Bab 7 – Penjebakan Birdy Edwards

SEPERTI yang dikatakan McMurdo, rumah yang ditempatinya terpencil dan sangat sesuai untuk kejahatan yang mereka rencanakan. Rumah itu terletak di tepi kota dan berada cukup jauh dari jalan. Pada kasus lain mereka hanya perlu memanggil buruannya, sebagaimana yang sering mereka lakukan sebelumnya, dan memuntahkan isi pistol mereka ke tubuh korban. Tapi kali ini mereka perlu mengetahui seberapa banyak yang sudah diketahui buruan mereka. Dan seberapa banyak yang telah disampaikannya pada majikannya.

Ada kemungkinan mereka telah terlambat dan pekerjaan itu telah dilaksanakan. Kalau memang begitu, paling tidak mereka bisa membalas dendam terhadap orang yang sudah melakukannya. Tapi mereka berharap tidak ada hal penting yang sudah diketahui detektif itu. Karena kalau ya, menurut pendapat mereka, ia pasti tidak akan bersusah payah menulis dan mengirimkan omong kosong yang didengarnya dari McMurdo. Tapi, semua ini akan mereka ketahui dari mulut yang bersangkutan. Begitu mereka menguasainya, mereka akan menemukan cara untuk membuka mulutnya. Bukan pertama kali ini mereka menangani saksi yang tidak mau bekerja sama.

McMurdo pergi ke Hobson’s Patch sesuai janji. Polisi tampaknya sangat memperhatikan dirinya pagi itu. Dan Kapten Marvin—yang mengaku kenalan lama McMurdo di Chicago—benar-benar menyapanya sewaktu ia menunggu di stasiun. McMurdo berpaling dan menolak untuk berbicara dengannya. Ia kembali dari misinya siang hari, dan menemui McGinty di Gedung Serikat.

“Ia akan datang,” katanya.

“Bagus!” kata McGinty. Raksasa itu telah menanggalkan jas, sehingga tampak rantai emasnya yang berkilauan dan berlian yang berkelap-kelip dari tepi janggutnya yang lebat. Minuman dan politik telah menjadikan McGinty sangat kaya juga sangat berkuasa. Oleh karena itu, bayangan penjara dan tiang gantungan yang melintas di hadapannya semalam terasa semakin mengerikan.

“Menurutmu ia sudah tahu banyak?” tanyanya gelisah.

McMurdo menggeleng muram. “Ia sudah cukup lama berada di sini—paling tidak enam minggu. Kurasa ia tidak datang kemari untuk melihat-lihat kemungkinan. Jika ia telah bekerja di antara kita selama ini dengan dukungan dana dari perusahaan kereta api, kurasa ia sudah mendapatkan hasil, dan sudah menyampaikan hasilnya kepada mereka.”

“Tidak ada anggota Kelompok yang lemah,” seru McGinty. “Setegar baja, setiap orang. Sekalipun begitu, demi Tuhan, ada si tolol Morris itu. Bagaimana dengannya? Kalau ada yang membocorkan, pasti ia orangnya. Kupikir mungkin sebaiknya kukirim dua orang ke rumahnya sebelum malam untuk menghajarnya dan mencari tahu apa yang bisa mereka dapatkan darinya.”

“Well, tidak ada ruginya begitu,” jawab McMurdo. “Aku tidak mengingkari aku agak menyukai Morris dan tidak ingin ia terluka. Ia sudah berbicara satu atau dua kali mengenai masalah Kelompok denganku. Dan, walaupun ia tidak memiliki pandangan yang sama dengan dirimu atau aku, ia tampaknya bukan jenis yang suka membocorkan rahasia seperti itu. Tapi tetap saja aku tidak berhak menjadi penghalang antara dirimu dan dirinya.”

“Akan kubereskan setan tua itu!” kata McGinty sambil memaki. “Aku sudah mengincarnya sejak setahun ini.”

“Well, kau yang lebih tahu,” jawab McMurdo. “Tapi apa pun yang kaulakukan, kau harus melakukannya besok, karena kita harus tetap merendah hingga masalah Pinkerton ini dibereskan. Kita tidak bisa membiarkan polisi tiba-tiba berkeliaran terlalu dekat, terutama hari ini.”

“Benar juga,” kata McGinty. “Dan kita akan mengetahui dari Birdy Edwards sendiri dari mana ia mendapatkan beritanya, seandainyapun kita harus mencabut jantungnya lebih dulu. Apakah ia tampak seperti mencium adanya jebakan?”

McMurdo tertawa. “Kurasa aku berhasil mengenai titik lemahnya,” katanya. “Kalau ia bisa mendapatkan infbrmasi yang bagus mengenai para Scowrer ini, ia siap mengikutinya hingga ke neraka sekalipun. Aku mengambil uangnya.” McMurdo tersenyum sambil mengeluarkan setumpuk dolar kertas. “Dan akan menerima lebih banyak lagi sesudah ia melihat semua dokumenku.”

“Dokumen apa?”

“Well, tidak ada dokumen apa pun. Tapi kuberikan konstitusi, buku-buku peraturan, dan formulir keanggotaan. Ia berharap bisa mengetahui semuanya sebelum pergi.”

“Benar,” kata McGinty muram. “Apakah ia tidak menanyakan kenapa kau tidak membawakan dokumennya?”

“Karena tidak mungkin aku membawa barang seperti itu, mengingat aku sudah menjadi tersangka, dan Kapten Marvin bahkan mengajakku berbicara di stasiun hari ini!”

“Ay, aku sudah mendengarnya,” kata McGinty.

“Kurasa kau yang mendapat beban terberat dari masalah ini. Kami bisa membuangnya di tambang lama sesudah selesai menanganinya. Tapi tidak peduli bagaimana pun cara kami menanganinya, kita tidak bisa menghindari fakfa bahwa orang itu tinggal di Hobson’s Patch dan kau ke sana hari ini.”

McMurdo mengangkat bahu. “Kalau kita menanganinya dengan benar, mereka tidak akan pernah bisa membuktikan pembunuhannya,” katanya. “Tidak seorang pun melihat kedatangannya ke rumah sesudah gelap, dan akan kupastikan tidak ada yang melihatnya pergi. Nah sekarang begini, Penasihat. Akan kutunjukkan rencanaku dan tolong atur yang lain agar mengikutinya. Kalian semua akan datang pada waktunya. Baiklah Ia akan datang pukul 22.00. Ia harus mengetuk pintu tiga kali, dan aku akan membukakan pintu untuknya. Lalu akan kututup pintu di belakangnya. Sesudah itu ia menjadi milik kita.”

“Mudah sekali.”

“Ya, tapi langkah berikutnya yang harus dipertimbangkan. Ia keras, dan bersenjata lengkap. Aku sudah berhasil menipunya, tapi kemungkinan ia masih waspada. Kuantarkan ia langsung ke ruangan berisi tujuh orang sementara ia mengira hanya akan berdua denganku. Pasti terjadi tembak-menembak dan akan ada yang terluka.”

“Pasti.”

“Dan keributannya akan menarik perhatian setiap orang di kota.”

“Kurasa kau benar.”

“Rencanaku begini. Kalian semua akan berada di ruangan besar—di mana kau menemuiku dan bercakap-cakap denganku. Akan kubukakan pintu untuknya, mengantarnya ke ruang tamu di samping pintu, dan meninggalkannya di sana sementara aku mengambil dokumen. Dengan begitu aku mendapat kesempatan untuk memberitahukan keadaannya padamu. Lalu aku akan kembali menemuinya dengan membawa dokumen palsu. Sewaktu ia membacanya, aku akan menyerangnya dan mencengkeram lengan kanannya. Kalian akan mendengar panggilanku dan kalian semua harus cepat-cepat masuk. Semakin cepat semakin baik karena ia kuat. Ia sekuat diriku, dan mungkin aku akan menemui kesulitan. Tapi akan kutahan ia sampai kalian datang.”

“Itu rencana yang bagus,” kata McGinty. “Kelompok ini akan berutang budi padamu karena ini. Kurasa pada saat aku mengundurkan diri nanti aku bisa memilih orang yang menjadi penerusku.”

“Penasihat, aku masih baru menjadi anggota di sini,” kata McMurdo, tapi ekspresi wajahnya menunjukkan ia sangat memikirkan pujian McGinty.

Sepulangnya ke rumah, ia sendiri bersiap-siap untuk menghadapi malam yang suram. Mula-mula ia membersihkan, meminyaki, lalu mengisi revolver Smith & Wesson-nya. Lalu ia mengamati ruangan tempat detektif itu akan dijebak. Apartemen itu besar, dengan sebuah meja panjang di tengah, dan sebuah tungku besar di satu sisi. Di kedua sisinya terdapat jendela. Tidak ada daun jendelanya, hanya tirai tipis yang menutupinya. McMurdo memeriksa tirai-tirai itu dengan teliti. Tidak ragu lagi terlintas dalam benaknya apartemen ini terlalu terbuka untuk pertemuan serahasia itu. Meskipun begitu, jauhnya rumah dan jalan menyebabkan hal itu tidak terlalu penting. Akhirnya ia mendiskusikan hal ini dengan rekan sesama penghuninya, Scanlan. Walaupun seorang Scowrer, Scanlan hanyalah pria kecil yang terlalu lemah untuk menentang pendapat rekannya. Dan ia diam-diam merasa ngeri membayangkan pertumpahan darah di mana ia telah dipaksa untuk membantu. McMurdo terang-terangan mengatakan apa yang diinginkannya.

“Dan kalau jadi kau, Mike Scanlan, aku akan menyingkir dari sini. Akan ada pertumpahan darah di sini sebelum pagi.”

“Well, memang benar begitu, Mac,” jawab Scanlan. “Bukan kemauan tapi keberanian dalam diriku yang menginginkan begitu. Sewaktu melihat Manajer Dunn tewas di penggalian, aku tidak tahan lagi. Aku bukan orang yang tepat untuk hal-hal seperti itu, seperti dirimu atau McGinty. Kalau anggota yang lain tidak berpikiran buruk mengenai diriku, akan kulakukan saranmu dan tidak mengganggumu malam ini.”

Orang-orang datang sesuai rencana. Dipandang sepintas mereka adalah warga terhormat, berpakaian bagus dan bersih. Tapi orang yang mampu menilai ekspresi orang lain akan melihat betapa tipisnya harapan bagi Birdy Edwards, melihat ekspresi keras mulut mereka dan pandangan mereka yang tidak menunjukkan penyesalan. Tidak seorang pun di ruangan itu tangannya tidak berlumuran darah lusinan kali sebelumnya. Perasaan mereka terhadap pembunuhan manusia sama kebalnya dengan perasaan seorang tukang jagal terhadap domba.

Tentu saja, yang paling mencolok baik dari penampilan maupun kesalahan adalah Boss sendiri. Harraway, si sekretaris, adalah pria kurus dengan ekspresi pahit, berleher panjang, dan tangan serta kaki yang selalu tersentak-sentak gugup; ia sangat setia dalam hal keuangan kelompok, dan tidak memiliki rasa keadilan maupun kejujuran terhadap siapa pun dalam hal lainnya. Bagian keuangan, Carter, pria parobaya dengan ekspresi pasif yang agak masam, dan kulit kekuningan. Ia seorang organisator yang kompeten, dan rincian dari hampir semua serangan berasal dari otaknya. Willaby bersaudara merupakan orang-orang yang biasa beraksi, jangkung, liat, dengan ekspresi wajah mantap. Sementara rekan mereka Tiger Cormac, pemuda kekar berkulit gelap, ditakuti bahkan oleh rekan-rekan mereka sendiri karena kebuasannya. Mereka inilah yang berkumpul pada malam itu di rumah McMurdo untuk membunuh si detektif Pinkerton.

Tuan rumah mereka telah menyiapkan wiski di meja, dan mereka bergegas menenggaknya untuk menyiapkan diri menghadapi tugas yang ada di depan mereka. Baldwin dan Cormac telah separo mabuk, dan minuman keras telah memancing kebuasan mereka. Cormac sempat menyentuh tungku—tungku itu menyala karena malam sangat dingin.

“Itu cukup,” katanya sambil memaki. “Ay” kata Baldwin, memahami maksudnya. “Kalau ia diikat ke sana, kita akan mengetahui kebenaran dari mulutnya.”

“Ia akan membuka mulut, tidak perlu takut,” kata McMurdo. Orang ini memiliki saraf dari baja, karena meskipun seluruh masalah ini membebaninya, sikapnya tetap tenang dan tidak peduli seperti biasa. Yang lain memperhatikan hal itu dan memujinya.

“Kau yang layak menanganinya,” kata Boss menyetujui. “Ia tidak akan mendapat peringatan hingga kau berhasil mencekiknya. Sayang sekali jendelamu tidak berpenutup.”

McMurdo mendekati jendela-jendela dan merapatkan tirainya. “Jelas sekarang tidak ada yang bisa memata-matai kita. Waktunya hampir tiba.”

“Mungkin ia tidak datang. Mungkin ia merasa ada bahaya,” kata sekretaris Kelompok.

“Ia pasti datang, jangan takut,” jawab McMurdo. “Ia sangat ingin datang, sama seperti kalian ingin menemuinya. Ingat itu baik-baik!”

Mereka semua duduk bagai patung lilin beberapa dengan gelas menempel di bibir. Terdengar tiga ketukan keras di pintu.

“Sst!” McMurdo mengangkat tangan memberi isyarat agar hati-hati. Rekan-rekannya saling pandang dengan gembira, dan tangan-tangan mereka menyentuh senjata masing-masing yang tersembunyi.

“Jangan bersuara sama sekali, demi keselamatan kalian!” bisik McMurdo, sambil melangkah keluar ruangan, menutup pintu dengan hati-hati di belakangnya.

Para pembunuh itu berusaha keras mendengarkan. Mereka menghitung langkah-langkah kaki rekan mereka saat menyusuri lorong. Lalu mereka mendengarnya membuka pintu luar. Terdengar sapaan. Kemudian mereka menyadari suara langkah-langkah asing di dalam rumah, juga suara yang sama asingnya. Sesaat kemudian terdengar suara pintu dibanting dan kunci diputar. Mangsa mereka telah masuk perangkap. Tiger Cormac tertawa terbahak-bahak, dan Boss McGinty menutup mulutnya dengan tangan.

“Diam, tolol!” bisiknya. “Kau akan mengungkapkan keberadaan kita!”

Terdengar gumaman percakapan dari ruang sebelah. Rasanya seperti selamanya. Lalu pintu terbuka, dan McMurdo muncul, dengan jari menempel di bibirnya.

Ia melangkah ke ujung meja dan memandang rekan-rekannya. Ada sedikit perubahan dalam sikapnya. Sekarang sikapnya seperti seseorang yang harus melakukan perbuatan yang besar. Wajahnya kaku bagai granit. Matanya memancarkan semangat di balik kacamatanya. Sekarang tampak bahwa ia memang pemimpin. Mereka menatapnya dengan penuh semangat, tapi ia tidak mengatakan apa apa. Dengan tatapan yang masih tetap aneh ia memandang rekan-rekannya satu per satu.

“Well!” seru Boss McGinty akhirnya. “Apakah ia sudah di sini? Apakah Birdy Edwards ada di sini?”

“Ya,” jawab McMurdo lambat. “Birdy Edwards ada di sini. Aku Birdy Edwards!”

Selama sepuluh detik berikutnya ruangan sunyi senyap seakan-akan kosong. Kesunyiannya begitu dalam. Desisan ketel di tungku terdengar tajam dan memekakkan telinga. Tujuh wajah yang pucat pasi, semuanya menengadah memandang orang yang menguasai mereka itu, terpaku di tempat karena ketakutan. Lalu, diiringi bunyi kaca pecah, laras-laras senapan yang berkilauan menerobos masuk dari setiap jendela, sementara tirainya tercabik dari gantungan.

“Kau lebih aman di sana, Penasihat,” kata orang yang tadinya mereka kenal sebagai McMurdo. “Dan kau juga, Baldwin, kalau kau tidak melepaskan pistolmu, kau akan mengecewakan algojo. Singkirkan tanganmu, atau demi Tuhan yang menciptakan diriku—Nah, itu sudah cukup. Ada empat puluh orang bersenjata mengepung rumah ini, dan kalian bisa memperkirakan sendiri seberapa besar kesempatan kalian. Ambil pistol mereka, Marvin!”

Tidak mungkin melawan di bawah ancaman senapan-senapan itu. Mereka pun dilucuti. Dengan ekspresi masam, malu, dan terpesona, mereka masih duduk terpaku di sekitar meja.

“Ada yang ingin kukatakan sebelum kita berpisah,” kata orang yang telah menjebak mereka. “Kurasa kita mungkin tidak akan berjumpa lagi sampai kalian melihatku di ruang sidang. Akan kuberikan sesuatu untuk kalian pikirkan antara sekarang hingga waktu itu. Kalian tahu sekarang siapa aku. Akhirnya aku bisa membuka rahasia. Aku Birdy Edwards dari Pinkerton. Aku dipilih untuk menghancurkan geng kalian. Aku harus memainkan permainan yang keras dan berbahaya. Tidak seorang pun, tidak satu orang pun, bahkan orang paling dekat dan paling kusayangi sekalipun, mengetahui apa yang sedang kulakukan. Hanya Kapten Marvin dan atasanku yang mengetahuinya. Tapi semuanya selesai malam ini, syukurlah, dan aku pemenangnya!”

Ketujuh wajah yang pucat dan kaku itu menatapnya. Kebencian yang tidak menyenangkan memancar dari mata mereka. Edwards memahami ancaman mereka.

“Mungkin kalian mengira permainan belum berakhir. Well, kutanggung risikonya. Pokoknya, beberapa orang dari antara kalian tidak akan bisa melanjutkan perbuatan kalian, dan masih ada enam puluh orang lagi selain kalian yang akan dipenjara malam ini. Kuberitahu, waktu mendapat tugas ini, aku tidak pernah percaya ada perkumpulan seperti kalian. Kukira semuanya hanya omong kosong koran, dan aku akan membuktikannya begitu. Kata mereka ada kaitannya dengan Orang Bebas. Jadi aku pergi ke Chicago dan menggabungkan diri di sana. Lalu aku menjadi lebih yakin lagi bahwa semua itu hanyalah omong kosong koran, karena aku tidak mendapati kesalahan apa pun di perkumpulan itu. Aku menemukan banyak kebaikan.

“Walaupun begitu, aku tetap harus melaksanakan tugasku, dan aku datang ke lembah batu bara ini. Sewaktu tiba di tempat ini aku menyadari aku sudah keliru dan semuanya bukan fiksi murahan sama sekali. Jadi aku menetap untuk memastikannya. Aku tidak pernah membunuh siapa pun di Chicago. Aku tidak pernah mencetak dolar palsu seumur hidupku Uang yang ku-berikan pada kalian sama aslinya dengan uang lain. Jadi aku berpura-pura dikejar hukum. Semuanya berjalan seperti rencanaku.

“Jadi aku bergabung dengan kelompok setan kalian, dan mengambil bagian dalam kegiatan kalian. Mungkin mereka akan mengatakan aku sama buruknya dengan kalian. Mereka bisa mengatakan apa saja sesuka mereka, selama aku bisa menangkap kalian. Tapi apa kebenarannya? Pada malam aku bergabung dengan kalian menghajar si tua Stanger. Aku tidak bisa memperingatkannya, karena tidak ada waktu. Tapi aku berhasil menahan orangmu, Baldwin, sewaktu ia hendak membunuh pak tua itu. Kalau ada kejahatan yang pernah kusarankan, untuk memantapkan posisiku di antara kalian, maka itu adalah hal-hal yang kutahu bisa kucegah. Aku tidak bisa menyelamatkan Dunn dan Menzies, karena aku tidak mengetahui cukup banyak. Tapi akan kupastikan para pembunuh mereka digantung. Aku sempat memperingatkan Chester Wilcox, jadi sewaktu kuledakkan rumahnya malam itu, ia dan keluarganya telah bersembunyi. Banyak kejahatan yang tidak bisa kucegah, tapi kalau kalian memikirkannya kembali, dan memperhitungkan lagi seberapa sering sasaran kalian pulang ke rumah melalui jalan yang lain, atau sedang di kota sewaktu kalian menyerang rumahnya, atau tetap di dalam rumah sewaktu kalian mengira ia akan keluar, kalian melihat hasil pekerjaanku.”

“Kau pengkhianat terkutuk!” desis McGinty dengan gigi terkatup.

“Ay, John McGinty, kau boleh menyebutku begitu kalau itu menenangkan pikiranmu. Kau dan orang-orang semacammu sudah lama menjadi musuh Tuhan dan manusia di kawasan ini. Tidak mudah untuk menghalangi dirimu dari orang-orang malang yang kau cengkeram. Hanya ada satu cara untuk melakukannya dan aku melakukannya. Kau menyebutku pengkhianat, tapi kurasa ada ribuan orang lain yang memanggilku pembebas yang bersedia turun ke neraka untuk menyelamatkan mereka. Tiga bulan aku menjalaninya. Aku tidak bersedia menjalani tiga bulan seperti itu lagi meskipun mereka akan membiarkan diriku berkeliaran bebas di Departemen Keuangan Washington. Aku terpaksa menetap hingga berhasil mendapatkan semuanya, setiap orang dan setiap rahasia yang ada di sini. Aku akan menunggu lebih lama lagi kalau saja tidak kuketahui rahasiaku akan terbongkar. Sepucuk surat yang bisa membeberkan semuanya tiba di kota ini. Lalu aku terpaksa bertindak dengan cepat.

“Tidak ada lagi yang harus kukatakan kepada kalian, kecuali bahwa pada saatnya nanti, aku akan meninggal dengan lebih tenang apabila memikirkan pekerjaan yang sudah kulakukan di lembah ini. Sekarang, Marvin, aku tidak akan menghambatmu lebih lama lagi. Bawa mereka dan selesaikan ini.”

Hanya ada sedikit lagi yang harus diceritakan. Scanlan telah mendapat sepucuk surat bersegel yang harus disampaikannya pada Miss Ettie Shafter, misi yang diterimanya dengan mengedipkan mata dan tersenyum sok tahu. Menjelang subuh seorang wanita cantik dan seorang pria yang jauh lebih tua menumpang kereta khusus yang dikirim perusahaan kereta api dan menempuh perjalanan tanpa henti keluar dari daerah berbahaya tersebut. Itu terakhir kalinya Ettie atau kekasihnya menginjakkan kaki di Lembah Ketakutan. Sepuluh hari kemudian mereka menikah di Chicago, dengan Jacob Shafter tua sebagai saksi pernikahan mereka.

Pengadilan atas para Scowrer diselenggarakan jauh dari tempat di mana tindakan mereka di masa lalu bisa menakutkan para pencgak hukum. Mereka berjuang sia-sia. Uang Kelompok—uang yang diperoleh dengan memeras seluruh kawasan itu—dihambur-hamburkan bagai air dalam usaha untuk menyelamatkan mereka. Pernyataan dingin, jelas, dan tanpa emosi dari seseorang yang mengetahui secara rinci kehidupan, organisasi, dan kejahatan mereka tidak tergoyahkan oleh seluruh usaha para pembela mereka. Akhirnya setelah sekian tahun mereka berhasil dihancurkan. Awan gelap terangkat selamanya dari lembah itu.

McGinty berakhir di tiang gantungan, menciut dan merengek-rengek sewaktu saatnya tiba. Delapan anak buah utamanya mengikuti jejaknya. Lima puluhan orang menjalani hukuman penjara untuk waktu yang berbeda-beda. Pekerjaan Birdy Edwards telah selesai.

Meskipun begitu, sebagaimana yang telah diduganya, permainan belum selesai. Masih ada kartu lain yang harus dimainkan, lalu lainnya, dan lainnya. Ted Baldwin, misalnya, telah lolos dari tiang gantungan. Begitu pula Willaby bersaudara, dan beberapa orang terkejam di dalam kelompok itu. Selama sepuluh tahun mereka terkucil dari dunia, dan akhirnya tiba hari di mana mereka akan kembali bebas—hari di mana Edwards, yang mengenal orang-orang ini, sangat yakin akan menjadi akhir dari kehidupannya yang damai. Mereka telah bersumpah untuk menghabisinya sebagai pembalasan untuk rekan-rekan mereka. Dan mereka berusaha keras menepati sumpahnya! Edwards diburu dari Chicago. Sesudah dua usaha pembunuhan yang nyaris berhasil, ia merasa yakin bahwa yang ketiga pasti akan berhasil. Dari Chicago ia pindah ke California dan mengganti namanya. Dan di sanalah cahaya kehidupannya padam sewaktu Ettie Edwards meninggal. Sekali lagi ia nyaris tewas, dan sekali lagi dengan nama Douglas ia bekerja di sebuah canon terpencil, di mana bersama seorang rekan Inggris bernama Barker ia mengumpulkan kekayaan. Akhirnya ia mendapat peringatan bahwa para pemburunya berhasil melacaknya lagi. Dan ia melarikan diri—tepat pada waktunya—ke Inggris. Dan di sanalah John Douglas menikah untuk kedua kalinya dengan wanita yang tepat, dan menjalani kehidupan sebagai jutawan daerah Sussex selama lima tahun. Kehidupan yang berakhir dengan kejadian aneh yang sudah kita dengar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s