Terminal

Saya tak tahu persis dari mana kata “preman”. Ada yang mengatakan asal-usulnya dari kata Belanda vrijman—dengan tekanan pada vrij, “bebas”.

Jika benar demikian, saya kira itu kata yang pas. Mereka jenis penghuni sebuah wilayah yang membebaskan diri dari hukum wilayah itu. Mereka orang yang berada di sebuah ruang yuridis-politis, tapi menunjukkan diri, terang-terangan atau tidak, sebagai perkecualian—dan dengan demikian mengambil alih kedaulatan di tangan sendiri.

Bunuh-membunuh yang terjadi pekan lalu di Yogya dan Sleman—ketika praktis Republik Indonesia dianggap tak punya arti—adalah pengukuhan bahwa kedaulatan direbut mereka yang tak mengakui hukum sebagai penjaga ketertiban. Bagi mereka, ketertiban hanya bisa lahir dari nyali dan kekejaman. Akhirnya, sebuah paradoks: ketertiban berdiri dengan ketidaktertiban dan mereka adalah warga dari sebuah negara tapi yang sekaligus berada di luarnya. Continue reading

Buku Tan Malaka Bapak Republik yang Dilupakan Published by TEMPO

seri buku tempo

Ibrahim Datuk Tan Malaka ialah Bapak Bangsa yang memberikan konsep “Republik Indonesia” bagi Hindia-Belanda yang bakal merdeka. Namun, serdadu dari negeri yang ia bela pulalah yang membunuhnya di Selopanggung, Jawa Timur.

Ia orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia. Muhammad Yamin menjulukinya ”Bapak Republik Indonesia”. Sukarno menyebut nya ”seorang yang mahir dalam revolusi”. Tapi hi dupnya berakhir tragis di ujung senapan tentara republik yang didirikannya.

Tan melukis revolusi Indonesia dengan bergelora. Sukarno pernah menulis testamen politik yang berisi wasiat penyerahan kekuasaan kepada empat nama―salah satunya Tan Malaka ―apabila Bung Karno dan Bung Hatta mati atau ditangkap. ”…jika saya tiada berdaya lagi, maka saya akan menyerahkan pimpinan revolusi kepada seorang yang telah mahir dalam gerakan revolusioner, Tan Malaka,” kata Sukarno. Tapi di masa pemerintahan Sukarno pula Tan dipenjara dua setengah tahun tanpa pengadilan.

Kisah Tan Malaka adalah satu dari empat cerita tentang pendiri republik: Sukarno, Hatta, Tan Malaka dan Sutan Sjahrir. Diangkat dari edisi khusus Majalah Berita Mingguan Tempo sepanjang 2001-2009, serial buku ini mereportase ulang kehidupan keempatnya. Mulai dari pergolakan pemikiran, petualangan, ketakutan hingga kisah cinta dan cerita kamar tidur mereka.

Buku ini berisi reportase Majalah Mingguan TEMPO mengenai Tan Malaka dari berbagai sisi, mulai pemikiran, petualangan ke berbagai negara, sampai asmara yang bertepuk-sebelah tangan.

Seri TEMPO Bapak Bangsa ini merupakan bagian seri-seri reportase TEMPO lain mengenai para pendiri Republik Indonesia

Download Gratis DISINI

MADILOG Tan Malaka (1943)

madilog

~ SEJARAH MADILOG ~

Ditulis di Rawajati dekat pabrik sepatu Kalibata Cililitan Jakarta. Disini saya berdiam dari 15 juli 1942 sampai dengan pertengahan tahun 1943, mempelajari keadaan kota dan kampung Indonesia yang lebih dari 20 tahun ditinggalkan. Waktu yang dipakai buat menulis Madilog, ialah lebih kurang 8 bulan dari 15 juli 1942 sampai dengan 30 maret 1943 (berhenti 15 hari), 720 jam, ialah kira-kira 3 jam sehari. Continue reading

SI Semarang dan Onderwijs Tan Malaka (1921)

Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan. Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.

~ Kata Pengantar Penerbit ~

Lagi sebuah buku kecil (brosur) Tan Malaka berjudul “SI Semarang dan Onderwijs”, yang ejaan lama telah kita sesuaikan dengan ejaan baru, dan juga telah kita tambah dengan daftar arti kata-kata asing hal 34-36.

Brosur ini diterbitkan di Semarang pada tahun 1921 oleh Serikat Islam School (Sekolah Serikat Islam). Karya pendek Tan Malaka ini sudah termasuk: “Barang Langka”. Brosur ini merupakan pengantar sebuah buku yang pada waktu itu akan ditulis oleh Tan Malaka tentang sistem pendidikan yang bersifat kerakyatan, dihadapkan pada sistem pendidikan yang diselenggarakan kaum penjajah Belanda. Bagaimana nasib niat Tan Malaka untuk menulis buku tentang pendidikan merakyat itu, kami sebagai penerbit kurang mengetahuinya. Mungkin Tan malaka tidak sempat lagi menulisnya karena tidak lama kemudian beliau dibuang oleh penjajah Belanda karena kegiatan perjuangannya dan sikapnya yang tegar anti kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme. Terserah kepada penelitan sejarah Bangsa Indonesia nantinya untuk menelusuri perkara ini. Yang jelas tujuan Tan Malaka dalam pendidikan ialah menciptakan suatu cara pendidikan yang cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat yang melarat ! Continue reading

Thesis Tan Malaka (10 Juni 1946)

~ Kata Pengantar ~

Seorang nakhoda yang berpengalaman cukup, yang mengemudikan kapal, yang kuat dan baru juga mesti menentukan keadaan pelayaran lebih dahulu sebelum bertolak dari pelabuhan.

Topan yang mengancam di waktu depan, bisa menyebabkan kapal itu menunda perjalanannya atau juga memukul kembali atau membelokkan pelayarannya ke kiri-kanannya, bahkan juga memukul kembali ataupun menenggelamkan kapal itu.

Syukurlah kalau nakhodanya berpengalaman lama serta mengetahui karang dan gerakan udara di lautan yang ditempuh, kini ataupun di hari depan.

Tetapi tiadalah dunia akan mendapat kemajuan seperti sekarang kalau semua nakhoda tidak mau berangkat sebelum keadaan udara laut dan cuaca sungguh diketahui lebih dahulu.

Colombus tidak akan sampai ke Amerika kalau ia bergantung pada pengetahuan yang sudah pasti, yang sudah diuji kebenarannya saja. Dia akan berbalik setengah pelayaran setelah menemui mara bahaya kalau ia cuma bergantung kepada teorinya ahli bumi Toscanelli saja. Semangat adventure, mencoba-coba sesuatu yang mengandung bahaya mautpun mesti dilakukan. Berbahagialah suatu negara dan masyarakatnya yang mempunyai semangat adventure itu. Continue reading