Terminal

Saya tak tahu persis dari mana kata “preman”. Ada yang mengatakan asal-usulnya dari kata Belanda vrijman—dengan tekanan pada vrij, “bebas”.

Jika benar demikian, saya kira itu kata yang pas. Mereka jenis penghuni sebuah wilayah yang membebaskan diri dari hukum wilayah itu. Mereka orang yang berada di sebuah ruang yuridis-politis, tapi menunjukkan diri, terang-terangan atau tidak, sebagai perkecualian—dan dengan demikian mengambil alih kedaulatan di tangan sendiri.

Bunuh-membunuh yang terjadi pekan lalu di Yogya dan Sleman—ketika praktis Republik Indonesia dianggap tak punya arti—adalah pengukuhan bahwa kedaulatan direbut mereka yang tak mengakui hukum sebagai penjaga ketertiban. Bagi mereka, ketertiban hanya bisa lahir dari nyali dan kekejaman. Akhirnya, sebuah paradoks: ketertiban berdiri dengan ketidaktertiban dan mereka adalah warga dari sebuah negara tapi yang sekaligus berada di luarnya.

Bukan fenomena yang unik sebenarnya. Sang preman bisa ada di mana-mana, muncul dari zaman ke zaman. Pada pertengahan abad ke-19, di Manhattan, New York, ada seorang tokoh yang kemudian dikisahkan kembali hidupnya dalam Gangs of New York, sebuah film Martin Scorsese. Ia Bill “the Butcher” Cutting yang kata-katanya seakan-akan bergaung di Yogya dan Sleman malam itu, dan mungkin juga di Jakarta di hari lain:

“Seseorang mencuri milikku, aku potong tangannya. Ia menghinaku, aku copot lidahnya. Ia bangkit melawanku, aku penggal kepalanya, lalu kucoblos dan kupasang di tonggak, tinggi-tinggi, supaya semua orang bisa lihat. Itu yang bikin tata tertib. Rasa takut.”

Bill “the Butcher” sendiri tewas dalam serbuan tentara yang hendak menegakkan ketertiban. Ia terpelanting jatuh oleh sebuah ledakan. Akhirnya seorang anak muda yang hendak membalas kematian ayahnya menikamnya. Kata-kata terakhirnya: “Thank God, I die a true American.”

Tak jelas apa yang dimaksudkannya. Ia terbunuh karena aparat negara hendak menegakkan kedaulatannya. Ia juga terbunuh karena seseorang merasa punya kedaulatan atas hidup dan matinya. Adakah hidupnya habis sebagai seorang preman, ataukah sebagai seorang warga negara, “a true American”? Ia telah meletakkan dirinya sebagai orang yang merdeka, ia bukan budak, tapi ia tak mengakui bahwa kemerdekaannya, hak-haknya, dijamin dan dijaga sebuah republik yang sebenarnya ia ingkari: republik yang mengakui hak warga negara dan hak asasi manusia.

Tapi barangkali Bill “the Butcher” termasuk orang yang membedakan hak warga negara dari hak asasi itu—seperti penguasa Nazi Jerman, Soviet Stalin, Orde Baru Soeharto, dan anggota TNI yang membunuh empat orang (yang telah mereka tentukan sebagai penjahat dan pembunuh) tanpa memberi mereka kesempatan membela diri.

Memang sebuah pertanyaan besar: apa yang mempertautkan hak warga negara dengan hak asasi manusia? Jangan-jangan “manusia” di situ sebenarnya hanya sebuah konsep. Jangan-jangan hak jadi hak ketika sebuah negara mengukuhkannya. Dalam praktek, tanpa negara, manusia memang bisa diperlakukan seakan-akan telanjang.

Ada seseorang bernama Mehran Karimi Nasseri. Ia lahir di Iran, pada 1942. Ayahnya seorang Iran asli, seorang dokter yang bekerja untuk perusahaan minyak milik Iran dan Inggris. Ibunya, demikian dikatakannya, seorang perawat dari Skotlandia. Pada 1971, ia diusir dari Iran karena aktif menentang kekuasaan Shah Iran. Setelah ikhtiar yang lama dan susah, ia mendapat bantuan Komisi PBB urusan pengungsi: ia diberi kesempatan jadi emigran di Belgia.

Tapi pada 1986 ia memutuskan akan tinggal di Inggris. Ia merasa berhak karena ibunya warga negara itu. Dua tahun kemudian ia berangkat. Apa lacur, di Paris tasnya dicuri orang. Semua dokumennya, juga paspornya, hilang. Tapi ia nekat. Ia tetap berangkat dengan pesawat ke London. Di Heathrow, tanpa paspor, ia tak boleh masuk. Ia dikembalikan ke Paris. Menurut hukum ia, dengan tiket yang utuh, boleh masuk ke Bandara Charles de Gaulle. Tapi dari sana ia tak bisa keluar; ia tak punya visa untuk Prancis. Juga ia tak punya negara lagi. Belgia juga menolaknya, sebab menurut hukum negeri itu seorang emigran yang sudah pindah ke negara lain tak bisa kembali sebagai penduduk.

Nasseri akhirnya hidup di Terminal Satu Bandara Charles de Gaulle selama 17 tahun—dan kisahnya digubah jadi sebuah film Prancis, Tombés du ciel (“Yang Jatuh dari Langit”, 1994), dan film Hollywood, Terminal (2004), dengan Tom Hanks sebagai orang yang terdampar, bernama Viktor Navorski, dari negeri Krakozhia, yang pemerintahannya berganti dan tak diakui dunia.

Ia tak boleh masuk. Ia tak boleh keluar. Ia bebas. Tapi ia tak merdeka. Tragis, tapi juga lucu. Apakah hak-hak manusia adalah hak warga negara? Ataukah hak warga negara adalah hak-hak asasi manusia?

Status Nasseri mengharuskan kita berpikir: perbedaan antara “manusia” dan “warga negara” justru membuka jalan seseorang untuk jadi subyek perjuangan politik yang menggugat tatanan yang bisa membuat orang terdampar di luar kehendaknya.

Dalam arti tertentu, subyek itu mirip seorang vrijman. Ia membebaskan diri dari tatanan yuridis-politik yang ada. Tapi ia lain dari preman dalam Gangs of New York: bukan ketertiban dan kontrol yang hendak ditegakkannya, apalagi dengan kekejaman yang menyebarkan rasa takut. Preman dalam sebuah perjuangan politik ke arah hak-hak justru menampik ketertiban yang akan jadi status quo.

Ia akan menggunakan posisinya di terminal yang tak jelas itu sebagai thema: akan ada selalu mereka yang kehilangan hak, dan akan ada selalu yang melawan keadaan kehilangan itu.

Goenawan Mohamad

Minggu, 07 April 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s