintu untuk menghentikannya. Pemandangan itu tidak pantas dilihat wanita. Saya berjanji akan segera menemuinya. Saya bercakap-cakap sejenak dengan Barker—ia memahami situasinya hanya dengan sekali lihat—dan kami menunggu kedatangan yang lainnya. Tapi tidak ada tanda-tanda kehadiran mereka. Lalu kami mengerti bahwa mereka tidak bisa mendengar suara apa pun. Semua yang sudah terjadi hanya kami sendiri yang mengetahuinya.

“Pada saat itulah gagasan itu melintas dalam benak saya. Saya agak tertegun menyadarinya. Lengan baju pria itu terangkat dan cap kelompok di lengan bawahnya terlihat. Lihat ini!”

Pria yang kami kenal sebagai Douglas itu membuka mantel dan mansetnya untuk menunjukkan sebuah segitiga dalam lingkaran cokelat yang persis sama dengan yang kami lihat di lengan mayat.

“Cap inilah yang memicu gagasan saya. Saya bagai melihat semuanya dengan jelas dalam sekilas. Tinggi, rambut, dan posturnya mirip dengan saya. Tidak seorang pun bisa mengenali wajahnya, si keparat yang malang itu! Saya mengambil setelan ini. Lalu dalam seperempat jam saya dan Barker berhasil memakaikan mantel rumah saya padanya dan ia tergeletak sebagaimana kalian temukan. Kami memasukkan semua barangnya ke dalam buntalan, dan saya membebaninya dengan satu-satunya pemberat yang bisa saya temukan, dan melemparkannya keluar jendela. Kartu yang hendak diletakkannya di atas mayat saya tergeletak di samping mayatnya sendiri.

“Saya lepaskan cincin saya dan memakaikannya di jarinya. Tapi sewaktu tiba pada cincin kawin saya,” ia mengacungkan tangannya yang berotot, “kalian bisa melihat sendiri bahwa saya sudah mencapai batas. Saya belum pernah menanggalkan cincin ini sejak menikah, dan tidak semudah itu untuk menanggalkannya. Saya tidak tahu kenapa saya tidak bersedia menanggalkan cincin ini, tapi saya tetap tidak bisa walaupun menginginkannya. Jadi kami terpaksa membiarkan rincian itu. Di sisi lain, saya mengambil sepotong plester dan menempelkannya di tempat yang sama dengan plester di dagu saya. Anda melakukan kesalahan di sana, Mr. Holmes, sekalipun Anda pandai. Kalau saja Anda menanggalkan plester itu, Anda pasti akan mendapati kalau tidak ada luka di baliknya.

“Well, begitulah situasinya. Kalau saya bisa menyembunyikan diri untuk sementara waktu lalu melarikan diri ke tempat janda saya akan menggabungkan diri, kami pasti memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan dengan damai sepanjang sisa hidup kami. Keparat-keparat itu tidak akan membiarkan diri saya tenang selama saya masih bernapas. Tapi kalau mereka membaca di koran bahwa Baldwin berhasil menghabisi buruannya, seluruh masalah saya berakhir. Saya tidak sempat menjelaskan semuanya pada Barker dan istri saya. Tapi mereka cukup paham untuk bisa membantu saya. Saya mengetahui tentang tempat persembunyian ini, begitu pula Ames. Tapi tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk mengaitkan hal itu dengan masalah ini. Saya masuk ke sana, dan selanjutnya terserah pada Barker untuk membereskan semuanya.

“Saya rasa kalian bisa menebak sendiri apa yang dilakukannya. Ia membuka jendela dan meninggalkan jejak di kusen sekadar untuk memberi kesan tentang bagaimana pembunuhnya melarikan diri. Kemungkinan itu kecil sekali, tapi karena jembatan sudah diangkat berarti tidak ada jalan lain. Lalu, sesudah semuanya beres, ia membunyikan bel sekuat tenaga. Apa yang terjadi sesudah itu sudah kalian ketahui. Dan begitulah, Tuan-tuan, sekarang kalian boleh melakukan apa saja yang kalian inginkan. Tapi saya sudah menceritakan kebenarannya dengan jujur, demi Tuhan! Yang ingin saya tanyakan sekarang adalah bagaimana posisi saya dalam hukum Inggris?”

Kesunyian yang timbul dipecahkan oleh Sherlock Holmes.

“Hukum Inggris tetap merupakan hukum yang adil. Anda tidak akan mendapat masalah yang lebih buruk daripada yang sudah Anda tinggalkan, Mr. Douglas. Tapi saya ingin tahu bagaimana orang ini bisa mengetahui Anda tinggal di sini, atau bagaimana cara ia masuk ke rumah Anda, atau di mana harus bersembunyi untuk dapat menghabisi diri Anda?”

“Saya sama sekali tidak tahu.”

Wajah Holmes berubah pucat pasi dan sangat serius. “Saya khawatir cerita ini belum selesai sepenuhnya,” katanya. “Anda mungkin menghadapi bahaya yang lebih buruk daripada hukum Inggris, atau bahkan daripada musuh-musuh Amerika Anda. Saya melihat masalah menghadang Anda, Mr, Douglas. Terimalah nasihat saya dan tetaplah waspada.”

Dan sekarang, para pembacaku yang sudah lama menderita, aku akan mengajak kalian menjelajah waktu bersamaku, jauh dari Manor House of Birlstone di Sussex, dan jauh dari tahun di mana kita menjalani petualangan yang diakhiri cerita aneh seorang pria yang dikenal sebagai John Douglas. Kuajak kalian mundur kembali sekitar dua puluh tahun, dan sekitar 3.200 kilometer ke arah barat, sehingga bisa kusajikan narasi yang aneh dan mengerikan—begitu aneh dan begitu menakutkan sehingga kau mungkin sulit mempercayainya, sekalipun itulah yang sebenarnya terjadi.

Jangan mengira aku memasukkan sebuah cerita lain sebelum satu cerita selesai. Sesudah kalian membaca terus, kalian akan mendapati bahwa bukan itu keadaannya. Sesudah kusampaikan rincian kejadian di tempat yang jauh tersebut, dan kalian sudah memecahkan misteri masa lalu, kita akan bertemu lagi di ruangan di Baker Street, tempat cerita ini, sebagaimana kejadian-kejadian luar biasa lainnya, akan berakhir.

One thought on “Bab 7 – Pemecahan

  1. Pingback: Valley of Fear (Lembah Ketakutan) | BLACK LOTUS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s